.
FOOLISH CRUSH
.
Chapter 2
.
Chanyeol menatapi ponsel ditangannya sembari menghembuskan nafas berulang kali. Ingin sekali rasanya menghubungi si pendek itu untuk sekedar mengucapkan terima kasih, namun gengsi rasanya. Tidak pernah sekalipun selama mereka saling mengenal, ia menghubungi si pendek itu lebih dulu. Ketika ia telah mengetikkan beberapa kata, maka ia akan menghapusnya lagi. Kemudian mengunci ponselnya dan membukanya lagi untuk mengetikkan kata-kata lain dan berakhir di tombol delete untuk kesekian kalinya.
"Kenapa dia tidak menghubungiku?" Berulang kali jarinya hendak menyentuh tombol hijau pada kontak Baekhyun, namun diurungkannya. "Aneh sekali. Biasanya dia tidak pernah absen menggangguku."
Matanya melirik kearah payung biru yang terlipat rapi di atas mejanya. Bibirnya cemberut tanpa sadar.
Baekhyun.
Bagaimana dia mengambarkannya?
Baekhyun adalah seseorang yang begitu gigih untuk mendapatkan hatinya. Bahkan ketika ribuan kalimat umpatan, buruk, dan kasar ia lontarkan beberapa kali, anak itu hanya akan tersenyum lebar. Tak pernah sekalipun ia melihat air mata singgah di pipinya. Ia sampai berpikir bahwa itu tidak memiliki emosi apapun selain kebahagiaan.
Atau memang karena dia pintar menyembunyikan kesedihannya?
Entahlah.
Alasan mengapa ia tak pernah mempermasalahkan kehadiran Baekhyun disekitarnya adalah karena euphoria anak itu begitu membangkitkan energi positif baginya. Bak suplemen atau vitamin. Baekhyun itu sebenarnya candu.
Tapi ia terlalu gengsi untuk mengakui itu.
"…."
"Kenapa jadi memikirkan si pendek itu. Sialan!"
Kemudian ia lempar handphone malang itu dan membalikkan badannya, menumpu sebelah sisi wajahnya pada bantal.
"Byun Baekhyun…"
—e)(o—
Tuk!
"Aww!" Baekhyun meringis pelan ketika kepalanya dipukul oleh sesuatu yang berat. Dengan ekspresi kekesalan, ia memutar kepalanya 180 derajat demi melihat pelaku pemukulan sebelum akhirnya umpatan yang akan dilontarkannya tertelan kembali. Wajah kesal itu langsung sumringah seketika. "Chanyeol-ah!" karena sosok yang memukulnya adalah gebetan empat tahunnya.
Ia tersenyum lebar, sampai membuat Chanyeol takut karena Baekhyun lebih mirip joker sekarang.
"Jangan tersenyum seperti itu, cebol! Mengerikan!"
Namun, senyumnya justru semakin lebar.
"Hehe."
"Nah." Sebuah payung lipat berwarna biru langit terulur di depan wajahnya. Tanpa sadar tangannya mengusak-usak hidungnya yang memang terasa gatal sejak ia bangun tidur. Sebuah keajaiban ia tidak demam, mungkin hanya sedikit pusing tapi ia bisa mengatasinya dengan baik. Senyuman bunga-bunga masih tergaris di bibirnya ketika ia menerima payung kesayangannya. "Terima kasih." ujar Chanyeol dengan wajah datar.
"Hm." Ia mengangguk. "Apa kau tidur nyenyak?"
Keduanya berjalan bersama tanpa sadar. Menimbulkan banyak tanya pada beberapa murid yang berpapasan dengan mereka.
"Seharusnya aku tidur nyenyak kalau aku tidak memimpikanmu! Sial."
Langkah Baekhyun terhenti ketika serangkaian kalimat manis itu tanpa sadar diucapkan oleh pujaan hatinya.
"Kau…. memimpikanku?"
Dan pertanyaan itu sukses membuat wajah Chanyeol memerah. Merasa bodoh karena membuka kartu as pada Baekhyun. Skor satu-nol untuk mereka pada pagi ini. Dengan ekspresi gugup ia mencoba menghindari pertanyaan Baekhyun dengan berjalan lebih cepat. Meninggalkan bocah mungil yang meneriakkan namanya dengan girang dan secerah bunga matahari.
"Selamat belajar, Park Chanyeol!"
