Chapter 2: Cerita Kyungsoo...
"TRAVELERS' TALE"
Cast: Oh Sehun, Do Kyungsoo, Park Chanyeol. Genre: Advanture, Romance
Length: Chaptered. Rating: T
Kyungsoo POV:
Csilla the gypsy
BUDAPEST, Hungaria. Deru mesin yang tidak terawat mengalahkan suara reyotnya besi-besi tua di dalam bus tua yang aku tumpangi. Kebanyakan orang berdiam dan hanya tubuh mereka yang berbicara, tergoyang-goyang oleh laju bus. Sebuah pintu bus yang tidak dapat lagi tertutup rapat berada tidak jauh didepanku. Dinginnya cukup membuat sepi. Aku duduk sambil memandang jendela.
"You are so lucky." Tiba-tiba seseorang disebelahku membuka percakapan.
"Huh?"
"Your love life," ujarnya. Ada jeda sebelum kemudian ia melanjutkan, "You have a good love life."
Ha? Sesaat kemudian, aku baru sadar siapa dia. Gypsi, dia seorang gypsi. Hidungnya, pakaiannya, seperti yang biasanya aku lihat di buku-buku dongeng. Sebelumnya, aku belum pernah bertemu orang Gypsi di dunia nyata.
"I read palms. My name is Csilla."
"I see." Kemudian kami tenggelam dalam percakapan tentang hidup dan kaumnya. Dari ceritanya, aku jadi mengerti jika kaum Gypsi yang banyak terdapat di Eropa Timur, namanya justru diambil dari kayta Egypt. Soalnya, kata Csilla, mereka diduga berasal dari mesir. Namun, kemungkinan besar lainnya mengatakan kalau mereka berasal dari Barat Laut India.
"Hehehe...," dia terkekeh. "I don't know where we came from." Csilla tertegun lama. "Let that remains a mystery." Seperti itulah orang Gypsi, hidup dalam kemisteriusan. Kami berdiam cukup lama sampai akhirnya dia membuka percakapan lagi.
"I couldn't help noticing how glowing your palm is. Normally, i don't poke on anybody's business but line in your palm..., it's just so glowing." Ujarnya sambil tersenyum. "Do i scare you?"
"No. Not at all." Malah menarik kok, kataku dalam hati.
"Well this is my stop," ujar Csilla berdiri, bersiap turun dari bus. "It's been nice meeting you."
"Like wish."
Besi-besi tua kembali menderik, Csilla melangkah ke arah pintu bus.
"Csilla. My love life sucks. I don't have a boy friend," seru ku, entah darimana datangnya keberanian itu. Mengabaikan tatapan aneh dari penumpang lainnya di dalam bus. Csilla tersenyum penuh misteri, matanya sedikit mengilat ketika mendengar ucapanku.
"You will, very soon."
Dan dia menghilang di balik pintu. Aku baru saja diramal orang Gypsy, 100 mil dari Barcelona, Spanyol-tujuanku. Dan 3000 mil dari Hoi An, Vietnam- tempatku memulai semuanya. Let's start from the beginning. And this is my story...
...
...
...
Hoi an
Hari ini panas sekali. Dari jendela dekat tempat dudukku, sinar matahari terasa sangat menyilaukan. Mata ku, Do Kyungsoo, langsung meruncing. Aku segera memalingkan mata ke layar komputer. Back to work. Sudah beberapa bulan aku sedang ditugaskan di pembangunan sebuah resort tepi pantai, dekat Hoi An, Vietnam.
Yup that Vietnam. Seperti yang ada di film-film perang. Aku memang suka traveling tapi aku tidak pernah mimpi untuk tinggal di Vietnam suatu hari nanti. Apalagi lokasinya terpencil begini, in the middle of nowhere.
Hoi An adalah kota tua yang tidak pernah sepi dikunjungi turis. Hampir setiap sudut kotanya penuh peninggalan bangunan bersejarah. Tidak heran jika kota ini ditetapkan sebagai World Heritage-nya UNESCO.
Hoi An terletak di tengah Vietnam, jauh di sebelah utara Saigon dan jauh di sebelah selatan Hanoi. Dari Saigon masih harus dilanjutkan perjalanan ke Da Nang naik pesawat sekitar satu jam, lalu dilanjutkan lagi dengan jalan darat sekitar 30km. Sebenarnya, nama Saigon sejak 1975 sudah berubah menjadi Ho Chi Minh City. Tapi orang masih sering menyebutnya Saigon (lebih eksotis).
Lokasi tempatku bekerja di daerah pantai. Setelah bekerja, di sore hari, ketika matahari sudah hampir tenggelam dan tidak terlalu terik lagi, aku suka berjalan sepanjang pantai. Tidak ada sunset disini, karena pantai ini menghadap timur.
