Cerita ini terisnpirasi dari fanfic IchiRuki bahasa Inggris berjudul HOMEWORK by chOOnyOung17 masih in progress dari 2013 kemarin. Isinya vampirness banget. Untuk yang belum pernah membacanya, silahkan mampir ke fanfic tersebut. Dan jangan lupa memberikan review, siapa tahu bisa dilanjut oleh si author heheh.
Saya salah satu penggemar berat fanfic itu makanya muncul ide lain dari otak saya. Saya harap readers dapat menerimanya. Kalau tidak, berarti saya harus menyimpan cerita ini untuk diri saya sendiri dong :D
Tidak ada keuntungan dari menulis fanfic ini. Alasannya hanya dua, karena saya cinta Ichiruki dan saya cintai fanfic HOMEWORK.
Saya bukan pemilik dari semua karakter BLEACH.
Okay, happy reading minna~
Chapter 2 : No caption.
"Huaaa, kenyang sekali~" Rurichiyo mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit. Rukia hanya menggeleng sembari terkekeh melihat tingkah teman yang satu ini. Entah darimana ia berperilaku norak ketika selesai makan. Padahal ia termasuk salah satu keluarga bangsawan di Negara Jepang ini. Tapi, tetap saja, ketika di luar mansion ia menjadi gadis tengil sesuka hatinya.
Oh, bukan hanya setelah makan ia bertingkah kampungan, saat makan tadi pun begitu. Rukia yakin Rurichiyo lebih suka menelan daripada bernapas karena ia tidak melihat jeda dari menelan dan memasukan makanan ke dalam mulut.
Norak, tapi apa adanya. Alasan itulah yang membuat persahabatan mereka bertahan sampai sekarang. Waktu memang berjalan cepat. Sudah tiga tahun mereka bersama-sama dan sudah tiga tahun pula Rukia berstatus menikah. Tidak banyak orang yang mengetahui statusnya kecuali Rurichiyo. Yah, gadis berjidat lebar itu.
"Terimakasih Rukia atas traktirannya." Hanatarou baru bersuara ketika ia sudah menyelesaikan satu paket ayam, kentang dan extra large softdrink masuk ke dalam perutnya. Jarang-jarang ia dapat makan makanan seperti ini. Ia tahu ibunya tidak akan memperbolehkannya mengonsumsi junkfood. Soal Rurichiyo boleh atau tidaknya mengonsumsi itu, tidak perlu dipertanyakan lagi.
Ugh, hanya junkfood yang bisa Rukia traktir untuk mereka. Tapi, Rukia bersyukur mereka menyukainya. "Tidak masalah, karena semangat kalian aku bisa lulus audisi bergabung ke klub teater." Rukia menyedot sisa soft drink miliknya hingga menyisakan batu es.
"Whoa, kau benar-benar menakjubkan Rukia. Apa kau lihat tadi? Senpai-senpai jadi ikut menangis melihat aktingmu." Rurichiyo bertepuk tangan dengan penuh melodrama sementara Hanatarou mengangguk-angguk setuju. "Aku yakin kau akan menguasai panggung SMA kita, dan semua para murid di SMA akan meneriakan namamu."
"Banzaaai! Banzaaai! Banzaaai Kuchiki Rukia!"
Rukia sweatderop. Mereka berdua mengacungkan kedua tangan ke atas dan berteriak lantang. Astaga, apa-apaan kedua temannya ini.
"Aku jadi tidak sabar mendengar pengumuman kau akan termasuk ke bagian apa di klub teater," Hanatarou menerawang.
Ah, ya. Ada banyak sekali bagian-bagian pada klub itu. Dari bagian pemeran utama sampai menjadi semak-semak. Hell, Rukia rasa semak-semak terlalu menyedihkan.
"Ya sudah, aku akan mencuci tangan dulu. Setelah itu kita pulang, ya?"
Rukia segera berdiri berjalan menuju ke toilet yang berada di bagian belakang restoran cepat saji ini. Sekarang sudah lewat jam makan siang, ia rasa tidak banyak orang yang sedang mengantri di sana.
Selagi Hanatarou dan Rurichiyo menunggu Rukia, tiba-tiba ada dua anak laki-laki berseragam sama datang menghampiri meja mereka.
"Wah, ada murid angkatan pertama sedang duduk di sini."
