"Oppa? Kau dimana? Aku sudah di kantin sekarang!"
"Aku juga di kantin. Tunggu sebentar, oppa sedang menemui teman Oppa dulu. Tunggulah di meja biasa."
"Hm, arasseo."
Piip.
"Eh, Kyung... Itukan Jongin."
Tepat beberapa detik setelah telepon Jongin terputus, Kyungsoo menoleh saat Luhan yang ikut bersamanya menunjuk ke salah satu meja kantin yang berada di pojok. Disana memang ada Jongin, tapi juga ada sosok lain yang duduk dihadapannya.
Seseorang yang Kyungsoo kenali sebagai Namja yang pernah menyatakan perasaan suka padanya dulu. Tapi tentu saja Kyungsoo menolaknya. Oh ayolah... Mungkin namja bernama Park Chanyeol itu memanglah sangat tampan, juga kaya... Hanya saja, mungkin namja itu sedikit datang terlambat. Kyungsoo sudah menyukai Jongin saat itu. Dan Kyungsoo tidak pernah mengenal sosok Chanyeol sebelumnya.
Ya, tapi setelah itu, yang Kyungsoo tahu Chanyeol adalah seorang berandalan yang suka pergi ke bar dan balapan liar. Dan Kyungsoo bersyukur saat itu Ia sudah mengenal Jongin lebih dulu, hingga Ia tak jadi terpikat pada namja super tampan itu.
"Aku pernah melihat Jongin bersama dia beberapa kali," Kyungsoo masih memperhatikan dengan intens pergerakan dua namja yang berada di pojok sana. "Tapi aku tidak tahu kalau mereka sedekat ini." Gumamnya pelan.
Luhan mengendikkan bahunya tak peduli, "Mungkin kau lengah saja Kyung. Biarpun Jongin itu pendiam, tapi dia juga manusia. Dia juga punya teman." jawab Luhan enteng dan gadis itu mulai sibuk dengan isi ponselnya. Membalas pesan Sehun yang hari ini tidak masuk karena sakit.
Kyungsoo hanya diam tak menjawab. Matanya masih setia memperhatikan kedua namja itu. Perasaannya sedikit memburuk. Entahlah... Hanya saja, Kyungsoo, dia merasa tidak suka jika Jongin bergaul dengan orang seperti Chanyeol.
Oh, baiklah. Kyungsoo mungkin tidak berhak untuk mengatakan ini. Tapi anggap saja ini adalah kekhawatiran yang datang dari seorang teman. Toh, Jongin dan Kyungsoo makin dekat akhir-akhir ini, sudah lima hari ini Kyungsoo dan Jongin pulang pergi bersama. Tak jarang mereka berjalan-jalan hanya untuk sekedar makan es krim atau makan siang sepulang kuliah.
Kyungsoo menahan nafas saat pandangannya bertemu dengan sepasang hazel bulat yang riba-tiba melirik dan membalas tatapannya tajam, untuk waktu lima detik keduanya saling diam memperhatikan, hingga akhirnya Kyungsoo memutuskan eye contactnya dan pura-pura sibuk dengan minumannya.
Dalam tiga menit terakhir, Kyungsoo memutuskan untuk tidak menoleh kesana. Tapi ketika Kyungsoo menelengkan pandangannya kembali... Kosong. Orang itu sudah pergi. Bahkan Jongin juga ikut lenyap dari sana.
"Lu? Jongin Oppa pergi kemana ya?" Luhan yang sejak tadi bergelut dengan ponselnya ikut menoleh ke meja yang tadi di huni oleh Jongin dan juga Chanyeol.
"Kau kan yang memperhatikan Jongin dan temannya dari tadi. Kenapa malah tanya padaku?" Jawab Luhan membuat Kyungsoo kesal.
"Kau ini, akukan hanya tanya." Kyungsoo menyeruput jus strawberry miliknya dan berpikir sejenak. "Lu, kau ingat tidak dengan Park Chanyeol?"
Luhan yang mendengar nama itu langsung mengalihkan seluruh perhatiannya pada Kyungsoo. "Chanyeol? Anak fakultas bisnis seangkatan Sehun dan Jongin itu? Yang pernah menembakmu saat kita sedang di perpustakaan dulu?" dan Kyungsoo menjawabnya dengan mengangguk.
"Memangnya kenapa? Bukankah setelah menembakmu dia berpacaran dengan Tiffany-sunbae, lalu tiga hari kemudian mereka putus dan dia pacaran dengan Sooyoung-sunbae. Ugh, untung saja kau menolaknya Kyung. Dia benar-benar... dangerous!" Cerocos Luhan dengan cerewetnya. Bahkan Ia bergerak-gerak mendramatisir.
Kyungsoo menggeleng menyangkal, "Ani, bukan itu. Tapi..." Kyungsoo kembali menoleh kearah meja kosong itu, lalu beralih menatap Luhan lagi, "Yang bersama Jongin tadi itu Chanyeol. Park Chanyeol."
"Woa, jinjja?" Luhan memekik dengan lebaynya. "Jangan-jangan dia mau merebutmu lagi Kyung!" Ceplosnya lagi. Kyungsoo menjitak kepala rusa cantik itu halus.
"Tidak mungkin! Kau sendiri kan bilang, dia sudah bergonta-ganti pacar setelah menembakku dulu, itu artinya dia memang hanya bermainkan."
Luhan mengangguk-ngangguk, "Kau benar." Lalu gadis itu meraih tangan sang sahabat, menatap Kyungsoo dengan tatapan yang serius, "Jadi bisakah kita melupakan Jongin dan makan duluan?"
Kyungsoo mendengus karena dia pikir Luhan akan bicara hal yang serius, "Pergilah memesan sana. Aku akan menunggu Jongin Oppa."
Luhan tersenyum masam, "Yayaya, tunggulah Oppamu itu. Aku pergi memesan dulu ya..." dan Luhan pun beranjak untuk memesan makanan. Meninggalkan Kyungsoo yang kembali dilanda perasaan yang... ah entahlah, ini aneh... Yang pasti, Kyungsoo tidak suka perasaan ini.
"Ugh, kenapa ya..."
