Tell Me Something I don't Know
Halo semuanya! Karena berada di dalam mood yang bagus saya memutuskan untuk mengupdate Falling in and Out of Love. Seperti biasa, judulnya diambil dari salah satu lagu yang ada di Iphone saya! XD (Nggak penting!) Selamat membaca!
Disclaimer: Naruto masih milik Masashi Kishimoto, tapi tidak lama lagi, hehe...
Everybody tells me that it's so hard to make it
It's so hard to break in, there's no way to fake it
Everybody tells me that it's wrong what I'm feeling
I shouldn't believe in the dreams that I'm dreaming
I hear it every day, I hear it all the time
I'm never gonna amount to much
But they're never gonna change my mind, oh!
Tell me, tell me, tell me something I don't know
Something I don't know, something I don't know
Tell me, tell me, tell me something I don't know
Something I don't know, something I don't know
Tell me something I don't know by Selena Gomez
.
.
.
Sakura menaruh kepalanya di atas meja lab kimia. Pertengkaran kemarin dengan kedua orang tuanya membuat Sakura masih menderita sakit kepala sampai sekarang. Hinata baru saja memberikan dua pil obat sakit kepala, Sakura sekarang menunggu efeknya bekerja.
"Susah ya kalau jadi anak tunggal," ujar Hinata dengan nada kasihan. Ia menepuk-nepuk bahu temannya dengan lembut. "Semangat Sakura-chan!"
Sakura berguman kata-kata yang sulit dimengerti, sepertinya ia sudah benar-benar terkuras tenaganya. Saat Hinata hendak bertanya apa yang dikatakan oleh Sakura, dosen kimia mereka, Kakashi, masuk. Kedua gadis itu langsung serius mengikuti pelajarannya.
Dua jam kemudian, Sakura keluar dari ruangan lab kimia sambil memijit dahinya.
"Sudah baikkan Sakura-chan?" tanya Hinata cemas. Beberapa cowok melirik ke arah kedua cewek cantik itu.
"Sepertinya begitu, tapi bagaimana kalau aku pulang dan ayahku mengungkit masalah itu lagi?" Sakura menghela napas panjang.
"Mungkin," Hinata sekarang berbisik kepada Sakura, "sudah saatnya kamu utarakan perasaanmu kepada Sasuke-kun."
Muka Sakura sedikit bersemu merah, "Hinata-chan!"
"Gomen," ujar Hinata tersenyum. "Habis kalau Sakura-chan sudah punya pacar, siapa tahu ayahmu akan menyerah soal pertunangan itu."
Sakura menjatuhkan dirinya di atas bangku di dekat kantin. Ia merapikan rambut pinknya sambil berpikir. Sekali lagi ia dan Hinata dilempari pandangan kagum dari banyak cowok di sekeliling mereka. Hari ini Sakura memakai baju merah dengan rok jeans selutut dipadu dengan sepatu boots yang gelap. Sedangkan Hinata yang duduk di sampingnya hanya memakai gaun kuning selutut dengan jaket tipis putih.
Dari dekat mereka, tercium bau makanan lezat. Sakura baru sadar bahwa ia sangat kelaparan.
"Hei Hinata, kita makan yuk-"
"Halo Sakura-chan!" seseorang tiba-tiba muncul di depan mereka.
"Halo Lee, semangat seperti biasanya," Sakura tersenyum gugup karena Lee suka muncul tiba-tiba di depannya.
"Hari ini kamu tetap cantik seperti biasanya Sakura-chan!" mata Lee berbinar-binar.
"Uhm... sepertinya begitu," hanya itu yang Sakura jawab.
Lee dengan malu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Sakura-chan, anu, kudengar hari ini keluar film yang bagus sekali di bioskop, maukah kamu-"
"Sakura."
Suara gelap itu membuat sekujur tubuh Sakura merasakan kekuatan seperti aliran listrik terutama di bagian perutnya. Gadis berambut pink itu menoleh ke belakang. Disanalah ia berdiri, Sasuke Uchiha, pria yang berhasil mencuri hatinya. Sejak pertemuan mereka pertama kali di perpustakaan kampus, Sakura sudah jatuh cinta pada lelaki berambut hitam itu. Ia masih bisa mengingat kejadian itu seolah-olah itu terjadi kemarin.
