"Besok bawakan kotoran anjing padaku!" pinta Seunghyun dingin.
"Eh? Untuk apa, Oppa?" tanya Jiyong polos. Matanya mengerjap lucu.
"Besok ada praktikum. Aku males cari bahannya!"
Jiyong berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk semangat. "Baiklah!"
Jiyong memejamkan matanya erat. Kenangan itu berkelebat di kepala Jiyong. Sebuah kenangan pahit yang dia pendam dalam, namun muncul kembali ke permukaan samudera ingatannya setelah bunga mawar itu. Bunga mawar yang diterimanya setelah turun panggung tadi.
Bunga mawar dari orang itu...
Si brengsek yang menghancurkan hatinya jadi kepingan kecil-kecil, berserakan, sehingga Jiyong harus menatanya lagi untuk melanjutkan hidup. Dan si brengsek itu datang lagi. Entah apa maksudnya.
Dalam kesunyian, airmata Jiyong mengalir. Kenangan pahit itu terus berputar di kepalanya. Jiyong memejamkan matanya erat, mencoba menghentikan putaran kenangan yang menyiksanya itu. Dia tidak sanggup mengingat peristiwa itu lagi. Peristiwa yang membuat hatinya berubah haluan sekaligus menyadarkannya akan satu hal. Si brengsek itu tidak pernah menyukainya.
Gadis itu berdiri disitu, matanya menatap kosong pada sebuah tong sampah di depannya. Seunghyun mendekati gadis mungil itu. Ketika langkahnya makin dekat, Seunghyun dapat menangkap arah pandang gadis itu. Bersamaan dengan itu, perasaan bersalah mencengkram batinnya.
"Mianhae," ucapnya pelan.
"Untuk apa?" tanya gadis itu dingin tanpa menoleh pada Seunghyun.
Suara Seunghyun tercekat, terperangkap di ujung laringnya. Dia dapat merasakan kegugupan itu menjalar dari hati sampai ke wajahnya. Dia berani jamin kalau wajahnya sekarang terlihat bodoh.
"Untuk... Semuanya..." Seunghyun menelan ludahnya, sulit.
Sementara dibalik punggung kecil gadis itu, wajahnya sinis. "Semuanya?" tanyanya mengejek. Kalimat itu seolah mendatangkan kilat imajiner bagi Seunghyun.
"Untuk semua makanan yang jatuh ke tempat sampah itu?" suara Jiyong makin mengintimidasi. "Atau untuk kotoran anjing yang kau oleskan ke wajahku saat itu, di depan orang banyak, lalu menertawakanku?"
Dada Seunghyun ngilu. Seperti ada sesuatu yang menjepitnya. Nafas Seunghyun jadi sesak. Kakinya gemetar. Seluruh organ dalam tubuhnya seperti ditarik ke kaki, membuat kakinya terasa berat untuk melangkah.
"Seunghyun-ah!" sebuah suara sayup-sayup terdengar, mengusik suasana yang tercipta diantara mereka berdua.
"Seunghyun-ah!" suara itu makin keras disertai dengan tepukan-tepukan di pipi.
"CHOI SEUNGHYUN!" teriak orang itu mulai tidak sabar. Seunghyun mengerjapkan matanya, dan... Bangun dari tidurnya.
Dongwook -sang kakak- menatapnya dengan bingung. Wajah Seunghyun langsung terlihat sendu begitu bangun. Hal yang tidak biasa. Mengingat wajah pemuda itu biasanya tampak bodoh dan emosi ketika dibangunkan.
"Kenapa kau? Mimpi buruk?" tanya Dongwook.
Seunghyun menghela nafasnya berat. "Aku memimpikannya, Hyung!" lirihnya.
Wajah Dongwook yang tadinya bingung berubah melembut. "Bukankah kau sudah menemuinya kemarin?"
"Aku tidak boleh menemuinya," Seunghyun memejamkan matanya erat. "Aku menitipkan bunga untuknya. Lalu kemudian dia keluar dan membuang bunga itu di tempat sampah," ujar Seunghyun pilu.
Dongwook tersenyum. "Bukankah sudah kubilang sejak dulu? Jangan suka mempermainkannya, Seunghyun! Bisa-bisa dia tidak tahan dan akan meninggalkanmu..."
"Dan dia benar-benar meninggalkanku, dan aku terlambat merasakan betapa pentingnya dia untukku," sambung Seunghyun lemas.
Tangan Dongwook terulur, menepuk-nepuk pundak sang adik. "Mandi sana! Lalu sarapan. Eomma sudah masak untukmu. Kudengar hari ini 2NE1 akan tampil di Music Bank. Kau akan mendatanginya lagi?" tanya Dongwook.
