HunHan
.
Story by; Semeluke
Alih bahasa oleh; HunFabb
.
"Tapi kenapa sih dia harus kemari? Tidak bisakah Mama hanya mengajaknya ke restoran atau ke tempat lain selain rumah?" Luhan bertanya, sudah tampak sangat kesal meski pria itu bahkan belum datang.
"Tidak. Dia akan makan malam dengan kita, Hanhan. Bersikap baiklah padanya dan berhenti mengumpat."
Luhan benci ini. Menyaksikan mamanya mondar-mandir di dalam rumah, memastikan segala sesuatunya tampak sempurna termasuk penampilannya sendiri hanya untuk seorang pria yang bahkan mungkin hanya akan tinggal sebentar. Itu selalu terjadi setiap kali dia berkencan dengan seseorang—yang mana Luhan benci itu, sangat. Teman kencan mamanya selalu aneh dan jelek. Pria terakhir adalah seorang yang membosankan, dan juga kuno—sangat membosankan dan sangat kuno—hakim tua yang membuat Luhan mual ketika ia melihat pria itu dan mamanya bermesraan di dapur. Sementara pria sebelumnya adalah seniman berkumis yang membuat Luhan ingin menertawakan tampangnya. Dia punya perasaan jika pria baru satu ini akan berbeda dan lebih 'rutin' menempel. Kenapa Mama harus berkencan begitu sering sih lagian? Luhan menduga dia hanya berusaha menemukan seorang pria yang menyayanginya dan bisa menjadi ayah yang baik untuk Luhan, dan mungkin yang bisa menerapkan kedisiplinan juga di rumah. Menjadi seorang kepala polisi, orang-orang pasti berpikir jika Ling akan sangat tegas dan disiplin, namun rupanya itu benar-benar kebalikannya, dia tidak bisa bahkan untuk mengontrol putranya sendiri (yang mana Luhan merasa bangga pada dirinya sendiri untuk itu).
Luhan pikir ia akan lebih suka hanya mengisi bak mandi dan menenggelamkan dirinya di dalam air sebelum si "dokter" ini tiba. Menyelamatkan dia dari masalah membenci orang lain di dunia, juga dari pakaian rapi yang mama suruh ia untuk memakainya. Kemeja krem dan celana coklat juga rambut yang disisir rapih benar-benar membuatnya terlihat seperti siswa yang siap pergi sekolah, dan semua yang dia butuhkan adalah sikap sopan dan ransel untuk melengkapi tampilan anak baik atau apapun itu yang mamanya ingin Luhan terlihat.
Rumah tampak seperti tempat ritual pemujaan yang akan segera dimulai, lilin di mana-mana dan Luhan ingin pergi melarikan diri dari aroma menyengat bunga-bungaan.
Sementara ia duduk di ruang tamu sambil dalam hati mengeluh dan bergumam, bel pintu berbunyi dan ia mendengar mamanya berkata, "Sayang, bisakah kau membuka pintu?" dari kamar mandi.
"Tidak!" Dia menjawab sambil menggeleng.
"Buka pintunya, Luhan." Sekarang mama terdengar marah. Dia selalu kehilangan kendali kadang-kadang.
Nah ini dia, pikir Luhan, seraya bangkit kemudian berjalan membukakan pintu untuk seorang pria tinggi, berambut pirang, bertubuh ramping, tampan, dan bermata tajam. Seorang yang Luhan belum pernah lihat sebelumnya. Atau...sesuatu yang Luhan belum pernah lihat sebelumnya.
Luhan berkedip ketika pria itu tersenyum lembut padanya. Dia bertanya-tanya apakah mamanya mengatakan kebenaran tentang dokter ini, dia tidak seperti pria terakhir yang Luhan lihat. "Kau pasti dokter." Pria ini tampak lebih seperti model untuk Luhan.
"Aku kardiolog." Suaranya benar-benar lembut...terdengar bagus, tapi Luhan mengedikkan bahu tak acuh dan melihat buket bunga di tangan pria itu. "Dan kau pasti Luhan."
"Seperti biasa, dan, ya, aku memang Luhan. Ayo masuk." Ia menepi ke samping, mempersilahkan dokter masuk ke dalam. "Mama...di suatu tempat. Hanya saja, aku tidak tahu dimana, buat dirimu sendiri nyaman disini atau lakukan apapun terserah." Mengejutkan, Sehun tidak tampak terkejut sedikitpun tentang...sopan santun Luhan. Semua orang biasanya akan terkejut.
