previously

Brukh.

Sebuah tabrakan kecil membuat Candace sedikit oleng, untungnya ia masih dapat menjaga keseimbangannya untuk berdiri.

Sebenarnya, Chase—pria yang tadi menabraknya—hanya ingin meminta maaf biasa. Tapi, karena ia sempat melihat wajah Candace yang pucat, ia pun sedikit prihatin.

"Sorry, aku tidak sengaja. Kau baik-baik saja?" Tanyanya.

Merasa tidak ada jawaban dalam waktu yang cepat, pria berambut jingga itu sedikit membungkuk dan melihat kedua mata Candace yang tidak sedang menatapnya.

Chase bingung. Ia kembali menegakan tubuhnya dan menggedikan bahu. Niatnya, ia ingin langsung meninggalkan gadis aneh berambut biru itu. Tapi, tiba-tiba saja kaki Candace melemas dan ia langsung terjatuh. Namun, sebelum gadis itu menghantam permukaan jalan, dengan cepat Chase menangkapnya.

Dengan panik, ia menatapi kedua mata Candace yang terpejam.

"Hei, apa kau bisa bangun?"

Dia tepuk pelan pipinya, agar gadis asing tersebut dapat terbangun. Tapi, nyatanya dia malah terkejut karena menyadari suhu tubuh Candace yang begitu panas.

Kini, Chase dibuatnya mendesah pasrah.

"Apa gadis ini... pingsan?"

.

.

Beberapa jam berlalu. Setelah merasa tubuhnya sudah lebih dari cukup untuk beristirahat, gadis berkulit seputih susu itu mencoba membuka kedua matanya yang berat. Baru ia sadari, bahwa ia sedang berada di atas sebuah kasur yang empuk. Ada bantal, guling dan juga selimut.

Karena kenyamanan tersebut, ia kembali memejamkan mata dan memiringkan tubuhnya agar dapat memeluk guling.

Di dalam tidur sesi keduanya, Candace tersenyum.

Keadaan ini mengingatkannya kembali ke rumahnya yang dulu terletak di Garmon Mines. Sonata Tailoring, itulah namanya. Toko yang pernah dijadikan Candace dan neneknya sebagai tempat berkerja sekaligus rumah. Lalu—

Eh?

Tunggu...

Seingatnya, mereka berdua sudah dihusir dari rumah karena tidak sanggup membayar hutang. Neneknya sakit, lalu dirawat inap di klinik. Dan juga kalau tidak salah, ia belum sampai ke Ocarina Inn.

Jadi... ini di mana?

Perlahan Candacace membuka kedua matanya, menatapi segala perabotan sederhana yang terletak di sekitar ruangan. Ia ubah posisinya menjadi terduduk, lalu dia edarkan pandangan ke segala arah.

"A-Aku berada... di kamar siapa?"

Candace shock, terutama saat ia menyadari bahwa pakaiannya sudah berganti menjadi baju tidur yang entahlah milik siapa.

Tidak terasa, kedua bola matanya menjadi berkaca-kaca. Ia takut. Perlahan, ia menuruni ranjang dan mencoba berdiri. Bertepatan dengan kedua kakinya yang sudah menyentuh lantai keramik, mendadak pintu kamar terbuka.

Terlihatlah seorang pria berambut jingga berantakan yang sedang menguap. Saat ia melihat Candace, ia terdiam dan menyenderkan punggungnya ke bingkai pintu. "Kau sudah sadar, Nona?"

Di tempatnya, Candace tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Tentu saja, saat ini ia sedang terkejut bukan main.

Jadi, kamar dan kasur yang ia gunakan tadi adalah milik seorang pria? Lalu... bagaimana dengan baju tidur ini? Apa... dia juga yang menggantikan pakaiannya?

Atau mungkin...

Seketika, sebuah bayangan mengerikan terngiang di benak Candace.

Karena dapat membaca raut wajah yang sedang ditampilkan si gadis, pria bernama Chase itu tersenyum.

