"Kau lihat yang arah jam tiga? Aku rasa dia cukup menarik"
"Apa kau ingin kukenalkan padanya, hyung? Dia pelanggan tetap"
"Aniyoo, aku akan berkenalan sendiri"
"Kau? Tidak mungkin. Taruhan, jika aku menang, aku boleh mengambil foto tidurmu"
"Itu tidak akan terjadi, Joongjin-ah.."
Namja bersurai hitam itu tersenyum sekilas sambil geleng-geleng kepala. Mulai mengutak-atik coffee maker-nya sambil sesekali mengedarkan pandangan keseentaro cafe yang cukup ramai malam itu.
Trak
Suara penggaris dipukul tepat didepan meja gadis yang sedang melamun memandang luar jendela. Tubuh mungilnya terlonjak kaget. Seketika tangannya memegang dadanya.
"Kim Ryeowook, jika kau ingin bermain basket, silahkan keluar" katanya dingin. Senyum sedikit tersungging dibibirnya. Kontras dengan pukulan keras dimejanya tadi. Heechul seosangnim namanya, dosen mata kuliah Teori Arsitektur yang terkenal dengan kecantikannya, serta kejudesannya yang setingkat dewa.
Wookie nyengir kuda.
"Khusus kamu, cari 5 jurnal bahasa asing tentang desain tata kota di Korea. Kumpulkan tiga hari lagi di meja saya beserta analisisnya. Minggu depan presentasikan perbandingan mereka" senyum manis kembali tersungging. Senyum manis? Tunggu, lebih mirip seringaian, meski tetap anggun. "Sekian kelas kita hari ini, sampai jumpa minggu depan, jangan lupa resume tentang tata wilayah kota standar" ia melirik pintu kelas sekilas karena disana ia sudah ditunggu seorang tamu, mungkin pacarnya? Entahlah.
"Fiuhh" terdengar beberapa helaan nafas selepas Heechul meninggalkan ruangan.
Bibir Wookie sudah maju dua senti karena penat. Tangan halusnya segera merapikan buku-buku kedalam tasnya. Tangan kirinya sibuk memeriksa pesan di ponselnya.
YEWOOK FICTION
KISSING THE STAR
Mobil yang dikendarai Kim Ryeowook atau Wookie membelah jalanan dengan cepatnya, tangan kanannya sigap memindah gigi persneling sementara tangan kirinya mengendalikan kemudi.
Neo gateun saram tto eobseo juwireul dureubwado geujeo georeohdeongheol eodisio channi...
"Yoboseoo" jawab Wookie pelan setelah ia memasang headset.
"..."
"Yaaaa, Mini-ah... Mianhae.. Aku sudah dijalan menuju Mobit."
"..."
"Aku ingin sekalian mengerjakan tugas dari dosen judes itu, mianhae, terlalu banyak untuk kutinggalkan. Kau lekas kemari ne? Jemput Kibum juga, dia ada di perpus pusat."
"..."
"Bye"
Wookie melirik sekilas foto namja yang sengaja ia taruh dalam bingkai putih diatas dashboard-nya. Ia menghela nafas panjang. "Kau adalah sumber semangatku, jadi aku harap kau ada disana" senyum optimis menghiasi wajah ayunya.
Jadi begini rasanya? Bisa mengagumi seseorang secara terang-terangan, bertemu sesekali, dan terlebih lagi mengobrol dengan sang pujaan hati meski hanya sekejap. Oke, Wookie sadar, saingannya cukup banyak namun ia tidak menganggap mereka saingan, mereka teman.
Mulanya Wookie tidak begitu 'ngeh' dengan penyanyi solo satu ini, namun suaranya ketika menyanyikan 'It Has To Be You' sanggup membuatnya meleleh seperti cokelat terkena panas, lumer secara perlahan. Sejak saat itu Wookie memutuskan menjadi Cloud, sebutan fans dari Yesung, setelah hari itu, tidak ada hari tanpa Yesung dihidupnya. Mulai dari fotonya di mobil, wallpaper ponselnya, lokernya dikampus, sampai accessories yang dikenakan Yesung, sebagian ia miliki.
