a/n: Halo semua~ Miss16Silent datang lagiii hanya untuk meng-edit chapter-chapter berikut wkwkwk. Semoga saja ada readers yang tertarik lagi dengan cerita ini^^. Ya semoga saja. Sekarang tidak perlu basa-basi lagi silahkan membaca~^^~. Terimakasih untuk Favs. dan review yaa^^.
Balas review:
fathiyah: udah di update nihh, terimakasih sudah review^^
Ayu.p: awww terharuu T^T, iya baru di update sekarang chap 2 nyaa, terimakasih sudah review^^
Chang Mui Lie: Keren keren? terimakasihh udah review^^
LISA FITRIANI: oke sudah update nihh, terimakasih sudah review^^
Nindya: wahh terimakasihh sudah review^^, iya semoga saja sekarang lebih baik lagi^^
Dilla: sudah update nihh, terimakasih sudah review^^
Sweet Crystal: sudah lanjutt nihh, terimakasih sudah review^^
.
Huruf 'miring' menandakan dalam pikiran, kata-kata asing, dll lah ya.
Selamat membaca~^^~
Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU,OC,OOC,miss typo,dll
.
.
.
*~Looking For Freedom~*
[Normal POV]
"Pagi yang cerah tidak cocok untuk ditangisi,"
.
.
'Kujyo Kazune?'
Dengan gugup Karin mencoba meraih saputangan itu. Namun mungkin karena Kazune melihatnya ragu seperti itu, dengan tidak basa-basi lagi ia menarik tangan Karin yang hendak akan mengambil saputanganya dan dengan cepat menyimpan saputangan itu di genggaman Karin.
"Ambil saja. Aku minta maaf sekali lagi dan jangan sampai kau terlambat ya!" serunya sembari berlari kecil menuju arah sekolah.
Karin yang masih terdiam shock karena kejadian ini hanya bisa terdiam menatap punggung bidangnya yang lama-kelamaan semakin menghilang. Ia menatap sapu tangan itu sebentar, lalu kembali melihat arah yang Kazune tadi berlari.
Pemuda yang tampan, berambut blonde, dan seperti artis itu adalah Ketua OSIS sekolah Karin. Tentu saja kejadian itu membuatnya terkejut karena Kazune adalah orang yang terkenal dengan kedisiplinannya, kebijaksanaannya, dan ketampanannya yang sudah pasti. Tidak hanya itu, ia pun termasuk murid yang pintar. Wajar saja, ia adalah anak tunggal dari Keluarga Kujyo, orangtuanya dokter terkenal, dan tentu saja peringkatnya di sekolah selalu berada di 3 besar. Karin sendiri termasuk murid yang pintar, karena hasil tes yang sebelumnya Karin menempati peringkat 2 se-sekolah, dan Kazune peringkat 1 se-sekolah.
.
[Karin POV] ~Sekolah~
.
Saat sampai, tanpa ragu lagi aku langsung berjalan menuju kelas.
"Ohayo!" aku menyapa teman sekelas. Terdengar teman sekelas menjawabku dan akhirnya meneruskan kegiatannya yang tadi mereka lakukan. Aku segera menuju bangkuku dan mencari teman setiaku itu. Namun tidak perlu waktu lama aku mencarinya, sudah terdengar suara khas yang memanggilku.
"Karin-chan!" pekik Himeka yang merupakan teman baik atau bisa dibilang sahabatku, langsung lari padaku yang baru masuk kelas ini.
"Ada apa Himeka-chan? Pagi-pagi begini sudah ceria?" tanyaku sembari tertawa kecil. Himeka masih saja senyum-senyum penuh arti. Pikirku, Himeka sedang mood hari ini.
"Hehehe, apa kau sudah dapat surat CINTA baru lagi Karin-chan?" seru Himeka dengan penekanan pada kata 'cinta' itu. Dengan seketika aku terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Eh?! Kenapa tiba-tiba menanyakan hal semacam itu Himeka-chan!" pekikku. Sepertinya wajahku kini sudah merona merah dibuatnya.
"Ahaha, aku hanya bercanda Karin-chan, hehe. Tapi itu memang kenyataan kan, bahwa kau sudah pasti mendapat surat CINTA lagi?!" ujar Himeka dan ia tertawa puas.
"Uhh, kau itu Himeka-chan," aku menggerutu pada Himeka. Akhirnya aku sampai pada bangkuku dan segera membereskan barang-barangku. Dengan sigap Himeka segera duduk disampingku.
"Oh iya, apa kau sudah dengar pembicaraan murid-murid sekarang? Ka-"
"Belum," dengan dinginnya aku memotong kata-kata Himeka.
"Uhh Karin, aku belum selesai bicara!" Himeka menggembungkan pipinya kesal dan aku hanya tertawa kecil.
