KHR © Amano Akira
—
Family
——I will be protect you, because you're my beloved children—
PrimoxDecimo (Parental), GioxCozaltz, EnzoxAlaxSpade, UgetsuG, All27, 8059, D1869
Family/Adventure
Warning: OOC, shounen ai, maybe typo
—
The Children | 2
—
Pada akhirnya, Giotto dan yang lainnya membawa beberapa anak yang masih selamat itu ke manshion Shimon dengan cepat. Memberikan pertolongan dan membaringkan mereka di setiap kamar milik Vongola Guardian disana. Lalu, mereka berkumpul di aula utama untuk membicarakan masalah tempat itu.
"Jadi—pada akhirnya hanya 7 anak yang selamat—dan satu anak anjing?"
"Ya, luka mereka tidak membahayakan—tetapi, anak perempuan yang ditemukan Spade," Giotto menatap kearah Spade yang tampak menutup matanya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada, "mata kanannya tidak berfungsi—sehingga ia tidak bisa melihat dengan mata kanannya..."
...
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang Giotto?" Cozaltz menatap kearah Giotto yang hanya diam sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang.
*whimped*
Menoleh ketika mendengar suara anjing, Ugetsu menemukan anak anjing yang ia selamatkan muncul dari balik pintu. Tampak ketakutan, tetapi ketika melihat Ugetsu ia tahu—pemuda itulah yang menyelamatkannya dan tuannya.
"Hei anjing baik, bagaimana keadaanmu?" Mengusap bulu abu-abunya, Ugetsu tersenyum. Dan anjing itu menggoyangkan ekornya, tanda bahwa ia percaya (begitu saja) dengan Ugetsu, "hahaha anjing baik!"
Dan semuanya hanya bisa sweatdrop melihat bagaimana keserasian Ugetsu dengan anak anjing itu.
"Bagaimana kalau kita istirahat saja dulu sekalian mengecek bagaimana keadaan anak-anak itu?" G menatap Giotto dan juga yang lainnya.
"Ide yang bagus," Cozaltz berdiri dan berjalan mengikuti Giotto dan G yang sudah berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Ugetsu, Knuckle, dan Lampo. Sementara Alaude dan Spade berjalan kearah lainnya.
—
The Children
—
Tidak butuh waktu lama untuk Giotto dan juga yang lainnya sampai dikamar masing-masing. Kamar mereka bersebelahan, kecuali dengan kamar Alaude dan Spade yang lebih memilih untuk berada ditempat yang jauh dari keramaian.
Giotto menghela nafas—lelah dengan apa yang terjadi hari itu. Memutar knop, ia membuka pintu perlahan. Melihat anak berambut cokelat yang masih tertidur dengan beberapa perban yang menutupi sebagian tubuhnya. Sesekali tampak wajahnya yang ketakutan dan ia bergerak tidak nyaman di atas tempat tidur.
'Ayah! Ibu! Jangan tinggalkan aku!'
Sekilas kenangan tentang masa lalunya langsung tergambar melihat bagaimana ayah dan ibunya yang tewas di depan mata, dan ketika ia terbangun—ia hanya sendirian. Memegang poni anak itu, yang menutupi perban di kepalanya—Giotto hanya menatapnya dengan tatapan sedih.
"Pasti sangat berat untukmu," hanya itu yang dikatakannya sebelum ia merebahkan dirinya di samping anak itu, agak menjauh karena takut ia akan menyenggol luka anak itu.
...
"Selamat tidur..."
—
The Children
—
G tampak masih bergelut dengan pekerjaannya dan sesekali menatap anak laki-laki yang berada di atas tempat tidurnya. Ia berambut perak—dan jujur wajahnya sedikit banyak mirip dengannya. Dan tentu saja ia tidak mungkin memiliki anak karena usianya baru beranjak 25 tahun. Ia bahkan tidak ingat dekat dengan perempuan selain yang berada di dalam manshion. Ketika melihatnya lagi, ia sadar sesekali anak itu mencengkram erat selimut yang dikenakannya dengan tubuh yang bergetar.
'Namamu G? Aku Giotto—bagaimana kalau mulai sekarang kau tinggal denganku dan orang tuaku?'
Melihat anak itu membuatnya ingat dengan dirinya saat dulu. Ia bahkan tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Dan ketika sadar, ia sudah bersama dengan Giotto dan kedua orang tuanya yang sudah menganggapnya sebagai anak kandung mereka.
"Heh—sepertinya kau mengalami sesuatu yang menakutkan bocah, walau aku tidak tahu seberapa parahnya yang kau rasakan..."
G tampak akan menyalakan rokok yang sudah siap ditangannya. Tetapi ia menatap anak itu lama. Walaupun ruangan itu memiliki pendingin, asap rokok pasti bisa menggangguk udara yang dihisap anak itu.
...
"Hanya sekali ini—bocah..."
Ia menaruh kembali rokok yang belum sempat ia nyalakan kembali kedalam kotaknya. Membalik laporan lain sebelum menyadari sesuatu yang membuatnya ingin membenturkan kepalanya diatas meja.
"...Gio—"
Berjalan kearah luar, ketika yakin tidak ada seseorangpun disana, ia segera menarik nafas dalam-dalam sebelum berteriak.
"KERJAKAN TUGASMU SENDIRI BODOH!"
—
The Children
—
Suara seruling tampak terdengar di sebuah kamar yang bergaya ala Jepang—satu-satunya di markas itu yang memang ditujukan untuk Ugetsu. Lagipula letak Holy Island memang berada di perairan Jepang. Anak anjing berwarna abu-abu itu—dengan beberapa perban yang melilit kaki dan tubuhnya tampak duduk dan tertidur—mendengarkan suara seruling yang dimainkan sang pemilik flame berwarna biru itu.
