Orang-orang di kawasan itu mulai membicarakan Luhan. Bersama kemungkinan yang tercipta dari mulut-mulut gatal; apakah Luhan adalah gadis Sehun secara resmi? Karena selama ini Sehun tak pernah menetap dengan satu gadis, mungkin semua pelacur di rumah bordil terkenal di kawasan itu sudah pernah ia gilir. Luhan yang bak gadis emas dalam sangkar itu tak pernah Sehun izinkan keluar dari kamar, orang luar yang secara frekuentif bisa bertemu dengannya hanya Kyungsoo dan beberapa pelayan di mansion; hal yang membuat spekulasi makin kuat berkembang.

Namun Sehun tak pernah peduli selama Luhan masih ada di sana. Masih terbangun di antara lengannya dengan mata berkabut, masih menyiapkan pakaiannya, dan berbicara tentang hal-hal baru yang di beberapa kesempatan terdengar aneh tapi menghibur.

Sejujurnya hal itu terasa asing, tapi Sehun sudah tak ingin memusingkannya.

"Kata Kyungsoo aku jadi bahan gosip di sini."

Nah, mungkin Luhan tidak sepenuhnya sependapat dengannya.

"Dan kau pikir aku peduli dengan itu?" Sehun menatap Luhan yang tengah bergelung di atas pangkuannya dengan tatapan heran.

Ini petang hari, dan Sehun memutuskan untuk bersantai di sofa panjangnya yang nyaman dengan brandy dan rokok setelah seharian bergelut dengan brengsek-brengsek di pelabuhan timur—sesuatu tentang kawanan tikus kecil yang mencoba memberontak dan mengambil wilayah itu—sampai Luhan datang, duduk melintangi pahanya dan membaca buku di sana.

"Bisakah kau mematikan rokokmu?" Dan juga menggerutui rokok yang ia jepit di antara bibirnya. Sehun memutar bola matanya malas.

"Akan aku lakukan setelah habis."

"Itu rokok ketigamu, kau tahu?"

"Dan kenapa kau tidak minggir jika kau terganggu?" Sehun menatap ke bawah, menatap Luhan yang setengah mencebikkan bibir. Sekarang matanya memantulkan warna emas yang lebih pekat di antara emerald itu.

"Kau keberatan?" Sehun masih menatapnya dengan tatapan yang sama. "Di sini nyaman, tidak ingin pergi." Lanjutnya lalu menyamankan diri dan kembali membaca.

Sehun kembali ke kepulan asap rokoknya yang mahal, mengambil brandy dalam old fashioned glass dan meneguknya perlahan. Luhan menyadari pergerakan tangannya dan menatap ke balik punggungnya. "Itu brandy?"

Sehun mengangguk. "Kau baru sadar sekarang?"

Luhan mendengus. "Apa aku bisa mendapat cider?"

"Berapa umurmu?" kata Sehun mencela. Luhan tampak tak ambil pusing, karena setelahnya Sehun meraih telepon rumah dan menekan intercom satu.

"Ambilkan cider kemari."

Sehun menatap bagaimana Luhan mendapatkan senyuman di bibirnya.

Beberapa saat kemudian, seorang wanita pelayan datang dengan sebotol cider keemasan dalam ember es kecil juga satu old fashioned lain di atas nampan. Sehun memberi kode agar dia meletakkannya di meja kecil di dekat mereka.

Segera setelah Luhan mendapatkan cider-nya, gadis itu meletakkan buku dan berbicara.

"Aku duapuluh satu, kalau kau?" Luhan selalu punya topik mengejutkan yang melompat-lompat, pikirnya. Sepertinya Sehun lupa dia baru saja mengangkat topik usia.

"Enam tahun lebih tua."

"Apakah sulit mengatakan dua puluh tujuh?"

"Dan kau sudah mengatakannya, apakah itu sulit?"

Sehun berusaha mendelik saat Luhan mencubit pinggangnya main-main—karena ototnya terlalu terik untuk bisa dicubit. Luhan benar-benar tampak lucu dengan raut gemasnya. "Apa kau sadar kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan?"

"Bukankah aku mempelajarinya darimu?"

"Sehun!" Luhan menjerit sebal. Dan Sehun menaikkan sebelah alis dengan sangat terhibur.

"Apa?"

Luhan meneguk cidernya lagi, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Sehun. Sehun memutuskan membuang puntung rokok di tangan kanannya sebelum membenarkan posisi kaki Luhan. "Apa tidak apa-apa soal rumor yang berterbangan?"

"Memang rumor apa saja yang berterbangan? Aku heran, karena seharusnya rumor tak punya sayap untuk bisa terbang?"

Sehun tertegun sendiri setelahnya, apakah yang barusan ia katakan itu adalah humor?

Luhan tampak menahan diri untuk tidak kesal, lalu menjawab dengan suara setenang angin. "Bahwa aku gadis simpanan emasmu, bahwa aku mungkin memperdaya dirimu, punya sesuatu yang disembunyikan untuk menjatuhkanmu, bahwa aku gadis yang membuatmu tak lagi sering berkumpul dengan mereka—meski tangan dinginmu masih sangat baik, bahwa aku membuat dirimu tidak lagi menyambangi Irene, si Primadona yang meradang pelanggan terbaiknya menghilang selama berminggu-minggu."

Sehun meneguk brandy-nya lagi. "Kau sangat banyak bicara."

"Kau tidak terganggu dengan itu?"

"Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku peduli dengan itu, kan. Hidup di dunia kotor ini membuatku bisa menilai orang; dan selama ini aku tak pernah salah." Sehun menggunakan nada finalitas di sana, karena ia berharap pembicaraan ini tak akan berlanjut. Ia mungkin tak punya jawaban jika Luhan bertanya soal alasan.

"Kyungsoo berkata, jika Kris tahu aku ada di sini, mungkin dia bisa memulai perkara dengan klan ini. Dan sejak awal dia sudah curiga, hanya tinggal menemukan bukti." Luhan memanglah gadis keras kepala.

Sehun mendengus. "Ada tidaknya dirimu sebagai alasan dia memang suka mencari masalah denganku."

"Kau tidak ingin melepaskanku?" tanya Luhan langsung, menatapnya dengan mata emerald-nya yang bercampur emas. Sehun meremat gelas dalam genggamannya, matanya berkilat tak suka.

"Kau sendiri yang bilang bahwa di sini jauh lebih baik daripada—"

"Hanya ya atau tidak yang sederhana." Sehun sadar selama ini ia tak pernah berkata dengan kalimat langsung, dan sejujurnya ini agak sulit.

Sehun memalingkan wajah. "Tidak. Tidak akan pernah."

Sehun tidak tahu seperti apa reaksi Luhan, ia enggan melihatnya entah mengapa. Lalu tiba-tiba Luhan memeluk lehernya dengan erat, menenggelamkan wajah di sana seakan tak ingin lepas. Sehun merasakan sesuatu yang berbeda menelusup ke dalam tubuhnya.

"Aku senang mendengarnya. Aku tak peduli kau menganggapku apa di sini, aku tak peduli kau akan menggunakanku sebagai apa—"

"Luhan…"

"—aku tak peduli, selama kau masih ingin aku ada di sini."