"Haha iyaa iyaa, ada apa?" tanyaku sekali lagi. Himeka masih saja menggembungkan pipinya seperti anak kecil, ia terlihat sangat lucu dan manis!
"Kemarin aku dengar kalau ada lomba cerdas cermat, kemarin kau langsung pulang ya?" tanya Himeka. Aku berpikir sejenak. Lalu aku mengingat bahwa kemarin aku mendapat telfon dari Kakak untuk pulang cepat.
"Iya, aku langsung pulang," jawabku singkat.
"Oh, pantas saja kau tidak tahu, aku juga sebenarnya tidak tahu informasinya secara lengkap, tetapi.." ujar Himeka lantas mencari-cari sesuatu di dalam tasnya dan akhirnya ia mengeluarkan selembar kertas putih.
"Tapi kemarin aku berhasil mendapatkan selembarannya!" lanjut Himeka sambil memperlihatkan selembaran itu padaku. Lantas aku membacanya.
.
"Setiap kelas harus mempunyai wakil yang di calonkan menjadi peserta, syarat peserta yang diikutsertakan harus mempunyai peringkat di kelasnya. Pemenangnya akan mendapat hadiah dan menjadi Wakil Ketua OSIS yang baru,"
.
Aku sedikit tertarik dengan hadiahnya, karena sejak dahulu aku ingin menjadi anggota OSIS. Tapi aku tidak diperbolehkan oleh kakakku karena keadaanku sekarang.
'Hmm kebetulan sekali, sepertinya ini menarik. Lagipula aku punya peringkat di kelas. Oh iya benar juga, yang aku dengar Wakil Ketua OSIS yang lama itu pindah sekolah, ya?' pikirku sejenak.
"Menarik, sepertinya aku akan coba," seruku pada Himeka dan aku memberikan kembali selembaran itu padanya.
"Baguslah! Aku akan mendukungmu Karin! Semangatlah!" seru Himeka dengan mata yang terlihat seperti berkobar api SEMANGAT!
Aku tersenyum menjawabnya, dan akhirnya kami tertawa bersama.
.
'Teman.. Ternyata teman itu sangat berharga ya? Aku tidak akan menyia-nyiakannya meskipun harus berkorban...' aku pun tersenyum dalam pikirku.
.
Lalu saat membereskan buku, aku teringat sesuatu. Sesuatu yang lumayan penting.
"Astaga! Aku lupa menyimpan buku di loker!" pekikku sendiri dan aku segera beranjak dari bangku, pergi ke loker yang bertempat agak jauh dari kelasku ini.
Saat aku keluar kelas, terlihat sekumpulan murid perempuan yang berteriak ria ke arah kelas sebelah, aku pun langsung menoleh pada sisi kiriku. Disana terdengar, "Kyaa! Kujyo-kun memang keren!" , "Pangeranku!" , "Kya! dia melihat ke arahku!" , "Tampannya!".
Aku yang melihatnya dari jauh pun menggelengkan kepala beberapa kali melihat para fans ketua OSIS itu, ternyata setelah kusadari, hampir seluruh murid perempuan di sekolah ini adalah fansnya.
'Para fans dari Ketua OSIS itu sudah dibuat gila dengan ketampanannya,' pikirku
sejenak.
Aku melihat Kujyo sedang berada di depan kelas dengan teman-temannya. Yang satu berambut coklat caramel dan mempunyai ciri khas matanya berbeda warna, kalau tidak salah namanya itu Nishikiori Michiru yang akrab dipangggil Michi. Yang satu lagi berambut hitam, dia seorang artis terkenal, Kuga Jin. Bisa dibilang mereka itu sekumpulan orang-orang Keren di sekolah ini. Namun aku tidak mempedulikan mereka dan langsung pergi menuju lokerku.
Tak memakan waktu lama untuk sampai ke loker, aku segera membuka loker yang di depannya tertulis namaku. Dari luar pun sudah terlihat surat berwarna biru yang terselipkan, namun pada saat kubuka loker itu, surat-surat berhamburan keluar dari lokerku dan ternyata berwarna-warni. Ada yang bermotif bunga, hati, dan lain lain. Aku cukup terbiasa akan hal seperti ini, karena hampir setiap hari surat seperti ini memenuhi lokerku.
"Oh God," hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalaku meratapi nasib ini. Karena merasa penasaran aku mengambil satu surat diantara surat-surat itu. Surat yang aku ambil berwarna hijau muda polos, karena aku menyukai warna hijau.
Tertulis – "Maukah kau menemani hatiku yang kesepian ini?" –
O_O
...
Aku hanya bisa sweetdrop melihat semua surat-surat itu, yang hampir semua isinya SAMA. 'Dari dulu aku tidak tertarik pada hal semacam ini. Jadi maafkan aku kalau tidak pernah membalasnya ya,' pikirku setelah membaca surat-surat itu. Aku membawa surat itu kembali ke kelas dan langsung cepat-cepat memasukannya ke dalam tas.
