• Enchanted •
[ twoshot ; boyxboy ; bahasa ; BTS ; vkook / taekook ; smut/m/nc-17 ]
Putih itu telah tergantikan oleh merah. Merah yang menghantui. Merah yang berbahaya.
a/n: halo... lama yah ngga ketemu. berapa bulan sih? hampir setaun ya? berasa udah 2035 aja nih kayanya saking lamanya gua ngilang dari peradaban. setelah beberapa dari kalian termasuk Ny. Hj. Minswag springyeol yang berkali kali ngirimin komen, belum menyerah untuk menyemangati saya lanjutin fic yang udah buluk parah ini sampe akhirnya nyawa saya perlahan-lahan kembali buat lanjutin. maaf banget loh... seriusan. oke, gamau panjang-panjang ngulurin lagi lah. jujur, saya kemaren masih belum merasa puas dengan chapter pertama yang menurut saya... yah, banyak elemen yang masih kurang, yang luput dari perhatian. dan sekarang... aduh, ngga tau ya, tapi semoga nggak mengecewakan aja deh. semoga.
[WARNING] AU (Alternate Universe) * The-Long Awaited-Sexytime lol (but my apologize if it just turn out to be not as what you wanted it to be) (but i don't hope so, so yeah).
.
.
.
.
.
#
Ada seseorang yang datang. Di suatu tempat yang tak tahu ada di mana. Seseorang yang datang membawa senyuman. Menyapa dalam keheningan.
Dia mengajak pergi. Mengantar ke sebuah padang bunga warna-warni, cicit riang burung mungil. Layaknya singgasana dalam dongeng lama. Singgasana yang hanya miliknya. Indah yang seindah dirinya.
Satu waktu yang sementara. Terasa begitu lama saat bersama dengannya. Berpegangan tangan. Tertawa riang. Kedamaian yang seolah memanjakan, tak ingin agar diri beranjak pergi.
Hingga waktu yang akhirnya membawa sosok itu pergi entah kemana. Menghilang tanpa jejak. Hanya tersisa pecahannya dalam imajinasi. Dalam dirinya, seorang pemuda, yang sejenak terperanjat dan terdiam selanjutnya.
Si pemuda memutuskan untuk terus berjalan menelusuri tempat itu. Dia hanya tak ingin semuanya berakhir tanpa arti. Hingga hilangnya cahaya. Cicit riang burung mungil. Padang bunga. Dan hanya sebuah kegelapan yang mengantar.
Sebuah kegelapan yang kembali menghadapkannya pada sosok itu. Seseorang yang tadi menghilang. Berdiri tegak menghadapkan punggungnya.
Seperti bilau pisah yang baru terasah dalam bening matanya, sosok itu menatapnya tajam. Seperti kilatan cahaya dalam gelap malam, tertangkap olehnya seberkas kilatan dalam pekatnya hitam di bola matanya. Tanpa satu garis senyum di bibirnya yang mampu membuatnya lega.
Membuatnya tak lagi melangkah lebih jauh dari tempatnya berdiri untuk sesaat.
Dalam sekejap mata, sosok itu berubah berbeda. Seperti tak ingin menyapanya. Tak ingin berteman dengannya.
Namun seperti tak tersirat kebencian. Hanya sebuah rasa yang membuat penasaran. Tatkala satu senyuman akhirnya diberikan. Satu lengkungan di bibir yang mencirikan sebuah keangkuhan. Memberikan sebuah tantangan.
Keindahannya kali ini ditemani satu pesona asing yang menyentuh insting primitif.
Sosok itu kembali meninggalkannya. Untuk kedua kalinya. Sampai beberapa saat kemudian bisikan asing sampai di telinganya untuk kembali mengikuti jejaknya. Membiarkan kembali kegelapan yang mengantar perjalanannya. Kembali menelusuri ruang yang semakin lama terasa sesaknya.
Tibalah akhirnya dia di sebuah tempat. Tempat yang kali ini seperti tak berhawa. Membuatnya serasa melayang. Seperti dalam sebuah kehampaan. Masih diliputi kegelapan. Lebih pekat dari sebelumnya. Lebih asing dari sebelumnya.
Yang kemudian menjadikannya tersentak saat dari jauh nampak setitik cahaya yang tak tahu dari mana datangnya.
Cahaya yang kemudian dilambangkan dengan sosok itu. Lagi.
Sosok yang kali ini melambaikan tangannya. Masih sosok di awal mula. Masih menghadapkan punggungnya padanya. Namun kali ini benar-benar punggungnya yang ditampakkannya. Punggung yang nampak begitu halus. Kulit yang begitu halus. Yang kemudian terjatuhlah busana tipis yang sejak awal menggantung pasrah di tubuhnya dengan cara yang halus. Helaian panjang sutra merah.
Tampaklah akhirnya keseluruhan tubuhnya. Keseluruhan kulitnya. Yang seketika membuat jantungnya gemuruh. Suasana hati riuh. Pertahanan runtuh. Sebelum hati bertanya. Pikiran bertanya. Apa maksudnya?
Keadaan dirinya yang mematung saat itu disaksikan oleh sepasang mata yang mengindikasikan undangan yang lebih kuat. Tantangan yang lebih kuat. Senyuman yang diberikannya mencitrakan hal yang sama. Sebelum selanjutnya tubuh itu melangkah. Ke sebuah tempat yang berada di bawah kakinya. Sebuah telaga.
Dengan melambaikan pelan barisan jemari lentiknya, sosok itu kembali mengajaknya. Mengisyaratkan padanya masuk ke dalamnya, bersamanya, tepat disaat dia membenamkan diri ke dalamnya. Dengan caranya yang anggun.
Kulit yang begitu halus itu nampak berkilau. Memancarkan pesona yang melahirkan rasa ingin menyentuhnya. Menyelami kelembutannya. Tenggelam didalamnya.
Sosok yang kala itu terlihat bermain dalam pelukan air susu. Masih menatapnya dengan cara yang sama. Tanpa terlepas satu detik pun darinya, sembari menggerakkan tubuhnya. Tubuh atasnya yang ditampakkan ke permukaan. Dengan jelas tampaknya sepasang puting merah jambu. Kaki jenjang yang saling mengelus. Bibir merah yang seperti menggetarkan kata 'datanglah'.
Semesta sang pemuda seperti tak mampu berkata. Berbagai rasa yang berkumpul menjadi satu. Tubuh yang hanya terpaku.