"Kenapa? Kok kaku?" Tanyanya. "Apa perbuatanku 'tadi malam' terlalu kasar sampai-sampai membuatmu kesakitan?"

Mendengar hal itu, Candace terbelalak.

"KYAAAAAA!"

.

.

.

F-L-U-B-I-L-O-B-U

Harvest Moon by Natsume

AR—Alternate Reality

Pieree Present...

(Gill Hamilton—Candace Schessa—Chase Kalvin)

.

.

two of ...

-pelayan-

.

.

Beberapa menit sesudah kejadian yang lalu, pria tadi tertawa terbahak-bahak. Candace yang saat ini terduduk di tepi ranjang hanya bisa menunduk dengan wajah memerah.

Setelah merasa perutnya sudah kembali normal—tidak geli lagi—akhirnya Chase menatap Candace dengan pandangan jahilnya.

"Hahah, tenang saja kok. Tadi aku bohong. Aku belum melakukan apa-apa kepadamu..."

Dalam hati Candance mendesah malas. Memang, apa yang pertama kali pria itu katakan sewaktu memasuki kamar adalah candaan. Namun, kenapa sekarang ia malah mengatakan 'belum' sih? 'Belum' kan menanda suatu saat nanti akan ia lakukan...

"Seperti apa yang telah kujelaskan tadi, ini bukan kamarku, tapi kamar kosong di mansion tempatku berkerja. Lalu yang menggantikan seluruh pakaianmu adalah Maya, salah satu rekan kerjaku. Sedikit tambahan untukmu, di sini aku berkerja sebagai koki, dan Maya adalah maid—pelayan." Chase memberikan cengiran kecilnya. "Karena itu, jangan khawatir..."

Candace meremas selimut yang menutupi kakinya, lalu mengangguk kecil.

"Oh, ya. Aku Chase Kalvin. Salam kenal, ya? Panggil aku Chase..." Ia mencoba memperkenalkan diri. "Kau siapa?"

"Ca-Candace Schessa. Maaf... ka-karena telah merepotkanmu..."

Chase mengangguk, lalu ia menunjuk pintu yang sudah sedikit terbuka. "Ayo, keluar... aku sudah membuatkanmu makanan. Pasti kau lapar, kan?"

Karena merasa tidak enakan, Candace hendak menggeleng, tapi mendadak perutnya berbunyi. Sebelum bunyi tadi lebih terdengar, ia langsung menekan perutnya dengan telapak tangan.

Melihat hal itu, Chase tertawa dan segera menarik tangannya. "Ayo."

.

.

pi-e-ree—flu-bi-lo-bu

.

.

Candace mengunyah suapan terakhirnya dengan teramat sangat pelan. Setelah isi perutnya cukup terisi, ia berdehem sebentar dan meletakan garpu dan pisaunya ke atas piring.

Gadis pemalu itu terdiam, ia tidak tau lagi harus berkata apa selain menunggu Chase yang sedang mencuci piring menghampirinya.

Di sela kegiatan, Candace memperhatikan dapur luas di ruangan ini. Ternyata benar kata Chase, sekarang ia berada di dalam mansion. Pantas saja bentuk dalam rumahnya berbeda dari segala rumah yang pernah ia lihat di Garmon Mines—daerah tempat ia tinggal. Karena kata beberapa omongan yang terdengar, hanya ada satu mansion di Castanet Island yang terletak di Harmonica Town.

Melihat Candace yang sudah selesai makan, sembari mengelap kedua tangannya yang basah dengan lap, Chase datang dan duduk di sebelahnya. "Bagaimana? Enak, tidak?"

"Mm... enak. Sosisnya kau buat sendiri?"

"Iya."

"Kau pintar memasak..." Candace menatapnya.

Chase mengangguk pelan. "Terima kasih."

Kini, suasana menjadi hening dan Candace kebingungan menghadapi situasi ini.