-X-O-X-O-X-
Sakura yang mengambil beberapa buku sains untuk dibaca karena bosan, memilih duduk di sebuah meja tersembunyi dekat jendela di belakang rak buku-buku politik. Ia sangat bahagia telah menemukan tempat tersembunyi ini untuk baca dengan tenang. Jarang ada orang yang datang untuk meminjam buku politik, jadi tempat ini menjadi markas rahasianya kalau ia lagi malas pulang ke rumah. Lama-kelamaan ia menjadi orang yang menghabiskan banyak waktu di perpustakaan.
Suatu hari ada yang mengetuk bahunya. Sakura berbalik dengan panik, mengira ada orang yang menemukan tempat rahasianya.
"Maaf boleh aku duduk disini?" seorang lelaki berambut dan bermata hitam gelap memandangnya.
Sakura menahan napas untuk beberapa detik. Lelaki itu begitu tampan, pikirnya.
"Tentu saja," ia persilahkan.
"Terima kasih," ujar lelaki itu sopan. "Aku sangat tertolong." Ia menghela napas lalu membuka buku tentang Agrobisnis.
"Bukankah ada banyak tempat yang kosong?" Sakura bertanya berpura-pura masih membaca buku yang dipegangnya.
"Hn benar sih, tapi aku tidak ingin ditemukan oleh mereka," jawab lelaki itu.
"Mereka?" tanya Sakura heran.
"Stampede yang menjuluki diri mereka sebagai fansku," lelaki itu mengacak rambut bagian belakang kepalanya. Dengan kemeja biru tua dan baju putih yang ia kenakan, Sakura akui ia sangat seksi. Gak heran ia dikejar beberapa fans.
"Kasihan kau, pasti rasanya menakutkan," Sakura tertawa.
Lelaki itu tersenyum sedikit, lalu ia kembali membaca bukunya. Sakura merasa sekarang bukan saatnya untuk mengganggunya, jadi ia kembali membaca. Ternyata susah juga berkonsentrasi kalau ada cowok begitu cakep di dekat.
Sejam kemudian, Sakura harus pulang untuk mengerjakan tugas kuliah. Ia bangkit dari kursinya, lalu memandang lelaki itu, beberapa detik ia bingung harus bilang apa.
"Pulang?" tanya laki-laki sambil melihat arlojinya yang ternyata merupakan merek yang sangat mahal.
"Begitulah, ada tugas Fisika," Sakura tersenyum.
Laki-laki itu mengangguk. "Kalau begitu sampai jumpa."
"Sampai jumpa..." Sakura enggan mengakhiri pertemuan mereka seperti ini, tetapi ia tidak ingin mengganggu lelaki itu. Sudah cukup ia dikejar banyak fans. Jadi ia berbalik lalu pergi menuju pintu luar, tanpa mengetahui bahwa setiap langkahnya diikuti oleh sepasang mata onyx.
Keesokan harinya ia sangatlah terkejut mendapati laki-laki itu kembali duduk di tempat rahasianya.
"Dikejar fans lagi?" Sakura meletakkan dua buku yang ia pinjam di atas meja.
"Gak juga, aku cuma lagi bosan dan gak ingin pulang ke rumah," lelaki itu menjawab.
"Sama sepertiku dong," Sakura tertawa malu.
Lelaki itu tersenyum sedikit, "aku bisa membayangkan diriku mulai terbiasa datang kesini."
Sakura amat senang mendengar hal itu. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu bahagia menghabiskan waktu bersama seorang lelaki. Ternyata ada bagusnya juga ia menyamar sebagai orang yang biasa-biasa saja. Dengan begitu mungkin suatu hari akan ada yang mencintainya apa adanya. Dan tidak seperti pacar-pacarnya yang dulu, yang hanya mau bersama dia karena mengincar uangnya Sakura.
"Namamu."
"Eh?"
"Namamu," lelaki itu tersenyum mengejek, sepertinya senang menangkap basah Sakura yang terdiam memandang kedua matanya.
"Bagaimana kalau kamu sebut namamu dulu?" tanya Sakura berpura-pura jengkel.
"Sasuke, Uchiha Sasuke," jawab lelaki itu sedikit enggan, lalu ia terdiam beberapa detik, seperti menunggu reaksi dari Sakura.
"Oh Sasuke ya? Nama yang jarang kudengar," Sakura tertawa.
"Hn," ujar Sasuke acuh tak acuh.
