Disc. Choi Jadoo, and all of main characters in this story, is Lee Bin's owned.
All of them, except this story and some characters you don't know, it's purely mine. Sekian, terima undangan nikah Lee Yunseok dan Choi Jadoo'3'
.
.
Hello Jadoo!
KekepUC © present
.
.
Cast :all of main Hello Jadoo. If u guys found some characters that u don't know, it's out characters—singkatnya, buatan saya.
.
Pair(s) :
-;Yoonseok-Jadoo
-;Seonghun-Minji
and more pairs that you'll not predict.
.
Warning(s) :
OOC –hard/ typo(s)/ alur sesat/ humor –garing/ drama –hard/ OC –everywhere/ Indonesian language!/ non-baku sentences/ and more.
.
p. s. I hope you will enjoy the debut of my first 'Hello Jadoo' story.
.
Focus on this chapter: Choi Jadoo, Kim Minji, Lee Yoonseok, Kim Seondeol, Jang Seonghun.
.
.
Enjoy!
Choi Jadoo's POV
"Aigoo~ Appa benar-benar tidak menyangka bahwa malaikat-malaikat kecil Appa ternyata sudah benar-benar besar," Appa mengusap-usap air mata haru yang terus mengalir dari kelopak matanya. Aku dan adik-adikku hanya tersenyum sweatdrop sambil sesekali mengunyah sarapan kami.
"Yeobo! Berhenti menganggu anak-anakmu dan bergegaslah! Kau tidak ingin hari pertamamu menjadi sekertaris utama kacau karena keterlambatanmu bukan?" tegur Eomma yang baru saja keluar dari bilik dapur dengan membawa sepiring daging asap.
Dapat kurasakan mataku sedikit berbinar, "Whoaa! Eomma! Apa daging asap ini untuk kami?" Eomma hanya mengangguk pelan sebelum ikut duduk di kursi dan mengambil semangkuk nasi. Aku mengusap mataku dengan haru, "Gomawo~ Jah! Daging~ Eomma datang nee~" sumpit yang sedari tadi kukenakan pun segera kuarahkan kepada daging yang entah mengapa benar-benar terlihat menggoda itu, dan segera melahapnya.
Ngomong-ngomong, kalau kalian bertanya, tentang rumahku, seminggu saat aku pulang dari sekolah keputrianku, kami mendapat berita mengejutkan dari Appa yang ternyata lulus dari masa promosinya, dan naik jabatan menjadi sekertaris utama. Aku tidak tau pasti bagaimana jabatan itu bisa ada di tangan Appaku, namun, setelah mendengar berita itu, Eomma segera menyarankan agar kami pindah rumah. Wae? Alasannya adalah—
"Kau itu sekarang adalah sekertaris utama! Masa kau harus datang terlambat setiap harinya dengan alasan rumahmu jauh?!"
—kira-kira begitulah yang Eomma katakan saat itu pada Appa. Makanya, sekarang kami pindah ke rumah yang terletak tidak begitu jauh dari kantor Appa, dan pusat perbelanjaan. Tapi, tetap saja, rumah ini malah membuatku dan kedua adikku harus bangun pagi-pagi, mengingat letak sekolah kami sangat berbanding jauh jaraknya sehingga membuat kami pun harus menaiki bis.
"Aigoo~ Eonnie-ya! Pelan-pelan dong! Apa keluar dari sekolah keputrian membuat jiwa berantakanmu kembali?" sindir Mimi seraya memakan daging asapnya pelan-pelan.
Aku hanya memutar mataku sebelum mengambil sebuah daging dan menyuapkannya secara paksa pada Mimi, "Jangan banyak omong dan makanlah Mimi-ya, kau ini benar-benar berisik sekali," decakku kesal yang hanya dibalas delikan tajam oleh adik perempuanku itu.
Eomma hanya memutar mata sebelum beralih menatap adik laki-laki bungsuku yang sedang mengunyah makanan dan sedikit melirik-lirik pada ponsel pintarnya, "Aegi-yaa, berhentilah bermain dengan ponselmu dan cepat habiskan makananmu, kau tidak ingin terlambat ke sekolah di hari pertamamu kan?" tegur Eomma dengan lembut.
