Kim Doyoung (NCT)
X
Jung Jaehyun (NCT)
•
•
Desclaimer : Jaehyun and Doyoung belong to themselves.
Let me say thank you for reading my story first
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Matahari mungkin sudah berada pada seperempat posisinya sebelum ia berada di posisi teratasnya, menandakan bahwa ini bukanlah pagi hari lagi. Namun secerah apapun sang mentari melepas sinarnya, cahayanya tidak dapat menembus tirai gelap yang menjadi penutup kamar bernuansa biru gelap itu.
Begitu juga dengan sosok cantik yang tengah berbaring lemas di atas kasur berukuran king size itu. Doyoung mengerjapkan matanya, pelupuk matanya terasa berat, begitu juga dengan tubuhnya yang terasa remuk di setiap bagiannya.
Rasanya berat untuknya membuka mata ataupun bergerak, ia terlalu malas sampai-sampai ia sudah tidak tahu lagi sekarang pukul berapa atau hal apa saja yang sudah terjadi pada dunia dalam tiga hari terakhir karna ia menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam kamar entah itu untuk istirahat ataupun hanya untuk di gagahi sang suami.
Doyoung bergidik ngeri jika mengingatnya. Tangannya di gerakkan mendekat meja yang berada di sebelah ranjangnya meraih ponsel pintar miliknya. Setelah berhasil mendapatkan ponselnya ia menggulung tubuhnya dengan perlahan menjadi tiarap layaknya tentara.
Dalam balutan selimut, tubuh doyoung tidak memakai apapun, ia polos layaknya bayi yang baru saja lahir. Jika kalian mencoba melihat tubuh Doyoung, mungkin kalian akan merasa kasihan dengan begitu banyaknya ruam dan gigitan di setiap bagian tubuhnya.
Satu tangannya menggerakan jari-jarinya agar memencet layar ponselnya, mencari kontak sang ibu, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk mengelus leher lalu turun ke bahunya merasakan bekas gigitan yang kini menghiasi tubuhnya, ia meringis nyeri merasakan perih.
Doyoung menempelkan ponselnya pada telinga, ia menanti agar nada tunggu yang kini ia dengar segera di ganti oleh suara lembut sang ibu. Demi apapun Doyoung ingin ibunya sekarang juga dan ketika panggilannya terjawab belum sempat sang ibu berkata 'halo' Doyoung sudah terlebih dahulu menangis dalam telfon.
"Astaga Doyoung, ada apa nak?,"
Sang ibu yang merasa kaget dengan tangisan putrinya yang baru saja menikah itu tentu saja bingung, apa yang terjadi pada putrinya ? Baru tiga hari ia melepas putrinya tapi sang anak sudah menangis meraung-raung mengadu padanya.
Apa putrinya di siksa ? Apakah putra keluarga jung itu memukulnya sampai-sampai putri sulungnya itu menangis ? Pikiran-pikiran buruk seperti itu memenuhi otaknya.
"Doyoung sayang anak eomma, jangan menangis seperti itu kau membuat eomma takut, katakan ada apa sayang,?"
Sang ibu dengan sabar bertanya, ia khawatir jika hal buruk terjadi pada anaknya itu. Doyoung mencoba mereda tangisnya, nafasnya tersendat-sendat dan ingusnya mengalir dari hidung dengan sesegukkan ia berbicara pada sang ibu,
"Eommaaaa aku ingin pulang, aku sudah tidak sanggup lagi hikss,"
"Jaehyun ini maniak eomma, ia menyetubuhiku terus-terusan, rasanya seluruh tubuhku akan remuk kapan saja hiks hiks..,"
Ahh~ sekarang ia mengerti, ini Doyoung, putrinya ini memang sedikit berbeda daripada anak perempuan pada umumnya, seharusnya ia tahu apa yang akan di tangisi oleh anaknya ini.
"Doyoungie~, eomma tidak bisa berbuat apa-apa nak,"
"Itu kewajibanmu melayani suamimu dan sekalipun eomma mau membawamu pulang, itu mustahil nak, kau tahu itu kan ?," jawab sang ibu lirih
sungguh ia tidak tega mendengar putrinya itu menangis, mungkin hanya Doyoung yang akan menangis di telfon hanya karna ia baru saja di setubuhi oleh suaminya, yah mungkin hanya Doyoung putrinya yang melakukan hal ini.