Dirinya kemudian melangkah seperti tanpa perintah, seperti sesuatu yang asing telah singgah untuk mengambil alih kendali otaknya. Perlahan.
Dia menyerah. Tatkala langkahnya semakin dekat, bisikan yang datang terdengar semakin lantang. Senyum yang terhias di bibir merah itu semakin merekah.
Tepat saat satu langkah lagi untuk masuk ke dalamnya, semuanya berakhir.
Mimpi itu telah berakhir di tidurnya. Juga berakhir di benaknya saat ini. Pemuda yang saat ini, di bawah kucuran air yang mengalir dengan santai, membasuh tubuh hangatnya dengan dinginnya. Situasi yang terjadi pada dini hari. Di dunianya yang nyata. Terdiam. Tangan yang bersandar di dinding. Perasaan campur aduk. Tak menentu. Yang juga terpancar di wajahnya. Wajah tampannya.
.
.
.
.
.
#
Saat ini merah itu tengah menghiasi papan lukisannya. Memenuhi setiap sisinya. Merah yang menyala, seperti mawar yang bermekaran. Seperti darah segar yang bercucuran. Membara seperti api. Citraan gejolak dalam nurani.
Dia berusaha menghadirkan imaji yang tak pernah hadir secara istimewa dalam hidupnya. Tak pernah hadir dalam benaknya. Dengan merah yang menyala, seperti mawar yang bermekaran, seperti darah segar yang bercucuran itu yang mewakilinya. Merah sebagai bentang kain halus yang membalut tubuh-tubuh itu.
Tangannya terus bergerak, bersama dengan kuas yang telah bertahun-tahun menemani kegiatannya, terus menorehkan merah yang menyala. Merah yang menyala, yang semakin lama semakin gelap, semakin menuju hitam. Seperti emosi yang tak terkendali.
Perlahan tangan yang tadi gesit bergerak memberi warna itu bergerak dengan halus, hingga kemudian terdiam. Sebuah ingatan tentang mimpi tadi malam menghampiri benaknya.
Mimpi yang datang tadi malam. Sebuah hal yang pertama kali terjadi dalam hidupnya. Hal yang terasa sungguh memalukan, namun tak ada yang bisa dilakukan. Saat mimpi tentang seorang lelaki membuatnya terhenyak atas hasil tubuhnya yang menodai tempat tidur saat dia terbangun. Saat bisikan mesra dari seorang lelaki membuat sekujur tubuhnya bergetar.
Tak ada yang bisa dilakukan, dengan alasan yang sederhana. Karena keindahan sosok lelaki itu yang tampak tak terjangkau nyata. Baginya, dan mungkin juga bagi mereka yang mengerti.
Keindahan yang dikehendakinya.
Menghendaki. Benarkah dia menghendakinya? Mimpi yang datang tentu menjadi sebuah pertanda. Walau sejujurnya dia tak ingin percaya. Dalam mimpi, sosok itu mengundangnya. Seperti dalam nyata, dirinya tak kuasa. Sosok itu seperti panggilan yang hanya ditujukan padanya. Namun pantaskah dirinya mendapatkannya?
Yang benar saja. Mengapa lantas dia mempertanyakan hal seperti demikian?
Merasa percuma menghabiskan waktu, dirinya kemudian memutuskan untuk menghela nafas sejenak. Mencoba menyingkirkan untuk sementara, kembali menggerakkan tangannya berkonsentrasi pada lukisan di hadapannya, yang tidak sengaja menjatuhkan lembaran sketsa kasar.
Lembaran sketsa itu berserakan di atas lantai. Memperlihatkan lukisan-lukisan yang telah ditemani sapuan kuas, serta beberapa yang masih terdiri dari goresan pensil.
Dan lukisan sosok itu. Menatapnya. Tersenyum padanya tanpa rasa bersalah. Nampak begitu bahagia melihat dirinya yang menderita. Begitu kegundahan hatinya bersuara.
Sebuah momen yang seperti sangat disengaja.
Seperti sangat disengaja lukisan itu menarik perhatiannya. Perlahan-lahan membawanya pada kenangan, waktu-waktu yang ingin dilupakan. Saat pertama dirinya melukis potret sosok itu di taman. Saat pertama keganjilan itu datang. Kembali lagi.
Segera dirinya mengalihkan mata dan pikirannya, meneguhkan larangan hatinya untuk tidak membiarkannya kembali. Sebagai gantinya membiarkan gambar itu tergeletak di atas lantai tanpa berniat untuk mengambil.
Tangannya kembali bekerja pada lukisan merahnya. Meluapkan emosi yang tersisa pada lekuk-lekuk tegas itu. Hingga sampai pada sentuhan akhir.
Sampai sepasang matanya terpaku menyaksikan lukisan para perempuan. Perempuan dengan keindahan sensualnya. Imaji yang tak pernah hadir secara istimewa dalam hidupnya sebelumnya. Tak pernah hadir dalam benaknya. Dalam pelukan merah. Merah yang menyala, seperti mawar yang bermekaran. Seperti darah segar yang bercucuran. Membara seperti api.
Terasa begitu asing.
.
.
.
.
.
#
"Yo, coba tebak siapa yang sudah datang!"
Suara berat yang familiar itu datang dari seberang yang mengarah padanya. Lelaki itu menyambutnya dengan senyum yang biasa.
"'ssup, Kim Taehyung my man!" Satu lagi. Sapaan dari sang pemimpin geng nongkrongnya, Namjoon. Sebelum akhirnya membalas jabatan khas sobat karibnya itu singkat.
"Yo."
"Man, Kupikir saat kau berkata ingin ikut party, itu hanya mimpi."
Taehyung tersenyum membiarkan tangan sosok itu merangkul bahunya. Tak ingin memberikan jawaban yang berarti untuk sentilan Hoseok.
"Anggap saja si pangeran tidur dapat ciuman dari bidadari," Yoongi mencoba mengoreksi. Suasana sejenak ramai oleh tawa singkat.
Namjoon kemudian membawa mereka masuk, yang juga menjadikan hawa yang hinggap di sekeliling seketika berubah.
Pandangan matanya menjelajah sekitar. Dunia yang pertama kali ditemuinya, yang sungguh jauh berbeda dengan singgasananya. Benar juga. Selama ini mungkin Taehyung sudah begitu lama terkungkung dalam zona nyamannya. Terlalu lama berada, dan menikmati hal yang berbeda. Terpaku dalam kesendirian. Dunianya sendiri. Seni yang dinikmati sendiri. Seni yang kali ini menjadi hampa untuk dituangkan hanya lewat gambar. Taehyung ingin mencoba melepaskan dirinya ke dunia luar. Menghirup nafas yang baru. Di dunia yang baru. Dunia yang nyata. Dunia yang identik dengan keramaian. Alkohol. Alunan musik. Perempuan.
