HaruHaru
Kim Mingyu | Jeon Wonwoo | de el el | Meanie | GyuWon | SEVENTEEN
Genre romance asam manis like always
Ratingnya T lebih dikit mungkin :'v
Plagiat? Kesenangan boleh dipikul, dosa jinjing sendiri /?
.
[Chapter 1 – Charge]
.
Lampu kamar masih menyala bahkan saat jam menunjukkan pukul 10 lewat. Mingyu yang baru pulang dari kerja lembur mengerjakan maket kelompok di rumah Seokmin mendadak agak terkejut saat mendengar suara jentikan pensil mekanik dan lampu kamar yang belum mati. Tapi yang paling aneh adalah tak ada omelan Wonwoo yang mencerocos tajam mencercanya karena Mingyu pulang jam 10 malam. Tak ada sambutan Wonwoo di pintu apartemen dengan raut muka khawatir dan kesal.
Mingyu berjalan melewati dapur, menuju kamar dan batinnya terkejut saat melihat seseorang masih sibuk di antara tumpukan buku dan macam-macam makalah. Wonwoo yang mengenakan kacamatanya tenggelam bersama gunungan buku tanpa tahu Mingyu yang bahkan sudah sampai di samping meja belajarnya.
"Hyung?" Mingyu meletakkan tasnya, menghampiri sang kekasih yang tak menyadari bahwa dia sudah dapat, "Tidak dengar aku masuk?"
Wonwoo menoleh sebentar, "Maaf. Tugasku banyak sekali!"
Mendengar Wonwoo yang mengeluh, Mingyu tersenyum kecil dan diusaknya kepala Wonwoo sebelum melepas mantelnya.
"Biasanya kau langsung marah-marah kalau aku pulang jam 10," Mingyu menyindir sembari membuka kemeja putihnya, menelusurkan jemarinya yang panjang pada beberapa buah kancing yang ada pada bajunya.
"Dih," Wonwoo mendesis sebal sebelum tangannya bergerak-gerak merogoh tas ransel berwarna biru dongker miliknya yang kini isinya tercecer di atas lantai, "Aku sedang tidak mood marah-marah, tugas banyak nih, jangan ganggu."
Mulai lagi deh, Mingyu menghela nafas panjang sebelum memilih tersenyum dan mengalah, "Jangan tidur malam-malam lho."
Wonwoo mengangkat sebelah alis sebelum bertanya dengan nada khawatir, "Memangnya kau sudah mau tidur?"
Mingyu balas bertanya pada Wonwoo, "Kenapa?"
"Tidak kok," Wonwoo menggeleng kecil, "Bagus deh jadi nggak mengganggu."
Detik itu Mingyu tahu dari guratan mata tajam Wonwoo kalau sebenarnya namja itu sedang tidak ingin sendirian, tsunderenya kumat lagi, Mingyu juga tidak tega kalau harus meninggalkan Wonwoo sendirian sampai malam. Mingyu itu hafal sifat Wonwoo, sepertihalnya kalau dia bilang 'pergi' itu sama halnya dengan Wonwoo meminta Mingyu untuk tinggal. Agak aneh dan merepotkan sih, tapi Mingyu suka.
"Yakin?"
Asal kalian tahu, Wonwoo paling sebal kalau digoda.
"Sudah pergi sana, nggak selesai-selesai ini nanti kerjaannya, duh!" sebelum buku-buku tebal berbahasa inggris itu melayang menyentuh dahi Mingyu yang lebar, pemuda jangkung itu sudah mengambil langkah seribu untuk keluar kamar.
"Awas nanti kangen!"
"ENGGAK!" Wonwoo mendengus kesal, bersiap melemparkan buku diktatnya kalau-kalau si kaki panjang itu tidak segera enyah dari hadapannya.
Dan untungnya, Mingyu menyingkir dengan sukses sambil dibumbui suara kekehan kecil.
.