.
.
.
.
Black Handycam
By Adetya L. Maharani
.
Main Cast :
Do Kyungsoo (yeoja)
Kim Jongin (Namja)
Park Chanyeol (n)
Other :
Byun Baekhyun (y)
[Cast bisa berubah dan bertambah disetiap Chapternya]
.
Rated M (ature)
.
Hurt/Comfort /Drama/Angst
.
W(arning) :
GS FOR ALL UKE, TYPOs, OOC, NC/LIME, Bahasa agak
kasar, GAJE, NGAWUR, NO EDIT! dsb.
Ket : Kyungsoo, Chanyeol, Jongin, Luhan dan Sehun mereka satu angkatan tapi hanya berbeda jurusan. Sehun, Jongin dan Chanyeol satu jurusan. Luhan dengan Kyungsoo. Sedangkan Baekhyun ceritanya empat tahun lebih muda dari mereka, dia masih SMA kelas tiga.
.
.
ΠΠ_88_ΠΠ
.
.
.
Sore ini sangatlah cerah, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang selalu mendung lalu diakhiri dengan hujan.
Sore ini, pukul lima, Chanyeol menyuruh Jongin untuk datang menemuinya di sungai Han setelah mengantarkan Kyungsoo pulang.
Dan saat itu adalah kaleng soda ke tiga yang Chanyeol habiskan di pinggiran sungai Han. Tiga kaleng itu cukup banyak, tapi Bukan, itu bukan karena Jongin terlambat datang, tetapi karena Chanyeol yang memang sudah disana semenjak satu jam lebih yang lalu.
Dan tepat beberapa menit setelah kaleng ke tiga dibuang, Jongin datang dengan motor sport hitamnya. Waktu menunjukkan kurang dari tujuh menit sebelum pukul lima pas. Jongin menarik nafas sebelum melepas helmnya dan turun dari motor. Ia menghampiri Chanyeol dan berhenti di jarak tiga meter dibelakang pemuda pirang itu.
Tanpa berbalikpun, Chanyeol tahu Jongin telah datang. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam, Jongin menunggu Chanyeol untuk bicara perihal menitahkannya untuk datang kali ini.
Sepuluh menit berlalu, dan Chanyeolpun akhirnya berbalik dengan senyuman licik khas di wajahnya. Seperti biasa, Ia memberikan pandangan rendahnya pada Jongin. Jujur saja, Jongin sadar apa arti dari tatapan itu. Tapi, oh ayolah... jangan bodoh dengan melupakan bahwa, 'dia ini majikanmu sekarang'.
"Kupikir sekarang dia sudah sangat dekat denganmu." Ujar Chanyeol dan meneguk kali pertama kaleng soda keempatnya yang baru dibuka. Jongin hanya diam tak menjawab. Dipikir, Jongin cukup pintar dengan bisa menebak kemana arah pembicaraan ini akan pergi.
Ia benci jika Chanyeol mulai membahas soal Kyungsoo. Demi Tuhan, itu memuakkan.
"Jangan berbelit, katakan yang sebenarnya." Jongin tetap tenang ditempatnya berdiri.
Chanyeol menampilkan smirk miliknya, Ia memainkan kaleng soda ditangannya, menggoyang-goyangkannya didepan wajahnya dengan jenaka.
"Besok, 12 Januari." Chanyeol menatap Jongin dengan tajam dari balik kalengnya, "Kyungsoo. Dia berulangtahun."
Jongin, jujur saja Ia terkejut. Meski sudah begitu dekat, Jongin baru tahu besok adalah hari ulangtahun Kyungsoo. Entahlah, Jongin merasa kaget hanya karena satu hal, jujur saja... Dia panik. Panik karena... dia belum mempersiapkan apapun untuk gadis... itu?
Eh?
Tapi Ia segera tersadar saat manik Chanyeol menatapnya dengan pandangan bersahabat, itu sungguh memuakkan, demi Tuhan! Jongin punya firasat buruk sekarang!
"Aku ingin kau menidurinya di hari ulangtahunnya."
Gotcha!
Ini adalah hari ke sembilan Jongin dan Kyungsoo menjadi sangat dekat. Dan sudah empat hari terakhir Chanyeol tidak mengganggunya sama sekali. Dan demi Tuhan, Jongin nyaris lupa dengan tujuannya itu. Tidak, dia hanya... ugh, entahlah... Mendengar Chanyeol berkata barusan terasa lebih mengejutkan dibanding saat pertama kali namja jangkung itu menyuruhnya meniduri Kyungsoo!
"Lupakan soal motornya, itu untukmu saja. Tapi kau harus bisa melakukannya besok."
Seketika itu, Jongin merasa tubuhnya lemas tiba-tiba. Sekelebat bayangan-bayangan yeoja mungil yang tengah tersenyum malu-malu padanya tiba-tiba terlintas begitu saja. Seperti sebuah film dokumenter yang tak memilki tombol stop atau pause. Menampar sesuatu dalam diri Jongin dengan begitu keras hingga membuatnya... sesak?
Entahlah. Tapi Jongin membenci situasi ini.
Membenci ketika tangannya pasrah saja menangkap sebuah handycam berwarna hitam yang dilemparkan dengan seenaknya oleh si tuan Park itu. Membenci ketika Ia membiarkan Chanyeol menepuk bahunya dan melewatinya dengan angkuh. Membenci ketika Ia ingat bahwa, seharusnya Baekhyun tak terlahir mempunyai kakak bajingan sepertinya. Membenci ketika dia sadar bahwa, dia terlalu banyak mengingat senyuman gadis itu.
"Aku menunggumu untuk rekamannya."
Dan Park Chanyeol memasukki mobil ferrari merah miliknya, menancap gas tanpa berkata apapun lagi dan meninggalkan Jongin yang masih bergelut dengan semua perasaannya.
Hingga satu jam berlalu. Dan Jongin masih tetap berdiri dalam kilometer yang sama dengan ekspresi datarnya. Hingga akhirnya senyuman miris terbentuk disana.
Senyuman sarat akan keputus asaan.
Jongin merasa dirinya sangat menyedihkan.
