Rintik hujan membasahi jalanan kota tak membuat pria itu berhenti berlari kecil. Wajahnya datar tak terbaca dengan tangan dimasukkan ke saku jaket. Diseberang jalan ia melihat kedai kopi, dengan perempuan tengah melambai meminta atensinya. Sedikit berlari kecil ia menyebrangi jalanan ramai itu setelah lampu pejalan kaki berubah warna menjadi hijau. Setelah sampai di depan pintu kedai, ia membuka tudung hoodienya membuat perawakannya terlihat jelas. Tanpa basa basi ia mengambil duduk di depan perempuan yang tengah memegangi mug kopi dengan kedua tangannya.
"Lama tidak berjumpa" kalimat pertama itu keluar dari mulut perempuan. Naruto itu tidak menyahut, malah semakin menundukkan kepalanya melihat lantai kayu. Tak ada percakapan sesudahnya. Keduanya sama-sama menunduk. Merenungi setiap kejadian yang telah mereka alami beberapa tahun belakang. Ada rasa menyesal, dan sedikit rasa takut bagi keduanya. Namun untuk perempuan, rasa takut itu sudah berubah menjadi kesedihan. Semua yang ia takutkan sudah terjadi. Sekarang ia hanya ingin melihat pria ini.
"Ehm... Bagaimana kabarmu?" katanya sambil menyelipkan rambut di belakang telinga. Wajahnya masih menunduk, sedikit malu memandang pria di depannya.
"Kabarku? Kenapa kau menanyakan kabarku? Apa yang kau inginkan?" Tanya Naruto sarkas. Ia sudah muak dengan semua ini. Namun segala kesalahan memang terdapat pada dirinya. Wajahnya menegak dengan mata menajam. Menghujam perempuan yang matanya sudah berair.
"Apa kau membenciku, Naruto?" kata perempuan itu sambil balas menatapnya. Sambil menorehkan senyum paksaan ia mengeratkan genggamannya pada mug kaca itu. Naruto hanya menunduk. Membenci juga percuma. Nyatanya ia sangat tahu masalah yang ia mulai bermula darinya. Ia hanya mencari-cari alasan untuk dapat menyalahkan perempuan di depannya ini. Ia tak berani mengakui, apalagi menganggap semua ini kesalahan. Tapi dalam lubuk hatinya ia menyesali apa yang terjadi.
Naruto akhirnya mengangkat pandangannya. Menatap dalam mata emerald yang menyiratkan berjuta kesedihan. Ia mengingat-ingat kejadian masa lampau. Dimana setiap kejadian ada Sakura didalamnya. Kalau dipikir-pikir mereka benar-benar mirip dan bodoh. Rela jatuh dalam kubangan dosa dan menjadi jahat untuk mencintai.
Cinta.
Mereka sangat mirip akan hal itu. Mereka menganggap mencintai seseorang sangat besar, namun belum cukup lapang untuk melepaskan. Menjadi egois, menyakiti, dan kemudian menjadi seolah-olah menjadi korban. Naruto mendengkus. Ini tidak benar. Tapi keadaan memaksanya membuka mata. Memandang Sakura di depannya membuat ia menyadari perbuatannya selama ini. Tapi ia tak bisa berhenti dan tak ingin berhenti.
"Ada hal lain yang ingin kau bicarakan?" lirih Naruto pada akhirnya. Ia tak ingin sadar. Ia ingin tetap menjadi gila dan jahat. Karena dengan begitu ia dapat menggenggam cintanya.
Sakura kembali memaksakan senyumnya. "Apa kita benar-benar tidak bisa seperti masa lalu. Dimana kau mengejarku dan aku mengejar uhm... Sasuke?" seketika Naruto mendecih. Ia memilih angkat kaki dari pada bertahan di suasana memuakkan ini.
"Sa-sasuke meninggal..." Lirih Sakura. Naruto yang hendak berdiri kembali duduk. Pupil matanya mengecil dan tiba-tiba tremor menyerangnya. Namun ia segera menutupi ketakutannya. mengepalkan tangan dibalik saku jaket seperti mengumpulkan kekuatan.
"Jika... jika kita bisa membalik waktu. Apa kita akan memilih bersama dari pada menyakiti orang lain?" Naruto memilih beranjak. Ucapan Sakura perihal kematian Sasuke menamparnya kuat.
"Naruto! Apa kau masih menyalahkanku? Apa kematian Sasuke tidak berdampak apapun padamu?" Ia tak mengindahkan. Sebelum benar-benar pergi ia kembali menoleh ke arah perempuan sendu itu.
"Ya. Jika waktu bisa kembali mungkin kita bisa bersama" Kata pria itu sambil menutup kepalanya dengan hoodie.
"Hanya jika Hinata tidak ada saat itu" katanya sambil berlalu. Lelehan air mata membasahi meja kayu. Bagaimana caranya ia bisa melepaskan perempuan malang itu? Nyatanya Naruto benar-benar sudah berubah menjadi monster.
*
"Hei... kau dari mana? Kenapa pagi-pagi sudah tidak ada?" Naruto memandang Hinata sendu. Bagaimanapun perkataan Sakura terngiang-ngiang di kepalanya. Ia tak ingin menjawab apapun. Seketika ia memeluk perempuan itu erat. Mendekapnya seakan tak ada hari lain.
"K-kau kenapa?" kata Hinata. Yang bisa ia lakukan hanya menahan beban tubuh mereka berdua. Naruto tetap diam. Lebih memilih menghirup aroma tubuh Hinata.
"Hinata... Jika aku menjadi jahat, apa kau masih ingin menjadi temanku?" bisik Naruto di telinga Hinata. Perempuan itu terkejut. Tak biasanya ia berbicara seperti ini.
"Apa terjadi... sesuatu?" lirih Hinata. Sekarang ia mencemaskan Naruto. Apa yang terjadi?
"Jawab aku" Kata Naruto. Tangannya semakin mendekap tubuh sintal itu erat. Membuat napas Hinata sedikit tercuri.
"Kita akan selalu berteman selamanya... Bahkan jika kau berbuat jahat sekalipun! Apa kau terlibat masalah?" racau Hinata. Ia menjadi khawatir. Naruto kemudian melepas pelukannya. Ia ingin mengaku sekarang. Ia kemudian menangkup kedua pipi Hinata. Mematri wajah itu, sambil mengingat-ingat kejahatan masa lalu.
"Termasuk jika aku menjahatimu?"
"Ap-pa maksudmu Naruto kun?" wajahnya ia dekatkan. Sehingga napas mereka saling beradu. Hinata dapat merasakan panasnya napas naruto di bibirnya saat ini. Sekali lagi mereka bertatapan. Naruto yang sekarang terlihat memiliki luka dan penyesalan.
"Aku ingin memilikimu" bisiknya diiringin dengan ciuman yang menggebu.
Bersmbung
8 Agustus 2018
Chapter besok kita flashback. Tapi sebenernya alur ini sedikit beda dari yang diharapkan wkwk. Makanya kita ganti genre ya. sorry cuy
