Shin'ainaru, Koko De Shūryō

Chap. II

.

.

.

Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi-sensei

.

.

.

Warming : Gaje, Typo(dimana-mana), OOC (mungkin) !

.

.

.

Sekedar saran silakan sambil mendengarkan lagu Jar Of Heart – Cristina Perri, karena saya terinspirasi dengan lagu itu ^-^

.

.

Na, selamat membaca dan jangan lupa REVIEW di akhir yaaa ^o^

.

.

.

Tetsuya menyantap sarapan yang disediakan maid-maid yang bekerja dirumah Akashi. Tetsuya tidak pernah menunggu Akashi hanya untuk sekedar sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Untuk apa makan dengan orang yang pandang jijik, hanya akan membuat nafsu makan mu hilang. Ditengah asik menyantap pintu ruang makan itu terbuka, Akashi berjalan menuju bangku yang selalu di dudukinya, beberapa maid pun menghampiri Akashi dan menyiapkan sarapan untuk sang tuan muda itu.

Tidak ada sapaan diantara keduanya, mengabaikan eksistensi satu sama lainnya. Pemandangan seperti itu bukan pertama kalinya disaksikan beberapa maid dan buttler yang bekerja dirumah itu. Sudah sangat hal yang biasa.

Tetsuya pun menyudahi sarapannya dan beranjak dari bangkunya. Tanpa melirik sekali pun ke arah Akashi. Akashi tidak jauh berbeda dengan Tetsuya. Sekali lagi, saling mengabaikan adalah hal yang biasa.

Tetsuya tidak diizinkan Akashi untuk bekerja diluar dan hari-harinya pun ia lalui dengan hanya diperpustakaan rumah itu, bermain dengan Ni-gou anjing kesayangannya, dan mengetik cerita yang ia rencakan untuk diterbitkan menjadi sebuah novel.

Seperti saat ini, Tetsuya pun memutuskan untuk ke perpustakaan untuk membaca buku yang belum selesai ia baca kemarin. Namun ditengah perjalanan, ia melihat wanita yang sedang kebingungan. Dilihat dari mana pun pasti perempuan itu wanita yang ditiduri Akashi semalam karena tidak mungkin maid baru mengenakan baju dengan bahan yang sangat minim.

"Ano.. Sumimasen boleh aku bertanya." Tanya wanita itu pada Tetsuya.

"Lurus dan ruangan dengan pintu coklat itu tempat Akashi-san berada saat ini."

Tetsuya enggan berlama-lama berurusan dengan wanita-wanita Akashi. sangat menyakitkan bila mengingat apa yang sudah mereka lakukan. Tetsuya pun menenggelamkan dirinya dalam sebuah buku.

"Tetsuya."

Tetsuya enggan untuk sekedar menjawab atau menatap orang yang memanggilnya itu. Karena ia tahu, orang itu pasti Akashi.

"Malam ini Otou-sama akan makan malam disini, kau atur semuanya."

Tanpa jawaban Akashi pun meninggalkan Tetsuya yang masih saja membaca. Tetsuya sendiri mendengarkan semua perkataan Akashi.

Tetsuya pun menutup bukunya, dan mengeluarkan smartphone dari kantungnya. Aomine Daiki, kontak yang dihubungi Tetsuya.

"Moshi-moshi Aomine-kun."

[ "Ya, ada apa Tetsu ?"]

"Aomine-kun malam ini Akashi Seishirou akan makan malam dirumah Akashi-san, menurut mu bagaimana kalau aku mengungkapkan rencana ku pada Seishirou-sama ?"

["Apa kau yakin ?"]

"Ya."

["Lakukan semua hal yang menurut mu itu benar, aku mendukung semua yang kau lakukan, lagi pula tidak mungkin orang tua Akashi tidak tahu kelakuan bejat anaknya itu."]

"Baiklah, kalau gitu terima kasih."

["Ya, kalau terjadi sesuatu hubungi aku segera, Tetsu."]

"Ya."

Sambungan telfon itu pun putus. Tetsuya memantapkan dirinya untuk mengungkapkan semua rencananya. Apa pun resikonya, Tetsuya sudah siap daripada harus menahan sakit lebih lama lagi.

.

.

.

Ruang makan itu terasa sangat sunyi dan hanya terdengar gesekan pisau dan garpu diatas piring. Suasana menegangkan begitu terasa. Aura kedua Akashi itu, sungguh membuat siapa pun tidak nyaman berlama-lama didekat mereka. Tetsuya sendiri tengah menata kembali mentalnya untuk melancarkan rencananya.

"Tetsuya, ada yang kau pikirkan ?" Tanya Seishirou.

