Captain wa Maid-sama!

Captain is a Maid!

© nanodayo-san

[Disclaimer : Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi sensei.

Terinspirasi dari Kaichou wa Maid-sama]

Chapter : 2/?

Warning : slight shonen ai, typo, rawan OOC, AU, bad fic, CrossdressAkashi, humor yang garing, bahasa yang aneh.

.

.

.

His new world is beginning…


#BRUUK

Akashi merasakan hantaman yang begitu menyakitkan di punggungnya. Seketika itu ia langsung terbangun dari tidurnya dan mendapati tubuhnya telah beradu muka dengan lantai yang dingin, tanpa karpet bulu seperti ruangan kamarnya yang dulu. Sambil menahan nyeri ia berusaha bangkit sambil menyingkirkan selimut yang membelit kaki kanannya.

"Ck." Ia berdecak kesal. Ia tidak terbiasa dengan ranjang sesempit itu. Baru satu malam dan ia tidak mendapatkan kesan apapun dari rumah ini, tak ada AC, tidak ada karpet bulu, tidak ada ranjang berukuran king size yang empuk, dan banyak lagi. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaannya dulu.

Keinginannnya untuk berbaring terpaksa ia urungkan ketika tanpa sengaja mata fasetnya menangkap bayangan jarum jam yang menunjuk angka 6. Ia mengesah. Kantuk masih menguasai dirinya, tapi ia harus bersiap ke sekolah sekarang.


Akashi turun dari taksi yang ditumpanginya. Gerbang sekolah hanya dilewati beberapa murid, dan kebanyakan mereka adalah murid-murid kutu buku. Tak seramai seperti saat biasa ia datang ke sekolah. Ia sengaja datang lebih pagi untuk menghindari kemungkinan berpapasan dengan rekan-rekan kiseki no sedai-nya. Ia tidak mau seorang pun menyadari kalau ia berangkat tanpa supirnya.

Akashi tak mau membuang-buang waktu, karena itu ia langsung mengambil langkah menuju kelasnya. Berjalan sendirian melewati koridor terasa agak aneh bagi Akashi, karena biasanya ia akan mendengar sapaan berisik dari teman-temannya, mengucapkan selamat pagi dan lain sebagainya. Gedung yang hening dengan lantangnya menggemakan ketukan sepatu Akashi, dan membuatnya seolah tengah berjalan di dalam gua.

Akashi memasuki kelasnya, duduk di salah satu kursi lalu menggelar papan shogi di atas mejanya. Tak berapa lama, Midorima datang.

"Akashi." Panggilan Midorima berhasil mengalihkan fokus Akashi. Namun, pria bersurai merah itu hanya melirik Midorima sebentar lalu kembali larut dalam permainannya.

Midorima berjalan dan mengambil tempat di belakang kursi Akashi. "Tidak biasanya kau datang sepagi ini."

Akashi menyahut tanpa menoleh sedikitpun ke arah lawan bicaranya. "Hn, benarkah?"

Midorima tak berkata lagi. Kaptennya dingin seperti biasa. Jika percakapan itu dilanjutkan mungkin percakapan tersebut akan berakhir monoton, terlebih saat ini Akashi tengah serius dengan bidak-bidak shoginya.

Midorima mengeluarkan sebuah buku dan mulai membaca dari bagian halaman yang telah ia tandai. Kelas tersebut begitu hening dan tak seorangpun yang tahan dengan keheningan seperti itu selain mereka. Hanya ada ketukan bidak yang memenuhi ruangan.


Kelas berakhir. Pengecualian untuk anggota klub basket yang harus mengikuti latihan sebelum pulang. Akashi diikuti Midorima di belakangnya memasuki gymnasium. Aomine, Kise, dan Kuroko ternyata sudah berada di sana lebih dulu.

"Sup!" Sapa Aomine sekilas pada kedua orang yang baru datang tersebut sambil masih melanjutkan one on one-nya dengan Kise.

"Konnichiwa, Akashi-kun, Midorima-kun." Sapa Kuroko usai menyelesaikan pemanasan.

"Kemana Satsuki dan Atsushi?" Tanya Akashi.