Choi Seunggi, alias adik laki-lakiku itu pun hanya mengangguk patuh seraya bergumam pelan, "Eomma, umurku sudah duabelas tahun, bisakah kau berhenti memanggilku Aegi?" ucapnya sedikit merengek. Eomma hanya terkekeh pelan sebelum kembali melahap dagingnya.
"Aah~ aku sangat kenyang," ucapku sembari memegang perutku. Kalau boleh jujur sebenarnya, aku sangat ingin sekali bersendawa, tapi segera kuurungkan karena aku sangat mengingat nasehat guru-guru tentang tatakrama saat di sekolah menengah pertama khusus perempuan, tempat aku dan sahabatku, Minji bersekolah dulu.
"Jadoo-ya~ kita adalah perempuan, jadi bersikaplah seperti layaknya seorang perempuan yang tangguh yang sebenarnya, tapi tetap menjunjung tinggi keanggunan dan kesantunan,"
Kira-kira itulah yang ia katakan dulu, yang entah mengapa terasa sangat lengket di kepalaku, hingga aku pun bisa mengingat semua nasehat-nasehat membosankannya itu.
"Jadoo-noona! Ppalli-wa! Kita benar-benar akan terlambat!" aku pun segera tersadar dari lamunanku saat Seunggi, adik kecilku menepuk bahuku pelan. Aku pun segera melahap sisa sarapanku dan meneguk minumku dengan secepat kilat. "Bagaimana dengan susumu?" Seunggi kembali bertanya padaku.
Aku hanya mengibaskan tanganku dan merangkul adikku untuk menjauhi meja makan, "Kau tau jawabannya Seunggi, perutku akan terasa sakit jika aku meminum susu di pagi hari," ujarku segera mengenakan sepatuku. *Hello Jadoo S2 Ep. 47.
Seunggi yang juga sedang memasang sepatunya hanya ber-oh ria sebelum memanggil Mimi yang ternyata masih sibuk berkemas untuk kembali ke asrama di sekolah menengah yang dulu kutempati.
"Eonnie-yaa! Apa kau melihat dimana sweater pinkku?" tanyanya sembari menggeret koper pinknya dan menenteng ranselnya, berjalan keluar menuju teras, tempat kami sedang memasang sepatu. Aku hanya angkat bahu sambil kembali memeriksa semua barang bawaanku. Dan saat aku kembali melihatnya, entah mengapa dia malah ngambek.
Aku menghela nafas melihat kelakuan adik perempuanku yang sangat berlebihan itu, "Aku benar-benar jujur Mimi! Aku tidak tau! Mungkin kau meninggalkannya di sofa? Kau kan tadi sempat menonton televisi saat aku masih di kamar mandi!" ucapku sembari menatap adik perempuanku yang dulunya saat sekolah dasar selalu saja setia menjadi korban bully ku itu.
Mimi hanya mengangkat sebelah alisnya dan kembali masuk, berjalan cepat menuju ruang keluarga dan, "EONNIE-YAAA! MAJJAYO! SWEATERKU KEMBALI HOREE!"
Aku dan Seunggi kembali menghela nafas sebelum memanggil Mimi, dan menyuruhnya agar cepat. "Eomma! Kami berangkaat!" pamit kami yang segera membuat Eomma keluar dari dapur dan memanggil kami lagi, yang lagi-lagi harus membuatku memutar mata, "Wae-yo Eomma? Ini sudah jam enam kurang, dan hari ini aku ada masa orientasi!" ucapku yang ditimpali anggukan oleh Seunggi.
Eomma hanya memutar matanya sebelum menunjukkan dompetnya, yang segera membuatku dan kedua adikku membungkuk patuh pada ratu yang ada di keluarga kecil kami ini.
"Cukup Jadoo! Cobalah untuk berhemat dan diet oke? Berat badanmu naik tujuh kilo kan? Cobalah untuk diet seperti Mimi!" ucap Eomma yang dengan cepat kubalas dengan anggukan, "Jangan hanya mengangguk! Aku tau yang kau pikirkan sekarang adalah cemilan, es krim, sosis, dan—
"Whoa-whoa Eomma! Baiklah aku mengerti! Aku akan diet mulai dari sekarang! Yaksokhae!" ucapku sembari mengangkat tangan kananku, berjanji pada Eomma. Eomma hanya mengangguk-ngangguk sebelum beralih memberi petuah-petuah singkat pada kedua adikku.