Dan setelah itu hampir setiap hari Sakura duduk di dalam perpustakaan, menunggu Sasuke datang. Lelaki itu tentu saja tidak datang setiap hari, hanya kalau ia lagi senggan saja. Lama-kelamaan mereka lebih mengenal satu sama lain, walaupun Sasuke tahu lebih banyak soal Sakura daripada Sakura tahu tentang Sasuke. Lelaki itu terdiam atau menjawab pendek setiap kali Sakura menanyakan soal diri dan latar belakang Sasuke. Sakura tentunya merahasiakan dari Sasuke kalau ia sebenarnya adalah anak tunggal perusahaan farmasi terbesar di Jepang.
Suatu hari, cuacanya lebih panas daripada biasanya. Oleh karena itu Sasuke membuka korden dan jendelanya sebelum ia membaca. Sakura seperti biasanya, amat sangat menikmati waktu yang ia habiskan bersama Sasuke. Tetapi sulit untuk tidak melirik ke arah Sasuke saat tidak bisa konsen membaca.
Keduanya terdiam cukup lama sambil membaca buku-buku yang mereka pegang. Tiba-tiba ada suara beberapa cewek terdengar di dekat mereka.
"Apa benar kamu melihat Sasuke di dekat jendela disini?"
"Gak salah lagi!"
"Kalau begitu dia nggak mungkin jauh dong..."
Sakura memandang Sasuke yang sekarang terlihat jengkel sekali. Ia menutup bukunya dengan kesal sambil mendesah.
"Sepertinya aku kehilangan satu lagi tempat tenang di kampus ini..."
Tetapi sebelum bisa menyelesaikan perkataannya, Sakura bergerak secepat kilat, menarik jaket pink, wig rambut hitam panjang, dan kaca mata gelap dari tasnya. Ia melemparkan kedua benda itu ke arah Sasuke.
"Apa yang-"
"Pakailah!"
"Apa?!"
"Sudah pakai saja," Sakura memandang Sasuke dengan serius. "Atau kamu mau dikejar lagi?"
Sasuke terlihat amat enggan tetapi ia kemudian dengan bisu memakai jaket, wig, dan kaca matanya. Keduanya telah bertindak tidak terlalu awal. Saat Sasuke memakai kaca mata hitamnya, tiga cewek itu menemukan mereka. Mereka memandang Sakura dan Sasuke dengan saksama, tetapi akhirnya beranjak pergi sambil membicarakan soal betapa hot-nya cuaca hari ini, tetapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan hot-nya Sasuke.
Sakura menghela napas, "hampir saja..." Ia mengangkat kepalanya dan langsung tertawa terkekeh melihat Sasuke bersemu merah sedikit karena malu memakai jaket dan wig rambut hitam itu.
"Sasuke-kun malu ya?" Sakura tersenyum menyodorkan tangannya, memberikan tanda bahwa Sasuke sudah boleh melepaskan wignya. "Menurutku Sasuke-kun nggak terlihat terlalu buruk kok. Malah cantik. Kalau aku seorang cowok aku pasti akan jatuh cinta kepada Sasuke-kun yang terlihat seperti cewek."
Terlambat Sakura menyadari betapa konyol perkataan barusan terdengar. Ia terdiam, lalu dengan gugup ia memasukkan buku dan alat-alat menyamarnya ke dalam tas.
Sasuke masih terdiam memandang Sakura dengan tajam. Sakura melirik ke arahnya, takut Sasuke tersinggung mendengar perkataannya barusan. Ia bangkit dari kursinya.
"Sampai besok Sasuke-kun..."
Sasuke menyangga punggungnya ke kursi dengan santai sambil memiringkan kepalanya. Tiba-tiba ia memperlihatkan senyum yang sedikit mencemohkan.
"Dan kalau aku tetap menjadi cowok?"
"Eh?" Sakura mengkedipkan mata memperlihatkan ekspresi bingung. Pertama-tama ia tidak mengerti maksudnya Sasuke, tetapi sekarang ia paham.
Sasuke menunggu dan Sakura membuka mulutnya untuk mengatakan bahwa Sakura yang cewek sudah amat menyukai Sasuke yang cowok...
"Sakura-chan!" terdengar suara Lee yang bersorak gembira karena menemukan Sakura di samping rak beberapa buku. "Disana kamu toh! Untung kamu belum pulang, sini, Naruto undang semuanya makan di kantin, dia lulus semua ujiannya."