Taehyung ingin mengenalnya dengan jelas. Hingga mampu menyadari untuk mengenal dirinya sendiri lebih dalam lagi. Apa yang dicarinya. Apa yang dikehendakinya.
Suguhan para wanita yang berada di atas panggung menjadi pusat perhatian. Wanita yang menari seolah menikmati tubuhnya sendiri seperti tanpa beban. Mengekspos tubuhnya tanpa beban. Tak jauh berbeda dari apa yang ditumpahkannya dalam sketsa rahasianya.
Pemberontakan kecil berlangsung di hatinya, menjadikannya mengambil satu langkah mundur mengenai wanita. Itulah yang dikatakan indah bagi kebanyakan media. Media yang disebutnya untuk dewasa, yang ditujukan bagi laki-laki sepertinya. Tidakkah keindahan akan lebih bermakna jika tidak ditampakkan dengan berlebihan?
Tapi dia tahu jika dia tak boleh kalah sebelum berperang disini. Sudah selayaknya Taehyung menikmatinya, demi mencapai tujuannya.
Taehyung kemudian menyadari tatapan-tatapan ayu yang tertuju padanya. Ada yang hanya diam, ada yang sambil berbisik, bahkan tanpa basa basi datang padanya dengan anggun. Taehyung mencoba membiasakan diri dengan keasingan yang datang dari senyuman di wajahnya. Seorang wanita, yang dikiranya sama dengan wanita yang lain. Yang masih memiliki pengetahuan tentang kulit luar dirinya. Belum sampai untuk menyentuh hatinya.
Kali ini teman-temannya menjauh, memberikan waktu bagi mereka untuk bercengkrama dibarengi dengan senyum dan pandangan-pandangan yang dilempar, menyaksikan pangeran mereka bangun dari tidur panjangnya. Situasi yang sudah jauh diharapkan oleh mereka sejak lama, tapi bukan dirinya.
"Dance with me?"
Taehyung sejenak merasa terpanggil oleh suaranya. Mengangguk menuruti ajakannya, karena pilihan hanyalah dua. Tak mungkin baginya untuk menolak sesuatu yang telah ditetapkan menjadi tantangan bagi dirinya sendiri.
"I am a new to this." Taehyung mengaku di sela-sela tangan wanita itu yang meraih pergelangan tangannya, kemudian menenggelamkan jemarinya di telapak tangannya.
"Nevermind." wanita itu menatap langsung ke matanya, dengan senyum yang sedikit membuatnya kagok. "I'll guide you."
Taehyung merasa ajaib dengan dunia yang ini. Seperti begitu cepat waktu mengenalkannya pada seorang wanita, berdansa dengannya. Merasakan jejak harum tubuhnya yang begitu dekat, dan sedikit menarik indera penciumannya. Yang dikiranya sebagai satu langkah yang berhasil.
"Not bad." Wanita itu memberinya pujian. Kali ini Taehyung dapat memberanikan diri membalas senyumannya. Untuk kemudian berniat untuk mempelajari wajahnya.
Cantik. Cantik karena sepasang matanya terasa dimanja.
Wanita itu pun melakukan hal yang sama padanya, seperti menatapnya dalam-dalam sembari menghilangkan jarak di antara mereka, sedikit demi sedikit.
"I'm Sheryl."
Sheryl. Nama yang seketika bergema di kepala.
"Taehyung Kim."
Tanpa ragu dirinya memberi balasan.
"Taehyung." Wanita itu kembali membisikkan namanya. Taehyung merasa sesaat dejavu. Saat yang sama seperti saat sosok itu membisikkan namanya.
Belum sedetik Taehyung berusaha untuk melupakan pikiran terlarang tentang sosok itu di tengah-tengah perjuangannya, wanita itu telah mengalihkannya dengan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Masih menatap dalam-dalam matanya. Mengindikasikan suatu keinginan.
"May I?"
Taehyung mengerti maksudnya. Keinginan yang sangat dipahami olehnya, yang untuk selanjutnya bibirnya dan bibir wanita itu kemudian menyatu, terasa lembut, cukup membuatnya sanggup untuk sementara tenggelam. Sejenak merasa mengerti tentang kelembutan seorang wanita yang dikehendaki oleh jiwa-jiwa lelaki. Dalam hati Taehyung merasa lega. Dirinya mampu merasakan sesuatu tentang ini. Mampu menerima perempuan. Hebat atau tidaknya, Taehyung merasakan sesuatu yang telah ditunggu-tunggunya akan datang. Sedikit lagi.
Sedikit lagi sampai keduanya tersadar bahwa mereka tidak lagi menginjak tempat yang sama, berada dalam satu langkah puncak untuk membuktikan dirinya berhasil. Lampu yang temaram, senyum kepuasan dari wanita itu serta barisan pakaian yang secara perlahan berpelukan di lantai sebagai simbol yang mengawali segalanya.
Sepertinya Taehyung akan berhasil. Sepertinya.
.
.
.
.
.
#
Hiasan dinding. Kardus yang berserakan di ujung ruangan. Buku-buku di rak. Jam weker. Jendela. Matahari senja. Sketsa. Cat air. Kuas. Namun yang ada dalam pandangan matanya hanyalah bentangan kanvas putih.
Taehyung menatap bentangan kanvas putih di depannya dengan tangan yang kiri yang membungkus tangan kanannya yang mengepal di depan mulut. Kosong. Tak bernoda. Kontradiksi dengan pikirannya yang dipenuhi noda. Noda yang masih berkutat dengan satu tema.
Sosok cantik itu.
Bukan, bukan wanita yang kemarin ditemuinya di klab malam. Memang, wanita itu boleh diakuinya cantik. Tubuh yang memesona. Namun setelah dirinya merasa tidak nyaman saat membenamkan kepala di dadanya yang telanjang dan meminta maaf lalu beranjak pergi, Taehyung merasa gagal.
Taehyung tak mampu untuk menaklukkan diri padanya.
Satu kenyataan yang diterima. Bukanlah tujuan yang tercapai. Melainkan satu kesimpulan.
Dirinya adalah pengecut yang munafik.
.
.
.
.
.
#
"Boleh coba dinginkan kepalamu dengan ini."