.
.
.
Siang itu Kyungsoo sudah berdandan dengan cantik, mengenakan dress hitam-putih polos selutut yang Ia padukan dengan surai miliknya yang dibiarkannya terurai indah.
Pokoknya, Kyungsoo benar-benar terlihat istimewa dan sangat cantik hari ini.
Karena hari ini adalah sabtu di bulan Januari. Dan ini adalah hari ulangtahun Kyungsoo tepat yang ke-22. Kyungsoo sudah memasak banyak sekali makanan untuk jumlah porsi empat orang.
Ya, Kyungsoo sudah mengundang Luhan, Sehun, dan Jongin untuk makan siang dirumahnya pukul dua nanti. Tapi Kyungsoo sudah mempersiapkan semua ini dari pagi.
Entahlah, Kyungsoo hanya merasa bahwa kali ini terasa sangat spesial karena hadirnya Jongin. Dia benar-benar bahagia. Sampai-sampai senyuman manis itu tak kunjung luntur sejak Ia terbangun tadi pagi.
Benar-benar.
Kyungsoo sekarang sedang menonton televisi. Meski televisi itu memutar acara kesukaannya, Pororo, percayalah... Kyungsoo sama sekali tak fokus karena hampir tiga menit sekali Ia meraih kaca kecil yang dibawanya ke ruang tv untuk memeriksa penampilannya sesering mungkin.
Sesekali Kyungsoo mengeluh pelan. Jam dirumahnya menunjukkan pukul 1 lebih tiga puluh delapan menit. Oh, kenapa pukul dua itu rasanya harus seabad?
Disela kegiatannya berkaca, tiba-tiba bel pintu apartemen Kyungsoo berbunyi. Yeoja itu refleks memekik girang. Pasti Salah satu tamunya sudah datang!
Kyungsoo segera bangkit dan berlari kecil kearah pintu. Sejenak, Ia berhenti dan melihat ke kamera yang terpasang, tapi kok tidak ada orang? Tidak mau memusingkan hal itu, Kyungsoo lebih memilih merapikan penampilannya serapi mungkin. Siapa tahu itu Jongin yang bersembunyi, kalau HunHan sih... Mau Kyungsoo belum mandi seminggu pun tak jadi masalah jika itu mereka.
Setelah puas rapi-rapi, Kyungsoo membuka pintu dengan perlahan (sok anggun). Perlahan dan perlahan. Bahkan Kyungsoo menundukkan wajahnya saat membuka pintu. Berharap, jika itu Jongin, namja itu akan memberikannya suprise yang tidak dia duga-duga.
Yayaya. Bolehkah Kyungsoo Ge'er dengan berpikir bahwa, Jongin juga menganggapnya sama sepertinya, kalau dia adalah seseorang yang spesial?
Tak masalahkan?
Saat pintu terbuka makin lebar, Kyungsoo merengut heran, tak ada suara apapun dan Ia pun langsung mengangkat wajahnya serentak.
Pintu sudah terbuka lebar.
Dan Kyungsoo tak menemukan siapapun disana. Kosong. Benar-benar kosong! Tidak ada Jongin, Luhan-Sehun, maupun tikus lewat. Tidak ada.
Oke ralat, itu pengecualian untuk sebuah kotak kado berukuran sedang bersama buket bunga berisi sepuluh tangkai bunga mawar merah dan tiga tangkai mawar putih ditengahnya, terdampar tepat didepan pintu kamar apartemen Kyungsoo.
Kyungsoo mengerut bingung. Ia berjongkok dihadapan paket itu. Memperhatikannya sesaat dan menelengkan pandangannya kesana-kemari, mencoba mencari si pengirim paket tersebut. Tapi tidak ada orang. Benar-benar sama sekali tidak ada.
Memberanikan diri, Kyungsoo meraih buket bunga itu. Memperhatikannya lalu tersenyum lembut, hm, bunga yang benar-benar cantik dan harum.
Kemudian Kyungsoo beralih meraih kotak kado tersebut, membolak baliknya sebentar dan menaruhnya lagi ditempat semula. Lalu Kyungsoo memperhatikan buket bunga yang berada ditangannya. Disana, ada kertas yang menggantung.
Dan itu pasti dari si pengirim!
Kyungsoo segera membuka lembaran kertas tersebut. Kyungsoo dapat melihat sebuah tulisan tangan rapi yang mengisi kertas tersebut. Ia dengan seksama membaca setiap kalimat yang tertulis disana,
Dear Do Kyungsoo...
Hai. Selamat ulang tahun untukmu yang ke 22. Aku selalu berharap suatu saat kita bisa bertemu dan bersama dalam waktu yang lama. Kurasa itu tak akan lama lagi.
Aku menunggumu, Kyung. Tunggu saat waktu itu datang.
Seketika itu, kening Kyungsoo berkerut keheranan. Perasaannya berkecamuk antara penasaran, bingung, heran dan juga... takut.
Takut?
Oh ayolah... Siapa yang tidak takut di kirimi pesan seperti itu? Meski kau bisa melihat semua kalimat baik-baik disana, tapi entah hanya perasaan Kyungsoo saja, atau memang benar kalau Ia sedang... diancam?
Kyungsoo menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengenyahkan pikiran buruk yang menghampirinya. Kyungsoo memaksakan satu senyuman dibibirnya, Ia segera meraih kotak kado itu dan berdiri, menyapukan pandangannya sekali lagi kesemua arah, sebelum akhirnya Ia membawa tubuh mungilnya kembali kedalam bersama kado ulang tahun pertamanya.
Kado ulang tahun yang... Oh oke, Kyungsoo akan menganggap itu dari penggemar rahasianya.
Bereskan?
.
Kyungsoo baru saja selesai menaruh bunga misterius itu dalam sebuah vas bunga, menaruhnya di meja dekat pintu masuk. Ia memperhatikan bunga itu sekali lagi sebelum akhirnya berjalan kearah dapur. Tujuh menit lagi pukul dua, dan Kyungsoo harus memanaskan masakannya dulu.
