Bukan Akhir Persahabatan

:

Naruto Fanfiction

Spesial Chapter Based Kehidupan Baru Boruto

:

Disclaimer : Masashi Kishimoto

:

Taufiq879

::==\\==\\==::

:

:

:

Bagian 2 : Uzumaki Naruto

==\\==\\==

Sudah seminggu semenjak Hinata menceritakan semua tentang keluarganya padaku. Satu hal yang pasti adalah ia menyukaiku dan percaya kepadaku. Jika tidak, mana mungkin dia akan menceritakan semua masalahnya padaku. Ia pasti sudah menganggapku lebih dari seorang teman. Tapi sayangnya aku tidak boleh kegeeran dulu sebelum semuanya jelas.

Aku merasa kasihan pada Hinata dan telah berniat membantunya. Tapi mencari uang dalam jumlah sebanyak itu dengan hanya bekerja sebagai buruh bangunan itu sangatlah mustahil di lakukan. Sepertinya pepatah "tak ada yang mustahil" tidak berlaku dalam masalah ini kecuali kau menemukan peninggalan sejarah penting saat kau sedang menggali pasir.

Aku meminta saran pada Ezio tentang masalah ini. Aku juga bilang bahwa aku jatuh cinta pada Hinata. Tapi saran yang di berikan Ezio malah membuatku kesal. Pasalnya ia malah menyuruhku menjauh dari Hinata agar tidak terkena masalah yang bisa merugikanku secara finansial ataupun fisik. Aku tidak bisa melakukan saran yang di berikan Ezio karena aku sudah terlanjur menyukai Hinata, tepatnya aku jatuh cinta padanya. Dan lagi aku sudah berjanji dalam hati untuk membantu keluarga Hinata menyelesaikan masalahnya.

Hari itu, aku dan Ezio diberi tugas oleh mandor untuk menggali tanah untuk membuat saluran air. Sewaktu menggali aku berbicara dengan Ezio tentang masalah ini berharap dia dapat memberikanku saran yang tepat. Tapi ia malah berkata, "lupakan dia saja Naruto. Kau hanya akan menderita jika menikah dengan gadis itu. Jika kau kaya maka mungkin kau tidak perlu ambil pusing dengan masalah itu. Kau pasti bisa langsung membayar utang itu sampai lunas," kata Ezio lalu melepas cangkulnya.

"Lihatlah dirimu... diriku... Kita ini hanya buruh yang beruntung bisa bekerja di perusahaan konstruksi terkenal ini. Jika kau menikah dengan gadis itu, maka tidak ada jaminan kalian akan hidup ada malah kau akan semakin repot karena saat kau menjadi suami gadis itu kau memiliki kewajiban melunasi utang-utangnya," katanya sekali lagi sambil memegang pundakku.

"Tapi aku sangat mencintainya. Aku rela membanting tulang untuk membayar utang-utang keluarganya selama aku bisa menjadi suaminya. Harusnya kau mengerti perasaanku karena kau sudah menikah. pasti kau melakukan pengorbanan besar agar bisa menikah dengan istrimu itu," ucapku

"Dengar Naruto. Jika kau ada rencana agar dapat mendapatkan uang sebanyak itu aku akan membantumu. Dan jika kau memang terlanjur mencintai gadis itu dan rela membantunya, aku tidak bisa menghalangimu lagi. Tapi jangan pernah meminta bantuanku untuk melunasi utang-utang itu begitu kalian menikah. Intinya kau tidak boleh menyesal," ucap Ezio.

"Tentu, aku tidak akan melibatkanmu dalam melunasi hutang-hutang itu begitu aku menikah,"

Setelah percakaan itu, Kami bekerja lagi dengan diam tanpa berbicara kepada satu sama lain. Tentu aku sedikit kesal pada Ezio. Tapi bagaimanapun, Ezio adalah satu-satunya teman yang aku miliki sekarang.

Tiba-tiba saat sedang menggali, sebuah ingatan datang menghampiri pikiranku saat aku berpikir keras untuk mencari cara mendapatkan uang untuk membantu Hinata. Aku tiba-tiba ingat mengenai 2 buah peti yang kukubur dalam tanah di arena bekas pertempuran besar. Aku pun memanggil Ezio untuk beristirahat sambil menceritakan itu pada Ezio.

"2 buah peti yang kau kubur di tempat pertempuran besar yang kau ceritakan waktu itu ya? Memang apa isinya? Dan apa isi peti itu bisa membantumu menyelesaikan masalah ini?" tanya Ezio.

"Ya, itu bisa membantuku menyelesaikan masalah ini. Aku hanya perlu ke sana dan mengambil peti itu dan melihat apakah isinya masih berfungsi," kataku.

"Tunggu dulu, berfungsi?" Ezio kaget dan sedikit menjauh dariku. "Jangan-jangan isinya senjata. Apa kau berniat membunuh semua anak buah juragan itu termasuk juragan itu sendiri?"

"Jangan bodoh. Aku tidak mungkin melakukan itu. Lagi pula jika kulakukan, hutang-hutang itu tidak akan pernah bisa lunas dan keluargaku nantinya akan terus menerus di hantui oleh hutang-hutang itu," kataku.

"Trus, kau mau apakan?" tanyanya.

"Akan kujual. Senjata itu adalah milik musuh yang kukalahkan. Senjatanya aku ambil dan sembunyikan dalam tanah tanpa sepengetahuan yang lain. Jika kondisinya masih baik, aku bisa jual dan hasilnya pasti lumayan dan cukup untuk membayar setengah atau lebih hutang keluarga Hinata," ucapku.

"Dan kau mau menjualnya ke siapa? Ke kepolisian Konoha? Atau kau mau jual ke Mafia? Atau Techconnec?" tanya Ezio.

"Tidak ketiga-tiganya. Tapi aku sudah punya sasaran,"

"Jadi kapan kita mengambilnya?"

"hari Minggu kita libur. Hari itu juga kita selesaikan masalah ini. Aku minta tolong padamu untuk mencari kendaraan yang bisa kita pinjam seharian," ucapku lalu kembali meneruskan pekerjaan.

