"Sudah kuputuskan!" ujar Tsunade, "Tim Kakashi, kutugaskan kalian untuk melindungi Sakura selama menjalankan misi ini."
Sasuke menggigit bibir bawahnya bingung. Misi? Melindungi Sakura? Shit! Ia sama sekali tidak mengerti apa inti permasalahan ini karena datang terlambat.
Sesaat, bungsu Uchiha itu mengingat mimpi yang baru saja ia alami semalam.
Misi. Sakura. Peperangan. Kematian.
'Ini semua ... tidak mungkin berhubungan, 'kan?'
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
I Will Save You
A Naruto FanFiction by MiMeNyan (Iwahashi Hani)
Sasuke—Sakura
.
Canon
Terinspirasi dari Naruto Movie 4
.
.
.
Empat warna kontras tampak menghiasi warung Ichiraku. Hitam kebiruan, putih, merah muda, kuning. Tanpa perlu disebutkan, semua orang di Konoha pasti tahu siapa pemilik warna rambut itu.
Mereka selaku tim tujuh kini tengah menikmati acara yang Naruto namakan 'temu kangen'. Sayangnya, acara temu kangen mereka kali ini terasa hambar setelah mendengar penjelasan Sakura perihal misi yang Godaime Hokage bebankan pada mereka berempat; khususnya Sakura. Semuanya pusing, pasti.
"Semua ini salahmu, Naruto!" ujar Sakura kesal. Sejak tadi, ia hanya memutar-mutar isi mangkok ramennya. Selera makannya sudah hilang sejak mendengar perintah Tsunade-shishou.
Naruto menggembungkan pipinya. "Sakura-chan tenang saja! Aku pasti bisa melindungimu ttebayo!"
Ketiga manusia di sekitar Naruto mengembuskan napasnya lelah. Mereka memaklumi sikap optimis Naruto. Tapi untuk saat seperti ini, perkataan yang lebih mirip janji dari Naruto itu terdengar seperti bualan.
Kau mau melindungi Sakura seorang diri? Huh, kau bercanda?—Kurang lebih seperti itulah yang ada di otak Kakashi, Sasuke, dan tentunya Sakura.
"Kenapa kalian tidak percaya padaku, sih? Begini-begini aku pernah menyelamatkan Shion saat menyegel iblis ttebayo!"
Ah, Shion. Sakura tersenyum masam mendengar nama itu. Kasus yang itu dan ini sangatlah berbeda. Shion memiliki darah Miko, sedangkan Sakura? Keluarganya saja hanya warga desa biasa.
Gadis Haruno itu beranjak dari tempat duduknya. "Aku pulang duluan. Besok pagi jangan lupa ke gerbang perbatasan." Sakura berkata pelan sembari menjauhi Ichiraku.
"Hn," gumam Sasuke pelan, dan dapat diterjemahkan oleh Naruto sebagai 'aku juga'.
"Baiklah Naruto, aku akan pergi juga." Kakashi berkata sebelum pof! dirinya menghilang ditemani kepulan asap tebal.
Naruto menatap kesal teman-teman sekaligus gurunya. Bisa-bisanya ia ditinggal seperti ini. Huh, apa ini yang dikatakan teman? Dasar tidak berperasaan. Ia kembali memasukkan ramen ke dalam mulutnya, meski sesekali terdengar gerutuan kecil.
"Hey Naruto, teman-temanmu belum membayar ramen mereka. Cepat bayar, warung kami akan segera tutup."
"APA? AKU TIDAK PUNYA UANG TTEBAYO!"
.
.
.
Langkah kaki Sakura terhenti tepat di taman Konoha tatkala dirinya merasakan sesuatu—seseorang—tengah mengikutinya. Aneh, padahal biasanya tidak ada yang berani mengikutinya karena ia terkenal memiliki kekuatan monster. Tapi sesaat setelah menganalisa chakra orang yang mengikutinya, barulah Sakura mengerti alasan orang itu tidak gentar terhadapnya.
"Kenapa Sasuke-kun mengikutiku?"
Ya, dia adalah Uchiha Sasuke. Dan tidak ada alasan bagi Sasuke untuk takut pada Sakura.
"..." Sasuke terdiam di tempatnya yang berjarak beberapa meter dari Sakura. Ia tidak menyangka Sakura akan menyadarinya secepat ini. Padahal ia sudah menyembunyikan chakranya sebaik mungkin. Tapi nyatanya masih bisa terdeteksi oleh iryo-nin tersebut. Dia sudah bertambah hebat, pikirnya.
Sakura tersenyum masam. "Ini seperti deja vu ya, Sasuke-kun?" tanyanya tiba-tiba, membuat Sasuke menautkan kedua alisnya bingung. Deja vu? "Tempat ini ... dulu menjadi tempat terakhir aku melihatmu sebelum kau pergi."
