Disguise on the still water

jasmineforme

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto.

/AU/Post 4th Shinobi World War/

"Sakura-chan, kurasa Sasuke bukanlah Uchiha yang terakhir."

Kalimat Naruto mendorong Sakura melakukan penyelidikan di balik misi utama untuk menemukannya. Seseorang yang dikatakan telah tewas sepuluh tahun silam. Seseorang yang tak pernah jatuh ke dalam 'Kutukan Kebencian'

"Sakura-chan, apakah seseorang pasti mati bila terjun ke sungai?

Warnings : alur lambat di chapter awal. OOC maybe.

2. A reason to come back home.

Seperti dugaan Sakura, Ichiraku Ramen merupakan tempat makan siang pilihan Naruto. Tidak pernah berubah. Namun, kedai ramen itu kini juga telah menyediakan berbagai macam menu, tidak hanya ramen saja.

Setidaknya, Sakura bisa memesan tempura di sana. Selain itu, Ichiraku Ramen juga memperluas kedainya. Menurut Sakura, sejak Naruto pulang dari perang sebagai pahlawan, kedai ramen itu juga makin populer dan dipadati pengunjung. Ternyata popularitas Naruto memiliki dampak signifikan pada hal-hal sekelilingnya.

Sakura bertanya mengapa Naruto tidak mengajak Hinata makan bersama mereka. Tiga bulan lagi, Naruto akan menikah dengan Hinata dan Sakura tidak ingin membuat gosip dengan makan siang hanya berdua dengan Naruto.

Meskipun, Sakura tahu, dirinya dan Naruto adalah sahabat baik dan tidak ada hal lain yang lebih di antara mereka.

"Ah, sayang sekali Hinata-chan sedang ada misi. Padahal, aku baru saja pulang." Begitu jawaban Naruto, "Tapi tenang saja, Sakura-chan. Sebelum mampir ke rumah sakit aku sempat bertemu Sai dan mengajaknya untuk makan siang. Mungkin dia sudah tiba duluan di kedai."

Sakura mengangguk. Sudah lama juga ia tidak bertemu Sai. Sepertinya siang ini akan menyenangkan.

Dan benar saja. Sai sudah tiba terlebih dahulu serta melakukan reservasi untuk Naruto dan Sakura. Setelah memesan pilihan mereka, percakapan antara mereka kembali dilakukan sembari menunggu makanan.

"Ngomong-ngomong, Sakura-chan. Sel Hokage Pertama itu bisa dibuat apa saja sih?" tanya Naruto penasaran.

"Tumben bertanya begitu, Naruto," sahut Sakura, "Hmm, berdasarkan penelitian dengan Tsunade-sama, sel itu bisa dikembangkan menjadi anggota tubuh manusia lainnya. Tidak hanya terbatas lengan. Tapi untuk organ dalam seperti jantung dan paru-paru, aku tidak yakin. Penelitian kami belum sejauh itu, karena staf penelitian juga harus bertugas di rumah sakit." Sakura menjelaskan.

"Bagaimana dengan mata? Mata bukan organ dalam, setahuku," tanya Sai tiba-tiba.

Sakura sedikit terkejut. Sejujurnya dia belum pernah terpikirkan akan hal itu, "Mungkin bisa, tetapi aku belum pernah melakukannya."

"Aku yakin suatu hari nanti kesempatan itu akan datang, Sakura-chan! Dengan ninjutsu medismu yang hebat itu, pasti kau bisa membantu banyak orang. Keren sekali," tutur Naruto.

Sakura memutar matanya. Terkadang Naruto bisa jadi berlebihan saat memuji.

"Siapa pula yang butuh transplan mata?" Sakura tidak yakin. Baginya, di zaman setelah perang seperti ini orang-orang lebih membutuhkan pendampingan untuk kesehatan mental.

Oleh karenanya, selain bertugas di komando kedua rumah sakit dan melakukan tindakan medis, Sakura juga sedang merancang klinik kesehatan mental terutama untuk anak-anak korban perang.

