The Boy
Cast : Kim Kai/Do Kyungsoo (Kaisoo)
Baekhyun
Chanyeol
Summary :
Menjadi pengasuh adalah awal niat Kyungsoo untuk mendapatkan uang selama menghabiskan liburan musim panasnya. Namun, siapa sangka, ia menjadi seorang pengasuh untuk sebuah..boneka. Ditambah, ia berada di sebuah rumah bergaya bangsawan eropa yang anehnya ada di negara Korea Selatan.
Genre : Horror, Supernatural, Romance.
Note : Ini terinsipari dari film the boy. Namun ada beberapa bagian yang tidak sama dengan film tersebut, cerita ini dibuat sedikit berbeda.
Chapter 1
Matahari bersinar dengan teriknya yang dapat menganggu siapapun yang berada dibawahnya. Namun tidak dihutan, sinarnya ditahan oleh pohon-pohon yang menjulang sangat tinggi, menyambut kedatangan seorang pria berbadan mungil yang berdiri di gerbang rumah besar bergaya eropa yang terlihat sangat megah.
Tangan kecilnya memegang sebuah koper yang tidak terlalu besar. Didepannya berdiri seorang pria tua yang sedang membuka gerbang besar yang menutupi jalannya untuk masuk kedalam rumah tersebut.
"Masuklah." Pak tua itu memberikan tanda pada pria kecil dibelakangnya dengan gerakan kepalanya, yang langsung dibalas dengan anggukan miliknya.
Do Kyungsoo, nama dari pria kecil yang melamar menjadi seorang pengasuh serta penjaga rumah selama liburannya di rumah yang begitu mewah. Tidak pernah menyangka dirinya akan bekerja di rumah yang begitu besar, ia hanya berniat untuk mengumpulkan uang selama liburan musim panas dan Baekhyun menawarkan pekerjaan ini padanya. Ia bahkan tidak pernah tau jika ia akan bekerja di tengah hutan. Bukannya ia seorang penakut, namun, berada di rumah yang ada ditengah-tengah hutan tanpa seorangpun rumah tetangga, terlihat sedikit menyeramkan. Dan jujur, Kyungsoo sebenarnya tidak terlalu bisa mengurus anak, maka dari itu, ia hanya berharap anak yang akan ia jaga tidak menyusahkan.
"Tuan Kim sedang berada di luar, jadi kau bisa menunggu di ruang tamu. Aku akan pergi."
"Kau akan pergi?" Kyungsoo bertanya dengan ragu, ia belum rela ditinggalkan sendirian tanpa petunjuk apapun. Pria tua tersebut mengangguk.
"Apa disini tidak ada pekerja lain?"
"Tidak, hanya ada kau. Tuan Kim tidak terlalu suka memiliki banyak pekerja yang masuk ke rumahnya. Sekali pun ada, mereka pastilah bekerja seperti diriku. Hanya datang saat diperlukan, jadi kami tidak perlu masuk ke dalam rumahnya."
Kyungsoo meneguk salivanya dengan sulit sebelum mengangguk, "baiklah, terima kasih telah mengantarkanku."
Tanpa berkata apapun lagi, pria tua tersebut berbalik dan kembali menutup gerbang tanpa menguncinya. Dalam hitungan beberapa menit, Kyungsoo sudah berada di depan pintu sendirian. Ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya dengan pelan. Hanya sebulan, setelah itu, ia bisa pergi dari tempat ini dan ia akan menghajar Baekhyun karena tidak memberi tau lokasi tempatnya bekerja.
"Permisi." Kyungsoo membuka pintu kayunya dengan palan, kepalanya mengintip dengan pelan ke dalam rumah tersebut. Mata bulatnya terbuka lebar menatap takjub ruangan di dalamnya. Sungguh elegan. Lukisan serta pahatan menghiasi dinding-dindingnya dengan sangat indah. Kaki kecilnya mulai melangkah masuk, tidak lupa untuk membuka sepatunya dan berjalan mengelilingi ruangan untuk menjelajah lebih dalam.
Ia berniat untuk menaiki tangganya, melihat lebih jauh seberapa besar dan indahnya rumah ini, namun ia mengurungkan niatnya karena ia merasa dirinya sangat tidak sopan masuk tanpa seizin pemilik rumah. Saat dirinya hendak berbalik, ia lebih dulu dikagektan dengan suara berat di belakangnya.
"Kau Kyungsoo?" Kyungsoo berbalik dan menunduk penuh hormat pada pria di depannya. Jika dilihat, sepertinya pria di depannya adalah Tuan Kim. Ia terlihat masih..muda, sangat muda. Padahal awalnya Kyungsoo kira, Tuan Kim adalah pria tua yang berumur seperti ayahnya, namun ia salah, Tuan Kim sangat terlihat tampan dengan kulit yang sangat putih, bahkan terlihat sangat pucat.