Rurichiyo langsung mendelik ke arah mereka berdua, kalau tidak salah mereka berdua anak kelas dua yang terkenal karena biang ribut.
"Hei, Hanatarou. Aku heran kenapa kau selalu berteman dengan anak gadis." Salah satu dari mereka yang berambut coklat cepak, pokoknya wajahnya jelek sekali (bagi Rurichiyo) dan bibirnya menghitam (mungkin karena keseringan merokok). Tangannya ia taruh pada sandaran kursi yang diduduki Hanatarou, ia agak sedikit membungkuk agar ia bisa memperlihatkan wajah jeleknya. Sementara yang satu lagi hanya menyeringai geli. Sok sekali.
"A-aku…" Hanatarou tergagap. Memangnya salah berteman dengan anak gadis? Mereka lembut tidak seperti laki-laki.
"Kenapa? Apa karena kau banci? Huahahha!" ia terbahak di hadapan wajah Hanatarou. Sementara laki-laki itu hanya memejamkan matanya takut.
Kakinya sudah terasa gemetar, dan suaranya tercekat di tengah-tengah tenggorokan. Kalau saja ia bisa lebih kuat dan berani, ia ingin sekali menendang mereka berdua jauh dari hadapannya.
"Jangan diam saja, dungu! Kau mau kuhajar, hah?!" dengan satu tangannya, ia mengangkat kerah baju Hanatarou dengan tatapan tajam.
"Ma-maafkan aku…"
"Kau memang benar-benar ban—"
Splash!
Kalimatnya terpotong karena Rurichiyo menyiramnya dengan air dari batu es yang sudah mencair. Kalau saja soft drink mereka masih tersisa. Air lengket pasti lebih baik untuk menghentikannya.
Si rambut coklat melepaskan cengkramannya dari Hanatarou dan langsung menatap tajam ke arah Rurichiyo. "Kau… berani-beraninya…" geramnya dengan urat yang sudah menyembul keluar.
"Yeah, berani sekali kau menyiram Kaito!" timpal yang satunya.
"Memangnya apa alasanku untuk tidak ber—KYAA!"
Tangan kecil Rurichiyo ditangkap oleh Kaito. Celaka, entah mereka punya masalah apa, kenapa harus panjang seperti ini?
"Aku akan membuatmu menyesal gadis pendek!" tampaknya Kaito korban dari film-film berandalan.
"Ta-tangan kotormu itu. Lepaskan cepat!" Rurichiyo berusaha menarik tangannya namun nampaknya percuma.
"Tampaknya dia kurang diberi pelajaran, aku akan mengurus yang satunya saja."
Dua laki-laki usil itu bisa tertawa-tawa senang sampai Rukia datang dan menendang salah satu kaki mereka. Bruk! Kaito terjatuh dan akhirnya cengkraman tangan Rurichiyo terlepas.
"Ada apa ini?" tanya Rukia dengan wajah yang masih belum tahu apa-apa. Kalau tidak tahu, ia seharusnya tidak asal menendang, kan?
"Arrrrgggh! Kalian membuatku benar-benar marah!" Dan kejadian selanjutnya begitu cepat. Kaito membalikan meja yang berada di tengah-tengah mereka menumpahkan isi yang berada di atasnya. Rukia dan Rurichiyo berteriak histeris karena terkejut—lalu satpam keamaan dan manajer restoran ini datang menghentikan mereka semua, dan menggiringnya ke kantor polisi sembari marah-marah.
Hell, benar-benar bodoh.
.
.
.
"Kuchiki Rukia, Hanatarou Yamada dan Rurichiyo Kasumi Ouji." Sambil menggeleng-geleng, pak polisi mengetikan nama mereka ke dalam laporannya. "Lalu Kaito Satou dan Shika Toru." Nama-nama yang disebutkan tampak menunduk menyesal. Yang pasti selain Kaito dan Shika, mereka bertiga merasa tidak bersalah.
"Apa kalian tahu salah kalian?" Pak polisi mengalihkan perhatiannya kepada kelima siswa bodoh di hadapannya.
"Membuat keributan di tempat umum," jawab Kaito malas.
"Mengganggu anak perempuan," ujar Shika sedikit menyinggung Hanatarou. Padahal ada anak laki-laki juga di sana. Yeah, terserah.
"Mengganggu para pengunjung restoran," sambung Rukia.