Disela kegiatannya, bel rumahnya kembali berbunyi untuk kedua kalinya hari ini. Kali ini Kyungsoo yakin kalau itu pasti Luhan-Sehun, atau tidak Jongin.
Kyungsoo berjalan kearah pintu dengan celemek dan sendok sayur ditangannya, melihat kamera yang terpasang di dekat pintu dan kali ini Kyungsoo dapat melihat seseorang disana. Itu Jongin.
Ia tersenyum dan membukakan pintu. Dan ketika pintu itu terbuka, Kyungsoo melihat Jongin yang berdiri tegap dengan sesuatu dibalik tangannya. Tersenyum manis apalagi dengan kemeja putih dan celana jeans hitam yang dipakainya, membuatnya terlihat tampan. Kyungsoo tersipu melihat betapa tampannya Jongin, apalagi baju mereka sewarna bagai seragam.
"Hai nona Do."
Kyungsoo tersenyum malu-malu, tapi Ia mendengus pelan untuk menutupinya. "Jangan bercanda tuan Kim." Kyungsoo mengacungkan sendok sayurnya dengan bercanda, "Masuklah."
Jongin melebarkannya senyumnya. "Tidak asyik kalau begitu. Biarkan aku mengucapkan selamat ulangtahun untukmu dulu. Itu rencanaku." Jongin mempertahankan tangannya dibelakang, dan Kyungsoo sangat tahu kalau itu hadiah untuknya.
Jantungnya berdebar menebak-nebak apa yang akan Jongin berikan padanya.
Ia tersenyum dan mengangguk, "Baiklah. Lakukanlah..." Jongin nyengir dan berdehem sok penting. "Kau hanya punya waktu lima detik."
Jongin menyurengkan wajahnya seketika, "Satu." Kyungsoo mulai menghitung.
"Oke, baiklah..."
"Dua,"
"Kyungsoo, jangan begitu. Kau membuatku blank!" Itu Jongin mengatakannya dengan jujur.
"Tiiigaaa..."
Jongin menampakkan wajahnya yang frustasi, membuat Kyungsoo tersenyum geli disaat perutnya seperti digelitik puluhan kupu-kupu.
"Baiklah Do Kyungsoo... Selamat ulang tahun..."
"Empaaat..."
"Aku hanya berharap kalau kau selalu..." Jongin menarik nafas saat bibirnya akan mengucapkan kata, "...bahagia." Ujar Jongin setengah berbisik. Entahlah, Jongin merasa baru saja mendustakan harapan yang sebenarnya memang dia Inginkan.
Kyungsoo tersenyum haru, matanya sedikit berkaca-kaca tapi tidak mengeluarkan air mata. Dengan berani Ia mendekati Jongin, berjinjit dan meraih pipi itu untuk bibirnya.
Mengecupnya lembut, membuat Jongin terpana dan membeku ditempatnya, menjatuhkan kotak kado yang disembunyikannya sejak tadi ke lantai. Namja itu merasa panas-dingin seketika. Oh Ya Tuhan...
Keduanya merasa meledak karena kupu-kupu yang menghuni perut mereka kini terasa berterbangan dengan tempo membabi buta(?) -_-
Hanya lima detik. Dan itu berefek besar pada keduanya yang kini sudah semerah kepiting rebus. Kyungsoo membuang pandangannya kesamping, menghindari tatapan Jongin yang masih mengo tak percaya.
Memperhatikan penampilannya yang saat ini berkali lipat terlihat lebih sangat cantik.
Jarak tiga langkah yang memisahkan mereka terhapus begitu saja saat Jongin mendekati Kyungsoo dan meraup bibir cherry itu tanpa aba-aba, membuat si pemilik memasang mata donatnya dan mengerjap-ngerjapkannya tak percaya.
Tapi kesadaran Kyungsoo terjawab saat Jongin dengan perlahan melingkarkan tangannya kepinggangnya, menuntun tubuhnya berjalan mundur untuk masuk kedalam, tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Tautan dimana ada sedikit lumatan yang Jongin serangkan pada bibirnya.
Kyungsoo mulai memejamkan matanya, mempercayai langkah ekstrim asal Jongin yang membawanya. Kyungsoo mulai memberanikan diri untuk membalas lumatan Jongin, Ia mengemut bibir bawah Jongin dengan gerakan amatir.
Meski ini bukan ciuman pertamanya, percayalah kalau ini baru ciuman keduanya. Dan ini sangatlah berbeda karena ini terasa sangat... panas?
Kyungsoo melenguh pelan saat merasakan tubuhnya di putar balik oleh Jongin lalu Ia merasakan punggungnya yang menubruk dinding, bersamaan dengan bibir atasnya yang disedot gemas oleh Jongin.
"Eungh..."
Jongin melepas pangutan bibir mereka, menjauhkan wajahnya hanya tiga senti, menatap dalam sepasang iris bulat berbinar yang menatapnya sayu dengan nafas terengah-engah.
Tangan yang ditaruh dipinggang ramping itu merayap kebelakang, meraih tali celemek berwarna soft pink itu dan melepaskannya, membiarkannya luruh dilantai. Lagi, tangan Jongin beralih terulur ke tangan Kyungsoo, mengambil sendok sayur itu dan menaruhnya di meja dekat pintu yang tepat berada disamping mereka. Ia lalu menggenggam tangan kanan Kyungsoo lembut, membiarkan tangan kirinya bertengger dipunggung gadis itu.
Kyungsoo menahan nafas saat Jongin menempelkan kembali bibirnya dan memberikan satu jilatan panas disana. Sekejap, hanya sesaat.
Tapi itu malah membuat Kyungsoo... kecewa? Eh?
Jongin tersenyum kalem, Ia merapikan poni Kyungsoo yang sedikit berantakan akibat adegan panas barusan. Bisa dipastikan darah Kyungsoo mengalir dan terkumpul semua dikepala mungil itu, terbukti dengan betapa merah padamnya wajah cantik itu.
"Kau cantik." Jongin berbisik dengan nada rendahnya yang entah kenapa jadi terdengar seksi bagi Kyungsoo. Jantung keduanya sedang marathon, darah mereka berdesir menyenangkan merasakan sensasi ini.