"Tapi aku benar-benar tidak tahan lagi eomma, ia...," ucapan doyoung terputus oleh suara panggilan dari balik pintu,
"Nyonya, apa anda sudah bangun?,"
Belum selesai Doyoung mengadu, ia sudah terlebih dahulu di interupsi oleh pelayan rumah tersebut, Doyoung yang terkejut dengan secepat kilat mematikan telfonnya seakan-akan ia tengah terciduk melakukan hal jahat.
"I..Iyaaa,?," teriak doyoung gagap,
Ia menggerakan tubuhnya yang terasa berat turun dari ranjang besar itu, kaki-kaki kurusnya menopang tubuh sintalnya, ia merapikan seprei tidurnya, sebelum akhirnya ia tarik hingga lepas karna Doyoung rasa seprei itu sudah tidak layak pakai karna ia bisa melihat bercak-bercak bekas sperma dan jangan lupakan baunya yang menyengat, ia rasa setelah ini ia harus segera mencucinya.
Doyoung menggumpalkan seprei beserta bedcover dan selimutnya menjadi satu, ia menarik sebuah kain putih untuk menutup tubuhnya lalu membukakan pintu kamar.
"Aa..aada apaa?," dengan gugup Doyoung bertanya,
"Nyonya besar memerintahkan sayang untuk memanggil anda karna sebentar lagi jam makan siang, nyonya besar takut anda melewati jam makan seperti kemarin ," jelas sang pelayan,
Doyoung hanya mengangguk dan meminta sang pelayan untuk memberitahu sang mertua bahwa ia akan mandi terlebih dahulu sebelum bergabung.
Sang pelayan mengangguk tanda mengerti, matanya tertuju pada tumpukkan kain kotor dan dengan sigap ia berjalan masuk kedalam kamar jaehyun dengan sopan, mencoba mengambil tumpukan seprei kotor yang ia lihat, Doyoung yang awalnya diam saja buru-buru menahan tangan sang pelayan, dengan wajahnya yang memerah Doyoung menggeleng melarangnya,
"Tidak perlu repot-repot nona, saya akan mencucinya sendiri,"
"Eh.. tapi nyonya ini tugas saya," sang pelayan masih mencoba meraih tumpukkan kain kotor itu, ia melepaskan tangan Doyoung dengan sopan tapi Doyoung justru berdiri di depan tumpukan seprei itu, wajahnya masih saja merah .
"Sungguh, biar aku mencuci ini sendiri, ini terasa memalukan jika di cuci orang lain,"
Sang pelayan terkejut dengan tingkah lucu nyonya barunya ini, Ia bisa tahu bahwa seprei itu kotor karna apa melihat bagaimana tanda cupang di leher Doyoung tampak begitu jelas dan mengerikan tapi mendengar kata malu yang di lontarkan Doyoung, sang pelayan terkekeh sendiri, oh ayolah ia ini asisten rumah tangga sudah tugasnya untuk mengerjakan ini tanpa harus protes ataupun kepo.
"Nyonya, tidak apa-apa ini memang tugas saya, anda tidak usah malu karna saya akan bersikap pura-pura tidak tahu seprei ini kotor karna apa,"
"Saya permisi dulu nyonya,"
Sang pelayan meninggalkan doyoung, sebelum pergi ia mengedipkan sebelah matanya seolah-seolah memberi sinyal pada Doyoung, sementara yang ditinggal hanya melongo dengan wajahnya yang sudah merah terang seperti kepiting rebus.
•
Selesai mandi Doyoung memakai kaos lengan panjang bermodel turtle neck, ia harus menutupi tanda-tanda merah di lehernya, lalu di padu dengan rok model lingkaran yang panjangnya hingga lutut.
Rambut hitamnya ia biarkan terurai karna rambutnya itu belum sepenuhnya kering, sementara wajahnya hanya ia berikan pelembab dan sedikit lipstick berbasis air berwarna merah cerah yang membuat Doyoung berlipat-lipat kali cantiknya walau hanya dengan polesan natural.