"Menentang anak lelaki," Rurichiyo menyilangkan tangannya di depan dada.
"Membuat kerugian di sana," lanjut Hanatarou.
Pak polisi mengagguk-angguk. "Kalian beruntung karena pihak restoran tidak menuntut untuk minta ganti rugi. Karena mereka tahu kalian masih anak SMA yang ingusan."
Rurichiyo memutar bola matanya bosan, lebih baik ia mengganti rugi daripada diceramahi.
"Apa kalian mau masuk penjara?" Tanya pak polisi lagi.
Mereka serentak menggeleng.
"Kalau begitu jangan lakukan lagi! Dan untuk kalian berdua!" pak polisi menunjuk Kaito dan Shika. "Kalian kan murid tingkat ke dua, seharusnya kalian melindungi adik tingkat." Pak polisi bersandar kembali ke kursinya. Hah, masalah anak SMA selalu ada-ada saja. "Sebelum guru kalian datang menjemput, kalian adalah tahanan di—"
"Maaf, permisi, saya waka kurikulum dari SMA 1 Karakura."
Pak polisi langsung mendongak melihat seorang yang entah sejak kapan berada di sana—tengah tersenyum manis seperti tidak ada beban sedikit pun.
Akhirnya Kojima-sensei datang. Mereka bisa bernapas lega sesaat.
Kemudian Shika dan Kaito merasakan salah satu bahunya berat. "Kerja bagus, sudah mempermalukan sekolah kita." Terdengar suara horror yang membuat mereka berdua merinding.
Mereka berdua sontak menoleh ke suara yang berasal dari belakang mereka dengan raut cemas. "Ku-kurosaki-sensei?"
Rukia meniup ujung poninya. Kenapa Ichigo ikut kemari? Apa karena ada dirinya di sini. Hell, matilah dirinya sekarang.
"Kalian berlima jalan jongkok ke luar, jangan pulang sebelum kalian sampai menyesal," Ichigo memberikan perintah kepada mereka berlima.
"Haaaa'i!" tanpa komentar mereka menurutinya termasuk Rukia. Dengan diam mereka melangkah sedikit demi sedikit sampai menuju ke ruang tunggu yang berada di depan. Barulah setelah itu Kojima dan Kurosaki berbicara kepada pak polisi, mengurus semuanya.
.
.
.
Setelah semua selesai dan mereka berlima dinyatakan bebas, Ichigo dan Mizuiro menghadapi kelima murid bermasalah itu. Walau tiga diantaranya adalah korban, mereka juga termasuk ke dalamnya. Mizuiro mengurus Kaito dan Shika untuk kembali ke sekolah. Mereka tidak boleh langsung pulang karena ada 'hukuman' tambahan yang harus dijalani. Sementara Rukia, Rurichiyo dan Hanatarou adalah tanggung jawab Ichigo setelah ini.
"Maafkan kami, sensei. Kami benar-benar menyesal." Rurichiyo dan Hanatarou membungkuk di hadapan Ichigo sementara Rukia pura-pura tidak tahu dan lebih suka memandang ke arah lain. Ia memikirkan hukuman apa nanti yang akan didapatnya. Ugh, benar-benar menyedihkan.
"Sensei, aku mohon jangan memberitahu keluarga kami dengan kejadian ini. Kami tidak akan mengulanginya lagi," sesal Rurichiyo.
Ichigo menghela napas lelah. "Lain kali jangan sok berani melawan anak laki-laki. Kalian bisa langsung melapor ke petugas keamanan terdekat untuk melindungi diri."
Mereka mengangguk lagi.
Kemudian, kedua pelayan Kasumi Ouji datang menjemput Rurichiyo. Rukia melambai ke arah mobil temannya tanpa semangat. Sementara Hanatarou menuju ke stasiun kereta api dan segera pulang juga.
"Apa? Aku bukan orang yang bersalah di sini," ujar Rukia karena Ichigo memandanginya saat mereka mulai berjalan beriringan untuk menuju ke halte bus terdekat.
"Tidak bersalah tapi kau berani menendang kaki orang."
Rukia melipat tangan di depan dadanya. Inilah mengapa ia benci membiarkan Ichigo pindah tugas mengajar ke sekolahnya yang baru. Harusnya ia tetap bekerja di SMP-nya kemarin saja agar tidak bisa mencampuri semua masalahnya yang ada. "Hanya sebagai perlindungan diri."