Jongin merendahkan pandangannya, dan memajukan wajahnya ke ceruk leher harum Kyungsoo. Mengendus wangi yang menguar memabukkan dari sana, sebelum memberikan kecupan basah yang dilanjutkan dengan hisapan intim yang menyesatkan Kyungsoo. Gadis itu memejamkan matanya frustasi, ia bahkan melampiaskan sensasi baru itu dengan menggigiti bibir bawahnya seksi.
Srek!
"Kyung?"
Jongin maupun Kyungsoo tersentak saat mendengar suara yang mereka kenali sebagai suara Luhan. Refleks Jongin menjauhkan tubuhnya yang sudah rapat bagaikan roti sandwicth dengan Kyungsoo.
Kyungsoo buru-buru mengelap saliva yang tertempel dilehernya, meski begitu Kyungsoo tidak dapat menghapus tiga bercak kemerahan yang sudah tercetak disana. Sementara Jongin terdiam dan menyeka sudut bibirnya, menetralkan rasa panas yang mendera tubuhnya.
Luhan yang tadi menyahutinya dari luar segera masuk dan sedikit terkejut melihat Jongin maupun Kyungsoo yang terdiam saling berhadapan di pojokkan samping kanan pintu.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Luhan bingung, Jongin menggaruk tengkuknya gugup, sedangkan Kyungsoo dengan sok sibuk Ia meraih celemeknya dari lantai lalu memakainya dileher, menyadari bercak yang tercetak indah dilehernya dan segera menutupi itu.
Luhan lalu mengangkat kotak kado yang baru ditemukannya didepan pintu, "Kenapa pintunya terbuka? Dan... ini milik siapa?"
"Itu milikku!" Jongin segera mengambilnya dari tangan Luhan. Jongin maupun Kyungsoo sama-sama menghela nafas lega karena Luhan tak lagi mempertanyakaan apa yang mereka lakukan.
"Ehm, dimana Sehun?" Kyungsoo bersuara dengan parau, Ia juga sedikit kaget dengan perubahan suaranya. Apakah ini efek dari ciumannya bersama Jongin? Masa sih?
"Aku disini." Dan si albino itu benar-benar ada di ambang pintu, berjalan santai masuk menghampiri ketiganya.
"Ponselnya tertinggal, dia habis mengambilnya dulu." Jelas Luhan yang di amini oleh Sehun.
Sehun dengan seksama memperhatikan Jongin, Ia merasa pernah melihat Jongin sebelumnya. Meski Jongin dan Sehun satu jurusan dan berada ditingkat yang sama, keduanya benar-benar sama sekali tidak mengenal dan tahu menahu masing-masing. Mendengar nama Jongin pun Sehun baru dengar 5 hari yang lalu, dan Ia baru sempat bertemu orang yang sudah menghilangkan sepupunya selama tiga hari penuh itu kali ini.
Entah hanya perasaannya saja atau memang Sehun merasa kalau wajah Jongin itu pernah ia lihat lebih dari satu atau dua kali? Kalau ya, tapi dimana?
Jongin yang sedikit risih ditatap seperti itupun memaksakan senyumanya dan mengulurkan tangannya pada Sehun, "Hai. Aku Kim Jongin."
Sehun menerima jabatan itu, "Aku Oh Sehun." Namja itu tersenyum tipis, para gadis hanya memperhatikan mereka dengan kalem, "Sepertinya aku pernah melihatmu." Tambahnya lagi.
"Kitakan satu jurusan." Jongin tersenyum, Sehun masih saja memberikan tatapan penasaran.
"Tidak di kampus, aku seperti pernah melihatmu di tempat lain." Sehun berpikir keras. Luhan maupun Kyungsoo ikut-ikutan bingung bersama Jongin.
Namja tan itu tersenyum, "Aku selalu duduk di meja tujuh, tiga meja dari meja kantin yang selalu kau pakai saat makan siang."
Jongin sih kenal dengan Sehun, kenal dalam artian hanya sebatas tahu. Bodoh kalau dia tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya lebih dari orang lain di meja tiga. Dan itu Kyungsoo. Ia pun mencari tahu ketiga orang yang sering duduk disana, jadi begitulah Jongin mengetahui kalau Kyungsoo menyukainya. Tapi jujur saja, dia tidak merasa tertarik pada Kyungsoo sama sekali, hanya penasaran pada gadis yang selalu mencuri pandang kearahnya saat makan siang.
Tapi sekarang?
Entahlah. Jongin juga bingung dengan perasaannya saat ini. Setelah mengenal lebih dalam bagaimana kepribadian gadis mungil itu, rasanya menjadi benar-benar berbeda. Ah, tapi mungkin saja terasa berbeda karena tujuanku pada Kyungsoo kan? Iya, kan? Jongin selalu berpikir seperti itu.
Kyungsoo memandangi Jongin dengan malu-malu, saat namja itu membalas tatapannya, Kyungsoo buru-buru menunduk. Jongin tersenyum merasa gemas dengan tingkah Kyungsoo. Luhan pun bersuara, "Sudahlah... Nanti lagi mengobrolnya kita lanjutkan di dalam. Aku lapar, dan... hey, apa ini wangi kare?"
Kyungsoo yang mendengar itupun terkejut, Ia langsung berlari mendahului semuanya kearah dapur. "Ah, masakanku!" Lalu disusul Luhan yang ikut berlari dibelakang Kyungsoo.
Jongin dan Sehun hanya menghela nafas melihat tingkah para gadis itu, mereka saling menoleh dan berpandangan. Lalu tersenyum.
"Ayo kita masuk, dude."
Jongin mengangguk dan menutup pintu, melirik sesaat pada seonggok bunga yang ada di meja dekat pintu, Ia lalu mengikuti Sehun yang berjalan ke ruang tv.
.
.
.
Makanan sudah terhidang di atas meja makan. Meja makan itu kini terus mengepulkan asap-asap menggugah selera yang menguarkan Wangi sedap.
Sehun yang memang suka makan makanan buatan noona yang lahir dua bulan lebih dulu darinya itu langsung berbinar, melihat kare dengan kuah kecoklatan bertabur potongan daging sapi dan kentang, udang goreng berlapis tepung, dan juga sepiring kimchi yang dibawakan oleh Luhan.