Sebelum keluar kamar, Doyoung menyempatkan untuk mengirim pesan maaf pada sang ibu dan berjanji akan menelfonnya lagi, lalu ia tinggalkan ponselnya di atas meja begitu saja.
Doyoung menuruni anak tangga satu persatu perlahan seolah takut merusak tangga tersebut, lalu berjalan menuju dapur, ia bisa melihat bagaimana sang mertua sibuk mencontohkan pelayan-pelayannya mengenai apa yang ingin ia buat.
"Maaf karna aku kesiangan eommonim, aku sedikit kelelahan ,"
Ucap Doyoung penuh penyesalan menarik perhatian sang mertua, suara lembutnya benar-benar di sukai oleh nyonya jung, belum lagi wajah ayunya yang membuat siapapun tak tega untuk memarahinya.
"Astaga, tidak apa-apa sayang, bukan salahmu jika kau bangun kesiangan seperti ini, eomma juga dulu pernah mengalaminya ketika muda,"
"Lagian biar nanti eomma marahi si Jaehyun itu,"
Hibur sang mertua mencoba memenangi hati Doyoung, ia sangat tahu luar dalam bagaimana sifat pemalu dan kaku menantunya ini, toh ia tidak bisa menyalahkannya lagipula di jaman maju begini, langka baginya untuk mendapati menantu seperti Doyoung lagi.
Doyoung hanya mengangguk malu-malu, ia berjalan mendekat lalu meminta agar sang pelayan memberikannya pisau dapur, doyoung sangat suka memasak, ia dengan senang hati akan membantu tanpa diminta sekalipun.
"Ada yang bisa kubantu eommonim ?,"
"Tidak usah kau cukup di sini saja dan temani eomma mengobrol, tapi jika kau memaksa dengan senang hati eomma terima bantuanmu,"
"Lagipula dari dulu eomma sangat ingin memasak bersama anak perempuan cantik sepertimu tapi sayang yang eomma punyanya anak laki-laki macam Jaehyun,"
Canda sang mertua, ia juga mengusir pelayan-pelayannya untuk mengerjakan hal lain karna ia ingin bersama sang mantu sementara Doyoung hanya menggeleng-geleng kecil, ia malu karna mertuanya terlalu berlebihan memujinya.
"Terima kasih eommonim tapi aku tidak sebaik itu,"
"Yya! Kau memang anak baik doyoung-ah dan berhenti memanggilku eommonim, cukup eomma saja, mengerti ? Kau itu sudah jadi anakku sekarang dan kau itu benar-benar anak baik hohoho," titah nyonya Jung di selingi tawah ringannya,
"Baik eomma." Doyoung hanya mengangguk dan tersenyun kecil dengan tingkah mertuanya.
Doyoung menyukai mertua wanitanya ini, selain baik ia juga ramah, sopan dan penyayang. Tapi sayang wanita sebaik ini putranya binal dan menyeramkan pikir doyoung.
Mereka larut dalam dunia mereka sendiri, sibuk dengan obrolan mereka entah itu tentang kesukaan mereka yang sama ataupun tentang pekerjaan Doyoung sebagai desainer pakaian freelance terutama untuk anak-anak, Doyoung tidak bisa memungkiri bagaimana ia sangat menyukai anak kecil.
Saking sibuknya dengan dunia mereka sendiri, kedua mertua dan menantu itu tidak menyadari sosok lain yang berdiri di belakang mereka, itu Jaehyun, ia baru saja pulang, membolos kerja dengan alasan makan siang.
Sebenarnya pekerjaan jaehyun sudah hampir selesai dan juga itu perusahaannya sendiri dan ia adalah pengantin baru tapi sudah sibuk saja berkencan dengan kertas-kertas dan kerjaan kantornya.
Oleh karna itu Jaehyun berusaha secepat mungkin untuk menyelesaikan pekerjaannya karna ia memiliki rencana hebat untuk lusa nanti.
Jaehyun berdiri di belakang di antara Doyoung dan ibunya lalu memeluk mereka.
"Wahai wanita-wanita cantikku kalian sedang memasak apa hmm,?" Tanya Jaehyun menggoda.