Luhan menjadi begitu emosional. Dan saat itu Sehun menyadari, selama ini ia tak pernah benar-benar tahu apa yang Luhan rasakan selama berada di dekatnya. Dia selalu menurut ketika Sehun memeluknya, dia tak keberatan saat Sehun menciumnya bergairah, tak keberatan ia kurung di sini, tak pernah sekalipun menunjukkan penolakan. Luhan melakukan hal-hal kecil seperti membantu Sehun mengeringkan rambut, menyiapkan pakaian dan air mandinya, menunggunya sambil membaca saat ia pulang terlalu larut, mengobrol dengan warna suara ringan; Luhan melakukan seolah itu semua adalah sewajarnya yang ia lakukan, tanpa rasa terpaksa.

Sehun mungkin kehilangan kemampuan untuk bernafas selama beberapa saat, sampai ia menemukan suaranya.

Apa yang kau rasakan? "Kenapa kau bisa menerima semua ini?" Padahal aku tak pernah bisa mengatakan alasan mengapa aku menahanmu di sini, terlepas bahwa kau memang gadis tawanan dan tak punya hak untuk menolak apapun.

Luhan mengangkat wajahnya, menatapnya sangat dekat dengan mata berkilauan karena lapisan bening di sana. "Aku seperti menemukan rumah."

Sehun tertegun.

"Bersamamu, aku seperti menemukan teman. Teman yang sama menyedihkannya denganku, teman yang punya rasa sakit seperti rasa sakit yang aku miliki. Ah, kau memiliki lebih banyak kesedihan. Apa kau tahu menemukan seseorang seperti itu adalah hal mewah untukku?" Luhan tampak seperti ingin menangis.

"Sangat aneh, sangat asing karena aku belum pernah merasakannya, tetapi terasa sangat nyaman. Aku bisa tidur tanpa harus merasa ketakutan, aku tak lagi berusaha menahan semuanya dengan harapan kecil bahwa mungkin besok aku akan mendapatkan impianku; karena saat melihatmu aku merasa sudah baik-baik saja, tak menginginkan apapun lagi."

Air mata membasahi wajahnya yang mulai disepuh rona. Gadis dalam pangkuannya tampak kacau dan tersedu.

Sehun menyentuh wajah Luhan, mengusap air mata di sana. Meminta Luhan menatapnya.

Saat melihat mata indah itu Sehun berpikir, mungkin alasan yang selama ini ia pusingkan sudah ia temukan.

Sehun menarik Luhan mendekat, hidung mereka bersentuhan dan terasa benar. Sehun menatap bibir Luhan yang bergetar, lalu maju untuk menawannya dalam ciuman. Luhan terkesiap, terkejut dan mengeluarkan suara nafas tertahan, lalu rileks perlahan.

Sehun menyukai bagaimana Luhan menerima ciumannya seolah ia sangat bergantung dengan itu semua. Seolah ia hanya memiliki Sehun, dan anehnya itu semua terasa … Sehun tak bisa menjelaskannya, aneh dan asing, tetapi sama seperti apa yang Luhan katakan, ini semua terasa nyaman. Cider yang sempat Luhan minum meninggalkan rasa manis yang lembut dan menyenangkan.

Sehun menjauhkan diri, melihat bagaimana Luhan terengah dengan wajah memerah. Mata emerald-nya terlihat lebih pekat dan gelap, warna emas yang sempat membayangi perlahan memudar seiring sinar matahari yang mulai hilang.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Luhan bertanya, telapak tangannya menyentuh sisi wajah Sehun.

Sehun hanya menatapnya sebelum kembali mencium Luhan.

"Apakah aku sudah mengatakan bahwa kau sangat cantik?" Bisik Sehun saat bibir mereka masih bersentuhan. Sepertinya Luhan tersenyum, sudut bibirnya mengurva lembut.

Sehun merasakan jemari Luhan memainkan tengkuknya dengan lembut dan hati-hati. Sehun nyaris menggigit bibir tak tahan, gadis ini begitu mengundang dengan caranya sendiri. Sehun kembali menciumnya, melumat habis tak bersisa tanpa begitu peduli pada Luhan yang jelas kewalahan dan nyaris kehabisan nafas.

Luhan terasa manis, menyenangkan dan dekat. Bibirnya lembut, rapuh dan sangat kentara amatir. Tetapi Sehun merasa ini adalah yang terbaik yang pernah ia rasakan, karena tak ada dorongan nafsu yang sangat menuntut, tak ada keinginan untuk menuntaskannya secepat mungkin; Sehun untuk pertama kalinya merasa ia ingin berjalan lambat.

Sehun menggigir bibir merah muda yang kini makin memerah itu, membuahkan lenguhan tertahan. Tangan Luhan menemukan jalan untuk menghantam dadanya dengan pukulan lemah. Sehun tersenyum saat melepas ciumannya walau tak memberi jarak berarti.

Luhan terengah, memerah dan sepenuhnya mengundang.

"Kau belum tahu caranya bernafas saat seseorang menciummu?"

Warna merah pipi Luhan makin memekat, bibirnya sedikit gemetar. "A-aku tak pernah … uh, k-kau terlalu … uh." Luhan tampak tak bisa mendapatkan lanjutan kalimatnya.

Sehun tersenyum tertahan, sangat terhibur dengan reaksi Luhan. "Kupikir kau punya pengalaman dengan semua ucapanmu kemarin, tapi ternyata aku mendapatkan perawan di sini?"

Luhan menggigit bibirnya. Sehun berhasrat untuk menggantikan pekerjaan itu secepat mungkin. Dan dia segera melakukannya, kembali menciumnya dengan hasrat yang ia biarkan mengaliri seluruh pembuluh darah. Bibir lembut itu ia gigit dan tarik main-main. Sebelah tangannya tak lagi menekan tengkuk Luhan, tetapi mulai bergerak menuju bagian depan, menyentuhnya dengan gerakan mengambang. Luhan terkesiap saat tangannya sampai pada dada gadis itu, tapi sama sekali tak menolak.

Luhan terasa sangat lembut dan balik menekan saat ia mulai meremasnya.

Bibir mereka lepas sejenak saat Luhan gemetar dan tak mampu menahan desahannya. "Ahh… Eungh… Sehun… A-akh, j-jangan terlalu keras…"

"Jangan terlalu keras, hmm?" Sehun menggoda gadis itu, melepaskan bibir Luhan sejenak membiarkannya ribut mendesah karena ia berpikir leher Luhan yang tipis dan jenjang tak kalah menarik. Sehun menghirup aroma dari sana dengan tulang hidung menempel, Sehun menemukan harum yang sama, tetapi memiliki sepercik aroma lain yang feminine dan menyenangkan. Sehun mulai mengecupnya, menciumnya dan juga merasakan leher putih tipis itu.

"A-ah…"

Desahan Luhan tak begitu keras, tak berlebihan, mereka terdengar lembut, ringan dan kebanyakan di antaranya hanya erang nafas yang jujur. Sehun bergairah mendapatkan tubuh yang begitu sensitif dan amatir dalam kuasanya.

Sehun menggigit kulit tipis itu cukup kuat, melanjutkannya dengan hisapan dan jilatan lembut. Di luar ekspektasi Luhan tidak memekik, dia hanya tersentak dengan nafas tertahan dan tubuh menegang. Sehun melepaskan hisapannya, menemukan Luhan yang menatapnya berkabut. Terengah, kemerahan, dan lebih dari semuanya, mata emerald itu berkilau penuh emosi dan Sehun merasa itu mengalahkan semua tatapan seduktif menggoda yang pernah ia lihat sebelum ini.