Pelajaran pun dimulai dan tidak terasa waktu berjalan sangat cepat. Waktu yang ditunggu-tunggu pun sudah datang. Istirahat!
.
[Normal POV]
"Karin-chan, mau ke kantin?" tanya sahabat Karin, Yii Miyon yang juga sahabat Himeka. Dia gadis yang manis, memilik rambut hijau tosca.
"Iya, dimana Himeka-chan?" tanya Karin kembali. Ia mencari sosok Himeka di dalam kelas, namun tidak menemukannya.
"Himeka-chan bilang dia ada urusan dengan yang lain, jadi tidak bisa ke kantin dengan kita," ujar Miyon tersenyum.
Lantas Karin hanya ber-oh ria menjawabnya, ia segera mengambil dompet hijau bermotif bunga kesayangannya didalam tas, dan tanpa sengaja Miyon melihat surat-surat yang ada di dalam tas Karin. Itu membuat Miyon penasaran karena warna dari amlop itu berwarna-warni.
"Karin-chan, itu surat apa?" tanya Miyon sambil menunjuk surat-surat itu
"Eh? Oh, ini surat yang ada dilokerku," jawab Karin biasa, seperti tidak tertarik pada hal yang Miyon tanyakan.
"Hah? Tapi kenapa surat itu berwarna-warni?...Ahhh jangan jangan-" wajah Miyon berubah seketika menjadi tersenyum licik.
"E-eh Miyon-chan.." Karin agak bergidik ngeri dengan senyuman Miyon itu. Tanpa sadar Karin pun mudur beberapa langkah. Miyon pun segera mendekatinya dengan aura mematikan. Ia masih saja tersenyum licik.
"Pasti surat cinta kan? Ahaha," Miyon tertawa puas karena TEPAT sasaran.
"I-iya," jawaban Karin, masih dengan wajah ngeri melihat ke arah Miyon. Lalu ia mengeluarkan surat-surat itu dan memperlihatkannya pada Miyon. Miyon melihat surat itu dengan mata berbinar-binar.
"Kau menerimanya?" tanya Miyon masih sembari melihat-lihat surat itu.
"Tidak, bagaimana mungkin aku menjawab semua surat itu Miyon-chan," jawab Karin kembali.
"Hmm, iya benar juga sih. Daripada itu ayo! Kita ke kantin saja aku sudah lapar!" ujar Miyon lantas menarik Karin ke arah kantin sekolah ini.
~Kantin~
Karin dan Miyon mencari tempat duduk yang kosong, dan tinggal tersisa di pinggir taman. Mereka langsung saja menempatinya, karena biasanya kantin di sekolah mereka sangatlah penuh sampai tidak dapat meja.
"Karin-chan, aku mau beli minuman dulu sebentar ya?" ujar Miyon dan pergi meninggalkan Karin sendiri.
Karin hanya mengangguk dan memakan coklat yang sudah dibelinya tadi sambil menunggu Miyon. Karin menatap orang-orang yang sedang asik mengobrol di meja sampingnya. Terlihat beberapa murid perempuan sedang asik bercerita ria.
Terdengar "Wahh, yang akan menang nanti di cerdas cermat pasti akan sangat senang!"
"Memangnya kenapa?" tanya gadis lainnya
"Dia pasti akan terus dekat dengan Kujyo-kun! Sebagai wakilnya memang harus seperti itu kan!"
"Ah benar juga, aku jadi iri. Tapi wakil Ketua OSIS yang dulu itu kan laki-laki, apa mungkin sekarang wakil ketua OSIS laki-laki juga?"
"Tidak tahu, kita lihat saja nanti. Sayangnya aku tidak bisa mengikuti lomba itu, karena aku tidak mendapatkan peringkat dikelas," jawab gadis itu dengan sedih, lalu dilanjut dengan teman di sebelahnya, "Iya benar, aku juga".
.
Karin yang mendengarnya hanya diam dan berpikir, 'Hmm dasar, itu sih tidak ada kemauan saja,'
Tidak lama kemudian Miyon datang dengan seorang pemuda, yang sepertinya merupakan kenalan Miyon. Karena biasanya Miyon pulang bersamanya sepulang sekolah.
"Karin-chan! Maaf menunggu lama," ujar Miyon meminta maaf pada Karin.
"Tidak apa-apa. Lalu siapa temanmu yang bersamamu ini Miyon-chan? Kita belum saling kenal benar?" tanya Karin sembari tersenyum pada pemuda itu. IA pun menyunggingkan senyuman khasnya, memang ia terlihat lumayan tampan.