"Kalian mengerti kan?"
"Ndeeee~ Gomawo Eomma~ kami berangkat~" pamit kami segera berjalan keluar rumah.
Aku dan Seunggi yang langsung berjalan menuju halte bus, dan Mimi yang diantar oleh Appa dengan taksi. Dari halte bis, kami berdua melihat Mimi dan Appa yang baru saja menaiki taksi. Mimi sempat melambaikan tangannya ke arah kami sebelum ia masuk, dan yang tentunya langsung dibalas lambaian tangan pula oleh kami.
Aah~ Mimi-yaa, kami akan merindukanmu, semoga nanti saat musim panas, kau bisa kembali ke rumah ndee, pikirku dan Seunggi yang baru saja menaiki bus, sembari memandang taksi yang dinaiki Appa dan Mimi yang berjalan menjauh.
-;o0o;-
"Cheogi! Jadoo-ya!"
Aku baru saja memasuki gerbang sekolah, dan langsung menoleh pada Kim Minji yang baru saja meneriakkan namaku dengan cukup keras. Aku melambai ke arahnya dan segera berjalan dan memeluknya erat.
"Huwaaa! Minji-yaa! Aku benar-benar tidak menyangka kalau sekarang kita benar-benar sudah SMA!" pekikku tidak percaya setelah memeluk Minji cukup erat.
Minji mengangguk keras, "Majjayo Jadoo-ya! Aku sangat berharap kalau kita bisa sekelas nantinya, kau tau kan aku agak sedikit susah dalam beradaptasi," ujarnya sedikit bersedih. Aku hanya tersenyum menanggapinya sebelum sedikit melirik jam yang ada di tangan Minji.
"Eung, Minji-ya, menurutmu apa nanti pembukaan dari Ketua Osisnya akan lama?" tanyaku.
Minji hanya mengangkat bahunya sebelum melihat sekitar, "Kau tau Jadoo? Dilihat dari jamku dan beberapa orang yang masih sibuk berkeliaran di sekitar, kupikir itu masih lama. Sebaiknya jangan terlalu kau pikirkan," ujarnya yang langsung disambut oleh anggukanku.
Minji tersenyum, "Ngomong-ngomong Jadoo-ya, menurutmu bagaimana sekolah ini nantinya?" tanyanya memulai topic baru.
Aku hanya mengangkat bahuku bingung, "Kalau yang kau maksud dengan aturannya, yah, mungkin kita harus kembali beradaptasi Minji-ya. Kau tau kan? Ini bukan lagi sekolah keputrian seperti kemarin, tapi sekolah umum, yang artinya tentu aturan dan isi dari setiap kelas tercampur antara laki-laki dan perempuan," ujarku panjang lebar, yang langsung dibalas anggukan Minji.
"Kau benar Jadoo," desahnya. Aku hanya mengangguk singkat, "Jadoo-ya, apa kau mau berkeliling? Aku bosan," keluh Minji sedikit menyibak helaian rambutnya yang sudah memanjang sebatas pundaknya. Aku mengangguk menyetujui ajakan Minji.
Sembari berjalan dan mengobrol banyak dengan Minji, aku memandang sekolah baruku dengan pandangan berbinar. Yah, kau bayangkan saja. Tiga lapangan luas di sekitar sekolah, yang membuktikan bahwa sekolah ini memang memiliki bakat di setiap bidang olahraga. Lalu, dari dekat lapangan sepak bola yang bisa dibilang sangat luas itu, kau bisa melihat sebuah bangunan besar berwarna merah pudar yang bisa kuyakini bahwa itu adalah gedung khusus lapangan indoor untuk bermain bola basket.
Aigoo, andai saja jika aku bisa melupakan nasehat guru tatakrama di SMP dulu, mungkin aku bisa kembali bermain sepak bola, pikirku sedikit sedih.
"—yah! Choi Jadoo! Apa kau tidak mendengarkanku?" Aku segera menoleh pada sahabat baikku yang tengah menampakkan wajah cemberutnya.
Aku menggaruk tengkukku dan meminta maaf, "Mianhae Minji-ya, aku hanya terlalu terpesona dengan sekolah kita. Aku hanya... benar-benar tidak percaya bahwa Aku bisa diterima di sekolah yang hebat ini," ucapku jujur.
