Secret Chapter 1 - Naruto
Cast: Ino Yamanaka - Naruto Uzumaki.
Disclaimer: Masashi Kishimoto, Naruto.
.
.
.
Pagi itu suasana mendung, seolah mewakili perasaan sebagian orang yang sedang dalam keadaan tak baik─sekarang.
Terlihat sekumpulan manusia berpakaian serba hitam yang tengah mengelilingi sebuah makam. Makam dengan tanah yang masih basah. Mereka semua terlihat sedih dan terpukul.
Di antara kerumunan orang itu, ada seorang gadis yang terlihat paling terpukul. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia menangis tanpa suara. Enggan satu orang pun untuk melihatnya dalam keadaan rapuh.
Hingga beberapa pelayat pergi, ia tetap betah menangis tanpa suara di sisi makam itu. Hingga kemudian tempat itu benar-benar ditinggalkan oleh para pelayat, gadis itu tetap di sana, bersama seorang pria yang juga berdiri dibelakangnya. Namun berbeda dari gadis itu, wajah pria itu hanya menunjukkan ekspresi datar. Namun, itu tak mampu menutupi wajah sedihnya.
Gadis itu mulai menghentikan tangisnya, saat merasakan kepalanya terasa berputar, dan membuat tubuhnya limbung hingga jatuh terduduk di tanah. Lagi-lagi tangisnya keluar.
"Apa gunanya kau menangis seperti itu?" pria dengan surai orange itu berbicara dengan nada dingin.
"..." gadis itu bungkam dan tetap menangis di sisi makam yang bertuliskan R.I.P Uzumaki Menma tersebut. Nafasnya tersendat-sendat, karena terlalu lama menangis.
"Aku tanya, kenapa kau menangis? Bukankah memang ini yang kau inginkan? Apa kau... menyesal?" lagi-lagi pria itu berbicara. Namun, respon gadis itu tetap sama, dia tetap bungkam, dan lebih memilih menganggap semua ucapan pria itu hanya angin lalu.
Merasa kesal di abaikan, dengan kasar pria itu menarik tangan si gadis hingga membuatnya berdiri seketika, lalu membalik tubuh ringkih itu hingga menghadap kearahnya. Kini kedua tangan pria itu sudah berpindah kebahu si gadis, mencengkeramnya seolah-olah akan meremukan seluruh tulang si gadis malang. Gadis itu tak melakukan perlawanan dan justru tertunduk dalam.
"Jika kau merasa menyesal, lalu kenapa tidak kau katakan sejak awal? Jika saja kau secepatnya memberitahuku, dia tidak akan mati! Kau tahu? Dia tidak akan mati!" pria itu berteriak tepat di depan wajahnya. Namun, seperti sebelumnya, si gadis tetap diam. Bibirnya bergetar, di samping karena kesedihan yang kini meliputinya, juga karena takut pada pria di depannya ini.
Pria itu mendengus marah dan dengan kasar mendorong gadis itu hingga membuat tubuh ringkih tersebut terhuyung kebelakang. Pria itu mengacak rambutnya frustasi, sebelum kemudian menggeram marah.
"Aku sangat percaya padamu... tapi... inikah yang aku dapat dari mempercayaimu? Harusnya aku tahu kau berbahaya, harusnya aku menjauh darimu sejak lama! Kau benar-benar monster! Kau tahu dia menyayangimu setulus hati, tapi kau mengabaikannya, dan sekarang kau menangis? Kenapa kau menangis? Apa kau merasa bersalah dan menyesal?! Huh! Simpan saja rasa penyesalanmu itu, karena itu tidak akan bisa membuatnya kembali hidup!" pria itu melangkah pergi. Setelah sebelumnya memberikan gadis itu tatapan tajam.
Bibir gadis itu terbuka saat melihat si pria semakin berjalan menjauh. "Maaf..." suaranya lemah. Bahkan nyaris menghilang.
"Jangan pergi!"
Kedua kelopak mata itu terbuka, dengan dua tangan yang terangkat seolah hendak menggapai sesuatu. Selama beberapa saat ia hanya terdiam, nafasnya tersenggal dan tak beraturan. Namun, perlahan tangannya turun, dan ia mulai menormalkan deru nafasnya yang memburu. Dalam kondisi nafas yang masih naik turun itu, pandangan ia edarkan kesegala arah.
Gelap.
Itulah isi pikirannya saat melihat sekelilingnya diliputi kegelapan. Dan suara angin yang mendesir kencang diluar.
Ia tersadar bahwa sekarang ini ia ada di dalam kamarnya. Perlahan ia mulai bangun, mengganti posisinya yang semula berbaring menjadi duduk.
Tangan kanannya ia angkat untuk menghapus jejak-jejak keringat dikeningnya. Namun, hingga detik berlalu, tangan itu justru tetap bersarang di sana. Kepalanya terasa sakit dan berdenyut. Mimpi buruk semacam itu memang bukan hal baru baginya. Hampir setiap malam selama beberapa tahun belakangan ini ia selalu dihantui mimpi buruk. Namun, dirinya tak pernah bisa terbiasa dengan itu. Mimpi itu seolah-olah baru terjadi kemarin malam, begitu terasa menyesakkan dada. Dia sendiri bahkan tak tahu kapan mimpi buruk itu akan berakhir. Karena jujur saja, ia mulai merasa lelah dengan mimpi buruk tersebut.
Perlahan ia menggerakan kepalanya untuk mendongak menatap tirai putih yang bergerak tanpa aturan karena tertiup angin dari jendela kamar yang terbuka.
Sekali lagi, ia mengusap wajahnya yang berlumuran keringat dingin. Untuk sejenak ia biarkan kedua tangannya menetap dikepalanya. Lagi. Dan meremas rambutnya, sebelum akhirnya ia berdiri dan berjalan kearah jendela.
Wush~ wush~ wush~
"Angin..." ia bergumam sebentar merasakan angin pantai yang kencang dan dingin seolah akan membekukan tubuhnya. Kemudian menutup jendela dan kembali berjalan kearah kasur. Didudukkan tubuhnya dikasur yang terbuat dari rotan itu, lalu mulai merenung.
Lari dari masalah, tak akan membuat masalah itu pergi, melainkan semakin menghantuimu.
Sekelebat bayangan saat seorang pria tua yang berstatus sebagai ayahnya mengatakan itu melintas dipikirannya dan membuat rasa nyeri itu mau tak mau kembali dirasa meremukkan ulu hatinya.
"Huffftt..." ia menghela nafas guna meredam rasa sakit yang seolah-olah tersangkut ditenggorokannya, seperti saat ia tersedak tulang ikan. Menyakitkan. "Kapan mimpi buruk ini akan berakhir?" tanpa gadis itu sadari. Air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Ia mulai muak merasakan lelah yang tak berkesudahan itu. Sangat lelah. Tidur pun rasanya percuma saat mimpi itu terus menghantui dirinya.
Tik... tik... tik... tik... tik.