"Mungkin saja Sasuke butuh suatu hari nanti. Seorang Uchiha tidak bisa hidup tanpa penglihatannya," ujar Sai kalem.

Sai ada benarnya juga, Sakura mengiyakan dalam hati. Ini mungkin suatu sinyal kalau ia harus berusaha lebih giat lagi dalam penelitiannya. Tetapi, Sasuke-kun saja tidak mengambil lengan palsu yang dirancang tim medis Konoha untuknya. Apakah kalau untuk mata dia akan mengambilnya?

Pikiran Sakura pun buyar saat pesanan mereka datang. Ia tidak bisa menahan rasa laparnya begitu mencium aroma harum dari tempura. Lihatlah, tempura udang dan kobacha kesukaannya begitu menggoda. Sementara itu, Naruto dan Sai memesan miso ramen, menu unggulan Ichiraku Ramen.

"Kukira bekerja di rumah sakit membuatmu hanya makan sayur, Sakura," celetuk Sai saat melirik pesanan Sakura. Naruto tertawa kecil, sementara Sakura mendengus.

"Yaah, ini traktiran dari Naruto. Apa aku punya pilihan?" Sakura mengangkat kedua bahunya. Ia mengambil sumpit kayu lalu mematahkannya. "Nah, coba ceritakan tentang kesibukan kalian saat ini."

Sudah lama anggota Tim Kakashi – Tim Yamato tidak mengobrol dan berkumpul seperti ini. Bagaimana tidak?

Kakashi sudah menjadi Hokage (jelas sekali padat jadwalnya). Yamato mengawasi kegiatan Orochimaru di luar desa. Sasuke –entah di mana—sedang melakukan perjalanannya. Sai kini memiliki misi utama untuk mengawasi perbatasan desa. Naruto hanya menjalankan misi jangka pendek sambil menghadiri sesi privat dengan Iruka.

Sementara Sakura memegang komando kedua di rumah sakit, tetapi sesekali masih bisa menyempatkan diri untuk bertemu dengan yang lain.

"Aku diberi tugas tambahan oleh Hokage-sama," jawab Sai. Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan, "…untuk melacak keberadaan bekas anggota Ne yang menjadi ninja pelarian."

Wow.

Manik hijau Sakura membulat seketika.

Naruto nyaris tersedak ramennya.

Sakura meletakkan sumpitnya dan bergegas membuat segel dengan cepat. Ia memasang genjutsu di sekitar mereka, sehingga orang lain hanya mengira mereka membicarakan hal lain.

"Nice, Sakura-chan," puji Naruto.

Sakura tersenyum simpul. "Oke, kau bisa lanjutkan Sai –kalau tidak keberatan tentunya. Apakah ini misi tingkat S?" tanyanya.

Sai menggeleng, "Tidak, ini hanya tingkat A karena hanya melacak, bukan memburu."

"Sebenarnya Ne sudah dibubarkan Hokage ketiga setelah pembantaian klan Uchiha terjadi, tetapi Danzo menginstruksikan kepada organisasi untuk berjalan secara sembunyi-sembunyi. Barulah ketika Danzo tewas, kegiatan organisasi berhenti. Organisasi dibubarkan, sebagian besar bekas anggotanya mengisi posisi jounin dan ANBU di bawah Hokage."

"Namun beberapa yang masih memiliki loyalitas terhadap Danzo memilih melarikan diri dari desa. Kasus ini sudah ada saat Tsunade-sama masih memimpin, tapi penyelidikannya terpaksa berhenti karena perang. Sekarang dilanjutkan kembali sebagai antisipasi adanya pemberontakan atau musuh bagi desa," jelasnya.

"Lalu, Kakashi-sensei memintamu melakukannya karena kau bekas anggota Ne?" tanya Sakura retoris.

Sai mengangguk lagi. "Aku memegang daftar keseluruhan anggota serta Shinobi Konoha yang aktif, jadi tidak sulit untuk mencocokkannya. Lalu Hokage-sama mempercayakan misi ini padaku karena keahlianku dalam melacak dan mengintai."