Minji hanya tersenyum menanggapiku, "Kau benar Jadoo-ya. Kupikir kau tidak akan bisa masuk kesini karena—
—maksudmu karena mengingat aku bodoh hampir dalam semua mata pelajaran? Begitu maksudmu?" potongku yang langsung menusuk main-main pinggang Minji.
Minji hanya menggaruk tengkuknya dan sweatdrop, "A-aniya Jadoo-ya, aku hanya... juga tidak percaya kalau aku juga bisa bersekolah disini dan Eommamu menyetujui kau untuk bersekolah disini, itu saja," ujarnya seraya menggaruk tengkuknya —yang aku sangat yakin bahwa itu tidak terlalu gatal.
Aku hanya mengangkat bahuku tidak peduli dan kembali berbalik memandang lapangan. Aku baru saja ingin bertanya ini jam berapa pada Minji, namun seseorang berteriak keras ke arah kami, sehingga aku sedikit oleng dan—
DUAAK!
"JADOO-YAA!"
—aku terpental jatuh ke pinggir bangunan sekolah yang terbuat dari semen, dan semuanya tiba-tiba sedikit gelap.
Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi barusan. Tapi yang kutau kini adalah aku terbangun masih dalam posisi yang sama, dan ada seorang laki-laki tengah membungkuk kepada sahabatku yang masih saja setia mengomel padanya.
"Eung, Minji-yaa –aduh!" keluhku yang baru saja hendak bertanya, tapi bagian belakang kepalaku sedikit berdenyut.
"Omo! Jadoo-yaa!" Minji dan anak laki-laki itu segera manghampiriku, "Mianhae Jadoo-ya, aku terlalu sibuk mengomel dan sampai lupa kalau kau masih tergeletak disana," Minji berujar maaf dan segera menangis. Aku memandang sahabatku sweatdrop.
Aku hanya mengibaskan tanganku sebelum berdiri dengan bantuan dari laki-laki bertopi yang berada di depanku. Aku hanya menghela nafas, "Apa anak laki-laki jaman sekarang kalau bermain bola sering tidak lihat sekitar ya?" gumamku cukup keras sehingga laki-laki itu sedikit berjengit dan kembali membungkuk.
"Mianhae Jadoo-ya, aku benar-benar tidak melihat kalau ada kau disana," ucapnya meminta maaf yang langsung disambut oleh anggukan tidak peduliku.
Eh, tunggu sebentar!
Aku mengerutkan dahiku dan memandang aneh laki-laki di depanku, "Kau tau namaku darimana? Kan kita belum kenalan," ucapku sedikit menelengkan kepalaku.
Laki-laki itu hanya mengangkat sebelah alisnya sebelum menunjuk dirinya, "Yah! Kita sudah kenal lama! Apa kau benar-benar melupakanku? Kita sekelas dari sekolah dasar tau!" ucapnya yang sukses membuatku mengerutkan dahiku lebih dalam.
Minji yang ada di sampingku hanya terkekeh, "Jadoo mungkin mempunyai sedikit masalah dengan ingatannya karena kau menendang bola tadi, Doldol-ah!" ucap Minji yang langsung membuat laki-laki yang dipanggil Doldol itu memerah.
"Jeongmal? Ah, aku benar-benar meminta maaf Jadoo," ucapnya menyesal.
Aku? Jangan tanya apa yang terjadi dengan dahiku karena aku merengutkannya lebih dalam, mengingat-ngingat siapa Doldol itu. Hampir tiga menit, dan aku pun tersadar, "Yah! Kau... Apa kau Kim Seondeol? Doldol sahabat bulatku?" tanyaku pada laki-laki yang langsung mengangguk atas pertanyaanku. Aku membulatkan mataku sedikit tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Ya tentu saja kau tidak akan percaya. Doldol sahabatku itu memiliki tubuh yang bulat, baik dari atas kepalanya hingga ujung kakinya, semuanya memiliki bobot yang besar. Walaupun laki-laki ini mengenakan topi yang sama dengan Doldol sahabatku, tapi tentu saja aku tidak percaya dengannya. Wae? Karena laki-laki ini sedikit berbeda dengan Doldol –ani, bukan sedikit! Dia memang berbeda dengan Doldol.