"Ah ya, aku akan datang, terima kasih Lee," Sakura berpaling ke Lee dan mengisyaratkan kalau ia akan datang sebentar lagi.
"Anu Sasuke, maaf aku harus pergi, hata-hati ya? Jangan sampai tertangkap. Sampai besok," Sakura menganggukkan kepalanya sambil menenteng tas dan buku-bukunya. Hanya setelah ia sudah jauh dari pandangan tajam kedua mata onyx Sasuke, ia menutup mulutnya dengan tangannya, kedua pipinya bersemu merah.
"H-hampir saja..." guman Sakura.
Gadis berambut pink itu menarik napas dalam-dalam, lalu ia pergi ke kantin. Disana sudah ada Lee, Naruto, Hinata dan Gaara.
"Oiiii Sakura-chan! Disini!" Naruto melambaikan tangannya tinggi-tinggi saat menemukan rambut pink Sakura di tengah kerumunan orang.
Sakura melambaikan tangan balik, lalu duduk di samping Hinata sambil mengucapkan selamat kepada Naruto atas keberhasilannya lulus semua ujian.
"Shika, Kiba dan Shino nggak bisa datang, Chouji akan datang sebentar lagi," cerita Naruto yang dengan lahapnya memakan mangkuk ramen-nya yang kedua. "Aku sungguh gembira nggak gagal ujian. Kaa-san bisa marah besar, kalian tahu gimana parahnya Kaa-san bisa marah..." Naruto tersenyum ngeri kalau mengingat ibunya yang mengamuk dengan rambut merah berkibar-kibar kalau Naruto pulang dengan nilai jelek.
"Kamu baru saja dari mana Sakura-chan?" tanya Hinata.
Sakura hendak menjawab saat tiba-tiba seseorang memegang pundaknya. Bahkan tanpa menoleh ke belakang Sakura tahu kalau itu adalah Sasuke, tubuhnya seperti bisa merasakan kehadiran Sasuke tanpa melihatnya.
"Jadi ini teman-temanmu yang kamu banyak cerita Sakura?" tanya Sasuke dengan suara gelapnya.
Semuanya menoleh ke arah Sasuke yang masih berdiri di belakang Sakura. Gaara memperhatikan Sasuke dengan pandangan acuh tak acuh sambil melingkarkan kedua lengannya di depan dadanya, sepertinya ia tidak suka ada orang asing yang mengganggu waktunya bersama teman-temannya. Lee hanya bingung, mencoba menerka siapa orang yang boleh memegang bahu Sakura tercintanya. Hinata sedikit bersemu merah karena ia sadar bahwa itulah lelaki yang diceritakan oleh Sakura selama ini, Gaara yang melihat pipi merahnya Hinata, melemparkan pandangan dingin ke arah Sasuke. Sakura tidak mampu berbicara karena ia bingung kenapa Sasuke mengikutinya...
Hanya Naruto yang mengatakan sesuatu, "Teme!"
"Dobe," Sasuke mengangguk, bersikap tenang seolah-olah dipanggil Teme oleh Naruto adalah hal paling normal di dunia ini.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu kenal Sakura-chan?" Naruto bangkit dari kursinya, saking senangnya.
"Aku tidak tahu kalau kamu berteman dengan Sakura, kami bertemu di perpustakaan akhir-akhir ini, dia telah menyelamatkan nyawaku dari beberapa fans..." Sasuke memalingkan mukanya, memperlihatkan ekspresi jengkel saat mendengar jeritan beberapa fans-nya di sekitar.
"Populer seperti biasanya, makanya kubilang carilah pacar biar mereka menyerah," Naruto nyengir.
"Cari sendiri dulu, baru kamu bisa omong besar Dobe," Sasuke melemparkan Naruto dengan pandangan tajam yang tidak menurunkan semangat Naruto sedikitpun, malah sebaliknya, Naruto tambah semangat.
"Aku lagi usaha," Naruto mengangkat bahu. "Oh ya teman-teman, ini Sasuke, temanku dari kecil. Aku sering cerita 'kan kalau ada orang yang kukenal yang suka bersikap semaunya dan ingin aku beri pelajaran? Nah ini dia!" Naruto memperkenalkan Sasuke ke teman-temannya yang lain. Semuanya mengucapkan halo dan mengangguk, kecuali Sakura.
