"Rapunzel"

Disclaimer: Naruto made by Masashi Kishimoto

Note: Cerita berjalan sesuai sudut pandang orang pertama yaitu Naruto

Happy Reading! ^^

Chapter 2: The Truth

Darah membasahi lantai yang putih bersih, suara lenguhan seakan ingin mengatakan sesuatu, dan nafas yang terengah-engah. Siapa yang melakukan ini pada Iruka? Hantu itu? Apakah ia benar-benar baik hati? Aku mengesampingkan semua pertanyaan dikepalaku untuk sejenak dan bergegas menolong Iruka. Aku menidurkannya dikamarku. Aku juga menelpon dokter.

"Ini benar-benar mengerikan" Dokter yang kupanggil mengelengkan kepala beberapa kali. Ia telah selesai mengobati tenggorokan Iruka yang hampir putus "Untungnya organ vitalnya belum rusak tapi sekarang dia tidak bisa berbicara lagi"

"Terima kasih atas bantuannya, dokter"

Hanya itu yang bisa kukatakan. Setelah mengantar dokter itu kepintu depan, aku kembali kekamarku. Aku melihat Iruka dengan raut wajah sedih sekaligus cemas. Iruka juga terlihat syok. Aku penasaran apa yang terjadi padanya.

Tiba-tiba Iruka mengetuk-ngetuk kasurku seakan ada yang ingin ia katakan. Aku memberikan secarik kertas dan pulpen agar Iruka dapat berkomunikasi. 3 menit ia menggerakkan pulpen diatas kertas lalu ia mengangkat kertas itu, menunjukkannya kepadaku. Tulisannya agak tidak karuan tapi masih bisa kubaca.

Segera tinggalkan rumah ini, Tuan

Tinggalkan saja aku

Jika tuan terus berada disini maka tuan akan mati

Jantungku berdegup kencang saat selesai membaca tulisan yang ditulis Iruka. Mati? Kenapa? Bukankah hantu itu baik?

"Tidak" kataku "Aku harus mencari tau apa yang terjadi"

Aku berjalan keluar dari kamarku. Aku berjalan menuju tangga ke lantai 3 dan seperti sebelumnya, pintu itu terkunci rapat. Aku menggedor pintu itu berkali-kali tapi pintu itu tak kunjung terbuka. Kunci? Dimana kuncinya? Menurut buku harian si hantu, dulu lantai 3 tidak terkunci lalu kenapa saat ini lantai 3 terkunci?

TAP..TAP..TAP..

Apa itu!? Suara derap langkah? Suara itu terdengar dari lantai 1. Dokter yang kupanggil sudah pulang lalu siapa itu? Aku berjalan pelan lebih tepatnya sangat pelan sembari menengok kekanan dan kekiri. Kini aku berada diujung tangga lantai 2 dan saat aku menengok dari lantai 2 ke lantai 1, suara itu berhenti, tak ada satu orang pun dibawah.

TRTK..TRK..TTRK..

Kali ini adalah suara seperti seseorang menaiki tangga. Tangga dirumah ini adalah tangga kayu jadi jika seseorang menaiki tangga maka akan menimbulkan suara. Aku yang berada diujung tangga sama sekali tak melihat apapun. 1 menit kemudian suara itu kembali menghilang. Nafasku tertahan, saat ini aku benar-benar ketakutan.

TOK..TOK..TOK..

Suara lagi? Dari mana? Aku berjalan menelusuri lantai 2 dan benar seperti dugaanku, suara itu berasal dari lantai 3. Ada yang mengetuk pintu yang terkunci itu. Bulu kudukku merinding. Bukankah itu artinya ada seseorang lantai 3?

"Sudah cukup!" Aku berlari masuk kekamarku tempat Iruka terbaring dan segera mengunci pintu. Iruka terus menatapku sambil terus memperlihatkan tulisan yang ia tulis tadi.

Apa yang harus kulakukan? Buku harian!? Entah kenapa tapi saat ini aku malah memikirkan buku harian itu. Aku mendekati buku harian itu yang kuletakkan diatas meja. Apa itu? Ada sesuatu terselip diantara halaman dan aku pun mengambilnya. Ternyata itu hanya sebuah foto yang menampilkan sesosok gadis bersurai ungu lavender tengah berdiri sambil tersenyum lebar, disekitarnya banyak jerami yang menggunung. Dari suasananya aku tau kalau tempat ia berfoto itu adalah gudang karena ayahku pernah memberitahuku tentang itu tapi foto siapa ini? Aku membalik foto itu dan aku menemukan sebuah tulisan yang sangat aneh dibelakang foto.