==\\==\\==

Di hari Minggu, seperti yang telah direncanakan. Aku dan Ezio pergi meninggalkan desa dengan menaiki mobil menuju hutan tempat terjadinya pertempuran besar. Selama perjalanan menuju jalan masuk hutan tersebut, terlihat beberapa polisi hutan Konoha yang berpatroli. Tentu aku melewati jalan masuk hutan yang aman yang hanya di ketahui para pejuang Techconnec. Mafia pun punya jalan masuk tersendiri untuk menuju area bekas pertempuran besar itu. Dan lagi, di sekitar jalan itu, tidak pernah melintas polisi hutan yang berpatroli.

Selama beberapa jam berkendara, akhirnya aku dan Ezio tiba di area hutan yang kumaksud. Tentu di sana tidak ada mayat ataupun sisa-sisa peluru di karenakan setelah perang besar itu selesai dengan kemenangan Techconnec, kami pun melakukan kerja bakti besar-besaran untuk mengevakuasi jasad-jasad yang berada di area itu. Dan di saat itulah aku memungut dan menyimpan sebagian besar senjata yang kupungut.

Baru saja melihati area tersebut, semua ingatan mengenai bagaimana aku dan Sasuke membunuh bawahan-bawahan Mafia sudah mulai membuatku ingin segera pergi dari tempat ini. Mengingat bagaimana peluru menembus pelindung musuh dan memuncratkan darah segar membuatku ingin segera tancap gas dan kabur. Tapi rasa ingin menolong Hinata begitu kuat mengalir dalam darahku.

Aku pun menguatkan tekat dan turun dari mobil seraya membawa sebuah sekop. Kucoba mencari sebuah pohon yang telah kuberi tanda. Dan sayangnya aku kesulitan menemukannya karena sudah cukup lama aku tidak ke sini. Cukup banyak pohon-pohon baru yang sengaja di tanam untuk menutupi area bekas pertempuran ini agar tidak di ketahui oleh para polisi hutan.

"Jadi di mana kau mengubur peti itu?"

"Entahlah. Aku lupa. Tapi intinya ada di dekat sebuah pohon. Saat itu sih pohonnya masih setinggi ini," aku melihat sebuah pohon yang sekiranya tingginya 3 meter.

Aku pun berinisiatif untuk kembali mengecek setiap pohon untuk menemukan pohon bertuliskan namaku. Dan akhirnya aku menemukannya. Kupakai sekop untuk menggali hingga beberapa menit sampai sekopku menyentuh sesuatu seperti kayu. Aku pun memperbesar lubang agar bisa mengambil 2 buah peti itu.

Satu jam telah berlalu, dan kini aku sedang duduk di bawah pohon sambil melihati Ezio yang kuminta untuk membersihkan peti itu dengan air yang berada di sungai tak jauh dari lokasi kami. Peti itu tidaklah ringan sehingga kami harus mengambil air dari sungai itu dan membawanya ke tempat kami menggali dengan sejumlah ember yang kami bawa. Tak lupa kami juga membersihkan tangan dan sekop yang penuh dengan air.

30 menit kemudian, kedua peti itu sudah berada di bak belakang mobil kami. Aku menutupnya dengan terpal. Setelah itu aku pun mulai bergerak menuju sebuah kota yang tak jauh dari kota Konoha. Kota itu bernama kota Ame. Aku memiliki seorang teman yang siap membeli semua senjata yang aku tawarkan padanya. Tentu saja kau harus menjual senjata ini dengan hati-hati. Bagaimanapun aku bukan pengedar gelap. Jika saja temanku itu punya tujuan jahat, tentu aku tidak akan menjual senjataku padanya.

Temanku adalah salah satu anggota dari organisasi keamanan kota Ame yang di bentuk oleh Techconnec. Kota ame tidak memiliki aparat keamanan sehingga sangat rentan terjadinya kejahatan. Tujuan Techconnec mendirikan organisasi bernama Akatsuki itu adalah untuk melindungi kota Ame dari kejahatan serta menjaga Asset Techconnec yang berada di kota itu.

Akatsuki ini bukanlah organisasi seperti polisi. Akatsuki tidak terdaftar secara resmi di jepang. Akatsuki hanyalah organisasi keamanan kota Amegakure yang didirikan oleh sektar 50 yang di latih secara khusus dan Rahasia oleh pengawal-pengawal Techconnec.

Dengan adanya organisasi itu, kota Ame terasa lebih aman bagi penduduk dan Asset Techconnec yang berada di wilayah itu. Dulunya 50-100 penduduk ame bisa meninggal setiap 2 tahun akibat pembunuhan dan aksi kriminal lainnya. Berkat adanya Akatsuki jumlah itu bisa di tekan dan jumlah tindak kriminal pun bisa di kurangi. Hanya saja, para pelaku kriminal tentu menggunakan senjata untuk melancarkan aksinya dan itu membuat para anggota Akatsuki kesulitan dan bahkan harus kehilangan nyawa akibat persenjataan mereka yang apa adanya.

Walau Techconnec telah melatih para anggota Akatsuki dan memberi mereka beberapa senjata, tapi itu tidaklah cukup untuk menangani kasus kejahatan di kota itu. Pedang dan senjata lempar tentu tidak akan membuat anggota Akatsuki terlihat kuat dan di takuti para penjahat. Dan temanku itu adalah ketua dari Akatsuki.

Setibanya di Amegakure, aku melihat beberapa orang bersenjatakan pedang dan Shuriken terlihat berdiri. Beberapa dari mereka memegang senjata api. Dan ketika aku mendekat, mereka pun menyuruhku dan Ezio untuk turun dan menunggu. Dan tak lama kemudian, temanku yang katanya akan membeli senjata yang kutawarkan padanya pun datang. Tanpa pembicaraan panjang lebar, ia membuka kedua peti senjata kemudian mengecek seluruh kondisi senjata.

"Ini senjata milik musuh Techconnec?" tanyanya.

"Ya. Telah kusembunyikan lama bahkan tanpa di ketahui teman-temanku di Techconnec," ucapku.

"Baiklah, kondisinya benar-benar tak terawat. Tapi karena kita berdua benar-benar membutuhkan, akan kubeli dengan harga yang telah kita sepakati kemarin," ucapnya.