Keempatnya sudah terduduk di meja makan, Sehun bersampingan dengan Jongin, dan Kyungsoo berada disamping Luhan, berhadapan dengan Jongin. Yeoja itu sekarang memakai syal berwarna coklat untuk menutupi sesuatu dibalik sana.
Mereka menikmati makanan itu dengan bersenda gurau, meja makan terasa ramai, ramai dalam artian Sehun dan Luhan yang terus cekcok bahkan saat makan, dengan Kyungsoo yang sibuk menengahi mereka yang seperti anak TK.
Jongin tersenyum melihat tingkah ketiganya. Betapa lucunya pasangan HunHan yang bahkan terus berkata sengit namun semua orang dapat melihat makna bahwa mereka sebenarnya memang saling menyayangi dengan cara mereka sendiri. Lucu melihat Kyungsoo yang tampak frustasi menegahi pasangan ini.
Senyumanya sedikit memudar, berganti dengan senyuman miris diwajahnya. Mengingat mungkin saja sebentar lagi senyuman gadis dengan binar mata indah itu akan terenggut dari wajah chubby-nya. Ia akan mengecewakannya, tak akan lama lagi.
Kenapa memikirkan ini terasa menyakitkan?
Sebenarnya perasaanmu pada Kyungsoo itu apa, Kim Jongin? Kenapa ini menjadi sangat sulit?
"Mungkinkah aku menyukaimu?" Jongin berbisik sangat pelan, tak akan ada yang bisa mendengar itu kecuali telinganya sendiri, pandangannya tak lepas dari Kyungsoo.
Hatinya nyeri saat mengakui, ya, dia mulai menyukai gadis itu.
Dibuktikan dengan jantungnya yang tak karuan akhir-akhir ini saat ia berdekatan dengan yeoja itu, dan Kyungsoo yang selalu berkeliaran dalam pikirannya setiap saat, menghampiri pikirannya setiap Ia akan terlelap.
Ia merasa iri, setidaknya Luhan dan Sehun, mereka bertengkar tapi mereka saling mencintai pada dasarnya.
Tapi dia?
Berpura-pura bersikap manis, padahal tujuannya untuk mengambil keuntungan dan menyakiti gadisnya, kepura-puraan yang akhirnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Menjebak dirinya dalam perasaan yang seharusnya ia hindari.
"Oppa?"
Jongin tersadar saat suara yang akhir-akhir ini sering didengarnya memanggil, Ia melihat Kyungsoo yang menatapnya heran. Sehun dan Luhan juga ikut menoleh kearahnya.
Ia tersenyum hambar, "Ne?"
"Wae? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Kyungsoo lagi. Jongin langsung mengibaskan tangannya menyangkal.
"Tidak! Tentu saja ini sangat enak!" Kyungsoo tersenyum lega mendengarnya.
Tentu saja ini enak. Hampir setiap hari yang Jongin makan adalah sesuatu yang dia beli. Bukan masakan rumah, apalagi yang di khususkan padanya seperti ini. Sudah lama sekali semenjak Ia makan makanan rumah, terakhir adalah saat Ia pulang ke Pohang lima bulan yang lalu.
"Kalau sampai dia mengatakan tidak enak, aku siap menggilasnya untukmu noona!" Itu Sehun yang bersuara. Luhan langsung menginjak kakinya dibawah meja makan. Membuat Sehun langsung memekik dan nyaris tersedak.
"Aku hanya bercanda Lulu!"
"Berhentilah bercanda dan makanlah!" Seru Luhan galak. Sehun cemberut tapi menurut, sedangkan Kyungsoo terkekeh dan Jongin tak bisa menahan tawa kecilnya.
Dan mereka menghabiskan makanan mereka dengan tenang, tenang dalam artian Sehun dan Luhan yang masih saja bertengkar kecil. Tapi hanya sedikit ya.
.
.
.
(Satu tahun yang lalu...)
Chanyeol memandangi seorang pria berkulit tan yang kini terduduk di hadapan sebuah kamar rawat Rumah sakit. Ia berdiri dari kejauhan dan memperhatikan gerak-gerik pemuda itu yang tampak putus asa. Ya, Chanyeol memang sengaja mengikuti Jongin sejak mereka pulang dari kampus.
Barusan Chanyeol dapat mendengar dokter yang mengatakan bahwa Nyonya Kim harus segera di operasi, dan dia terdiam untuk mencerna sebuah rencana yang menghampiri otaknya.
Tak lama kemudian, sebuah senyuman terbentuk dibibirnya.
.
"Kau butuh uang?"
Jongin mendongkak saat sebuah suara seperti berbicara padanya. Ia melihat seseorang bertubuh tinggi tengah memandangnya sambil tersenyum.
"Aku bisa meminjamkannya untukmu." Jongin menatap namja itu dengan heran. "Aku Park Chanyeol, Aku seangkatan denganmu di universitas."
"Kenapa kau baik padaku?"
"Aku hanya ingin menawarkan bantuan. Bukankah kau butuh uang?" Chanyeol memudarkan senyumannya, ia menatap tajam Jongin. "Aku memberikannya bukan tanpa alasan."
Jongin terdiam memikirkan perkataan Chanyeol. Ia memejamkan matanya sesaat lalu membukanya kembali. Membuang nafasnya kasar lalu kembali memandang Chanyeol. "Baiklah, aku akan mengembalikannya secepat mungkin."
.
Kim Jongin adalah seseorang yang pendiam, penyendiri dan tak mempunyai teman. Di semester petamanya berkuliah, keluarganya bangkrut karena terlibat kasus penggelapan pajak tepat ketika Nyonya Kim sakit parah akibat Kanker paru-paru yang di deritanya.
Adiknya yang masih duduk di kelas tiga SMP, dan ayahnya yang ditahan akhirnya meninggal karena komplikasi jantungnya di penjara. Saat itu, Ingin rasanya Jongin mati saja. Ia tidak memiliki apapun dan siapapun untuk bersandar.