Ah, ia tak akan menahan diri lagi.

Sehun beranjak dari sofa dengan Luhan dalam pelukan dan menghempasnya ke atas ranjang. Tak menunggu jeda ia langsung menyerang dengan ciuman-ciuman dan hisapan-hisapan.

"Sehun…" Luhan menghentikannya dengan suara lirih dan telapak tangan yang menyentuh rahangnya. Tatapannya lembut dan tak dapat diduga. "Aku benar-benar amatir; aku takut kau kecewa."

Kata-kata yang sangat Luhan sekali. Tetapi Sehun malah menemukan dirinya terkekeh lembut. Kecewa? Bahkan ini pertama kalinya Sehun merasa begitu nyaman dan bergairah di saat yang sama. Jadi dia kembali mendekatkan tubuh, menciumi leher tipis itu untuk kesekian kali dan bergumam dengan nafas hangat di sana.

"Aku menginginkannya. Biarkan aku, hanya nikmatilah dan kau lakukan apa yang kau bisa, Luhan."

Sehun merobek kancing kemeja putih Luhan, melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuh sehalus porselain itu. Sehun gemetar karena gairah melihat Luhan begitu indah dengan tubuh telanjangnya. Putih kemerahan, tipis, rentan dan sangat lembut.

Sehun menyentuh kulit itu, dan ia bisa merasakan Luhan gemetar di bawah sentuhannya. Luhan terus memejamkan mata, menggigit bibir menahan suara-suara yang mungkin malu ia lepaskan. Sehun dengan cepat melepas kemeja dan melemparnya ke lantai, disusul pullover dan boxer brief hitam ketat yang mengurung ereksinya. Sehun merendahkan tubuhnya, memisahkan kaki jenjang yang terus ingin mengatup itu cukup kuat.

Sehun bisa mendengar bagaimana Luhan terkesiap saat ia mencium bagian terprivatnya. Sehun menggunakan lidahnya dengan hati-hati, pelan, malas dan tak terburu. Benar-benar tahu bagaimana memainkan Luhan dengan sensasi intens di saat pertamanya, dan itu poinnya, Sehun akan membuat Luhan tak bisa melupakan satu detail pun.

Desah nafas Luhan makin cepat dan berantakan saat Sehun memasukkan jarinya yang sudah ia basahi ke dalam lipatan itu. Ah, berkilat basah dan begitu merah muda.

"Kau menyukainya?" Sehun bertanya dengan nada menggoda saat wajahnya mencapai dada Luhan. Luhan membusurkan punggung indahnya saat jemari kedua Sehun masuk dan membuat gerakan yang cukup menyiksa.

"A-aku…" Luhan tampak kesulitan, tapi Sehun juga tak begitu menginginkan jawaban. Semuanya tergambar jelas dari seberapa merah wajah dan leher Luhan, keringat yang membasahi juga suhu tubuhnya yang hangat.

Sehun merasakan Luhan mulai menegang dan menyempit di bawah sana, dan tepat sebelum Luhan mendapatkan orgasme pertamanya, Sehun berhenti. Luhan tampak benar-benar kecewa juga kebingungan.

"Kenapa kau berhenti?" Luhan terlihat benar-benar merajuk dan Sehun hanya bisa kembali mencium bibir yang mencebik itu untuk menyembunyikan seringai puasnya.

"Ini akan layak…" Bisiknya saat Luhan terkesiap begitu Sehun menekan ereksinya yang tentu saja, lebih dari sekadar kata besar dan keras di bibir lipatan merah muda itu. Luhan terdengar antara setengah mengerang dan terisak saat Sehun menekannya makin dalam.

Sehun merasakan Luhan begitu basah, panas dan sempit. Apa yang kau harapkan dari perawan yang masih sangat hijau seperti gadis yang tengah menggeliat di bawahnya ini? Ini sangat menakjubkan. Lalu Sehun menemukannya, dinding elastis tipis yang bisa Sehun pastikan akan melecut Luhan dengan rasa sakit.

Sehun dengan baik hati merendahkan tubuhnya, menggerayang dada Luhan dan menciumi lehernya yang lengket karena keringat. "Kau bisa lakukan apapun padaku. Kau bisa mencakar punggungku, atau jika kau ingin menggigit bahuku pun aku izinkan. Aku tak akan berhenti, tapi aku akan menunggumu sampai kau terbiasa."

Kalimat itu tampaknya membuat Luhan sedikit tenang, dan itulah yang Sehun inginkan.

Sehun mendorong dengan satu sentakan keras. Sensasi mencengkeram kuat membasuh tubuhnya dengan kenikmatan bersama sengatan pedih dari kuku dan gigi Luhan—gadis itu melakukan keduanya. Kulitnya perih, tapi itu layak untuk kenikmatan yang ia dapatkan. Sehun tak pernah merasa sepuas ini di waktu yang begitu awal.

Sehun sedikit mengangkat tubuhnya, melihat bagaimana Luhan terisak cukup pedih dan berlinang. Sehun mencium air mata yang membentuk anak sungai itu, menjilatnya kemudian mencium bibir Luhan.

"Sakit sekali. Apakah milikmu harus sebesar itu? Aku tak bisa merasakan kakiku." Luhan terisak. Sehun hanya tersenyum, menunggu tak sabar sambil menggerakan ereksinya di dalam tubuh Luhan. Nyaris gila karena Luhan tak henti menggerakan otot dalamnya, merematnya dengan begitu basah. Sehun makin terangsang hanya karena memikirkan itu semua terjadi secara alami.

Sehun bangkit, tangannya meraih kaki Luhan yang lemas dan mengangkatnya, mengalungkan salah satunya ke bahunya. Luhan terkesiap, dan Sehun merasakan remasan lain di ereksinya. Sedikit kejam memang menggunakan posisi ini untuk kali pertamanya, tapi Sehun menjanjikan hal yang layak setelahnya.

Sehun bergerak, mendorong dengan tempo lambat yang segera berubah cepat selang beberapa menit karena ia benar-benar tak tahan. Lebih keras, lebih cepat. Luhan menggeliat, mendesah tak koheren dengan jemari meremat sprei satin.

Sehun memejamkan mata, menikmati dinding milik Luhan yang berdenyut basah dan panas. Sehun kesulitan mendeskripsikan, yang jelas ini terasa lebih memuaskan dibanding semua seks yang pernah ia lakukan. Apakah karena ada percikan perasaan di sana? Memikirkan itu hanya membuat ereksinya makin membengkak di dalam tubuh Luhan.

Luhan membusurkan punggungnya saat Sehun menghentak ke sudut yang berbeda, dan itulah pusat dari semesta milik Luhan. Desah nafas tak koheren dan gerakan yang mulai kacau membuat Sehun makin tak terkendali, ia mendorong makin cepat dan keras. Ia menggigit kulit sensitif di kaki jenjang Luhan, hanya membuat Luhan makin gemetar.

Sehun berusaha membuka mata, dan ia menemukan pemandangan paling indah seumur hidup. Tak dapat terdefinisi bagaimana perasaan asing membasuh seluruh tubuhnya hanya karena Luhan yang begitu merah muda dan basah dengan ekspresi nikmatnya. Dasar perawan… Batinnya bahagia.