"Kalau yang kau tanya soal kemana perginya berat badanku, selama liburan kemarin, aku, Yunseok, Ddalgi, dan Seonghun, mengadakan ritual di gunung, dan tidak boleh memakan apapun selain minum air putih," ujarnya sembari menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum malu.
Aku dan Minji membinarkan mata, "Kyaa~ Doldol-ah! Sering-seringlah seperti ini! Kau terlihat tampan aigoo~" puji kami yang langsung membuat Doldol tersipu malu.
"Ah kalian ini bisa saja!" ucapnya malu yang langsung membuat kami terkekeh pelan, "Ngomong-ngomong Jadoo-ya! Minji-ya! Aku tidak menyangka kita bisa masuk sekolah yang sama seperti ini! Kupikir kalian akan melanjutkan sekolah keputrian lagi..." ujar Doldol.
Sontak, Aku pun segera menggeleng, "Tidak mau," ucapku menggelengkan kepalaku dengan keras.
Minji mengangguk menyetujui ucapanku, "Ya, ternyata belajar menjadi perempuan itu susah! Walaupun banyak keterampilan perempuan yang sudah banyak kami kuasai, kupikir itu sudah lebih dari cukup ketimbang melanjutkan SMA di sekolah keputrian itu, dan berakhir menjadi Miss Korea, atau ibu rumah tangga," ucap Minji sembari membayangkan bagaimana nanti jika ia menjadi Miss Korea yang selalu bepergian kemana-mana atau ibu rumah tangga yang hanya mengurus rumahnya. Nanti cita-citanya menjadi pilot bagaimana?
"Cukup Eunhui saja yang sedari dulu memang bercita-cita menjadi Miss Korea, aku tidak mau," ucapku seraya melipat tanganku di dada. Minji mengangguk setuju.
Doldol hanya ber-oh ria sebelum menunjuk rambutku dan Minji, "Yah, benar juga sih, ngomong-ngomong lagi, apa sekolah keputrian berhasil membuat kalian mengubah gaya rambut kalian?" tanyanya yang langsung disambut gelengan serta kekehan olehku dan Minji.
"Ini keputusanku, kupikir akan lebih cantik kalau aku memanjangkan rambutku," ujar Minji yang langsung dihadiahi kedua jempol dari Doldol, "Itu cocok untukmu Minji!" pujinya, "Kalau kau Jadoo?" tanyanya padaku.
Aku menunjuk rambutku sebelum menghela nafas, "Ikat rambut marmer merah buah ceriku hilang satu. Jadinya aku membuat gaya ponytail seperti ini," ucapku kembali menghela nafas, "Lalu kalau kau bertanya soal poniku, secara tidak sengaja kemarin, aku lupa memotongnya, jadi ia menjadi panjang, dan beginilah hasilnya," jawabku menghela nafas sedih.
"Kenapa kau tampak sedih seperti itu Jadoo? Itu cocok denganmu kok! Kau tampak lebih fresh tau! Benar, kan Minji?" tanya Doldol meminta persetujuan dari Minji.
Minji mengangguk dan mengancungkan jempolnya untukku, sebelum tersadar sesuatu, "Ngomong-ngomong soal ritual kalian Doldol-ah, apa kalian tidak apa-apa? Kupikir itu sangat sulit bagimu, dan yang lain –apalagi sampai tidak boleh memakan apapun," tanya Minji dengan nada khawatir.
Doldol hanya mengibaskan tangannya tidak peduli, "Kami membuat perjanjian, kalau yang menang akan diberi apapun yang ia inginkan selama satu semester penuh dan itu semua gratis. Dan syukurnya, aku adalah orang yang bertahan, jadi mereka bertiga nanti akan mengabulkan seluruh permintaanku selama satu semester ini," ucap Doldol dengan bangga.
Kami berdua bertepuk tangan kagum dengan Doldol yang kembali tersipu malu, "Tapi, Doldol-ah, memangnya apa sih, keinginan yang membuatmu sampai bersikeras untuk tidak makan seperti ini?" tanyaku penasaran dengan keinginan Doldol.
Doldol sedikit berjengit sebelum mengibaskan tangannya, "K-kalau itu sih, sebenarnya aku tidak bisa memberitaumu Jadoo-ya! Tapi aku janji akan meneraktirmu makanan saat istirahat nanti, oke? Kau mau kan?" tawar Doldol padaku yang langsung membuat mataku sedikit berbinar.
