KHR © Amano Akira
—
Your Life is My Future
—I can move to forward without you—
U02, 8059
Romance/Angst
Warning : AU, OOC, maybe character death, Shonen Ai
—
Chapter 2 From 2 | End
—
Waktunya seakan-akan terhenti ketika itu. Tidak seperti serangan sebelumnya, kali ini G tidak bangun—tetap tertidur seakan-akan waktunya terhenti. Semuanya terhenti, dan tidak ada yang berjalan di sekitarnya. G dinyatakan koma sejak serangan yang terakhir. Tidak ada denyut nadi, jalan nafas, dan yang lainnya—hanya gelombang otaknya yang masih berjalan, yang membuktikan bahwa G masih hidup sampai sekarang.
Angin tampak berhembus perlahan, mengibaskan tirai putih tempat itu. Membelai pelan rambut merah G, yang menutupi sebagian matanya itu. Sudah 1 tahun lamanya mata merahnya itu tidak terbuka dan menatap ke dunia yang terus berjalan.
CKLEK!
Terbuka sedikit, menampakkan seseorang yang memakai kemeja putih dan juga berambut hitam pendek. Mata hitamnya tampak menatap sosok yang terbaring lemah disana. Tetapi, tidak ada gerakan yang menunjukkan pemuda itu akan bergerak menyentuhnya sedikit saja.
"Setiap aku melihatmu—" Ugetsu—hanya bisa menatapnya dengan tatapan datar dan kosong. Raut wajahnya tampak menampakkan kesedihan dan juga kekosongan, "—entah kenapa dadaku sakit, meskipun aku tidak bisa mengingat siapa kau..."
"Siapa kau sebenarnya—?"
Di balik pintu, tampak sosok Gokudera yang baru akan menjenguknya, terdiam dan hanya melihat Ugetsu yang ada di kamar itu dengan tatapan sedih.
~Flash Back~
Semua orang tampak mendekati jalanan tempat dimana kecelakaan terjadi. Tubuh itu tergeletak tepat di samping sebuah kotak yang terjatuh di tengah jalan itu. Bersimbah darah—Ugetsu tampak tidak sadarkan diri dengan beberapa luka dan juga darah yang mengalir dari tubuhnya. Orang-orang disekitarnya tampak mencoba untuk menolongnya, dan membawanya ke rumah sakit.
Beruntung dengan penanganan yang cepat dari beberapa orang, Ugetsu segera mendapatkan pengobatan akan semua lukanya. Walaupun keadaannya masih belum stabil, tetapi hanya tinggal menunggunya sadar dan melihat keadaannya. Tampak Yamamoto yang ada dikamarnya, mencoba untuk menunggui kakaknya untuk sadar.
"G-san dinyatakan koma—" Yamamoto tampak menghela nafas berat dan menatap kearah kakaknya, "—aku harus kuat di depan Hayato, tetapi apakah aku masih bisa kuat di depannya kalau aku melihatmu seperti ini...?"
...
"Sudahlah—lagipula, bebanku lebih ringan daripada Hayato yang harus menghadapi kenyataan kalau—" Yamamoto menundukkan kepalanya, menciptakan jeda singkat di dalam kalimatnya, "—ada kemungkinan G-san tidak akan bisa bangun lagi..."
Berdiri dan menatap kakaknya, Yamamoto hanya bisa mencoba untuk tersenyum, walaupun saat itu ia tidak ingin melengkungkan mulutnya ke atas tetapi ia harus tetap ceria sampai kapanpun agar Gokudera tidak semakin cemas dengan apa yang terjadi. Dan ia segera beranjak dari kamar Ugetsu menuju ke luar kamar. Menutup pintunya perlahan, yang ia lihat disana adalah sosok Gokudera Hayato yang menutup matanya sambil menyenderkan kepalanya di dinding.
"Hayato—"
"Jangan memaksakan dirimu—!" Gokudera tampak kesal dan melihat Yamamoto yang hanya tersenyum—memaksakan dirinya untuk tersenyum di depan dirinya, "aku tidak suka melihat wajahmu yang seperti itu!"
"Kenapa kau mengatakan itu, aku tidak apa-ap—" Yamamoto tidak menyelesaikan perkataannya ketika Gokudera dengan tiba-tiba memeluknya dan menaruh kepalanya diatas bahu Yamamoto. Satu hal yang lagi-lagi tidak pernah ia lihat, "Hayato, kau—"
"Aku sudah kehilangan senyuman aniki—" menggigit bibir bawahnya mencoba untuk tidak tampak memalukan—dengan menangis, ia hanya menundukkan kepalanya saja, "—a-aku, tidak mau kehilangan senyumanmu..."
