"Aku mengusulkan Alice Kirkland jadi pemeran Juliet dalam pensi tahunan kali ini!"

"Kirkland? Yang benar saja!"

Mendengar sahutan dari salah satu anggota MPK barusan, Alice makin menajamkan pandangannya pada Antonio yang masih memasang tampang tak bersalah. Selalu saja membuatnya malu. Andai dia tak sedang berada di antara orang banyak seperti sekarang ini, pastilah sudah dia hajar laki-laki pecinta tomat itu.

"Duh, kalian ini. Tahun lalu siapa yang membuat pensi jadi sukses? Alice kan? Lalu apa salahnya jika kita mencoba memberinya peran utama. Jadi sutradara saja dia bisa, apalagi beradu akting?"

Hening sejenak hingga terdengar dehaman pelan dari Roderich, ketua umum MPK. "Kau tahu kan kalau pensi tahunan ini bukan sebuah ajang taruhan, Antonio? Memangnya kau pernah melihat Kirkland bermain drama sebelumnya? Menjadi sutradara dan pemeran itu adalah dua hal yang sangat berbeda."

Alice mengangguk-anggukan kepalanya. Kenapa bukan Roderich saja yang menjadi ketua umum OSIS? Dia sangat bijak dan dewasa tentunya.

"Sebenarnya ketika ada materi drama di kelas bahasa indonesia, Alice juga menjadi pengarang naskah, bukan pemeran," ucap Feliciana, salah satu teman sekelasnya yang juga menjabat sebagai sekretaris dua OSIS.

"Lalu menurut kalian, siapa yang cocok berperan menjadi Juliet selain Alice? Aku menunjuknya karena menurutku karakter Alice cukup menarik untuk menjadi Juliet."

"Karakter yang mana Antonio? Bisa-bisa Romeo selingkuh dengan gadis lain karena tak tahan dengan tabiatnya."

Ucapan dari Natalia, ketua komisi A MPK, membuat Antonio terdiam. Begitu pula yang lain. Tak sedikit yang membenarkan, tapi tak sedikit pula yang merasa ucapan Natalia barusan cukup keterlaluan. Meskipun Alice sendiri sebenarnya tidak merasa sakit hati sama sekali. Lagipula dia juga tak minat untuk menjadi pemeran. Menjadi sutradara jauh lebih menyenangkan. Kau tahu, mengatur-atur orang, membentak-bentak para pemeran dan menjadi sorotan ketika pensi berjalan lancar. Keren kan?

Sebelum Alice angkat bicara untuk menyudahi perdebatan tentang pemeran Juliet, Francis sudah mengangkat tangan terlebih dahulu. "Aku setuju dengan Natalia. Alice memang tak cocok untuk menjadi pemeran, terlebih peran utama. Jadi," Francis tersenyum miring pada Natalia. "Bagaimana jika kau saja yang menjadi Juliet-nya? Tak keberatan kan, mon chèr?"

"Hah? Aku terlalu kaku—"

"Ahahaha! Baiklah, sudah fix. Kau saja yang jadi Juliet ya, Natalia!"

Seruan Antonio memang terdengar main-main tapi melihat Roderich sendiri juga ikut mengangguk, setuju-setuju saja dengan ucapan Antonio, maka tak ada yang berani mendebat dua petinggi tersebut.

"Sekarang.. untuk pemeran Romeo."


Assalamualaikum, Romeo!

Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya

Warning(s) : Human & Islamic AU—beberapa karakter akan diubah ke Nyotalia and agak OOC, maybe? (semoga tidak:v)


"Ingin rasanya aku olesi mulut Natalia itu dengan bin cabe. Biar mati rasa!"

Alice tertawa pelan mendengar gerutuan Michelle. "Sudahlah. Lagipula ucapannya tak sepenuhnya salah dan aku harus berterima kasih padanya karena aku tak harus bermain dalam pensi."

"Tapi itu keterlaluan! Padahal menurutku kau tak seburuk itu jika mereka mengenalmu."