"Jjinja-yo?" Doldol mengangguk semangat, dan langsung membuatku memeluk Doldol penuh haru, "Aaaa~ Doldol-ah, kau memang benar-benar boyfriend material typeku!" pekikku senang.
"Kau ini! Bisa saja Jadoo-ya," Doldol hanya tersipu malu saat aku melepaskan pelukan darinya. Aku dan Minji hanya tertawa.
"Yah! Kim Seondeol! Kenapa kau ini lama sekali sih?" kami menoleh pada pemuda berambut pirang keemasan sebahu yang mengenakan seragam sekolah dengan lengan bajunya yang terlipat sampai siku.
"Ah! Seonghun-ah! Sini-sini! Kau tidak akan percaya siapa yang kutemui!" ajak Doldol pada pemuda yang ia panggil Seonghun itu.
Pemuda kuning itu terlihat menghela nafasnya, dan berjalan pelan sembari sedikit mengomel pada Doldol, "Wae-yo? Kau tau, kami menunggumu tau! Sebentar lagi kita harus berkumpul di auditorium, dan kau malah enak-enakan bermain bola disini bersama teman-teman yang lain. Ini hari pertama sekolah tau, memangnya kau mau terlambat dan kena hukum dan—astaga! Apa kalian Kim Minji dan Choi Jadoo?" omelannya pun berakhir dengan pertanyaan yang tentu tengah diarahkan padaku dan Minji.
Aku melambai pada sahabat kuningku itu, "Lama tak berjumpa ya, Jang Seonghun, hehehe," sapaku padanya. Minji pun juga ikut melambai pada Seonghun, "Apa kabarmu Seonghun-ah?" tanyanya pada Seonghun.
Jang Seonghun tersenyum lebar kepadaku dan Minji, —tapi kalau menurutku sih, lebih pada Minji, "Seperti yang kalian lihat, aku baik, bagaimana dengan kalian?" ia balik bertanya padaku dan Minji, yang langsung dijawab oleh kami berdua. Seonghun hanya tertawa senang menanggapi kami, "Baguslah, whoa! Ngomong-ngomong Minji-ya! Kau terlihat cantik dengan rambut barumu!" pujinya pada Minji.
Minji tersipu dan menundukkan kepalanya, "Benarkah? Terimakasih Seonghun-ah," balasnya yang langsung dijawab kekehan oleh Seonghun.
Aku hanya memutar mata dan beralih mengobrol seru pada Doldol, tentang masa lalu, "Hahahaha! Astaga! Aku masih ingat saat kita dulu selalu saja bertengkar tentang hal-hal yang tidak penting!" gelak Doldol mengingat bagaimana kami berdua dulu selalu saja memperdebatkan hal-hal serius sampai hal konyol.
"Ah! Kau itu tidak mengerti rasanya jika kau menjadi aku tau!" balasku.
"Ani! Kau saja yang terlalu serius!"
"Terserah kau sajalah!" ucapku mengakhiri perdebatan kami. Tuh kan, kami masih saja membicarakan hal yang tidak penting, huh.
"Ah!" aku baru saja teringat dengan pembukaan Ketua Osis, tapi sekarang jam berapa? "Minji-yaa! Sekarang sudah jam—
"YAH KIM SEONDEOL! JANG SEONGHUN! AKU SUDAH MENCARI-CARI KALIAN DAN KENAPA KALIAN MASIH DISINI HAA —Aduh!"
—kenapa aku harus selalu terjatuh saat ingin bertanya jam pada Minji haah?
Kupikir dalam sekejap, aku akan mengalami rasa sakit di bagian kepalaku atau dimana, dan bayangan hitam akan kembali merasuki pandanganku. Aku baru saja hendak memaki dan mengeluh pada orang yang menabrakku tapi —kok tidak sakit ya? Pikirku heran.
"Yah! Apa kau baik-baik saja?" terdengar seseoran berseru dengan suara beratnya.
"Hah?" aku menggumam tidak mengerti. Aku segera membuka mataku, dan pandanganku langsung tertuju pada kedua bola mata cokelat yang kini tengah bersinar memancarkan kekhawatiran kepadaku.
