"I could not tell you if I loved you the first moment I saw you, or if it was the second or third or fourth. But I remember the first moment I looked at you walking toward me and realized that somehow the rest of the world seemed to vanish when I was with you." —- Cassandra Clare, Clockwork Prince

.

.

***Seoul, Korea***

...

08.00 a.m. hari berikutnya, Minseok pergi ke supermarket, membawa tas belanjaan penuh dengan buah dan sayur-sayuran. Hanya beberapa meter setelah keluar dari supermarket Ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya. Jantungnya berdebar begitu cepat dan keringat dingin membasahi punggungnya. Dengan tiba-tiba Ia melambatkan langkahnya dan melihat kesampingnya. Ia memutar badannya dengan perlahan, tetapi tidak ada siapapun. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya.

Itu hanya imajinasiku, mungkin karena kebanyakan menonton film horor. Ia tersenyum kepada dirinya sendiri.

Minseok mulai berjalan kembali. Kemudian ia melihat kesekeliling dan menemukan seorang pria dengan nuansa hitam yang mengikutinya.

Oh, God help me! Penguntit atau pembunuh berantai sedang mengikutiku.

Ia berjalan dengan cepat, setengah berlari, dan orang misterius itu juga mengikuti langkahnya.

Hanya dua blok lagi dan aku akan sampai dirumah.

Ia melihat gang kecil disebelah bangunan dan memasukinya bertujuan untuk bersembunyi. Minseok lantas memegang tas berisi buah dan sayur-sayuran miliknya dengan erat keperutnya. Ia mengintip dari samping bangunan dan merasa lega karena ia pikir penguntitnya sudah pergi.

Whew, Thanks God, Dia pergi. Thank you Lord, thank you Lord. Ia menghembuskan nafas dengan lega dan berdoa dalam diam.

Minseok baru saja ingin keluar disaat seorang pria meraih lengannya dari belakangnya. Khawatir dengan rasa takut, Ia menjerit dengan panik dan berteriak dari atas paru-parunya.

"Aaaaaaaaaaargh" Ia berteriak dan dengan tepat tangan lelaki itu membekap mulutnya. Tas berisi buah dan sayur-sayuran itu terjatuh lalu berhamburan. Ia mencoba memukul dan menendang laki-laki itu, tapi tubuhnya lebih besar darinya dan sangat kuat. Tubuhnya ditempelkan kedinding dan pergelangan tangannya ditahan diatas kepalanya. Ia berjuang dengan menggeliatkan tubuhnya untuk kabur, tetapi tidak berhasil. Kemudian Ia menggigit tangan pria itu dengan keras.

"AH! Shit!" Lelaki itu berteriak dan memindahkan tangannya yang sebelumnya berada di mulut Minseok lalu mengibaskannya.

Mata Minseok tebuka lebar dengan terkejut. Ia menatap mata seseorang yang tadi menguntitnya dan mata kelam itu terasa tidak asing baginya. Ia mencoba mengingat dimana Ia bertemu lelaki itu. Lalu sebuah sirine pertanda bahaya menyala dikepalanya. Takut jika Minseok akan berteriak lagi, lelaki itu kembali membekap mulut Minseok, hingga gadis itu hanya bisa meronta meskipun ia sudah tahu betul siapa yang ia hadapi.

I know him, I know him. Pikirnya dengan kekalutan. Lelaki itu menatap balik kearahnya, dengan berani dan intens membuat Minseok ketakutan.

Perasaannya ambigu antara Kaget dan Takut , lalu shock dan kecemasannya tiba-tiba berganti dengan kemarahan yang mendominasi kepala Minseok.

Demi Tuhan, yang ada dihadapannya adalah Lu Han, tunangannya. Bagaimana bisa si Cassanova itu menguntitnya hingga kemari?

"Aku akan melepaskan tanganku, jika kau janji tidak akan berteriak. Kau paham?" Meskipun didalam kepalanya ia sudah ingin menjerit sekeras-kerasnya tetapi Minseok Mencoba untuk memahami apa yang dikatakan lelaki itu, dan mengangguk.

Luhan merasa bersalah melihat bekas tangannya memerah di pipi Minseok.

