Jungkook in Luv

Casts: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook, and others..

Romance/Humor/Schoolife AU

YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC

DONT LIKE DONT READ

Note: Skool Luv Affair era

Tulisan bold dan italic adalah flashback

.

.

.

.

"Yak Jeon Jungkook, tahan di situ!"

Seorang bocah berambut hitam dengan polosnya menurut, menghentikan langkahnya di tengah perjalanan menyusuri halaman sekolah. Kepalanya dimiringkan imut, pertanda bingung.

Namun belum sempat suaranya keluar untuk bertanya, sesuatu yang berat,banyak, dan beraroma menjijikkan menyiram tubuh mungilnya. Tawa pecah seketika di sekelilingnya. Ada pula yang berasal dari lantai 2. Seluruh kemeja seragam putihnya kini telah berwarna cokelat tua kehijauan. Baunya sangat busuk dan membuat perut melilit.

"Sampah! Ah kau bau sekali!" Begitu banyak cemooh yang dilontarkan dari mulut-mulut kecil itu, di kala tubuh sang bocah berambut hitam merosot pada lututnya.

Pupil mata cokelatnya melebar dan bergetar. Kaleng-kaleng minuman kosong, gumpalan kertas yang diremas, serta kulit-kulit buah pisang terlontar dari segala arah, memantul mengenai tubuh kotornya dan jatuh menumpuk di tanah. Ia ingin kabur, ia ingin berlari menjauh dari kerumunan yang mendengungkan tawa sadis di sekelilingnya ini. Namun apa dayanya, kakinya terasa lemas dan matanya yang terasa memanas sudah tak bisa dibendung lagi.

..

BRAK

Tubuh kurus itu terbanting menyedihkan pada loker besi di belakangnya.

"Su..Sunbae, sudah kubilang aku tak punya uang lagi.."

Tinju langsung melayang pada pipi si remaja berambut hitam. Hidungnya berdarah dan bibirnya sobek, air mata tidak berhenti berlomba-lomba turun di kedua pipinya yang sudah lebam keunguan. Sekujur tubuhnya sakit bukan main.

"Yak, cepat sebentar lagi bel masuk!"

Jungkook merasakan dorongan keras dan bunyi loker di sampingnya yang di buka kasar. Tenaga yang amat kuat menghempaskan paksa tubuh kurusnya yang sudah babak belur dan mati rasa ke dalam loker sempit itu. Pintu loker terbanting keras di depan wajahnya dan terdengar bunyi kunci yang diputar.

Jungkook meringis. Ia ingin berteriak namun bibirnya yang sobek terasa mati rasa dan tenggorokannya tercekat. Sepasang mata elang bersorot dingin dan keji, menusuk hingga ke dalam tulang-tulang tubuhnya yang hampir mati rasa serta seringai penuh kemenangan mengintip melalui celah di pintu loker, sebelum air mata kembali mengaburkan seluruh pandangannya dan kesadarannya mulai hilang di loker gelap sempit nan pengap itu.

Tubuh Jungkook gemetar hebat. Ia tak mau semua kejadian buruk yang terjadi di masa lalunya terulang kembali. Ia tak mau merasakan kesakitan yang sama. Jungkook hampir saja benar-benar kabur dari tempat itu sebelum ia merasakan sebuah tangan hangat mendarat halus di bahunya.

"Kau baik-baik saja?"

Jungkook mengangkat kepalanya. Sekarang lelaki tampan yang tadi pertama kali disapa oleh Taehyung berdiri di hadapannya dengan wajah terlihat khawatir. "Keringatmu banyak sekali, kau sakit?"

"Yak hyung, gantian aku juga mau berkenalan dengannya!" Seorang namja lain bertubuh pendek menyela di antara mereka, membuat Jungkook sontak memundurkan tubuhnya kaget. Ia memandang Jungkook dengan mata yang menyorotkan antusias berlebihan seperti Taehyung tadi. "Annnyeonghaseyo, namaku.."

"Yak yak dia sedang sakit kau malah memperkenalkan diri, dasar tidak peka." Lelaki bersurai pirang yang berdiri agak jauh dari keributan memotong, berseru keras dengan suara tenangnya.