Kira-kira... apa yang harus ia katakan lagi untuk memulai topik pembicaraan, ya?

"Oh, ya. Kalau boleh tau, kenapa kemarin kau bisa sampai pingsan?" Tanpa diduga, nyatanya pria itu bertanya. "Apa doronganku terlalu keras?"

"Dorongan?"

"Iya. Sebelum kau pingsan, aku sempat menabrakmu. Tidak sengaja, tentunya. Saat kutanyakan keadaanmu, kau langsung pingsan."

Candace berpikir sebentar. Kejadian kemarin berputar pelan di pikirannya. Dan di saat itu juga, bukannya mengingat tabrakannya dengan Chase, ia malah teringat Shelly—neneknya yang berada di Choral Clinic.

"Hei, wajahmu memucat. Ada apa?"

Candace menatap kedua manik milik Chase, lalu menggeleng. "Aku... hanya banyak pikiran."

"Pikiran seperti apa?"

"Nenekku... sedang dirawat inap di klinik." Lalu ia menghela nafas. "Dan aku tidak punya uang untuk membayar segala pembiayaannya..."

Kedua alis Chase naik. "Ohh, kau bermasalah dengan uang? Mungkin, karena itu kau sampai stress dan pingsan."

Candace menggigit bibirnya. "Iya... bisa dikatakan seperti itu..."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau kerja di sini saja?"

Kedua mata Candace terbelalak. Jujur saja, ia cukup bahagia mendengar ajakan barusan.

"Eh? Me-Memangnya boleh?"

"Iya, kebetulan di mansion ini kekurangan maid. Mungkin, Gill akan menerimamu."

"Gill? Gill itu... siapa?"

"Dia walikota di Castanet Island. Dia pemilik sekaligus orang yang memperkerjakan aku dan Maya di sini."

Candace mengangguk mengerti.

"Lalu, bagaimana? Kau mau?"

Candace berpikir. Sebenarnya, jika ia menerima penawaran ini, bisa dibilang ia diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk hidup. Selain diberikan tempat menginap, ia juga akan diberikan gaji dan teman seperti Chase. Karena itu, untuk apa ia menolak?

Tapi, kalau saja ia berkerja menjadi maid... siapa yang nantinya akan menjenguk Shelly? Neneknya itu kan juga harus diperhatikan—

"Kau harus mauuuu!"

Mendengarnya, Chase dan Candace langsung menoleh ke arah belakang—asal muasal suara tadi.

Ternyata, di sana sudah ada seorang gadis berambut pirang pendek yang berdiri di depan pintu. Namanya Maya. Gadis berwajah imut itu membawa sekantung sayur dan buah yang barusan ia beli. Bersama senyuman lebar, ia pun berlari ke Candace.

"Kau harus mau menjadi maid! Ayolahh~!" Maya yang rupanya sempat menguping pembicaraan barusan pun langsung mengayunkan kedua tangan Candace. "Mau, ya? Mau, yaaa?"

"Hei, Maya. Kau seharusnya memperkenalkan diri dulu. Jangan seperti itu..." Chase berdecak.

Maya langsung cemberut. Ia mundur selangkah dari Candace dan melipat kedua tangannya di dada. "Iya, iya, Chasee..."

Saat maya kembali menatap Candace, tatapan sebalnya berubah seketika menjadi tatapan lembut. "Namaku Maya Bennet. Salam kenal, ya..."

"Nah, jadi bagaimana? Kau mau kan menjadi maid?"

Candace berpikir sebentar. Lalu.. dengan sebuah senyuman yang terukir di bibirnya, akhirnya ia mengangguk.

"Iya..."

.

.

pi-e-ree—flu-bi-lo-bu

.

.

Setelah beberapa menit berbicara dengan Chase dan juga Maya, penjelasan tentang apa yang harus dikerjakan oleh Candace pun selesai. Maya menarik Candace ke kamarnya agar dapat memberikannya sebuah pakaian maid yang siap dipakai.