"Oke, terima kasih. Aku harap kalian menggunakan senjata-senjata ini dengan bijak. Aku tidak mau sampai merasa bersalah karena telah menjual senjata-senjata ini pada kalian," ucapku.

"Percayalah. Senjata-senjata ini tidak akan sampai disalahgunakan. Kami akan menggunakan senjata-senjata ini dengan bijak untuk menjadikan kota Ame kota yang aman untuk di huni," katanya.

Setelah pembicaraan singkat itu, ia pun memberikanku sebuah kotak yang sudah bisa kupastikan berisi sejumlah uang dan beberapa batang emas. Meski jika kuhitung-hitung, semua uang yang kudapatkan termasuk emas tersebut masihlah belum cukup untuk membayar hutang keluarga Hinata. Tapi aku masih memiliki cadangan uang yang bisa kupakai sebagai tambahan. Dan pastinya keluarga Hinata sendiri masih memiliki sejumlah uang untuk menutupi kekurangannya.

Hari sudah menjadi semakin gelap. Aku dan Ezio pun memutuskan untuk kembali.

::==::==::

Aku memutuskan untuk menyimpan uang itu sementara waktu hingga menemui hari yang tepat untuk menyerahkan uang itu pada keluarga Hinata. Tentu saja aku tidak menyimpan uang tersebut di tenda peristirahatan karena kuyakin sebaik-baiknya penampilan seseorang, jika melihat harta yang melimpah maka sifat aslinya pun akan keluar. Karena itu aku memutuskan untuk menyembunyikan di suatu tempat yang bahkan tidak di ketahui oleh Ezio.

Setelah mendapat perintah dari Suigetsu untuk melanjutkan proyek pembangunan, sang mandor pun kembali ke desa dan memerintah untuk segera melanjutkan proyek setelah beristirahat selama beberapa waktu.

Setelah seharian bekerja, aku pergi menemui Hinata untuk makan sekaligus sedikit berbincang dengannya. Bukannya sombong, tapi aku satu-satunya laki-laki yang ada di desa yang punya waktu rutin untuk bertemu dan mengobrol dengan Hinata. Di bandingkan orang lain, Hinata sudah menganggapku lebih dari seorang pelanggan tetap. Dia sudah menganggapku teman dan mungkin jauh di lubuk hatinya, ia sudah menganggaku lebih dari sekedar teman.

Setibanya di sana, Hinata menyambutku dengan senyum ramah tamahnya. Seperti biasa, Hinata dapat mengetahui menu makanan apa yang akan kumakan sehingga ia sudah menyiapkannya. Sedikit berbincang dengan Hinata sebentar sebelum akhirnya aku mulai menyendokkan makanan itu ke mulut.

Hiashi yang sedari tadi sedang sibuk keluar masuk rumah pun menatap Boruto dengan tatapan yang mengekspresikan 'Akan kubunuh kau jika macam-macam dengan putriku'

Tentu saja dengan tatapan seperti itu membuatku tak berani menatapnya balik. Lagi pula aku tidak boleh sampai membuatnya marah atau hubungan Aku dan Hinata bisa berakhir saat ini juga. Namun tiba-tiba, di tengah kesepian sebuah api muncul di salah satu petak sawah milik Hiashi. Si pemilik sawah—Hiashi juga menyadarinya dan berteriak "Api... sawahku... Api!"

Sontak Aku dan Hinata pun lari mengejar Hiashi yang sudah berlari menuju sawah sambil membawa sebuah ember. Aku pun turut mengambil ember yang berada di dekat sumur dan kuisi dengan air meskipun aku tau itu tidaklah cukup untuk memadamkan api yang kini sudah mulai menyebar ke seluruh bagian dari petak sawah yang kami tuju.

Bagiku sedikit aneh melihat tanaman padi yang berada di permukaan tanah yang selalu basah bisa begitu cepat di lahap si jago merah. Apalagi dengan api yang cukup besar. Tapi aku meyakini bahwa sebelumnya siapa pun yang membakar petak sawah ini sudah menyiramkan zat kimia cair yang mudah terbakar ke seluruh bagian petak sawah yang terbakar itu.

Setibanya di sana, Hiashi langsung mencoba memadamkan api dengan air yang tersedia di sawah. Di tengah kepulan asap, ku melihat seseorang sedang bersembunyi di balik tanaman padi yang tumbuh subur di petak yang tak jauh dari petak sawah yang terbakar. Kuletakan ember yang kubawa dan langsung mengambil sebuah kayu yang tertancap di petak sawah tersebut dan langsung berlari ke arah orang yang kucurigai adalah pelaku yang menyababkan petak sawah tersebut terbakar.

Namun dia menyadariku dan langsung menyulutkan api yang kemudian membakar petak sawah yang berada di depannya. Aku menjadi bimbang, apakah aku akan mengejar pelaku pembakaran itu yang jelas-jelas bisa kukejar atau memadamkan api yang belum jelas apakah akan berhasil. Tapi ku menyadari bahwa petak sawah itu lebih penting sehingga aku memutuskan untuk memadamkannya dengan cara menghancurkan padi yang tersulut.

Beberapa menit kemudian, api di kedua petak sawah sudah berhasil di padamkan. Petak sawah yang di tangani oleh Hiashi mengalami kerusakan total. Aku juga berhasil memadamkan api tapi terpaksa aku harus melakukan sedikit pengerusakan agar api bisa padam.

Hiashi hanya mampu terduduk tak berdaya melihat petak sawah yang sudah siap panen kini sudah menjadi abu. Sudah bisa di pastikan bahwa pelaku pembakaran sawah ini adalah anak buah juragan tanah itu. Aku menjadi sedikit marah apalagi ketika melihat keluarga Hinata yang putus asa karena hasil kerja keras mereka kini sudah menjadi abu. Walau hanya 1 petak yang gagal, tapi itu adalah satu-satunya petak di bulan ini yang mampu menghasilkan sejumlah uang untuk keluarga Hinata beberapa hari ke depan.