"Begitu, ya," ujar Sakura. Ia bisa memahami mengapa gurunya memilih Sai untuk misi khusus ini. Sedangkan Naruto, sebaliknya. Sesak mendengar nama Danzo disebut, ia sudah mengepalkan tangannya dan menggeram kesal. Untung saja ia tidak menggebrak meja kedai.

"Danzo, teme! Padahal sudah mati, tapi tetap saja membuat masalah!"

Dengan senyum sedih, Sai berkata, "Begitulah Danzo. Ia –bahkan aku dulu percaya bahwa Ne mendukung pohon besar Konoha dari bawah tanah selayaknya akar. Tidak terlihat, tetapi ada. Kami, dulu melakukan misi untuk kebaikan desa."

"Kebaikan apanya?!" Naruto nyaris terpancing emosi, tetapi untunglah Sakura menepuk pundaknya agar menenangkan.

Naruto menghabiskan ramennya terlebih dahulu. Setelah minum beberapa teguk air, ia melanjutkan.

"Orang seperti itu melalukan segalanya demi kekuatan dan kekuasaan. Sai, apakah kau tahu? Sedari awal, Danzo telah mengincar Uchiha. Klan Uchiha sudah menderita sebelum terjadinya pembantaian, bahkan perencanaan kudeta pun didasari rasa ketidakpuasan terhadap desa yang dipengaruhi Danzo."

"Kudeta? Apa maksudnya, Naruto?" Sai terlihat bingung. Tentu saja, kebenaran mengenai klan Uchiha bahkan mengenai keterlibatan Danzo tidak diketahui umum. Hanya Naruto dan Sasuke yang paling tahu akan detilnya, karena Itachi yang menceritakan langsung pada mereka.

"Baiklah, aku akan menceritakannya secara singkat. Sejak insiden Kurama delapan belas tahun lalu, desa mencurigai klan Uchiha sebagai dalangnya. Kecurigaan itu membuat mereka mendapatkan 'perlakuan khusus' oleh desa, seperti diawasi oleh ANBU Hokage dan pemukiman Uchiha dipaksa pindah jauh dari keramaian desa. Hal tersebut sebenarnya adalah kesepakatan dewan tertinggi desa, termasuk Homura dan Koharu sebagai penasihat. Hokage-jiji, eh maksudku Sandaime, kalah suara karena Danzo mendominasi dan mempengaruhi orang-orang….

"Kemudian, klan Uchiha merasa tidak puas dan mulai merencanakan kudeta. Sebenarnya, kudeta sempat akan dicegah oleh sepupu Itachi dan Sasuke, tetapi gagal karena Danzo mengambil matanya."

Sakura menyela, "Tunggu. Aku baru mendengar soal ini. Siapa sepupu Sasuke-kun itu?"

"Shunshin no Shisui bukan?" tanya Sai.

Naruto terperangah, "Kau tahu, Sai?"

"Aku hanya pernah rumor saat salah satu anggota Ne nyaris tewas karena 'pembalasan untuk kematian Shunshin no Shisui'. Selebihnya tidak tahu,"

"Aaah begitu. Aku tidak tahu apa yang dimaksud rumor itu sih. Itachi hanya bilang, kalau sepupunya Shisui sebenarnya hendak mencegah kudeta dengan menanamkan Koto Amitsu- eh Anatsu. Eh. Bukan, maksudku Koto Amatsukami. Intinya itu genjutsu agar klan membatalkan rencana kudeta dan bersikap loyal pada desa."

"Memangnya Uchiha bisa terkena genjutsu?" tanya Sai polos.