Andai saja dia tidak memiliki Baekhyun, mungkin Jongin sudah memilih bunuh diri saja. Tapi tidak, dia tidak boleh seperti itu, setidaknya dia harus hidup untuk adiknya, hidup untuk menjadi sandaran adiknya.
Beruntung mendiang ayah Jongin adalah salah satu donatur terbesar di Sungkyunkwan, dia mendapat beasiswa secara penuh sampai Ia lulus. Sedangkan Baekhyun, yeoja itu pindah dan tinggal di Pohang bersama bibi mereka, beruntung mereka memiliki bibi yang baik, bahkan bibi Jung Ah bersedia menyekolahkan Baekhyun. Meski kebutuhan Baekhyun tetap di tanggung oleh Jongin yang bekerja di sebuah restoran atas rekomendasi dari Kris-hyung, seorang namja yang dulu pernah bekerja menjadi guru pribadi bahasa inggrisnya bersama Baekhyun, satu-satunya orang yang paling dekat dengan Jongin. Namja jangkung itu hanya merasa bahwa Ia sudah menyayangi Jongin seperti adiknya sendiri. Apalagi keluarga Kim telah banyak membantunya dalam masalah biaya saat Ia menyelesaikan kuliahnya. Contohnya dengan memberikannya pekerjaan sebagai guru privat Bahasa Inggris Baekhyun dan Jongin.
Kris Wu bahkan memberikan Jongin tempat untuk tinggal bersamanya. Meski begitu, Kris hanya bekerja sebagai kepala restoran, sebelum keluarga Kim Bangkrut, dia masih belum bisa membantu apa-apa, bahkan bisa dibilang dia masih bergantung pada pekerjaannya sebagai guru privat keluarga Kim.
Bahkan ketika Nyonya Kim sakit. Kris hanya bisa membantu biayanya sedikit-sedikit. Hingga akhirnya Jongin berkata bahwa Chanyeol, teman kuliahnya bersedia meminjamkan uang untuk operasi nyonya Kim.
Kris saat itu menyadari, ada yang tidak beres dengan hadirnya Chanyeol yang tiba-tiba datang memberi bantuan. Dan benar saja, terbukti dengan sekarang Jongin yang sudah di gunakan bagai budak oleh Chanyeol. Sayangnya, Kris mengetahui perihal Chanyeol setelah nyonya Kim siap untuk operasi.
"Tidak apa-apa hyung. Dia hanya menyuruhku datang sesekali."
"Untuk memukulimu?"
Dan Jongin hanya menghela nafas memberi jawaban. Selalu begitu, pergi saat di panggil Chanyeol dan pulang dengan wajah babak belur.
Sekali lagi, Kris hanya bisa membantu Jongin membayar hutangnya sedikit-sedikit. Dan setelah hampir satu tahu berlalu. Operasi yang sia-sia dilakukan. Nyonya Kim meninggal di meja operasi. Tapi Jongin, Baekhyun, maupun Kris tidak menyesalinya, setidaknya mereka pernah berusaha untuk mempertahankan Nyonya Kim.
Bahkan, Kris. Dia mengetahui perihal rencana licik Chanyeol yang menyuruh Jongin untuk meniduri seorang gadis. Dia sungguh geram pada bajingan itu. Tapi apa yang bisa dia lakukan?
Semuanya kembali lagi pada Jongin.
"Apa kau akan melakukannya?"
"Jika tidak, sesuatu akan terjadi. Dia mengetahui Baekhyun, hyung."
Dan yang bisa Kris lakukan hanyalah menatap miris namja yang dua tahun lebih muda darinya itu.
.
.
.
Jongin dan Kyungsoo kini berjalan menyusuri trotoar di distrik apartemen Kyungsoo di sore hari yang mendung. Mereka berniat jalan-jalan setelah dua jam mereka menghabiskan waktu dengan Kyungsoo bergosip ria bersama Luhan, sedangkan kedua namja menyibukkan diri dengan bermain PlayStation. Jongin merasa senang hari itu. Semenjak keluarganya hancur, dia tidak memiliki teman sama sekali. Dia menjadi sulit bergaul. Dan hari ini Sehun menjadi yang pertama lagi bagi Jongin, dia merasa senang bisa mengenal namja berkulit kontras darinya itu.
Jongin memang sengaja tidak datang membawa motor 'pemberiannya' hari ini. Perlu kalian ketahui, Jongin nekat untuk menentang keinginan Chanyeol kali ini. Yaitu meniduri Kyungsoo hari ini. Dia hanya ingin menikmati harinya sekali lagi bersama yeoja itu. Sebelum Ia kembali menjauh dan pergi dari kehidupan Kyungsoo pada akhirnya. Biarkan jika dia mendapat pukulan lagi, Ia yakin kalau hal seperti ini tidak akan sampai mengancam adiknya. Toh, besok Ia akan mengembalikan motor itu pada Chanyeol. Jika dipikir, Kyungsoo bisa saja bertanya perihal Jongin yang tiba-tiba memiliki motor. Unrunglah Kyungsoo bukan orang yang rewel, meski Kyungsoo tahu Jongin orang miskin dan bekerja malam di restoran, yeoja itu benar-benar tak masalah.
Nona Do yang berada di samping Jongin terus saja tersenyum, mengingat hadiah yang diterimanya dari Jongin.
Sebuah boneka Pororo berukuran sedang.
Sedangkan dari Luhan adalah piyama cokelat dengan gambar pororo juga. Dan Sehun memberikannya sebuah wajan baru yang dibungkusnya dengan kertas kado pororo. Hahaha, intinya dia mendapat banyak pororo hari ini. Bahkan eommanya mengirimkan paket jauh-jauh dari Jepang hanya untuk memberikannya liontin bergambar pororo yang sekarang menggantung di lehernya.
"Kyung?"
Kyungsoo mendongkak, mendapati Jongin yang menatapnya berbeda. Mereka berhenti berjalan.
Jongin tersenyum, lagi-lagi Kyungsoo melihat itu sebagai senyuman yang berbeda. Ia hanya terdiam saat Jongin menarik bahunya mendekat, memajukan wajahnya dan mencium keningnya lembut.