Aku sangat kesal, bahkan aku sudah berniat mengambil senjata yang kusimpan di rumahku yang berada di Kumogakure untuk menembak kepala si juragan keterlaluan itu. Tapi tiba-tiba saja juragan itu malah muncul dengan sendirinya dan langsung mencerahami Hiashi.

Sambil bertepuk tangan "Kalian hebat. Bisa memadamkan api-api itu," ucap si juragan tersebut.

Sambil terduduk tak berdaya. "Kumohon. Jika anda mau utang anda cepat lunas, jangan pernah lakukan ini lagi," kata Hiashi.

"Cih, 945 juta bisa kau lunasi dengan memanen sepetak sawah. Sudah kubilang setiap bulan harus ada pembayaran minimal 10 juta agar aku tidak membakar 2 petak sawahmu," kata juragan itu.

"Aku minta waktu. Kumohon jangan lakukan ini lagi. setiap petak di sawah ini sangatlah berharga. Jika anda merusak 2 petak setiap bulan, maka aku tidak akan bisa membayar hutangku pada anda," ujar Hiashi.

"Aku sudah pernah kasih kemudahan. Nikahkan aku dengan putrimu yang cantik dan montok itu. Maka aku akan menganggap semua utangmu sudah lunas. Jika kau mau, aku masih membuka kesempatan itu," kata juragan itu.

"Aku tidak mau menikah dengan orang sepertimu!" teriak Hinata.

"Putriku layak hidup bahagia dengan orang yang di cintainya. Aku tidak akan mengorbankan kebahagiaan putriku hanya agar seluruh hutangku lunas," kata Hiashi.

"Aku juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" teriakku dari kejauhan sambil berjalan menuju Hinata.

"Memang siapa kau, apa hubunganmu dengan keluarga hyuuga ini?" tanya juragan itu.

"Aku... Aku... memang bukan siapa-siapa keluarga Hyuuga. Tapi apa yang anda lakukan ini salah. Utang memang harus di lunasi. Dan yang memberi pinjaman juga harus mengingatkan si peminjam. Tapi bukan dengan cara seperti ini," kataku.

"Beraninya kau menceramahiku. Kau kira kau siapa hah?" kata juragan itu lalu memberi kode kepada seorang pengawalnya. "Beri pemuda kurang ajar ini sebuah pelajaran berharga."

Tanpa ragu, pengawal yang di tunjuk oleh juragan itu langsung memukulku. Walau berhasil kutangkis, pukulan berikutnya pun mengenaiku tepat di perut. Tak hanya itu, ia pun melancarkan sebuah pukulan dengan lutut ke arah perutku dan ketika aku menjadi lemas karena pukulannya tersebut, ia mengakhirinya dengan memukul pipiku dengan cukup keras sehingga aku pun terpental ke belakang dan jatuh di hadapan Hinata.

Ku meringis menahan sakit dan memar yang telah bersarang di tubuhku. Benar-benar sakit dan merupakan hal yang memalukan karena sebelumnya aku berencana membuat Hinata terkesan padaku karena membelanya.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanya Hinata sambil berusaha membantuku berdiri.

"Ugh, ya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih, Hinata."

"Harusnya kau tidak melakukan tindakan bodoh itu, bocah," kata Hiashi.

Aku mulai berdiri perlahan-lahan sambil memegangi perutku yang masih terasa sakit. Kutatap mata juragan itu dan sesekali melihat ke arah Hiashi.

"Hey, pemuda. Jika kau mau jadi pahlawan untuk keluarga ini, kau harus lebih kuat dari para pengawalku," kata juragan itu.

"Kekerasan tidak akan mengubah apapun. utang menurutku harus di bayar dengan uang. Bukan dengan kekerasan. Kalian juga harusnya menagih dengan cara yang baik bukan seperti ini," kataku.

"Kuberi kau waktu 5 detik untuk pergi secepat mungkin dari sini karena aku punya urusan dengan Hiashi dan bukannya pemuda lemah sepertimu. Dalam hitungan ke lima jika kau tidak pergi, maka aku akan menyuruh 5 orang pengawalku untuk menghajarmu sampai masuk liang lahat," kata juragan itu.

Hitungan pun dimulai. 5 orang pengawal juragan itu pun sudah mulai bersiap untuk menyerangku begitu hitungan ke-5 terucap oleh si juragan itu. Aku melihat ke arah Hinata yang kemudian ia berkata "Pergilah Boruto. kami tak apa-apa. Biar masalah ini di selesaikan oleh keluarga kami saja. Jangan sampai nyawamu melayang Cuma karena ingin membela kami."

Aku pun melihat ke arah Hiashi lalu berganti melihat ke arah juragan itu yang sudah mencapai hitungan ke 4. Aku sudah memutuskan sebuah rencana. Dan ketika hitungan kelima, para pengawal juragan itu pun mulai berlari ke arahku. Aku pun langsung berlari untuk pergi dari tempat itu. Tapi karena sudah memasuki hitungan ke enam, para pengawal itu di perintah untuk mengejarku dan memberiku sebuah pelajaran berharga. Tapi itulah yang ingin kurencanakan.

Aku terus berlari sambil di kejar 5 orang pengawal. Salah satu dari mereka nyaris saja memegang kerah bajuku jika aku tidak menyadarinya dan segera merunduk. Aku melihat sebuah tiang di depanku dan mendapati sebuah ide. Kuteruskan berlari dan menambahkan kecepatan. Mereka pun mulai menambah kecepatan agar bisa mengejarku.

"Berhenti, atau kau akan benar-benar babak belur kali ini,"

"Aku tidak segoblok itu. Coba tangkap aku kalau kalian bisa. Aku akan menunjukan kemampuanku," kataku lalu memegang tiang yang aku tuju.

Aku terhentikan secara cepat karena memegang tiang tersebut. Dan efeknya adalah tubuhku memutari tiang dengan sendirinya dalam posisi horizontal. Aku membiarkan kakiku menghantam para pengawal yang mengejarku itu. 2 orang dari mereka tumbang. Dan sisanya kembali mengejarku yang sudah kembali berlari. Aku tidak kabur sih, aku memang sengaja memisahkan para pengawal dengan juragannya. Dan rencanaku sudah berjalan cukup lancar apalagi juragan itu mengerahkan pengawal yang masih tersisa untuk ikut mengejarku.