Sehun menurunkan kaki Luhan, mendekapnya sangat dekat saat ia merasa akan mencapai puncak.

Dan Sehun datang dengan—mungkin, orgasme terbaik yang pernah ia ingat.

Luhan memeluknya sangat erat, gemetar dan luar biasa terengah. Mereka bernafas dengan irama yang sama. Sehun tahu berat tubuhnya sangat menekan Luhan, tetapi ia merasa tidak ingin bangkit. Ia sangat menikmati bagaimana tubuh telanjang mereka berdekatan tanpa sekat, aroma tubuh mereka saling mengontaminasi bersama aroma pasca seks yang kuat.

Luhan menyentuh sisi wajahnya, membuat Sehun mau tak mau sedikit mengangkat tubuh.

"Aku… nyaris tak bisa bernafas." Sehun merasa gemetar karena gairah mendengar suara serak basah itu, tapi ia tahu ia memiliki banyak waktu. Jadi dia hanya tertawa samar, mencium bibir bengkak kemerahan itu dan menggulingkan tubuh mereka. Sehun melingkari tubuh Luhan di atasnya dengan pelukan posesif.

"Aku … benar-benar tak bisa merasakan kakiku," kata Luhan dengan suara serak. "dan kenapa kau tak menarik keluar?"

Sehun mencium leher Luhan dan bergumam di sana. "Di dalam hangat, dan kurasa aku tak ingin menyia-nyiakan spermaku?"

"Kalimatmu sungguh vulgar."

Sehun tertawa lembut. "Tidurlah, Luhan."

"Jika kita tidur sekarang mungkin kita akan terbangun jam 2 pagi, Sehun." Tetapi suara Luhan seperti sudah terbang ke awan. Hal itu terdengar sangat menarik, dan Sehun menarik selimut untuk mereka.

.

.

.

Sehun tak akan mengumbar tentang bagaimana harinya menjadi lebih ringan, dan jujur … terasa lebih baik. Harinya menjadi lebih indah? Itu bukan kalimat seorang Oh Se Hun. Oh Se Hun masihlah pria kejam dingin yang tak segan menarik pelatuk revolver.

Dia hanya akan mengatakan bahwa ia menyukai bagaimana tiap pagi ia memiliki Luhan, mendapatkan banyak kesempatan untuk menatap emerald keemasan tanpa pusing memikirkan alasan hingga Luhan mengubur diri karena memerah malu, juga rasa dan aroma cider yang kerap ia rasakan di mulut Luhan saat ia menciumnya.

Luhan tak lantas berubah menjadi sangat cerah atau apa—sejak awal dia memang sudah begitu cerah, tapi Sehun tahu ada sesuatu lain yang membuat Luhan tak lagi memiliki senyum yang terlihat menahan diri di beberapa kesempatan. Dia sepenuhnya lepas dengan perasaannya.

Dan, ada satu hal yang sangat ingin Sehun ketahui.

"Apa kau masih memikirkan mimpimu?"

Mungkin menjadi kebiasaan, tentang Luhan yang menyamankan diri di pangkuannya sementara ia sendiri menikmati sebatang rokok. Luhan tak memiliki buku atau old fashioned di tangannya, dia hanya memejamkan mata memeluknya menikmati udara pagi menjelang siang yang cukup sejuk. Sehun baru menyadari, gadis satu ini sangat suka bergelung dan memejamkan mata di mana pun ada kesempatan tanpa kenal waktu.

"Mimpi? Mimpi apa?"

Sehun mendengus. "Katamu kau memikirkannya sepanjang hidup; bagaimana bisa kau lupa? Apa kalimatmu kemarin hanya sebatas kata-kata indah penghiburan?"

Luhan mengangkat kepala dari sandaran bahunya, dan sedikit banyak Sehun ingin meminta Luhan kembali ke sana. Tapi mungkin tidak, karena tatapan Luhan sekarang sangat menggemaskan. Luhan menatapnya jengkel.

"Sebenarnya apa yang mau kau katakan, hah?"

"Bukankah pertanyaanku sudah sangat jelas tadi?" Sehun mengangkat sebelah alisnya, dan sudut bibirnya berkedut melihat reaksi Luhan yang seperti naik darah.

Luhan kembali ke bahunya—ah, nyaman sekali, dan menggerutui sesuatu tentang "Aku akan memiliki banyak rambut putih karena si Menyebalkan ini." Sehun hanya bisa mengulum senyum tipis.

"Mimpimu, rumah di dekat laut yang ingin kau tinggali."

Luhan seperti terkesiap. Ada jeda hening di antara mereka. Dan saat itu Sehun memikirkan sebuah bangunan lantai dua di pinggiran tebing karang yang tak terlalu tinggi. Bangunan itu bercat putih, memiliki banyak jendela besar terbuka dengan juntaian tirai tipis dan halaman samping yang mempunyai jalan menuju pantai pasir putih. Kemudian Luhan buka suara.

"Ah, soal itu, ya? Aku tidak terlalu banyak memikirkannya sekarang."

"Meskipun itu sudah menjadi mimpi yang selalu kau bayangkan sepanjang hidupmu?"

Luhan terkekeh lembut. "Koreksi aku jika salah, tapi bukankah aku pernah bilang bahwa kau saja sudah cukup?"

Sehun tak mampu menjawab, bukan ranahnya berbicara sesuatu yang sentimental seperti itu. Jadi dia hanya diam dan membiarkan Luhan berbicara. "Aku tak akan mengulangi kalimat-kalimat memalukan hari itu, jadi jangan bertanya lagi. Anggap aku lancang atau tak tahu diri, tapi aku sudah merasa di sini adalah rumahku. Bukan rumah secara harfiah, tetapi rumah. Aku tak lagi memikirkannya terlalu banyak, kenapa harus mengharapkan sebuah bangunan ketika aku sudah memilikimu; rumahku.(*)"

Sehun tak bisa menahan senyumannya.

"Mungkin keinginanku untuk memiliki rumah di dekat laut hanya interpretasi dari bayangan ingin perasaan damai dan tenang, terlindungi dan tak perlu mengkhawatirkan tentang bagaimana aku akan bertahan untuk menderita esok hari."

Sehun tak berkomentar apapun, merasa sedikit berat mendengarnya.

"Aku akan pergi ke suatu tempat, kau lakukan sesuatu bersama Kyungsoo. Kau bisa ke dapur utara jika ingin memasak sesuatu atau pergi ke taman di atap; tapi jangan keluar mansion."

"Hm mm. Hati-hati di jalan, pulang dengan selamat."

Sehun terkekeh lirih. Luhan berkata seperti itu tetapi malah menyamankan diri, mengusak makin dalam ke perpotongan leher dan bahunya. Selintas pikiran ingin menekan tubuh Luhan ke ranjang terdengar brilian, tetapi itu akan membuatnya bodoh. Dengan berat hati ia melepaskan pelukan Luhan, memberikan satu ciuman dalam pada bibir Luhan untuk kemudian pergi.

Sehun tak tahan untuk tidak berbalik saat mencapai pintu, melihat Luhan menumpukan dagunya di sandaran sofa menatapnya dengan mata berair, hal lain untuk permintaan cepat kembali.

Apa yang membuatmu menunggu akan benar-benar layak…

.

.

.