Bodohnya mereka lupa kalau sekelas.
—e)(o—
Guru biologi tampak sibuk menjelaskan tentang sistem percernaan manusia sementara murid-muridnya justru bergelut dengan dunia mereka sendiri. Hanya ada sekitar… dua orang saja yang mendengarkan sementara yang lainnya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Begitu pun dengan Chanyeol, pemuda tinggi yang digilai Baekhyun sejak Sekolah Menengah Pertama itu sibuk bermain game di ponselnya dengan earphone menyumpal telinganya sejak satu jam pelajaran berlangsung.
Sementara Baekhyun…
Anak itu sibuk memperhatikan Chanyeol dari bangku paling belakang. Menatap Chanyeol dengan binar penuh kekaguman. Yang menurut sahabatnya, Luhan, justru tampak mengerikan.
"Wajah Chanyeol bisa-bisa berlubang hanya karena tatapanmu itu, Byun Baekhyun." bisik Luhan sarkastis.
"Bilang saja kau iri karena Sehun tidak setampan dia."
"Yang benar saja—" Luhan memandangnya ngeri. "Sehun seribu kali lebih baik daripada Park Chanyeol."
"Setidaknya Chanyeol tidak cedal."
"Theheck, Byun?!"
"Tuan Luhan, apa anda bosan dengan kelas saya?" ucapan Guru Biologi langsung saja membuat keduanya tersentak. Luhan membuka tutup mulutnya tanpa bisa menjawab, sementara Baekhyun langsung berpura-pura membaca buku biologi yang penuh dengan coretan stickman. "Tuan Luhan dan Tuan Byun, silahkan keluar dari kelas saya."
"Kenapa saya juga, Pak?"
"Karena bapak tahu betul kalau kau itu sumber masalahnya."
Baekhyun cemberut. Refleks, matanya langsung menatap ke bangku Chanyeol dan pemuda itu tertawa nista diatas penderitaannya. Wajahnya semakin tertekuk. Hari yang buruk. Kedua sahabat itupun keluar dari kelas dengan lengan saling senggol. Berusaha mencapai pintu kelas terlebih dahulu.
"Ck, dasar cebol."
"Jangan terlalu lama menatap Baekhyun. Ada istilah berbunyi jatuh cinta itu dari mata turun ke hati."
"Omong kosong apa itu?!"
"Tuan Park dan Tuan Kim, silahkan keluar menyusul Tuan Lu dan Tuan Byun."
"!?"
—e)(o—
"Park Chanyeol, kira-kira menurutmu, ada berapa banyak jerawat di wajah pacarmu itu?" Chanyeol memutar matanya bosan ketika Baekhyun mengekorinya seperti anak ayam. Beberapa langkah di belakang mereka ada Jongin dan Luhan yang memutuskan untuk kabur ke kantin mengikuti ajakan Chanyeol. "Dokter kesehatan bilang kalau wanita lebih sering berjerawat daripada lelaki. Mereka cenderung lebih mudah stress. Ya! Jangan menyakiti kekasihmu atau jerawatnya akan berpindah ke wajahmu!"
"Byun Baekhyun,"
"Ya?"
"Berjerawat atau tidak, dia itu pacarku. Tidak ada hubungannya denganmu."
Baekhyun cemberut, namun lagi-lagi ia menanyakan hal-hal konyol lain yang membuat Chanyeol kesal setengah mati. Keduanya tampak bersikukuh dengan jawaban masing-masing tanpa ada yang mau mengalah.
"Oh, oh. Lihatlah bagaimana Baekhyun mengontrol Chanyeol." celetuk Jongin tanpa disadari oleh dua orang yang tengah digosipi. Luhan menatap kedua teman sekelasnya itu tanpa minat. Ia tidak pernah menyukai Chanyeol, oke? "Hanya Baekhyun yang bisa membuat Chanyeol kesal setengah mati karena tidak bisa memenangkan argumen mereka. Haha." Tertawa oleh pernyataannya sendiri dan tersedak liur lima detik kemudian.
"…"
"Ya! Luhan-ah! Tidakkah menurutmu hubungan mereka itu cute? Seperti virus love-hate?"
"Akan kupastikan Baekhyun mendapat taksiran baru."
"Kenapa? Kau cemburu?"