...
"Hei Hayato," Yamamoto yang tadi tampak sangat terkejut sekarang memiringkan kepalanya dan melihat kearah Gokudera, "boleh melakukan sesuatu?"
"Hah?"
Dengan sigap, Yamamoto memeluknya dengan sangat erat. Sehingga tidak ada ruangan untuk Gokudera bergerak dan hanya bisa tenggelam di badan Yamamoto yang lebih tinggi darinya itu.
"A—apa yang kau lakukan Takeshi?"
"Senangnya—" Yamamoto tersenyum—senyuman tulus yang memang biasa ia perlihatkan, "—kau memanggil namaku..."
"Ha—hanya refleks, aku tidak bermaksud—sekarang lepaskan!"
"Tetaplah seperti ini dulu—" Gokudera ingin memprotes ketika Yamamoto masih memeluknya, "—aku tidak ingin kau melihatku seperti ini..." Tiba-tiba Gokudera merasakan sesuatu yang basah mengenai pundaknya—Yamamoto menangis, untuk pertama kalinya ia melihat Yamamoto menangis seperti itu.
"Dasar bodoh—makanya jangan memaksakan dirimu..."
"Maaf—"
"Seharusnya aku yang menangis bodoh..."
"Aku tahu—" Yamamoto tersenyum seperti semula, dan melepaskan pelukannya dari Gokudera, mencium keningnya dengan cepat—sebelum sempat Gokudera memukulnya, "—oke, pengisian tenaga selesai!"
...
"Yakyuu Bakka!"
Mengejar sosok Yamamoto yang langsung berlari dan melewati kamar yang ditempati oleh Ugetsu. Berlari sampai akhirnya mereka sampai ditaman yang berada dibelakang kamar Ugetsu. Masih mencari sosok yang kabur itu, Gokudera berhenti tepat di depan jendela kamar Ugetsu.
"Argh! Bisa-bisanya kau menciumku begitu saja Yakyuu Bakka!"
Mengatur nafasnya yang terengah-engah, Goku menatap kearah jendela untuk menemukan Ugetsu yang bangkit dan menatap kearah depan masih dengan tatapan kosong.
"Ugetsu-san—"
Dengan segera berlari menuju ke kamar Ugetsu, membuka pintu dengan lebar dan masuk ke dalam. Bahkan ia melupakan Yamamoto yang kabur darinya.
"Ugetsu-san..."
...
Ugetsu menatap kearah Gokudera seakan-akan baru saja bangun dari tidurnya. Masih dengan tatapan kosong itu, mulutnya bergerak dan mencoba mengatakan sesuatu.
"Siapa...kau—"
...
"Aniki, kau sudah sadar?" Yamamoto yang baru saja tiba—karena mengikuti Gokudera yang malah kembali dan menuju ke kamar kakaknya. Tetapi, sama seperti Gokudera, Ugetsu tampak menatapnya hanya dengan senyuman tipis, "—aniki?"
"Siapa..."
...
Ugetsu dinyatakan mengalami amnesia—ia tidak ingat apapun, tentang Gokudera, Yamamoto, bahkan G. Yang ia ingat hanyalah namanya dan juga pekerjaannya. Semenjak saat itu, Ugetsu seperti orang lain yang tidak dikenal. Sementara G, tidak pernah sadar dan hanya tertidur tanpa membuka mata merahnya. Ugetsu juga tidak lagi menjadi dokter penanggung jawabnya.
"Ugetsu, sepertinya ada alat di kamar nomor 02 yang bermasalah, bisa kau cek?"
Dua bulan setelah Ugetsu mengalami amnesia berat, ia mendapatkan tugas untuk memeriksa alat yang dipasangkan pada G. Untuk pertama kalinya setelah ia amnesia, Ugetsu datang melihat G. Bukan sebagai dokter penanggung jawab, bukan juga sebagai seorang kekasih. Hanya seorang dokter yang menjalani tugasnya saja—tidak mengenal pasiennya.
Ia berjalan sampai menemukan kamar yang dituju. Masuk perlahan, menemukan sosok yang terbaring lemah dan juga tidak sadar itu. Ugetsu tersenyum, mencoba mendekatinya dan melihat keadaannya.
"Selamat pagi..."