Ia mencium pipi sang ibu lalu memalingkan wajahnya ke arah Doyoung dan mengecup bibir istrinya sekilas, 'manis seperti biasa' pikir Jaehyun.
Sang ibu yang kaget mendepak kepala Jaehyun lalu mencubit tangan kekar putranya. Jaehyun meringis, ibunya ini benar-benar berkepribadian ganda.
"Yyak!! Anak nakal kau mengagetkanku, Apa kau ingin eommamu ini cepat menemui ajal hah?!," marah sang ibu.
Nyonya Jung kaget ketika tangan kekar putranya melingkar di pinggangnya dan mencium pipinya, sebenarnya tidak ada masalah ia hanya kaget saja, biasanya ia akan dengan senang hati memeluk dan mencium putra semata wayangnya itu walaupun ia sudah mendekati kepala tiga itu.
Jaehyun hanya mempoutkan bibirnya, setelah mendepak dan mencubit lengannya sang ibu juga menjewer telinga Jaehyun. Memarahi sang putra atas ulahnya pada menantu baru kesayangannya.
"Kau apakan anak perempuanku ini hah?! Ia bangun kesiangan dan kelelahan karnamu,"
"Lain kali ngerem sedikit Jung Jaehyun."
Marah sang ibu, Jaehyun yang tidak terima di marahi menyahut dengan mulut tidak sopannya.
"Untuk apa kunikahi jika di setubhmmmpp...,"
Sebelum Jaehyun menyelesaikan ucapannya Doyoung buru-buru membekap mulut Jaehyun, astaga apa pria ini gila? Doyoung tidak habis pikir dengan si Jaehyun ini.
Jaehyun terkejut ketika tangan Doyoung membekapnya, biasanya Doyoung sangat menjaga jarak darinya, satu-satunya kesempatan untuknya menempel pada Doyoung adalah ketika mereka bercinta.
Iseng Jaehyun menciumi telapak tangan Doyoung, merasa geli sang empunya langsung menarik tangannya tapi di tahan dan di genggam oleh Jaehyun sementara sang ibu hanya tertawa melihat romansa anak dan menantunya, 'ahh senangnya' pikir sanga ibu.
"Daripada aku di siksa nenek sihir ini, aku akan pergi mandi terlebih dahulu dan panggil aku jika kalian sudah selesai bergosipnya,"
Jaehyun mengecup punggung tangan Doyoung lalu kabur dengan cepat meninggalkan ibunya yang baru saja akan memukulnya lagi dan Doyoung yang terdiam dengan ulah Jaehyun, wajahnya memerah lagi.
"Sudah, tidak usah malu, pengantin baru memang seperti itu."
Doyoung hanya mengangguk dalam diam, Ia melanjuti pekerjaannya lagi dan mencoba menahan detakan jantungnya yang berdetak kencang, Ia malu dan gugup.
'Ya tuhaan mau saja mati rasanya T.T' Pikir Doyoung.
•
Doyoung membuka pintu kamar Jaehyun gugup, Pria itu bilang ia akan mandi, tapi ia tidak mendengar suara gemercik air shower sama sekali.
Ia memalingkan wajahnya memeriksa mungkin saja pria itu ada di atas kasur tapi nihil. Doyoung tidak mau ambil pusing memikirkan di mana pria itu berada, ia kembalikan atensinya pada pintu kamar mandi lalu mengetuknya dan sedikit berteriak dengan suara halusnya.
"Anoo... Jaehyun-ssi, makan siangnya sudah siap, Kami akan menunggumu di bawah," Tidak ada sahutan dari Jaehyun, Doyoung memberanikan diri untuk memanggil jaehyun lagi,
"Jaehyun-ssi, apa kau di dalam? Kami akan menunggumu, tolong jawab!,"
Kali ini Doyoung memberikan penekanan pada ucapannya hingga ia mendapatkan jawaban singkat, padat dan jelas dari Jaehyun yang terdengar seperti mendesah...
"Yaaaa..."
Merasa dirinya tidak akan aman jika berada lama-lama di kamar, Doyoung berniat tancap gas saat itu juga, namun ia mengingat bahwa ia juga mau mengambil ponselnya.