Selain berencana memisahkan juragan dengan pengawalnya, aku mau mengambil koper yang berisi uang dan beberapa batang emas hasil penjualan senjata kemarin.

Sementara itu, si juragan itu kini sudah berdiri seorang diri karena 7 pengawal yang ia bawa sudah di kerahkan semuanya untuk mengejarku. Menurut mereka mungkin aku sedang berlari di kejar oleh Kematian. Tapi bagiku, mereka sedang mengejar Kematian mereka sendiri.

"Hiashi, aku beri kau waktu seminggu untuk melunasi sebagian utangmu atau aku akan membakar seluruh petak sawahmu dan mengambil alih tanahmu seperti yang sudah tertulis pada surat perjanjian itu," ujar juragan itu.

"Itu tidak mungkin, aku membutuhkan sekitar 2 bulan lagi agar padi-padi di seluruh petak sawah siap di panen. Kumohon beri aku waktu. Aku janji akan memberi anda 75% hasil panen," kata Hiashi.

"Tidak akan. Sudah lama kuberi kalian keringanan. Seminggu lagi aku akan kembali. dan jika belum ada bayaran yang masuk, maka semua tanah milikmu akan menajdi milikku. Dan akan kuhancurkan semua petak sawahmu."

"Kumohon, beri ayah saya waktu untuk melunasinya," kata Hinata.

Juragan itu mendekati Hinata lalu memegang tangannya. "Nona cantik, aku tidak bisa melakukan itu. Aku perlu uang juga. tapi jika nona cantik ini mau menikah denganku, aku bisa menganggap semua utang ayahmu lunas." Katanya sambil mencium tangan Hinata.

Tentu saja Hinata merasa jijik akan kelakuan juragan itu dan mendorong mundur secara paksa juragan itu.

"Tolong jangan sentuh putriku!" teriak Hiashi.

"Baiklah," kata Juragan tersebut lalu mendorong tubuh Hinata hingga terjatuh ke lumpur.

Tak lama kemudian, aku pun kembali dengan terengah-engah. Dengan tangan kananku memegang koper, aku berlari ke arah juragan itu dan melihat Hinata yang sedang duduk di samping Hiashi dengan keadaan kotor. Aku pun memutuskan untuk berlari mendekati Hinata dan mencari tahu.

Tak lama kemudian, 7 orang pengawal yang di beri tugas mengejarku pun tiba dengan keadaan babak belur. Mereka sebelumnya telah bertemu denganku saat sedang mengambil koper itu. Hanya saja refleks mereka kurang bagus untuk menghindari seranganku dengan memakai koper berisi beberapa batang emas itu sehingga mereka semua kalah.

Saat aku berada di samping Hinata, aku membantunya membersihkan wajahnya yang kotor. Hiashi terus menerus berusaha membuat perundingan agar membuahkan sebuah kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

"Kuberitahu lagi padamu. Tidak akan ada kesepakatan baru. seminggu lagi aku akan kembali dan pastikan kau sudah menyiapkan uangku. Atau kalau tidak aku akan membakar seluruh petak sawahmu," kata juragan lalu pergi bersama para pengawalnya.

Aku hendak melempar koper berisi uang itu ke arah juragan tanah itu. Tapi kupikir-pikir aku harus menunggu saat yang tepat dan yang pasti ada restu dari Hiashi untuk aku dapat membantunya. Seperti yang kita ketahui bersama, Hiashi trauma dengan apa yang dinamakan utang.

Setelah Kepergian mereka, Hiashi memintaku untuk membawa Hinata pulang sementara ia membersihkan padi-padi yang hangus terbakar. Begitu tiba di rumahnya, aku menunggu Hinata di ruang tamu sementara ia membersihkan diri di kamar mandi.

Tak lama kemudian, Hinata kembali menemuiku. Ia tak kembali dengan tangan kosong tetapi tentu saja membawa 3 gelas teh hangat.

"Naruto, terima kasih atas bantuanmu memadamkan api di sawah ayahku," ucap Hinata.

"Ya, sama-sama. Lagi pula yang kulakukan ini belum seberapa," kataku.

"Oh ya Naruto. Tadi kau pergi kemudian kembali dengan membawa koper itu," menunjuk koper yang berada di samping kakiku. "Memang untuk apa koper itu?" tanya Hinata.

"Akhirnya kau bertanya juga. niatnya tadi aku mau memberikan koper ini kepada juragan itu. Tapi kupikir-pikir aku perlu restu dari ayahmu," ujarku.

"Restu? Memang apa isinya?"

Aku membuka koper itu lalu menujukan isinya kepada Hinata. Kulihat betapa terkejutnya Hinata ketika melihat isi dari koper tersebut. Aku pun menjelaskan pada Hinata mengenai maksudku membawa uang sebanyak itu untuk diberikan pada juragan tanah tersebut agar utang keluarga Hinata bisa lunas.

"Kenapa? Kenapa kau begitu peduli pada kami. kau bahkan rela memberikan uang simpananmu sebanyak ini hanya untuk melunasi utang kami yang bukan siapa-siapanya kau?" tanya Hinata.

"Jawabannya sederhana, Hinata. Aku mencintaimu. Dan kupikir aku tidak boleh membiarkan orang yang kucintai menderita hanya karena utang yang dimiliki oleh keluarganya. Maka semenjak aku mendengar kau memiliki utang yang sangat besar, aku telah memutuskan untuk membantu keluargamu demi dirimu, Hinata," ujarku.

Tetes demi tetes air mata Hinata pun keluar. Terharu akan apa yang kulakukan. Namun tiba-tiba suasana itu berubah kala Hiashi datang sambil berkata:

"Bawa pergi uangmu dari sini!" Hiashi masuk dan berdiri di sampingku. "Kami tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk melunasi utang-utang kami. Aku tidak berhutang budi pada orang lain lagi," kata Hiashi.

"Tapi, tuan Hiashi. Hanya ini harapan bagi keluarga anda. Jadi mohon terima bantuanku," ucapku sambil menyodorkan koper itu ke arah Hiashi.