Menatap sosok itu, tidak ada yang dirasakan Ugetsu. Ia tidak mengenalinya—sosok yang dulu ia cintai. Tetapi, entah kenapa tiba-tiba air mata itu turun ketika ia melihat sosok G yang tidak bangun dan tidak memarahinya seperti biasa—sebelum mengalami koma. Tidak tahu kenapa ia menangis, dengan segera Ugetsu menghapus air matanya.
"Kenapa—"
Semenjak saat itu, Ugetsu yang seharusnya tidak mendapatkan tugas untuk memeriksa G selalu datang dan melihat keadaan G. Tetapi, tetap saja sampai 1 tahun lamanya semenjak kecelakaan itu tetap saja Ugetsu tidak bisa mengingat apa dan siapa yang ada didepannya, yang selalu ingin ia lihat setiap saat itu.
"Aniki—" Yamamoto yang juga bersama dengan Gokudera didepan kamar G ketika Ugetsu berada disana pada akhirnya masuk dan menemui sang kakak. Ugetsu yang melihatnya hanya tersenyum dan menghampiri Yamamoto.
"Ada apa Takeshi?" Ugetsu menepuk pelan kepalanya dan duduk di kursi yang ada di dekatnya, mencoba untuk mendengar apa yang akan katakan oleh adiknya.
"Kenapa, aniki datang kemari setiap hari—?"
"Oh, karena aku melihatmu dan Takeshi selalu kemari—" Ugetsu tampak sedikit melamun ketika itu, dan tampak mengingat sesuatu tentang G dan juga semuanya, "—jadi aku..."
"Aniki?"
"Ngh—" Ugetsu yang mencoba mengingat semuanya malah merasakan pusing yang hebat di kepalanya. Memegangi kepalanya, ia tampak sedikit kesakitan dan menutup matanya mencoba untuk menghilangkan perasaan pusing itu.
"Aniki! Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak ingat—" Ugetsu tampak kesakitan dan hanya menundukkan kepalanya. Semua yang masuk ke dalam kepalanya, memori tentang apa yang terjadi—hanya membuatnya sakit dan juga sedih, "—aku ingin mengingatnya tetapi, aku tetap tidak bisa. Semakin aku mencoba untuk mengingatnya, semakin aku tidak bisa mengingatnya—seolah-olah, ada yang kurang..."
...
"Apakah kau tahu apa yang aku lupakan, Takeshi—?"
"Sesuatu—" Yamamoto menatap kakaknya, hanya bisa menghela nafas berat dan menatap G yang ada di belakang mereka, "—yang bahkan tidak akan pernah kau lupakan apapun yang terjadi, yang sangat penting di dalam hidupmu, bahkan lebih penting dariku..."
"Lalu kenapa aku, tidak bisa mengingatnya...?"
"Mungkin, lebih baik kau tidak mengingatnya Aniki," Yamamoto tersenyum dan menatap kakaknya, "aku tidak ingin melihatmu bersedih hanya karena kau ingat semuanya..."
Gokudera hanya bisa menatap mereka dalam diam. Ia tidak bisa menyalahkan Yamamoto yang tidak ingin kakaknya mengingat G. Kalau dalam keadaan seperti sekarang, dan yang mengalami adalah G, mungkin ia akan melakukan hal yang sama dengan Yamamoto.
—
"Apakah aku salah bakka aniki?"
Setelah Yamamoto dan Ugetsu keluar dari ruangan itu, hanya ada G dan Gokudera disana. Dan Goku hanya menatap G yang semakin lama semakin melemah. Entah apa lagi yang harus dilakukannya—hanya tinggal dia yang bisa mensuport kakaknya. Walaupun Yamammoto sering menghiburnya, tetap saja ia tidak mungkin tidak sedih melihat kakaknya seperti ini. Hubungannya dengan kakaknya memang terkadang buruk. Tetapi, bagaimanapun ia adalah satu-satunya saudara kandung yang ia miliki.
"Membiarkan Ugetsu-san melupakan memori tentangmu yang terkunci rapat..."
Tersenyum miris, Gokudera hanya berdiri dan berjalan menuju keluar ruangan meninggalkan G yang masih tidak sadarkan diri. Berjalan menuju kesebuah tempat dirumah sakit itu, ruangan kosong tanpa apapun kecuali sebuah piano tua. G sering bermain disana untuk menghibur orang-orang yang ada dirumah sakit. Walaupun ia tampak seperti anak nakal, semua orang tahu dia adalah anak yang baik.