"Ada yang mau ku sampaikan pada Seishirou-sama dan juga Seijuuro-sama." Ya, Kuroko hanya akan memanggil nama kecil Akashi didepan Seishirou.

"Apa Tetsuya, sampaikan lah."

Akashi tertarik mendengar percakapan dua orang di depannya itu. Akashi pun memandangi Tetsuya mencoba membaca gerak-gerik Tetsuya.

"Aku ingin bercerai dengan Seijuurou-sama."

Pernyataan Kuroko membuat kedua Akashi itu terdiam dalam waktu yang bersamaan. Suasana menjadi begitu sangat menegangkan, tapi Tetsuya sudah menata mentalnya untuk menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi.

"Masalah itu kau selesaikan dengan Seijuuro."

Tetsuya hanya menyerit heran, respon yang diberikan Seishirou sangat diluar dugaannya. Setelahnya, Seishirou meninggalkan ruang makan dan pergi dari rumah itu.

"Tindakan yang berani Tetsuya."

"Terima kasih tapi aku serius dengan ku ucapkan, ku urus besok."

.

.

.

Tetsuya hanya heran kenapa kamarnya terkunci. Smartphonenya bahkan tidak ia temukan di dalam kamarnya. Ketukan bahkan sampai geduran pun sudah ia lakukan namun tidak ada satu pun yang membukakan pintu kamarnya. Tetsuya merutuki kamarnya yang berada dilantai dua. Tetsuya tahu ini pasti ulah Akashi. Sungguh Tetsuya semakin membenci Akashi.

Tetsuya pun membaringkan tubuhnya diatas kasurnya. Menenangkan pikiran untuk bisa memecahkan masalahnya saat ini. Saat tengah menenangkan pikirannya, Tetsuya mendengar pintu kamarnya terbuka dan ia pun langsung bangun dan melihat Akashi masuk ke kamarnya.

"Apa maksud dengan semua ini Akashi ?"

"Heh… kau tidak memanggil ku dengan embel-embel kun lagi Tetsuya, sudah sebegitu bencinya kah diri mu pada ku ?"

"Sangat, aku sangat membenci dan jijik pada mu."

"Kalau gitu, kau harus mencintai ku mulai saat ini."

"Jangan harap."

"Ingat Tetsuya semua perkataan ku absolut, dan kalau kau mau keluar untuk mengurus perceraian kita silakan tapi setelah melayani suami mu."

"Jangan harap aku sudi disentuh oleh mu, aku bukan wanita murahan yang kau tiduri tiap malam Akashi."

"Jadi kau cemburu dengan semua wanita-wanita itu Tetsuya."

Tetsuya enggan menjawab dan ia pun melangkahkan kakinya untuk segara keluar ruangan itu. Baru saja ia mau melangkah keluar pintu, sebuah suntikan mulus mendarat di lengannya. Akashi pun mendorong suntikan itu dan semua isi suntikan itu masuk ke dalam tubuh Tetsuya. Tetsuya pun mendorong tubuh Akashi, dan berlari meninggalkan Akashi. walau ia tidak tahu, obat apa yang disuntikan ke tubuhnya.

Tetsuya tersenyum saat melihat pintu utama dan kembali berlari untuk segera meninggalkan rumah itu namun sayang kepalanya terasa pusing dan semuanya gelap.

.

.

.

Tetsuya mencoba membuka matanya yang begitu berat untuk dibuka dan setelah berhasil Tetsuya memandangi sekitarnya. Ya, Tetsuya kenal dengan ruangan ini karena ini kamar pribadinya.

"Ohayou."

Tetsuya pun mengalihkan pandangannya pada sosok yang ia tebak ada disampingnya, dan benar saja. Akashi menyeriangi menyeramkan disebalahnya. Tetsuya pun hendak bangun namun gagal karena kepalanya pusing dan tubuhnya terasa panas semua.

"Panas Tetsuya ?"

"Apa cairan yang kau suntikan pada ku Akashi teme !"

"Obat perangsang."

Tetsuya pun memaki Akashi dengan semua kosakata kasar yang ia tahu, sungguh tubuhnya sangat panas dan setiap sentuhan Akashi pada tubuhnya menjadi efek lain yang membuatnya begitu sangat hem bergairah.

"Kau bisa meminta jika ingin lebih Tetsuya."

"Bahkan bila aku mati sekarang pun, enggan aku meminta mu."

"Sombong dan keras kepala. Baiklah kita lihat bagaimana dengan kita bermain sebentar dengan ini."

Akashi menunjukan sebuah vibrator pada Tetsuya. Mata Tetsuya terbuka sempurna, ia mengutuk Akashi karena mengikat kedua tangan dan kakinya.

