Mungkinkah, kaki Gunug Fujiyama ini menyimpan harta karun yang Naruto cari?

Lebih dari dua tahun Naruto berkelana. Ia berangkat dari Jerman dengan tujuan keliling dunia. Selama dia berpindah-pindah dari suatu kota ke lain negara, dari Berlin menuju pesisir Istambul, dari gemericik Sungai Eufrat di Baghdad, terbuai legenda taman gantung Mesopotamia, berpindah ke negeri seribu satu malam di pangkuan Perisa, singgah di pegunungan cadas Pakistan dan terhanyut dalam selimut debu Afghanistan, terlempar dalam benteng agung Taj Mahal di Khasmir India, mendaki puncak Kailash dan membeku di ketinggian Everest, berdesakan dengan kawanan sapi dalam truk selundupan demi persinggungan dengan Kota Terlarang, menyeberang dengan tujuan eksotik Pulau Dewata, Naruto tak henti mencari dan mencari─dia sendiri dilanda kebingungan; sebenarnya apa yang tengah dicari?

Hingga sekian ribu kilometer jauhnya, dan dia belum juga meneguk kepuasan diri.

Dia terheran-heran, ketika tiba-tiba di suatu pagi yang sejuk, dibangunkan kicauan burung di pohon Sakura, dia seperti menemukan kenyamanan yang telah lama hilang. Puncak Gunung Fuji mengintip dari jendela. Terakhir kali Naruto menghirup udara dalam keadaan pikirannya lapang ialah di Berlin dua tahun lalu.

Ia bertanya-tanya penyebab perasaan hangat yang menyelinap ini: sang Fujiyama yang mengingatkan pada kemegahan Alpen di tanah airnya? Ataukah kuil-kuil yang menyimpan aroma kastel dari masa lalu? Atau bahkan─yang enggan diakui─pesona gadis violet yang diam-diam mencuri perhatiannya ini?

Ini adalah pagi yang kesekian semenjak rutinitas duduk di beranda menghadap padang bunga dan sang Fujiyama, ditemani cangkir ocha (sesekali kopi), dan ada Hinata yang menemaninya berbagi cerita.

Naruto enggan bangkit maupun terbangun. Sekujur tubuh dan kedua kakinya seperti terpaku di tanah Negeri Sakura. Jalan masih begitu panjang terbentang. Bahkan sepatunya belum menjejak hingga separuh bumi, tetapi keinginan untuk menyempurnakan traveling keliling dunia sama sekali tak bercokol, menguap dibuai angin desa Iyashi.


.

"Aku akan pergi, Hinata..."

Kalimat itu bagai petir menyambar Hinata di siang bolong. Tidak. Seharusnya Hinata tahu Naruto memang akan pergi. Pria itu hanya singgah, sebagaimana ribuan (atau lebih) orang yang pernah mampir di penginapan ini.

Begitulah hidup, hanya mampir sambil lalu; bertemu muka, singgah sebentar, berpisah, lalu dilupakan dan melupakan.

"Oh!" Hinata tak sanggup menyembunyikan keterperanjatannya. "Melanjutkan traveling? Keliling dunia lagi?"

Dalam hati, terbesit ketidakrelaan. Tiba-tiba, Hinata gamang. Ia bingung mengapa kegusaran ini menyeruak, padahal Naruto bukan lah siapa-siapanya. Mau singgah selama atau sesebentar apa, itu hak Naruto, bukan? Bahkan, seandainya Naruto memutuskan untuk pindah penginapan lain, itu juga bukan urusan Hinata.

"Tidak."

Cangkir ocha menggantung di udara. Hinata menganga. Maksudnya? Naruto sungguhan akan pindah penginapan?

"Aku akan pulang," ujar Naruto melenyapkan ketegangan.

Hinata tak jadi meneguk ocha. Terdengar denting pelan cangkir beradu dengan talam.

"Naruto-kun tak ingin menuntaskan destinasi?" Hinata menoleh, mencari-cari kejujuran dari mata sebiru berlian.

Kemarin, baru saja Hinata mendengarnya langsung, bagaimana antusiasme Naruto. Bicaranya menggebu-gebu, seolah jalan-jalan keliling dunia semudah bersepeda mengitari Tokyo. Jikalau Naruto berubah pikiran, itu pasti menyangkut sesuatu yang penting.

"Itu memang rencanaku. Tetapi selalu saja ada yang usil menggagalkan rencana kita."

"Teman-temanmu sudah tahu soal ini?"

Hinata teringat rombongan pemuda nyentrik, yang kemudian dikenalnya sebagai Sasuke, Shikamaru, Choji dan Kiba, datang menyerbu penginapan ini tiga hari lalu. Masing-masing dari mereka mengaku peranakan Jepang-Jerman─minus Sasuke yang bilang bahwa dirinya asli orang Jepang, semenjak kecil tinggal di Jerman.

"Sudah. Mereka sudah lama tahu. Mereka justru yang menekanku untuk segera pulang," lanjut Naruto.

Kerutan di dahi Hinata semakin dalam. "Apakah selama ini tujuan Naruto-kun melintasi benua-benua ..." Hinata bersuara dengan hati-hati. "Itu untuk menghindar dari sesuatu?"

Hinata tahu pertanyaan kali ini sedikit lancang, tetapi ia hanya menyuarakan isi pikiran. Seingatnya, dalam kurun waktu empat minggu ini, Naruto belum pernah mengucap sepatah kata pun mengenai keluarganya.

"Bukan. Ini bukan seperti yang kaupikir. Aku tak punya keluarga ... Yang kukenal dari ayah dan ibuku hanya secarik foto lusuh."

Hening. Kalimat Naruto digantung. Hinata terperanjat lagi.