Tangannya bergerak untuk menghapus jejak-jejak air mata, lalu kepalanya menoleh kearah jam dinding usang yang sejak tadi berdenting.
"Jam tiga... masih ada tiga jam sebelum matahari terbit. Harusnya aku masih bisa tidur sekarang." Gadis itu bermonolog dengan dirinya sendiri, lalu, mulai merebahkan kembali tubuhnya dan menyelimutinya dengan selimut yang bahkan tak lebih dari sebuah tirai bekas yang telah usang.
1 detik...
Ia mulai memejamkan matanya... di detik berikutnya, ia memaksa matanya untuk terus menutup.
Aku membencimu. Menjauhlah dari hidupku! Pergi!
Krrrt!
Tanpa sadar kedua tangan itu mencengkeram selimutnya dengan kuat, membuat urat-urat tangannya mencuat, seolah-olah akan keluar dari tempatnya. Ia kembali membuka matanya, dan duduk di tepi ranjang sebentar, sebelum kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar. Ia berjalan pelan kearah meja makan, dan meraih gelas dan juga teko air, dengan tangan bergetar ia menuangkan air itu ke dalam gelas.
Monster..
Prang! Plang!
Gelas itu jatuh dari tangannya beserta teko berisi air, seiring dengan suara masa lalunya. Bibirnya bergetar menahan isak tangis. Namun sekuat apapun ia mencoba, isak tangis itu tetap keluar. Tangannya bergerak memukul dadanya yang berdenyut nyeri, namun pada akhirnya kedua tangan itu berakhir dengan menangkup wajahnya, menutupi wajah dengan linangan air mata tersebut. Isak tangis terdengar dari balik telapak tangan itu. Bahu mungilnya perlahan bergetar dan isakan pilu itu semakin keras terdengar, sungguh menyakitkan melihatnya, melihat bagaimana ia menangis dalam kesendirian, tak ada tempat untuknya berbagi cerita, dan keluh-kesah. Hanya ada kesendirian. Kesendirian yang begitu kuat mengelilinginya, menahannya dari menemukan sosok yang dapat memberikannya sedikit kebahagiaan.
Ia menurunkan tangannya dari wajah basahnya, dan dengan terhuyung-huyung berjalan menuju pintu keluar, karena terlalu banyak menangis membuat kepalanya terasa berat, ditambah lagi rasa pening yang memang sudah menggelayuti kepalanya sejak terbangun dari mimpi buruk itu, membuatnya benar-benar merasa akan pingsan saat itu juga.
Tanpa perduli telapak kakinya yang menginjak pecahan gelas, ia berjalan tanpa aturan menuju keluar dengan berjalan terseret-seret, tanpa perduli bercak-bercak darah yang menempel di lantai akibat kakinya yang terluka.
Cklek!
Wush! Wush! Wush!
Saat ia membuka pintu. Angin pantai yang kencang sudah menerpa wajahnya. Angin yang sangat kencang, bahkan terasa seolah menampar wajahnya.
Namun, gadis itu tak menghiraukannya dan terus berjalan keluar dengan pandangan kosong. Bahkan rasa perih dikaki pun ia abaikan. Sepertinya, rasa sakit dikakinya tak sebanding dengan yang ada didalam hatinya, hingga membuatnya seolah mati rasa.
Tak sampai berapa lama, gadis itu telah sampai di pantai. Namun, langkah kakinya terlihat tak menunjukkan tanda akan berhenti. Ia justru berjalan semakin mendekati bibir pantai.
Angin pantai terus menerbangkan rambutnya tanpa aturan, bahkan terasa akan menerbangkan tubuh kurusnya. Tanpa ia sadari tubuh mungilnya itu sudah menggigil kedinginan. Namun, lagi-lagi ia hanya mengabaikannya.
Saat ini berakhir. Tak akan ada lagi perasaan sakit. Itulah isi pikirannya saat ini.
Clup. Clup. Clup.
Ia terus berjalan, hingga tanpa ia sadari ia sudah masuk ke dalam laut semakin jauh. Tanpa menghiraukan suhu dingin air yang terasa menusuk dan membekukan kaki hingga mati rasa, ia terus berjalan, seolah-olah roh sudah meninggalkan tubuh itu. Tubuh itu berjalan layaknya Zombie, benar-benar hampa tanpa jiwa. Hingga Air telah mencapai lehernya, ia tetap berjalan melawan ombak.
Sedikit lagi.
Akhirnya ia berhenti, dengan setengah wajah yang sudah tertutupi air. Matanya menatap sayu ombak besar di depannya dengan pasrah.
Inilah saatnya. Perlahan mata Aquamarine itu menutup.
Brashh! Dbum! Dbum!
Ombak besar itu menimpanya. Bergulung-gulung. Membuat tubuh kurus itu terombang-ambing kesana dan kemari. Perlahan tubuhnya tenggelam, dan pandangannya pun mengabur. Ditengah kesadarannya yang mulai menipis itu, ia melihat siluet seseorang tengah berenang kearahnya. Namun, kesadaran tak membiarkan gadis itu untuk tahu cerita berikutnya, karena yang ia tahu sekarang adalah kegelapan.
Tes...
Tes...
Tes...
Mata itu mengerjap saat telinganya menangkap suara tetesan air, dan perlahan matanya ia paksa untuk terbuka.
Saat membuka mata, yang ia lihat hanya putih, hampa dan kosong. Perlahan didudukannya tubuhnya, lalu kembali menatap sekeliling. Ia baru menyadari bahwa tidak ada orang lain selain dirinya di sana. Benar-benar kosong.
"Apa... apa aku sudah mati?" ia menatap sekeliling yang hanya diliputi warna putih itu dengan bingung, "Di mana ini?" ia menatap ke depan saat merasakan angin kuat tiba-tiba muncul dan bertiup seakan-akan ingin menyedotnya. Matanya melebar dan tubuhnya langsung berdiri saat dilihatnya pusaran hitam terbentuk, dan perlahan menyedot tubuhnya. Sekuat tenaga ia lari menjauh. Namun, itu sia-sia karena ia tetap terhisap oleh pusaran itu.
"Aaaah!"
"Uhuk... uhuk... uhuk... hah.. hah... hah..." kedua mata yang tengah tertutup itu terbuka dengan lebar dan kali ini yang ia lihat adalah langit gelap. Dengan tubuh masih terbaring diatas pasir, ia terdiam menatap langit gelap. Tidak ada bintang, hanya bulan yang sesekali terlihat diantara awan-awan hitam. Walau samar, ia masih bisa melihat bagaimana awan-awan hitam itu melintas dihamparan langit gelap.
Wush... wush... wush...
Kedua tangannya secara refleks memeluk tubuhnya saat merasakan angin dingin menerpa tubuh basahnya.
Ini... pantai? Apa yang terjadi? Apa ombak menyeretku ke sebuah pulau terpencil?
"Aku... aku masih hidup?" gadis itu bergumam tak percaya.