Seorang lelaki tua perawakan tinggi besar tersenyum di balik jenggot putih yang tumbuh lebat menggantung di dagunya, dengan kacamata bulat yang menggantung di hidungnya yang mancung menyuguhkan segelas es jeruk padanya. Tipikal lelaki yang tak biasa ditemui di sebuah galeri seni.
Masih tak ada yang berubah. Dari tempatnya, dan juga sang penghuni. Masih setia mengenakan kaus biru langit yang menampakkan lengan, dengan mahkota putihnya yang semakin tak lelah termakan usia sejak terakhir kali melihatnya, yang terikat dengan cara biasa. Masih memasang senyum yang sama, bahkan setelah ditinggal sang istri tercinta.
"Telah terjadi sesuatu?"
Lelaki tua itu mengambil posisi duduk di sebelahnya seraya menyeruput kopi hitam favoritnya. Seperti sudah hapal jika sang pemuda datang dengan ekspresi seperti itu, berarti dia sedang punya masalah.
Sesungguhnya pemuda yang hanya duduk diam sedari datang ke tempatnya itu memiliki banyak hal yang ingin diutarakan sebagai jawaban pertanyaan singkatnya, namun masih kediaman yang menjadi bentuk nyatanya. Masih tidak berniat untuk mendinginkan kepala dengan segelas es jeruk segar.
Semenit kemudian barulah dia berniat mengambil napas dan mengangkat kepalanya.
"Belakangan ini... seseorang mengganggu pikiranku."
Kata-kata itu diungkapkannya tanpa menoleh kepada lelaki tua yang menatapnya. Membayangkan sekelebat hitam yang saat ini memenuhi kepalanya.
"Aku merasakan hitam."
Lelaki tua itu mengambil tempat duduk di sebelahnya, menaruh kopinya di atas meja untuk sejenak. Membuka matanya, memasang pendengarannya untuk sebuah cerita singkat yang membuatnya layaknya ayah yang sedia mendengarkan keluh kesah sang anak.
"Selama ini aku menganggap hidup adalah biru."
Perlahan-lahan pemuda itu mengungkapkan isi hatinya.
"Lalu di hari itu... dia datang seperti angin. Memberi kesan ungu."
"Kupikir sebelum mengenalnya, dia adalah ungu yang dicampur emas."
"Tapi setelah mengenalnya, tak sedikitpun kesan ungu dan emas melekat padanya."
"Dia hanyalah putih."
.
.
.
Dari kediamannya, lelaki tua itu tengah mencerna ungkapannya.
"Semakin lama, setelah semakin dekat dengannya, barulah aku menganggapnya sebagai cokelat."
Ada jarak selama beberapa menit sebelum pemuda itu melanjutkan pembicaraannya. Yang digunakannya sebelum menunduk dan memasang ekspresi pasrah di wajahnya.
"Dan setelah hari-hari berlalu, entah mengapa."
"Entah mengapa coklat itu perlahan-lahan berubah merah."
"Merah yang awalnya lembut... berubah pekat... semakin pekat..."
"Hingga aku merasa... hidup yang biru telah berubah hitam."
"Hitam yang kelam. Tanpa setitikpun cahaya datang."
Sang lelaki tua itu telah selesai mengubah makna komunikasi sang pemuda dalam imajinasinya. Dengan senyum yang terangkai di wajahnya oleh bibir tipisnya, satu kalimat tanya diberikannya.
.
.
"Kau takut padanya?"
.
.
.
Pemuda itu diam lagi. Diam yang dibarengi dengan tatapan lesu dan senyum miris.
"Ini berat, master."
Lelaki itu masih tersenyum hangat. Mengambil secarik kertas dan sebuah pensil. Menggoreskan garis-garis halus di atasnya. Perlahan-lahan, hingga rangkaian garis-garis itu membentuk sebuah gambaran.
Lelaki tua itu kemudian menunjukkan hasil akhir sketsanya.
Sketsa sosok manusia yang berada di bawah langit mendung. Pemuda itu menatapnya. Menatap tajam lelaki tua yang masih memasang sikap tenang. Selalu. Lelaki tua itu memang selalu berhasil membaca pikirannya.
"Beberapa hari yang lalu aku bermimpi."
Lelaki tua itu kembali menatapnya, perlahan meletakkan gambar itu di atas meja, setelah mendengar pernyataannya barusan.
"Mimpi... sosok itu seperti mengundangku. Mengajakku."
"Seperti..."
Setelah melanjutkan omongannya, menjelaskan sedikit detail mimpinya dengan kata-kata singkat yang dapat dicerna secara langsung oleh lelaki tua itu, lelaki tua itu kemudian tersenyum, berangkat dari posisi duduknya. Kembali menyeruput kopinya yang tinggal setengah.
"Way too tense, youngster." Lelaki tua itu selanjutnya menepuk pelan pundaknya. Sebelum melanjutkan ucapannya, lelaki itu mengganti lukisan langit abu-abu dengan biru muda cerah, dengan matahari yang tersenyum.
Dengan bentuk hati.
"Yang perlu kau lakukan hanyalah menerima ajakannya dengan senang hati."
.
.
.
Pemuda itu kemudian tertegun untuk waktu yang cukup lama. Cukup lama untuk memahami ucapannya. Sampai berikutnya satu ajakan lelaki tua itu menyadarkannya.
"Sudah lama kita tidak melukis bersama." Lelaki tua itu lalu mencoba mencairkan suasana, mengajaknya pada kegiatan yang terasa sudah lama. Beberapa menit kemudian pemuda itu akhirnya dapat mengalihkan diri, menyanggupi ajakannya.
Mengecek ke dalam tasnya, peralatannya yang tak pernah lupa untuk dibawanya setiap kali ke tempat itu, pun saat dirinya bermaksud untuk konsultasi seperti kali ini. Semuanya lengkap.
Kecuali satu bungkus kecil cat yang sudah tampak mengerut, dengan warna yang telah mengering yang ada di telapak tangannya. Barulah beberapa detik kemudian dia menyadarinya.
"Warna merahku habis."
.
.
.
.
.
#
Sudah satu minggu berlalu. Satu minggu saat terakhir kali Taehyung berdiri. Disana, di bawah pohon maple. Tempat dimana segalanya bermula. Dan saat ini, menanti sosok itu lagi.