"Jangan gila, Jongin." Bola mata Luhan berotasi dengan malasnya. "Aku tidak mau membiarkan puppy kesayanganku tergila-gila pada makhluk tak punya hati seperti Chanyeol. Hah. Dia pikir rasa suka selama bertahun-tahun dengan penolakan berkali-kali itu tidak sakit? Lebih baik Baekhyun berkencan dengan Kris Wu atau Kim Jisoo atau senior keren yang lainnya. Park Chanyeol itu nothing."
"Ya, ya. Terserah kau saja. Menurutku mereka itu cute."
"…."
"Park Chanyeol, kau makan jjajangmyeon saja sepertiku~"
"Tidak mau!"
"Sepiring berdua? Itu pasti romantis."
"Jangan bicara denganku!"
"Tapi kau membalas ucapanku, Chanyeol-ah."
"Aku tidak! Aku hanya sedang menolakmu!"
"Kau tidak akan bisa."
"Hentikan! Ya! Singkirkan tanganmu dari wajahku?!"
"…."
"Sudah kubilang 'kan. Mereka itu cute~" Seharusnya Luhan tahu kalau Jongin itu sama gilanya dengan Park Chanyeol. Dasar payah.
—e)(o—
"Chanyeol-ah!"
Suara lembut seorang gadis mengiterupsi pertengkaran Baekhyun dan Chanyeol mengenai mie hitam yang dipesannya. Ekspresi kekesalan Chanyeol langsung berubah menjadi cerah ketika menemukan gadis berambut coklat itu melambai kearahnya. Dengan langkah ringan dan wajah secerah bunga matahari, gadis cantik itu menghampiri meja keempat anak adam itu dan duduk disamping Chanyeol.
"Kenapa kalian berada di kantin?" Suara cerianya kembali mengalun.
Mengundang decihan Baekhyun karena merasa iri dengan suara lembut yang dimiliki gadis itu.
"Kami dikeluarkan dari kelas." Jongin menjawab dan wajah gadis itu berubah mendung.
"Kalian ini!" Lalu wajahnya mengarah pada dimensi lain, menunduk kecil pada Luhan yang bersikap cuek dan Baekhyun yang wajahnya tertekuk sejak tadi. "Hallo, Luhan-ssi. Hai, Baekhyun-ssi." Keduanya membalas dengan senyuman paksa. Mengerti akan suasana canggung itu, Chanyeol segera merangkul pundak kekasihnya.
"Lalu apa yang kau lakukan diluar?"
"Ah," Senyum cerah gadis itu kembali terlukis. "Aku telah menyelesaikan tes harianku lebih awal, jadi aku boleh istirahat terlebih dulu. Aku pikir aku akan bosan sendirian, ternyata kalian disini. Ditambah Baekhyun-ssi dan Luhan-ssi jadi semakin ramai. Ah! Bukankah ini juga pertama kalinya kita duduk bersama, iyakan Baekhyun-ssi?"
"Hn." Baekhyun menjawab dengan senyuman lebar. "Ini pertama kali aku melihatmu dengan jelas dan ternyata wajahmu mulus tanpa jerawat. Tepat seperti kata Chanyeol. Aww!" Chanyeol menginjak kakinya pada ucapan terakhirnya. Mata sipitnya melotot protes namun dibalas pelototan oleh pujaan hatinya. Menghela nafas, ia akhirnya memilih mengalah. Tidak ada gunanya juga membela diri.
"Chanyeol, aku akan memesan dulu."
Belum sempat gadis itu beranjak, Chanyeol langsung meraih pergelangan tangannya. Hal tersebut tak luput dari mata Baekhyun dan ia hanya tersenyum kecut tanpa ada yang menyadari.
"Biar aku saja."
"Tidak, tidak!" Ia menginterupsi. "Aku ingin memesan minum, jadi sekalian saja. Kau mau makan apa? Sama dengan kami?" Dan setelah anggukan dan ucapan terima kasih menjadi balasan untuknya, ia pun segera melangkah pergi.
Meninggalkan semua hal yang membuat moodnya memburuk. Yah, mungkin hanya untuk lima menit ke depan.
—e)(o—
Sekolah terasa lebih membosankan pada jam istirahat kedua. Banyak anak yang memilih tidur di kelas ketimbang pergi ke kantin atau perpustakaan. Di jam-jam seperti ini, Chanyeol akan memilih lapangan basket untuk bergabung dengan Jongin dan Sehun –anak kelas sebelah– bertanding melawan Luhan dan kawan-kawannya seperti biasa. Tapi, sore ini ia lebih memilih untuk mengunjungi ruang musik. Tempat ternyaman kedua setelah lapangan basket.