"Momoi-san aku tidak tahu. Tapi kalau Murasakibara-kun, ia pergi sebentar membeli cemilan." Jawab Kuroko.

"Shintarou, hubungi Atsushi. Satsuki tidak perlu, karena aku yakin dia tidak pergi untuk bermain-main." Akashi berjalan meninggalkan mereka berdua. Ia menyimpan tasnya di sudut ruangan dan memasuki ruang ganti.

"Kukira Akashi tidak masuk hari ini." Sahut Aomine yang baru saja menyelesaikan one on one-nya. Ia berjalan mendekati Kuroko dan Midorima.

"Ayo mulai lagi dari awal, Aominecchi!" Gerutu Kise yang meminta permainan ulang karena belum menang.

"Hentikan Kise, kau harus latihan lebih rajin lagi untuk bisa mengalahkanku." Ujar Aomine lantas terkekeh. Sedangkan Kise hanya merengut.

"Aku juga mengira ia tidak masuk. Tapi ternyata ia hanya datang lebih pagi dari biasanya." Kata Midorima. Ia menekan tombol send di ponselnya lalu sesaat kemudian pesan untuk Murasakibara terkirim.

"Datang lebih pagi? Tidak biasanya-ssu." Timpal Kise.

"Jangan bergosip." Sela Akashi yang tiba-tiba kembali. Seketika mereka bungkam.

Tak lama kemudian, Murasakibara kembali dengan dua kantung besar berisi snack di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang pocky.

"Ara, sudah mau mulai kah?" Tanyanya.

"Simpan snack itu untuk nanti, Atsushi!" Perintah Akashi.

"Hai, hai."

Layaknya anjing terdidik, ia menuruti Akashi layaknya menuruti majikan. Ia menyimpan kumpulan snacknya diantara tas milik teman-temannya dan bergabung ke lapangan.

"Latihan hari ini akan selesai jam 4." Cetus Akashi.

Semua teman satu tim-nya kecuali Kuroko dengan kompak menyeru, "Eh?"

"Tumben sekali-ssu." Guman Kise.


Matahari senja di langit bagian barat menampakkan semburat oranye-nya. Latihan telah berakhir, semua anggota sudah pulang kecuali Aomine dan Kise yang enggan mengakhiri one on one mereka.

Akashi, Kuroko, Midorima, dan Murasakibara keluar meninggalkan kawasan Teiko dan mulai berjalan untuk pulang. Hal yang tidak biasa karena Akashi juga ikut berjalan kaki bersama mereka.

"Akashi-kun, tidak biasanya kau pulang berjalan kaki. Bahkan mungkin ini pertama kalinya aku melihatmu pulang berjalan kaki." Celetuk Kuroko.

Midorima memicing ke arah Kuroko. Ia tak menyangka Kuroko berasil meluncurkan kalimat yang sedari tadi tercekat di tenggorokannya. Sebenarnya ia ingin mengatakannya jauh sebelum Kuroko mendahuluinya, tetapi ia terlalu ragu untuk mengatakannya.

"Aku ingin mencoba hal yang baru." Ujar Akashi asal.

"Souka. Aku ingat kau pernah berkata ingin merubah hidupmu yang membosankan. Jadi kau sudah mulai mencobanya." Kata Kuroko.

Akashi menaikkan sebelah alisnya. "Kapan aku berkata seperti itu?"

"Kemarin, waktu melihat bintang jatuh."

Tunggu. Akashi baru ingat hal itu sekarang. Daripada merasa malu karena pernah mengatakan hal aneh kepada orang yang -ehem- diam-diam dikaguminya, terlebih orang tersebut mengingatnya dengan baik, Akashi justru terhenyak. Ia memang tidak percaya, sungguh sampai kapanpun ia tidak akan percaya hal-hal takhayul. Tapi, sesuatu tak terjadi begitu saja.

Hidupnya memburuk karena ia meminta bintang jatuh untuk mengubah hidupnya. (Nanodayo : bilang aja percaya, susah amat / Akashi : aku tidak percaya / Nanodayo : gak usah tsundere deh, yang boleh tsundere itu cuma Midorin / Akashi : cari mati ya? / Nanodayo : YO LANJUT LANJUT! *afraid*)

"Semoga kau berhasil, Akashi-kun." Oh, Kuroko yang baik hati pun mendoakan keberhasilannya. Entah harus senang karena didoakan atau khawatir karena doa Kuroko merupakan doa yang buruk baginya. Cepat atau lambat ia harus kembali ke hidupnya yang ideal.