"Aish dasar cerewet kau hyung!"

"Kalian jangan bicara dengan suara keras begitu, nanti sakitnya tambah parah! Cobalah meperkenalkan diri lewat bahasa tubuh!" Seorang lelaki berwajah tirus maju penuh percaya diri ke depan Jungkook, dan dengan hebohnya mulai menarikan koreografi Something oleh Girls Day versi absurd seperti orang yang sakit persendian. Si namja antusias juga ikut bergabung dan menyumbangkan suara cemperengnya. Sementara yang lain memprotes keras dengan seruan 'huu' ditambah ekspresi mual dan kesal, lain pula dengan Taehyung yang terbahak sampai keluar air mata sambi merekam dua lelaki yang asik berdance absurd ria bak cacing kepanasan itu dengan kamera ponselnya.

Jungkook semakin bingung. Mana ada berandalan yang menarikan tarian girl group seperti itu? Oh atau jangan-jangan kelompok ini adalah berandalan yang suka menari tarian girl band yang notabene banyak mengekspos tubuh dengan gerakan yang seksi-seksi itu? Pikiran Jungkook semakin melantur di kala lagu Touch My Body dalam versi cempereng mengalun bersamaan dengan sinar matahari yang menyorot panas tepat di kepalanya.

"Maaf sunbae, tapi aku tidak sakit.." Jungkook berkata pelan, antara sadar dan tidak sadar di tengah keributan itu.

BUAGH

Jitakan mendarat satu persatu di kepala tiga lelaki yang heboh sedari tadi, membuat konser absurd dadakan tersebut terpaksa dihentikan.

Taehyung berdeham canggung setelah 5 menit ia dan dua orang lainnya dipaksa bersimpuh untuk mendengarkan ceramahan dari dua orang namja yang sepertinya berumur paling tua.

"Kookie perkenalkan, orang-orang bodoh ini temanku."

"Yak kau juga bodoh, jangan seenaknya!" Taehyung hanya nyengir sambil membentuk V sign dengan jarinya.

"Hai, namaku Park Jimin kau bisa memanggilku Jimin. Aku kelas 2." Namja yang bertubuh pendek dan barusan berteriak tersenyum lebar sambil mengulrkan tangan dan Jungkook menjabatnya dengan bingung.

"Aku Min Yoongi, kelas 3. Kau bisa memanggilku Suga kalau mau." Lelaki berambut pirang yang kini berdiri menyandar ke tembok tersenyum tipis.

"Aku Kim Seokjin kelas 3. Panggil saja aku Seokjin atau Jin." Lelaki berambut cokelat gelap berwajah tampan yang pertama menanyakan keadaan Jungkook tadi berkata ramah. Nada bicaranya terdengar menyenangkan dan keibuan.

"Namaku Jung Hoseok, kelas 2! Panggilanku Hoseok tapi supaya keren kau bisa memanggilku J-Hope!" Lelaki absurd yang pertama kali memimpin girl grup dance berkata heboh dengan wajah seperti orang idiot. Oh, sepertinya dia memang termasuk kaum alien seperti Taehyung, pikir Jungkook.

"Dan aku Kim Namjoon, kelas 2. Kau bisa panggil aku Namjoon atau Rap Monster." Lelaki terakhir yang bertubuh paling jangkung dan berambut platina berkata dengan suaranya yang dalam dan berwibawa. Nama Rap Monster terdengar asing di telinga Jungkook, namun ia bisa merasakan lelaki ini memiliki aura sebagai pemimpin dalam kelompok misterius yang entah apa ini.

"Jadi apa yang akan kita lakukan? Pekerjaanku masih banyak." Lelaki yang seingat Jungkook bernama Jin itu mengecek jam pada ponselnya.

"Oh yeah, aku lupa Ketua OSIS kita ini sangat sibuk." Hoseok menguap malas dan langsung mendapat jitakan gratis dari Namjoon. Jungkook menaikkan alisnya tak habis pikir. Seorang Ketua OSIS membolos pelajaran?

"Taehyung yang menyuruh kita semua berkumpul. Ada apa? Kau bahkan menyeret anak kelas satu ini!" Namjoon mengerling Jungkook yang merinding dan refleks menggelengkan kepalanya.