"Aah tidak tahu!" Naruto menggeleng, "Itachi bilang itu genjutsu terkuat, kau tidak akan sadar kalau pikiranmu sedang dimanipulasi atau dikontrol. Tapi rencana itu gagal karena…Danzo mengambil sebelah matanya! Lalu, setelah melarikan diri dari Danzo, Shisui memberikan satu matanya lagi kepada Itachi. Setelah itu, dia bunuh diri di Sungai Naka dan akhirnya Itachi terpaksa jadi double-agent untuk desa. Yaaa, intinya Itachi melakukannya karena perintah desa, terutama Danzo!"

"Memberikan matanya pada Itachi?" Sakura, masih mencerna informasi, agak kebingungan.

"Kudengar dari Itachi, sepertinya banyak shinobi lain termasuk Danzo yang mengincar kekuatan Mangekyou Sharingan miliknya. Jadi, agar kekuatan itu tidak jatuh ke tangan yang salah, dia memberikannya pada Itachi lalu semacam.. menghapus jejaknya."

"Wah, Naruto sudah cerdas sekarang," puji Sai tanpa dosa.

Merasa tersindir, Naruto berusaha meninju bahu Sai. Namun dengan mudah, berhasil dihindarinya.

"HEI, SAI!"

"KALIAN SUDAH CUKUP!" Sakura menjewer telinga Sai dan Naruto, sebelum mereka menghasilkan kekacauan lebih besar. Mereka berdua mengiris kesakitan.

"A-a-aduh. Ampun Sakura-chan. Intinya Sai, kau mengerti kan, mengapa Danzo itu sangaaaat menyebalkan dan membuatku geram?"

Sai mengangguk, sambil mengelus telinganya yang sakit.

*

"Naruto, terima kasih untuk traktirannya. Sekarang aku harus kembali ke rumah sakit." Sakura segera bangkit, lalu mendorong bangku yang ia duduki ke bawah meja.

"Biar kuantar, Sakura-chan!" kata Naruto.

Sakura melemparkan pandangan 'kau-yakin?' yang segera dibalas, "Tenang saja, aku punya waktu luang."

Setelah meletakkan beberapa lembar uang, Naruto mengucapkan terima kasih dan bergegas keluar.

"Sampai nanti Sai!" seru Naruto.

"Ja ne! Semoga misimu lancar!" Sekura melambaikan tangannya.

Kali ini, Sai tersenyun tulus. Ia membalas lambaian tangan sahabatnya, "Ya, sampai nanti."

Biasanya, Sakura butuh waktu sepuluh menit untuk menuju rumah sakit dari Ichiraku. Akan tetapi, bila Naruto mengantarnya, perjalanan akan memakan waktu lima belas menit. Sakura tahu, bahwa sahabat pirangnya itu tidak suka sendirian. Sakura juga sempat menduga, mungkin ada yang masih ingin Naruto bicarakan padanya.

"Sakura-chan…" Setelah tiga menit, Naruto berbicara.

"Ya?" Dugaan Sakura : ada yang mengganjal pikiran sahabatnya. Mungkinkah itu soal pernikahannya dengan Hinata…..

"Sakura-chan, apakah seseorang pasti akan mati bila terjun ke sungai?"

Iris hijau Sakura melebar seketika. "A-apa?"

"Apakah mungkin…" ada jeda di kalimatnya, "seseorang selamat meski ia meloncat ke sungai?"

"Tergantung. Secara umum, orang menyimpulkan pasti akan mati bila terjun ke sungai. Tetapi aku pernah membaca tentang kasus orang yang tetap selamat. Ada beberapa faktor seperti ketinggian dan kedalaman sungai, serta… takdir."

Mendengar penjelasan Sakura, Naruto menyipitkan matanya. Seakan-akan ia sedang berpikir keras.

"Naruto, mungkinkah… apakah ini berkaitan dengan topik kita sebelumnya?" tanya Sakura hati-hati.

Bukannya menjawab, Naruto malah melontarkan kalimat ambigu.

"Sakura-chan, kurasa Sasuke bukanlah Uchiha yang terakhir."

"Naruto, pelankan suaramu—"

"Aah, Sakura-chan. Bisakah kau memasang genjutsu la—"

"Tidak. Aku harus menghemat chakra untuk rumah sakit. Pelankan suaramu dan jawab pertanyaanku sebelumnya," potong Sakura tegas.