"Sakura aku tidak tahu kamu kenal Sasuke, seharusnya kamu bilang!" Naruto tertawa lalu kembali duduk. Sasuke menghela napas saat Naruto terus berceloteh tentang persahabatan mereka. Ia melirik tajam ke Lee yang melonjak kaget.
"Siapa namamu?" tanya Sasuke serius.
"Lee.." Lee mencoba memperlihatkan senyum masa mudanya, tetapi senyumnya langsung hilang saat Sasuke masih memandangnya dengan dingin.
"Aku mau makan nasi bento, akan tetapi seperti yang kamu lihat, kantin ini penuh dengan fansku. Jika aku pergi beli makan aku akan dikerumuni lagi... bisakah kamu pergi belikan aku satu bungkus? Kamu boleh pilih makanan apapun yang kamu mau, aku akan bayar," Sasuke menghela napas saat menoleh ke arah fansnya yang meneriaki namanya.
"Oh! Ya tentu saja!" Lee langsung semangat, senang bisa membantu Sasuke.
"Terima kasih Lee, kamu terlihat sangat bersahabat, makanya kupikir aku bisa minta bantuanmu," Sasuke sedikit tersenyum.
Lee mengacungkan jempolnya lalu ia berlari. Sasuke sekarang tersenyum dengan penuh kemenangan saat menduduki kursi kosong Lee yang ada tepat di samping Sakura.
"Sungguh suatu kejutan kamu kenal Naruto, Sakura," Sasuke berpaling ke Sakura yang masih membisu.
"H-hai," Sakura tersenyum gugup.
"Kamu setakut begitu sama para fansmu? Apa kamu sungguh adalah Sasuke yang terkenal itu? Yang bisa melawan delapan orang sekaligus?" sekarang Gaara mulai membuka pembicaraanya dengan Sasuke, walau agak dingin dan curiga.
"Kalau nggak salah kamu adalah Gaara si pasir merah itu?" Sasuke membalas tatapan Gaara dengan dingin.
Gaara tidak menjawab, itu pun sudah bisa dikatakan sebagai sebuah jawaban. Naruto melahap ramen-nya yang ketiga sambil memperhatikan kedua temannya. Sasuke dan Gaara mulai berbicara tentang perkelahian terkenal saat mereka semasa SMA dan bagaimana Gaara selalu ingin mendapat kesempatan untuk menguji kemampuan Sasuke yang merupakan saingannya yang terbesar selain Naruto. Setelah berbicara sepuluh menit mereka terlihat lebih santai dan bersahabat. Bisa dilihat kalau mereka mulai menjalin persahabatan. Sakura tersenyum melihat kelakuan mereka. Dasar cowok, ia pikir geli.
"Anu ini nasi bento-nya!" Lee datang dengan semangat, tetapi senyumnya menghilang saat melihat kursinya di samping Sakura sudah diambil alih oleh Sasuke.
"Trims Lee," Sasuke mengambil nasi bento-nya lalu memasukkannya ke dalam tasnya. "Maaf semuanya, tapi aku harus pergi sekarang."
"Hah? Sudah harus pergi Teme?" tanya Naruto kecewa.
Sasuke menundukkan kepalanya sedikit dan Sakura melihat sedikit kesedihan di dalam kedua matanya.
"Ya, ngunjungi Kaa-san."
"O-oh..." Naruto meminum kuah mie-nya sambil mengangkat mangkuknya, akan tetapi kedua matanya pun ikut terlihat sedih.
Sakura ingin sekali tahu apa yang mereka maksud, tetapi ia merasa bahwa hal itu bukan urusannya, sehingga ia mampu mengucapkan sampai nanti kepada Sasuke. Lelaki itu tersenyum kepadanya lalu pamit. Sebelum pergi, Naruto bersorak kalau Sasuke bisa gabung kelompok mereka kalau ia mau. Sasuke menjawab hanya dengan mengangkat tangannya saat menuju pintu luar kantin.
Sakura amat senang bahwa Sasuke sekarang akan sering menghabiskan waktu bersama mereka. Mungkin, nanti kalau saatnya tepat, ia ingin mengutarakan perasaannya...
-X-O-X-O-X-
"Sakura?" suara gelap Sasuke membangunkan Sakura dari lamunannya.