"Aigoo kasihan kenapa kau mau saja diseret alien ini?" Jimin maju dan memeluk simpati Jungkook yang kebingungan.

"Sekali kau ikut ke dunianya, kau takkan bisa kembali lagi. Alien ini sangat mesum dan idiot, kau tahu?" Suga berkata sambil menyeringai tanpa mengalihkan pandang dari game yang sedang dimainkannya lewat smartphone nya.

"Yak, Min Suga diam sialan!" Bantah Taehyung, dan ia mendapatkan sebuah sepatu mendarat di kepalanya.

"Panggil aku hyung, idiot."

"Eh.. tapi sunbae.." Jungkook berusaha menjelaskan di tengah kesesakannya karena pelukan Jimin yang terlalu over.

"Kakak kelas macam apa itu!" Jin mendeath glare Taehyung dengan aura hitam yang mulai menguar di sekeliling tubuhnya.

"Eh, sunbae sebenarnya.." Jungkook sekali lagi mencoba menjelaskan namun lagi-lagi usahanya gagal saat Namjoon sudah terlanjur menjitak kepala Taehyung.

"Bodoh! Kau mau meracuni anak kelas satu yang masih polos ini?!" Namjoon memiting tubuh Taehyung dengan lengannya, dan mata Jungkook melebar speechless. Antara shock dengan cara Namjoon yang begitu barbar serta dirinya yang disebut masih polos. Well, Jungkook memang tidak pernah menonton atau berbuat hal-hal mesum sepanjang tujuh belas tahun hidupnya tapi bukan berarti ia masih polos dan tak mengerti hal-hal semacam itu. Semua orang yang sudah mengenal Jungkook akan tahu dengan sangat baik bahwa Jungkook adalah iblis berwajah malaikat. Oh, bukan saatnya membahas ini. Lupakan. Kita kembali pada Taehyung yang kini merintih-rintih mengenaskan di bawah pitingan Namjoon.

"Orang jahat harus dihukum, orang jahat harus dihukum~" Hoseok bersenandung ria dan ia bersama Jimin yang entah sejak kapan sudah melepaskan Jungkook dengan isengnya menggelitiki semua bagian tubuh Taehyung yang bisa mereka capai sehingga kini penderitaan Taehyung menjadi dua kali lipat lebih parah. Urat lehernya sampai menonjol karena terjepit antara ingin tertawa dan mengumpat.

Jungkook dengan ragu melirik Suga dan Jin yang berdiri di sampingnya, berharap mereka akan bertindak untuk melerai perkelahian absurd itu, namun kedua namja yang dimaksud justru hanya menatap perkelahian tersebut dengan wajah malas dan nyaris bosan seolah mereka sudah biasa menyaksikan pemandangan itu. Jungkook yang merasa kedua sunbaenya itu tidak akan beranjak sama sekali dari tempat mereka singgah akhirnya memilih bertindak sendiri.

"Su..Sunbae maaf tolong lepaskan Taehyung sunbae!" Jungkook sedikit mengeraskan suaranya, dan kegiatan piting-gelitik Namjoon, Hoseok, serta Jimin terhenti.

"Kenapa? Alien ini yang hampir membuatmu keluar jalur!" seru Namjoon sedikit mengendurkan lengannya dari leher Taehyung. Dan kesempatan itu tak dilewatkan oleh si namja alien untuk melepaskan diri sambil terbatuk.

"Dengar dulu, aku memang menyeretnya tapi.. YAK DENGAR DULU!" Taehyung cepat-cepat bersembunyi di balik tubuh jangkung Jungkook ketika Namjoon sudah meregangkan kembali otot-ototnya, siap menghajar.

"Sebenarnya dia juga kebetulan sedang membolos!"

Namjoon dan keempat orang lainnya langsung menatap heran Jungkook yang kini merasa tersudut. Benar sih kenyataanya, tapi dia tetap saja takut jika diintimidasi begini oleh para kakak kelasnya.

"Yak, aku tidak bohong oke? Iyakan Kookie?!"Taehyung semakin merapatkan tubuhnya pada punggung Jungkook di kala kilatan mata Namjoon dan Jin menajam.