Istri mudanya memang memiliki tingkah yang mengerikan.
.
.
.
Makan malam sudah tiba tetapi Rukia masih belum menyelesaikan hukumannya. Ia harus mengerjakan lima puluh soal matematika pilihan ganda yang diberikan oleh Ichigo. Mau tak mau Rukia harus melewatinya. Sebab Ichigo telah mengancamnya akan membiarkan Kojima-sensei menghukum mereka bertiga di sekolah jika tidak menurut. Daripada ia harus membiarkan temannya dihukum juga, mungkin lebih baik ia menerima saja hukuman itu. Lagipula hukuman ini merupakan salah satu bentuk dari belajar.
Yeah, Ichigo tahu Rukia benci matematika. Oh, sial.
Ichigo muncul dari balik pintu kamarnya membawa nampan yang berisi makan malam dan juga jus. Walau ia tega menghukumnya, tapi ia tak tega membuat istrinya kelaparan.
Rukia pura-pura tidak menyadarinya karena ia masih merasa tidak terima. "Makanlah dulu setelah itu baru selesaikan sisanya."
"…"
Yeah, Rukia mulai lagi dengan tingkah kekanakannya. Ichigo mengerti sebab umurnya baru enam belas tahun. Umur yang terlalu muda untuk menyadari kesalahan. Karena dilihatnya Rukia sangat serius sekali mengerjakannya, Ichigo mendekat untuk melihat sudah sampai mana ia mengerjakan.
"Sana pergi!" Rukia langsung menutupi bukunya dengan kedua tangannya. "Kalau sudah selesai, pasti akan kuberikan padamu."
Ichigo kembali menarik badannya. "Harus dipastikan semua jawaban tidak ada yang salah."
"Aku tidak bisa berkonsentrasi kalau kau terus saja di sini dan mengoceh."
"Baiklah, jangan tertidur sebelum makan dan menyelesaikan tugasmu."
Rukia hanya mendengus lalu kembali memperhatikan buku tulisnya. Setelah ia merasa pintu kamarnya kembali ditutup Rukia mulai mengoceh. "Dasar bodoh, ia malah memberiku tugas." Tangannya malah bergerak di antara jawaban soal menggambar sesuatu. "Kepala runcip dengan telinga kelinci, oh, suamiku begitu tampan." Rukia malah terkikik sekarang melihat apa yang baru saja ia gambar. "Dahi berkerut karena sering marah-marah, sialnya ia tidak tampak tua. Siapa yang peduli! Dasar pria idiot, dungu, bodoh, aneh!"
Ichigo menggeleng-geleng. Yeah, ia mendengar semua ocehan istrinya. Kekanakan tapi sedikit lucu. Ichigo memaklumi sifat kurang ajar gadis itu, karena ia tahu sebelum masuk ke keluarga Kuchiki, Rukia hanyalah gadis jalanan yang tidak memiliki kedua orangtua. Bernasib sama seperti dirinya. Maka dari itu, Ichigo harus tegas menghadapinya selain sebagai suami, ia juga sebagai pengganti kedua orangtua.
.
.
.
Rukia mengangkat telepon yang bergetar pada saku rok sekolahnya. Sebuah panggilan telepon mendadak ketika ia berjalan menuju ke sekolah. "Ya, Hisana!"
Belum ada jawaban dari seberang sana karena Hisana hanya menggeleng-geleng pasrah. Rukia hanya mau memanggilnya nee-sama ketika berada di mansion. Hal ini juga berlaku pada suaminya. "Aku benar-benar malu jika mendengar kau memanggilku begitu di depan Byakuya-sama."
Rukia memutar bola matanya bosan. Padahal sebelum menikah dengan Kuchiki Byakuya, Rukia memanggilnya bodoh juga tak masalah. Kasta memang dapat merubah segalanya. Untung saja ia cepat keluar dari keluarga Kuchiki. "Tenang saja, aku akan tetap sopan kalau di hadapan nii-sama."
"Ichigo-kun pasti kualahan mengurusmu."
"Ichigo sangat menikmati hari-harinya kok," balas Rukia masih tetap melangkah sendiri. Sementara beberapa menit yang lalu Ichigo sudah duluan ke sekolah.