Langkah Naruto terhenti. Sakura yang di belakangnya, ikut berhenti dan mensejajarkan kakinya. Naruto memandang jalanan utama desa yang ramai. Orang-orang banyak berlalu lalang. Sebagian besar adalah warga biasa, tetapi sebagian lain adalah Shinobi Konoha, yang tentu mengenali dirinya. Akhirnya, Naruto mengajak Sakura untuk melewati jalan pintas di pinggir desa, yang tidak terlalu ramai.

"Jadi? Ada hubungannya?"

Naruto mengangguk. "Sejak membahas soal Danzo dan Uchiha, aku jadi teringat percakapanku dengan Itachi –yang di-edo tensei Kabuto saat perang. Dia bilang, Shisui sengaja terjun ke sungai, bunuh diri, sekaligus untuk menghilangkan jejak dari Ne atau shinobi lain yang mengincar kekuatannya.

"Entahlah, Itachi dan kebanyakan orang mengasumsikan Shisui telah tewas. Tapi, aku dengar dia tidak ada dalam ninja yang dibangkitkan oleh Edo Tensei, Kabuto. Sehingga kemungkinannya hanya dua, dia tewas tanpa jejak atau selamat dan menyembunyikan keberadaannya."

"Lalu, apa yang membuatmu berpikir akan kemungkinan kedua?" tanya Sakura penasaran. Ia belum pernah mendengar banyak tentang Uchiha yang lain selain yang pernah ia temui. Sakura berpikir, mungkin kapan-kapan ia akan menyelinap untuk membaca arsip shinobi milik Hokage.

Naruto menghela napas, "Saat perang, aku sempat merasakan chakra, tipis sekali. Hanya dengan mode sennin dan bantuan Kurama aku bisa mendeteksinya."

"Kau pernah bertemu dengan Shisui Uchiha?" tanya Sakura heran.

Kali ini Naruto menggeleng. "Secara utuh, tidak. Hanya bertemu dengan matanya yang Itachi transplantasikan dalam kuchiyose gagak. Setelah Itachi menghancurkan matanya, beberapa jam kemudian, barulah aku merasakannya."

"Mata ya. Apa karena mangekyou sharingan masih aktif?"

"Bisa saja. Danzo telah menghancurkan mata Shisui yang ia ambil. Jadi seharusnya, kalau dia sungguh-sungguh mati, saat itu aku tidak merasakannya. Seingatku rasanya sangat tipis dan lemah, mungkin karena jauh. Yaah begitulah." Jelas Naruto.

Sakura terdiam. Kalau Naruto bilang ia bisa merasakan chakranya, kemungkinan tersebut ada benarnya. Shisui Uchiha masih hidup, di suatu tempat. Tapi, mengapa ia tidak kembali ke desa sekalipun Danzo tewas atau perang telah berakhir?

Terlalu banyak fakta yang belum jelas, Sakura pikir. Sebaiknya ia tidak menyimpulkan terlebih dahulu dengan minimnya fakta atau kesaksian.

Tanpa sadar, mereka telah sampai di depan rumah sakit. Naruto tersenyum pada Sakura.

"Daijoubu, tidak apa-apa Sakura-chan. Aku hanya menduga, 'kematiannya' juga sudah nyaris sepuluh tahun yang lalu. Kalaupun benar, aku hanya berharap setidaknya Sasuke masih memiliki keluarga."

Sakura ikut tersenyum. Ternyata di balik ini semua, Naruto memikirkan Sasuke.

"Ya, kau benar. Setidaknya, Sasuke-kun akan memiliki lebih banyak alasan untuk pulang."

an.

1. sebelum di-publish sebenarnya aku sudah tulis sampai setengah chapter ini.

2. setidaknya, Sakura dan Naruto sudah mulai menduga.3. aku tahu sekarang ffn sepi, tapi tidak apa-apa :")