Semakin dekat langkahnya menuju ruang musik, semakin terdengar suara denting piano dari dalam sana. Nada yang dihasilkan begitu lembut, kuat, dan menyentuh. Seolah-olah ada emosi yang tertuang di dalamnya. Mendengarnya saja, ia sudah terkagum-kagum. Awalnya, ia berpikir kalau ada kelas musik dari kelas lain. Namun, keheningan dari sana membuatnya berpikir bahwa mungkin suara itu dibuat oleh seseorang atau beberapa orang yang singgah ke ruang tersebut sebelum dia.
Ia memilih untuk mengintip.
Dan terbelalak ketika menemukan figur familiar di dalam sana. Terlihat jelas dari samping. Samar oleh bias cahaya mentari sore. Membuatnya tampak seperti lukisan nyata.
Byun Baekhyun.
Ekspresi serius yang tak pernah ia lihat seumur hidup. Indah, penuh emosi terpendam, dan membius. Ia tak pernah tahu kalau Baekhyun dan piano adalah perpaduan yang sempurna. Jemari yang terkenal akan keindahannya itu seolah menyatu dengan tuts-tuts piano yang sama panjangnya. Membaur bersama hitam putih itu, membentuk nada-nada luar biasa. Membuat siapapun yang mendengarnya tak bisa berkata-kata.
Nada penuh kesedihan.
Menyayat secara perlahan.
Terasa aneh dan mengganjal.
"Ada apa dengannya?" bisiknya perlahan. Menatap lurus, berusaha mencari celah agar matanya dapat melihat wajah Baekhyun sepenuhnya. "Seperti bukan dia…" Dentingan piano itu indah, namun entah mengapa Chanyeol tak sanggup mendengarnya lebih lama. Kakinya secara perlahan mundur, menjauh dari ruangan sepi itu. Mungkin, sebaiknya ia memang bergabung dengan Jongin di lapangan basket.
—e)(o—
"Hoi!" Luhan menoleh lalu melambai dengan ceria ketika sahabat sehidup sematinya, Baekhyun, menapaki lapangan basket tempat ia dan teman-temannya tengah bermain. Tak hanya pemuda itu yang menoleh, mata kawan-kawannya pun ikut mencermati bagaimana anjing kecil itu tengah berlarian kearah mereka. Tersenyum lebar tanpa beban, khas seorang Byun Baekhyun. "Aww!" Yang kemudian tersandung kakinya sendiri. Ia meringis ketika teman-temannya tertawa oleh tingkahnya.
Disisi lain, Chanyeol mendengus geli.
"Aku ingin ikut bertanding."
"Why? Tidak biasanya." Luhan mengernyit heran.
"Moodku sedang jelek."
"Ya, Byunbaek! Memangnya kau bisa bersedih juga?" Anjing kecil itu berdecih, namun tak mempermalahkan ucapan kurang ajar Jongdae. Ia berjalan kearah Chanyeol yang saat itu memang tengah memegang bola basket. Menatapnya dengan senyuman manis yang berhasil membuat pemuda tinggi itu terkesima untuk beberapa detik, hingga tak menyadari tangan nakal Baekhyun sudah merambat kearah bolanya dan merebutnya secepat kilat. "Ayo mulai!" teriaknya keras yang akhirnya menyadarkan Chanyeol dari lamunannya.
"Duh, sial!"
Dan permainan pun dimulai.
"HAHAAA—" Permainan serius tadi berubah menjadi lebih hidup ketika Baekhyun ikut terlibat di dalamnya. Kecurangan bukan lagi hal yang menyebalkan, tetapi menjadi guyonan lucu ketika anak anjing itu yang melakukannya. Suasana menjadi lebih ceria, terlepas dari panasnya udara dan langit yang mulai mendung. Hawa seperti ini, pasti akan segera turun hujan.
"YAAAA! BYUN BAEKHYUN! BERHENTI MEMAINKAN BOKONGMU DI DEPAN WAJAHKU!" Jongdae berteriak nyaring, menggetarkan indera siapapun. Bukannya berhenti, Baekhyun justru semakin bermain-main yang mana membuat Chanyeol tanpa sadar menggeram kesal. Anak itu benar-benar konyol dan membuatnya bertambah kesal saja. Jika teringat Baekhyun ketika di ruang musik tadi, dia benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat.