Hiashi hanya menatapku dan sesekali menatap koper itu dan Hinata. "Dengar! Aku tidak mau berhutang budi padamu dengan memberiku uang sebanyak ini. Jika kau mau membantu keluarga kami, maka bantulah kami dengan menghindari keluarga kami dari yang namanya utang budi," kata Hiashi lalu berjalan pelan menuju belakang.

Aku mengejarnya lalu menghadangnya. "Kumohon, terimalah bantuanku!" ujarku.

Tak ada respons dari Hiashi dan bahkan ia hendak melanjutkan perjalanannya namun kembali kucegah. "Dengar! Aku tidak mau berhutang budi padamu. Jadi apa alasanmu ingin membantu kami. apa jangan-jangan kau punya rencana untuk mengambil alih tanahku jika kami menerima bantuanmu?" tanya Hiashi.

"Niatku saja sekali tidak seperti yang anda katakan. Niatku tulus ingin membantu keluarga anda. Kulakukan ini karena aku sangat mencintai putri anda. Aku tidak mau melihat orang yang kucintai menderita hanya karena utang keluarganya yang besar. maka karena itu kuputuskan untuk membantu dengan memberikan uang ini," kataku.

Hiashi terdiam sejenak sambil memperhatikan putrinya. "Apa kau mencintai pemuda ini, putriku?" tanya Hiashi.

"Jika ayah merestuinya, aku bisa mengatakan bahwa aku memang menyukai Naruto," jawab Hinata.

"Ayah tidak merestuinya!" teriak Hiashi kemudian memutariku dan pergi menuju dapur.

Ku melihat ke arah Hinata. Kudapati air matanya menetes dan membasahi bibirnya. Entah mengapa aku merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang Hinata tahan. Mungkin ia ingin bicara dengan tegas pada ayahnya. Tapi Hinata adalah gadis yang berbakti jadi tidak mungkin jika ia akan membentak ayahnya agar memberi alasan jelas mengapa ia tak merestui hubunganku dengan Hinata.

Aku tidak berpindah posisi. Aku terus berdiri di tempat sambil memegangi koper. "Aku sama sekali tidak menyangka akan sesulit ini. Mendekati Hinata adalah hal mudah, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa mendapatkan restu dari ayahnya akan sesulit ini," batinku lalu melihat koper yang ada di tanganku. "Hinata! Tunjukan jalan menuju ke kediaman juragan itu. Aku akan menyerahkan koper ini pada juragan itu sendiri meskipun ayahmu tidak menginginkannya."

"Kau tidak bisa melakukan itu Boruto. ada prosedurnya. Tidak semua orang bisa masuk ke kediaman juragan itu. Apalagi kau yang hanya orang luar," kata Hinata.

"Aku harus bagaimana lagi? aku mau membantumu. Tapi ayahmu tidak mau dibantu. Ia bahkan tidak merestui hubungan kita," keadaan diam sejenak. "Padahal aku sudah rela mendapatkan uang sebanyak ini demi dirimu. Akan percuma jika uang ini tidak dipakai untuk melunasi hutang keluargamu."

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa Naruto. Yang bisa kulakukan adalah menunggu ayahku menerima bantuanmu. Tapi seperti yang pernah aku katakan, ayahku tidak suka berhutang budi jika itu memang tidak begitu diperlukan,"

Aku meletakan koper itu di meja lalu mendekat ke Hinata. "Aku memberikan uang itu untukmu. Semua terserah padamu untuk apa uang itu akan kau gunakan. Selamat tinggal, Hinata. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama." Dengan rasa kesal dan bingung, aku pun keluar dari rumah Hinata.

"Naruto!" lirih Hinata lalu kembali meneteskan air mata.

::==::==::

Keesokan harinya, aku merenung di lokasi konstruksi sambil melihat matahari terbit dari ketinggian bangunan yang sedang di bangun. Dari atas ini, aku bisa melihat rumah Hinata. Rumah yang tidak akan pernah aku datangi lagi dan setidaknya itulah yang kupikirkan saat ini. Berat memang jika kau melepaskan orang yang kau sukai dan telah mengetahui orang itu juga menyukaimu terpaksa hubungan itu harus kandas karena tidak mendapat restu dari ayahnya.

Kumenangis dalam diam sambil melihat sang mentari yang mulai bersinar di pagi hari. Tapi aku tidak meneteskan air mata karena semuanya sudah kukuras saat sedang mandi tadi. Kupikir tidak ada yang tahu mengingat aku mandi sekitar pukul 4 pagi.

Beberapa menit kemudian, para pekerja pun mulai memasuki lokasi konstruksi untuk bersiap melanjutkan pekerjaan. Aku pun turun dan bersiap mendengar arahan dari mandor mengenai tugas kami hari ini.

Pekerjaan kami hari itu berlangsung seperti biasa. Dan ketika memasuki jam istirahat, aku tidak pergi ke warung Hinata seperti biasa. Aku benar-benar tidak sanggup bertemu Hinata. Namun aku benar-benar tidak sanggup untuk kembali bekerja tanpa makan siang. Maka untuk mengatasi masalah itu, aku meminta Ezio untuk membelikan makanan di warung Hinata yang merupakan warung yang menyediakan makanan murah meriah dan jaraknya dekat dengan lokasi konstruksi.

Tak lama kemudian, Ezio kembali sambil membawa sekantung kresek berisi 2 bungkus makanan yang di beli di warung Hinata. Aku dan Ezio pun menyantap makanan itu untuk mendapatkan energi agar dapat kembali bekerja.

"Naruto, tadi Hinata sempat bertanya soal dirimu. Sebenarnya apa yang terjadi antara kalian berdua?" tanya Ezio di kala aku sedang menyantap makananku.

Aku memutuskan untuk berhenti makan sejenak dan menceritakannya pada Ezio. Bagaimanapun, rasanya tidak enak jika harus memendam hal ini seorang diri. "Hubungan kami tidak direstui oleh Hiashi bahkan ketika ia tahu aku hendak membantu keluarga mereka melunasi hutang dengan uang itu,"

"Apa! Ternyata si Hiashi itu keras kepala. Mungkin saja ada alasan lain sehingga ia tidak merestui hubungan kalian. Mungkin saja diam-diam Hiashi punya calon suami untuk Hinata yang kaya raya di luar sana," kata Ezio.