Kini, Wookie lebih bersyukur lagi, Yesung membuka cafe baru, Mouse Rabbit, itu artinya Wookie akan menjadi pelanggan tetap di cafe itu setelah sebelumnya ia menjadi pelanggan tetap di Handel and Gretel.
Suatu ketika...
Wookie sudah didepan meja kasir, Yesung yang kebetulan melayaninya. Sesuatu yang didalam dada Wookie serasa ingin meloncat keluar, jantungnya berdetak tak karuan, tak bernada, dan berirama.
"Anyeong, mau pesan apa?" sambut Yesung hangat sembari tersenyum.
Wookie jadi kikuk mendadak, seakan detik membeku saat itu juga. "Anyeong, ehmm, caramel machiato, ehmm, green tea latte, hot chocolate, sama muffin chocolate tiga"
Sore itu Yesung sangat tampan, seperti biasanya, surai merahnya ditutupi topi, piercing di telinga kirinya kali ini.
Wookie: Oppa, kau terlihat sehat hari ini. Aku senang melihatmu gembira.
Yesung: Yaa, karena Cloud banyak yang kesini, maka aku akan gembira juga.
Wookie: Oppa, apa kau mengenakan eyeliner hari ini?
Yesung: Tentu saja aku mengenakannya.
Wookie: Apa mereknya?
Yesung: Entahlah, make up artisku yang memberikanya
Hanya percakapan singkat, mungkin juga hanya sebuah fanservice, namun Wookie mengingatnya dengan jelas, mengingat tiap kata dan tiap senyumnya kala Yesung mengatakan itu.
Wookie menaiki anak tangga dan membuka pintu merah. Hari itu Mobit tidak terlalu ramai, maka ia memilih memesan minum dulu baru memilih duduk.
"Oppa, aku ingin pesan..." kata Wookie didepan meja kasir, Joongjin yang melayaninya. Wookie mengedarkan pandangannya sejenak, tidak melihat sang pujaan hati berada disana.
"Green tea latte?" sahut Joongjin, ia hapal betul pesanan kesayangan pelangganya yang satu ini.
Wookie tersenyum sekilas. "Tidak, hot cappucino saja."
"Oke, ada lagi?" Wookie menggeleng. "₩7."
Wookie sudah menerima kembalian, menunggu barista tampan ini menyiapkan pesanannya. "Oppa, kenapa aku tidak melihat hyung mu hari ini?"
"Apa kau ingin aku meneleponnya? Dia sedang perjalanan dari Incheon"
"Tentu saja aku ingin kau meneleponnya" kata Wookie riang menanggapi becandaan Joongjin. Kemudian ia berbalik mencari tempat duduk yang nyaman. Tempat duduk di lantai atas yang menjadi pilihanya.
Wookie memandang jalanan sekilas, hiruk pikuk seperti biasanya, dari atas sini bisa melihat langsung jalanan di depan Mobit, ia berharap tiba-tiba ada mobil van yang berhenti dan menurunkan namja beramut blonde yang menjadi idolanya. Tapi itu hanya khayalan, Yesung masih diperjalanan.
Wookie mengeluarkan laptop kesayangannya, berwarna putih minimalis dan tak lupa foto yesung di tempelkan dipojok kiri atas dengan sedikit blink-blink lucu berwarna ungu. Ia Mulai berselancar didunia maya, memeriksa fandom Yesung, berita-berita yang berkaitan dengannya sekejap sekadar untuk merelaksasikan otak dan fikirannya sebelum bertempur mengerjakan jurnal-jurnal kesayangannya.
Sudah dua jam, Sungmin dan Kibum sudah datang. Pesanan mereka tidak begitu banyak, hanya ice milk tea, hot chocolate, dan tiga muffin, namun dengan laptop Wookie yang imut dan jangan lupakan beberapa buku bertebaran diatasnya, mereka agak kesusahan menata agar barang-barang tak sampai jatuh.
"Sungmin, kenapa mukamu cerah sekali sedari tadi?"
"Ah, jinja? Aku biasa sajaa" katanya, namun raut mukanya menandakan ia berbohong. Matanya berbinar, dan senyumnya sumringah.