Taehyung ingin mendapatkan jawaban. Merangkai segalanya menjadi satu. Pecahan-pecahan yang terurai, untuk meraih kepastian. Jika jawabannya tidak mampu dia dapatkan dari dunia malam ataupun wanita, Taehyung ingin mendapatkan langsung darinya. Walau mungkin dia tak datang. Dan tak akan pernah datang. Taehyung akan terus menunggu. Hingga barisan pohon maple disana luruh menjadi debu. Aliran sungai mengeras menjadi tanah.
Hingga persahabatan berbuah perasaan itu hanya tinggal kenangan.
.
.
.
.
.
#
Tak ada ruang bagi kata menyerah.
Tak ada ruang bagi kata menyerah. Walau satu minggu, dua minggu telah berlalu tanpa hasil, tanpa kabar.
Tidak pernah satu detikpun baginya berharga untuk kata menyerah. Entah apa yang telah menguatkannya. Yang jelas tujuannya hanya satu.
Juga firasatnya yang berkata bahwa ini adalah yang terakhir.
Taehyung memberi sedikit waktu untuk dirinya berpikir jika memang saat ini adalah yang terakhir. Wajah seperti apa yang harus diberikannya? Wajah seperti apa yang didapatkannya? Jika seandainya sosok itu datang seperti yang diinginkannya? Sungguh memalukan jika akhirnya dirinya hanya diam dan melahirkan kebingungan.
Terasa makhluk hidup yang berada di sekitarnya seperti menertawakannya. Ada yang menertawakan tingkahnya yang sesaat seperti tersenyum ketika membayangkan hal tadi. Ada juga yang menertawakan keteguhan hatinya. Seperti berkata 'untuk apa?'. Atau jika indera pendengar gaibnya tidak salah mendengar, ada yang membisikkan 'sudah lama sekali'.
Mungkin memang Taehyung membutuhkan kanvas dan cat airnya disaat seperti ini.
Pernyataan itu sebelumnya benar, namun digagalkan oleh satu bayangan yang tiba-tiba datang. Bayangan yang dibarengi oleh cahaya yang secara ilusi hanya tertangkap oleh matanya.
.
.
Saat-saat yang sama seperti waktu pertama. Tanda yang muncul saat pertama kali dia berjumpa dengannya. Saat-saat yang sepertinya tidak masuk akal, namun dengan cara itulah Taehyung mengenalnya. Taehyung diam. Dikala cahaya itu menjadi bayangan, bayangan yang semakin dekat padanya, hingga hanya berjarak tak jauh darinya.
Bayangan dari satu sosok.
.
.
.
Firasatnya terbukti benar. Sosok yang dinantikannya telah datang. Akhirnya.
Sosok itu datang. Dengan nuansa yang terasa begitu berbeda. Kali ini bukan putih. Putih itu seolah telah lama pergi, digantikan oleh merah yang pekat. Begitu pekat seperti hendak menjadi hitam. Merah yang kini menghiasi seluruh tubuhnya.
Wajah yang merona merah. Bibirnya yang merah. Ranum. Lembap. Jubah yang membungkus tubuhnya dengan ikhlas. Begitu ikhlas hingga lekuk tubuhnya tampak dengan sempurna.
Jubah merah.
Merah yang menghantui. Merah yang berbahaya.
Pandangannya kabur.
Sosok itu menatapnya. Mata yang menatapnya berbeda. Bukan pandangan mata damai. Menghunus. Berkilat. Tanpa satu senyum yang membuatnya lega. Tatapan yang sama dengan saat sosok itu menghadapkan punggungnya di mimpinya.
Pandangannya semakin mengabur.
Sosok itu kini melangkah maju. Mendekat. Semakin dekat. Hingga wangi tubuhnya kembali menerpa penciumannya. Wangi tubuh yang familiar, sempat menjadi idaman penciumannya. Yang membuatnya menyerah tatkala wangi tubuh itu memeluknya.
Tubuh itu kini memeluknya. Tanpa sepasang tangan yang mengalung di leher. Mengurung hingga tak ada jarak.
Tidak main-main si cantik itu membuatnya semakin menjadi pengecut. Wangi tubuh yang semakin menyelimuti. Tatapan yang semakin menusuk. Jarak wajah yang kali ini tak lebih dari tiga jari. Kedua tangannya yang lentik tertambat di tulang rahangnya. Satu jemarinya mengelus kulit wajahnya.
Tangan yang mengelus lembut kulit wajahnya itu terasa begitu halus. Sehalus yang ada didalam mimpinya. Walau dalam mimpi pun Taehyung belum pernah memiliki kesempatan untuk menyentuhnya. Namun Taehyung dapat merasakannya. Segalanya.
Si cantik itu menginginkannya. Jelas. Namun tak terangkai di kata saja, seperti saat dia mengungkapkannya pada dirinya di waktu itu. Seperti teriakan yang bergema. Segalanya, ratusan, ribuan, jutaan kata. Seruan. Pertanyaan. Harapan. Ungkapan kebencian. Kesedihan. Rayuan. Keinginan.
Dalam diam yang menyiksa Taehyung dibantai. Tak ada kata. Atau balasan fisik yang berarti sebagai balasan untuknya. Taehyung biarkan saja. Biarkan mata itu menusuk relung matanya dalam-dalam. Biarkan bibir itu merajam lehernya ataupun telinganya dengan kecupan. Biarkan tangan itu seperti telah menemukan harta karun berharga dengan memasuki pakaiannya, merasakan kulit otot perutnya yang kasar.
Taehyung biarkan saja. Dengan rasa tersiksa yang sempurna, berbagai rasa dibangunkannya seperti sihir oleh tangan bersayap yang terbang menelusuri kulitnya dalam-dalam. Tidak bisa. Tidak mampu. Terlalu kuat. Begitu menggoda. Membuatnya terlena.
Sampai Taehyung mempertanyakan apakah kediaman polosnya bernilai benar. Saat tangan itu mulai menempatkan kuasanya di bagian tubuhnya yang terlarang.
Taehyung tersentak.
"You're a bad."
Terengah.
"Very bad liar."
Keringat dingin.
"Taehyung."
Taehyung yakin kediaman polosnya itu bukan tindakan bernilai benar.
Di mata sosok itu terpantul sosok Taehyung yang dia kenal.
Senyum kemenangan terkembang di wajah cantiknya.
Di mata Taehyung terpantul sosok yang sungguh bukan sosok inspirasi seninya yang dia kenal.
Alis yang mengerut tanda putus asa terlukis di dahinya.
Mata si cantik itu. Merah menyala. Seperti mawar yang bermekaran. Darah segar bercucuran. Membara seperti api.
Hasrat yang menggebu. Terungkap di dalamnya.