Sehun kembali saat hari mulai menapaki senja, pekerjaan hari ini seharusnya menyita waktu sampai tengah malam; tentang semua urusan dunia bawah dan pemberontakan-pemberontakan kecil yang entah mengapa makin sering mengingat frekuensinya menampakkan diri lebih sedikit akhir-akhir ini. Sebenarnya ada satu hal lain mengganggu, salah satu anak buahnya melaporkan ada sesuatu mencurigakan dari Kris dan klannya.

Namun Sehun memilih abai sejenak, akan ia urus esok hari, pikirnya.

Sehun membuka pintu kamar, menemukan Luhan tertidur salah satu sisi ranjang. Wajahnya damai dan cantik sekali, kata Kyungsoo dia kelelahan memasak banyak sekali makanan seharian ini dan berkebun di taman atap. Rasa jengkel sedikit mengganggu ketika teringat bahwa Luhan sempat membagikan masakannya kepada orang-orang di mansion, bahkan dia masuk ke bagian sayap aula tembak dengan seloyang kue. Dia suka sekali berkeliaran setelah Sehun memberikan izin.

Sehun duduk di sampingnya, mencuri satu kecupan dalam yang membuat Luhan melenguh dan terbangun.

"Eungh, kau sudah pulang?" Gumamnya serak, berusaha bangkit namun mata setengah terpejamnya membuatnya kembali melesak ke bantal. Mengusak mendekat pada Sehun yang hanya bisa tersenyum tipis.

"Bangun, Tukang Tidur. Kau perlu pergi ke suatu tempat."

"Gendong aku, aku masih sangat mengantuk."

"Ini belum sepenuhnya senja dan kau benar-benar tidur seperti kucing gendut."

Luhan hanya membuka sebelah matanya sayu dan melempar senyum kekanakan. Sehun mendengus, mengangkat tubuh Luhan dan beranjak keluar kamar. Beberapa kali memastikan gaun putih yang Luhan pakai tak tersingkap dan menampakkan kulitnya. Sehun berjalan dengan raut wajah datar seperti biasa, mengabaikan bungkukan hormat bawahannya juga pekikan tertahan dari para pelayan wanita.

"Mau kemana?" Luhan membuka mata saat ia sampai di jok mobil Sehun, Sehun hanya mengusak rambutnya sebelum menyalakan mesin.

"Tidurlah lagi, akan aku bangunkan nanti."

Luhan tak lagi berkomentar dan Sehun menikmati keheningan nyaman yang mengelilingi. Sehun membiarkan matanya berpencar sepanjang jalan, dari pepohonan lebat yang mulai menggelap, rumah-rumah sampai padang ilalang yang menampakkan kombinasi menakjubkan dengan cahaya keemasan. Ketika ia merasakan desiran angin lebih kuat dan suara khas membelai pendengaran, ia tak menahan diri untuk tersenyum dan menatap Luhan yang nampaknya masih nyaman dengan pulau awannya.

Sehun sudah menyiapkannya sejak minggu lalu, dan ia benar-benar menggunakan tangannya. Tentu dirinya harus benar-benar bertelinga tebal karena baik Chanyeol maupun Kai sama sekali tak melewatkan kesempatan untuk mengejeknya habis-habisan, tentang bagaimana ia mencari sendiri rumah yang memenuhi kriteria di dekat laut dengan berbagai keinginan yang rewel, lalu tanpa janji datang ke seorang perancang bangunan mengajukan renovasi.

"Kuberikan bonus besar jika kau bisa melakukannya dalam seminggu."

Namun tentu saja mereka tak mengejar bonusnya, mungkin motivasi mereka adalah mengamankan kepala masing-masing.

Rumah itu masih kosong, dalam arti hanya ada perabot-perabot utama karena Sehun akan membiarkan Luhan menata rumahnya sendiri nanti. Gagasan itu memberikan sensasi aneh pada dadanya.

Mereka berhenti di pekarangan yang gerbangnya terbuka.

"Bangun. Kita sampai."

Luhan akhirnya membuka mata setelah beberapa saat menguap. Dan Sehun menikmati raut kebingungan yang Luhan perlihatkan saat menyadari di mana mereka berada.

"Di mana ini?"

"Rumah dekat laut yang pernah kau katakan padaku," Sehun keluar mobil, berputar dan membuka pintu samping, menemukan Luhan benar-benar terkejut. "apa ini sesuai bayanganmu?" lanjutnya.

Sehun tak menunggu jawaban, ia langsung menarik Luhan dan membawanya ke dalam.

"Sehun…" Suara Luhan sangat lirih dan ia tak menghiraukannya, ia terus menarik Luhan menuju satu ruang yang dapat ia pastikan akan sangat Luhan sukai.

Ruang itu adalah kamar tidur utama dengan jendela-jendela besar menuju balkon yang menghadap tepat ke laut. Tirai sengaja dibiarkan melambai tertiup angin, membuat bias cahaya jingga yang masih cukup terang menyorot di antara celah itu.

Sehun melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Luhan berjalan sendiri ke balkon kamar melewati tirai-tirai putih itu. Sehun membiarkan Luhan selama beberapa saat. Gadis itu hanya terdiam di sana, rambutnya berkibaran di terpa angin. Sehun mendekat dengan langkah tanpa suara, memeluknya dari belakang dan menemukan wajah Luhan sudah basah air mata. Tetapi dia tak terisak.

"Kau menyukainya?"

"Apakah aku boleh memiliki semua ini?"

Kalimat penuh insekuritas itu mengirimkan sentakan nyeri pada ulu hati, tetapi dengan segera Sehun mengangguk. "Ya, kau boleh. Ini semua untukmu. Milikmu." Gumamnya sambil menciumi bahu dan leher Luhan yang terbuka.

"Terimakasih." Kata Luhan lirih.

Sehun mengangkat wajahnya, menatap mata emerald yang bercampur dengan emas. Dan memikirkan bagaimana ia menjadi salah satu alasan, atau mungkin alasan terbesar yang membuat netra itu berbinar begitu indah, membuat Sehun mengakui perasaan yang selama ini selalu ia cibir. Perasaan yang selama ini ia pikir tak nyata.

Dan mungkin, Sehun memiliki jalan lain yang sedikit bahagia.

"Jadi, apa yang akan kau berikan padaku? Kau sendiri pernah berkata aku adalah pria timbal balik, kan?" Sehun tak menggunakan nada menggoda, tetapi Luhan tertawa lembut.

Dia mengusap air matanya, menatap Sehun dengan geli dan tak percaya yang masih bercampur sedih dan haru. "Memangnya apa yang masih bisa aku tawarkan? Bukankah aku sudah memberikan semuanya?"

Saat itu Sehun tertegun sejenak.

"Menjadi milikku, secara resmi."

Melihat bagaimana Luhan terkejut dan rona wajahnya memekat, Sehun sadar ia berkata tanpa sepenuhnya berpikir. "Sehun, apa kau baru saja—"

Sehun mencium bibir itu, hanya berusaha menghentikan kalimat apapun yang ingin Luhan katakan. Pikiran itu datang melintas begitu cepat dan spontan, dan Sehun masihlah pria yang selalu memikirkan setiap tindakannya.

"Mungkin iya." Bisiknya di depan bibir Luhan. "Aku punya keinginan itu, tapi kurasa aku ingin semuanya berjalan tak terburu."

Luhan hanya mengangguk dengan kurva senyuman. "Aku tak pernah menuntut apapun."