"Sehun~"
Luhan mendengar suara hak sepatu hitam mamanya menghentak, keras, dan terdengar agak menakutkan mengetuk lantai ketika dia mendekat.
"Ling. Wow, kau terlihat cantik."
"Wah, terima kasih!" Mamanya menjawab dan Luhan menoleh di waktu yang sangat tidak tepat karena selanjutnya ia melihat dokter itu meraih pinggang mamanya dan membungkuk untuk menempatkan ciuman di bibirnya. Ling tampak terkejut pada awalnya, tapi kemudian ia hanya membiarkan dokter melanjutkan ciumannya.
"Oh, menjijikan," gumam Luhan seraya mendengus. Dan itu adalah Hal lain yang selalu dimiliki semua teman kencan mama—gombal.
"Ini untukmu—sebuket mawar."
"Cantik sekali, Sehun."
Tapi...pria ini tidak terlihat penggombal; dia tampak lebih menarik daripada pria pria sebelumnya. Hanya dengan cara dia berdiri membuatnya terlihat berani dan percaya diri juga jantan, dengan postur tegap serta dagu terangkat.
Luhan berdehem, memotong mereka cepat untuk menghindari adegan romantis lebih lanjut. "Jangan terlalu lama. Aku kelaparan!" Dia berkata dari ruang tamu setelah bangkit dari sofa dan memeluk perutnya sendiri, terlihat lebih kepada marah daripada lapar.
Satu-satunya hal yang Luhan pelajari tentang Sehun dan benar-benar tentangnya adalah fakta bahwa dia orang kaya. Luhan menebaknya, meskipun. Setelan mahal dan tatakrama yang baik bukanlah tanpa alasan tentu saja. Luhan juga melihat sebotol anggur Romanee-Conti terbaring di dalam sebuah kotak kayu yang Sehun hadiahkan pada mamanya untuk hari jadi pertama mereka. Pasti dia mengeluarkan banyak uang untuk itu, Luhan berpikir dan mengejek kemudian, pemborosan.
Untuk hari jadi pertama mereka, Luhan pikir mereka harusnya pergi ke tempat lain tanpa adanya dia bersama mereka. Sehun kaya, jadi kenapa ia setuju untuk hanya makan malam di rumah? Dia jelas mampu untuk membawa mamanya ke sebuah restoran mewah di suatu tempat tanpa Luhan.
"Makanannya lezat, Ling."
"Terima kasih. Itu resep rahasia nenek—"
Luhan menusuk steak dengan keras, mengajutkan mamanya, sementara Sehun hanya dengan tenang menatapnya. "Aku selalu berpikir kalau cuma ada satu jenis dokter di dunia ini. Maksudku, apa sih yang korlog lakukan omong-omong?" tanyanya.
"Yah, kami kardiolog spesialis jantung dan sistem kardiovaskular,"
"Terus...apa yang kau kerjakan kalau begitu?" Luhan mengangkat alisnya. Dia mendengar mamanya mendesah pelan dan Sehun tertawa.
"Aku menemukan dan mengobati penyakit yang terkait dengan jantung dan pembuluh darah,"
"Kedengarannya membosankan dan menjijikkan,"
"Untuk orang lain mungkin seperti itu, tapi aku menikmatinya,"
"Apa yang bisa dinikmati dari jantung dan darah orang lain? Aku pikir yang menyenangkan dari itu adalah uang yang kau dapatkan, ya 'kan?" Ling menatapnya dengan tatapan yang biasanya akan membuat orang lain takut dan gugup, tapi Luhan adalah anaknya dan tatapan itu benar-benar tidak berpengaruh pada Luhan sedikitpun.
"Pekerjaan ini sebenarnya lebih memuaskan daripada kedengarannya, Luhan. Rasanya menyenangkan saat mengetahui jika aku bisa membantu dan menyelamatkan orang lain."
"Oke, terserah. Tapi aku masih penasaran, bagaimana seorang kordo—apapun itu sepertimu bertemu kepala polisi? Kalian bahkan tidak bekerja di tempat yang sama. Nah, kecuali kalau Mama menembak seseorang—"
"Luhan, kumohon,"
"—dan kau merawatnya."
Mama berusaha keras untuk menahan diri dari berteriak pada Luhan sementara Sehun hanya tertawa dan membuat Luhan heran sebenarnya apa yang lucu. "Eh, tidak, tidak, tidak mungkin terjadi hal seperti itu. Kami bertemu saat Mamamu melakukan pemeriksaan medis."
