Note singkat dari author : Mungkin setiap update aku akan langsung kasih 2 chapter sekaligus. :)
Disclaimer : Dynasty Warriors adalah kepunyaan KOEI.
Chapter 2 : First Meet
"Nah Xing Cai..., ucapkan halo pada rumah baru kita!" ucap ayah sembari menunjukkan sebuah rumah yang lumayan besar kepadaku dan juga kakakku.
"Ayo masuk Xing Cai... Aku sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa di dalam sana...!" Zhang Bao segera berlari memasuki rumah itu.
"Hei, apa-apaan kau itu! Biarkan perempuan dulu yang masuk pertama. Bersikaplah romantis sedikit putraku!" melihat tindakan Zhang Bao, ayah segera berlari menyusulnya.
Aku...? Aku hanya diam saja menatap kepergian ayah dan juga Zhang Bao. Tidak tau mau berkomentar apa... Rumah baruku ini memang lebih bagus dari sebelumnya. Mungkin karena sekarang kami tinggal di kota, bukan di desa lagi. Jadi semuanya serasa mewah di mataku.
Aku berjalan mengitari pekarangan rumahku ini. Di mana-mana ditanami bunga-bunga yang indah dan berwarna-warni. Indah sekali. Aku rasa ayah melakukan semua ini untukku. Lebih tepatnya untuk mengembalikan senyumanku yang sudah lama menghilang. Tapi maaf saja..., Xing Cai yang dulu sudah tidak ada. Ayah telah melakukan hal yang sia-sia.
Langkahku terhenti. Aku mendengar suara canda dan tawa. Sepertinya keluarga tetangga sedang bersenang-senang. Aku berjalan menghampiri pagar rumahku, melongokkan kepalaku ke arah mereka. Dua orang pria sedang membersihkan mobil sambil bermain-main dengan air dan juga busa sabun. Mereka berdua pria yang bersemangat. Pria yang terlihat lebih muda memiliki rambut berwarna coklat lebih terang dibanding yang lebih tua. Wajahnya lebih tenang dan lembut. Sedangkan yang lebih tua terlihat lebih bersemangat. Tiba-tiba, ia memalingkan wajahnya ke arahku. Memberikan senyuman kecil yang aku tak tau sama sekali untuk apa dia melakukannya. Aku segera memalingkan wajahku darinya dan beranjak pergi meninggalkan mereka berdua. Pria itu belum tau apa-apa tentangku. Dia tak akan pernah memberikan senyuman itu lagi kepadaku jika ia sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya...
"Ayah mau memperkenalkanmu pada rekan kerja ayah. Dia yang membantu ayah memilih rumah ini." ajak ayah padaku. "Dia orang yang baik kok. Di sana kau bisa bermain dengan kedua anaknya...! Jadi kau tak akan sendirian lagi."
"Kau tenang saja Xing Cai. Salah satu anaknya adalah teman satu kampusku. Dia baik kok! Jadi jangan sedih lagi ya..." hibur Zhang Bao padaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku ke arah mereka. Menolak pergi bersama ayah dan kakak akan melukai perasaan mereka. Kalau boleh memilih, sebenarnya aku lebih baik berada di rumah saja daripada harus pergi berkenalan dengan keluarga rekan kerja ayah itu.
"Oh, Zhang Fei...! Senang melihatmu berkunjung ke rumahku." sapa seorang pria berbadan besar di depanku. Kulitnya merah, ia memiliki rambut yang lumayan lebat di sekitar dagunya. "Bagaimana rumah barumu...? Menyenangkan bukan?"
"Aku sangat senang dengan rumahku yang baru. Rumah itu lebih bagus dari rumahku yang sebelumnya. Kalau ada waktu, aku akan mengunjungi Liu Bei dan berterimakasih padanya karena telah membantuku membeli rumah itu."
"Liu Bei orang yang sibuk. Kalau ada waktu, aku akan mengantarkanmu ke sana." paman itu menawarkan jasanya kepada ayahku. Sepertinya ia pria yang baik. "Oh ya, jadi ini putrimu yang kau ceritakan waktu itu?"
"Perkenalkan paman..., nama saya Zhang Xing Cai." aku memperkenalkan diriku sembari membungkukkan kepalaku ke arah paman itu.
"Tak usah seformal itu Xing Cai. Ayahmu dan paman sudah seperti keluarga sendiri. Anggap saja aku ini sebagai keluargamu juga!"
"Loh, Guan Yu...! Mana Ping dan Xing...?" tanya ayah kepada paman yang bernama Guan Yu itu.