Pertama Akashi memberinya ciuman panas dan turun ke leher hingga dadanya dan memasukan vibrator ini ke lubang analnya. Sungguh Tetsuya sangat membenci semua tindakan Akashi namun tubuhnya berkata sebaliknya.

Tetsuya terus menangis menerima semua perlakuan Akashi. Memang Akashi belum menyentuhnya seutuhnya namun tindakannya membuatnya semakin merasa sakit dan perih di hati.

"Jangan menangis Tetsuya. Nikmati saja semuanya…"

"Aku membenci mu AKASHI !"

Plak. Tamparan mendarat di pipi Tetsuya. Tamparan itu pun terus sampai bibirnya mengeluarkan darah. Terlihat kalau Akashi kini tengah marah namun apa peduli Tetsuya.

"Katakan kau mencintai ku Tetsuya."

"Aku sangat membenci mu AKASHI!"

Plak. Satu tamparan kembali mendarat di pipi Tetsuya.

Tok…Tok…Tok…

Ketukan pintu membuat Akashi beranjak dari kasur Tetsuya ke pintu dan ternyata yang mengetuk adalah seorang maid.

"Apa ?"

"M-maaf mengganggu Seijuuro-sama tapi ada tamu untuk Tetsuya-sama."

"Siapa ?"

"Aomine Daiki."

Akashi pun menyeriangi mendengar nama sahabat Tetsuya disebut oleh maidnya.

"Baiklah aku yang akan menemuinya."

"Saya undur diri Seijuuro-sama."

"Ya."

Akashi pun kembali kedalam kamar dan memperhatikan keadaan Tetsuya. Sungguh menggairahkan dengan peluh membasahi semua tubunya dan juga vibrator yang masih tetanam di dalam anal Tetsuya. Akashi pun menaikan getaran vibrator itu menjadi getaran paling maksimum. Tetsuya hanya mengerang saat vibrator ini mengoyak lebih dalam analnya.

"Daiki berkunjung dan akan ku temui dia, kau tunggu aku disini."

Setelahnya Akashi meninggalkan Tetsuya. Tetsuya hanya bisa menangis dan menangis. Testuya pun mencoba melepaskan ikaan tali diatangan kanannya yang sepertinya melonggar.

.

.

.

Akashi memasuki ruangan tengah dan melihat Aomine tengah duduk dengan wajah yang terlihat khawatir.

"Akashi?"

"Ya, lama tidak berjumpa Daiki."

"Mana Tetsu ?"

"Kau harus membalas salam ku lebih dulu, sebelum kembali bertanya."

"Mana Tetsu ?"

"Tetsuya sedang demam dan dalam perawatan ku."

"Sejak kapan kau peduli dengannya ? kau hanya peduli dengan dunia mu saja dan wanita-wanita jalang itu."

"Heh… jadi Tetsuya sudah menceritakanya semua pada mu."

"Aku akan membawa Tetsu ke rumah sakit."

"Tetsuya hanya perlu perawatan secara pribadi dari ku Daiki, jadi pergilah."

Aomine memandang Akashi dengan sengit. Melawan Akashi sekarang tidak tepat. Aomine pun langsung pergi.

.

.

.

Tetsuya sukses melonggarkan ikatan itu dan melepaskannya dan ia pun langsung membuka ikatan satunya dan langsung mengeluarkan vibrator dalam tubuhnya dan memakai bajunya yang tercecer dibawah kasurnya.

Tetsuya pun langsung menuju pintu dan ternyata terkunci, Tetsuya dapat mendengar suara mesin mobil hidup, ia yakin kalau Aomine akan segara meninggalkan rumah ini. Tetsuya pun tanpa pikir panjang melompat melalui jendela dan sukses terjatuh dan seluruh tubuhnya terasa sangat menyakitkan namun ini kesempatannya. Dengan sisa tenaga yang ada Tetsuya pun berusaha berlari kearah pintu gerbang utama.

Krieett Brak…

Tetsuya tersenyum karena berhasil menghadang laju mobil Aomine walau dengan membuat dirinya tertabrak. Aomine pun langsung keluar dan melihat Tetsuya yang tengah dalam konsdisi buruk, Aomine pun segera menggendong Tetsuya masuk kedalam mobilnya.

"Demi Tuhan Tetsu, akan ku bunuh Akashi sialan itu." Gumam Aomine saat tengah menggendong tubuh Tetsuya yang sudah tidak sadarkan diri.

.

.

.

Akashi kembali ke kamar Tetsuya dan menemukan keadaan kamar yang kosong tanpa penghuninya dan jendela kamar yang terbuka, Akashi pu melangkahkan kakinya ke arah jendela.

"Kau berani juga ya Tetsuya."

-To Be Continued-

Yosh ! chap kedua rilis !

Akhir kata, SILAKAN BERIKAN REVIEW KALIAN…