Jungkook menghela nafas. Merasa simpati pada sunbae alien yang sudah cukup dituduh menyeretnya ini(walaupun memang benar ia diseret), akhirnya ia memilih untuk turun tangan.

Selama 15 menit ke depan pun Jungkook menceritakan semuanya dari awal pertemuannya dengan Taehyung di halaman belakang sekolah sampai bagaimana ia bisa tiba di rooftop, walaupun ada banyak halangan yang membuat cerita Jungkook terpaksa tersendat-sendat karena banyaknya pertanyaan yang diajukan.

"Wow, tak kusangka tampangmu alim seperti siswa teladan begini ternyata tukang bolos!" Jimin menepuk keras punggung Jungkook sampai mata Jungkook terasa berkunang-kunang setelah ia selesai bercerita.

"See? Benar kan?" Taehyung melirik Namjoon dan Jin yang masih menatapnya awas.

"Kau idiot sekali, hari pertama bertemu adik kelas malah posisimu di atas pohon?" Hoseok terbahak sampai berguling-guling di lantai rooftop.

"Kalau ada adik kelas lain yang melihatmu pasti senioritasmu sudah habis!" Namjoon nyengir dan memukul-mukul keras bahu Taehyung di sela tawanya membuat Taehyung kembali terbatuk -batuk. Jungkook meringis sendiri melihatnya.

"Dan bukankah kami sudah bilang supaya kau datang langsung ke sekolah jam 7.30? kau datang siang-siang tentu saja telat dan kita semua sudah masuk kelas!" Jin memulai kembali ceramahannya dengan tangannya yang menunjuk-nunjuk ke sana kemari, saking kesalnya. Hoseok, Namjoon, dan Jimin langsung menjauh dari Taehyung tanpa diminta, sementara Suga memilih untuk menyumpal kedua telinganya dengan earphone.

"Euh, Jin sunbae sepertinya sudah cukup Taehyung sunbae menerima semua ini tolong maafkan dia.." Jungkook cepat-cepat berkata saat melihat Taehyung sudah mengambil posisi bersimpuh lagi di lantai. Ia miris melihat nasib sunbae aliennya begitu mengenaskan di hari pertamanya pindah sekolah bahkan sebelum ia masuk kelas.

"Waa donsaengku memang baik sekalii~" Taehyung bangkit dan memeluk erat Jungkook sambil tersenyum lebar. Jungkook mengerjap beberapa kali, dan ketika ia merasakan panas yang mendadak menjalari wajahnya ia segera menjauhkan dirinya dari Taehyung.

Jin menghela nafas dan menggeleng tak habis pikir.

"Kau memang baik. Jarang sekali ada adik kelas yang begini sopan dan baik pada seniornya, Kook.. tadi siapa namamu?"

"Ah, Jungkook. Namaku Jeon Jungkook sunbae."

"Kookie! Ah, boleh aku memanggilmu begitu?" Jimin berseru.

"Haha benar, Kookie! Nama itu lucu sekali!" Hoseok mengacungkan jempolnya menyetujui.

Jungkook menggeretakan giginya pelan. Namanya bukan Kookie, dan ia tak suka dipanggil dengan nama imut seperti itu! Baru saja Jungkook akan protes ketika sebuah suara mendahuluinya.

"Tidak boleh."

Dan Jungkook merasakan sebuah lengan merangkul bahunya. Ia mengerinyit lalu menoleh, dan wajahnya langsung merona ketika menyadari bahwa orang yang tengah merangkulnya itu adalah Taehyung.

"Kenapa tidak boleh?" Jimin protes.

"Karena orang yang pertama kali memberinya panggilan itu adalah aku, hanya aku yang boleh memanggilnya begitu." Taehyung menepuk dadanya bangga.

"Kau pikir dia itu anjing yang hanya akan datang pada tuannya jika dipanggil dengan panggilan khusus?" Namjoon menyentil keras dahi Taehyung yang terekspos dengan kedua jarinya. Astaga lelaki ini suka sekali kekerasan.

"Tentu saja tidak! Tapi yah pokoknya begitu hanya aku yang boleh memanggilnya Kookie. Kalian semua cukup memanggilnya Jungkook saja!"