"Aku menyuruh mereka pergi ke supermarket untuk membeli beberapa camilan untuk kalian. Sebentar lagi juga pasti akan kembali."
"Kau tak perlu repot-repot! Aku jadi merasa membebanimu...!"
"Santai saja, Fei... Anggap rumah sendiri!"
"Ayah..., kami kembali...!"
Aku memalingkan wajahku ke arah kedua pria yang datang memasuki ruangan ini. Mereka berdua adalah pria yang aku lihat sebelumnya. Pria yang sama menatapku kembali sembari tersenyum seperti sebelumnya. Aku segera memalingkan wajahku dari pandangannya.
"Nah, ini dia mereka...! Ping, Xing..., sini duduk di sebelah ayah! Ayah akan memperkenalkan kalian pada putri Paman Zhang Fei. Namanya Xing Cai, mulai hari ini ia akan tinggal dan melanjutkan sekolah di sini. Kalian harus baik padanya!"
"Hai..., aku Guan Xing. Aku teman satu kampus kakakmu..." pria yang berambut coklat terang memperkenalkan dirinya kepadaku. Ia membungkukkan kepalanya ke arahku begitu juga denganku.
"Aku Guan Ping... Salam kenal..." ia menjulurkan tangan kanannya ke arahku. Bingung harus melakukan apa, aku hanya diam saja. Sama sekali tidak membalas sapaan darinya. Ia menatapku bingung. Aku pasti terlihat sangat aneh di matanya.
"Maaf..., saya permisi pergi. Ada hal yang harus saya lakukan di rumah." ucapku sembari pergi meninggalkan mereka semua.
_Normal POV_
"Dia kenapa...?" tanya Guan Yu kepada Zhang Fei.
"Yu..., ini tentang yang aku ceritakan sebelumnya padamu...!" jawab Zhang Fei.
"Apa dia masih menganggap hal itu serius...? Itukan hanya kebetulan... Tidak ada sangkut pautnya dengan anak itu!"
"Tapi Xing Cai belum bisa melupakan kejadian itu... Aku rasa ia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya dulu."
Zhang Bao berjalan menghampiri temannya.
"Xing..., bagaimana cara membuat Xing Cai kembali seperti dulu lagi...?" tanya Zhang Bao.
Guan Xing hanya menaikkan kedua bahunya, ia tidak tau harus berbuat apa...
Guan Ping yang tidak mengetahui apa-apa hanya diam saja melihat yang lainnya mulai sibuk dengan teman mereka masing-masing. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di luar kota. Sekarang ia kembali dan menjalankan kehidupan barunya di China bersama dengan keluarganya. Maka dari itu, kejadian-kejadian yang terjadi di China ia sama sekali tidak mengetahuinya. Ia segera berdiri dan beranjak pergi dari ruangan itu.
Xing Cai tengah duduk sendirian di pekarangan rumahnya. Ia membaca sebuah buku sembari mengelus-elus seekor kucing yang tertidur pulas di atas pangkuannya. Tiba-tiba, kucing itu terbangun dan beranjak pergi meninggalkan Xing Cai. Melihat hal itu, Xing Cai segera menutup bukunya dan memalingkan wajahnya ke arah seseorang yang berdiri di sebelahnya.
"Hai...? Lebih suka sendirian?" tanya Guan Ping ke arah Xing Cai.
"Kenapa kakak di sini...?" Xing Cai berbalik tanya pada Guan Ping.
"Mereka sedang reuni pertemanan. Aku takut mengganggu mereka. Makanya aku keluar mencari udara segar. Ternyata kau ada di sini..." ucap Guan Ping menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Xing Cai. "Kau sendiri..., kenapa tiba-tiba pergi keluar begitu...?"
"Aku ada urusan..., makanya pergi." jawab Xing Cai.
"Urusan apa? Membaca buku sambil bermain dengan kucing liar...?" tanya Guan Ping lagi.
"Itu bukan urusan kakak, sebaiknya kakak segera kembali ke dalam sebelum semuanya terlambat..."
"Ha...? Terlambat apa?"
"Kakak tak perlu mengetahuinya. Aku tak ingin kakak kenapa-napa..." ucap Xing Cai sembari pergi memasuki rumahnya.
Guan Ping menatap kepergian Xing Cai. Ia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Matanya menatap langit biru yang membentang luas di atasnya. Perlahan ia mulai memejamkan kedua matanya, mengosongkan seluruh pikirannya. Namun matanya kembali terbuka. Ayahnya berdiri di sebelahnya, menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan keseriusan. Guan Ping segera beranjak berdiri dan pergi bersama dengan Guan Yu kembali ke rumahnya.