Kibum hanya menurunkan majalah National Geography yang sedang dibacanya sebentar, melirik Sungmin yang dihadapannya sambil membetulkan kacamatanya. Ia cuma diam, entah paus atau lumba-lumba, entah kelaparan atau kasus HIV di Afrika, atau kebebasan berpendapat oleh remaja yang menyita pikirannya. Maklum, putri salju cantik ini adalah perwakilan PBB dalam bidang UNICEF, pikiranya berlipat-lipat melebihi otak mahasiswa pada umumnya.
"Haishh, kau berbohong. Terlihat sekali dari wajahmu itu Eonni" Wookie menggigiti ujung pensilnya.
Kibum menutup majalahnya, "Sudah, katakan saja Minnie-ah, kami tentu akan sangat bahagia dengan kabar darimu"
Sungmin menunduk malu. "Sebenarnyaa" ia masih menunduk. "Aku rasa, aku, ehmm" dia kikuk. "Bertemu dengan seorang namja di mall" katanya cepat, semburat pink menjalari pipinya yang chubby.
"Lalu?" selidik Wookie tidak sabaran.
"Ia menciumku di lampu merah"
"MWORAGO?" Wookie membelalakkan matanya. Kibum masih lebih santai, ia memukul kepala Wookie dengan majalah.
Sesaat kemudian meja itu gaduh.
"Ehem, ehhem"
Dan mereka tidak menyadari seorang namja sudah berdiri disamping meja mereka. Bukan, dia bukan Yesung, itu adiknya, Joongjin.
Mereka bertiga langsung terdiam, memandang Joongjin dengan tatapan malu dan bingung.
"Maaf mengganggu kesenangan kalian, tapi aku ingin meminta data-data kalian untuk dijadikan member dari Mobit. Aku tau kalian pelanggan tetap" senyum yang dimilikinya sama menawannya dengan milik hyung-nya.
Mereka bersikap kooperatif, mencatatkan nomor ponsel dan email mereka diselembar kertas.
"Gamsahamnida" katanya setelah menerima selembar kertas. "Oh iya, Yesung hyung ada di KBS, mungkin kalian ingin melihatnya" katanya sambil sedikit memelankan suaranya dan mengerling pada Wookie.
"Ah, tentu saja. Aku akan kesana" Sahut Wookie antusias.
"Tidak. Kerjakan dulu tugasmu, baru kesana" Kibum mengingatkan.
Sebuah senyum menghiasi wajahnya dibalik tubuhnya yang menjauh, kembali pada mesin kopinya. Dibelakangnya, Wookie merengut lucu.
Sekarang, disinilah Wookie, setelah dua jam lamanya ia dipaksa duduk di meja berteman dengan jurnal-jurnal merelakan kesempatan bertemu dengan idolanya. Wookie membawa dirinya memasuki studio, namun sepertinya acara sedang berlangsung, jadi ia tidak boleh masuk, ia duduk lunglai di lantai dekat pintu. Merutuki dirinya yang lamban mengerjakan jurnal-jurnal itu. Sampai sekarang, masih satu jurnal yang berhasil ia analisis, itu artinya malam ini ia harus begadang.
"Kau Kim Ryeowook?"
"Ne"
"Ikut aku kemari. Kau ingin masuk kan?"
Wookie sebenarnya ragu dan sangsi dengan ajakan Ahjussi ini. Ia tidak mengenalnya, wajahnya linglung, tapi kakinya mengikuti langkah kaki ahjussi yang berjalan didepannya. Setelah melewati beberapa pintu, sepertinya ia sudah masuk di belakang panggung. Orang-orang berlalu-lalang dengan sigap, beberapa membawa baju, map, mengenakan headset, tidak ada yang peduli dengan Wookie, dan ia merasa asing.
"Tunggulah disini sebentar, duduklah" kata Ahjussi itu lagi.
Wookie menurut, ia mengedarkan pandangannya, perasaannya campur aduk, dari bagaimana jika ia diculik, hingga bagaimana cara ia keluar dari sini, pasalnya ingatannya tidak cukup baik, ia lupa jalan kembali.