"Yaya terserah kau sajalah." Jimin memutar bola matanya malas dan bergabung duduk di sebelah Suga yang masih asik dengan musiknya.

"Ah.. sunbae sekalian bebas memanggilku apa saja kalau mau.." Jungkook berkata cepat. Ia melihat kerinyitan di dahi Jin.

"Sebelum itu kami semua ingin kau berhenti memanggil kami dengan sunbae. Panggil saja kami hyung." Ucap Suga yang sedari tadi diam saja. Semua menoleh kaget pada lelaki berambut pirang itu. Sejak kapan ia melepas earphonenya?

"Eumm itu bagus. Sebaiknya memang begitu." Jin menyetujui ucapan Suga.

"Eh? Tapi aku kan kelas satu?" Jungkook berkata bingung.

"Tak masalah, panggilanmu yang terlalu formal itu justru membuat kami merasa tak enak padamu." Namjoon menyahut cepat.

"Benar, panggilan sunbae sama sekali tak cocok untuk kita-kita ini. Terutama Taehyung, ah lihatlah dari tampangnya saja dia benar-benar tak terlihat seperti seorang sunbae."

"Berisik, kau juga Jung Hoseok! Ah tapi kita benar-benar tidak bercanda, panggil saja kita hyung. Dan bahasamu itu, hentikan bicara dengan bahasa formal! Anggap saja kami semua seumuran denganmu." Taehyung nyengir sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Ahh virus alien Kim Taehyung sudah dimulai rupanya. Jungkook-ah, hati-hati jangan sampai dirimu teracuni olehnya!" Jimin berseru keras.

"Cerewet, kau juga sempat meracuniku idiot!"

Dan menit-menit berikutnya dilewatkan oleh Jungkook dan empat orang lainnya untuk menyaksikan Taehyung dan Jimin yang kejar-kejaran, atau lebih tepatnya Taehyung yang mengejar Jimin dengan beringas. Sempat terjadi kerusuhan beberapa saat, namun akhirnya mereka tenang ketika Namjoon turun tangan untuk dengan senang hati menjitak kepala masing-masing, dan akhirnya semua malah tertawa melihat kebodohan Taehyung.

Jungkook terdiam menyaksikan ini. Entah sudah berapa lama ia tak melihat pemandangan seperti ini. Semua orang, terutama Taehyung sangat menarik dan mampu membuat seulas senyum tipis melebar di bibir tipis Jungkook. Namun entah kenapa ia juga sekaligus merasakan sesuatu yang aneh. Seperti.. iri mungkin? Ya, iri pada Taehyung. Bagaimana Taehyung yang begitu supel dan menjadi pusat di antara orang-orang yang Jungkook anggap asing, bagaimana Taehyung menaikkan semangat dan mood setiap orang serta membuat semuanya mampu tersenyum dan tertawa keras meskipun hanya melalui tingkah bodohnya yang terlalu tidak masuk akal seperti makhluk dari spesies lain. Sebenarnya siapakah Taehyung ini? Jungkook yakin ia pernah melihat wajah tirus dengan obsidian yang memiliki tatapan setajam elang itu entah dimana.

"Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang." Seruan mendadak dari Jin membuat semua orang mengalihkan perhatian pada lelaki berambut merah tua itu.

"Sudah waktunya?" Namjoon mengeluarkan batang lolipop yang terselip di mulutnya.

"Ah, seongsaenim pasti marah! Ayo cepat Namjoon. Jungkook kami pergi duluan ne!" Jin menarik Namjoon dengan tak sabaran dan keduanya turun tergesa ketika melewati tangga.

"Aku juga mau bareng Hoseok ke klub dulu. Sampai jumpa Jungkook!" Jimin dan Hoseok selanjutnya yang pergi.

"Yak, kalian pergi semua bagaimana dengan kami?!" Taehyung protes di saat hanya ujung sepatu Jimin yang tampak di ujung tangga.

Jungkook melirik Suga yang kini sudah berdiri juga dari posisi PWnya sedari tadi.

"Mau pergi juga?" Taehyung bertanya ketus.

Suga mengabaikan Taehyung dan ia justru menepuk bahu Jungkook dan berbisik pelan.