Akashi masuk ke rumahnya yang baru (baca : tumpangan) lewat pintu belakang karena pintu depan rumah tersebut digunakan sebagai pintu masuk café. Masuk lewat belakang berarti ia masuk melalui dapur. Di sana ia bertemu dengan beberapa orang yang bekerja sebagai koki.

"Akashi-kun, sudah lama aku menunggu kepulanganmu." Seru cucu pemilik café menyambutnya. "Cepat ganti pakaian, café ramai sekali." katanya terakhir kali sebelum kembali ke café mengantar pesanan.

Akashi menghela napasnya. Hari pertamanya, ia harap tidak berakhir kacau. Akashi tidak habis pikir mengapa gadis itu menyuruhnya menjadi maid padahal ia bisa mempekerjakannya sebagai koki. Apakah karena tidak ada kursi kosong lagi untuk koki? Menyebalkan.

Akashi melangkah lurus menuju kamar ganti. Ia menatap ragu pakaiannya. Terlalu imut, gadis itu bahkan memberikan wig yang serupa dengan warna rambutnya, dan twintail? Apa-apaan ini? Gadis itu bosan hidup, ya? Karena terpaksa, akhirnya ia memakai seragamnya, dan tepat ketika ia keluar, semua koki yang semula tak memperhatikannya membelalakkan mata. Mereka sudah pasti terkejut melihat anak laki-laki yang beberapa menit lalu memasuki dapur berubah menjadi gadis moe yang pettanko.

"Sesuai dugaan, kau tampak moe, Akashi-kun!" Seru cucu pemilik café yang baru saja kembali ke dapur. "Hei kalian, jangan bocorkan kalau dia ini laki-laki, ya!"

"H…hai." Jawab para koki ragu.

Sang cucu pemilik café tersenyum manis ke arah Akashi, "Akashi-kun ganbatte!"

Akashi kembali menghela napasnya. Sungguh pekerjaan yang berat. Ia keluar dengan lesu sambil terus berharap tak ada yang menyadari bahwa dia seorang laki-laki, apalagi menyadari ia adalah seorang Akashi Seijuurou, kapten kiseki no sedai. Saking konsentrasinya berharap, ia tidak menyadari semua pasang mata tertuju padanya saat itu juga. Mengagumi keimutannya. Sungguh postur yang tidak terlalu tinggi itu sangat mendukung untuknya.

Tak berapa lama, lonceng di depan pintu masuk terdengar dan disusul suara gaduh dari beberapa orang yang masuk. Akashi mengedarkan pandangannya, semua maid sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, hanya dirinya yang tak melakukan apapun saat ini. Akashi yang masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan dengan reflex menoleh ke arah cucu pemilik café dengan tatapan yang seolah bertanya apa yang harus kulakukan? Namun, sang cucu nenek yang sibuk hanya mengibaskan tangannya, memberi isyarat untuknya menemui pelanggan yang baru masuk tersebut.

Ketika sekelompok laki-laki yang baru masuk itu berhenti di depannya, tidak ada pilihan lain baginya selain mengucapkan, "I…I…Irrashaimase, gosujin-sama." dengan canggung. Terkutuklah suaranya yang berat, beruntung mereka tidak terlalu mempedulikannya.

Akashi memberanikan diri mengangkat wajahnya, ia belum mengeluarkan ekspresi apapun. Yang ada di depannya sekarang adalah siswa SMA yang mengenakan seragam SMA Seirin. Mereka semua tampak lebih tinggi darinya, dan sekarang mereka menatap Akashi dengan tatapan aneh.

"Twintail…" gumam seseorang diantara mereka, pria berwajah kucing. Meski terdengar pelan tapi cukup untuk menggetarkan gendang telinga Akashi.

"Meski pettanko, tapi dia cukup kawaii." Gumam seorang lagi, kali ini ia mengenakan kacamata.