Hisana tentu tidak percaya dengan jawaban adiknya. "Dibandingkan dengan Ichigo-kun. Sepertinya kau yang paling menikmati harimu," goda Hisana.
"Yeah, kalau tidak karena restumu mungkin aku tidak menikmati ini." jawaban Rukia sedikit menyinggung Hisana. Ia masih tidak habis pikir Hisana merestuinya menikah dengan seorang vampire di usia yang masih sangat mudah.
"Kau harusnya bangga mendapatkan suami yang tampan dan juga lucu."
"Cute my ass."
"Kau bilang apa tadi?"
"Oh, tidak ada."
Hisana berdecak."Sebentar lagi ulangtahun pernikahanmu yang ketiga. Selama itu kau tidak pernah merengek untuk kembali ke rumah. Aku benar-benar salut padamu." Oh, kakaknya pasti sudah gila.
Rukia mendengus, sepertinya lebih baik hidup mandiri daripada tinggal bersama keluarga kakaknya. "Lebih baik perhatikan saja kedua anakmu itu yang terkekang di dalam sana." Rukia tertawa dibuat-buat.
"Rukia!" kalau saja Rukia berada di hadapannya mungkin Hisana sudah memukul kepalanya dengan keras.
Rukia hanya terkekeh, ia rasa perkataannya itu benar. Jadi, apa salahnya ia jujur. "Baiklah nee-sama, aku akan mematikan telpon, jaa nee!"
Sambungan telepon terputus, dan Hisana menggeram di seberang sana tanpa harus Rukia mendengarkannya.
.
.
.
"Kuchiki! Cepat berdiri di lorong!"
Dengan malas Rukia berjalan keluar kelas dan membiarkan semua teman-temannya menatap ke arahnya. Biar saja mereka mau berkata apa. Ia melupakan tugas karena ia harus menyelesaikan hukuman dari Ichigo semalam. Dan itu membuat lehernya sedikit kram dan punggungnya sedikit pegal. Belum lagi saat pagi hari ia harus menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya yang kembali marah-marah setelah mendapati gambar abstrak yang diselipkan pada hukumannya. Dasar suaminya itu, tak tahu jenis seni yang sesungguhnya!
Sekali lagi Rukia mendesah pasrah. Bagaimanapun juga ia tidak boleh menyesalinya dan merengek layaknya anak kecil. Mau tak mau ia harus berdiri di lorong sampai jam pelajaran ini selesai. Oh, menyebalkan.
Tidak lama kemudian pintu ruang kelas terbuka lagi dan Rurichiyo datang mendekatinya.
"Hei," sapa Rukia pada temannya. Rurichiyo pasti (pura-pura) mengaku lupa membawa PR juga untuk menemaninya dihukum. "Kau tidak perlu melakukan ini. Aku baik-baik saja. Lain kali aku pasti akan menyelesaikan PR-ku."
"Jangan khawatir," Rurichiyo mengibaskan tangannya setelah berdiri di hadapan Rukia. "Kurasa ini menyenangkan sesekali dihukum. Lagipula kau harus mendapatkan hukuman dari Kurosaki-sensei semalam demi menyelamatkan kami. Kami berhutang padamu, Rukia." Ia melebarkan cengirannya, "lagipula aku bosan belajar sastra Jepang. Itu membuatku terus-terusan menguap."
Rukia hanya cekikikan. Ia setuju dengan pendapat temannya. "Yeah, lagipula cara mengajar Ina-sensei benar-benar membingungkan, aku terkadang tidak mengerti apa yang beliau jelaskan di depan kelas."
Mereka berdua cekikikan dengan suara pelan sembari membicarakan guru sastra Jepang dalam beberapa menit. Kemudian muncul ide gila dari pikiran Rurichiyo. "Bagaimana kalau kita diam-diam pergi ke kantin. Lalu, sebelum pukul sepuluh tepat kita kembali lagi ke sini lagi. Kurasa guru tua itu tidak akan menyadari."
Entah sejak kapan Rurichiyo benar-benar licik. Hei, apakah ia tidak ingat kejadian kemarin? Dan tanpa memikirkan lebih lanjut Rukia menyetujui. "Kalau begitu kita tidak harus membuang waktu lagi di sini."