Ah, tentang itu.
"Saat itu aku menangis untuk menahanmu, tapi kau tetap saja pergi. Menyedihkan, ya?"
Sasuke mengepalkan tangannya erat.
"Kau bahkan bilang aku menyebalkan. Rasanya seperti aku ingin mati saja waktu itu. Ne Sasuke-kun, kenapa waktu itu kau tidak membunuhku?"
Lagi-lagi Sasuke terdiam.
"Kau pasti menganggap membunuhku tidak ada gunanya, 'kan? Pasti begitu. Sasuke-kun mana mau melakukan sesuatu yang tidak ber—"
"Berisik."
Gumaman tegas dari bungsu Uchiha membuat Haruno Sakura menghentikan ocehannya. Kepalanya bermahkotakan surai merah muda itu menunduk dalam, kecewa pada Sasuke. Tidak, ia tidak kecewa karena perkataannya disela Sasuke. Ia kecewa karena Sasuke masih saja mengatainya berisik.
Berisik.
Ya, Sakura memang berisik. Ia sangat sadar hal itu. Dan Uchiha Sasuke sangat membenci sesuatu yang berisik. Itu artinya; ia membenciku. Itu 'kan, yang ada di otakmu, Haruno Sakura?
"Jadi, untuk apa kau mengikutiku?" Sakura mengulangi pertanyaannya.
"Ini tentang misimu," jawab Sasuke singkat.
Sakura tersenyum perih. Ini kali pertama Sasuke memikirkan sebuah misi sampai sebegininya. Dan entah kebetulan atau bukan, misi tersebut dibebankan padanya. Itu berarti—"Kau tidak percaya aku bisa menyelesaikan misi ini?"
Meski berada beberapa meter di belakang Sakura, Sasuke dapat merasakan sedikit rasa kecewa gadis itu terhadap perkataannya. Sial, apa ia salah bicara?
"Aku sudah bertambah kuat sejak kau pergi meninggalkan desa, jadi jangan meremehkanku." Sakura berjalan pelan meninggalkan Sasuke yang masih diam di tempatnya.
Sasuke memejamkan matanya erat.
Oh Tuhan, ia sama sekali tidak bermaksud meremehkan Sakura. Lagi pula, apa yang bisa diremehkan dari murid Godaime Hokage yang bisa menghancurkan satu gedung besar hanya dengan satu pukulan? Sasuke hanya ... mengkhawatirkan keselamatan Sakura sekaligus ingin meminta pendapat gadis tersebut mengenai mimpinya semalam.
.
.
.
Pagi yang indah di perbatasan. Tapi bagi tim tujuh, pagi hari ini adalah pagi terburuk dalam hidup mereka. Apalagi Sakura. Bagaimana pun, ia-lah yang menjadi penentu misi ini.
"Baiklah, kita pasti berhasil ttebayo!"
Sakura memandangi ujung sepatu ninjanya dengan risau. Sampai kini, ia bahkan masih belum yakin kalau ia benar-benar diperintahkan untuk menggantikan Tsunade-shishou menghancurkan batu super kuat itu.
Puk!—tepukan kecil di bahu Sakura membuat gadis itu mendongak dan mendapati Kakashi-sensei tengah tersenyum di balik masker hitamnya. "Semua akan baik-baik saja, Sakura. Bukan hanya Naruto yang siap melindungimu, tapi kami semua."
Viridian milik Sakura berpendar pada sosok ketiga lelaki di dekatnya. Semua tersenyum untuknya—menyemangatinya. Selama ini, ia tidak menyadarinya. Menyadari bahwa ketiga orang itu selalu ada untuknya; siap menopang bebannya jikalau ia tak kuasa memikul semuanya sendirian.
"Sakura-chan, aku akan selalu melindungimu ttebayo!"
"Hn,"
"Lihat? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Gadis Haruno itu segera menutupi wajahnya dengan telapak tangan, tidak ingin ketiga laki-laki di depannya mengetahui ia menangis. Ia ... sungguh merasa bersalah selama ini tidak mempercayai mereka.
"Arigatou..."
"Baiklah, kita berangkat sekarang ttebayo!"
Mereka berempat berlari, menembus lebatnya hutan tanpa rasa gentar. Tidak ada yang mereka takuti. Karena mereka bersama. Ya, tim tujuh tidak akan pernah terkalahkan jika mereka bersama. Bukan begitu, Sakura?
To Be Continued
Chapter besok akan memuat sesi pertarungan awal! *^* Hani harap kalian mengerti jalan cerita ini.
Terima kasih untuk yang sudah review!
Dan sekali lagi, yang berkenan, silakan tinggalkan review. O3O