"Kau harus bersyukur tentang itu," suara yang menyahut itu sontak saja membuat si gadis tersentak. Lalu, dengan segera menoleh kearah sampingnya. Tepat di sampingnya, terdapat seorang lelaki yang tengah terduduk membelakanginya. Ia menatap punggung pria yang duduk disebelahnya itu dengan tatapan bingung. Kondisi pria itu tak jauh berbeda dengan dirinya. Pria itu juga dalam keadaan basah kuyup.
Siapa pria ini? Dan kenapa dia basah kuyup?
Merasa tak mendapat respon apapun, pria itu kembali bicara.
"Apa yang kau pikirkan? Mengakhiri hidupmu? Apa kau bodoh? Diluar sana banyak orang ingin hidup normal. Tapi kau justru ingin menyia-nyiakan kehidupan yang sudah Tuhan berikan. Apa kau sudah gila? Apa kewarasanmu sudah meninggalkan tempatnya?" gadis itu tetap diam sambil menatap punggung pria itu. Ia bahkan tetap menatap pria itu sekali pun pria itu kini telah berpaling dan balas menatapnya.
Wajah gadis itu sedikit tersentak saat melihat wajah pemuda itu.
"Menma?"
Kedua lubang hidung pria itu melebar, dan matanya menyipit tak suka pada gadis yang beberapa saat lalu telah ia tolong hidupnya tersebut. Ia mendengus sebelum kemudian berbicara lagi.
"Menma? Bukan, aku James, James Bond." Gadis itu mengernyit. "Tapi, serius. Siapa Menma? Apa dia orang yang membuatmu rela menghilangkan nyawa? Memang apa yang ia lakukan padamu? Mengambil keperawananmu?" gadis itu tersentak saat mendengar ucapan frontal pria itu. "Atau dia kabur dengan wanita lain? Atau dia dipaksa menikah dengan wanita yang bukan dirimu? Jika salah satu tebakanku benar, tolong ingatkan dirimu untuk tidak melakukannya. Bunuh diri termasuk tindakan bodoh. Kau gadis yang cantik, banyak pria yang akan jatuh hati padamu. Jadi, lupakan saja pria itu." Gadis itu semakin menatap pria di depannya dengan wajah tak percaya.
"Siapa kau?" tanya gadis itu pelan yang sontak membuat wajah pria itu berubah masam.
"Astaga. Dari kata-kata panjang yang kulontarkan tadi, kau hanya berkata 'Siapa kau?' Ya, Tuhan." Ucap pria itu dengan pandangan yang terlihat kesal dan tak percaya. "Asal kau tahu, aku ini Malaikat." Lanjutnya. Gadis itu mengerjap.
Malaikat dia bilang? Jadi, aku sudah benar-benar mati? Tapi, jika benar dia Malaikat, lalu, di mana sayapnya? Ketinggalan 'kah?
"Sungguh?" tanya gadis itu. Perlahan ia bangun dari posisi terlentangnya lalu duduk tegap di samping pria yang masih memasang wajah datar itu.
"Tentu saja aku manusia. Apa kau lihat aku punya sayap?!" gadis itu berjengit ke belakang saat dengan tiba-tiba pria itu berteriak marah kearahnya.
"T-tidak," gadis itu menggeleng kaku. Lalu, mengalihkan pandangannya saat pria itu menatapnya tajam. "Jadi, kau yang menolongku?" tanya gadis itu masih enggan untuk menoleh.
"Apa kau tinggal di sini?" bukannya menjawab. Pria itu justru berdiri dan balik bertanya padanya. Tanpa bisa dicegah perasaan kesal campur bingung meliputi pikiran gadis itu.
Dia ini niat menolong, atau justru berniat mencari lawan untuk perang, huh?
"Ya." Walau jengkel. Toh, gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa selain menjawab pertanyaannya. Selain kenyataan bahwa pria itu telah menolongnya dari kehilangan nyawa─memaksanya hidup kembali lebih tepatnya─ia juga mencoba menghindari hal-hal buruk yang kemungkinan terjadi. Mengingat bahwa ia tak mengenal pria itu sama sekali. Bisa sajakan pria itu menodongkan pisau padanya? Atau menikam perutnya? Tapi, jika dipikir-pikir, gila juga. Pria itu beberapa saat lalu telah menolongnya, bagaimana mungkin ada orang yang membunuh orang yang baru saja ia tolong? Konyol.
"Kalau begitu, antarkan aku ke rumahmu." Gadis itu tersentak, bahkan tanpa ia sadari matanya sudah melotot lebar. Gadis itu terdiam mendengar penuturannya.
"Untuk apa?" tanya gadis itu langsung.
"Aku ingin ganti baju dan tidur." Gadis itu semakin dibuat terhenyak saat mendengar ucapannya.
"Kau tidak berasal dari sini?" tanyanya dengan kepala menoleh ke kiri dan kanan.
"Oh. Serius?" pria itu menggeleng lagi, membuat gadis itu sontak menaikkan alis bingung. Merasa bahwa gadis di depannya ini tak conect dengan ucapannya, ia memutuskan untuk melanjutkan; mengklarifikasi ucapannya. "Tidakkah kau lihat dari wajahku yang tampan, putih, bersih dan keren ini? Apa kau pikir wajah seperti ini terlihat seperti nelayan bagimu? Aku ini turis. Aku dari kota." Gadis itu menatap datar dan tak suka pada orang di depannya itu.
Sombong sekali.
"Jika kau turis, itu artinya kau tinggal di Hotel atau Villa 'kan?" tanya gadis itu bingung.
"Itu dia masalahnya."
"Apa?"
"Aku lupa di mana aku menginap." Ucap pria itu santai. Terlalu santai jika boleh dijabarkan.
"Bagaimana kau bisa lupa?" gadis itu kembali bertanya dengan wajah syok.
"Aku ini buta jalan. Tadi aku sudah memotret setiap jalan yang aku lewati─"
"Kalau begitu, kau bisa melihatnya lagi 'kan?" tanya gadis itu memotong ucapan pria tersebut.
"Tidak,"
"Huh? Kenapa tidak bisa?" gadis itu mengerut bingung.
"Karena itulah penting bagimu untuk membiarkan orang menyelesaikan ucapannya. Jadi, kau tidak perlu repot-repot bertanya." Pria itu menghela nafas dengan bola mata yang berotasi malas. "Haaah... seandainya bisa, aku tidak akan meminta hal anel seperti ini padamu. Tadi saat menyelamatkanmu aku lupa jika ponselku ada disaku celanaku. Jadi, sekarang ponselku basah dan tidak mau menyala, itu..." pria itu mengisyaratkan dengan dagunya menyuruh gadis itu untuk menoleh kearah sampingnya. Kedua mata gadis itu mengerjap saat melihat benda kotak yang lebar telah tergeletak dengan baterai dan casing yang terlepas.
"Apa kau akan membuangnya?"