Dengan mengendap-endap mereka berdua berjalan menjijit layaknya seorang maling memasuki sebuah bangunan. Mereka melewati kelas-kelas yang sunyi—yeah, semua siswa memang seharusnya sedang belajar di kelas masing-masing dan sama halnya dengan guru yang sedang sibuk mengajar di kelas juga. Rukia yakin Ichigo sedang sibuk juga.
Pada kenyataannya memang inilah yang Rukia inginkan. Jika ia tidak pernah merasakan betapa terkekangnya hidup di Kuchiki, ia tidak akan merasa bersyukur seperti ini ketika sudah keluar dari sana. Yeah, kebebasan seperti ini adalah yang terbaik (terkadang) ia bisa menjadi gadis normal dengan tingkah laku dirinya yang sebenarnya. Ini benar-benar menggelikan.
"Aku ingin makan es krim coklat dan juga wafer coklat setelah sampai di kantin," Rurichiyo menyerukan keinginannya.
Sebenarnya Rukia sedang tidak ingin makan. Ia hanya ingin tertawa-tawa saja dan mengobrol di kantin bersama Rurichiyo. "I follow you."
"Kita akan makan di dalam dapur kantin saja, aku yang akan meminta izin dengan bibi yang jualan."
"Tapi, sepertinya uangku ada di dalam tas." Rukia baru menyadari sesuatu.
"Tidak masalah, aku selalu menyimpan uang di sak—" mendadak Rurichiyo tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia seperti melihat sosok hantu yang mendadak keluar di hadapannya. Rukia belum juga menyadari itu. Ia hanya mencoba mengartikan ekspresi dari Rurichiyo. Tapi, ketika ia menoleh, jelaslah sudah siapa yang berada di hadapannya.
Mata Rukia melebar sesaat dan mulutnya terbuka. Itu tidak berlangsung lama setelah ia berhasil menguasai dirinya untuk tenang dan bersikap normal seperti biasa. Tenang, itu bukan hantu, Rukia.
"A-aku akan kembali ke lorong kelas Rukia. Kau segera menyusul ya. Daaah…" sebelum memutuskan untuk kabur, Rurichiyo sempat membungkukan badan kepada orang yang mengganggu rencana jahatnya itu. Seorang pria yang mendadak menghampirinya dengan alis yang bertaut dan tangan dilipat di depan dada.
"Kami hanya ingin ke toilet. Tapi, sepertinya tidak jadi. Baiklah, sampai jumpa lagi."
Tangan Rukia ditahan karena ia mencoba untuk kabur. Apa yang dia katakan tadi? Pergi ke toilet? "Kau kira aku tidak tahu rencana nakalmu itu?" ujar Kurosaki Ichigo. Inilah yang ditakuti Ichigo jika ia tidak berpindah tugas ke sekolah istrinya. Sikap nakalnya yang seperti tikus sawah akan membuat semua orang kualahan.
"Kau menguping pembicaraan kami!" ujar Rukia tak tahu diri.
"Kalian bergosip di sepanjang lorong tentu saja aku dapat mendengarnya, beruntung hanya aku guru yang kebetulan lewat."
Rukia menarik tangannya dari pegangan Ichigo. Kali ini ia tidak akan mencoba meloloskan diri.
"Kau pasti melupakan PR-mu, lalu dihukum berdiri di lorong dan mencoba kabur ke kantin," tebak Ichigo dengan tepat.
Sial, Ichigo selalu dapat membaca dirinya. Mungkin karena ia sudah sangat tua jadi pengalamannya begitu banyak. Oh, terkadang Rukia tidak percaya memiliki suami berumur ratusan lebih dengan fisik yang terlihat seperti dua puluh tahunan. "Itu semua salahmu yang menyuruhku mengerjakan hukuman itu."
"Oh, ya?" Sebelah alis Ichigo terangkat untuk meyakinkannya. "Kalau begitu lain kali aku akan selalu mengingatkan semua PRmu."
"Terserah kau."
"Kalau kau masih berbuat bodoh lagi, aku akan membuang seluruh Almighty Chappy-mu ke tong sampah."
Mata Rukia langsung melebar. Itu… adalah kelemahannya.
"Tunggu apa lagi? Cepat kembali ke lorong kelas!"
Setelah itu Rukia berlari ke tempat asalnya sembari menghentakkan kaki dan merutuk di selah-selah giginya.
.
.
.