"Ini ukurannya medium, semoga saja kau muat..."

Candace menerimanya dan berterima kasih. Pertamanya, ia melihat pakaian maid milik Maya. Gadis ceria memakai pakaian maid yang serba hitam yang ditutupi oleh apron putih. Pasti pakaian yang diberikan Maya ini persis seperti kepunyaannya.

"Ayo, sana pakai... aku tunggu di luar, ya?"

Setelah Maya keluar dengan menutup pintu, Candace langsung mengganti baju.

Setelah selesai, bersama wajah malu-malu Candace menampakan dirinya ke dapur—tempat di mana Chase dan Maya berada. "Ba-Bagaimana?"

"Wahh, kau cocok ya memakainya?"

Maya mengangguk setuju. "Iya, kau cantik sekalii. Hanya saja kepanganmu ini sedikit berantakan."

Dia lepaskan ikat rambut yang melilit helaian biru Candace. Mungkin kedua kepangannya menjadi berantakan karena ia memang baru bangun.

"Kurapihkan dua kepanganmu, ya?"

"Boleh..."

Ini sengaja dibuat agak longgar, kan?"

Candace mengangguk.

Usai acara merapihkan rambut, Maya tersenyum lebar.

"Nah, sekarang kau sudah semakin cantik. Dan semoga saja kau sudah siap menjalani perkerjaanmu di hari ini, kan?"

Gadis manis itu tersenyum. "Ya..."

"Nah, kalau begitu... sekarang kau mau kan mengantarkan minuman ini ke kamar Gill?" Maya memberikannya sebuah nampan yang mengangkut segelas jus tomat yang baru saja dibuat oleh Chase. "Kalau tidak salah, dia lagi di kamarnya yang berada di lantai dua."

Candace menerimanya. "Baiklah..."

"Ah, jangan lupa memanggilnya dengan sebutan Tuan Hamilton. Soalnya, kita hanya memanggilnya Gill ketika ia sedang tidak ada di sekitar sini." Maya tertawa kecil.

"Tapi aku berani-berani saja tuh memanggilnya Gill secara langsung." Chase memeletkan lidahnya ke Maya.

"Ya, pengecualian dia. Chase memang tidak sopan." Maya menghela nafas. "Dan kalau misalnya kau ditanyai Gill, jawab saja kau adalah maid baru."

"Hm..."

"Selamat berkerja."

.

.

pi-e-ree—flu-bi-lo-bu

.

.

Sesaat Candace sudah menempatkan dirinya di luar dapur, Candace hampir saja menganga saat melihat bagian dari ruang tamu mansion mewah ini. Ada karpet merah, lampu besar, grand piano, dan segala macam benda-benda cantik yang terpajang di sana.

Setelah kembali ke kesadarannya sendiri, Candace mencoba perkerjaan yang sekarang harus ia lakukan, yaitu mengantar minuman ke kamar sang walikota.

Di saat ia melihat tangga, lagi-lagi Candace dibuat terkejut ketika melihat desain tangga yang begitu mewah. Tidak tau kenapa, ia jadi merasa sangat tidak pantas berada di sini.

Candace menggeleng pelan. Ini bukan waktunya untuk mengagumi atau sekedar merasa tidak pantas. Setelah menaiki tangga dan sampai ke atas, ia mengedarkan pandangannya ke sekitar.

Di sini... terdapat banyak sekali ruangan ataupun pintu.

Pertanyaaannya... ruangan yang mana yang merupakan kamar Gill?

Karena tidak tau, Candace mencoba untuk memeriksanya satu per satu. Dimulai dari ujung terkiri.

Dia ketuk sebentar pintu tersebut. "Permisi... aku mau mengantar minuman..."

Hening.

Tok tok tok.

"Pe-Permisi... apa ada orang?"

Karena tidak ada jawaban lagi, Candace mencoba membuka pintu dan mengintip dari selanya.