Dengan tergesa-gesa Doyoung berjalan menuju meja kecil di samping ranjanganya. Ia mengambil ponselnya lalu mengecek, ada beberapa pesan masuk dari teman-teman dan ibunya.
Doyoung mau saja membalasnya sekarang tapi ia harus keluar dari kamar terlebih dahulu.
Baru saja ia memutar tubuhnya, ia menabrak sesuatu yang keras tapi lembut, karna kaget tubuhnya sedikit oleng dan hampir jatuh tapi tidak jadi karna sebuah tangan melingkari pinggangnya.
Doyoung yang tadinya berpikir bahwa ia akan jatuh dan menabrak meja kaget ketika tubuhnya di tahan oleh Jaehyun yang entah darimana tiba-tiba saja Jaehyun sudah keluar dari kamar mandi dan berdiri di belakangnya.
Jaehyun tersenyum menyeringai, senang mendapati sang istri tepat pada waktunya. Ia lalu menarik Doyoung agar berdiri dengan sempurna dan mendekat padanya tanpa melepas pelukan pada pinggang Doyoung.
Sementara sang wanita hanya menatap Jaehyun kaget karna pria itu tiba-tiba saja berada di hadapannya dengan rambut basah dan tubuhnya yang hanya di tutupi oleh handuk yang melingkar di pinggangnya.
Tangannya berada di dada bidang Jaehyun, dengan satu tangan menahan agar pria itu tidak menempelkan tubuhnya dan tangan yang lainnya terjepit di antaranya dengan handphone dalam gengamannya.
Atmosfir di dalam kamar jaehyun terasa panas dan sesak, Doyoung merasa risih, ia menggerakan kakinya untuk menarik tubuhnya menjauh tapi sialnya paha Doyoung tidak sengaja menyetuh bagian selatan Jaehyun, bisa ia rasakan bagaimana kerasanya milik Jaehyun di bawah sana.
' Gawat' pikir Doyoung, Dengan panik ia buru-buru mencoba memecah keheningan di antara mereka tapi di dahului oleh Jaehyun yang memperingatinya untuk berhati-hati.
"Berhati-hatilah sayang,"
"Aaa.. Aaaku akan lebih berhati-hati lain kali ,"
"Benarkah? Kau sering sekali hampir terjatuh begini," tangan Jaehyun yang bebas mengelus pipi Doyoung yang menegang ketika ia sentuh sedangkan Doyoung hanya mengangguk mengiyakan.
"Lagipula kenapa kau buru-buru sekali?,"
"Itu karna eomma mu hanya menyuruhku untuk memanggilmu, aku jadi tidak enak jika meninggalkannya sendirian terlalu lama,"
"Ia tidak sendirian sayang, ada banyak pelayan di bawah sana yang menemani dan mungkin ayahku sudah di sana," ucap Jaehyun lalu menjatuhkan kepalanya pada pundak Doyoung, menghirup aroma harum yang di hasilkan tubuh sang istri.
Gila, ia tidak tahu bahwa seseorang bisa memiliki harum tubuh semanis ini. Hidung mancungnya menempel di permukaan kulit leher lembut Doyoung .
Doyoung yang merasakan tanda bahaya, mencoba mendorong Jaehyun, ia mulai mencari-cari alasan agar Jaehyun melepasnya.
"Kaa..Kaaalau begitu ayo cepat turun, tidak enak jika ayahmu sudah menunggu kita untuk makan di bawah kan?,"
"Hmm?," Jaehyun menarik wajahnya dari leher Doyoung, alis kanannya terangakat, sementara bibirnya tersenyun dengan sangat manis hingga menunjukkan dua lubang di pipinya.
Oh ini buruk, pikir Doyoung, belum sempat ia menjawab Jaehyun lagi-lagi memotongnya.
"Biar saja, mereka pasti mengerti kenapa kau tertahan disini lagipula daripada makan di bawah aku lebih ingin memakanmu." Ucap Jaehyun, suara baritonenya terdengar sangat-sangat berat dan dalam.
Alarm dalam diri Doyoung berbunyi tanda bahaya akan menghampirinya, dengan nyali kecilnya doyoung mencoba untuk menanyakan pernyataan Jaehyun,
"Apahmmmppphh," Namun belum selesai Doyoung berbicara, Jaehyun terlebih dahulu membungkamnya dengan ciuman.