"BAEKHYUN, BERHENTI MEREBUT BOLA SEPERTI ITU!" Teriakan Jongin menyusul kemudian. Luhan tertawa tanpa henti, kemudian menerima lemparan bola dari sahabatnya dan menggiringnya kearah lawan. Skor yang didapatkan lebih unggul karena permainan bar-bar Luhan dan timnya ditambah kecurangan lucu yang dilakukan Baekhyun. Tidak ada yang bisa menginterupsi mereka, karena mereka bermain dan bersenang-senang. Bukan pertandingan yang sebenarnya.
"BAEKHYUN, BERHENTI MENCIUMKU!" Kali ini, teriakan Chanyeol membuat seluruh mata menatap kearah dua manusia yang memiliki perbedaan tinggi badan yang cute.
"HAHAAA—"
Pada akhirnya Baekhyun akan terus berpura-pura. Memasang wajah ceria khas anak-anak, membuat Chanyeol kesal setengah mati padanya dan menjadi si permen kapas yang lembut dan manis. Seseorang yang sebenarnya telah menempati hati Chanyeol tanpa disadari pemiliknya.
—e)(o—
"Haaah, ada apa dengan bulan ini? Aku benci hujan."
"Aku menyukainya."
Chanyeol menoleh, menatap tidak suka pada sosok yang lebih pendek darinya. Hoodie putih dengan payung biru ditangannya, Byun Baekhyun. Anak itu menatapnya dengan senyuman lebar konyolnya. Hanya ada kilat menghiasi langit yang mendung. Untung saja tidak ada suara petir karena Chanyeol amat membencinya. Suara Baekhyun saja sudah sekeras petir.
"Sana pulang, anak kecil pasti dicari ibunya!" usirnya dengan tangan yang mendorong-dorong udara. Si mungil berdecak kesal namun tidak menghilangkan senyuman manisnya.
"Apa kau mengkhawatirkanku?"
"Huh?" Chanyeol tertawa remeh. "Tidak, tentu saja."
"Kau tidak jago berbohong." Chanyeol memilih diam. Karena sedikit banyak pertanyaan Baekhyun ada benarnya. Ia memang 'sedikit' mengkhawatirkan Baekhyun setelah kejadian dimana ia memergoki anak itu tengah bermain piano dengan dramatis. "Chanyeol-ah!" Chanyeol enggan menatapnya namun bergumam sebagai balasan untuk panggilan lembut Baekhyun. Tanpa disadari yang lebih tinggi, Baekhyun mengusap-usap hidungnya yang terasa gatal, lalu meninggalkan sedikit jejak merah di jemarinya yang kemudian disembunyikan dibalik punggungnya.
Tubuh Baekhyun bergetar tanpa ada yang tahu.
"…."
"Aku sangat menyukaimu." Pernyataan itu telah didengar Chanyeol berulang kali, namun nada yang digunakan Baekhyun kali ini membuat hatinya terketuk. "Aku sangat… sangat menyukaimu."
"Aku… tahu."
Chanyeol tahu, seharusnya itu tidak memberikan jawaban itu. Karena itu akan menyakiti Baekhyun.
"Terima kasih untuk semuanya." Mata bertemu mata. Chanyeol menatap wajah putih pucat Baekhyun dengan seksama. Mengamati seseorang yang selama ini memujanya. Baekhyun begitu indah jika boleh jujur. Ketulusannya tercetak jelas di binar matanya yang cantik. Seorang pemuda gigih yang tidak pernah mengeluh bahkan ketika dia lelah. "Kau tahu, aku akan selalu menyukaimu." Kemudian anak itu pergi, berjalan menjauh menuju gerbang sekolah mereka. Meninggalkan Chanyeol yang sibuk mengamati punggung mungilnya yang semakin lama semakin kecil, tertelan oleh jarak yang menyesakkan.
"Aku… juga." bisiknya selirih desiran angin.