"Aku pulang." Urusan sekolah sudah usai dan sekarang saatnya memasuki bagian lain dari sisi hidupnya. Rukia mendekati kursi malas di salah satu sudut ruang tamunya dan segera melepas sepatu serta kaos kakinya. Ia tahu, suaminya pasti sudah pulang dari tadi. Berhubung ia memiliki tugas piket kelas, maka untuk hari ini ia sedikit terlambat pulang.
Rukia merenggangkan ototnya agar sedikit rileks. Ia berjalan menuju ke dapur untuk meletakan kaos kakinya ke dalam mesin cuci. Malam ini bukan jadwal mencuci. Tapi, ia selalu memiliki kebiasaan menumpuk pakaian kotor di sana. Kadang Ichigo memberinya ceramah yang panjang, agar menempatkan pakaian kotor pada wadah lain dan blah-blah membuat telinganya panas, lalu pertengkaran mulai terjadi. Tidak perlu heran lagi karena perdebatan sudah terasa seperti kegiatan rutinitas. Yeah, lelaki hanya bisa berkomentar. Dan Rukia tidak menyangka suaminya itu cerewet sekali. Padahal semua orang menganggapnya tampan, keren, berkarisma dan berwibawa. Hell, asal mereka tahu, sikap Ichigo sangat berbeda jika berada di rumah.
"Oh, kau sudah pulang. Tadi aku sudah menyiapkan makan malam untuk hari ini."
Ichigo masuk ke dalam dapur karena ia merasa ada seseorang di dalam sana. Sementara Rukia menarik badannya dari dalam lemari es dan kembali menutup pintunya.
"Baguslah kalau begitu, kebetulan aku sedang malas memasak." Padahal niatnya membuka lemari kulkas akan menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak. Rukia berjalan menuju ke pintu untuk keluar dari dapur ini. Namun, sebelum ia dapat melewati Ichigo, pria itu menahannya dengan satu kalimat.
"Aku selalu membantu pekerjaan rumah, tapi kau tidak pernah memberiku imbalan."
Alis Rukia terangkat. Imbalan apanya? Ia rasa semua tugas rumah adalah tanggung jawab mereka jadi, apa salahnya?
"Maksudmu?"
Oh, Ichigo tahu, ia hanya gadis SMA yang masih polos. Masih sangat tidak mengerti dengan kehidupan suami istri pada umumnya. Namun, ketidak normalan ini memang sudah ada dari awal pernikahan dan Ichigo tidak mempermasalahkan itu. "Seperti memberikan sebuah ciuman. Apa kau masih belum terpikirkan tentang hal itu?"
Rukia mundur selangkah. Hell, ia tidak pernah berinisiatif melakukan hal menjijikan seperti itu-iya, ia memang menganggap hal itu menjijikan karena baginya itu sesuatu yang tabu—berlebihan memang, namun rata-rata gadis kekanakan tidak bisa membedakannya. Mendadak ia merasa malu dan ia yakin wajahnya sedikit memerah. Dalam tiga tahun ini mereka hanya berciuman sekali. Itu saat mereka sedang melangsungkan pernikahan. Dan pada saat itu Rukia masih dua belas tahun. Ia belum mengerti sepenuhnya. Karena ciuman adalah salah satu hal yang perlu di lakukan di depan semua orang, maka ia menurut saja.
Karena tidak bisa menjawab apapun, Rukia hanya menghentakan kaki menuju ke lantai atas untuk masuk ke kamarnya. Geez. Dasar cabul, dasar hina, dasar aneh! Rukia terus-terusan mengutuk Ichigo dalam hati.
Oh, how idiot his wife is!
.
.
.
Hanya waktu makan siang yang memberikan Rukia dan Rurichiyo waktu untuk tertawa, cekikikan dan bergosip seperti ini. Rukia benar-benar tidak bisa menyembunyikan semua masalah yang berputar di kepalanya dari semalam. Ia bercerita kepada temannya bahwa pernikahannya dari awal memang tidak normal.
Kebetulan Hanatarou tidak ikut bergabung, lagipula Rukia tidak terlalu nyaman untuk bercerita hal yang sedikit memalukan kepada laki-laki itu. Paling ia hanya berani bercerita bahwa betapa bodoh dan kasarnya Ichigo di rumah.