"KERJAKAN TUGASMU SENDIRI BODOH!"
Mendengar suara yang familiar itu membuatnya tertawa, sementara anak anjing itu tampak terkejut dan terbangun begitu saja dari tidurnya.
"Sepertinya aku harus membuatkan G-dono minuman lagi—" baru saja ia akan bangkit dan keluar dari kamar, ia terhenti. Menoleh kearah futon yang berada dibelakangnya—menatap anak laki-laki yang tertidur disana, tampak tenang dan tidak terganggu dengan permainan darinya. Hanya tersenyum simpul, bergerak dan mendekati anak itu.
"Bagaimana kalian bisa sampai ditempat seperti ini—" mengelus kepala anak itu, dan ketika itu anak anjing yang sempat terbangun tampak berjalan dan duduk dipangkuan Ugetsu, "—Italia sangat jauh dari Jepang, dan sepertinya kau berasal dari Jepang, benar?"
*whimp*
"Hahaha tetapi tenang saja, kalian akan aman disini," Ugetsu mengelus anak anjing itu dan tertawa ringan, "Giotto tidak akan membiarkan kalian terluka lagi..."
—
The Children
—
Di sebuah gereja kecil yang ada di salah satu sudut markas Shimon, tampak Knuckle yang sedang berdoa disana. Memegang buku berwarna hitamnya, ia mengakhiri acara itu ketika mendengar suara G yang berteriak.
"Sepertinya G masih bersemangat sekali—" Knuckle berjalan perlahan dan melihat kearah kamarnya yang berada di dekat gereja kecil itu. Ia membuka pintu perlahan, menampakkan kamar bergaya minimalis dengan sebuah tempat tidur king size. Dengan segera ia berjalan, menatap anak berambut putih yang tampak tertidur disana dengan perban melekat di sebagian tubuhnya terutama di kepala.
"Keajaiban kau dan juga mereka bisa selamat dari tempat itu—Tuhan sangat menyayangimu," tersenyum dan menyentuh dahinya sebelum mengecup dan membenahi selimutnya, "kuharap Tuhan selalu memberkatimu..."
—
The Children
—
Hanya satu orang yang sepertinya tidak langsung kembali ke ruangannya setelah pertemuan itu. Alaude tampak masih mengamati tempat mereka menemukan anak-anak itu. Mencoba mencari tahu semua tentang tempat itu, sebelum ia menguap dan tampak limbung.
"Aku akan kemari besok—" menggumam, ia memutuskan menjauh dan sesekali menguap. Berjalan menuju ke kamar, dan memasuki kamarnya. Menemukan anak laki-laki berambut hitam itu tertidur dan ia tampak cuek. Melepaskan mantel, jas dan dasinya—melepaskan beberapa kancing atasnya dan duduk diatas tempat tidur di sebelah anak itu.
Memutuskan untuk membaca buku—memakai kacamata bacanya. Sesekali melihat anak itu yang tampak tenang tanpa ekspresi.
'Tidak bisakah kau menunjukkan sedikit ekspresimu Alaude?'
'Kasihan—mungkin karena tidak pernah melihat dan merasakan kasih sayang orang tuanya, ia jadi seperti itu...'
'Ia masih muda—tidak baik jika ia seperti itu...'
PRANG!
...
Alaude melempar buku yang ada di tangannya, dan mengenai gelas yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidur. Mengatur nafasnya, mencoba untuk tidak emosi melihat anak itu yang membuatnya mengingat semua kenangan masa kecilnya. Tetapi, tiba-tiba wajahnya menyunggingkan senyuman samar.
"Aku ingin tahu—siapa sebenarnya anak ini..."
—
The Children
—
Spade sedang berada di kamarnya, bersama dengan kedua orang anak laki-laki dan perempuan yang ia temukan di tempat itu. Menyelidiki mereka dengan menggunakan ilusinya, butuh waktu cukup lama sebelum senyuman lebar tersungging di wajahnya.
"Nfufufu~anak-anak yang menarik," Spade menatap anak laki-laki berambut biru tua itu. Menyentuh mata kanan anak laki-laki itu—membuka perlahan agar anak itu tidak terusik, dan pada matanya, tampak menunjukkan kanji 6.
"Mereka tampaknya berhasil—atau memang ini adalah kekuatan anak ini?"
...
"Sepertinya aku harus menyelidiki kekuatan mereka lebih lama lagi—jadi, bagaimana seharusnya..."
—
The Children | End
—
Nami : kembali dengan Nami disini :) dan inilah Chapter 2 dari 'Family'
Nate : maaf kalau ceritanya semakin ngawur ^^
Nami : gimana sih :( bisa-bisanya lw ngomong gitu sambil senyum...
Noa : *smirk* karena memang itu kenyataannya...
Nami : Ja—jahatnya...
Noa : karena kami antagonis kan? *evil grins*
Nate : begitulah ^^
Nami : ...entah kenapa gw pake kalian berdua jadi asisten...
Noa : karena cuma kami yang mau?
Nate : dan memang baru kami OC yang anda buat kan? ' '
Nami : ugh...susah kalau punya asisten perannya antagonis...
Noa : sudah, sekarang bales review...
Putri Luna - makasih reviewnya ^^
Kyara17 - I don't understand about your language, but thank you for your reply ^^
aliagepyon - Ahaha makasih ˆヮˆ ini sudah diupdate :)
ByuuBee - sudah dibales di DM kan? :) makasih sudah baca~