"Kalau si alien ini berbuat yang aneh-aneh padamu, jangan segan-segan melapor padaku. Aku bersumpah akan membuatnya jera."

"Yak, aku dengar itu!"

Suga meleletkan lidahnya, dan lelaki berambut pirang itu kabur secepat kilat sebelum sepatu Nike Taehyung hinggap di kepalanya.

"Aish dasar sok sibuk, semua menganggapku akan berbuat aneh atau jahat padamu, memangnya mereka pikir aku ini mantan buronan atau apa." Taehyung mendengus keras sambil memakai kembali sepatunya, membuat Jungkook menatapnya bingung. Saat ini mereka hanya berdua dan Jungkook tidak tahu harus bicara apa. Jungkook bukan orang yang pintar bicara ok, tapi entah kenapa kali ini rasa penasarannya mengalahkan sifat pemalunya sehingga tanpa sadar Jungkook memberanikan dirinya untuk bertanya.

"Kalau mereka begitu sibuk, kenapa mereka mau saja diajak kumpul-kumpul tanpa alasan yang jelas di tempat begini?" Taehyung mendongakkan kepalanya dan menatap tajam Jungkook, membuat keberanian si lelaki berambut hitam ciut seketika. Namun entah kenapa akhirnya Taehyung malah tertawa lepas.

"Ke.. kenapa sun-hyung?" Jungkook buru-buru meralat perkataannya melihat sebelah mata Taehyung kembali meliriknya tajam.

"Tak apa. Aku juga tak tahu kenapa mereka semua mau melakukannya hanya dengan satu panggilan dariku. Mungkin karena dari sejak sekolah menengah kami sudah biasa berkumpul begini."

"Eh? Jadi kalian semua teman lama sejak sekolah menengah?" Jungkook mulai tertarik.

"Hm. Kami semua bertemu kebetulan saat aku masih kelas satu, dan saat itu aku, Hoseok, dan Namjoon hyung dihukum oleh Seokjin hyung dan Yoongi hyung yang kelas tiga. Waktu itu mereka sudah jadi anggota OSIS. Lalu Jimin yang anak pindahan bergabung. Saking seringnya kami berempat dihukum karena sering berbuat onar, entah kenapa kami berenam akhirnya malah akhirnya jadi akrab. Bahkan kami kadang-kadang membolos bersama. Dan itu semua berlanjut sampai sekolah menengah atas, tapi sampai setahun yang lalu aku pindah ke Jepang."

"Pindah? Wae hyung?" Jungkook langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Astaga, baru kali ini Jungkook tak bisa mengendalikan mulutnya yang biasanya jarang digunakan itu. "Maaf menyelamu hyung."

"Gwaenchana, aku justru senang kau banyak bicara."Taehyung tersenyum, kemudian ia melanjutkan lagi ceritanya. "Waktu aku dipindahkan ke Jepang mungkin aku diasingkan oleh orangtuaku setelah mereka tahu aku sering bolos dan berbuat onar di sekolah. Akhirnya selama setahun aku sama sekali tak berhubungan dengan mereka. Saat ini waktu hyungku pulang ke Korea aku memaksa pindah di sekolah yang sama dengan Seokjin hyung dan yang lainnya. Untung saja mereka semua di satu sekolah jadi aku tak perlu repot terlebih karena sekolah ini sekolah ternama. Aku tinggal sendiri dan hidup berantakan, tadi saja aku kesiangan dan berakhir dengan bertemu denganmu di halaman belakang tadi." Jungkook manggut-manggut mengerti. Kini ia mulai paham alasan di balik akrabnya Taehyung dengan semua kakak kelasnya itu.

"Waktu pertama sampai di sini jujur saja aku takut. Takut semua teman-temanku akan berubah, namun aku lega karena nyatanya tidak. Hanya saja mereka jauh lebih sibuk sekarang. Hoseok dan Jimin masuk tim basket dan Hoseok jadi Ketua, Yoongi hyung jadi Ketua Murid, Seokjin hyung jadi Ketua OSIS bersama Namjoon hyung yang Wakil Ketua OSIS."

"Suga hyung Ketua Murid katamu?!" Taehyung sampai hampir terjungkal dari posisi duduknya ketika Jungkook berseru. "Ma.. Maaf hyung."