Luhan berbalik, memeluknya dan menghirup aromanya. Sehun merinding penuh gairah dengan tindakan itu, tetapi Luhan tampaknya masih ingin di sini dan menikmati matahari terbenam. Jadi ia menahannya, beralih memeluknya lebih erat tanpa berbicara sepatah kata.

Sampai suara dering ponsel benar-benar mengacaukan.

"Kau punya panggilan."

"Persetan." Geram Sehun jengkel, mencoba menulikan diri dari deringan ponsel di saku celananya. Jika sabarnya habis mungkin melemparnya ke laut terdengar bagus.

Namun Luhan tertawa, sangat lirih.

"Jangan seperti itu. Angkatlah."

Sehun mengangkat panggilan itu dengan suasana hati luar biasa terganggu, siap menyemprotkan kata-kata dingin nan tajam pada siapapun yang menginterupsi. Tetapi tidak ketika di seberang ia mendengar suara kakeknya.

"Aku tahu kau sedang bersama Luhan dan memperlihatkan rumah dekat laut yang kau ributkan seminggu ini." Luhan masih di pelukannya jadi tentu ia mendengarnya, dan lagi, Luhan tertawa. Sehun mendengus jengkel, sedikit merasakan rambatan kalor pada wajahnya.

"Katakan apa maumu, Pak Tua."

Kakeknya tertawa.

"Kembali sebentar."

Panggilan itu terputus dan Sehun tahu ada masalah.

"Kurasa kau harus kembali?" Luhan bergumam, menyamankan diri yang berbanding terbalik dengan ucapannya. Apakah Luhan memang suka melakukan hal ini? Astaga, Sehun akan memberikan beberapa hal pada Luhan setelah urusannya selesai nanti.

"Kurasa kita harus kembali." Kata Sehun dengan kesal.

"Kau, bukan aku."

"Dan meninggalkanmu sendiri di sini?"

Luhan mengangkat wajahnya, menatapnya sangsi. "Kau bercanda? Kau pikir aku percaya kau sama sekali tak menempatkan orang-orangmu di sini? Aku bahkan sempat melihat satu orang di dekat tebing karang, Oh Se Hun."

Sehun nyaris memerah.

"Tetap saja, Luhan—"

"Aku akan baik-baik saja, apa yang kau khawatirkan, sih? Aku ingin menikmati matahari terbenamku yang pertama di sini. Pergilah, aku akan baik-baik saja tanpamu. Oke?"

Sehun hanya mendengus menyerah. Ia menyelesaikan satu sesi ciuman yang cukup panjang, meninggalkan gigitan-gigitan dan hisapan-hisapan kuat pada bibir merah yang pandai berkata-kata itu. "Baiklah, aku akan pergi. Nikmati matahari terbenammu, Luhan."

Sehun mengecup bibir Luhan untuk terakhir kali sebelum berjalan menuju pintu, tetapi sebelum tangannya mencapai handle pintu Luhan berlari kecil dan menubruk punggungnya. Sehun menghela nafas berat. "Terdengar bodoh, tetapi aku benar-benar tak ingin pergi jika kau melakukan ini."

Luhan hanya terkekeh lembut, mencapai tubuh depannya dan berjinjit memberikan kecupan lama pada dahinya. Sehun sepenuhnya membeku mendapat perlakuan itu. Seumur hidup, Luhan yang pertama kali melakukannya.

"Aku akan baik-baik saja, pergilah. Jangan khawatirkan aku, oke?"

Sehun memejamkan mata seakan lelah pada tingkah Luhan, hanya kamuflase untuk menepis wajahnya yang mulai dirambati panas menggelikan. "Kau benar-benar…" Desahnya.

Luhan hanya tersenyum, mendorongnya melewati pintu dan sebelum Luhan benar-benar menghilang dari balik pintu, gadis itu berkata.

"Bawakan aku cider, ya?"

Sehun hanya mendengus dan berbalik pergi. Untuk kesekian kali tak melihat bagaimana ekspresi Luhan, yang saat itu menampilkan eyes-smile yang sangat cerah.

Yang terlalu cerah.

.

.

.

Yang pertama kali Sehun lakukan sesampainya di mansion adalah meminta sebotol cider favorit Luhan pada seorang pelayan sementara dirinya berjalan menuju ruang kakeknya.

Dan di sana ia menemukan kakeknya duduk dengan wajah kaku bersama satu orang kepercayaannya, Lawliet, juga Chanyeol dan Kai.

"Apa yang terjadi?" ia bertanya tanpa basa-basi.

"Beberapa kelompok kecil mulai memberontak, dan berdasarkan salah satu informan Klan Wu menyokong mereka." Kata kakeknya dengan suara teredam marah.

"Menyokong?"

"Senjata, rute dan celah." Kata Kai.

Sehun mendecih. "Bahkan satu divisiku bisa membereskan mereka; kenapa sampai memanggilku?"

"Lim terbunuh bersama semua anggotanya."

Orang kepercayaan kakeknya memperlihatkan gambar gelimpangan mayat yang dibantai secara kejam.

Sehun terdiam. Itu berarti mereka sudah mendapatkan benang merah yang mengaitkan klan ini dengan satu masalah yang selama ini Sehun abaikan; keberadaan Luhan. Sial, ia tak tahu hari ini akan datang di waktu yang tidak tepat.

"Kau ingin aku menyerang mereka? Kita sudah punya banyak alasan untuk melakukannya, mereka makin melemah setelah Kris mulai berulah beberapa tahun ini." Kata Sehun.

"Jika mereka memulai lebih dulu, aku berikan semua keputusan padamu, Sehun. Aku sudah terlalu tua untuk turun tangan langsung, dan kurasa kau sama sekali tak keberatan dengan itu? Kau punya lebih banyak alasan." Kata Kakeknya dengan sorot mata serius.

"Aku punya firasat mereka akan berulah malam ini." Kata Chanyeol.

Sehun hanya bisa percaya jika Chanyeol yang mengatakannya. Jadi dia mengangguk. "Akan ku siapkan semuanya, segera setelah mereka memantik bara, kita bakar mereka."

Sehun pergi dari ruangan itu menuju dungeon, di mana ia biasa menyusun rencana juga segala macam tetek bengek bersama Chanyeol dan Kai mengikuti di belakang. Sesampainya di ruang khusus itu, mereka sudah ditunggu beberapa pion yang tengah menggelar cetak biru dari mansion klan Wu.

Sehun hanya duduk di satu-satunya kursi di meja besar itu, melihat bagaimana Chanyeol menyusun strategi dengan anak buah yang ada. Sehun mempercayakannya pada Chanyeol karena ia tahu, Chanyeol lebih dari sekadar bisa diandalkan dan sejujurnya, Sehun pikir ia tak perlu turun tangan langsung jika benar malam ini akan terjadi perang dengan klan Wu. Malam ini ia ingin bersama Luhan.

"Apa kau keberatan menurunkan setengah dari seluruh pasukanmu?"

"Bawa semuanya; jika keadaan mulai tak terkendali kau bisa meminta Lawliet untuk memberikan satu dua divisi milik Kakek untukmu." Tetapi Sehun tetap memikirkan berbagai kemungkinan.

Mungkin memang lebih baik untuk menyelesaikan semuanya malam ini.

Sehun segera mencapai mobilnya dengan sebotol cider dalam genggaman ketika perundingan itu selesai. Perjalanannya terasa lebih cepat, cahaya jingga benar-benar sudah memekat dan bercampur dengan dominasi hitam dan ungu gelap.