"Kata-katamu tidak membantu."

"Oh, maaf."

Setelah selesai makan, pekerjaan pun di lanjutkan kembali. Rata-rata semua pekerja sangat bersemangat karena ini adalah proyek besar yang akan memberikan bonus yang besar bagi para pekerja. Namun, hari ini aku sama sekali tidak bersemangat. Seakan tubuhku ini sudah tidak memiliki tenaga untuk melanjutkan pekerjaan walau ini masih jam sembilan dan aku baru di beri tugas mencampur semen dan pasir ke dalam mesin pencampur.

Kemudian tibalah saat di mana aku harus membawa semen-semen yang telah kucampur itu. Awalnya berjalan lancar, namun karena pikiranku terlalu terbebani membuatku galau dan akhirnya kehilangan fokus. Ketika aku ingin menyeberang ke sisi daratan yang dipisah oleh sebuah selokan, aku melewati sebuah jembatan papan. Namun naas. Kaki kananku menginjak pinggiran papan hingga pada akhirnya aku harus kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam selokan yang ukurannya lumayan besar.

Tak berhenti di situ, gerobak semen yang kubawa pun pada akhirnya jatuh ke sisi kanan dan menumpahkan isinya di tubuhku. Ezio yang sedang berada lantai 2 bangunan konstruksi pun dengan cepat turun dan menolongku. Sang mandor pun berlari ke arahku untuk membantu.

"Hey, kau! Hati-hati. Ini tempat konstruksi, apa saja bisa terjadi di sini. kau harus berhati-hati dan tetap fokus," ucap mandor.

Aku mengerang karena gagang dari gerobak semen itu juga jatuh dan menimpa kepalaku. Memang tidak sampai berdarah, tapi tetap saja rasanya sakit. Ezio datang lalu membantuki berdiri seraya membersihkan badanku yang terkena semen.

"Maafkan temanku ini pak," kata Ezio.

"Lain kali berhati-hatilah. Aku tidak mau sampai salah satu dari semua pekerjaku terluka cukup berat apalagi sampai meninggal di lokasi konstruksi. Sebaiknya kau segera bersihkan badanmu dan temui aku di tendaku," kata mandor padaku. "Kau bantu dia lalu bersama-sama datang ke tendaku," kata mandor pada Ezio.

Setelah badanku bersih, aku bersama Ezio pun mendatangi tenda sang mandor. Beliau saat itu sedang duduk menunggu kedatangan kami. "Masuk dan duduklah. Aku ingin bicara dengan kalian berdua,"

"Dengarkan aku baik-baik. Kalian berdua merupakan buruh biasa yang terpilih menjadi buruh tetap perusahaan. Nama kalian memang terdaftar di daftar administrasi pegawai perusahaan. Tapi tetap saja kalian bukan pekerja resmi yang berhak menerima hak yang di berikan kepada para pekerja yang lain," kata mandor.

"Kami mengerti. Kami sangat bersyukur karena kamilah yang terpilih," ucapku sambil memegangi dahiku yang masih terasa nyeri.

"Kepalamu sakit? Sebaiknya hari ini dan seterusnya kau istirahat dulu sampai kondisimu sudah lebih baik," kata mandor.

"Aku tidak apa-apa. Aku bisa kok kembali bekerja," kataku.

"Tidak, aku tidak akan mengizinkannya. Jika kau kembali bekerja lalu karena kau tidak fokus dan kejadian seperti tadi terulang lagi bagaimana? Bagaimana kalau lebih parah? Dengan, kau dan Ezio bukan pekerja resmi yang memiliki ansuransi yang diberikan oleh perusahaan. Jika kau sampai di rawat, biayanya terpaksa harus kau tanggung sendiri. Jadi kusarankan kau tetap beristirahat. Tapi tenang saja, kau pekerja terdaftar, kau akan tetap di gaji meskipun tidak bekerja selama beberapa hari selama aku yang mengijinkan hal itu," kata mandor.

"Naruto, sebaiknya kau turuti apa kata mandor. Lagi pula kau akan tetap di gaji. Sebaiknya kau beristirahat hingga masalahmu itu bisa kau lupakan," ujar Ezio.

"Aku mendengar dari seseorang bahwa semalam kau melirihkan nama seorang gadis. Lalu tak lama kemudian kau menangis dalam tidurmu. Apa gadis itu yang menyebabkan kau tidak fokus dalam bekerja? Sebenarnya apa masalahmu?" tanya Mandor.

"Aku tidak menangis pak. Memang aku punya sedikit masalah. Tapi pastinya aku tidak menangis," kataku.

"Kau menangis semalam Naruto, kau tertidur jadi kau tidak menyadarinya. Aku yang tidur di sampingmu mendengar jelas tangisanmu. Selain aku ada beberapa orang yang tidur di dekatmu yang terbangun akibat suara tangismu. Aku sudah mengatakan untuk tidak mengungkitnya. Tapi sepertinya salah satu dari mereka menyampaikan hal itu pada mandor," kata Ezio.

"Percayalah Naruto. Kau harus bersyukur karena ada yang memberitahukan hal itu padaku. Jika tidak mungkin saat ini aku sedang memarahimu dan memberikanmu surat peringatan. Oke, Ezio kembalilah bekerja. Dan Kau Naruto, pergilah ke tenda dan beristirahat. Aku mau memanggil dokter untuk memeriksa kepalamu," ucap mandor.

::==::==::

Kemarin dokter telah memeriksa kepalaku. Namun syukurlah tak terdapat kerusakan serius pada kepalaku. Katanya sakit yang masih aku rasakan hingga pagi ini adalah karena benturan tersebut. Hanya saja akibat benturan tersebut aku harus rela kehilangan beberapa sel neuron. Tapi aku baik-baik saja. Sang mandor masih menyuruhku untuk beristirahat. Bukan karena kejadian kemarin. Tapi untuk mengembalikan kestabilan emosiku agar aku tidak membuat kesalahan lagi saat bekerja.