"Pemeriksaan medis?"
"Itu hanya sebagai prosedur untuk tindakan pencegahan kalau kalau terjadi sesuatu padanya."
"Jadi, ugh, dia tidak...kau tahu,"
"Tidak, Mamamu sepenuhnya sehat."
"Ah. Senang mendengarnya." Luhan tersenyum lega dan meneguk air dari gelasnya, mengabaikan fakta bahwa Ling pasti menegurnya setelah ini.
Entah Sehun benar-benar pria sejati atau ia hanya mencoba untuk mengesankan mamanya dengan bersikap begitu jantan, tapi apapun itu maksud Sehun ia tetap membantu Ling membersihkan meja dan piring sementara Luhan tergeletak di sofa sambil membaca komik. Dia bisa mendengar mamanya meminta maaf pada Sehun disana—"Aku minta maaf tentang Luhan. Dia selalu seperti ini kapanpun seseorang datang," katanya tapi Sehun hanya menjawab, "Tidak apa-apa." Sehun agak aneh; dia tidak tersinggung akan apapun yang Luhan katakan atau lakukan. Atau mungkin dia tersinggung sebenarnya, hanya saja tidak ingin menunjukkannya karena dia ingin terlihat seperti seorang pria tenang yang keren untuk Ling. Orang-orang selalu berusaha mengesankan mamanya untuk beberapa alasan, mungkin agar kemudian mereka bisa dekat dengan seorang dari kepolisian dan terbebas dari biaya tiket parkir.
"Sampai jumpa, Sehun. Datang lagi kapan-kapan ya." Luhan bersenandung dan melihat mamanya mencium Sehun di bibir sebelum dokter itu pergi.
"Luhan, kita harus bicara!" Mama segera mengikuti anaknya yang letih berjalan ke kamarnya. "Luhan!"
"Apa?" Luhan berbalik dan menatap mamanya dengan pandangan memohon. "Aku lelah. Bisakah bicaranya besok saja?"
"Tidak. Kau, Tuan, harus dihukum. Tidak ada TV, tidak ada PlayStation, tidak ada apapun selama dua minggu."
"Apa-apaan itu? Itu tidak adil!"
"Aku serius. Kau hanya akan pergi ke sekolah, pulang, mengerjakan pekerjaan rumahmu, dan mandi kemudian pergi tidur."
"Tapi aku harus latihan sepak bola."
"Itu hanya tiga kali seminggu. Aku memintamu untuk bersikap baik dan bahkan kau tidak bisa melakukan itu, jadi ini adalah apa yang kau dapatkan."
Luhan mengerang. "Kenapa aku harus bersikap baik padanya? Dia sama buruknya dengan yang lain. Tidak ada apapun yang khusus tentangnya." Itu benar-benar kebohongan. "Dan dia bahkan tidak marah, jadi Mama—"
"Kau di hukum dan itu adalah keputusan final. Pergi ke kamarmu."
"Aku sudah di kamarku." Luhan berkata sambil menggertakan giginya. Dia membanting pintu dan menguncinya kemudian, setelah itu ia mendengar mamanya berjalan pergi—menghentakkan kaki, lebih tepatnya.
.
Sebagaimana yang mamanya katakan, Luhan tidak boleh nonton TV, bermain PlayStation, atau komputer, tidak boleh melakukan hal-hal itu untuk dua minggu ke depan. Dia bahkan juga tidak boleh membawa teman-temannya ke rumah atau pergi ke rumah mereka. Ini hukuman karena dia bersikap tidak sopan bahkan meski Sehun tampak tidak tersinggung sedikitpun. Tapi Luhan tidak menyesal; ia tidak pernah menyesali apapun yang dia lakukan terutama pada teman kencan atau pacar mamanya. Dia sebenarnya menyalahkan mereka semua untuk ketidaksopanannya itu.
Ling tidak pernah berlangsung lama dalam berkencan dengan seseorang. Biasanya itu berakhir dalam seminggu atau kadang-kadang dua minggu, yang beruntung akan berlangsung selama beberapa bulan dan Sehun adalah salah satu dari mereka yang beruntung itu. Luhan merasa seperti dipenjara selama menjalani dua minggu hukumannya ("Kenapa dia tidak mengurungku di sel saja sih sekalian supaya lebih mudah." Luhan mengeluh pada temannya, Yixing) tanpa menyesali apapun. Dia marah, Sehun selalu di sekitar mamanya dan mamanya selalu lebih memerhatikan si dokter itu daripada Luhan. "Aku tidak peduli," Luhan berkata pada dirinya sendiri kapanpun dia merasa terganggu.