Sehun sampai dan mendapati lampu-lampu sama sekali belum di nyalakan, apakah Luhan terlalu menikmati matahari terbenamnya?

"Luhan, apa kau tidur?"

Tak ada jawaban saat ia mencapai lantai dua. Sebuah firasat aneh menyeruak ketika ia mendapati suasana mencekam yang aneh.

Ia melangkah, membuka pintu kamar dan seketika dunianya membeku.

Luhan di sana, bersandar di tepian ranjang dengan tangan sebagai bantalan kepalanya. Dia di sana, tertidur menyembunyikan emerald yang seharusnya bercampur warna emas. Luhan di sana, dengan dada berlubang dan semburat merah darah memenuhi gaun putihnya yang seharusnya berkibar diterpa angin. Dia di sana, tak bernafas di antara genangan darah yang membuat penciumannya terbakar.

Semuanya tiba-tiba tersambung. Pembantaian Lim dan anak buahnya, bagaimana Luhan berkata dia melihat salah satu orangnya di dekat tebing karang padahal Sehun sudah memerintahkan mereka agar tak terlihat dalam jangkau pandang, semua ekspresi dan kalimat yang Luhan katakan padanya. Semua kalimat "aku akan baik-baik saja" yang Luhan katakan berkali-kali.

Semua berjalan sangat cepat, terlalu cepat.

Sehun tiba-tiba kehilangan keberanian untuk mendekat, dia hanya berbalik dengan hati hancur dan benar-benar murka, botol cider yang seharusnya Luhan sambut dengan suka cita ia campakkan ke tepian meja. Langkah cepat dan berdebam mengiringi saat ia melakukan panggilan.

"Bantai. Mereka. Semua."

.

.

.

Senja itu menjadi senja berdarah di mansion Wu. Saat Sehun sampai ia sudah melihat genangan darah di mana-mana dan suara-suara teriakan di antara desing peluru. Ia tak merasakan apapun selain kosong dan dingin, tangannya gemetar dan menggigil, tetapi pikirannya terbakar bara.

Ia berjalan melangkahi gelimpangan tubuh-tubuh berlubang yang menguarkan aroma amis menusuk. Beberapa orang bodoh masih berusaha mengacungkan moncong senjata padanya, yang hanya ia balas dengan desing peluru tak terhitung.

Sehun memasuki sebuah ruangan besar dengan pintu yang nyaris roboh, mendapati gelimpangan mayat lebih banyak dan Kris Wu tersungkur di antara Kai dan Chanyeol. Di sisinya ada Wu Fan Li yang sekarat bersama istrinya yang meraung-raung kesetanan.

"Aku menyisakan dia untukmu." Kata Chanyeol dengan seringaian puas.

Sehun mendekat dengan suara kokangan revolver.

"Bajingan! Iblis! Apa yang kau pikir kau telah lakukan?!" Suara melengking dari satu-satunya wanita di sana sedikit mengalihkan perhatian Sehun, dia hanya menatapnya dingin.

"Apa kau masih melanjutkan peran pelacurmu bahkan setelah suamimu di ujung kematian?"

Wanita yang wajahnya sudah tercemar darah itu menggeretakkan gigi murka, tatapannya sungguh penuh kebencian tetapi Sehun sama sekali tak mempedulikannya. "Kau benar-benar iblis!"

"Bukankah aku memang dilahirkan dari sepasang iblis," Sehun tersenyum tanpa humor. "ibu?"

"Bajingan! Brengsek!" Wanita itu terus meracau, tetapi beberapa jambakan pada rambutnya membuatnya memekik dan kesakitan.

Sehun beralih pada Kris Wu yang nyaris tak berbentuk, tetapi masih berusaha memberikan seringai menangnya.

Sehun nyaris menarik pelatuknya.

"Kenapa kau susah payah melakukan semua ini, he? Agh, hhahh… Mengorbankan pasukanmu hanya untuk seorang gadis pelacur seperti Luhan?"

Sehun menembak betis pria itu, membuatnya berteriak kesakitan. "Bajingan!"

"Hal ini tidak sesederhana itu. Seharusnya aku sudah membantai klan ini sejak bertahun-tahun lalu." Desisnya berbahaya.

Kris tertawa susah payah.

"Kau murka karena aku membunuh pengkhianat lacur itu? Bukankah memang seharusnya aku melakukannya? Kau mengambilnya dariku! Kau mengotorinya!" Sehun teringat dengan kalimat Luhan tentang kepribadian Kris yang sedikit aneh begitu melihat kilatan emosi tak biasa dalam matanya saat mengucap kalimat terakhir. Tetapi ia tidak di sini untuk mencari tahu itu.

"Kau berbicara tentang pencuri yang mendapatkan balasannya? Atau apa? Kau lupa jika aku tak peduli dengan siapa yang benar dan siapa yang salah? Kupikir seharusnya kau beruntung selama ini aku masih membiarkanmu."

Kris tampak mulai gentar ketika ia mendekatkan moncong revolvernya pada dahinya yang sudah berdarah. Sehun mendekatkan wajahnya. "Kau pikir apa yang berusaha kau lakukan?"

Sehun menjauhkan diri, menembakkan pelurunya secara beruntun pada seluruh bagian tubuh yang tak akan membunuh seketika namun tetap mengirimkan siksaan. Menghabiskan seluruh isi longsongan pelurunya. Betis, paha, lengan, perut, bahu dan terakhir jantungnya. Membuat lubang yang sama yang ia lihat pada tubuh Luhan.

Matanya memerah, pedih dan sangat panas.

Tangannya gemetar dan menggigil, tetapi dadanya terasa sangat sesak dan membuncah.

"Sehun, apa yang kau perintahkan?" tanya Chanyeol sambil mencampakkan tubuh tak bernyawa musuh besar klan Oh itu.

"Musnahkan mereka."

Chanyeol dan Kai mengangguk.

"A-apa? Oh Se Hun… Jangan lakukan ini padaku! Aku ibumu!" Wanita yang terguncang itu berbalik memohon seperti pengemis, tetapi hatinya sudah benar-benar beku sejak sangat lama.

Sehun berbalik, mengabaikan teriakan-teriakan yang ditujukan untuknya dengan Chanyeol dan Kai mengikuti di belakang. Beberapa anak buah yang masih bisa bertahan tampak sedang berusaha keluar ketika Sehun mencapai pintu. Memerlukan banyak waktu juga konsekuensi untuk memulihkan apa yang ia perintahkan senja ini, tetapi Sehun tak mempedulikannya sekarang.

Ledakan besar dan bumbungan asap tinggi dengan cahaya merah menyala-nyala menjadi latar belakang ketika Sehun menginjak pedal gasnya dengan pandangan mengabur.

.

.

.

Sehun enggan menghitung ini adalah kali keberapa ia kembali ke rumah dekat laut ini. Memori mengerikan masih terus terbayang. Malam itu setelah ia selesai menghanguskan Klan Wu, ia kembali untuk mendapatkan Luhan. Dia masih di posisi yang sama, kali itu tanpa cahaya jingga, digantikan biasan perak dari bulan purnama yang makin mengirimkan sembilu pada dadanya.