"Eh? Oh maaf Sasuke, ada yang kamu katakan?" Sakura tertawa gugup dan malu karena terlalu mengingat pertemuan pertama mereka, Sasuke hanya terdiam melihat reaksinya.
"Hn, ini aku melihat ada film bagus di bioskop, maukah kamu nonton denganku hari ini? Bosan kalau pergi sendirian," Sasuke memalingkan mukanya, ekspresinya biasa-biasa saja.
"Denganku? Boleh juga Sasuke, aku ada waktu malam ini," Sakura berusaha sekuat tenaga bersikap tenang, walaupun ia ingin sekali meloncat ke udara. Ia akan kencan dengan Sasuke!
Lee yang memegang dua tiket bioskop, mencucurkan air mata. Hinata mengambil satu tiket dari tangannya dan berkata dengan ramah, "Lee, aku lagi kosong malam ini, mau nonton denganku?"
Sakura memandang Hinata dengan terkejut, tetapi gadis berambut hitam itu mengedipkan matanya. Sakura tahu kalau Hinata hanya berusaha untuk menyemangati Lee agar ia tidak ikut campur dalam kencannya Sakura dengan Sasuke. Sakura sangat berterima kasih memiliki teman seperti Hinata.
"Sasuke dan Sakura pergi mau lihat film? Aku mau ikut dong!" tiba-tiba Naruto hadir di belakang mereka sambil merangkul bahu Sasuke dan Sakura sekaligus dengan semangat.
"Oi Dobe! Turunkan tanganmu," ujar Sasuke.
"Aduh Naruto," Sakura tertawa.
"N-Naruto-kun ikut aku dan Lee saja! S-soalnya habis nonton aku mau makan mie ramen..." Hinata memainkan jari-jarinya, sepertinya belum terbiasa berbicara dengan Naruto, walaupun mereka sudah berteman begitu lama.
"Ramen! Boleh deh! Yosh, aku ikut," Naruto melepaskan Sasuke dan Sakura.
"Aku juga ikut," kata Gaara yang tiba-tiba muncul di samping Hinata. "Kalau nggak aku takut kamu akan kewalahan mengurus kedua lelaki kekanakan itu," Garaa membuka jaketnya dan tersenyum kepada Hinata membuat gadis itu tambah gugup.
Naruto protes soal umurnya yang sudah 20 tahun, tetapi Gaara tidak berhenti tertawa mencemoh. Naruto akhirnya meledak dan kedua lelaki itu berantem. Tentu saja mereka tidak serius dan hanya main-main. Yang lainnya tertawa melihat kelakuan mereka.
Setelah bel berbunyi mereka semua berpisah. Sakura dan Sasuke menentukan waktu dan tempat janjian mereka. Dengan hati riang Sakura tidak mampu berkonsentrasi saat Kakashi-sensei menulis beberapa rumus di papan. Ia merasa ada ratusan kupu-kupu di dalam perutnya dan ia sibuk berpikir akan memakai baju apa untuk kencannya malam ini.
Suasana hati Sakura tidak berubah, bahkan saat ia memakai rambut palsu dan kaca mata hitamnya di kamar kecil wanita. Ia selalu pergi dan pulang dari kampus dengan menyamar karena takut akan ada orang yang melihatnya pulang ke istana kecilnya dan menyebarkan informasi kalau Sakura Haruno adalah anggota dari salah satu keluarga terkaya di negeri ini. Hanya para guru dan teman-teman terdekatnya yang tahu nama keluarganya Sakura. Terhadap orang lain ia berkata kalau namanya adalah Sakura Fumihiko. Sakura telah mengambil nama belakangnya dari nama penulis favouritnya.
Sakura menuju pintu gerbang kampus, dimana mobil hitam anti peluru sudah menunggunya. Inoichi Yamanaka, supir yang akan mengantarkan Sakura pulang, sudah menunggu di luar mobilnya. Ia selalu memakai kacamata dan jas hitam. Selain supir, Inoichi adalah seorang bodyguard yang handal, dengan begitu bisa dipastikan tidak ada aksi penculikan terhadap satu-satunya pewaris Haruno Pharmacy. Sakura sebenarnya tidak ingin diantar dan dijaga oleh bodyguard, tetapi sayangnya itu adalah salah satu syarat yang harus Sakura penuhi kalau ia tidak ingin kuliah di universitas elit untuk orang-orang kaya.