"Hai, kenalkan namaku Yuuki Sakurai teman Miyon-san, panggil saja Yuuki," orang yang bernama Yuuki itu pun memperkenalkan dirinya dan tersenyum.
"Hai, salam kenal, namaku Karin Hanazono, panggil saja Karin,"
Miyon segera menempati bangkunya yang berhadapan dengan Karin. Sedangkan Yuuki memilih duduk di sebelah Miyon. Mereka sejenak berbincang-bincang, namun tak lama kemudian. Miyon dengan seketika mengganti topik pembicaraan mereka.
"Sekarang beritahu aku siapa saja yang menembakmu hari ini?" tanya Miyon tiba tiba membuat Karin terkejut.
"Eh?! Kenapa jadi ke pertanyaan itu?" tanya Karin bingung. Semburat merah pun terpampang di wajahnya. Miyon dan Yuuki hanya tertawa kecil melihat Karin.
"Ayolah Karin-chan, aku hanya ingin tahu siapa saja yang menembakmu," ujar Miyon dengan menekankan kata 'Menembakmu' pada kalimatnya. Yuuki masih saja diam sejak topik pembicaraan mereka diganti. Karena ia tidak tahu apa-apa, hanya meng-iyakan dan ikut tertawa bersama.
"Hahh, baiklah aku menyerah. Kalau tidak salah namanya..." bla bla bla. Karin menyebutkan nama-nama yang hanya dia ingat saja.
Miyon terdiam sejenak mendengar nama orang-orang yang menyatakan cinta pada Karin. Karena SANGAT banyak, sampai Karin sendiri tidak tahu siapa yang mengirim surat itu.
"Hmm, kenapa kau tidak menerima salah satu dari mereka Karin-chan?" tanya Miyon, dan Yuuki sendiri hanya diam mendengarkan.
"Aku kan sudah pernah bilang, aku tidak tertarik pada hal semacam itu. Lagipula.." kalimatnya pun tergantung. Itu membuat Miyon dan Yuuki penasaran. Namun raut wajah Karin berubah seketika.
"Mereka pasti akan kecewa bila tau kondisiku saat ini kan?..." ujar Karin sembari tersenyum pedih.
Kata kata itu membuat Miyon terkejut, sedangkan Yuuki hanya bisa bingung. Yang mengetahui tentang keadaan Karin hanyalah Himeka dan Miyon. Sedangkan yang lain tidak ada yang dapat dipercaya. Miyon mengerti apa yang Karin maksud tentang kondisinya yang mengidam penyakit.
"Apa maksudmu?" tanya Yuuki, yang akhirnya angkat bicara juga. Sebagai seseorang yang tidak tahu apa-apa, ia bertanya dan membuat Karin bingung harus menjawab apa.
"K-kau tidak akan beritahu siapa-siapa bukan?" tanya Karin pelan agar tidak ada yang mendengar.
"Iya, tapi aku tidak memaksa ko," jawab Yuuki tersenyum berusaha tidak memaksa.
"Hm, baiklah. Aku percaya padamu karena kau teman Miyon-chan..." ujar karin lantas Karin menjelaskan tentang kondisinya saat ini, penyakitnya.
.
.
"Hmm begitu," tanggap Yuuki setelah dijelaskan oleh Karin secara panjang dan lebar.
Karin hanya bisa diam, menunduk, mengingat keadaannya sekarang, membutnya lelah berpikir. Penyakit Karin ini membuat Karin tidak boleh kelelahan, terlalu banyak pikiran, dan kalau sedang kambuh Karin tidak boleh melihat benda yang dekat dekat karena ia akan merasa mual dan pusing.
Gejalanya pun sekarang sudah terbuktikan, karena Karin sudah merasakan sesuatu yang aneh..
.
[Karin Pov]
"Ekh!.." tiba tiba kepalaku pusing, seperti kesemutan, dan dingin. Yang bisa aku lakukan hanya memegang kepalaku. Menahan pening dan pilu. Miyon terlihat terkejut melihatku. Ia sudah tahu saat-saat penyakitku kambuh dan dengan segera Miyon menghampiriku.
"Karin-chan? Kau tidak apa apa?" "Karin-san?" terdengar suara Miyon dan Yuuki yang khawatir.
Namun, meskipun aku berusaha untuk tetap sadarkan diri, aku masih bisa mendengar panggilan Miyon dan Yuuki di sampingku, lama-kelamaan pandanganku menjadi kabur, suara mereka pun tidak terdengar lagi, serasa berputar dan pandanganku menjadi hitam kelam...
.
.
Tbc~
Please Review ~^^~
a/n: Yeee sudah di Edit nih. Bagaimana? Ah iya, chapter ini tidak terlalu di edit alur ceritanya, tapi semoga lebih jelas dan di senangis para readers^^. Apa sudah terlihat perbedaannya? Ya untuk memastikan, seperti biasa.. Review please!