Jaehyun menghisap bibir bawah doyoung, meminta akses masuk kedalam mulut Doyoung, merasa tidak ada balasan pria itu menggigit ujung bibir doyoung hingga sang empunya merasakan nyeri dan membuat celah bagi Jaehyun untuk menerobos masuk.
Tanpa ragu lidah Jaehyun menjalar masuk, mengeksplore tiap inci bagian mulut doyoung lalu menautkan lidah mereka satu sama lain, Doyoung bisa merasakan ciuman mereka terasa basah dan panas, ia tau jika sudah begini Jaehyun tidak akan melepasnya.
Setelah puas dengan bibir Doyoung, Jaehyun melepas ciumannya, meninggalkan untaian saliva di antara bibir mereka.
Doyoung menarik nafas sebanyak yang ia bisa, Ia merasa mual karna kehabisan nafas dan juga jijik karna harus berbagi saliva dengan Jaehyun ketika berciuman.
Tapi Jaehyun mendorong tubuh Doyoung tanpa perduli apakah wanita itu sudah selesai memulihkan diri atau belum. Ia lalu merangkak naik ke atas tubuh Doyoung yang masih syok ketika di dorong jatuh ke atas ranjang.
Jaehyun menarik kaos doyoung ke atas hingga menyembulkan sepasang payudara sintalnya yang kini menjadi hal yang paling ia suka, jaehyun tersenyum senang melihat tanda yang ia buat di setiap bagian tubuh doyoung, lalu menyingkap rok selutut Doyoung.
Jujur sepertinya Jaehyun lebih suka doyoung telanjang daripa berpakaian tidak peduli seindah apapun pakaian itu.
Doyoung mencoba menahan Jaehyun dengan mencengkram tangan kekar sang suami. Tapi jaehyun masih saja tidak memperdulikannya, oh ayolah, Doyoung bahkan masih bisa merasakan bagaimana nyerinya kemaluannya, apa Jaehyun tidak kasihan dengan dirinya?.
Ia bisa merasakan tangan Jaehyun begerak mengelus kemaluannya yang masih tertutup cd lalu menusuk-nusuknya, lalu jari-jari panjang itu mennyampingkan kain tipis yang melindungi kewanitaan doyoung dan memasukkan dua jarinya.
Doyoung kaget ketika dua jari jaehyun menerobos kewanitaannya lalu bergerak keluar masuk mengocoknya. Kepalanya menggeleng sementara tangannya mencoba menarik tangan jaehyun.
"Akkkhh, Jaehyun-ssi kumohon hentikaanghh,"
Suara doyoung bergetar di selingi desahan, ia menahan tangis, Jaehyun mengabaikannya, yang benar saja, apakah Doyoung harus selalu menangis ketika ia setubuhi? Bukankah seharusnya ia senang berbagi nikmat dengannya? Pikiran seperti itu menghampirinya namun lagi jaehyun mengabaikannya.
Libido nya sudah di puncak, ia pulang memang untuk makan siang dan tentu saja untuk makan istrinya. Jarinya terus bergerak menjamah kewanitaan doyoung, lilitan handuk pada pinggangnya sudah lepas dan ia tidak peduli, Jaehyun menempelkan kejantanannya di paha doyoung.
Doyoung bergidik ngeri ketika benda tak bertulang itu menyentuhnya, matanya mulai berair, tidak lagi ia tidak mau di setubuhi lagi oleh jaehyun, tubuhnya masih sakit.
"Ahhh nggghhh berhentihh...ngaahhhh ,"
Doyoung menjerit panjang ketika ia mendapatkan pelepasnnya, sial! Otak dan tubuhnya tidak bisa kerja sama.
Jaehyun menarik keluar jarinya, ia fokus pada dunianya, di rasa Doyoung sudah basah di bawah sana dan di sisi lain ia juga sudah sangat tegang.
Jaehyun melebarkan paha doyoung, dengan tubuhnya menindih doyoung, bisa ia lihat dengan jelas bagimana kewanitaan doyoung tampak menggodanya.