"Aku dan Nenek"

Nenek? Aku kembali memperhatikan foto itu. Aku melihat foto ini dari berbagai sisi tapi tetap saja menbingungkan. Mungkin kata aku dan nenek bukanlah hal yang aneh ataupun mengejutkan tapi akan kuberitau keganjilan apa yang kutemukan. Hanya ada satu orang dalam foto ini yaitu gadis berambut ungu. Kemana gambar nenek itu? Aku pun tidak tau.

KREK..KREK..

Ada orang yang berusaha membuka pintu kamarku. Kenop pintu kamarku terus bergerak dengan cepat. Suara cakaran yang menggesek kayu juga terdengar dan sangat menganggu pendengaranku. Sama seperti suara-suara sebelumnya, suara yang tadi menghilang tapi...

"Pergi kau!"

Sebuah bisikan mengalir ketelingaku. Aku menoleh dan menemukan sosok yang pernah menggangguku itu. Wajahnya terlihat jelas dan sangat mengerikan. Aku terduduk dilantai, lututku terasa lemas. Apa aku akan mati?

-o0o-

Gelap dan sunyi. Aku membuka mataku dan melihat sekeliling. Tempat ini dimana? Aku sama sekali tak pernah melihat tempat ini. Aku menengok kebelakang dan sekali lagi aku terkejut. Seorang gadis berambut ungu yang sudah sangat kurus tergeletak begitu saja. Ada alat pasung yang sudah terbuka disana dan sebuah kunci. Aroma busuk yang kucium ini menandakan kalau gadis itu sudah lama mati.

Gadis itu sangat cantik. Ini mengingatkanku pada kisah Rapunzel dimana gadis cantik dikurung dimenara tertinggi. Lama kelamaan aku menyadari sesuatu. Gadis itu adalah gadis yang ada difoto!? Siapa yang membunuhnya? Hantu itu? Dimana ini?

"Aduh..Kepalaku pusing" Aku memegangi kepalaku "Seingatku aku bertemu dengan hantu tapi kenapa aku masih hidup?"

21 Januari 1978

"Kemarin adalah hari bahagia untukku tapi kenapa kini nenek mengurungku? Apa salahku? Aku merasa sangat tersiksa. Kemana nenek? Dia menghilang begitu saja setelah mengurungku. Tubuhku sakit"

22 Januari 1978

"Hiks Hiks aku ingin bermain. Aku mau bebas! Adakah yang bisa membebaskanku?"

23 Januari 1978

"Nenek datang. Aku kira dia akan membebaskanku tapi ia hanya menatapku lalu meninggalkanku lagi. Aku sudah tak tahan lagi! Seseorang tolong bebaskan aku!"

Lanjutan dari buku harian itu ternyata ada disini. Nenek itu ternyata jahat. Tunggu dulu! Itu artinya hantu yang bertemu dengan Iruka dulu adalah hantu gadis ini dan yang kutemui saat itu adalah hantu si nenek. Iruka pasti salah mengenal hantu karena mereka sama-sama berambut panjang. Yang menyerang Iruka adalah si nenek dan si nenek pastilah yang membunuh anak ini. Itulah alasan nenek itu dikurung digudang. Hn? Ada pintu menuju kebawah, aku harus keluar dari sini.

Aku mencoba membuka pintu itu dengan kunci yang kulihat tadi tapi tidak cocok. Rupanya kunci ini adalah kunci alat pasung itu. Aku tidak mau berbuat kasar tapi aku tidak punya pilihan lain.

Aku menghancurkan pintu itu dengan pisau yang kutemukan didekat mayat si gadis. Mungkin si nenek menggunakan ini untuk menusuk gadis itu karena banyak luka ditusukan pada mayatnya. Setelah beberapa kali percobaan, pintu itu pun rusak dan otomatis terbuka memperlihatkan tangga yang tak asing bagiku. Ini adalah lantai villa dan itu artinya tempatku berada sekarang adalah lantai 3, lantai misterius yang terus terkunci. Gadis itu dibunuh disini dan sepertinya si neneklah yang memberitahu Iruka agar tidak mengganggu lantai ini

"Oh iya Iruka! Aku harap dia masih hidup!" Aku berlari sekuat tenaga menuruni tangga dan segera menuju kekamarku.

Terkunci? Memang aku menguncinya tapi bagaimana nenek itu membawaku? Dia hantu jadi kurasa tidak mustahil baginya. Tidak ada waktu untuk memikirkan itu. Aku mendobrak, menendang dan memukul pintu kamarku sekeras-kerasnya. Dan akhirnya terbuka..