Mingyu yang baru selesai mandi masih melihat Wonwoo sibuk sendiri dengan tugasnya yang entah kapan bisa selesai itu, dan juga, tampaknya mood Wonwoo sedang tidak baik. Setiap Mingyu lewat di sekitarnya, namja bersurai hitam itu terus menerus mengeluh dan menyuruh Mingyu cepat pergi karena menurutnya kekasihnya itu bisa menghancurkan konsentrasi. Mingyu sendiri tak bisa mengelak bahkan saat Wonwoo benar-benar menendangnya dengan keras saat dia lewat di belakang bangku empuk Wonwoo sambil bersiul.
Untuk permintaan maaf karena sudah tak sengaja mengganggu Wonwoo, Mingyu memberikan senampan salad buah dan susu hangat di samping meja belajarnya.
"Eh," Wonwoo terkejut saat melihat semangkuk salad dan susu putih yang tersaji di sampingnya terlihat menggoda dengan keju dan mayonnaise yang melumuri setiap buah di dalamnya.
"Charge," Mingyu nyengir lebar sembari menusukkan sebuah melon dalam salad tersebut.
Terlihat Wonwoo yang masih heran, matanya berkedip dan tak menolak saat Mingyu menyuapkan sepotong buah manis tersebut ke dalam mulutnya yang otomatis terbuka, "Anggap saja seperti isi ulang tenaga. Aku tahu kau capek."
Kali ini Wonwoo tersenyum kecil, menyandarkan kepalanya pada perut rata Mingyu beberapa detik, "Terima kasih."
"Tidak masalah, selesaikan tugasnya dulu, aku menunggumu di ruang tengah."
Wonwoo menggeleng kecil, "Untuk apa menungguku? Kau bisa tidur duluan."
"Aku tidak mau ada yang membangunkaku dan merengek minta ditemani ke kamar mandi nanti," Mingyu mencibir.
Dengan cepat Wonwoo melayangkan tinjunya ke perut Mingyu sebelum merasakan pipinya yang memanas, "Aku tidak merengek padamu."
"Tapi menendangku ketika aku tidur."
Wonwoo diam, enggan melanjutkan debat kecilnya begitu dia melihat hitungan kalkulus di mejanya yang belum selesai, mendadak dahinya jadi berkerut karena pusing melihat tebaran akar-akar kuadrat yang melelahkan.
"Mungkin aku akan sambil mengerjakan maket dan menonton tv, kalau butuh apa-apa, panggil saja aku," Mingyu lagi-lagi mengusap kepala Wonwoo sedangkan namja emo itu menusukkan garpu pada potongan buah mangga dan mengangguk-angguk kecil.
Seulas senyum terukir di bibir Mingyu sebelum ia membawa seperangkat maketnya dan beralih ke ruang tengah, mengerjakan tugas sambil menonton tv dan semangkuk salad buah bukan ide yang buruk malam ini.
.
Mingyu tak menyadari bahwa jam sudah melewati angka 12 malam dan kalender di handphone miliknya sudah berganti. Maketnya belum selesai memang, Mingyu tak mempermasalahkannya karena memang deadlinenya masih 1 bulan lagi, baru saja saat televisi menayangkan iklan, Mingyu meletakkan miniature rumah di tangannya, hendak menengok Wonwoo apakah dia sudah tidur atau belum.
Namun saat kakinya hendak berdiri dan melangkah menuju kamar, sosok kuyel dengan mata berat jalannya sudah sempoyongan seperti zombie dengan rambut yang teracak-acak, Wonwoo nampak seram dari kejauhan kalau begini.
"Hyung?" Mingyu lantas berdiri mendapati Wonwoo yang tanpa permisi menghempaskan diri ke sofa abu-abu yang empuk dan merentangkan tangannya dengan malas seperti kukang.
"Capek aku capek," Wonwoo mengerang kesal, bibirnya manyun dengan kakinya yang menghentak kecil.