—e)(o—
Keesokan harinya, suasana kelas tiba-tiba suram. Terlebih Luhan yang tampak lebih diam dari biasanya. Chanyeol, dengan gerakan kaku meletakkan ranselnya perlahan, menatap wajah-wajah dikelasnya. Semua tampak sama hanya lebih terlihat tenang. Bangku yang biasa diisi oleh si berisik Baekhyun tampak kosong. Mungkin anak itu sedang berada di kantin atau entahlah. Ia tak mau tahu. Tapi, ia tak memungkiri bahwa perasaannya begitu mengganjal sejak kemarin.
"Apa Baekhyun tidak mengatakan apapun?" suara seorang gadis menyebut-nyebut nama Baekhyun langsung terdengar. Sontak membuat kepala Chanyeol ikut menoleh kearah bangku Luhan. "Seharusnya dia mengucapkan satu patah kata untuk kita sebelum pergi. Jujur saja, meskipun berisik Baekhyun itu teman yang menyenangkan."
Apa?
Pergi?
Dengan ekspresi penuh kebingungan Chanyeol bergegas ke bangku Luhan dan menarik lengan anak itu hingga kedua mata mereka bertemu. Tersentak ketika melihat buliran di balik kelopak Luhan, ia tahu sesuatu telah terjadi.
"Baekhyun… kemana Byun Baekhyun?" desisnya mendesak.
Mata Luhan semakin meredup.
"Dia… pergi."
"Pergi? Apa maksudnya dengan pergi?"
Tak ada jawaban selain bibir bergetar di wajah Luhan. Pemuda manis itu mengabaikan pertanyaan dan justru menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangannya dan menangis tersedu. Hal tersebut membuat seluruh atensi kelas jatuh pada mereka. Sementara gadis yang bertanya tadi berusaha menenangkan Luhan, Chanyeol membeku. Sesuatu telah terjadi. Hal yang mungkin tak ia inginkan.
Chanyeol mundur perlahan, rasanya begitu sesak tanpa ia tahu alasannya.
"Kembali pada tempat kalian masing-masing!" Interupsi dari arah pintu membuat seluruh kelas kembali tenang, menyisakan isakan Luhan dan helaan nafas dari wali kelas mereka. Chanyeol, dengan terpaksa kembali ke bangkunya. Menelan bulat-bulat rasa penasaran yang membuat dadanya seolah terhimpit. "Seperti yang kalian dengar pagi ini…" Wali kelasnya memulai. Suaranya tampak sedih dan guratan disekitar matanya menunjukkan emosi yang begitu mendalam. "Baekhyun mengalami gejala awal leukimia dan mengalami pingsan tadi malam."
Deg.
Leu— apa?
"Orang tuanya memutuskan untuk membawanya ke Kanada untuk berobat sekaligus pindah kesana. Karena itulah ia tidak sempat berpamitan pada kalian—" Suara wali kelasnya seolah lenyap secara perlahan. Desir angin masuk melalui inderanya, menusuk ke dalam kulitnya. Langit berubah mendung seketika, membawa bau tanah masuk ke dalam hidungnya. Hujan di pagi hari, menandakan awal yang buruk. Ia kini merasakannya. Remasan di jantungnya dan tekanan di dadanya. Semua bukan hal yang menyenangkan.
Byun Baekhyun.
Dibalik tawa dan senyuman kekanakan itu. Mengapa ia menyimpan rasa sakitnya sendiri? Apa dilihatnya kemarin bukanlah sebuah ilusi? Itulah keadaan Baekhyun yang sebenarnya.
Baekhyunnya…. Bagaimana mungkin…
Lalu bagaimana dengannya? Ia bahkan belum mengatakan pada Baekhyun kalau selama ini dia tidak benar-benar membencinya. Mata peri Chanyeol menatap laci mejanya dengan padangan kosong. Menatap payung biru muda yang tertidur di dalam sana. Byun Baekhyun pasti pelakunya. Dia pasti meletakkan payung itu agar Chanyeol tidak perlu kehujanan lagi. Dia selalu melakukannya. Setiap saat anak itu selalu mengkhawatirkannya.
"Bodoh." lirihnya. Tak mampu membendung liquid di balik kelopaknya. "Padahal aku ingin mengajakmu pulang bersama hari ini…" bisiknya pada payung yang bisu dan tersenyum kecut.
Lalu, kepada siapa ia harus mengembalikan payung itu?
.
"End—"
.
OGP :
Hi there! No A/N today. Thanks for reading and please leave some reviews for me.
SALAM TSADESST!