"Aku pikir kau penipu. Kau bukan dokter sungguhan, 'kan? Kau tidak mungkin dokter. Kau terlalu muda*." Luhan berkata satu waktu pada Sehun sementara menunggu mamanya menyelesaikan panggilan telepon untuk kemudian ia akan mengantarnya ke tempat latihan sepak bola. Sehun menawarkan diri untuk melakukan itu, tapi tentu saja, Luhan tidak mau.
"Bukan, aku Oh Sehun. Wanita itulah yang bernama Tu Young*." Dokter itu tertawa sementara ia menunjuk seorang wanita yang membawa beberapa makalah keluar dari kantor Ling.
(T/N *Luhan menyebut Sehun terlalu muda (Too Young, yang dibaca Tu Young) untuk menjadi seorang dokter, dan Sehun malah menganggap itu adalah sebuah nama dan jawab kalo dia bukan Tu Young tapi Oh Sehun sambil nunjuk seorang yang namanya Tu Young beneran. Tapi kayaknya itu Sehun cuma menggoda Luhan XD)
"Apa?"
"Maaf, apa yang kau bicarakan?"
"Kau terlalu muda untuk jadi Dokter." Luhan berkata dengan mengepalkan tinjunya.
Tapi Sehun tidak hanya terlalu muda; dia juga terlalu tampan untuk menjadi seorang dokter.
"Aku tiga puluh tahun. Apa itu masih 'terlalu muda'?"
Luhan ternganga. "Tiga puluh? Be-berarti Mamaku, sepuluh tahun lebih tua darimu!"
"Itu sebenarnya empat belas tahun."
"Iyuhh. Gila! Aku menunggu di luar saja."
Sehun memiliki masa depan di genggamannya, dan Luhan tidak mengerti kenapa pria muda dan sukses seperti dia mau berkencan dengan kepala polisi yang jauh lebih tua darinya. Itu tidak mungkin karena cinta! Tapi Luhan adalah orang di urutan terakhir di planet ini yang mengerti apa itu cinta; dia tidak akan mengerti meski bahkan jika ia melihatnya sendiri.
Luhan menyeret langkahnya di belakang mamanya yang sedang berbicara dengan Sehun dan mendorong troli di supermarket. Kenapa? Karena dia tidak mau tinggal di mobil sendirian; dia mau melakukan itu jika mamanya memarkirkan mobil di suatu tempat di ruang terbuka, Luhan benci berada di parkiran bawah tanah.
"Aku sangat sangat lelah. Lututku sakit dan kakiku sakit dan tanganku sakit juga dan semuanya benar-benar sakit—"
"Luhan." Mama memperingatkan, sudah terlalu lelah akan kelakuan anaknya. (Luhan terus merengek sejak mereka melangkah keluar dari mobil).
"Bisakah kita pulang sekarang?" tanya Luhan untuk kelima kalinya dan dia bisa mendengar mamanya mendesah berusaha sabar.
"Sebentar lagi. Mama perlu membeli sesuatu di bagian sereal."
"Yah, kalau begitu bisakah aku setidaknya mendorong trolinya? Aku sangat bosan." Luhan berkata, kesal, dan Sehun berbalik untuk menatapnya.
"Berhenti merengek." Ling mengingatkan.
"Ini." Pria itu melangkah ke sisi dan mengiyakan Luhan dengan anggukan. Luhan tersenyum gembira untuk dirinya sendiri dan mengambil alih troli, tapi kemudian ternyata itu menjadi ide yang buruk ketika Sehun berpindah menempatkan lengannya di sekitar pinggang Ling. Good job, Luhan.
"Ma, aku masukan permen kesini ya." Dia berkata, mencoba untuk mendapatkan perhatian mamanya tapi mamanya terus tertawa bersama Sehun. "Ma!"
"Oh. Iya?"
"Permennya, bisakah aku beli..."
"Tentu sayang, ambil berapapun yang kau mau." Ponsel mamanya berdering kemudian, memainkan sebuah instrumen piano dan dia permisi untuk berbicara secara pribadi di tempat lain. Luhan mengedikan bahu tak acuh dan terus memasukan setiap kantong permen berbeda ke troli sementara Sehun berjalan di sampingnya.