"Sudah selesai?" Mingyu menyingkirkan tangan Wonwoo yang merentang menghabiskan setiap space pada sofa, dia mendudukkan tubuhnya lagi dan mengusap poni Wonwoo, merapikannya sedikit.
Namja pucat itu mengangguk lemas, "Sudah sih," dengan tak bertenaga, tubuh kurusnya kembali berbalik menghadap Mingyu yang matanya masih bertahan, berbanding terbalik dengan milik Wonwoo yang sudah mulai memerah dan berkantung.
"Kan kalau sudah tinggal tidur, ngapain nyusul kesini?" alis Mingyu bertaut bingung.
"Enggak mau," Wonwoo mengulurkan tangannya hingga ujung jemarinya menyentuh ujung kaus Mingyu, menariknya dengan lembut, "Nggak mau tidur sendirian."
"Tunggu, aku bereskan ini dulu," Mingyu membersihkan maketnya yang berantakan dengan cepat dan Wonwoo menunggunya dengan posisi sama, masih terlihat seperti kukang yang malas di atas sofa.
Mingyu terus mendengar Wonwoo meracau, menggumamakan kata capek dan ngantuk berkali-kali menandakan Wonwoo sedang kesal. Kadang kalau sedang capek dan stress, Wonwoo memang suka jadi begini.
"Gendong?" Mingyu menawarkan diri dengan merentangkan tangannya, namun Wonwoo tak memberikan jawaban yang berarti. Melihat hal tersebut, Mingyu memutuskan membawa tubuh ringkih itu dalam gendongan koala hug dan membawanya ke tempat tidur.
Mingyu mendudukkan diri di atas kasur dengan Wonwoo di atas pangkuannya, bermuka kusut setengah mau tertidur.
"Hyung, mau charge lagi?"
Wonwoo merengut, "Aku sudah kenyang makan saladmu."
"Hey, kali ini bukan salad buah," Mingyu menelusurkan tangannya membelai rambut dan pipi Wonwoo sebelum tersenyum kecil, "Kali ini aku jamin charge-nya ampuh deh."
"Terserah," Wonwoo memutar bola matanya malas namun gerutuannya batal saat tahu-tahu Mingyu sudah menciumnya begitu saja.
Mata bening itu terbuka lebar, menghilangkan hampir semua rasa kantuknya. Kelopaknya matanya terpejam, erat, mendesah kecil dalam ciumannya yang tidak bisa dibilang pelan-pelan. Pada awalnya memang lembut dan perlahan, Mingyu memang tahu bagaimana cara membuat Wonwoo lebih memilih melingkarkan lengannya di lehernya daripada memukul pundaknya, karena hanya namja jangkung itulah yang mampu membuat Wonwoo menyerah. Wonwoo hafal ritme yang Mingyu berikan untuk bibirnya, masih sama dengan kecupan yang halus dan lembut, lumatan yang ringan dan dalam, hingga hal yang membuat tubuhnya jadi kaku seketika, hisapan dan lidah yang bisa keluar masuk tanpa penghalang.
"Bagaimana?"
Mingyu bertanya setelah tautannya terlepas, tak terlalu lama, tapi Wonwoo sukses mengedipkan matanya cepat.
"Ini yang kau maksud charge?"
Dan entah kenapa Wonwoo gemas waktu melihat Mingyu tersenyum dengan bangga karenanya.
"Mesum," Wonwoo mendengus kesal, namun batal saat tahu Mingyu menggulingkan tubuh mereka menjadi tiduran di atas kasur, menarik selimut dan menyimpan Wonwoo dalam pelukan.
"Ayolah, berhenti memanggilku mesum, aku pacarmu!" Mingyu balas mendesah sebal.
Dan tawa ringan muncul dari bibir tipis Wonwoo saat tahu Mingyu balas merajuk padanya, "Tapi aku suka kok. Terima kasih charge-nya."