Wah, ternyata aku ditahan cowok ganteng, pikirku senang. Laki-laki bermata cokelat itu pun segera melepaskanku setelah tau bahwa aku masih bisa berdiri, "Mianhae, aku tidak melihat kalau tadi ada kau di dekat sini," ucapnya segera membungkuk padaku.
Aku sedikit sweatdrop dengannya. Dia sopan sekali, gumamku sedikit tersipu dalam hati. Aku hanya terkekeh sebelum menepuk bahunya, "Tidak apa-apa, ini juga salahku karena seenaknya berdiri di jalanan," ucapku menampakkan senyumku. Dapat kulihat pipinya sedikit bersemu, entah itu karena malu atau memang cuaca di jam sekarang memang sangat panas.
"Yah! Choi Jadoo! Lee Yoonseok! Kalian tidak apa-apa?" seru Doldol segera berlari mendekat kepadaku. Aku hanya mengangguk dan mengancungkan jempolku, "Kami tidak apa-apa Doldol-ah!" ucapku yang langsung membuat ketiga temanku yang lain mengusap dada.
Seonghun berjalan ke arahku dan sedikit mencubit pinggang pemuda bermata cokelat yang tadi telah menabrak sekaligus membantuku, "Biasain kalau lagi heboh itu lihat juga sekitarmu bodoh! Kau tidak tau kalau kau hampir saja melukai Jadoo!" omelnya pada pemuda itu.
"Jadoo-ya! Kau tidak apa-apa?" tanya Minji menghampiriku. Aku hanya tersenyum masam, "Maafkan aku karena tadi aku terlalu sibuk membahas ini itu bersama Seonghun. Karenaku kau harus terjatuh dua kali hari ini," ucap Minji dengan mata yang sedikit berair menyesal.
Aku hanya terkekeh, "Aku tidak apa-apa Minji-yaa," ujarku mencoba menenangkannya.
"HUWAAA! JADOO-YA!" Minji segera memelukku, dan aku hanya mengangkat bahuku saat Doldol bertanya padaku 'Minji-kenapa-?'
"Kau Choi Jadoo?" Minji segera melepaskan pelukannya padaku, dan membiarkanku menatap heran pada pemuda bermata cokelat tampan ini.
Aku hanya mengangguk, "Kau tau aku?" tanyaku menelengkan kepalaku.
Seonghun segera menghampiriku dan mengguncangkan tubuhku dengan kencang, "Yah! Seonghun-ah! Kau ini kenapaaa?!" pekikku kaget.
Seonghun yang masih saja mengguncangkan tubuhku balas memekik, "Kau tidak mengalami amnesia atau gegar otak kan, Choi Jadoo?!" tanyanya. Aku hanya menggeleng sebelum melepaskan cengkraman Seonghun di bahuku. Kan bahuku yang di cengkram, kok malah kepalaku yang pusing sih? Batinku bingung. Aku hanya mengangguk ke arah laki-laki bermata cokelat tampan itu tadi, "Ya aku Choi Jadoo, kenapa?" aku balik bertanya padanya.
Lelaki itu hanya tersenyum lebar sebelum memelukku erat, "Aigoo~ Jadoo-ya! Kau tambah cantik daripada saat terakhir aku melihatmu di kelulusan sekolah dasar," puji lelaki bermata cokelat yang sukses membuatku salah tingkah itu.
Choi Jadoo? Salah tingkah karena seorang lelaki? Itu mukzizat tau! Dan apalagi kalau yang membuatnya salah tingkah itu adalah—
"Kalau kau lupa, aku Lee Yoonseok, calon pendamping hidupmu nanti! Kau tidak benar-benar lupa denganku, bukaan?" tanyanya segera melepaskan pelukannya padaku, dan tersenyum tampan.
—orang yang selalu ia anggap sebagai musuh bebuyutannya sedari ia sekolah dasar.
-;o0o;-
Kami baru saja keluar dari auditorium setelah mendapatkan pembukaan dan petuah dari Ketua Osis dan para guru serta kepala sekolah selama dua jam. Aku benar-benar tidak menyangka kalau pertemuan pertama ini akan seberat ini di hari pertama. Padahal kupikir, ini hanya akan memakan waktu lima belas menit atau bahkan setengah jam.