"Dan biarlah mereka menganggap seperti itu. Aku tak peduli, Michelle. Aku hanya peduli pada orang-orang yang tak mudah percaya angin lalu dan mencoba berteman denganku secara langsung untuk membuktikannya."

Michelle tersenyum tipis. Dia melirik pada layar laptop milik Alice yang menampilkan beranda Ms. Word. "Kau mau mengetik naskahnya sekarang?"

"Tidak, tidak. Hanya kerangkanya saja. Aku juga perlu mendiskusikannya dulu dengan para anggota sekbidmu dan komisi G MPK."

"Kau tahu, mereka pasti akan suka ide-idemu. Aku percaya kau bisa membuat pensi tahun ini lebih sukses dari kemarin."

Bersamaan dengan jemari Alice yang mulai mengetik, bibir mungil gadis itu berucap pelan. "Aamiin."

Setelahnya, hanya bunyi ketikan pada keyboard yang terdengar di ruang sekretariat OSIS. Michelle sendiri masih belum beranjak dari tempatnya, setia menemani Alice yang masih fokus mengetik.

"Yo, Alice!"

Alice dan Michelle menoleh bersamaan ke arah pintu sekretariat yang terbuka. Francis dan Antonio ada di sana.

"Mau apa kalian?" ucap Alice, kembali fokus pada laptopnya. Antonio mendudukkan diri di sebelah Alice. "Hanya ingin menemui wakil ketuaku. Tak boleh ya?"

Tawa Michelle dan Francis kemudian menggema di ruangan. Michelle memegangi hidungnya, berpura-pura mimisan. "Ah, sial. Jika seperti ini terus bagaimana bisa aku tidak menjadi shipper kalian berdua?" ucapnya membuat pelipis Alice berkedut kesal. "Kalau kalian berdua tetap tertawa seperti orang gila, lebih baik kalian keluar saja sekarang."

Kali ini giliran Francis yang berbicara. "Ahh, mon ami. Jika kau ingin berduaan dengan Antonio, bilang saja. Aku dan Michelle akan dengan senang hati meninggalkan kalian berdua di sini. Lagipula kami memang akan kencan, ya kan, Love?"

"Benar sekali, kita memang akan kencan!" seru Michelle dengan nada ceria yang dibuat-buat, kemudian terdengar pekikan Francis yang telinganya tiba-tiba sudah ditarik oleh Michelle. "Di kuburanmu."

Melihat Michelle dan Francis yang sibuk bertengkar, Antonio tertawa pelan. "Astaga, diamlah kalian. Alice sedang berkonsentrasi."

"Oke, oke. Ayo Francis, kita keluar saja. Biarkan mereka berdua."

"Duh, sebenarnya kau ini memang mau kan kencan denganku. Mengakulah, Michelle."

"Diamlah Francis, sebelum kusumpal mulutmu dengan kaus kaki pak kepala sekolah," ucap Michelle jengah dan akhirnya pasangan muda-mudi itu menghilang di balik pintu sekretariat yang kini tertutup rapat. Alice melirik ke arah pintu, memastikan sudah tidak ada lagi tanda-tanda dari Michelle dan Francis. Dia menghela napas dan kembali mengetik.

"Kau tahu, aku masih bingung kenapa tak ada yang setuju jika kau menjadi Juliet."

"Jangan gila, Antonio," desis Alice, memicing pada Antonio. "Lagipula, kenapa kau masih di sini? Sana, pergilah menyusul Michelle dan Francis."

"Dan meninggalkanmu sendirian di sini? Kalau kau diculik bagaimana?"

"Yang benar saja.. siapa pula yang mau membobol pintu sekretariat OSIS di siang bolong begini?"

"Hei! Jangan salah ya! Sekarang sedang marak lho penjahat seksual di Indonesia. Bisa saja kan mereka menyelinap begitu di sekolah kita.."

"Kau bicara seperti itu dan sekarang kita hanya berdua di ruang sekretariat OSIS. Daripada memikirkan para penjahat seksual itu, harusnya aku lebih khawatir padamu."