"Ya. Tidak ada alasan bagiku untuk menyimpannya. Saat pulang nanti, aku bisa saja membeli yang baru. Itu bukan perkara sulit."
"Kau orang kaya?"
"Tentu saja, tidak ada orang miskin yang seputih, dan sewangi diriku."
Lagi-lagi dia menyombongkan diri.
"Jadi, apa yang kau mau dariku?"
"Apa kau tidak dengar? Atau kau lupa? Kubilang, aku ingin ganti baju dan tidur. Aku ingin kau membiarkanku tinggal malam ini. Hanya malam ini." Ucap pria itu sembari mengulurkan tangan kearah gadis itu, berniat membantunya berdiri.
"Baru sekarang aku mendengar orang meminta untuk segera dibalas budinya." Ucap gadis itu tak habis pikir. Juga menyindir. Berharap pria itu mendapat sebuah keajaiban bisa mengingat jalan menuju Hotelnya dan membatalkan permintaannya.
"Aku sedang terdesak, nona, dan sebaiknya cepat. Aku sudah mual karena kedinginan."
"Cerewet." Gadis itu mendesis. Lalu bergerak untuk berdiri dari duduknya, ia bahkan tak melirik sama sekali kearah uluran tangan pria itu. Namun, ia kembali terduduk saat merasakan perih dan nyeri dikakinya. "Aw!" Pria itu terkejut. Lalu, berjongkok di depan gadis itu.
"Ada apa?"
"K-kakiku... sakit." Pria itu mengernyit lalu mulai memeriksa kaki gadis di depannya, dan tak lama kemudian, kedua bola mata lebar itu semakin melebar saat melihat apa yang ada ditelapak kaki gadis itu.
"Astaga. Dikakimu banyak sekali luka." Tanpa sadar setitik air mata jatuh dari pelupuk mata sendu gadis itu. Melihat hal tersebut, membuat perasaan pria itu terketuk.
Gadis itu tersentak saat merasakan sapuan ibu jari dipipinya. Sebelum kemudian mendongak. Seperti tersengat listrik, itulah yang tengah gadis itu rasakan, tatkala kedua netranya bertemu pandang dengan iris Shapire pria itu. Ditambah lagi dengan fakta bahwa pria itu tengah tersenyum lembut padanya.
"Jangan menangis. Aku akan menggendongmu."
"Apa?" pria itu tak menjawab melainkan meletakkan tangan kanannya dibawah lipatan paha gadis itu dan tangan kirinya ia letakan dipunggung gadis itu. Gadis itu sontak memeluk kedua bahunya saat ia merasa tubuhnya terangkat.
"Apa aku tidak berat?"
"Siapa yang bilang? Kau berat sekali."
Gadis itu mengerutkan alisnya dan menatap pria itu kesal. "Kalau begitu turunkan aku!"
"Kau pikir aku pria tak punya hati, yang dengan teganya meninggalkan seorang gadis dengan banyak luka robek dikakinya?" ucapnya pelan sambil menunduk dan menatap wajah gadis itu. "Lagipula aku hanya bercanda. Kau sangat ringan. Rasanya seperti menggendong ranting kayu." Ucap pria itu dengan diiringi kekehan geli.
Deg!
Gadis itu mengerjap saat matanya lagi-lagi terpaku pada mata yang hampir serupa dengannya itu, dengan senyum terpatri diwajah putihnya, dan itu berhasil membuat gadis itu gugup setengah mati.
"J-jangan menatapku seperti itu!" ucap gadis itu gugup. Hingga mampu membuat pria itu semakin mengembangkan senyumnya.
"Apa ini pertama kalinya kau melihat senyuman manis dari seorang pria?" tanya pria itu dengan kepala yang kini fokus kedepan.
"Tidak... juga." Jawab gadis itu ragu.
Pria itu tergelak. "Jadi, di mana rumahmu?" tanya pria itu kemudian.
"Terus saja ikuti jalan aspal kecil itu. Setelah melewati dua buah rumah, kau akan lihat rumah dengan cat biru. Itu rumahku."
"Apa jauh?"
"Tidak juga."
"Huft..." gadis itu merasa tak enak saat mendengar helaan nafasnya.
"Jika kau lelah, turunkan saja aku. Aku bisa berjalan sendiri."
"Aku tidak berkata aku lelah."
"Keras kepala sekali." Desis gadis itu tak suka. Sebelum kemudian keheningan terjadi.
Namun, itu tak lama.
"Siapa namamu?" tanya gadis itu memecah keheningan yang semula tercipta.
"Naruto, Naruto Namikaze. Lahir tahun 1992 pada tanggal 10 Oktober."
"Rasanya aku hanya bertanya namamu,"
"Hanya ingin memberitahu. Bagaimana denganmu?"
"Ino."
"Ino?" dahi pria bernama Naruto itu mengernyit saat merasa tak asing dengan nama gadis itu. "Sepertinya aku kenal nama itu."
"Namaku memang pasaran."
"Ah..." Naruto menggantung komentarnya.
Bukan... bukan itu. Ada hal lain. Batin Naruto berucap.
"Pantas saja." Naruto urung mengutarakan pertanyaan terpendamnya. Dan lebih memilih memberikan respon saja. Hingga kemudian keadaan hening kembali.
"Apa ini rumahmu?"
Ino menoleh dan menatap rumah sederhana di depan mereka. Sebelum kemudian mengangguk.
"Oh? Baguslah. Aku pikir aku salah rumah. Karena rumah ini tidak bisa dikatakan bercat biru, melainkan putih kebiruan."
"Apa sulitnya mengatakan pudar. Kau tak harus menutup-nutupi."
"Oh... kau menyadari ungkapan tersembunyiku, ya? Sial."
"Sudah aku katakan, tidak perlu kau tutupi." Ino tersenyum sebentar. "Baiklah. Sekarang kau bisa menurunkan aku."
"Apa tidak apa-apa?"
"Iya." Jawab Ino yakin. Namun, Naruto justru diam.
"Tidak. Serahkan kuncinya." Ino mengernyit mendengarnya.
"Apa?"
"Jika kau turun, maka rasa sakitnya akan semakin parah. Biarkan aku yang buka pintu dan aku akan mengobatimu, kau punya P3K 'kan?" Ino semakin bingung melihat tingkah pria yang baru dikenalnya itu.
"Punya. Tapi, apa tidak apa-apa?"
"Jangan banyak bertanya serahkan saja kuncinya." Kedua bola mata Ino sontak menyipit mendengar nada memerintah Naruto.
"Pintunya tidak dikunci." Naruto mengernyit lagi. Oh, demi segala krim kecantikan bibinya, ia bisa mengalami penuaan dini jika terus-menerus dibuat mengkerutkan kening seperti itu.
Naruto menepis segala pemikirannya mengenai keriput-keriput dan lebih tertarik dengan kegilaan gadis ini yang dengan mudah dan tenangnya meninggalkan rumah tanpa pengamanan seperti ini. Naruto jelas harus memberikan acungan jempolnya atas sifat 'kepasrahan' gadis itu. Namun, ia lagi-lagi menepis segala pemikiran gilanya, sebelum kemudian berjalan masuk.