"Aigoo~ Jadoo-ya! Ketua Osisnya tampan yaa, petuahnya saja masih sangat menempel di kepalaku," ucap Minji masih saja tersipu dengan Ketua Osis itu.
Aku hanya memutar mataku, "Ya, kau benar Minji-ya, dan ketampanannya itu berhasil membuatku tertidur pulas selama dua jam pertemuan itu," ucapku sarkastik. Minji hanya tertawa menanggapinya.
"Ngomong-ngomong guys, menurut kalian bagaimana dengan masa orientasinya? Apa kita langsung diberikan kelas, atau kita harus melakukan sebuah perintah tidak penting dari para anggota Osis?" tanya Seonghun pada kami.
Aku, Doldol, dan Minji hanya angkat bahu menjawab pertanyaan Seonghun. "Seingatku tadi kata Ketua Osisnya, kita langsung diberi kelas. Dan perintah anggota Osisnya akan diberikan besok," jawab Yoonseok yang segera membuat Doldol mengangguk-ngangguk paham.
Minji mengankat alisnya, "Kalau begitu, kita harus cari papan pengumuman dulu, supaya kita bisa memastikan di kelas mana kita akan ditempati," usul Minji yang langsung disetujui oleh kami berempat.
Setelah memencar sepuluh menit mencari papan pengumuman, kami kembali berkumpul di tempat semula dan langsung didesaki oleh para siswa yang lainnya. "Siapa sangka kalau ternyata sedari tadi, papannya ada di dekat kita," ucap Doldol menunjuk papan pengumuman kelas di belakangnya yang tentu segera membuat kami menghela nafas sweatdrop.
Kami pun berjalan dan memasuki kerumunan orang-orang agar kami bisa melihat papan pengumuman itu. Setelah berhasil menempati barisan paling depan, kami pun segera mencari-cari nama kami di setiap kelas sepuluh.
"Ah! Aku ada di kelas dua!" seru Doldol menunjuk namanya yang berada di papan kelas 10-2.
"Namaku juga di kelas dua Doldol-ah!" seruku menunjuk namaku yang berada tepat di bawah nama Doldol. Kami berdua pun ber-tos ria.
"Andwee Jadoo-yaa!" pekik Minji kecewa. Aku mengangkat sebelah alisku dan bertanya pada Minji, "Namaku di kelas satu! Huwaaa!" Minji menunjuk namanya yang ada di papan kelas 10-1.
Lagi-lagi aku kembali sweatdrop dengan tingkah sahabat kecilku itu, "Itu kan bagus Minji-ya!" ucapku segera memeluk Minji.
Dalam pelukanku Minji hanya menggelengkan kepalanya, "Andwee-yoo Jadoo-yaa! Aku kan mau sekelas denganmu, huwaaa!" ucapnya sedih. Kami berdua pun kembali berpelukan dan saling bergumam bahwa ini tidak adil.
Seonghun menepuk bahu Minji dan menunjuk namanya yang ada di dua nomor setelah Minji, "Kita sekelas Minji-yaa, jadi kau tidak perlu khawatir kalau tidak ada Jadoo bersamamu," ucap Seonghun dengan lembut, sehingga berhasil membuat Minji mengusap air matanya dan melepaskan pelukanku.
"Seonghun-ah! Pastikan kau menjaga Minji dengan baik!" ucapku menunjuk Seonghun.
Seonghun mengangguk mantap dan mengancungkan jempolnya padaku, "Serahkan saja padaku Jadoo-ya," ucap Seonghun berjanji padaku.
"Yoonseok-ah! Kau di kelas mana?" tanya Doldol pada Yoonseok yang berada di sampingnya. Aku sedikit waswas, dan mulai menguping pembicaraan mereka yang entah mengapa malah membuatku menyesal sekaligus sedikit senang (?) saat mendengar jwabannya.
"Aku ada di kelas yang sama denganmu dan Jadoo,"
.
TBC
3634 words huh!
Aigoo~ our ship kembali guys! Yoonseok-Jadoo dan Seonghun-Minji.
Kenapa? Ada yang nggak senang sama Seonghun-Minjiku huh?
wkwkwk, balik lagi, yang baca harap memberi review nya yaah.
RnR Juseyoo *puppy eyes –no jutsu*