Setelah melepaskan bekapannya, Luhan mulai menilai Minseok dari atas ke bawah, Minseok terlihat lebih muda darinya , lemah, dan Innocent. Tapi, Luhan tahu bahwa itu hanya luarannya saja. Penampilan bisa sangat menipu. Pikirnya.

Minseok bernapas dengan rakus. Jantungnya berdebar begitu cepat pada saat yang bersamaan.

The Maniac! Ia mencoba membunuhku dengan menakut-nakutiku! Tubuh Luhan masih menjepit tubuh Minseok ke dinding, lalu karena terlalu kesal gadis itu mendorong tubuhnya secara paksa. Lalu tanpa peringatan Minseok melarikan diri.

"Hey, Mau kemana kau?" Lu Han mengejar Minseok, meskipun langkah kaki pendek itu bisa saja dijangkaunya, tapi Luhan hanya berlari kecil tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. "Jadi begini caramu memperlakukan calon suamimu huh?" Lu han menggerutu dengan mengejek. "Kita perlu bicara." Suaranya terdengar seperti perintah yang tidak ingin dibantah. Tetapi Minseok tetap mengabaikannya dengan mempercepat langkahnya yang sayang sekali tentu dapat Lu Han kejar dengan mudah. "Minseok, Bicaralah padaku layaknya orang dewasa."

Minseok berpura-pura tidak mendengarnya dan terus berlari.

"Kau tetap tidak mau menjawabku?" Suara Lu Han terdengar dingin dan memperingati. Ekspresi Lu han berbatasan dengan sebuah ejekan. "Apa kau tuli? Kelakuanmu seperti anak kecil. Aku memperingatkanmu, Kim Minseok. Berhenti mengabaikanku. Kita harus segera mendiskusikan pernikahan kita."

Tiba-tiba Minseok berbalik dan melihat Lu Han dengan mata kilat Emosi. Lu Han melihatnya tanpa emosi dan sangat datar, namun terkesan mengintimidasi. Minseok menyipitkan matanya dan menyemburkan amukannya. "Tidak ada yang perlu didiskusikan, karena aku tidak akan pernah mau menikah denganmu! Bahkan meksipun kau lelaki terakhir di bumi, Aku tidak akan merelakan diriku untuk diseret ke altar bersamamu!"

Golakan kemarahan terpancar dari wajah Lu Han. Matanya menatap Minseok sangat tajam.

Minseok berbalik tanpa menunggu jawaban dari Luhan, lalu ia berlari lagi. Lu han membiarkan gadis keras kepala itu lari. Bibirnya tersenyum mengerikan dan Minseok masih tidak tahu apa yang Luhan telah rencanakan setelah ini

.

.

.

Minseok dengan cepat memasuki rumah dan pergi ke dapur. Ia melihat Heechul yang sedang membuat pancake.

"Kau terlihat sedang kesal. Ada apa?" tanya Heechul.

"He's here. Oh God... Lu Han is here." Kata Minseok, terengah-engah dan frustasi.

Mata Heechul berbinar lucu dan tersenyum geli kepada keponakannya. Ia sama sekali tidak terkejut mengetahui Lu Han ada di Seoul. "Really? Oh, Itu sangat manis. Dia datang untuk menjeputmu, bukan?"

"No. Of course not." Teriak Minseok kesal.

Lalu bel berbunyi. Dan mata Minseok melebar menatap Heechul.

"That's him! Oh, aku akan bersembunyi."

"No, stay there. Aku akan membiarkannya masuk."

"Tapi Imo, aku tidak mau berbicara padanya. I hate him!"

"Minseok, mana tata kramamu? Ia sudah jauh-jauh datang kemari. Beijing- Seoul bukan hanya berjarak lima meter, itu bermil-mil dari sini Minseok. Setidaknya bicaralah padanya. Kau berhutang penjelasan padanya karena kabur dihari pertunanganmu kemarin." Marah Heechul sebelum berlalu keluar dari dapur untuk membuka pintu.

Minseok merasa sangat gugup. Apa yang harus ia lakukan?

Ia benar-benar takut. Lu Han adalah tipe orang yang akan melakukan segalanya demi tujuannya tercapai. Dan bagaimana jika tujuannya adalah untuk menghancurkan Minseok?

.

.

TBC