"Ah ya, maaf atas ketidaksopananku, tuan."
"Tidak masalah. Ikutlah denganku." Kyungsoo mengangguk dan mengikutinya berjalan dibelakang seorang pria tersebut. Kyungsoo melihat seorang pria cantik yang berdiri dengan tangan yang dilipat di dadanya, matanya terus menatap kearahnya. Siapa pria ini? Apakah ini anak Tuan Kim yang akan ia asuh? Ia terlalu besar dan dewasa untuk diasuh.
"Kyungsoo, perkenalkan, namaku Kim Suho dan ini istriku, Kim Yixing." Kyungsoo membulatkan matanya, ia kira, istri Tuan Kim adalah seorang wanita, namun ini diluar ekspetasinya. Istrinya adalah seorang..pria.
"Salam kenal Tuan dan Tuan..Kim, nama saya Do Kyungsoo." Ucap Kyungsoo dengan sopan dan kembali menundukan kepalanya. Sejujurnya ia sedikit bingung bagaimana ia memanggil Yixing.
"Panggil aku semaumu, Kyungsoo. Tidak perlu takut. Nyonya dan Tuan tidak masalah bagiku. Ah Kemana sepatumu?" Yixing bertanya dan mengarahkan matanya pada kaki Kyungsoo yang hanya mengenakan kaus kaki berwarna hitam.
"Ah saya menaruhnya di depan pintu tadi."
"Ambilah dan kita akan berbicara di ruang tengah."
Depan cepat Kyungsoo berjalan ke arah pintu yang ada di belakang Tuan Kim, mata bulatnya mencari-cari sepatu hitamnya, namun nihil, ia tidak melihat apapun disana. Padahal ia melepaskan sepatunya tepat di depan pintu, bagaimana bisa sepatunya menghilang?
"Ada apa?" Yixing berdiri di samping Kyungsoo yang masih terlihat mencari sepatunya.
"Sepatuku menghilang."
"Ah mungkin anakku mengambilnya, ia sedikit nakal jadi tolong maafkan dia. Mungkin besok sepatumu akan kembali." Kyungsoo menautkan kedua alisnya, ia bahkan sejak tadi tidak melihat siapa-siapa dirumah ini. Demi tuhan bagaimana bisa anak kecil mengambil sepatu tanpa terdengar suara langkah kaki?
Yixing menuntun Kyungsoo ke ruang tengah. Mereka bertiga berdiri dengan canggung. Hanya ada kursi yang berada di tengah-tengah ketiganya dan memunggungi Kyungsoo.
Kyungsoo menatap kursi itu dengan aneh, apalagi ketika Tuan Yixing berlutut untuk sejajar dengan kursi dan tersenyum manis, "Hari ini pengasuhmu sudah datang, ia terlihat manis. Apakah kau menyukainya?"
'Apa ia sedang berbicara dengan anaknya?' Pikir Kyungsoo.
Tuan Yixing tersenyum lebar dan mengelus rambut anaknya dengan gemas. "Kai menyukaimu. Ia bilang baumu sangat manis."
Sungguh, Kyungsoo penasaran bagaimana wujud anak yang akan ia asuh. Dan apa katanya? Baunya? Ia bahkan tidak memakai parfurm hari ini.
"A-ah benarkah? Terimakasih."
"Kesinilah, Kai ingin berkenalan denganmu." Kyungsoo menurut. Ia berjalan ke depan kursi dengan langkah pelan. Matanya membulat dengan lebarnya ketika melihat sosok anak yang duduk di kursi tersebut. Ah bukan sosok anak, tetapi sosok boneka berwujud seorang anak.
Kyungsoo melihat Tuan Suho dan istrinya secara bergantian, meminta penjelasan dari keduanya. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan yang seakan memaksa dirinya untuk berbicara pada boneka di depannya.
Dengan gerakan yang lambat, ia menyamakan tingginya dengan boneka tersebut. Tidak lupa senyuman manis yang sedikit dipaksakan terpasang di wajah manisnya, tangan kecilnya memegang tangan boneka tersebut dengan pelan, "Halo Kai, Namaku Kyungsoo. Hari ini aku akan menjadi pengasuhmu."
Setelah itu, Kyungsoo mengangkat kembali tubuhnya. Ia tersenyum canggung ketika kedua Tuan Kim tersenyum bangga kearahnya. Ah ingin rasanya ia pergi dari sini, semuanya terasa sangat aneh baginya. Bagaimana tidak? Ketika ia harus mengasuh boneka dan bukan manusia. Bahkan bonekanya terlihat sangat menyeramkan namun juga ia akui terlihat sedikit tampan.