Rurichiyo tertawa. Ia hampir saja menyemburkan nasi bento ke wajah Rukia ketika temannya bertanya tentang ciuman. "Rukia, aku rasa berciuman itu adalah hal yang normal. Kalian suami dan istri. Kau tidak perlu bersikap seperti itu."
Rukia hanya kembali menggigit nugget dari dalam bentonya. Kalau sudah begini, Rurichiyo tampak lebih berpengalaman dari dirinya. "Tapi, aku tidak mengerti bagaimana caranya. Membayangkannya saja aku sudah malu. Aku rasa otakku ingin meledak membayangkan itu."
"Kenapa kau tidak mencoba belajar pada Kurosaki-sensei?"
Wajah Rukia kembali memerah. "Ti-tidak bisa begitu, itu benar-benar memalukan." Rukia tidak bisa melakukan itu. Ia pasti merasa sangat canggung sekali.
"Lagipula kau sudah cukup dewasa Rukia. Umurmu sudah enam belas tahun. Anak-anak jaman sekarang sudah mengerti hal itu dari dini. Kelihatannya kau saja yang kurang berkembang," kali ini komentar Rurichiyo berupa ejekan.
"Darimana sih kau mengetahui itu?" teriak Rukia masih dengan wajah memalukan.
"Kau jarang menonton televisi atau membaca ya?" Rurichiyo menertawakan kepolosan Rukia. Soalnya ia imut sekali. "Oh, Rukia. Kau benar-benar payah."
Tapi, jika dipikir-pikir Rurichiyo ada benarnya juga.
Dari tempat duduk mereka, terdengar teriakan anak-anak gadis. Saking gaduhnya membuat mereka berdua sedikit penasaran, teriakan itu sudah seperti saat orang-orang sedang menonton konser. Kebetulan mereka sudah menyelesaikan kotak bekal mereka, jadi apa salahnya untuk melihat apa yang sudah terjadi.
Ternyata suara itu berasal dari lapangan bola basket. Seingat Rukia tidak ada perlombaan siang ini. Namun, ketika mereka berdua sudah mendekat ke arah pagar kawat yang mengelilinginya, jelaslah sudah siapa penyebab dari kegaduhan itu.
"Kurosaki-sensei!"
"Kyaaaaa, keren sekali! Aku sudah membawakanmu minuman!"
"Astaga, ia berdiri diam saja keren sekali!"
Benar apa yang didengar Rukia barusan, Ichigo hanya berdiri di tengah-tengah lapangan bola basket sembari melatih beberapa murid laki-laki untuk menuju ke turnamen perlombaan (Rukia hanya menebak).
"Suamimu memang terkenal sekali, padahal ia guru pindahan," komentar Rurichiyo. "Whoa, ini tanda ia akan naik pangkat."
Rukia memicingkan matanya, sok tahu sekali temannya itu. "Di SMP dulu dia juga pernah mengacaukan pertemuan wali kelas gara-gara tampang kasarnya."
"Menurutku kerutan di dahinya bukan karena dia kasar, Rukia."
Kini Rukia yang malah mengerutkan dahinya. Kelihatannya ia sudah ketularan.
"Coba kau perhatikan sesekali raut wajahnya."
Rukia kembali menatap Ichigo di sana. Mengamatinya dengan serius tanpa memikirkan apapun. Dalam beberapa detik akhirnya ia mendapatkan apa yang ia cari. Suaminya memang memiliki fisik yang tampan.
Dan untuk pertama kalinya tanpa sadar, Rukia Kurosaki terpesona pada suaminya sendiri.
.
.
.
[tbc]
Pertanyaan login yang harus dijawab di A/n :)
Haruna Aoi : Haaa, menurut saya mereka pasangan yang hot XD soal trio yang mengunci Rukia biar Tuhan yang membalas mwahahahah *plak*
Guest : hm, kita liat saja ya apakah Rukia akan menjadi vampir XD
Guest2 : oke, apakah fanfic yang kamu maksud berjudul HOMEWORK :) semoga kamu suka yang ini ya *ngarep*
je je : Betuul, tapi nanti diceritakan kenapa bisa Rukia bersedia dan kakaknya memberi restu.
Lucya Namikaze : Iya yah beda, tapi itu karena dia masih kecil aja sih *ngeles*
Okay, saya sengaja apdet cepat karena kebetulan udah diketik sih hihihi. Terimakasih ya sudah membaca. Sorry for misstypo.
All my love,
Amai.