Sehun masih ingat bagaimana langkah tanpa suara membawanya pada tubuh tanpa nyawa, yang begitu dingin dan asing saat ia menyentuhnya. Luhan tampak damai, tetapi mengirimkan badai.

Sehun hanya memeluk tubuh dingin itu, menggumamkan permintaan maaf juga isakan tertahan yang pertama kali Sehun miliki. Luhan tak lagi membalas pelukannya, dia tak lagi menyamankan diri atau menghirup aromanya. Dia hanya terdiam dan Sehun benar-benar tak bisa mengutarakan betapa dirinya sangat kacau.

Sehun memejamkan mata mengingat kenangan mengerikan itu. Sebelumnya kematian tak pernah memberi bekas, tetapi Luhan berhasil mengirimkan begitu banyak mimpi buruk.

Ia menghela nafas dan membuka pintu kamar itu, menemukan tirai-tirai masih melambai di tiup angin laut dan cahaya senja yang memenuhi ruangan dengan suasana emas dan jingga. Semuanya masih sama seperti sebelumnya, tak pernah ada barang-barang lain bertambah di ruang ini maupun seisi rumah, karena yang berhak melakukannya sudah tidak ada.

Sehun mengambil sebotol cider di tepian meja juga dua old fashioned glass bersamanya, lalu duduk bersandar di tepian ranjang di mana Luhan pernah terkulai di sana. Ia seolah duduk di antara genangan darah Luhan.

Matanya kembali pedih.

"Luhan, kau tahu, aku merindukan suaramu." Bisiknya entah pada siapa. Ia menuang cider pada dua gelas itu, dan meminumnya perlahan.

Minuman ini terlalu ringan untuknya, sama sekali tak bisa membuatnya mabuk. Rasa manisnya terlalu menyengat, tak terasa lembut sebagaimana yang selalu ia cecap saat merasakannya dari mulut Luhan.

"Apa kau gadis bodoh?"

"Aku benar-benar tak paham bagaimana caramu berpikir, kau tahu?"

"Kenapa kau memintaku pergi saat kau tahu kau akan mati?"

"Kenapa kau melakukannya saat kau berkata kau tak akan pergi selama aku masih menginginkanmu bersamaku?"

"Apa kau tahu kau mengirimkan banyak mimpi buruk untukku?"

Sehun mengusap wajahnya yang basah, menuang cider lagi ke gelasnya. Merasa sangat bodoh berbicara sendiri seperti orang tak waras, merasa tak lagi menjadi Oh Se Hun.

Sehun memejamkan mata, mencoba menepis perasaan pedih yang sampai sekarang masih selalu menikam dalam. Ia berpikir, mengapa Luhan melakukannya? Mengapa Luhan punya pikiran seperti itu? Ia mungkin akan hidup dalam bayang pertanyaan; Luhan tak ada di sini untuk ia cari jawabannya.

Lalu ia membuka mata dan menangkap salah satu laci di meja terbuka sedikit, sesuatu yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Ada sesuatu aneh yang menuntunnya ke sana dan ia menemukan kertas terlipat yang mulai berdebu di ujung paling dalam. Tangannya sedikit gemetar. Ia kembali bersandar dan memberanikan diri membacanya.

Begitu tulisan tangan Luhan terlihat, ia seakan mendapatkan Luhan duduk di atas ranjang dan menjadi sandaran kepalanya. Matanya kembali pedih.

"Aku tahu kau akan menggerutuiku sebagai gadis bodoh, dan mengataiku dengan hal-hal yang sama…" Suara Luhan terdengar dalam pikirannya.

"Bisakah aku minta maaf? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tak ingin kau pergi, karena tentu saja aku takut… Tetapi aku lebih tak ingin kau harus di sini dan melihatku mati. Aku tahu akan segera mati. Semuanya berjalan dengan cepat, begitu rapi dan berurutan. Seolah semuanya sudah digariskan sejak awal, hanya aku terlalu naïf untuk mencoba sedikit bahagia. Aku selalu berpikir, akan ada saat di mana semua mimpiku menghilang dan pudar. Tetapi aku bersyukur aku sempat memiliki rumah di dekat laut, aku berterima kasih untuk itu…"

Sehun merasakan sebuah tangan mengelus kepalanya.

"Kau benar-benar gadis bodoh."

"Ini akan terdengar seperti omong kosong, tetapi aku ingin agar kau jangan menyesal, jangan bersedih terlalu dalam… Jangan menangis terlalu banyak."

Pada bagian itu, tintanya memudar oleh bercak-bercak air mata.

"Waktu-waktu bersamamu adalah yang terbaik yang pernah aku rasakan. Apa kau ingin tahu sebuah rahasia kecil? Aku sudah jatuh cinta padamu sejak kau datang ke ruang bawah tanah itu untuk mendengarku bercerita. Aku ingin menuliskan semua perasaanku di sini, tetapi aku tak punya banyak waktu…"

Tulisan itu mulai kehilangan kerapian, Sehun seolah bisa merasakan bagaimana jemari Luhan gemetar.

"Surat ini mungkin hanya akan menyakitimu, maafkan aku… Aku tak pernah menyesali apapun, tetapi ternyata kekecewaan pertama dalam hidupku ternyata begitu fatal dan menyakitkan."

Sehun benar-benar gemetar, melihat satu kalimat terakhir di baris itu sebelum dilanjutkan dengan kopian kalimat-kalimat yang sama.

"Aku belum mengatakannya padamu, jadi biarkan aku menuliskannya di sini."

"Luhan…"

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu."

Kalimat itu memenuhi seluruh sisa baris.

Sehun meremat ujung surat itu, tubuhnya gemetar. Tenggorokannya tercekat, rusuknya nyeri dan seluruh tubuhnya menggigil kesakitan.

Sehun juga belum mengatakannya.

Sehun belum mengatakan bahwa ia begitu menyukai emerald menakjubkan itu, bahwa ia merasa tentram saat Luhan tersenyum dan bergelung dalam pelukannya. Bahwa ia menyukai cara bicara Luhan yang selalu membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Bahwa ia juga menyukai mimpi-mimpi Luhan.

Sehun belum mengatakan bahwa ia mencintai gadis itu, bahwa ia mencintai Luhan dengan segenap hatinya.

Dan ia tak lagi memiliki kesempatan.

Jalan yang sedikit lebih indah tak berlangsung selamanya. Mungkin dirinya memang tak pantas memilikinya, ia hanya diberi waktu untuk sekadar mencobanya.

.

END

.

(*) Kalimat sebenarnya pada bagian itu adalah; "But I feel this is my home. A home, not just a house. I didn't think too much anymore; why did I should keep hoping for a house when here with me, I have you; my home."

Saya sudah menyimpan Fic ini sejak jaman VVL masih jalan chapter pertama dan baru saya selesaikan beberapa waktu terakhir ini. :D

Ini sengaja memakai sudut pandang Sehun sejak awal sampai akhir, yang terbatas pada saat yang berhubungan dengan Luhan. Karakter Luhan memang tak begitu terekspos, dia mungkin terkesan menyembunyikan sesuatu, tetapi kisah mereka sebenarnya sederhana.

Soal ending-nya, bisa diterima, kan? *grin Iya tahu Fic HunHan yang jadi moodbooster udah jarang (pake banget), tapi saya pengen sesuatu yang sedih. :"D

Terimakasih sudah membaca! ^^

dan maaf jika ada yang tidak berkenan. :"

.

Anne, 2019-06-16