"Tidakkah kau pikir itu terlalu banyak, Luhan?" tanya Sehun dan Luhan mengedikkan bahu sekali lagi.
"Mama bilang aku bisa mengambilnya berapapun yang aku mau dan segini adalah berapa yang aku mau."
Sehun tertawa pelan dan Luhan mengerutkan kening bertanya-tanya kenapa. "Kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan, ya?"
"Apapun...Kenapa?"
Sehun mengedikkan bahu. "Tidak ada alasan," katanya, tapi kemudian Luhan mendengar dokter itu memberitahu mamanya: "Kau merusak dia. Kau tidak bisa membiarkan dia seenaknya seperti itu." Dan Luhan mengejek dalam hati.
Ling adalah seorang kepala polisi yang berjaga di stasiun, tapi di rumah dia adalah seorang ibu dari seorang anak yang tidak patuh. Bagaimana bisa itu terjadi...?
.
"Apa Xiumin akan menjemputmu?" Yixing bertanya, ketika berjalan keluar dari gerbang sekolah dengan Luhan sisinya.
"Dia sibuk hari ini. Mama yang akan menjemputku."
"Aku bisa memberikan tumpangan kalau kau mau."
"Nah, aku tidak apa-apa. Jika aku tidak pulang dengan mama dia mungkin akan pergi ke tempat lain bersama Sehun dan aku tidak mau itu terjadi. Aku masih tidak percaya dia lupa untuk menjemputku di tempat latihan kemarin. Maksudku, dia benar-benar pulang ke rumah tanpa aku dan tidak menyadari jika aku tidak di mobil sampai dia menutup teleponnya, dan dia baru sadar ternyata dia bicara dengan Sehun sepanjang waktu."
"Woah. Aku tidak pernah berpikir kau bisa cemburu seperti ini—"
"Aku tidak cemburu. Aku cuma tidak suka dia, dan aku akan melakukan apapun sekuat tenaga supaya dia jauh-jauh dari—oh, sial. Apa yang dia lakukan disini?" Luhan mengerutkan kening saat melihat mobil berbeda terparkir di depan jalan masuk. Hyundai Avante biru tua bukanlah apa yang mamanya kendarai dan mamanya tidak ada di kursi kemudi.
"Siapa dia?"
"Itu—itu, ugh, dokter."
"Ohh. Nah, semoga beruntung." Yixing berbisik dan bergegas kabur sebelum Luhan bisa menariknya.
"Halo, Luhan." Sehun tersenyum padanya ketika ia mendekati mobil.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dimana Mamaku?" Luhan melipat tangan di depan dadanya sambil menggerutu.
"Mamamu sibuk sekarang dan dia memintaku untuk menjemputmu dari sekolah. Masuklah."
"Tidak, aku tidak mau pulang denganmu. Pergi sana, aku mau naik taksi saja." Luhan menggerakkan tangannya tak acuh dan meraih ponsel untuk menghubungi taksi.
"Aku berjanji pada mamamu jika aku akan mengantarmu pulang."
"Nah, janji dibuat untuk dilanggar, bukan?"
"Aku sudah berjanji akan memastikan jika kau pulang dengan selamat. Dia tidak ingin kau pergi ke tempat lain—"
"Aku tidak akan."
"—dan selain itu, ini juga merupakan kesempatan bagimu dan aku untuk saling mengenal satu sama lain lebih baik. Maksudku, kita akan bersama-sama selama seminggu. Kenapa tidak memulainya dari sekarang?"
"Ma-maaf, bersama...sama? Seminggu? Apa?"
"Kau dan aku akan bersama selama beberapa hari." Sehun mengulang dengan senyum agak geli dari bibirnya melihat ekspresi syok berlebihan Luhan. "Masuk dan aku akan menjelaskannya di perjalanan."
Luhan merengut pada Sehun dan melihat sekitar mencari Yixing yang mungkin akan memberinya tumpangan. Namun akhirnya dia mengerang sebelum memasukkan ponselnya dan bergerak hendak duduk di kursi penumpang. Tiba-tiba Sehun menghentikannya dan berkata: "Maaf, tapi aku punya kebijakan: anak-anak harus duduk di belakang,"
"Anak-anak?!" Luhan menjerit, tersinggung. "Sialan—aku delapan belas!"
"Kau tujuh belas dan menurut hukum kau masih anak di bawah umur, jadi duduk di belakang...Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu."