Kyungsoo menarik nafasnya dalam-dalam. Ia tidak boleh takut. Ia tidak pernah takut pada apapun. Ini hanyalah boneka, apa susahnya merawat boneka?
"Baiklah Kyungsoo, ini kegiatan yang harus kau lakukan untuk Kai. Kami akan berlibur ke Australia, sudah lama sekali sejak kami berlibur karena tidak ada yang merawat Kai. Kau bisa membacanya sendiri kan?" Kyungsoo mengangguk seraya menerima sebuah kertas dari Tuan Yixing sebelum beliau menggendong Kai dengan erat, seakan-akan takut untuk pergi darinya.
"Aku akan merindukanmu sayang. Kami tidak akan lama."
Tuan Suho menepuk pundaknya dan sedikit berbisik di telinganya, "Kau harus baik padanya. Ia berada disini, ia selalu ada disini. Ia tidak akan nakal jika kau berbuat baik padanya."
Kyungsoo meneguk salivanya dan tersenyum kaku, kata-kata Tuan Suho terdengar sangat aneh dan sedikit menyeramkan di telinganya.
"Tenanglah, ia tidak akan macam-macam. Kami akan kembali setelah liburan selesai. Jangan takut seperti itu." Tuan Suho tertawa dan menepuk-nepuk punggung Kyungsoo dengan keras. Sungguh lelucon yang sangat tidak lucu.
"Kami akan bersiap-siap. Kyungsoo, tolong peganglah Kai. Aku ingin mengambil koper."
Kyungsoo menggendong Kai, ia menghela nafasnya berkali-kali. Oh sungguh ia terlihat seperti anak perempuan. Tidak berapa lama, sekarang ia telah berdiri di depan pintu mengantarkan kepergian Tuan Kim untuk berlibur.
"Kami akan berangkat. Tolong baca kertas yang sudah aku berikan padamu. Berhati-hatilah." Kyungsoo mengangguk dan melambaikan tangannya. Tunggu, berhati-hati? Bisakah keluarga Kim memberitahu semuanya dengan jelas? Kenapa harus dengan kata-kata yang menggantung?! Ah Kyungsoo benar-benar membencinya.
Setelah kepergian Tuan Suho dan Tuan Yixing. Ia meletakkan Kai di kursi meja makan dan mendudukkan dirinya dihadapan Kai. Tangannya mengambil kertas pemberian Tuan Yixing yang ia simpan di kantung celananya dan mulai membacanya.
Kegiatan yang harus dilakukan untuk merawat Kai.
1. Bangunkan ia jam 4 sore, Kai sangat tidak menyukai matahari, jadi jangan membawanya ke halaman pada siang hari.
2. Berikan dia makanan sore dan malam. Jangan lupakan minuman berwarna merah yang aku tinggalkan di kulkas. Itu hanya untuk Kai jadi tidak boleh ada yang meminumnya.
3. Jangan pernah meninggalkannya sendiri.
4. Selalu nyalakan musik untuknya. Kai sangat suka berdansa.
4. Bacakan cerita sebelum ia tidur.
5. Berikan ciuman selamat malam.
'Ciuman?' Batin Kyungsoo. Oh ayolah, kenapa juga ia harus mencium boneka setiap malam sebelum tidur. Boneka itu bahkan tidak menutup matanya ketika tidur. Keluarga ini benar-benar gila. Bagaimana bisa Baekhyun menawarkannya bekerja disini?
Ia hendak menutup kertas tersebut sebelum manik matanya menangkap sebuah tulisan miring dan kecil yang berada di paling bawah.
Note: oh sebenarnya Kai menyukai tidur menjelang pagi, jadi jangan terganggu ketika kau mendengar suara dari kamarnya karena Ia akan berdansa di tengah malam. Tapi tidak salah bukan memberikan ciuman dan dongeng sebelum tidur?
Kyungsoo menatap Kai yang ada di hadapannya. Mata tajam Kai seolah-olah ikut menatap dirinya. Kyungsoo memeluk dirinya sendiri ketika merasakan bulu kuduknya merinding. Ah hawa yang menyeramkan.
"Oke Kai, jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Ini hampir makan malam. Aku akan memasak sesuatu dulu. Tunggulah sebentar."
Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa bodoh berbicara pada boneka. Tapi toh hanya ada dirinya dan Kai jadi mungkin tidak masalah berbicara dengan boneka. Hal ini dapat membantunya menghilangkan sedikit rasa takutnya. Mungkin ini juga yang dirasakan perempuan ketika berbicara dengan bonekanya.