"Kurasa begitu," jawab Seunghyun singkat.
"Perjuangkan perasaanmu," Dongwook mencoba memberi semangat pada adiknya. "Seperti dia yang tidak pernah lelah memperjuangkan perasaannya padamu dulu,"
"Tapi lalu dia lelah kan, Hyung?" mata elang Seunghyun menatap tajam pada Dongwook. "Dia lelah lalu meninggalkanku,"
"Itu karena kau keterlaluan. Kurasa Jiyongie tidak akan berbuat seperti itu padamu,"
Seunghyun menghela nafasnya lagi. "Baiklah!"
Dongwook tersenyum. "Selamat berjuang! Sekarang mandilah!"
Seunghyun mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi. Sejumlah rencana sudah tergambar di kepalanya. Ya. Kali ini dia tidak ingin gagal dan membiarkan Jiyong pergi lagi darinya.
Acara musik itu akan dimulai 2 jam lagi, namun Seunghyun sudah siap di bangku penonton. Ada perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Senang dan cemas. Berkali-kali dia membetulkan posisi duduknya yang sama sekali tidak salah. Berkali-kali pula dia memeriksa setiap detail pakaiannya. Pria tampan dan mapan itu nampak seperti seorang gadis yang akan menghadapi kencan pertama. Cemas to the max.
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Rockie girl group itu memulai lagunya dengan opening yang luar biasa. Benar-benar great performers. Jiyong, CL, Bom, dan Minji benar-benar menikmati setiap detik penampilan mereka di panggung.
Mata Seunghyun tidak dapat lepas dari gadis bertubuh langsing itu. Baginya Jiyong terlihat sangat cantik hari ini.
"Bodoh!" rutuknya dalam hati. "Bukankah dari dulu dia memang cantik?" lanjutnya lagi, tetap di dalam hati. Matanya tetap mengikuti setiap gerakan Jiyong.
Nafas Seunghyun tiba-tiba terhenti ketika mata bulat gadis itu tertuju padanya. Jiyong melihatnya! Dan apa yang terjadi setelah itu? Dia tersenyum! JIYONG TERSENYUM PADANYA! Apa ini artinya Seunghyun dimaafkan?
Punggung Seunghyun membawanya melorot dari posisi duduknya yang tegak, tersenyum bodoh dengan pipi memerah.
Kaki Seunghyun melangkah cepat menyusuri backstage yang tidak bisa dibilang sepi. Dia seperti mendapatkan energi yang luar biasa besar. Bibirnya tidak berhenti melengkung. Sebenarnya makin lama lengkungan itu makin terlihat creepy. Matanya menyusuri setiap pintu di lorong itu. Ketemu! Sebuah tulisan 2NE1 tertempel di pintu. Seunghyun menoleh ke kanan-kiri, memastikan situasi cukup aman untuk mendekat.
Aman!
Namun, belum sempat dia mendekat ke pintu itu, seorang gadis keluar dari sana. Bukan. Bukan manager galak yang kemarin. Tapi dia... Kwon Jiyong. Tanpa diperintah, senyumnya kian lebar. Langkahnya mendekat. Dan Jiyong tidak menghindar. Dan Seunghyun pikir itu bagus.
"Jiyongie!" lirihnya dramatis. Tangannya merentang, siap-siap memeluk Jiyong.
Gadis itu lebih cepat. Tangannya terjulur menghalangi tubuh Seunghyun.
Suasana seketika menjadi hening. Seunghyun terdiam dengan ekspresi bingungnya. Jiyong dengan ekspresi datarnya. Tangan Seunghyun masih merentang, membuat suasananya makin canggung.
"Sedang apa anda di sini?" tanya Jiyong dingin
Seunghyun terdiam sejenak. Perlahan ia turunkan rentangan tangannya, lalu membetulkan postur berdirinya. "Aku..." pengusaha muda itu menggaruk tengkuknya gugup. "Aku... ingin... ini..." dia menyodorkan bunga yang dibawanya. "Ini untukmu," ucapnya malu-malu.
Jiyong hanya menatap bunga itu tanpa berniat mengambilnya dari tangan Seunghyun. "Lebih baik anda berikan itu pada idol lain yang lebih normal dari saya,"
Seunghyun menatap Jiyong kaget. Tidak percaya pada apa yang barusan terlontar dari bibir tipis Jiyong. "Ta-tapi Tabi Oppa memberikan ini untukmu, Jiyongie! Tidakkah kau senang?"
"Maaf," Jiyong menghela nafasnya berat. "Sudah tidak ada lagi Tabi Oppa setelah wajahku bau kotoran anjing,"
Bersambung...