Usapan pelan dapat dirasakan Alice pada puncak kepalanya. Alice mendongak. Maniknya bersibobrok dengan manik emerald milik Antonio. Mereka senada dengan miliknya hanya saja milik Antonio terlihat lebih 'hidup'. Laki-laki berkulit tan itu tersenyum cerah. "Kau kan sudah kuanggap adikku sendiri, mana mungkin aku berbuat aneh-aneh padamu, kan?"

Alice terdiam sejenak, sedikit hanyut pada paras tampan Antonio, sebelum ekspresinya kembali keras seperti biasa. "Sial, kerudungku jadi berantakan karenamu."

"Hei, jarang-jarang aku bersikap seperti itu pada perempuan lain!"

Jika di novel-novel roman picisan kesukaan Allistor (percaya atau tidak, kakaknya yang sangar itu memang suka dengan hal-hal berbau romansa) pastilah sekarang Alice sudah terbawa perasaan, kemudian dia dan Antonio akan mengutarakan perasaan masing-masing, mereka jadian dan tamat.

Itu adalah kehidupan di novel dan ingatlah bahwa mereka berdua tidak hidup di dalamnya, Dude.

Memang, Alice akui Antonio cukup tampan dan jujur saja dia pernah sedikit menyukainya (well, ya, Alice masih gadis yang normal, kau tahu) tapi itu hanya sekedar perasaan kecil yang numpang lewat saja. Itulah masa SMA. Jika kau menganggap perasaan seperti itu dengan serius, kau akan sulit mengetahui mana yang lebih worth it daripada cinta monyet. Bukankah akan lebih baik jika waktu yang biasanya digunakan untuk melamunkan orang yang kau suka, kini kau gunakan untuk belajar?

"Oh iya, tahun depan kau akan tetap di OSIS kan?"

Alice mengerjap pelan dan menoleh pada Antonio di sebelahnya. "Tentu. Kenapa memangnya?"

"Syukurlah. Dengan senang hati aku pasrahkan kursi ketua umum padamu."

Tawa kecil meluncur dari bibir mungil Alice. "Kupikir kita rival."

"Kau saja yang menganggapnya begitu."

Hening menyelimuti mereka berdua untuk sejenak, sebelum Antonio kembali angkat bicara. "Kau tahu.. aku akan rindu saat-saat seperti ini."

"Saat ketika kau banyak bicara dan aku hanya diam mengacuhkanmu?"

Antonio tertawa. "Bukan, bodoh," kekeh Antonio membuat Alice mengangkat sebelah alisnya, sangsi. Apa Antonio barusan mengatainya bodoh? Memilih untuk tak menggubrisnya, Alice kembali berucap. "Lalu?"

"Yah, aku pasti akan rindu suasana di sekretariat ini. Setelah upacara serah terima jabatan nanti, aku sudah tak bisa lagi hadir di rapat dan memimpin kalian. Aku juga tidak bisa seeenaknya keluar masuk ruang sekretariat karena pastinya aku harus fokus pada persiapan ujian dan tes masuk universitas. Hah.. kenapa waktu berjalan cepat sekali?"

"Itu tandanya kau bahagia dan menikmati masa-masamu di OSIS, Ketua."

Antonio balas tersenyum melihat Alice tersenyum tipis padanya. "Kau juga. Nikmatilah masa-masamu di organisasi ini. Jangan sampai kesibukan di OSIS membuatmu lupa dengan segalanya, terutama makan. Ingat kalau aku sudah tak bisa membawakanmu makanan dari kantin setelah ini."

Alice memilih diam, masih mengulas senyum tipis di parasnya.

Sepertinya dia juga akan merindukan Antonio nanti.

"Francis yang tampan kembali! Jadi, adegan apa yang sudah kulewatkan? Apa ada kemajuan tentang hubungan kalian, hmm?"

Yah, dan Francis juga tentunya.


Assalamualaikum

Hehe, adakah shipper SpUK di sini?

Maafkan saya jika banyak yang OOC:")

Kritik dan saran diterima dengan tangan terbuka lebar3

Last but not least,

RnR?^^