Cerminan kedua matanya saat ini.
.
.
.
"Stop."
Dengan suara dalamnya, Taehyung ingin agar dia berhenti.
.
"Why?"
.
.
"Just stop."
Dengan suara dalamnya, Taehyung ingin agar si cantik itu berhenti merajai kejantanannya di tangannya hingga menegak merah.
.
.
"Why do you want me to stop?"
.
.
.
"Because it hurts."
Dengan suara dalamnya, Taehyung ingin agar si cantik itu berhenti merajai kejantanannya di tangannya hingga menegak merah karena merasa sakit.
Sakit yang menyiksa.
Si cantik itu menyeringai. Cahaya di matanya berkilat hebat.
"Hurts…?"
Semakin mempercepat gerakan tangannya, tak mengindahkan perintahnya. Sampai kejantanan yang menegang merah itu mengeluarkan keringat lembapnya.
"so this is how 'hurts' feel like for you."
Dan apa yang selanjutnya diberikan oleh si cantik itu bukanlah belas kasihan.
Si cantik itu menggantikan tangannya dengan bibirnya.
Tak hanya bibirnya saja yang dia jadikan senjata, lidahnya pun ikut menari setelah bibir yang mengecup ujung kejantanannya. Menari, menjilat dengan bebas.
Dan untuk puncaknya keduanya bersamaan menghisapnya dalam-dalam.
Luar biasa. Sekujur tubuh Taehyung terasa tak bertulang. Tak terproses oleh akal sehat tentang keadaan dirinya yang tersiksa ataukah terbuai. Atau keduanya.
Percuma saja. Ilmu pasti tak berlaku untuk menjelaskan rumusan reaksi yang bergejolak dalam tubuhnya.
Seperti sudah terbiasa si cantik itu melakukannya, memejamkan matanya, memaju-mundurkan kepalanya dengan piawai hingga pemuda itu tak lagi mampu menahan untuk menumpahkan hasil tubuhnya didalam isapannya. Menodai wajah dan bibirnya. Yang saat itu disambutnya dengan senang hati.
Sepasang mata tajam itu kembali menusuk matanya dalam-dalam saat bibirnya mengarahkan kejantanan yang masih tersisa hasil tubuhnya, dengan lidahnya yang ikut menyapu. Tanpa terputus satu detik pun.
Sungguh tidak ada ampun.
Maka dari itu Taehyung memohonnya.
"Don't torture me more than this."
.
.
.
"Why?"
"Why can't I torture you further?"
.
.
.
"Because it hurts."
.
.
.
"Hurts…?"
Pemuda itu mengerang keras disebabkan tangan si cantik yang menggenggam erat kejantanannya.
"You know, Taehyung…"
.
.
.
"You left me with no words."
.
.
"You denied me."
.
.
"You hurts me."
.
.
"It's you who is hurting me."
.
.
"You, who is such a helpless coward."
.
.
"You… who is a very, very bad liar."
"With your body shaking violently when i touch you."
Semua kalimat itu terangkai menjadi satu pistol yang menembak tepat di jantungnya.
Taehyung seperti tersadar.
Dia telah tega untuk menyakitinya.
Dia telah menjadi sangat menyedihkan untuk menampik kenyataan tubuhnya yang bergetar hebat saat tangan itu menyentuhnya, ketika selama ini dia bersusah payah untuk menolaknya.
Tuhan, selama ini memang dia telah bersikap menolaknya. Bukan karena dia tak tahu, bukan karena dia tak mengerti. Hanya pertanyaan-pertanyaan yang tak berarti, keraguan atas salah benar yang selama ini menghalanginya. Sampai seperti terdengar konyol untuk membuatnya gundah. Sampai harus melibatkan sosok wanita; atau wanita manapun juga, yang sepertinya sampai kapanpun tak akan memiliki kekuatan untuk menyentuh sisi dirinya.
Benar. Tak ada perlawanan yang harus dia lancarkan. Tak butuh waktu-waktu, hari-hari lebih lama lagi untuk mencari jawaban. Tak perlu menyulitkan diri menjadi pengecut lebih lama lagi.
Karena yang perlu dia lakukan hanyalah menerimanya dengan senang hati.
.
.
"I'm sorry."
Si cantik itu bersandar.
Memejamkan matanya.
Dicium olehnya.
Taehyung yang kali ini menciumnya. Menyandarkan tubuhnya di bawah pohon. Mengecup bibirnya seperti saat pertama bibir itu mengecup miliknya. Berkembang seperti untuk yang kedua kalinya. Sampai terasa putus asa.
Tangannya kemudian membelai lembut wajah si cantik itu tatkala dirinya menitikkan air mata.
Taehyung yang kali ini menatap ke relung matanya dalam-dalam.
"Not gonna be a helpless coward nor very bad liar who hurts you anymore."
Pemuda itu kemudian meluruhkan kain merah yang melapisinya dengan jantan, menelusuri setiap kulit tubuhnya yang telanjang dengan bibir dan tangannya. Dengan hatinya. Dengan caranya yang gagah berani. Tanpa ragu. Kembali pada jiwanya yang asli. Jiwanya yang sebenarnya. Jiwa sang lelaki yang haus akan keindahan si cantik itu. Gila akan dirinya yang sampai menghadirkan kegundahan hatinya di alam mimpi. Tak mampu menafsirkan gugusan gejolak yang hadir ketika dia tahu.
Ketika dia tahu bahwa sebenarnya dia menginginkannya.
Jiwanya memang menghendakinya. Si cantik ini. Kecantikannya. Tubuhnya.
Dan hatinya. Di atas segalanya.
Barisan makhluk hidup di sekelilingnya yang sejak awal telah menjadi saksi kisah sepasang manusia itu kembali menyaksikan mereka dengan tatapan terpana dalam diam. Yang tengah bercinta dalam irama hembusan napas putus asa.
Dan sosok pujangga terasa hanya seperti figur amatir untuk menjelaskan segalanya.
Mengenalnya, Taehyung tak terbiasa.
Menyentuhnya, Taehyung tak kuasa.
Memasuki tubuhnya, Taehyung melambung ke angkasa.
Seperti nyawa yang berada di ujung tenggorokan. Bersiap untuk ditarik oleh malaikat maut.
Sampai surga seperti terasa di depan matanya ketika tubuh dan hatinya bersatu dengan seluruh milik si cantik itu tanpa halangan.
Taehyung sudah mati. Mati dalam penyerahan tanpa syarat.
Mati yang bahagia.