Jaehyun mengocok kejantanannya lalu memposisikannya di depan lubang kewanitaan doyoung sementara doyoung mencoba menahan pinggang jaehyun, tangan kurusnya mendorong perut atletis jaehyun.
"JaehyunnnHhaahhhhh, kumohonmmhhh ngghh berhentihhhh,"
Doyoung dengan sekuat tenaga mencoba menghentikan Jaehyun ketika ia rasa setengah dari kejantanan jaehyun mulai memenuhi kewanitaannya, tapi pria itu seolah menulikan pendengarannya.
Jaehyun menarik mundur pinggulnya menyisakan kepala kejantanannya di bibir kewanitaan Doyoung, ia melebarkan paha Doyoung agar memberi akses yang lebih leluasa karna doyoung masih saja terasa sempit walaupun sudah ia gagahi berkali-kali.
Ketika Jaehyun sudah bersiap mengambil ancang-ancang untuk mendorong miliknya masuk sebuah gedoran di pintu kamarnya menghancurkan segalanya.
"Jung Jaehyun!!! Ini masih siang, apa yang kau lakukan pada menantuku hah?!!,"
"Aku menyuruhnya memanggilmu tapi ia tak kunjung turun, mau apa kau siang bolong begini Jaehyun!!," teriak sang ibu di ikuti gedoran di pintu kamar Jaehyun yang semakin menjadi kerasnya.
"Jaehyun!!! Buka pintu ini atau ibu akan menggantungmu terbalik di dalam kamar!,"
Ibunya berteriak lagi dari balik pintu dengan penuh amarah, nyonya besar rumah Jung itu kini mengancam putranya.
Jaehyun mendecih sebal mendengar teriakan dan ancaman dari sang ibu. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Doyoung lalu melepas sang istri dari kukungannya. Wajahnya menatap Doyoung dengan datar.
Doyoung buru-butu berdiri dan membenahi pakaiannya, sementara Jaehyun melilitkan kembali handuknya. Kain tipis itu menutupi bagian bawah Jaehyun yang tampak menggembung seperti balon.
Jaehyun berjalan dengan malas membukakan pintu sementara Doyoung berdiri penuh harap ketika pintu kamar terbuka dan menampakkan wajah sang mertua yang tampak penuh amarah dan berapi-api. Ibu Jaehyun menerobos masuk kedalam kamar lalu memukulnya ,
"Eomma!! menantumu ini baik-baik saja kenapa aku masih juga di pukul," ketus Jaehyun,
Sang ibu hanya diam tidak menyahut, wanita itu tengah marah pada sang putra lalu pergi meninggalkan Jaehyun setelah memukulnya sekali lagi, Doyoung benar-benar berterima kasih pada sang mertua karna telah mewakilinya melampiaskan amarah sementara Jaehyun hanya meringis kesakitan.
Doyoung baru berjalan dua langkah membuntuti mertuanya namun tangannya di tahan kembali oleh Jaehyun, membuatnya terhenti lalu Jaehyun dengan cepat membisikkan sesuatu pada Doyoung. Jaehyun hanya tersenyum penuh kemenangan lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
"Bersiaplah, lusa nanti kita akan bulan madu" bisik jaehyun tadi,
Doyoung hanya diam mematung mendengar ucapan Jaehyun,
Sementara Doyoung hanya bisa menangis dalam hati
'Siapapun bawa aku kabur sekarag juga!! T.T' pikirnya.
•
•
•
•
•
•
•TBC•
Haiii, Aku balik lagi '-')/ aku berusaha buat update secepat yang aku bisa, dan kebetulan otaknya lagi encer yaudah deh cepet updatenya hehe.
Maaf yah Kalo banyak TYPO, ceritanya NGEBOSENIN dan KURANG HOT, aku hanyalah manusia biasa dan penulis abal-abal.
Sekali lagi aku ucapin MAKASIH buat yang baca dan jangan lupa buat komen, like, vote, follow, favorite,subscribe dan lain-lainnya atau apalah aku juga lupa KALO KALIAN NGERASA SUKA SAMA CERITANYA eheheh karna apresiasi kalian menyemangatkanku tapi kalo engga ya udah gapapa :)).