"Tubuh yang mungil…" Kali ini giliran seorang bermata runcing menyahut.

"She's absolutely lolita…" Ucap mereka bertiga bersamaan dan berhasil memunculkan tiga buah sudut siku-siku berwarna merah di kening Akashi. Mungkin Akashi sudah menikam mereka dengan gunting kesayangannya jika saja seorang gadis berambut coklat tidak tiba-tiba muncul dan menendang mereka.

"Kalian ingin mati, ya?" Ucap gadis itu dengan tangan kanan yang terkepal. Ia telah mengucapkan kalimat yang ingin ia ucapkan sebelumnya.

Mereka semua akhirnya duduk, sementara Akashi berdiri di dekat kursi yang mereka duduki sambil menulis pesanan.

"Aku mencari kalian kemana-mana, dan ternyata kalian di sini, hentaitachi." Keluh gadis tersebut sambil bertopang dagu.

"Warui, kami kelaparan dan mencari makanan." Kata pria tinggi berambut cokelat dan beralis agak tebal.

"Lalu kenapa kesini? Kalian tertarik dengan maid-maid-nya kan?"

Seorang yang sedari tadi tidak membuka matanya tertawa. "Bukan, bukan, uang kami tidak cukup untuk pergi kemanapun selain kemari. Ya, kan Hyuuga?"

Seorang berkacamata yang diliriknya tampak tak acuh, pria itu sekarang menatap ke arah Akashi. "Hei, boleh kutahu namamu?"

Akashi menghela napasnya. "Aka…" ups, ia hampir lupa. Tak ada seorangpun yang boleh mengetahui identitasnya saat ini. Tidak ada yang tidak mengetahui kiseki no sedai. Mendengar namanya sekali saja, pasti mereka akan segera mengetahui identitasnya.

Akashi memandang pria di depannya tampak menunggu jawabannya. "Aka?"

"A…Aka…Sei…Aka…"

"Ah, Akari? Sei, Seiko? Akari Seiko?" Seorang di sebelahnya menyela.

"Jangan menebak sembarangan, Izuki!"

"Kalian!" seketika sebuah kepalan mendarat di pipi pria berkacamata yang diketahui bernama Hyuuga dan seorang yang duduk di sampingnya, yang diketahui bernama Izuki.

"Maaf atas kelancangan kami." Kata gadis itu sambil tersenyum ramah.

Akashi tak bisa bersikap ramah lagi, kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. Beginikah maid café? mengapa para gadis-gadis yang lain bisa tahan digoda seperti itu?

Tak berapa lama, lonceng kembali terdengar. Kali ini seorang anak seumuran dengannya bersama dengan seorang anak yang kira-kira menduduki bangku kelas 4 SD. Anak kelas 4 SD itu menarik manja tangan pria bersurai biru muda yang berjalan dengan langkah agak terseret di belakangnya.

Tunggu, biru muda?

Akashi mengerjapkan matanya beberapa kali, tapi warna biru muda itu tidak berubah. Wajah itu, tidak salah lagi itu adalah dia.

"Tetsuya…" Gumamnya pelan dengan suara yang serak, tepat ketika pria bersurai biru itu menoleh ke arahnya. Mereka sempat bertatap muka beberapa detik, sama-sama terdiam.

"Tetsuyanii?" Anak kelas 4 SD itu memanggil sang biru muda, tapi Kuroko menghiraukan. Ia menarik anak itu bersamanya, berjalan mendekati Akashi.

Bibir sang surai biru itu terbuka. "Kau sepertinya…

Habis. Habislah Akashi.


TBC


Nanodayo : Haaah, akhirnya berkat doa semuanya chapter 2 ini selesai sebelum TO. Tadinya saya pikir bakan kelar pas abis TO. Tapi ternyata dapet mood huhu. Makasih yang sebesar-besarnya buat yang udah baca chapter 1 kemarin, makasih juga review-nya, makasih juga fave dan follow-nya. Arigatou gozaimasuuuuu. Sampai ketemu di chapter berikutnya :) need your participation as always… isi kotak yang di bawah dengan komentar, saran, dan lain-lainnya ya~