"Apa kau sudah benar-benar tak waras? Dengan tenangnya kau meninggalkan rumah dalam keadaan tak terkunci."
"Apa yang harus dikhawatirkan? Tidak akan ada pencuri yang masuk, karena tidak ada yang berharga di dalamnya."
"Yang benar saja?" tanya Naruto. Sambil mendudukan Ino dikursi rotan yang ada diruang tengah. "Ini rumah yang mengerikan. Bahkan kursi ini terbuat dari rotan. Apakah nyaman untuk diduduki?"
"Coba saja." Ino menjawab singkat dengan salah satu tangan menepuk ruang kosong di sampingnya, mengundang Naruto untuk duduk.
Naruto menatap Ino ragu. Lagi-lagi pemikiran liarnya mengalihkan akal sehatnya. Dia mulai membayangkan beberapa detik kedepan ia akan berakhir dengan bokong yang mencium lantai semen dibawahnya akibat kursi yang tak mampu menopang berat tubuhnya. Lalu, dia mengalami cedera tulang bokong, lalu─
"Hey! Kenapa melamun? Ayo duduk." Naruto tersadar dan segera mendudukan dirinya diatas kursi itu. Dengan perlahan... terlalu perlahan bisa dibilang. Hingga membuat Ino yang duduk di sampingnya menggelengkan kepala bosan, dan dengan tiba-tiba menarik tangan Naruto hingga membuatnya duduk dengan terhentak.
"Ya tuhan!" Naruto terduduk dengan wajah melongo sebelum kemudian menyadari bahwa ia masih selamat dari marabahaya untuk bokongnya. "Owh.. aku masih aman,"
"Astaga." Ino menggelengkan kepalanya bosan.
Sementara Naruto kini mencoba merelaks kan tubuhnya.
"Ya... lumayan. Tapi tetap saja lebih nyaman duduk di sofa."
"Jangan berharap lebih jika di sini. Karena itu semua tak akan terkabul."
"Huh. Yang benar saja? Untung saja aku terlahir dikota. Jika takdirku terlahir di daerah jenis ini, jelas saja tubuhku akan hitam, kotor, bau, dengan garis dipunggung akibat tidur di ranjang rotan. Aku tidak bisa membayangkan yang lebih buruk dari itu." Ringis Naruto.
Dia ini pria, tapi cerewetnya seperti ibu-ibu dipasar ikan. Aku benar-benar tak menyangka orang-orang kota akan maju 'sepesat; sesesat' ini
"Sudah selesai?" tanya Ino.
"Sudah..." jawab Naruto cepat. Sebelum kemudian kepalanya menoleh ke sana ke mari. "Jadi, di mana P3K-nya?" tanya Naruto dengan kepala meneleng kesegala arah.
"Itu!" tunjuk Ino kearah kotak obat yang tertempel di dinding. Naruto menoleh. Lalu segera berdiri dan berjalan kearah P3K itu.
"Apa-apaan ini?" Ino yang semula duduk dengan kepala tertunduk, sontak mendongak dan menatap Naruto yang kini terpaku menatap lantai. "Kenapa ada darah?" tanya Naruto dengan kepala didongakkan kearah Ino, menuntut jawaban gadis itu.
Ino menelan ludahnya secara perlahan tatkala kedua netranya bertemu kembali dengan milik Naruto, sebelum kemudian menunduk.
"Kau lupa dengan kakiku yang terluka?" tanya Ino balik.
"Jadi, luka itu bukan karena kau menginjak kerang laut atau hewan-hewan yang ada di laut?" tanya Naruto sembari berjalan kearah Ino dengan kotak P3K kecil dalam genggamannya.
"Bukan. Kakiku sudah terluka sebelum aku keluar dari rumah."
"Apa sebelum mencoba bunuh diri dengan cara menceburkan diri ke laut, kau sudah mencoba cara yang lain?"
"Tidak. Itu kecelakaan. Bukan kesengajaan." Jawab Ino datar.
"Kau benar-benar wanita putus asa. Apa mungkin karena terlalu lama tinggal di pantai dan jauh dari peradaban?"
"Apa maksudmu?"
"Coba kau lihat. Tidak ada TV. Aku bahkan berani bertaruh 10 Ribu Yen bahwa kau tidak memiliki Smartphone."
"Aku tidak berminat membuang uangku hanya untuk membeli benda itu," Ino diam beberapa saat setelah mengatakannya. "Lagipula, tak ada satu orang pun yang akan atau pun harus aku hubungi."
"Kau tidak punya keluarga?"
"Tidak."
"Astaga. Apa kau lahir dari cahaya?"
"Jangan gila."
"Ke mana orangtuamu?"
"Pergi... pergi jauh sekali."
"Mereka tidak mengajakmu?"
"Tidak. Mereka masih ingin melihatku menderita." Untuk beberapa saat hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka. Nampaknya Naruto kehabisan kata-kata setelah mendengar penuturan Ino yang terkesan seperti orang yang benar-benar putus asa dan kesepian itu. Namun setelah itu ia tersadar dan segera berjongkok di depan Ino.
"Ah!" Ino memekik saat merasakan sakit dikakinya. "A-apa yang kau lakukan?" tanya Ino saat melihat Naruto berjongkok dan menggenggam pergelangan kakinya.
"Aku akan mengeluarkan pecahan-pecahan kaca yang mungkin masih tertinggal dikakimu. Jadi, tahanlah sakitnya."
"M-mudah mengatakannya. A-a-a-aw... sakit!"
"Tahan sebentar."
Setelah 10 menit berlalu berjibaku dengan kaki Ino. Naruto akhirnya selesai. Naruto mendongak dengan senyuman manis kearah Ino, sebelum kemudian berdiri, dan duduk di samping gadis itu.
"Merasa lebih baik?" Tanya Naruto pada Ino. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala Ino.
"Iya, terima kasih." Ucap Ino yang bergerak untuk menjauhkan tangan Naruto dari kepalanya. Namun tangannya terdiam sembari tetap menggenggam tangan Naruto, sebelum kemudian tatapannya beralih pada tubuh Naruto yang masih berbalut pakaian basah. "Apa kau tidak ingin ganti baju?" tanya Ino yang dapat merasakan getaran dari tangan Naruto. Sepertinya dia sangat kedinginan. Maklum saja, di rumah itu tidak ada penghangat sama sekali.
"Inilah pertanyaan yang aku tunggu sejak tadi," Naruto tersenyum. "Ya, aku ingin ganti baju. Tapi, apa kau punya baju pria?" Naruto bertanya sembari menatap lekat kearah Ino.
"Aku tidak punya. Tapi, aku punya kaos dan celana training. Kurasa itu masih terbilang pantas." Ino berniat berdiri dan mengambilkan baju untuk Naruto. Namun, Naruto lebih dulu menahannya dengan cara menekan bahu gadis itu.