"Iya, jangan bilang kau tidak tahu Kook?"

"Sepertinya aku memang tidak tahu, hyung." Mata Taehyung melebar antara kasihan dan takjub mendengar jawaban Jungkook.

Uh, sepertinya terlalu lama mengasingkan diri di perpustakaan dan halaman belakang sekolah benar-benar membuat Jungkook ketinggalan informasi soal sekolahnya sendiri. Seokjin yang jadi Ketua OSIS sih tidak terlalu mengherankan, dia memang terlihat seperti orang terpelajar. Juga Hoseok yang jadi Ketua Tim Basket memang cukup mengherankan jika melihat tubuh kurusnya tapi posturnya memang cukup bagus untuk bermain basket. Tapi yang benar-benar membuat Jungkook kaget adalah Yoongi yang menjadi Ketua Murid. Astaga orang yang super santai dan secuek bebek begitu menjabat posisi terpenting setelah Kepala Sekolah pun Jungkook tak tahu, bahkan Namjoon yang wakil ketua OSIS. Ya Tuhan megenaskan sekali nasib Jungkook yang tak mengikuti perkembangan pengurus sekolahnya ini.

"Yah, Suga hyung memang menyebalkan dan selalu kelihatan loyo begitu tapi sebenarnya dia orang yang sangat tegas dan punya jiwa pemimpin yang tinggi. Ia paling benci melihat penindasan, mungkin karena itulah ia berniat melindungi semua siswa tertindas yang tak bersalah dengan menjadi Ketua Murid." Tenggorokan Jungkook sedikit tercekat mendengar itu, namun untung saja Taehyung tak menyadari perubahan raut wajahnya dan terus melanjutkan. "Namjoon hyung juga, barbar begitu diam-diam dia jenius dan berbakat. Ia sering mendapat penghargaan olimpiade dan ia juga bisa menggubah musik sendiri."

"Kalau hyung?" Taehyung menghentikan ceritanya dan menatap Jungkook.

"Aku? Aku ya seperti ini saja, dari dulu tidak pernah berubah. Tukang bolos, hobi tidur, jahil." Taehyung menggaruk hidungnya dengan senyum kecil. Entah hanya perasaan Jungkook atau apa, tapi senyum itu terlihat sendu seperti kesepian. Ia ragu ingin menanyakannya karena itu ia diam saja.

"Sekarang jam berapa?" Jungkook tersentak dan ia buru-buru mengecek jamnya.

"Jam 9. Kita sudah hampir dua jam di sini."

"Wow lihatlah tampangmu yang begitu datar saat mengatakannya. Kukira kau akan panik, dasar sudah biasa membolos rupanya?"

"Hyung juga!" Jungkook memajukan bibirnya kesal, dan Taehyung tertawa.

"Kalau begitu mau tetap di sini atau kembali ke kelas?"

Jungkook terdiam sejenak menatap tangan Taehyung yang terulur dan beralih menatap wajah Taehyung yang kini dihiasi senyum lebar.

...

"Kenapa?"

"Karena kita teman."

Karena kita teman..

Karena kita teman..

Karena kita..

..teman..

Jungkook menggaruk rambut hitamnya frustasi. Tubuhnya ia biarkan rebah menelungkup di atas mejanya. Sudah setengah jam yang lalu ia berpisah dengan Taehyung. Ya, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk masuk ke kelas masing-masing setelah bingung dan perdebatan berkepanjangan soal mereka mau kemana jika membolos. Jungkook tak masalah walaupun ia membolos pelajaran atau tidak membawa buku biasanya ia akan tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik namun sialnya tiga kata yang diucapkan Taehyung satu menit sebelum ia memasuki kelasnya terus terngiang-ngiang di kepala Jungkook.

Teman?

Astaga satu kata itu sungguh sensitif, entah sejak kapan terakhir kali Jungkook mendengar kata itu ditujukan padanya.

"Jeon Jungkook apa kau dengar?!"

Jungkook tersentak dan segera membenahi posisi duduknya. Ia menelan ludah melihat Kim Seongsaenim menatapnya tajam dengan penggaris di tangan.

"Apa kau sedang tidak sehat? Perlu ke ruang kesehatan?"