Luhan gusar, namun tetap duduk di kursi belakang dan menutup pintu dengan marah. Tidak pernah ia diperlakukam seperti ini—dipanggil anak-anak dan disuruh duduk di kursi belakang.
"Sabuk pengaman." Sehun mengingatkan Luhan, yang berusaha memasang sabuk pengaman.
"Sudah!" Luhan selesai memasang sabuk pengaman dan memelotot pada Sehun yang mengawasinya melalui spion tengah. "Anak-anak sudah aman di tempat duduknya, kau bisa bergerak sekarang."
"Oke." Sehun tersenyum dan mengangguk puas sebelum ia mulai melajukan mobil. Luhan melipat tangannya di depan dada dan melihat ke luar jendela, alisnya tertarik ke bawah jelas cemberut ketika Sehun melihat anak laki-laki itu. "Jadi tentang kita bersama-sama selama beberapa hari; itu karena Mamamu akan mengunjungi Mamanya, Nenekmu sampai minggu depan."
Apa! Luhan melebarkan mata. Mama memberitahu orang ini sebelum dia bahkan memberitahuku?! Oh, Tuhan—aku anaknya! Atau setidaknya aku masih anaknya.
"Dan aku setuju untuk menjagamu sementara dia pergi. Bagaimana menurutmu tentang ini?"
Mama bahkan tidak mau membawaku bersamanya?! Ugh, dia bahkan tidak bertanya apa aku ingin ikut dan dia sudah siap untuk pergi saja! Aku benci ini! "Terserah. Aku bisa mengatasinya sendiri jika Mamaku pergi selama beberapa hari." Luhan berkata, tidak terpengaruh—pura-pura tidak terpengaruh.
.
"Bawa aku bersamamu!" Luhan memohon, memegang tangan mamanya di depan semua orang di bandara. Dia tidak peduli tentang mereka saat ini. "Maafkan aku karena aku nakal, aku akan jadi anak baik sekarang! Tapi jangan tinggalkan aku sendirian bersama dia!"
"Shh." Ling menyuruh Luhan diam, dengan menempatkan jari telunjuknya di bibir anaknya sementara berusaha menarik lengan bajunya lepas dari pegangan Luhan. "Sayang, tidak apa-apa. Mama pergi hanya seminggu untuk mengurus Nenek, dan kau tahu Mama sebenarnya juga mau mengajakmu tapi kau 'kan harus sekolah."
"Tapi Sehun—"
"Dia akan menjagamu, Luhan. Jika terjadi sesuatu, kau bisa menelepon Mama. Oh, dan kau tidak boleh membawa teman-temanmu ke rumah sampai ujianmu minggu ini selesai."
"Tapi—"
"Mama harus pergi sekarang, Sayang. Jadilah anak baik untuk Sehun. Dia yang bertanggung jawab, jadi kau harus dengarkan dia."
"Apa? Tidak, jangan pergi—Mama tidak bisa lakukan ini padaku!"
"Mama mencintaimu dan Mama akan meneleponmu saat mendarat oke." Ling berhasil membuat Luhan melepaskan lengan bajunya dan dia menciumnya di dahi kemudian melambaikan tangan pada Sehun dan pergi untuk cek-in, dengan cepat sebelum Luhan mulai merengek lagi.
Luhan ingin menangis saja rasanya, sebagian besar itu karena ia akan terjebak dengan Sehun selama satu minggu ke depan. Dia akan berada di neraka selama kurang lebih tujuh hari, 168 jam, 10080 menit. Itu tidak akan menyenangkan sama sekali. Sehun benar-benar tampak geli melihat adegan dramatis yang Luhan buat ketika anak itu berbalik melihat dokter yang menempatkan jari di depan mulutnya untuk menghentikannya dari tertawa.
Perjalanan pulang tidak sama tanpa Ling. Itu tenang dan sepenuhnya tegang. Luhan memasang earplug di satu sisi dan akan memilih playlist ketika Sehun bertanya, "Apa yang kau dengarkan?"
Luhan mengedikkan bahu dan menjawab cuek. "Musik."
"Ah."
Betapa tegangnya itu.
.
Karakter Sehun disini menurut translator, Sehun itu pria yang ramah dan bersahabat sama semua orang. Dia juga orangnya humoris meski kadang selera humornya itu receh banget. Yah pokoknya tipikal orang yang bikin orang-orang dengan mudah bakal suka sama dia dan bikin ibu ibu berharap punya mantu kayak dia.
.
520!