Mingyu belum siap ketika ciuman manis di bibir tebalnya terjadi beberapa detik setelahnya, namun yang ia tahu, Wonwoo langsung mematikan lampu tidur dan memilih menelusupkan wajahnya yang pucat pada dadanya yang bidang, membuat Mingyu tak bisa untuk menarik tubuhnya mendekat, membalasnya dengan pelukan erat.
.
Wonwoo membulatkan mata saat melihat ruang tamu apartemennya berantakan penuh dengan karton dan maket-maket rumah yang berhamburan disana-sini, teriakan sudah mau keluar dari ujung bibirnya namun batal saat melihat Mingyu dengan tampang amburadul seperti setan keluar dari balik tumpukan bahan di dekat sofa. Wonwoo hampir mengumpat karena kaget.
"Hyung!" Mingyu mulai memanggil Wonwoo dengan tatapan melas, mahasiswa arsitektur yang sedang dilanda tugas yang hampir mendekati deadline itu tampak seperti seorang penyamun.
"Astaga, kau benar-benar membuat ruangan ini jadi tidak berbentuk!" Wonwoo mendengus kesal.
Mingyu berjalan menuju Wonwoo secara sempoyongan dan dengan tidak sopannya menghempaskan tubuhnya yang berat dan besar pada Wonwoo yang langsung merintih dan mengomel-ngomel tidak jelas.
"Kenapa sih?" Wonwoo masih berusaha berdiri sambil mengelus punggung lebar Mingyu, membuatnya nyaman, "Lagi banyak pikiran?"
Mingyu mengangguk.
"Tugasmu belum selesai?" tanyanya lagi.
Dan untuk kedua kali Mingyu mengangguk.
"Hyung!"
"Apa?" tanpa curiga Wonwoo bertanya balik, merasa beban tubuhnya berkurang karena Mingyu melepas pelukannya dan kini malah meraba pinggang.
Gigi taring menyebalkan itu terlihat jelas saat Wonwoo tersenyum, "Sku ingin minta charge."
Wonwoo mendesah kesal, "Kau kan tahu aku tidak bisa bikin salad buah Gyu."
Mingyu menggeleng kecil namun cepat, ibu jarinya bergerak mengusap pelan bibir bawah Wonwoo, "Aku mau charge yang ini."
Wonwoo mendelik, tau ke arah mana pikiran kekasihnya ini. Dan Wonwoo bukan serta merta mau memberikan charge-nya begitu saja.
"Mandi dan bereskan ruangan ini baru kau dapat charge-mu," Wonwoo mendesis sebal sebelum melayangkan tinjunya pada lengan Mingyu.
"Yaah, hyung!"
Sekuat tenaga Wonwoo memilih kabur dari cengkraman tangan lebar si jangkung yang tampak kecewa, sebelum kabur menuju kamar, Wonwoo mendekat lagi, menarik leher Mingyu dengan tangannya, memberikan kecupan singkat pada bibir tebal kekasihnya.
"Anggap itu uang muka oke? Aku benar-benar tidak tahan kalau kau tidak membersihkan ruangan ini sesegera mungkin."
Cepat-cepat Wonwoo kabur menyisahkan Mingyu dengan erangan kesalnya sebelum lelaki itu mulai bergerak membersihkan berkas maketnya yang berhamburan.
Mingyu berhenti bergerak saat beberapa saat kemudian kepala Wonwoo menyembul dari pintu kamar.
"Kalau tidak bersih dalam 10 menit, charge-nya hangus!"
Mingyu mendelik.
"Jeon Wonwoo benar-benar!"
.
.
.
CHARGE – END
.
.
Wanna next?
.
Baru bisa apdet maap kuota barusan abis hari senin eheheee.
Mau lagi? boleh kok ^^
Terima kasih buat semuanya, sampai jumpa di chapter depan!
Salam super~
Raeyoo.