Kyungsoo hanya diam, dia ikut memejamkan matanya. Merasakan sesuatu yang hangat mengalir menyentuh hatinya. Tapi entah kenapa, mengingat tatapan dan senyuman yang namja tan ini berikan padanya barusan membuat hati Kyungsoo sakit.
Ia merasa Jongin terlihat rapuh. Tapi... kenapa?
Tiba-tiba satu tetesan air jatuh menyentuh kening keduanya. Jongin menjauhkan wajahnya dan mendongkak, begitupula dengan Kyungsoo.
Itu Hujan. Dan hujan itu semakin deras. Kyungsoo segera menarik tangan Jongin untuk berlari kembali ke apartemennya. Meski begitu, mereka harus berlari melewati satu blok dulu sebelum akhirnya bisa sampai ke gedung apartemen Kyungsoo.
Hanya lima menit saja, tapi itu sudah menyebabkan tubuh mereka basah kuyup. Kyungsoo segera membuka pintu apartemennya dan masuk di ikuti dengan Jongin. Kyungsoo berhenti berjalan saat Jongin bersuara, "Kyung?"
Jongin lagi-lagi menatap bunga yang ada dalam vas dekat pintu masuk. Ia memandangi bunga dengan tiga pita berwarna biru mengikat mawar-mawar tersebut. Disalah satu pita tersebut Ia bisa melihat nama toko darimana bunga itu berasal. Dan Ia baru saja membaca kartu ucapan yang menggantung disana. Kartu ucapan yang berisi tulisan tangan yang sangat Jongin kenali.
Kyungsoo menghampiri Jongin dan ikut menatap bunga itu. "Apa kau yang membeli mawar ini?"
Kyungsoo menggeleng, "Aku menemukannya di luar, disana tertulis kalau itu untukku. Jadi aku membawanya masuk."
Pandangan Jongin seketika meredup. Tatapan sarat akan kebingungan, kemarahan, kekecewaan, juga keputus asaan. Dan Kyungsoo menyadari tatapan itu. Jongin menatap Kyungsoo dan langsung membuang pandangannya lalu berbalik membelakangi Kyungsoo, menghadap tepat pada mawar itu. Melihat dress atasan berwarna putih Kyungsoo memperlihatkan pakaian dalam Kyungsoo dengan jelas karena basah. Ia berdehem, "Pergilah dan ganti bajumu."
Kyungsoo tidak menyadari itu, Ia masih memikirkan tatapan Jongun yang baginya sangat menyakitkan. Yeoja itu sedikit berlari, menubrukkan tubuhnya ke punggung namja itu dan menangis. Entahlah, Kyungsoo hanya merasa akan terjadi sesuatu.
Jongin terkejut, tapi dia tetap diam. Meski sesuatu yang membuatnya blushing menempel erat padanya, Ia lebih memilih menarik lengan mungil itu untuk memeluk perutnya. Ia hanya diam, membiarkan Kyungsoo menangis dipunggungnya.
Jongin kembali manatap mawar itu tajam, 'Jadi kau menyukainya?'
.
.
.
TBC (mungkin)
.
Bacotan Author's : ini chapter dua sudah update. Mianhae lama. Banyak tugas sekolah soalnya T.T
Dan saya mau curhat dikit boleh ya... Buat semua readers yang sudah baca, suka, dan review ff saya itu makasih banget. Meski ffku ini masih banyak banget kekurangannya, makasih bangeeeet karena kalian udah mau respek sm epep ku. Saya bener-bener menghargai sekali semua respon kalian, baca review kalian, senyum liat komenan kalian, biarpun saya nggak balas review kalian satu satu :')
Tapi maaf banget buat orang-orang yang merasa pusing, bingung, jijik, dan risih dengan segala kegajean ff saya. Mianhae, maafkan saya. Sekali lagi, ff saya itu penuh kekurangan, jauh dari kata sempurna. Saya itu masih author pemula, sering banget melupakan beberapa fakta yang seharusnya terjadi dalam cerita. Buat author² senior yang sudah bantu saya, terimakasih, juga buat teman-teman yang selalu ngingetin saya kalau salah.
Dan ya iya, author dari ff Handycam yang saya maksud adalah author senior sanpacchi ! Terimakasih buat mamamiaoZumi yang sudah mengingatkan^^
Tapi saya baru baca ff itu dua chapter dan itu udah lama sekali. Mau baca lagi tapi nggak berani. Hehehe. Soalnya waktu itu aku masih kelas satu SMP. Kkkk.
Oya judulnya aku ubah loh^^ Nah, dan untuk kelanjutan ff ini juga saya bakal pertimbangkan lagi deh. Takutnya ada beberapa pihak yang nggak suka. Dan sekali lagi saya mau bilang, FF INI BUKAN HASIL NIRU YA! ASLI OTAK SAYA YANG MIKIR T^T
Ini bakal beda banget pasti. Soalnya sayakan belum baca ff itu akhirnya gimana. Bukannya awalnya juga beda ya? Ya udah deh. Misalkan saya harus dicontinue juga gak masalah. Di delete pun oke. Tapi saya cuma pengen nekankan, ff ini terinspirasi dari ff Handycam author sanpacchi.
Kalau saya niru, saya nggak akan nyebutin itu dari awalkan.
Yaudah deh, kita bakal ketemu lagi agak lama mungkin ya^^ soalnya saya udah ketemu TO minggu ini. Mohon do'anya ya...
Special thank's to : soosoo, Tatiana12, chanbaek24, shinlophloph, rossadilla17, Lick, SooSweet, dobidiot, Kutubuku, ichanyeolie, soora, kaihunhan, BabyBuby, Thousand Spring, Keybin, setyoningt, marcul, KaiSoo Fujoshi SNH, zoldyk, younlaycious88, love dio do kyungsoo kyung, hehedotcom, Lala Kkamjong, kaisooship, , Dela, 12, ryyyii, Guest, dhee, Cassiopeia1215, donutkim, medetmelek, mamamiaoZumi, nnukeybum, wlywyf ^^ love yaaaa
Paipaii..
Follow twitterku adeeeett .
Yehet,
140126.
XOXO.