Karena hanya dengan bibir si cantik itu yang menyebut namanya, Taehyung hidup kembali.
.
.
.
"I love you... Taehyung."
.
.
.
Bersama dengan dirinya yang telah hidup kembali.
Taehyung telah menemukan jawabannya.
Di dunia yang baru.
Dunia yang hanya ada dirinya dan si cantik itu.
.
.
.
Dia bukanlah bahaya.
Dia memang miliknya. Keindahan yang hanya ditujukan untuknya.
.
.
.
Dia tetaplah putih.
Putih yang dicintainya.
.
.
.
.
"I never know your name from the first."
Pria tampan itu berbisik di telinganya. Memainkan rambutnya, milik seseorang yang sejak beberapa saat lalu telah menjadi kekasihnya. Setelah menit-menit yang tak akan terlupakan untuk seumur hidupnya.
Sang kekasih merasa nyaman dengan milik prianya yang masih terbenam dalam tubuhnya. Sesekali terbawa oleh hasrat yang masih tersisa. Si cantik itu kemudian meliukkan tubuhnya, belum berniat menjawab pertanyaannya, sebagai gantinya merasakan kehangatan lelaki itu memanjakan sekujur tubuhnya. Tentu dengan senang hati lelaki itu menyambutnya, kembali menyalurkan hasrat yang sama. Kembali desahan-desahan putus asa menggema untuk sementara. Sampai si cantik benar-benar menyerah, dan benar-benar berniat membalas pernyataan penting sang kekasih dengan memberinya sebuah senyum hangat.
"Jungkook." Lembut tangannya membelai bagian wajah pria tampan itu yang paling disukainya-tulang rahangnya. "Jeon Jungkook."
Pemuda itu menggetarkan kembali namanya dengan penuh kepercayaan diri.
"Jungkook."
Sembari tidak bosannya menatap keindahan di depan matanya, pemuda itu membayangkan lagi pertanyaan-pertanyaan yang ingin dia layangkan, yang begitu banyak. Siapa dirinya sebenarnya, benarkah dia terlahir di kayangan seperti dugaan sembarangannya, apa saja hal yang disukainya selain seni.
Dan yang terpenting, bagaimana dia bisa tahu tentang dirinya, seperti yang diungkapkannya pertama kali.
"Where did you knew about me, Kook?"
Si cantik itu terdiam untuk sementara, kemudian tersenyum, kembali pada kebiasaannya yang lama. Seperti mengindikasikan sesuatu yang membuatnya penasaran, sang kekasih mengedipkan sebelah matanya.
"Ask grandpa for it."
Pemuda itu mengernyitkan alisnya. Seketika terbayang sosok lelaki tua di kepalanya oleh sapaan yang diungkapkan sang kekasih.
"'Grandpa?'"
.
.
.
.
.
#
[ 2 days later ]
"Well... aku kira kau telah melakukan kecurangan dengan tidak pernah memberitahuku bahwa kau punya seorang cucu, master."
Pria itu tertawa sambil merapikan kacamatanya yang melorot. "Yah, maafkan soal itu." "Tapi tidakkah kau pikir ini bagus? Bukan hal yang mudah baginya untuk jatuh cinta."
Taehyung terdengar seperti terkekeh kecil.
"Kukira pada akhirnya aku hanya akan membusuk sebagai lajang tua."
Lelaki tua itu tertawa lagi. Kali ini lebih lantang. "Dengan wajah tampanmu itu? Yang benar saja."
Taehyung seperti sudah terbiasa, hanya berkilah singkat. "Sudah berapa kali kubilang aku tidak tampan."
"Ayolah, Kookie selalu membicarakanmu."
"Sedang bicara apa kalian?"
Lelaki tua itu kemudian menoleh mendapati cucunya tercinta keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe putih. Taehyung yang ikut menyaksikan pemandangan itu terpaksa menahan napas melihat wajahnya yang memerah, nampak begitu segar dengan tetesan-tetesan air yang mengelilingi rambut kekasihnya yang mengalir melewati lehernya.
"There it is, milady."
"Berhenti menggodaku, grandpa." Seperti setengah berniat membalas godaan kakeknya, si cantik itu berjalan menghampiri sang kekasih dan langsung memeluknya, mengecup bibirnya dalam.
"Miss you, baby."
Kekasihnya yang tampan itu sedikit menyeringai, mengingat pertemuan mereka yang terakhir sekitar dua jam yang lalu namun tetap membalasnya dengan ungkapan kerinduan yang sama. Lelaki tua itu tentu berlagak pura-pura tidak tahu dengan bersiul, namun sempat tak sengaja melihat ke arah mereka dan terkesiap tatkala sepasang kekasih itu kembali berciuman dengan lebih intens, sampai kepada tangan kekar milik muridnya masuk ke dalam bathrobe cucunya yang cantik, seolah tidak peduli.
Lelaki itu berdeham, mengeluh kecil sembari berjalan pergi. "Man, you can't be helped."
Setelah puas merasakan lembut kulit sang kekasih, Taehyung melepaskan ciumannya, menyisakan satu benang saliva tipis yang tertambat di lidah si cantik itu.
"I've thought about us living together." "How'd you think?"
Sepasang Mata bulat itu berbinar. "For real?"
Taehyung merogoh kantongnya. Si cantik itu tampak berharap. Pemuda itu memberinya senyum menjanjikan.
Sebuah cincin di tangannya kemudian. Dengan permata putih yang bercahaya di tengahnya.
Jungkook menatapnya untuk waktu yang cukup lama. Tergurat kebahagiaan yang membuncah. Tanpa kata yang berarti dia ucapkan. Sebelum akhirnya dia dapat meluapkan segalanya dengan memeluk kekasihnya erat-erat.
Tawa manis terdengar dari keduanya kemudian.
[ end ]
.
.
.
.
.
#
[ Epilogue - one week later ]
"Morning, love."
Taehyung sedikit mengacak rambutnya, menguap dengan bertelanjang dada. Sang istri menyambutnya di seberang, membuka jendela. Memakai kemeja yang tampak dua kali ukuran tubuhnya. Kemeja milik suaminya. Hanya itu saja.
"Morning." Taehyung menjawab dengan suara parau khasnya setelah bangkit dari tempat tidur. Niat untuk mengunjungi sang istri dibatalkan mengingat dirinya yang telah terbiasa untuk berbasuh lebih dulu.
.
.
.
.