"Sudah lama tidak mendengarkanmu bermain ini—" duduk didepan piano itu, membuka penutupnya dan menemukan sebuah partitur lagu yang ditulis sendiri oleh G, "—lagu yang kau ciptakan sendiri eh? Setiap Ugetsu-san berada disini juga untuk melihatmu..."
...
Meletakkan partitur itu diatas piano, mencoba untuk memainkannya—Goku memang sering sekali berlatih dengan kakaknya dan tentu saja ia juga bisa memainkannya.
Alunan piano yang mirip dengan gaya permainan G tampak mengalun dan memenuhi seluruh ruangan. Seseorang yang mendengar itu tampak berdiri, menatap Gokudera yang ada disana sedang memainkan piano itu sendirian.
Ugetsu—menatap punggung Goku yang sedang memainkan piano itu. Melihat bayangan G yang tampak bertumburan dengan sosok Gokudera. Membuatnya sedikit mengingat sosok itu, dan tentu saja lagu yang selalu ia dengarkan setiap kali ia melihat G ditempat itu.
"Kau suka sekali memainkan lagu itu..."
"Yah, karena itu adalah maha karyaku, kubuat khusus untuk seseorang..."
"Seseorang?"
"Seseorang yang spesial—"
Memegangi kepalanya—mencoba untuk mengingat semua hal yang berhubungan dengan G dan juga kenangan mereka. Ia berjalan, mencoba untuk kembali ke ruangannya untuk sedikit beristirahat. Duduk disalah satu kursi dan memijam pelan dahinya. Menatap kesampingnya, sebuah meja kecil dan diatasnya sebuah kotak berwarna merah dengan pita hitam terbungkus rapi disana.
"Yang diberikan Takeshi—" mengambil dan mengamati bungkusnya. Melihat sebuah kertas kecil yang bertuliskan nama seseorang yang harusnya menerima itu, "—G?"
...
Ia membuka kotak itu—sebuah cincin perak dengan beberapa ukiran yang indah. Di sisi dalam cincin itu, sebuah nama terukir disana.
"Jangan menganggapku anak kecil!"
"Maa, maa G—aku tidak menganggapmu anak kecil kok..."
"Lagipula—sudah ada Cozaltz yang menggantikanku..."
"Kalau tidak ingin melihat tidak usah melihat..."
"Orang sekarat sepertiku—hanya bisa bermimpi untuk dicintai..."
"Hentikan—jangan katakan kau hanya bisa bermimpi untuk dicintai...karena orang didepanmu ini, akan selalu mencintaimu..."
"Bukan Giotto yang aku suka bodoh—tetapi, orang bodoh didepanku!"
"Maafkan aku—G..."
...
Semua memori, semua kenangan tentang pemuda itu berputar kembali seperti kaset yang diputar ulang dikepalanya.
"G—"
"Aniki!" Membalikkan badannya ketika Yamamoto membuka pintu dengan kasar. Tatapannya tampak panik dan juga cemas, "G-san, keadaan G-san—!"
Membiarkan cincin dan kotaknya terjatuh kebawah lantai, dengan segera Ugetsu berlari kearah kamar G—bertemu dengannya, hanya itu satu-satunya yang ia inginkan.
—
"G!" Membuka kamar G menatap beberapa dokter dan suster yang sudah melepaskan semua alat yang terpasang selama ini ditubuhnya. Ugetsu juga melihat tubuh G yang masih terbaring disana dan tidak bergerak sama sekali. Gokudera juga berada disana hanya duduk sambil menundukkan kepalanya, "—G? Kau tidak apa-apa?"
Ugetsu bergerak, menyentuh pipi G yang dingin dan juga wajahnya yang masih tampak pucat. Tangannya tampak bergetar, ia bergerak—menggenggam tangan G yang ada disana.
"He—hei, kau tidak apa-apa kan G? Jangan hanya berbaring saja," suara Ugetsu yang bergetar tampak jelas, sementara Yamamoto menghampiri Gokudera, "kau tidak boleh melakukan ini padaku...kau tidak apa-apa kan?"
Tidak ada jawaban—
"G..." Menundukkan kepalanya, Ugetsu masih memegang tangan G dengan erat sementara Yamamoto dan juga Gokudera bergerak keluar kamar meninggalkan mereka berdua.
—
"Hayato—kau tidak apa-apa?" Yamamoto masih melihat Gokudera yang menundukkan kepalanya tidak mengatakan apapun juga, "memang susah menghadapi kenyataan kalau—"
"Dia itu—" menghela nafas panjang, menyandarkan kepalanya dipintu dan menyilangkan tangannya didepan dada, "—kakak yang bodoh, hanya bisa membuat orang lain cemas..." Menutup sebelah matanya dan menghela nafas pendek.