"Halo paman Inoichi," Sakura melambaikan tangannya.
"Selamat sore nona muda Sakura," Inoichi membungkuk sedikit.
"Ah paman! Kapan paman akan berhenti bersikap formal seperti itu?" Sakura tersenyum pasrah.
"Sampai nona muda menjadi nenek tua yang beruban," Inoichi tersenyum, perkataannya membuat Sakura tertawa terbahak-bahak.
"Berarti masih seratus tahun lagi," Sakura masuk ke dalam mobil.
Inoichi menyetir mobilnya keluar dari halaman depan kampus, masuk ke dalam jalan raya yang penuh. Sakura membuat dirinya merasa nyaman, ia hampir kembali melamun tentang kencannya dengan Sasuke sampai ia teringat sesuatu.
"Ah paman bagaimana kabarnya Ino? Kemarin saya mencoba telpon, tapi tidak diangkat, apa semuanya baik-baik saja?"
"Ino baik-baik saja. Cuma kemarin ia diantar Sai ke dokter, sepertinya ia merasa nggak enak badan," Inoichi bercerita sambil berkonsentrasi terhadap jalan di depannya.
"Ah semoga Ino cepat sembuh, saya ingin mampir ke rumahnya minggu depan," celoteh Sakura, ia sudah rindu akan teman dekatnya.
Dulu keluarganya Yamanaka tinggal di tempatnya Sakura setelah Inoichi diterima menjadi supir dan bodyguard-nya Kizashi. Sakura kecil langusng akrab dengan Ino kecil karena keduanya belum punya teman. Sakura karena tidak ada yang mau berteman dengan anak orang kaya dan Ino karena baru pindah ke kota yang baru. Kedua cewek itu bahkan sampai bersekolah di tempat yang sama, pendidikan Ino ditanggung oleh Kizashi karena ia ingin Sakura juga punya teman di sekolah. Setelah lulus SMA Ino sayangnya tidak kuliah, ia menjadi penata bunga dan setahun setelah bertemu Sai, mereka menikah. Sekarang mereka tinggal di sebuah apartemen dan sudah memiliki dua anak. Sakura mengunjungi dan menelpon Ino sebanyak mungkin. Ia selalu iri setiap kali ada di tempat Ino. Ino walaupun hidupnya sederhana, namun ia sudah miliki semua yang Sakura impikan: hidup normal, suami yang sangat sayang padanya, dua anak kecil imut dan kedamaian.
Sakura menghela napas. Kapan ia akan menjadi sebahagianya Ino?
Saat Sakura melihat serangkaian rumah-rumah super megah yang hampir semegah rumahnya sendiri ia mulai heran. Ia tidak mengenali tempat dimana mereka sedang berada.
"Paman Inoichi? Kita dimana? Ini bukan jalan rumahku."
Inoichi melihat Sakura sejenak di cermin yang terpasang di depannya, lalu ia terbatuk sebentar sebelum menjawab, "ayah nona muda memiliki sebuah kejutan."
"Kejutan?" Sakura menjadi heran, bingung, ingin tahu dan curiga sekaligus.
"Ya ia bilang untuk sementara nona muda tinggal di suatu tempat yang dekat kampus dan dimana nona muda bisa menikmati hari-harinya dengan lebih santai. Mungkin nona muda akan memaafkan kelakuan tuan besar Kizashi kemarin," ucap Inoichi pelan.
"Ohh.. gitu," Sakura kembali tenang. Pasti ayahnya akan membiarkannya tinggal di salah satu rumah milik ayahnya yang lain. Biasanya ayahnya membiarkan Sakura tinggal sendirian di tempat lain jika ada pertengkaran besar, sehingga Sakura bisa menengkan pikiran dan meredakan amarahnya.
Akan tetapi Sakura menjadi sedikit curiga saat mereka berhenti di depan sebuah istana luar biasa yang lebih indah daripada rumahnya sendiri.
"Paman Inoichi, sepertinya aku belum pernah kesini."
Inoichi keluar dari mobilnya tanpa mengatakan apa-apa. Sakura ikut keluar dan ia memperhatikan halaman depan istana itu. Sangat tertata rapi dan luas, hanya saja tidak ada bunga satupun... Sakura heran melihatnya. Sebagai gantinya bunga ada banyak kamera tersembunyi yang Sakura temukan dengan cepat karena ia tumbuh besar di tempat yang sama.