"Babe, what's for breakfast?" ujar lelaki itu kemudian, terbiasa untuk mengisi perut sehabis berbasuh. Belum berniat untuk kembali mengenakan pakaian atasnya.
Tak ada jawaban.
Taehyung kemudian berjalan ke arah dapur dengan langkah pelan.
"Here."
Dalam satu hentakan kaki, dia terdiam di tempatnya. Menyaksikan sang istri yang duduk bersandar di atas meja dapur. Perlahan melepaskan satu persatu kancing kemeja miliknya yang menggantung di bahunya, membiarkannya hanya menutupi tubuhnya bagian belakang. Secara elegan barisan jemarinya mengambil botol selai kacang yang telah terbuka di sampingnya, mengoleskannya di atas sendok selai. Matanya menatap ke arah lelaki itu yang mulai mengantisipasi kegiatannya dengan senyum yang terkembang di bibir. Dengan senyuman yang sama, dirinya mulai mengoleskan selai kacang di sendoknya secara perlahan. Yang kemudian olesan itu berpindah ke bibirnya. Begitu perlahan. Pindah ke lidahnya. Dengan mimik wajah penuh kepuasan.
Tak terhenti sampai disitu. Si cantik itu membuka lebar kedua kakinya yang telanjang, dengan barisan jemari lentiknya bermain, semakin menurunkan lengan kemeja yang hanya menggantung di lengannya, membukanya semakin lebar, mengekspos keseluruhan tubuhnya di bagian depan. Selanjutnya kembali melanjutkan peta selai kacang di tubuhnya, yang kemudian dioleskannya di area lehernya. Begitu perlahan. Membuat jalur turun ke kedua puting merah jambunya. Sejenak si cantik itu memejamkan matanya, menengadahkan kepalanya ke atas.
Olesan selai itu semakin menurun melewati garis perutnya yang bermuara di pusarnya yang dihiasi satu manik kecil. Bersamaan dengan itu, dia menikungkan perutnya ke depan, sedikit memberi waktu untuk sedikit memainkan olesan selai itu di perutnya.
Jemari kakinya menekuk, helaan nafas rendah yang mengiringi saat dirinya kemudian menempatkan selai di miliknya yang saat itu telah memberikan reaksi yang jelas dengan menegang merah secara malu-malu. Helaan nafasnya kemudian meningkat menjadi desahan mesra yang berulang. Kedua kakinya terbuka sempurna, dengan batang sendok olesan selai kacangnya secara leluasa masuk dan keluar ceruk yang telah mengalirkan hasil tubuhnya. Sebuah pertunjukan yang cukup membakar adrenalin sang suami.
Puas memanja mata suaminya, si cantik itu kembali mengoleskan sambungan selai kacang untuk rute terakhir. Terbentang di pahanya, sampai ke mata kakinya, sebagai penutup.
"Come." Ujarnya sambil mengedipkan mata dengan wajahnya yang merona merah, menggigit sendok dengan senyum nakal.
Sang suami menyeringai penuh kemenangan, berjalan ke arahnya dengan langkah mantap.
"You really know how to please your husband."
Tanpa basa basi Taehyung membuka lebar kedua kaki istrinya, melarikan lidahnya menjilat selai kacang di ceruk di balik kedua pipi bokongnya, menyatu dengan hasil tubuh sang istri yang manis. Untuk waktu yang cukup lama sampai sang istri menyerah karenanya.
Setelahnya si cantik itu kemudian menempatkan kedua kaki jenjangnya di bahu sang suami. Menenggelamkan jemarinya di rambutnya.
"Why didn't you kiss me first?"
"Cause she wants me to kiss her first." Sang suami membalas bisikannya, kali ini telunjuknya yang menyentuh keintimannya, membiarkannya bermain-main sebentar area sana.
"But she wants to be kissed by this." Dengan nafas yang sempat tertahan si cantik itu membuka kancing jins sang suami, mengeluarkan perlambang kejantanan yang sangat disukainya. Mulai mengelusnya perlahan.
Lelaki itu berkilah walau sempat teralihkan. "Terms and conditions applied."
"C'mon." Si cantik itu semakin mempercepat goyangan tangannya, dibarengi dengan sang suami yang memaju mundurkan telunjuknya memasuki ceruknya yang semakin lama terasa semakin lembap dan mengetat memeluk jarinya. "She's hungry."
"This isn't counts as food...?" Lelaki itu masih belum berniat menyudahi godaannya, menambah satu lagi jemarinya kedalam ceruk yang dengan sangat mudah melebar seperti terbiasa. Si cantik itu semakin putus asa, mendesah pelan, tetap meliukkan tubuhnya.
"She moans for a good food, not a finger."
Lelaki itu tertawa pelan, mengecup dan menggigit lehernya.
"She moans for my dick?"
"Yes." Si cantik itu balas mengecup rahangnya dan menggigit telinganya. "She begs for my husband's dickto shake me."
Suaminya hanya terkekeh rendah. "You're so sexy when talking dirty."
Sang istri mengeluh sebelum mengulum bibir suaminya. Dirinya sudah tidak sabar, mengalungkan kedua kakinya di pinggang sang suami. Menggigit bibirnya pelan, sebelum memulai sesuatu yang telah ditunggu-tunggunya.
"Now can we stop the talk and get dirty?"
Untuk selanjutnya, sarapan pagi yang sudah dihidangkan di atas meja dibiarkan dingin begitu saja.
.
.
.
.
.
#
a/n 2: alhamdulillah selesai juga akhirnya. ga jelas banget ya. gombal banget ya. udah lama nungguin eh begitu doang jadinya. hiks yaudahlah ya. namanya juga manusia.
btw ini boleh ya saya kasih tau dikit makna-makna warna yang dibilangin Taehyung ke master(guru lukis)-nya, ngintip dari internet. sebenernya terjemahan maknanya ada banyak, cuman saya ambil warna dengan arti makna yang kira-kira cocok untuk ngewakilin perasaan-perasaan Taehyung. kalo ada yang udah ngeh berarti ketje eaa:
Hitam: wujud keputusasaan Taehyung
Biru: hidup yang tenang, tanpa gangguan
Ungu: misterius, Emas: elegan
** ungu dicampur emas: misterius dan elegan (kesan pertama Taehyung liat Jungkook)
Cokelat: persahabatan (Taehyung mulai anggep Jungkook sebagai sahabat)
Putih: inosen, pure
Merah: kebalikannya putih dong, sexy-sexy menggoda gimana gitu. Jungkook banget lah.
oke sampe sini dulu, makazi banyak ya semua, see you!