"Maaf ... Aku tak tahu─"

"Mmhhh. Tak mengapa." Naruto menggeleng. "Bukan salahmu. Siapa pun pasti bertanya-tanya jika kau mengelak terus-menerus tanpa kejelasan. Dan, tebakanmu ada benarnya. Ya. Aku memang sedang melarikan diri dari sesuatu."

"Itu pasti berat untukmu."

Hinata menggigit bibir. Ia merasa malu pada diri sendiri. Selama ini mengira, rumah besar dan kungkungan orang tua ini tak lain sebagai bencana. Padahal, di belahan dunia lain, seseorang kerap melewati malam sambil menengadah ke langit dan meratapi nasib; barangkali seberkas cahaya bintang itu perwujudan arwah orang terkasih yang telah tiada.

"Maaf, aku tak bisa banyak membantu," ujar Hinata penuh sesal.

"Kau ini senang sekali meminta maaf. Sudahlah, Hinata. Tak ada yang perlu dimaafkan."

"Apa rencana Naruto-kun setelah pulang?"

"Tentu saja, meraih kembali segala yang terlewat. Dan yang terpenting, berobat."

Hinata mengernyit lagi. Terlalu banyak kejutan.

"Maksudmu, kau sedang sakit hingga butuh berobat dalam jangka waktu yang lama?"

"Tepat. Penyakit kuning itu menyerangku tanpa ampun." Naruto berterus-terang.

"Sebetulnya, dokter di China hendak menahanku untuk kometerapi, tapi kutolak. Waktu itu tekadku masih menggebu. Kalah oleh penyakit bukan pilihan. Aku tak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, dan yah ... ujungnya seperti yang kau lihat."

"Kenapa Naruto-kun tak pernah bilang ..." Hinata terenyak. Diamatinya wajah dan sekujur tubuh Naruto dengan saksama. Sedikit, tapi bekas-bekas warna kuning masih tersisa di mata birunya yang cemerlang. Mengapa pula Hinata tak pernah menyadari itu?

"Ada beberapa dokter keluarga kami yang sangat mampuni di bidang pengobatan dan kometerapi penyakit Hepatitis. Juga, supaya makanan yang tersaji dapat diolah dengan lebih sehat."

Naruto tergelak halus. Ia menekankan sekali lagi bahwa Hinata tak perlu serepot itu mengurus dirinya.

"Kau tahu, Hinata..."

Tawa jenaka Naruto hilang. Yang dilihat Hinata adalah roman muka yang serius. Hinata berdebar. Ia lekas mengalihkan tatapan. Ia masih tak rela jika sebentar lagi Naruto akan hilang dari jangkauannya. Lusa, beranda penginapan Hyuuga akan sepi, tak akan ada lagi acara bincang pagi.

"Setidaknya aku beruntung telah menemukan sesuatu."

Kalimat Naruto memaksa Hinata untuk kembali menoleh, menatap mata Naruto.

"Di sini," lanjut Naruto. "Aku menemukan harta karunku berada di sini."

Hinata tertegun. Matanya dikunci tatapan hangat Naruto yang menghanyutkan. Ia membisu. Ia yakin tidak sedang salah lihat atau salah tangkap. Mata biru itu berkilau, menatapnya lembut dan penuh sayang.

"Ah." Hinata berhasil mengembalikan kesadarannya. Ia belum bisa menangkap maksud tersirat ucapan Naruto─setidaknya masih menerka-nerka. "Mau bagaimanapun. Jika memang pilihan Naruto-kun, semoga ini yang terbaik."

"Yah," Naruto mengangguk-angguk. "Gelandangan mancanegara ini menemukan rumah berpulang."

Matahari meninggi. Terik menyiram selimut salju di puncak Fuji.

Mereka berlanjut membicarakan draft novel milik Hinata. Gadis itu bilang ia hampir menyelesaikan klimaks cerita. Traveling-diary Naruto sudah dilahapnya. Ia mengaku tergugah oleh begitu banyak inspirasi luar biasa dari catatan perjalanan Naruto.

Hinata bilang akan mengembalikan diary-nya. Namun, ketika ia hendak beranjak untuk mengambil buku, lengannya ditahan oleh Naruto.

"Tak usah kaukembalikan. Buku itu untukmu."

"Tapi itu pasti penting untuk Naruto-kun. Kenangan-kenangan di dalamnya..."

Hinata tertegun. Telapak tangan Naruto menempel kuit lengannya.

Kulit mereka bersentuhan. Hinata agak tersipu. Naruto menyadari gelagat aneh gadis itu dan segera melepaskan sentuhan tangannya.

"Yah. Memang penting, tapi lebih penting jika buku itu bermanfaat di tanganmu. Kalau kau anggap ini sebagai hutang, kembalikan dalam bentuk buku yang di sampulnya tercantum namamu, ya."

Hinata menyesali hangatnya sentuhan Naruto yang menghilang.

"Mmhh." Hinata mengangguk antusias. "Tunggu setelah novelku jadi, Naruto-kun."

Pemuda ini punya kekuatan yang 'memaksa' Hinata tunduk pada setiap kata yang terucap. Toh, tak mengapa, selama dia adalah Naruto. Matanya menerawang ke atas. Langit biru membentang tanpa batas. Hinata membandingkannya dengan biru dalam sepasang mata milik Naruto.

Itu adalah kedua jenis biru yang berbeda, tetapi serupa; menebar hangat dan memancarkan cahaya.

Hatinya diliputi kesejukan. Hinata tak perlu gusar. Mereka memang akan berjauhan, tetapi ikatan yang terjalin, lebih kokoh dari puncak gunung menjulang dan hantaman ombak samudera.