...
"Eh?"
—
Masih memegangi tangan G, Ugetsu hanya diam dan menundukkan kepalanya—menyembunyikan air matanya yang keluar saat itu, satu-satunya hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini. Tiba-tiba tanpa sadar tangan kanan G yang bebas bergerak mengusap kepala Ugetsu.
"Akhirnya aku bisa melihatmu menangis—" menutup sebelah matanya sambil tersenyum, ia tertawa kecil dan menunggu reaksi Ugetsu. Tentu saja Ugetsu yang melihat itu langsung menatap G yang masih tertawa geli.
"G,kau—" Ugetsu tampak terkejut sementara G tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kekasihnya itu, "—kau sengaja membuatku seperti ini ya?"
"Salahmu sendiri tidak mengecek lagi, kau kira aku sudah mati?"
"Ta—tapi tadi Gokudera-kun, dan alat-alat itu—" masih tampak bingung dan malu karena G melihatnya menangis, Ugetsu tampak gugup menjelaskannya, "G—kau...!"
"Aku sempat mati tadi, tetapi untungnya aku masih bisa selamat, dan tentu saja karena keadaanku langsung membalik alat-alat itu kulepas..."
"Kau mempermainkanku, kau memang ingin aku menangis ya?"
"Memang, hahaha..." Tawanya semakin meledak ketika wajah Ugetsu langsung memerah melihat sandiwara G dan Gokudera, "kau tidak melihat wajahmu ta—" tidak sempat mengatakan hingga habis, Ugetsu sudah memeluknya, "Ugetsu?"
"Rasanya—aku sudah mati tadi, ketika melihatmu seperti itu..."
...
"Salahmu sendiri tidak melihatnya lebih jelas..." Membalas pelukannya, G hanya menghela nafas panjang.
"Okaeri—G..."
...
"Tadaima..."
—
"Aku tidak pernah mengatakan kalau bakka aniki tewas kan?"
Melihat dari jendela kamar G, Goku dan Yamamoto tampak melihat adegan kakak mereka berdua yang sedang berpelukan. Melihat kearah Yamamoto karena tidak ada jawaban dari yang bersangkutan, Yamamoto tampak memandangi Gokudera.
"A—ada apa?"
"Boleh aku—menciummu Hayato?"
...
"Ap—apa maksudmu dasar mesum!" Terbelalak mendengarkan kata-kata Yamamoto. Gokudera langsung melangkah mundur dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
"Wajahmu selalu tampak seperti ingin dicium sih—" dan satu pukulan melayang mengenai hidung Yamamoto, "—i-ittei, jahat sekali Hayato..."
"Salahmu sendiri, jangan berkata seperti itu tiba-tiba!" Tersentak ketika Yamamoto tersenyum dan menaruh kedua tangannya disekitar bahu Gokudera. Menahannya di dinding yang ada dibelakang Gokudera, dalam keadaan duduk.
"Jadi—kalau aku meminta izin seperti ini boleh bukan—" memegang dagu Gokudera, mendekatkannya kewajah Yamamoto sementara yang bersangkutan hanya bisa diam, "—Gokudera Hayato..." Mencium bibir Gokudera cukup lama sebelum melepaskannya dan melihat reaksi Gokudera—yang tentu saja terkejut.
"Kau memang manis Hayato-kun~"
"Da—dasar bodoh..."
Wajah Gokudera memerah, dan tanpa sadar ia melihat kearah atas—dimana G dan Ugetsu ternyata menonton mereka berdua sedari tadi.
"Ternyata adikmu sama mesumnya denganmu—" memangku dagunya dengan sebelah tangan, G hanya menggelengkan kepalanya sementara Ugetsu tampak tertawa datar.
"Itulah adikku, selalu membuat kejutan..."
"Ah, maaf mengganggu kalian—silahkan teruskan saja," tanpa menunggu reaksi dari kedua pelaku, G langsung menutup jendela itu dengan tirai. Meninggalkan kedua pasangan itu yang membatu.
"Ba—BAKKA ANIKI!"
—
Chapter 2 From 2 | The End
—
Hahaha xD ending Gaje? XD
Karena Empunya Ugetsu ga mau G mati jadinya dibikin happy ending~ /siul2/
Dan~
Ada yang mau request sad ending juga ada kok :)
RnR 'ttebayo! XD
Note : kamar Ugetsu pas dirawat sama kamar G itu ada dilantai dasar ' '