"I-Iruka.."

Firasat burukku terjadi. Iruka tidak ada, yang tersisa hanyalah kepalanya yang terlihat jelas diatas kasurku. Iruka telah mati dan selanjutnya pastilah aku. Aku berlari menuju lantai 1 dan sosok gadis berambut ungu yang kulihat dilantai 3 muncul, ia tersenyum padaku tapi tak lama kemudian ekspresinya berubah menjadi sedih. Aku tertegun saat ia menghampiriku lalu menarik tanganku, menuntunku keluar dari rumah. Kami terus berlari menuju kesebuah pondok kecil disamping rumah. Pondok itu sangat tua.

KREKK..

Pintu kayu pondok itu berbunyi saat kubuka. Banyak jerami dan beberapa garpu rumput. Ini seperti gudang. Tunggu sebentar! Bukankah gudang ini sudah hancur oleh longsor lalu kenapa bisa? Mataku terbelalak saat melihat helaian rambut putih tercampur dengan kuningnya jerami. Aku memberanikan diriku untuk mengobrak-abrik jerami tersebut dan aku menemukan mayat seorang nenek yang telah terpotong-potong.

"Ini adalah.." Aku menatap gadis berambut ungu yang sedari tadi mengawasi setiap gerak-gerikku.

Aku kembali merasakan suatu keganjilan. Bukankah Iruka mengenal gadis ini? Jadi tidak mungkin si nenek yang menyuruh Iruka merahasiakan lantai 3 karena warna rambut mereka berbeda lalu untuk apa gadis ini menyuruh Iruka merahasiakan lantai 3? Buku harian! Lanjutan buku harian itu ada dilantai 3! Seingatku yang kubaca adalah tanggal 21, 22, 23, dan 24! Tanggal 20!? Apa yang terjadi? Aku juga lupa membaca lembaran terakhirnya! Aku tidak membacanya semuanya! Apa yang terjadi selanjutnya?

"Aku sudah memperingatkanmu untuk pergi, kan?"

Suara nenek itu!? Suara nenek itu terdengar lagi. Dia memang sudah menyuruhku untuk pergi beberapa kali begitupun dengan Iruka. Kenapa mereka berdua menyuruhku pergi? Apakah si nenek tak menyukaiku dan Iruka berusaha memberitahuku? Tidak! Kalau memang si nenek tak menyukaiku, kenapa dia tidak membunuhku?

Apa ini? Kertas? Kertas ini berada di dalam tumpukan jerami. I-Ini..

20 Januari 1978

"Yay! Aku mendapat hadiah permainan ala koki. Nenek memang tau kalau aku suka memasak. Tapi apa yang akan kumasak? Aku tau! Aku akan memasak nenek! Sama seperti aku memasak adikku. Pasti enak!"

Apa ini? Dadaku terasa sakit sekali! Tetesan merah menetes kelantai. Ada pisau menancap didadaku? Aku sempat menoleh kebelakang, gadis itu menusukku, kenapa? Kenapa ia tersenyum padaku? Senyumannya itu sangat mengerikan berbeda dengan senyuman yang ia berikan padaku saat ia mengajakku kesini.

Aku mulai mengerti tapi nampaknya sudah terlambat. Apa maksud nenek itu dan apa maksud Iruka. Nenek itu bukannya tidak menyukaiku tapi gadis ini...

Sial! Aku mulai kesulitan bernafas dan bajuku yang semula putih kini mulai berganti warna menjadi warna merah. Ini mungkin kata-kata terakhirku jadi akan kukatakan dengan jelas.

"Selamat tinggal ayah, selamat tinggal ibu"

- The End -

Note:

Tamat! Gimana? Apakah kalian sudah memprediksi endingnya? Ada yang tertipu? Hahaha..

Sebenarnya aku ingin membuat si nenek menjadi jahat seperti fic horror pada umumnya tapi disaat aku mulai menulis, pikiranku berubah dan cerita seperti mengalir begitu saja. Mudah-mudahan saja para reader bisa terhibur. Oh iya ternyata buku harian gadis itu tidak berhenti ditanggal 24 lho. Naruto tidak membaca halaman terakhir kan? Kalian penasaran dengan isinya? Ini dia...

25 Januari 1978

"Aku sudah siap untuk mengakhiri hidupku tapi tunggu dulu! Ada kunci disana! Kunci itu adalah kunci borgol ini. Akhirnya aku bebas dan bisa bermain lagi bersama nenek. Ayo bermain nenekku tersayang, kali ini aku benar-benar akan memasakmu menjadi hidangan yang lezat"

Mohon Reviewnya (^/\^)