Seorang wanita mendorong gantungan baju yang banyak, menutupi arah pandangannya, ia terpukau dengan gaun-gaun itu, namun pemandangan setelahnya yang lebih memukaunya. Sesosok namja dengan setelah hitam, boots, kacamata, dan surai blonde muncul dihadapannya.
"Anyeonghaseyo" katanya, tersenyum. Cuma satu kata, menawan.
Wookie kaku ditempat.
"Jongshohamnida, aku ingin meminta nomor ponsel dan emailmu, kau pelanggan Mobit kan? Aku ingin mendata pelanggan tetap Mobit" ia melambaikan tangannya di depan muka Wookie karena tak mendengar sahutan dari lawan bicaranya.
"Ah, ne. Jj.. Joongwon ssi" katanya gugup.
"Kau tidak perlu gugup, kita sudah sering bertemu kan?!" ucapnya sambil mengeluarkan ponselnya.
Wookie tersipu, ia masih ingat betul ketika mereka bertemu di Mobit, bahkan Yesung bersikap biasa, dan sekarang ia bilang sering bertemu? Wookie seakan melayang. Kemudian mendikte nomor ponsel dan alamat emailnya, Yesung mencatat di ponselnya.
"Oke, sudah kucatat. gamsahamnida"
Wookie seperti orang tolol, ia masih terpaku, kalau ponselnya tidak berbunyi, tentu ia tidak akan kembali ke alam sadarnya. Ia masih merasa ini mimpi.
Neo gateun saram tto eobseo juwireul dureubwado geujeo georeohdeongheol eodisio channi...
Wookie dengan sigap mengubek-ubek tasnya, mengambil benda pipih berwarna putih. Kemudian menjauh dari Yesung untuk menerima panggilan.
"Yoboseyo..."
"Joongwon ssi, silahkan kemari" kata seseorang yang tiba-tiba ada disampingnya, mungkin managernya.
Tidak ada sahutan dari ponsel Wookie, ia merutuki nomor tak dikenal yang saat ini mengganggunya, merutuki karena setidaknya, tidak mengganggunya disaat sakral seperti ini. Sakral? Kau terlalu berlebihan Kim Ryeowook.
"Permisi, Wookie ssi" panggilnya
Wookie membalikkan badannya "Ye?" ucapnya ragu.
"Sepertinya aku harus pergi. Oh iya, itu tadi nomorku. Anyeonghaseyo" ucapnya sambil menundukkan kepalanya singkat, tidak lupa senyum menawannya terus merekah sopan, kemudian berbalik arah.
Wookie masih terpaku, Lalu kemudian ikut menundukkan kepalanya kikuk.
Jadi begini rasanya? Bisa mengagumi seseorang secara terang-terangan, bertemu sesering mungkin, terlebih mengobrol dengan sang pujaan hati semaunya. Wookie mungkin akan gila merasakan ribuan yeoja selalu mengelilinginya, namun ia menerimanya. Jutaan bunga telah tumbuh dan bermekaran dihatinya sedari beberapa minggu yang lalu. Perutnya selalu dipenuhi kupu-kupu tiap kali bertemu dengannya.
Wookie menaiki anak tangga dan membuka pintu merah. Hari itu Mobit tidak terlalu ramai, maka ia memilih memesan minum dulu baru memilih duduk.
"Oppa, aku ingin pesan..." kata Wookie didepan meja kasir, surai namja blonde ini sudah berganti dengan warna pink.
"Green tea latte?" sahut Yesung, ia hapal betul pesanan pelanggan tersayangnya ini. "Nanti, nanti saja.." ucapnya sedikit berbisik melihat Wookie sudah tidak sabar ingin menyentuh surainya yang mirip dengan kembang gula itu.
Senyum merekah dikedua bibir itu, kemudian Wookie mengangguk.
FIN
Azalea datang lagiiii...
Kali ini dengan Yewook, kurang feelnya yah? Mian, ini sudah melewati pertapan berhari-hari.
Mohon di review yhaaa..
Terimakasih untuk:
KyuMinElfcloud, KyuPuyuh137, AIDASUNGJIN, Guest, Raebum, KYSP, dan DIANA ANDIANI