Setelah makan malam selesai, Kyungsoo menaruh makanan Kai dan minuman yang berwarna merahnya yang masih utuh di dalam kulkas. Ia tidak membuang makananya. Karena Tuan Yixing memberitahunya untuk tidak membuang makanan. Dan ia harus menyimpannya kembali kulkas.
Kyungsoo menggendong Kai dan berjalan ke kamar Kai yang berada tepat berhadapan dengan kamarnya. Ia meletakkan Kai dengan pelan sebelum memakaikan selimutnya. Tidak lupa untuk membacakan sedikit cerita dongeng yang pernah diceritakan ibunya dulu padanya.
"Sudah larut, tidurlah Kai. Selamat malam." Ucap Kyungsoo. Ia langsung keluar dari kamar Kai tanpa memberikan ciuman selamat malam pada boneka tersebut karena Kyungsoo masih merasa tidak nyaman untuk mencium boneka padahal notabenya ia adalah seorang laki-laki.
Dengan cepat Kyungsoo menutup pintu kamarnya sebelum sekilas melihat Kai yang masih seakan-akan masih menatapnya.
"Ah benar-benar menyeramkan!" Kyungsoo memegang dadanya yang terasa berdetak dengan sangat cepat. Sedari tadi ia menahan diri agar tidak lari dari Kai.
"Aku akan membunuh Baekhyun!"
Pria kecil itu merebahkan tubuhnya di kasur dan mengambil telepon genggamnya yang ada di meja di sampingnya. Untunglah masih ada sinyal telepon untuknya, jadi Kyungsoo tidak terlalu merasa sendiri dirumah ini selama ia masih mempunyai telepon. Tangannya menekan tanda telepon pada kontak Baekhyun.
"Halo?"
"Ya Baekhyun! Kenapa kau tidak bilang rumahnya ada di tengah hutan?"
"Aish, bisakah kau tidak berteriak di telingaku? Lagian, mana aku tau kalau rumahnya di hutan. Tunggu kau sungguh berada di hutan?"
"Menurutmu?"
Ingin rasanya Kyungsoo mencabik mulut Baekhyun ketika mendengar sahabatnya itu tertawa, "Maafkan aku. Aku sungguh tidak tau. Apa kau merasa takut? Apakah seorang Do Kyungsoo takut dengan hutan?" Goda Baekhyun.
"Siapa yang tidak takut ketika kau bekerja di rumah yang berada di tengah hutan tanpa seorangpun tetangga dan terlebih lagi kau mengasuh sebuah boneka."
"Boneka?"
"Ya, aku mengasuh boneka anak kecil bukan seorang anak kecil."
"Tunggu, kau serius? Ka-Kau sungguh merawat boneka?"
"Boneka yang terlihat seperti anak manusia dan terlihat sangat sempurna itu? Dengan wajah rupawan dan mata besar nan tajam yang seakan-akan..menelanmu hidup-hidup." Kyungsoo mengerutkan keningnya ketika mendengar Baekhyun yang terdengar sedikit..bergetar.
"Ada apa? Kau kenapa?"
"Pergi Kyungsoo."
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti. Kau yang menyu—"
"Aku salah! Ini semua pasti karena dia! Maafkan aku Kyungsoo. Aku tidak ta—"
Tut tut tut.
"Baekhyun?"
"Halo? Kau mematikan sambungannya?"
"Aish, kenapa ia mematikan teleponnya? Ia yang menawarkan ini padaku, tapi ia juga yang menyuruhku pergi, apa maunya?" Kyungsoo meletakkan ponselnya kembali di meja.
Jika boleh jujur, ia memang ingin pergi dari sini. Semenjak melihat siapa yang akan ia asuh, ia jadi mengurungkan niatnya untuk bekerja. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia harus bertahan, Suho dan Yixing sudah memberikan sebuah tanggung jawab padanya. Ia hanya bisa berharap waktu akan cepat berlalu.
Kyungsoo menutup matanya dan membiarkan kegelapan membawa dirinya masuk ke alam mimpi yang lebih jauh, yang tanpa ia sadari bahwa kegelapan lain sedang melihatnya disudut ruangan. Memperhatikan dirinya tanpa berkedip dan tanpa bergerak dengan Mata tajamnya yang terus melihat kearahnya.
TBC
Haii, bosenin ya? Chapter 1 emang biasanya masih ngebosenin. Niatnya chapter 2 aku bakal lebih panjang, jadi maaf kalau nantinya bakal lebih ngebosenin hehe.
Preview chapter 2 :
"Apa Kai baru saja menoleh ke arahku?"
"Demi Tuhan Baekhyun! Aku mendengar musik menyala di kamar Kai."
"Pergilah! Jangan mendekatiku."
"Aku dan Dia sama. Kami berdua terjebak di dalam kegelapan yang tiada akhir."