"Nona muda?"
Sakura menoleh ke Inoichi. Ia memberikan Sakura koper besar yang sepertinya sudah disiapkan oleh Mebuki dan sebuah amplop putih dengan tulisan tangan Kizashi. Sakura memiringkan kepalanya.
"Tolong nona muda baca isi amplopnya sebelum masuk rumah, nona muda akan mengerti. Dan tolong maafkan paman."
Setelah berkata begitu, Inoichi masuk ke dalam mobil sebelum Sakura bisa menghujaninya dengan pertanyaan. Mobilnya melaju sangat cepat, sepertinya enggan dan tidak sabar untuk menjauh dari tempat itu secepatnya. Sakura ingin tahu apa yang membuat paman Inoichi merasa tidak nyaman disini...
Dengan cepat ia membuka amplop dan membuka lipatan secarik kertas yang ada di dalamnya. Ternyata benar, suratnya adalah dari ayahnya Sakura, Kizashi.
Gulali kecilku yang manis,
Ayah dan ibu merasa ini saatnya untuk berlibur lagi. Kami akan pergi untuk sebulan di sebuah tempat yang jauh untuk menikmati pantai dan langit biru. Kamu nggak keberatan 'kan? Ayah tahu betapa pentingnya kuliah buatmu, jadi ayah tidak menyeretmu ikut. Walaupun ayahandamu ini tidak bisa hidup lama jauh dari putri kesayangnnya!
Maaf kalau ayah harus mengatakan ini... tetapi ayah sangat khawatir meninggalkanmu sendirian sekarang. Kamu sudah besar dan sudah menjadi seorang wanita muda yang cantik, banyak hal buruk bisa terjadi kepadamu! Ayah bisa khawatir sampai jantungan. Ayah ingin kamu aman 100%. Kebetulan sekali teman ayah menawarkan untuk menjagamu sampai ayah dan ibu pulang ke rumah...
Jangan panik putri kecilku. Dia akan memastikan segala kebutuhanmu dipenuhi dan kamu akan dijaga 24 jam dalam seminggu. Kamu akan baik-baik saja.
Ayah sudah kangen padamu Nak! Sampai nanti.
Ayah
N.B: baik-baiklah pada putra pertamanya, Itachi. Ayah bermaksud untuk menunjukkan profilnya kemarin kepadamu, tapi kamu meninggalkan kantor ayah dengan marah! Dasar, kamu memang bisa mirip sekali dengan ibumu.
N.B.B: Jangan coba-coba pulang ke rumah, tidak akan ada yang membiarkanmu masuk atas perintahku, dan kamu pun tidak bisa kabur atau para suruhanku akan menyeretmu balik ke tempat temannya ayah.
N.B.B.B: Midori mulai sekarang akan dijaga amat sangat ketat. Kamu tidak akan tahu dimana ia berada. Maafkan ayah kalau tidak bisa mempercayakanmu berada di dekat Midori.
N.B.B.B.B: Ayah sangaaaaaaaat sayang padamu. Selamat menikmati waktumu bersama Itachi, dia sungguh seorang gentleman!
N.B.B.B.B.B: Terima kasihnya kamu bisa katakan nanti saja saat ayah pulang.
;)
Hening. Sakura tidak bergerak sedikitpun saat angin menerbangkan beberapa daun kering di sekitarnya. Begitulah Sakura berdiri, beberapa menit.
Lalu dengan amat sangat marah ia merobek-robek surat itu sambil berteriak, "AYAAAH! BISA-BISANYA AYAH! SHANARO!" Sakura meninju tanah di bawahnya, meninggalkan bekas tinju yang besar.
"Awas kalau ayah pulang nanti..." Sakura terlihat buas sekali dengan awan gelap muncul di atas kepalanya.
Para satpam yang mengamati gerak-gerak Sakura di ruang jaga melalui kamera, semuanya sweatdrop.
Maaf kalau nggak ada Itachi di dalam chapter ini. XD Tapi setiap kali menulis tentang Kizashi saya tertawa geli. Kasihan Sakura-chan! Tertangkap di sebuah istana dengan sang "iblis". XDD
Oh ya selain ItaSakuSasu, ada cinta segitiga lainnya yang akan saya tulis... siapakah ketiga orang itu? Hehe, tebak saja. Petunjuknya ada di chapter ini.