Aku sedang berada di site office, mengecek e-mail kantor dan e-mail gratisan pribadi sekaligus. Aku suka dengan sensasi yang muncul saat membaca keduanya bergantian. E-mail kantor isinya makian bos, dll. Sedangkan e-mail pribadi isinya rata-rata cerita konyol teman-teman, diskusi-diskusi yang tidak penting, tapi lucu.
...
...
...
Best friends & a crush
E-mail yang paling ku tunggu biasanya dari ketiga sahabatku. Tepatnya, dua sahabat dan satu crush. Namanya Chanyeol. Sahabatku sejak kecil.
Chanyeol adalah temanku sejak kecil. Kita satu kelas di Sekolah Dasar. Awalnya, aku tidak begitu peduli dengan dia sampai pada suatu hari, aku sadar kalau dia ternyata sangat baik. Menjelaskan pelajaran matematika yang tidak aku mengerti, memberi roti pada Baekhyun yang bekalnya tumpah karena ulah Sehun, dan meminjamkan PR-nya untuk dicontek oleh Sehun. Sejak itu aku menyukai seorang Park Chanyeol. Dulu, aku tidak pernah menganggap ini serius. Sampai akhirnya feeling itu selalu ada sampai lulus SMA. That was when it really hit me. Tapi sampai hari ini, aku tidak pernah , aku tidak berani untuk bilang.
...
...
...
A crap E-mail
GELEGAR suara bos yang moody itu terdengar dari jauh. Selayaknya pegawai yang baik, kita semua berusaha keras terlihat kerja.
"Kyungsoo," dia berhenti tepat di mejaku.
"ya...?"
"Tanggal 22, kau ke Budapest ya. Aya ingin kau ikut meeting."
"Bukannya harus ke Amman?" jelas-jelas dia sendiri yang menugaskan ku pergi ke Amman. Jangan bilang kalau dia lupa lagi!
"Dari Amman langsung ke Budapest. Jangan screw up ya. Meeting ini penting bagi kita".
Aku mengangguk dan dia pun pergi.
Aku belum pernah ke Amman atau Budapest seumur hidupku. Aku selalau excited pergi ke tempat-tempat. Bagiku, pegalaman itu priceless. Oh well, back to checking e-mails...
Ada email dari Chanyeol. Kalau dari tanggalnya, Email ini harusnya sudah lama. Sambil senyum-senyum sendiri, aku meng-klik email dan menunggu email terbuka. Berharap ada kejutan atau joke baru yang akan bikin hari ini tidak terlalu membosankan.
...
...
Chanyeol is getting married.
Aku serasa tertimpa setumpuk batu. Seketika senyum di wajahku hilang. Aku benar-benar mendapat kejutan.
Jantungku seolah berhenti sesaat. Kenapa Chanyeol? Kenapa harus Chanyeol?
Chanyeol temanku sejak kecil. Chanyeol yang pintar, jago main piano hingga akhirnya jadi pianis sekarang. Aku bisa membayangkan sih dia menikah. Tapi seharusnya di undangan email itu namaku berada di kotak from: bersama Chanyeol. Bukan di kotak to: bersama yang lain.
Tidak datang ah. Lebih baik aku bunuh diri saja. Tapi, bukannya Barcelona tidak sejauh itu dari Budapest?
...
AH!
I Have an idea.
Perjalanan menuju kemiskinan.
Malamnya aku mencari info tentang biaya perjalanan dari Budapest ke Barcelona. Tidak sedekat itu ternyata. Apalagi dana yang aku punya terbatas. Aku memilih naik kereta api ke sana, konon di Eropa sangat populer.
Hmmm. Tidak ada kereta api langsung ke Barcelona. Harus ganti kereta di Paris. Harga tiket kereta api di tiap negara juga berbeda-beda. Kemungkinan, karna aku berangkat dari Budapest akan lebih murah. Tapi Prancis termasuk negara dengan harga tiket kereta api yang mahal.
Aduh! Di luar dugaan ku, ternyata naik kereta api biayanya lebih mahal dari pada naik pesawat. Sebenarnya aku takut terbang, tapi bolehlah jika sampai Budapest. Setelah itu tidak lagi, deh. Aku akan lewat jalan darat saja, walaupun sedikit lebih mahal.
Aku mulai menghitung-hitung tabungan. Cukup sih, pas-pasan tapinya. Untungnya aku tinggal di Vietnam, biaya hidup disini tidak begitu tinggi, jadi lumayan bisa menabung. Tapi resiko yang harus aku tanggung setelah perjalanan ini selesai, aku akan jatuh miskin.
Tapi aku harus datang ke Barcelona. Makna dari masa depanku ada disana.
.
.
.
TBC
Maaf jika typo bertebaran, silahkan dibaca ff nya dan ditunggu reviewnya juseyo ...!