"Lukanya baru aku perban. Jika sudah kau bawa jalan, luka itu akan kembali terbuka. Biar aku yang ambil, kau hanya tinggal memberitahuku di mana." Jelas Naruto sembari menepuk kepala Ino.
"Di kamarku."
"Baiklah kau tunggu di sini, oke?" Ino mengangguk mendengar penuturan Naruto.
Setelah kepergian Naruto, Ino terdiam. Naruto adalah orang asing baginya, tapi entah apa yang membuatnya begitu nyaman bersamanya dan membuatnya seolah-olah pernah dekat dengannya dalam waktu lama.
Tak lama Naruto keluar dengan celana training dan kaos hitam dan ditangan yang lain ada sweater merah dan sebuah rok panjang berwarna coklat.
"Kau mau memakai rok?" tanya Ino bingung.
"Tentu saja tidak. Ini untukmu. Apa kau tidak lihat keadaanmu yang juga basah kuyup?" jawab dan tanya Naruto yang sontak membuat Ino tersentak.
Kenapa aku baru menyadarinya? Tubuhku seperti mati rasa. Batinnya bingung.
"Omong-omong, kau tidak punya lemari?" Ino mendongak dan menatap Naruto dengan kedua alis terangkat. Lalu, tak lama ia kembali menurunkan pandangannya.
"Ya. Karena menurutku lemari tak terlalu penting." Ucap Ino sembari mengayun-ayunkan kakinya. "Lagipula bajuku hanya sedikit. Jadi diletakkan dalam keranjang saja sudah cukup."
Ino mendongak dan memberikan tatapan 'jangan khawatir' pada Naruto.
"Kau sangat memprihatinkan." Desah Naruto.
Ino diam mendengar ucapan putus asa Naruto. Namun, dahinya mengernyit saat merasakan tangan Naruto mencoba menarik bajunya.
Pak!
Ino memeluk tubuhnya erat dengan tatapan takut mengarah pada Naruto, sesaat setelah ia menampar tangan pria itu.
"A-a-apa yang coba kau lakukan?" tanya Ino gugup. Naruto yang semula juga memasang wajah kaget, sontak menatapnya dengan pandangan biasa.
"Tentu saja mengganti bajumu." Jawabnya tanpa malu. Yang sontak membuat Ino semakin melongo.
"Kau gila!? Aku... aku bisa melakukannya sendiri." Ino dengan terburu-buru menarik baju dalam genggaman Naruto.
"Kenapa?" tanya Naruto pada Ino. Kepala Ino yang semula sedikit tertunduk, sontak mendongak.
Gila, pria ini benar-benar sudah tidak punya urat malu! Batin Ino menjerit.
"T-tidak, tidak ada." Dengan susah payah Ino mengatur nafasnya yang memburu. "Aku.. aku akan ganti baju di kamar." Ucapnya sembari bergerak untuk berdiri.
"Kalau begitu aku akan menggendongmu sampai ke kamar." Ucap Naruto. Yang kembali akan berjalan mendekat.
"Tidak. Kali ini, aku akan berjalan sendiri." Ucap Ino.
Ia pun mencoba berdiri. Ino menggigit bibir bawahnya kencang saat merasakan perih yang teramat menyakitkan dikakinya, dan seolah menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa sadar air mata kembali meleleh dari pelupuk matanya.
Dug!
"Aw!"Ino jatuh terlungkup saat baru mencapai satu langkah. Naruto bergerak dengan cepat, dan sekarang ia sudah merengkuh tubuh mungil gadis itu. Dan membantunya duduk kembali.
"Kau tidak apa-apa?" Ino menunduk saat mendengar pertanyaan itu.
Dulu.. dulu masih ada seseorang yang begitu memperhatikanku, berada di sampingku, melindungiku... dan sekarang dia sudah hilang.
"Ada apa?" Ino mendongak kearah Naruto dengan wajah yang berlinang air mata. Aquamarine yang berkaca-kaca itu kini bertemu dengan Shapire milik Naruto. Naruto tersenyum menenangkan. Sebelum akhirnya menghapus jejak air mata disekitar wajah Ino.
"Tidak." Ino menarik nafasnya. Dan menahan tangan Naruto diwajahnya. Sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Hanya saja, aku merasa seperti berjalan di atas kaktus." Ino memaksakan tawa saat mengatakannya.
"Sudah aku bilang. Biarkan aku menggendongmu." Ucap Naruto dengan nada suara lemah. Tangannya bergerak mengelus pipi Ino.
"Aku... aku hanya tak ingin merepotkanmu." Ucap Ino dengan tangan yang bergerak menjauhkan tangan Naruto dari wajahnya.
"Aku tidak berkata aku direpotkan olehmu." Naruto menggeleng. Lalu ia berjalan ke tempat pakaian Ino yang berserakan karena terlempar tadi.
Namun, Ino mengalihkan wajahnya saat melihat Naruto berpaling dan mulai bergerak kembali kearahnya.
Ino mengangkat kepalanya saat Naruto dengan tiba-tiba merengkuh tubuhnya dan berniat untuk menggendongnya kembali. Namun, sepertinya ia salah bergerak karena yang terjadi sekarang adalah ia dan Naruto yang sama-sama terpaku. Wajah mereka sangat dekat. Bahkan Ino bisa merasakan terpaan nafas Naruto tepat diatas bibirnya. Hangat, dan memiliki aroma mint. Ino juga bisa merasakan debaran jantung Naruto melalui tangan kirinya yang bersandar didada Naruto.
Ino mencoba menatap lebih dalam ke mata gelap milik Naruto. Entah kenapa hati kecilnya begitu penasaran dengan sosok pria didepannya ini. Seperti ada benang merah diantara hadirnya Naruto saat ini. Tapi, Ino sama sekali tak berniat menerka-nerka, ia takut jika benang merah itu, berasal dari masa lalunya. Jika itu terjadi, maka demi apapun, Ino akan benar-benar melakukan upaya bunuh diri itu.
"Kau tidak buta jalan," ucap Ino spontan dengan suara pelan. Hingga mampu membuat Naruto yang masih menatapnya, terdiam, tersentak lebih tepatnya. "Kau hanya ingin mencoba kabur sebentar dari rutinitas. Kau seorang CEO muda. Anak dari pengusaha sukses, Namikaze Minato. Dan penyanyi Opera, Uzumaki Kushina. Tapi, kedua orangtuamu meninggal dalam kecelakaan pesawat, saat mereka baru kembali dari Belanda dalam rangka libur akhir tahun. Itu satu tahun yang lalu, tepatnya 10 Desember dan sekarang kau dirawat oleh paman dan bibimu. Tapi... kau tidak tinggal.. bersama mereka." Ucap Ino panjang lebar. Sementara Naruto masih diam. Lalu, mulai menggendong Ino.
"Bagaimana kau tahu?"
Deg!
Astaga! Apa yang aku lakukan? Batin Ino panik.