Jadi sinilah aku sekarang, berbaring di kasur sambil memainkan sebuah game puzzle di ponsel murahan milik Ezio. Tapi dibandingkan denganku yang sama sekali tidak memiliki ponsel, Ezio lebih baik karena mempunyai ponsel walau murahan atau dalam kurung mempunyai fitur yang kurang dan harganya murah. Meskipun begitu, aku dulu punya ponsel mewah dan mahal. Hanya saja aku tinggalkan di apartementku.

Ada sebuah alasan mengapa aku memutuskan untuk tidak membeli ponsel baru. Seperti yang di ketahui bersama. Rata-rata jaringan seluler di Konoha dan beberapa kota besar lainnya adalah jaringan milik Techconnec. Jika aku membeli ponsel maka jika aku ingin ponselku itu terhubung ke jaringan seluler maka aku harus datang ke counter milik Techconnec yang tersebar hampir di seluruh jepang. Kemudian aku harus mendaftarkan identitasku pada mereka secara lengkap dan bahkan fotoku juga akan diambil agar aku dapat dibuatkan kartu "ID" dan sebuah kartu jaringan untuk ditanamkan dalam ponselku agar dapat di hubungkan ke dalam jaringan Techconnec.

Namun di karenakan aku telah memiliki ID sebelumnya, ID baru itu akan Me-replace ID lama. Apabila aku membuat ID yang semua informasinya palsu, mereka akan mengetahuinya karena mereka akan mengambil fotoku dan memastikan tidak ada pengguna yang sebelumnya telah memiliki ID lalu membuat ID baru dengan informasi palsu.

Techconnec memiliki sebuah Software yang mampu melakukan scaning pada seluruh ID yang ada dan memastikan tak ada ID yang memiliki foto yang sama. Selain itu, Software itu juga mampu memastikan tak ada ID yang memiliki informasi yang sama persis.

Meskipun begitu, ID lamaku mempunyai banyak sekali keuntungan karena ID itu terdaftar dalam daftar keluarga besar Techconnec dengan predikat VIP yang artinya bebas akses secara gratis seumur hidup. Dengan kata lain, aku tidak perlu membayar sepersen pun untuk menikmati semua fasilitas yang disediakan oleh Techconnec (SMS, Telepon, dan Internet)

Namun jika kugunakan ID lama, maka Sasuke bisa dengan mudah mengetahui keberadaanku dengan melacak letak sinyal ponselku yang telah mengakses jaringan seluler Techconnec. Aku memang bukan buronan Techconnec, tapi aku hanya tidak ingin keberadaanku di ketahui oleh Sasuke karena diam-diam ia bisa mengirimkan mata-mata untuk mengawasiku dan yang terpenting memastikanku baik-baik saja. Setidaknya itulah yang kupikirkan. Namun kalau aku membuat ID baru itu tidaklah mungkin karena pada akhirnya aku akan memakai ID lama dan Sasuke akan tetap mengetahui keberadaanku. Jadi kuputuskan untuk tidak membeli ponsel.

Tak lama kemudian aku bosan bermain game. Jadi aku pun memutuskan untuk menutup mata dan tidur. Namun tiba-tiba seseorang masuk ke dalam tenda dan membangunkanku. Ia mengatakan bahwa seseorang sedang mencariku dan telah menungguku di luar tenda. Aku pun bangun dan berharap orang itu bukanlah utusan Sasuke ataupun Sasuke sendiri karena aku belum siap mengakui kepada Sasuke bahwa kehidupanku sekarang melarat.

Perlahan aku keluar. Pandanganku menjadi tidak sedikit kabur karena mataku belum terbiasa menghadapi cahaya matahari sebab dari kemarin hingga sekarang aku terus menerus berada di tenda yang gelap.

Kumelihat seorang gadis sedang duduk di bangku yang berada di depan tenda. "Hinata!" lirihku sambil mendekati gadis itu.

Karena mendengar suaraku menyebut namanya, gadis itu pun berbalik menghadapku lalu berdiri. "Naruto!" sahutnya lalu mengambil koperku yang kusengaja tinggalkan di rumahnya.

"Ada apa? Kenapa kau bawa koper itu ke sini? bukankah aku sudah mengatakan bahwa kau berhak memakai uang itu untuk apa saja sesuai keinginanmu?" kataku.

"Ayahku tidak mengizinkan uang ini ada di rumah kami. Jadi ia menyuruhku mengembalikan uang ini padamu," kata Hinata.

"Jadi ayahmu bahkan tidak mau melunasi utangnya memakai uang yang telah kuberikan padamu? Ayahmu itu sangat keras kepala. Apa ia tidak menyadari jika utang itu sudah membuatmu menderita," ucapku sambil mengepal tanganku.

'Ayahku tidak ingin berhutang budi pada siapapun. Ia berdalih akan melunasi utang-utangnya sendiri dengan hasil kerja kerasnya tanpa bantuan orang lain," kata Hinata.

Aku mengambil koper itu dari tangan Hinata. "Dasar keras kepala!" ujarku pelan lalu memegang tangan kanan Hinata dengan tangan kiri lalu menariknya ke rumahnya. "Kita akan ke rumahmu. Aku ingin bicara pada ayahmu."

:

:

:

Bersambung

:

:

:

Hai para pembaca.

Maaf ya kalau updatenya super lama. Author baru punya waktu untuk melanjutkannya.

Sedikit info, cerita ini author cicil selama punya waktu. Jadi ketika Author membuat cerita utama lalu kehabisan ide, author mencicil membuat cerita ini. Dan ketika ide sudah muncul lagi, author kembali fokus pada cerita utama.

Meskipun sekarang cerita utama Author sudah tamat, bukan berarti cerita ini akan menjadi cerita utama. Cerita ini akan tetap menjadi cerita selingan saja. Dan jika ada waktu auhtor akan melanjutkan.

Author sedang bersiap-siap mengerjakan proyek cerita utama terbaru. Dan rencananya setelah cerita ini dipublish author akan mulai menggarap chapter pertama untuk cerita terbaru itu. Hitung-hitung mengisi waktu selama bulan puasa.