Tidak ada orang, bahkan tidak ada satu pun barang di dalam ruangan ini.

Tampaknya, ia salah kamar.

Dia pun beranjak ke depan pintu kamar sebelah, lalu ia ketuk pintunya seperti apa yang telah ia lakukan tadi.

Dan karena tidak ada orang juga di kamar tadi, akhirnya ia bergeser tempat. Kali ini ke pintu ketiga dari kiri—atau bisa dibilang pintu tengah. Masih dengan kesopanan yang sama, Candace mengetuknya.

Tok tok tok.

"Permisi... aku mau mengantar minuman..."

Lagi dan lagi, tidak ada jawaban dari kamar tersebut. Ia buka pintu tersebut lebar-lebar.

Tapi berbeda dari kedua kamar yang lain, kamar ini berisi. Ada lemari, tempat tidur, meja, serta televisi dan sofa. Dapat disimpulkan bahwa ruangan ini berpenghuni...

Dengan langkah kecil, maid baru itu memasuki ruangan dan menutup pintu. Lalu, ia letakan jus tomat yang dia bawa ke meja kerja yang berada di ujung.

Tapi saat ia akan berbalik dan pergi, mendadak perhatiannya tersita oleh sebuah bingkai foto kecil yang terpajang. Di sana ada foto seorang anak kecil berwajah dingin yang sedang berdiri di depan mansion. Berbeda dengan anak itu, si anjing putih besar yang berada di sebelahnya malah menampakan wajah bahagia.

Candace mengernyitkan kedua matanya. Tatapannya fokus ke arah anak kecil yang ada di foto tersebut.

Jujur saja, ia merasa familiar dengan sosok itu.

"Bisakah kau meminta izin kalau mau masuk, hn?"

Sontak saja suara tadi mengagetkan Candace. Nyaris saja nampan yang ia bawa terlepas dari pegangannya.

Karena itu, Candace pun langsung berbalik. Dan saat ia memandang lurus ke depan, ia melihat sesosok pria berambut pirang pucat yang dengan malas melihatnya.

Dia pasti Gill Hamilton.

Awalnya, gadis bermata biru itu memang dibuatnya sedikit terpana saat melihat wajah Gill yang bisa dibilang... sangat tampan. Tapi, saat ia melihat keseluruhan dari tubuh pria itu, kedua pipi Candace tidak bisa dibuatnya tidak memanas.

Masalahnya, Gill sama sekali tidak mengenakan baju. Ia bertelanjang dada, walaupun masih ada celana panjang yang dikenakannya. Dari sebuah handuk yang melingkari lehernya dan juga sebuah pintu kamar mandi—di dalam ruangan—yang sedikit terbuka, dapat diduga bahwa pria itu baru saja selesai mandi.

Jadi Candace hanya menelan ludah. Ia cemas.

"Jadi..."

Sembari berjalan mendekat, Gill berkata. Candace yang hendak mundur pun harus tertahan akibat pinggangnya yang sudah menabrak meja kerja. Setelah jarak mereka hanya sejengkal, tanpa sungkan Gill menatap kedua iris milik Candace.

"Bisa kau jelaskan siapa dirimu, dan kenapa kau sebegitu beraninya menginjakkan kakimu ke kamarku?"

Candace menggigit bibirnya.

Ini gawat...

.

.

see you

.

.

my note

Hai... aku membawa chap kedua. Jika ada pembaca yang suka, semoga kalian senang dengan scene pertemuan Gill/Candace. :)

Sedikit tambahan, rumah Gill di sini kuubah. Kan di HM: Animal Parade rumahnya walikota agak-agak sederhana, nah, di fict ini kubuat sedikit persis dengan mansion-nya Romana (tokoh terkaya di HM: Another Wonderful Life). Tapi agak beda dikit karena aku udah lumayan lupa bagaimana isi rumahnya.

.

.

warm regards,

Pieree...