"Aku... pernah mendengar tentangmu."
"Sungguh? Aku tidak tahu jika ketenaranku juga sampai ke pesisir pantai seperti ini. Tapi, serius, itu terlalu rinci."
"A..." Ino menganga mendengar penuturan pria jangkung itu.
Mudah sekali dia percaya.
Sesampainya di kamar, Naruto segera mendudukan gadis itu di ranjangnya.
"Lihat ranjang rotan ini, hanya dilapisi dengan kasur tipis. Apa nyaman?"
"Bagiku ini cukup nyaman," Jawab Ino. "Sekarang, keluarlah." Suruh Ino kemudian. Hingga mampu membuat Naruto bingung.
"Kenapa aku harus keluar?"
"Kau ingin melihatku berganti baju?" Ino bertanya langsung padanya.
"Jika diizinkan,"
Dugh!
Ino tersenyum saat satu bantal tepat mengenai wajah Naruto dan membuatnya yang tadi tengah berjongkok di depan Ino, jatuh terduduk. Bantal itu jatuh dan memperlihatkan wajah syok Naruto.
"Keluar." Suruh Ino lagi. Wajah Naruto yang tadi syok sontak berubah masam. Lalu ia berdiri dan berjalan kearah pintu setelah sebelumnya menepuk pantatnya. Sekilas Ino bisa mendengar Naruto bergumam.
"Wanita memang galak." Namun, Ino hanya memutar bola mata mendengarnya.
Setelah mengganti baju. Ino segera melempar baju basah yang tadi ia kenakan kedalam keranjang kecil dibawah jendela. Setelah itu ia terdiam dengan kepala yang ia tundukkan, hingga membuat mata Ino serta-merta mengarah pada kedua kakinya yang kini diperban.
Lalu kepalanya kembali ia dongakan untuk menatap bulan diluar jendela. Bulannya hanya sesekali terlihat, akibat awan gelap dan mendung yang sejak tadi melintas.
Tok.. tok..
Ino menoleh dan menatap pintu kamarnya sebentar. Namun, tak menunjukkan respon atas ketukan itu sama sekali.
"Nona Ino, apa kau sudah selesai mengganti pakaianmu?" Ino memutar bola mata malas.
"Masuklah." Ucapnya pelan. Perlahan pintu terbuka, dan menampakkan wajah Naruto yang tengah tersenyum.
"Bagaimana?" tanya Naruto yang kini berdiri didepan Ino.
"Apa?"
"Baju yang aku kenakan,"
"Bagus, itu pas untukmu." Naruto semakin melebarkan senyumnya. Lalu ia duduk di samping Ino.
Kriet!
Ino menatap Naruto saat suara ranjang berderit itu usai.
"Bisakah kau duduk secara perlahan? Ranjang ini dari rotan, bukan besi dan bersenti-senti busa spons yang bisa kau jadikan tranpolin." Tanya Ino jengkel yang hanya dibalas pria itu dengan senyum yang dibuat polos.
Kriet.. kriet.. kriet..
Ino menghela nafas saat Naruto merangkak kebelakangnya. Lalu merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain.
"Aku sangat mengantuk. Jadi aku minta izin untuk tidur di sini." Ucap Naruto lalu membalik tubuhnya jadi memunggungi Ino.
Tidur? Tapi, satu jam lagi, jam setengah tujuh.
Ino menangkup wajahnya saat merasakan kelopak matanya yang ikut memberat.
"Sekalipun aku berkata tidak, kau pasti akan tetap memaksa tidur di sini... hoamm..." racau Ino.
Ngantuk sekali...
"Hoam..." Ino kembali menutup mulutnya dan menguap panjang. Lalu mulai merebahkan diri berlawanan dengan Naruto, membuat mereka tidur dengan posisi saling memunggungi.
...
Ino kembali terbangun. Kali ini bukan karena mimpi buruk. Tapi, cahaya menyilaukan yang memaksa masuk melewati retina matanya dan jangan lupakan, nafas hangat yang mengenai pipinya. Dibukanya perlahan kelopak matanya dan mulai membiasakannya dengan bias cahaya. Lalu, ia menolehkan kepalanya ke samping dan sontak matanya melebar.
"Aaa!"
Dbug!
Seiring dengan teriakan Ino, suara 'sesuatu' yang jatuh ke lantai itu mengikuti.
"Astaga. Ada apa?" Ino meringis saat melihat Naruto duduk dengan mata masih terpejam. Dan tangan yang mengelus punggungnya dengan susah payah.
"M-maaf."
"Apa yang terjadi?" tanya Naruto sembari berdiri.
"Itu... aku terkejut... dan... dan... aku mendorongmu. Maafkan aku." Jelas Ino pelan.
"Ng? Sudahlah. Tidak perlu minta maaf. Lagipula aku masih hidup." Ucap Naruto asal-asalan, lalu berjalan kesisi ranjang yang tengah Ino tempati. Ino yang mendengarnya sontak mengernyit tak suka.
"K-kenapa kau bilang begitu? Aku hanya mendorongmu bukan menikammu." Ucap Ino tak terima.
"Ya, ya, ya." Jawaban bernada menyebalkan itu semakin membuat Ino kesal.
Gruk!
Ino menatap Naruto yang tengah berdiri di sampingnya dengan tangan mengelus perut. Tak lama kemudian Naruto mendongak dan menatap Ino dengan pandangan memelas.
"Aku lapar." Ucapnya dengan memasang wajah tanpa dosa.
"Lapar?" ulang Ino. Naruto mengangguk. "Aku tidak yakin memiliki sesuatu untuk bisa kau makan." Ucap Ino pelan.
Naruto yang semula memasang wajah memelas itu sontak saja kecewa. "Aduh, jangan pelit begitu. Aku kelaparan." Naruto tertunduk lesu saat mendengar jawaban Ino.
"Bukannya aku pelit. Tapi, memang begitu kenyataannya." Naruto menatap Ino dengan mulut ternganga. Sementara Ino menghela nafas. "Aku belum mendapat uang. Dan aku baru bisa membeli makanan setelah aku mendapatkan uang itu."
"Uang apa? Kau bekerja sebagai apa? Wanita malam?"
Bugh!
"Sialan kau!" bibir Ino berkendut dengan kepalan tangan yang masih setia ia acungkan.
"Argh! I-ini kedua kalinya kau menyiksaku pagi ini." Tubuh Naruto melengkung kedepan dengan kedua tangan mencengkeram perutnya yang baru saja mendapat hadiah manis dari Ino.
"Dan akan lebih banyak pukulan lagi jika kau masih tidak bisa mengerem mulutmu!" Ino membentak kesal, lalu menghela nafas. "Aku penjual ikan."
"Penjual ikan? Nelayan maksudmu?" tanya Naruto masih dengan ringisan. Ino menatap Naruto dengan pandangan lelah.
"Aku tidak merasa kata penjual dan nelayan itu sama. Mereka hanya saling terhubung, bukan berarti sama! Heuh, aku bertanya-tanya, apa kau pernah memakan bangku sekolah?"