"Ti..tidak seongsaenim saya baik-baik saja." Jungkook menjawab jujur. Sebenarnya bisa saja ia berbohong dan ngeles untuk membolos lalu tidur-tiduran di ruang kesehatan, tapi Jungkook tidak sebinal itu hingga harus merelakan nilai-nilai rapornya karena terlalu sering absen dalam pelajaran. Apalagi di jam guru killer. Uh, sama saja cari mati.

"Kalau begitu kita lanjutkan. Silakan kalian membagi menjadi kelompok lima orang untuk mengerjakan tugas-tugas ini."

Kelompok?

God, Jungkook paling benci jika kata ini sudah disebut oleh gurunya karena ia sudah tahu bahwa sebentar lagi pasti akan..

"Jungkook kelompokku!"

"Tidak dia kelompokku!"

"Aku sudah booking dari minggu lalu!"

..memperebutkannya.

Setelah gaduh berkepanjangan dan Kim seongsaenim harus berteriak-teriak dulu akhirnya jadilah kelompok fix Jungkook. Atau lebih tepatnya dia yang diseret dan dipaksa kesana kemari. Kini ia malah sekelompok dengan Mingyu, Jackson, Oh Sehun, dan Kim Hyuna. Oh tuhan rasanya Jungkook ingin meledak sekarang juga daripada harus berada di antara empat murid berandalan itu.

"Semuanya ada 10 halaman, batas waktu mengumpulkan minggu depan. Selamat mengerjakan." Kim seongsaenim mengumumkan.

"Silahkan." Jungkook melotot ketika Jackson dengan seenak jidatnya mendorong tumpukan soal itu ke arahnya.

"Kenapa? Kau bisa kan?" Mingyu bertanya setengah mengancam setengah meremehkan. Jungkook menelan ludahnya. Tangannya menerima kertas-kertas soal itu dengan gemetar dan mulai mengeluarkan alat tulisnya.

"Bagus. Kerjakan yang benar ya." Jungkook mengumpat dalam hati. Ia benar-benar ingin menjambak rambut yeoja sok seksi di hadapannya ini, tapi ia harus ingat ia berada di antara kawanan singa kalau masih ingin tubuhnya utuh, karena itu Jungkook memilih diam dan mulai membaca soal-soal yang tertera di kertas putih tersebut.

Dan Jungkook menampar jidatnya sendiri. Soal sejarah dan ekonomi yang sudah pasti bukan main banyaknya jawabannya, bahkan bagi seorang murid teladan sepertinya. Jungkook melirik empat teman sekelompoknya. Tiga lelaki di antaranya kini tengah menggoda satu-satunya anggota perempuan di kelompok itu.

Jungkook menghela nafas. Ia kembali mengalihkan perhatian pada gundukan soal di depannya sambil sesekali mengelus dadanya sabar.

Ya, mungkin ini salah satu alasan mengapa Jungkook selalu diperebutkan setiap kerja kelompok. Dia selalu mengerjakan tugas sendiri walaupun berada dalam satu kelompok akibat sikap tidak sabarannya. Dan dia tidak pernah membantah jika disuruh-suruh. Atau tidak bisa membantah tepatnya. Namun toh tak ada yang protes walaupun Jungkook selalu bekerja dalam diam, nilai tugasnya selalu memuaskan.

Jungkook melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan menghela nafas lagi. Baru satu jam ia masuk kelas ia sudah merindukan dunia luarnya. Dunia di mana ia bisa menggambar seorang diri di tempat yang hanya ditempatinya sendiri. Juga.. ia ingin bertemu kembali dengan Taehyung sunbaenya.

TBC

A.N:

Annyeong, apdet nih :3 words di chapter ini aku panjangin maaf kalau sekiranya membosankan atau tidak jelas dan terlalu bertele-tele.

Terimakasih banyak bagi yang sudah mereview chapter sebelumnya juga yang mau follow/fav serta yang sudah repot-repot ngereview ff dangerous kookie. Maaf saya belum sempat balas satu-satu, ada terlalu banyak godaan/? Dan kegiatan.

Mind to review untuk chapter ini?

See you to the next chapter!(tereak bareng Rapmon)