"Aku tidak memakan bangku sekolah. Selain karena rasanya tidak enak. Aku juga tidak tertarik." Jawab Naruto seadanya.
Ino meniup poninya kesal. "Oh, tuhan."
"Jadi, apa pekerjaanmu?"
"Aku membantu tetanggaku yang seorang nelayan, dengan cara menjajakan hasil tangkapannya ke pasar. Tapi, kemarin tetanggaku benar-benar membutuhkan semua uangnya. Jadi, tetanggaku bilang kalau upahku ditunda hingga ia memiliki uang." Jawab Ino seadanya.
"Jadi, semenjak kemarin kau tidak makan?"
"Tidak juga. Kemarin sore aku memakan roti hasil menjual rambutku."
"Kau menjual rambutmu?" tanya Naruto dengan kedua alis menukik tajam.
"Ya. Kemarin rambutku panjang sampai pahaku. Tapi, sekarang hanya sepunggung saja." Ucap Ino tanpa beban sembari menggerakan tangannya untuk menyisir beberapa helai rambutnya yang kusut.
Saat mendongak, Ino mengernyit saat Naruto memberinya tatapan sendu. Perlahan Naruto duduk di samping Ino. Ino sedikit tersentak saat tangan Naruto yang panjang itu perlahan menyentuh pipinya, bergerak kebelakang, lalu kembali menariknya yang membuat rambut Ino yang ada digenggamannya ikut tertarik. Namun tak sampai menyakiti gadis itu.
"Ikutlah denganku," Ucap Naruto tiba-tiba sambil menatap langsung kemata Ino. Yang Ino balas menatapnya dengan bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Ino.
"Ikutlah bersamaku ke Tokyo dan aku akan berikan kau kehidupan layak di sana." Ucap Naruto.
"Hah!" Ino tergelak mendengar ucapannya. "Jangan bercanda. Aku lebih memilih tinggal di sini. Aku tidak butuh hidup yang layak melainkan hidup tenang." Jawab Ino.
"Apa ini yang kau bilang tenang? Aku bisa lihat ketidak tenanganmu di sini. Apa kau bisa tenang saat kau sedang tak memiliki uang dan dalam keadaan kelaparan?" tanya Naruto. Sepertinya ia tidak habis pikir dengan isi kepala gadis di depannya ini.
"Kelaparan tidak menjadi beban bagi pikiranku, Naruto." Ucap Ino tenang.
"Kau wanita pertama yang membuatku begitu terkesan." Ino mengangkat alis mendengarnya.
"Terkesan? Kau bercanda? Lagipula, aku tinggal sendiri. Tidak ada tanggung jawab untuk menjaga orangtua atau saudara, atau bahkan anak dipundakku. Aku hanya sendiri. Dengan makan sepotong roti pun aku bisa bertahan hingga dua hari. Itu bukanlah hal yang sulit." Jawab Ino pelan sembari menarik kembali rambutnya yang sejak tadi digenggam Naruto. Naruto diam dan matanya terus menatap Ino dalam diam.
"Lalu bagaimana dengan kejadian tadi malam? Jelas-jelas kau depresi 'kan?"
"Memang. Tapi, itu bukan tentang kehidupanku yang berantakan ini. Melainkan masalah lain. Masalah yang akan kembali timbul jika aku ikut pergi bersamamu."
"Apa maksudmu?" Ino diam. Naruto pun terdiam. "Apa kau berasal dari kota?"
Ino memejamkan matanya erat. Lalu mengangguk.
"Apa alasanmu berada di sini? Lari dari pria itu?"
"Kau bisa katakan ini pelarian, atau persembunyian. Tapi, apapun latar belakangnya. Aku tak bisa mengatakannya padamu. Kita baru bertemu. Aku harap kau mengerti itu." Ino memalingkan wajahnya dari Naruto. Sementara Naruto masih menatapnya.
"Kumohon. Apapun latar belakang dari keputusanmu untuk mengasingkan diri ini, kumohon ikutlah denganku. Aku tidak akan hidup tenang saat tahu ada orang yang begitu rapuh yang harus aku jaga." Ucapan Naruto itu berhasil membuat Ino kembali menatapnya.
"Aku tidak memintamu untuk menjagaku."
"Aku tahu. Tak satu pun sepatah kata darimu yang memintaku untuk menjagamu. Tapi, aku ingin menjagamu."
"Kita baru kenal. Bagaimana mungkin kau memiliki perasaan seperti itu padaku? Berhentilah membuang waktumu, untuk gadis sepertiku. Kumohon, pergilah dan biarkan aku tenang." Naruto diam menatap Ino. Sementara Ino kini memilih untuk kembali berpaling.
"Kau ingin aku pergi?"
"Sudah tidak ada alasan untukmu tetap berada di sini. Semalam kau memintaku untuk membiarkanmu tidur di rumahku, sekarang kau sudah bangun, jadi itu artinya kita sudah impas dan itu juga berarti kau harus pergi."
Kriet!
Ino tetap memalingkan wajahnya sekali pun di dengarnya suara decitan dari kasur rontan miliknya.
"Kau benar. Aku harus pergi. Terima kasih sudah mau menerimaku untuk tinggal semalam di sini." Ucap Naruto. Sebelum kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.
Cklek.
"Terima kasih juga atas pengobatanmu." Ucap Ino tulus. Naruto berhenti membuka pintu sebelum kemudian senyum kecil itu terbentuk.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa." Ucap Naruto untuk terakhir kali, lalu mulai berjalan keluar.
Ino memejamkan matanya dengan tubuh yang masih setia mengarah ke depan saat didengarnya suara pintu yang tertutup. Hening. Kini keheningan itu kembali menyelimuti dirinya.
"Hiks.."
Tes!
Kedua tangannya mencengkeram kuat ujung sweater yang ia kenakan. Entah kenapa rasa sakit, cemas, kecewa, takut, menguasai relung hatinya. Membuatnya tak kuasa menahan tangis. Ia menjadi begitu sensitive beberapa hari terakhir ini.
Ino tahu Naruto berniat baik. Tapi, ia tidak bisa menerimanya. Ini terlalu sulit baginya. Kenyataannya jika ia ikut dengannya. Masa lalu itu akan kembali mengapung kepermukaan. Menciptakan lubang menganga yang semakin lebar didasar jiwa, dan kenyataan terburuknya adalah bertemu kembali dengan 'dia'. Dia yang sekuat tenaga Ino buang jauh-jauh dari hatinya.
Lagipula, jika dipikir kembali, perasaan Naruto untuk dirinya sama persis dengan apa yang dirasakan orang sebelumnya, mereka sama-sama merasa iba akan dirinya. Sehingga menciptakan suatu perasaan untuk melindunginya, namun, yang terjadi justru mereka meninggalkannya, meninggalkannya sendiri.
TBC
Yosh! itu Chapter pertamanya!
Xoxo
