"Terimakasih kalian telah menjaga anak-anakku." Ujar Bard pada para Dwarf.
"Kami yang berterimakasih karena kau telah membantu kami. Sekarang kami pamit untuk pergi menyusul kelompok." Ujar Fili.
Bard mengijinkannya dan merekapun berlalu dengan perahu menuju Erebor.
-oOo-
Tiba di kerajaan megah itu, mereka di kagetkan oleh Bilbo yang berlari tergesa dengan ekspresi panik.
"Thorin- Thorin sudah mulai gila! Penyakit naga telah menguasai fikirannya." Ujarnya penuh penekanan.
"Penyakit Naga?" Tanya Kili.
Dengan penuh kebingungan, empat Dwarf yang baru saja datang itu berlari ke dalam istana untuk menemukan Thorin. Disana, Thorin tengah berjalan di atas hamparan emas membuat mereka takjub.
"Selamat datang, keponakan-keponakanku di Kerajaan Erebor!" Sambutnya dengan suara berat.
Mereka pun tidak bisa berbuat banyak dan kemudian pergi meninggalkan Thorin.
..
Fili bersandar di dinding batu dengan lamunannya. Tiba-tiba, Kili menghampirinya.
"Fili, kemarilah!" Bisiknya.
"Ya?" Ujar Fili menyiratkan pertanyaan.
"Kita harus tidur. Aku tahu tempat yang nyaman untuk tidur." Jawab Kili.
Fili mengangguk setuju. Mereka pun berjalan menuju ruangan yang berada cukup dalam di istana. Bebatuan kokoh dan ukiran kuno menghiasi dinding tempat tersebut.
Kili lalu membaringkan tubuhnya dengan di alasi oleh jubahnya sendiri. Sementara Fili mengikutinya dan berbaring di samping adiknya itu.
Untuk beberapa saat mereka hanya berbaring tanpa suara, hingga gumaman Kili memecah keheningan.
"Fili."
"Ya, Kili?" Ujar Fili yang hampir tertidur.
"Apa aku bisa tidur di pelukanmu seperti saat Kita masih kecil?" Tanya Kili membuat Fili sedikit heran.
"Mm, tentu. Kenapa tidak? Kemarilah." Jawab Fili seraya menarik Kili ke pelukannya.
Dengan lembut, Fili mulai mengusap punggung Kili seperti saat mereka masih kecil. Sementara Kili membenamkan wajahnya di dada Fili. Dia menarik nafas panjang membiarkan aroma tubuh Fili terhirup olehnya.
"Aku merindukanmu, Fee." Bisik Kili lirih.
"Aku selalu bersamamu, Kee." Fili mengeratkan pelukannya lalu mengecup kepala adiknya.
Tiba-tiba Kili bangkit dan duduk di samping kakaknya yang masih berbaring. Di tatapnya lekat lekat wajah Fili yang tersenyum lembut hingga perlahan dia menundukkan wajahnya dan mendekatkannya ke wajah Fili.
Tanpa sempat di cegah, Kili segera menyambar dan melumat bibir mungil di bawahnya. Fili yang terkejut berniat mengindar namun kedua tangan Kili yang sudah kembali bertenaga segera menahannya kuat.
Di tindihnya tubuh Fili hingga semakin terhimpit di bawahnya, sementara bibirnya mulai menyusuri leher pucat Fili. Untuk beberapa saat posisi keduanya masih sama hingga akhirnya Fili mendorong tubuh Kili di atasnya dengan tenaga penuh.
"Aaaah!" Pekik Kili yang terjungkal dan terhempas dengan keras ke belakang.
"Kili!" Teriak Fili yang menyadari bahwa dorongannya terlalu keras. "Maaf- maafkan aku, Kee."
Tanpa bicara apapun, Kili hanya diam menatap kakaknya. Tatapannya kali ini sangat dramatis dengan air mata menggenang di kedua mata coklatnya. Fili berusaha menyentuhnya tapi dia segera menepis tangan Fili dan bangkit untuk pergi.
"Kili, tunggu!" Teriak Fili yang sama sekali tidak di hiraukan.
Kili terus berjalan hingga pergelangan tangannya di genggam oleh Fili.
"Maafkan aku Kee. Aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh. Kita harus bicara, kemarilah!" Bujuk Fili lembut.
Dia lalu menuntun adiknya menuju tempat mereka berbaring tadi. Keduanya duduk berhadapan, saling menatap dalam diam hingga Kili mulai bersuara.
"Aku- Aku hanya ingin mencium mu, tapi kau malah menyakitiku. Kau tidak menyayangiku!" Ujar Kili dengan suara bergetar.
"Kili, apa yang kau katakan? Tentu saja aku menyayangimu. Dan aku tidak bermaksud menyakitimu tadi, tapi aku-" Fili menjeda kalimatnya.
Iris matanya bergerak-gerak tanda kebingungan hingga akhirnya kembali menatap mata Kili. "Kau tahu aku kakakmu."
"Untuk itu aku memintanya padamu. Karena kau kakakku! Jika kau menyayangiku, kau tidak akan menolak keinginanku. Aku- aku mencintaimu." Ungkap Kili.
Sejenak Fili terdiam dan menunduk lesu. Dia tidak mungkin melakukan hal tabu itu, tapi dia juga sangat menyayangi Kili bahkan lebih dari dirinya sendiri.
"Kili, aku menyayangimu lebih dari apapun. Dan- ya, kau benar. Aku berjanji akan melakukan apapun untukmu. Termasuk-"
Ucapan Fili terhenti di susul rona merah yang perlahan menghiasi wajah pucatnya. Dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya, sementara Kili mulai menyunggingkan senyuman.
Di himpitnya tubuh Fili yang semakin merapat ke arah dinding, sementara bibir mereka kembali bertemu. Kili bisa merasakan hembusan nafas kakaknya yang semakin memburu. Ia lalu meletakan kedua tangannya di wajah Fili, menarik dan membawanya semakin dekat.
Lidahnya menyapu bibir mungil yang masih mengatup tanpa memberi sedikitpun celah. Dengan gemas dia menggigit lembut bibir bawah Fili membuatnya memekik kesakitan. Hal itu memberinya kesempatan untuk masuk lebih dalam di antara bibir Fili yang terbuka.
Fili berusaha menenangkan dirinya. Ia mulai mengimbangi ciuman pertamanya itu hingga matanya mulai terpejam. Ciuman yang lembut dan sangat dalam di hiasi desah nafas dan lengguhan yang lolos di sela ciuman mereka.
-oOo-
Bilbo berjalan membawa dua mangkuk sup hangat yang baru saja dia masak. Sejak tadi dia mencari kedua pangeran tapi tidak berhasil menemukannya. Tujuan terakhirnya adalah ruangan di bagian dalam istana.
'Tunggu, apa itu suara decakan?' Gumamnya dalam hati. Bilbo terdiam sejenak. Dia merasa ragu namun akhirnya tetap melanjutkan langkahnya. Di amatinya sumber suara yang membawanya masuk semakin dalam. Suara itu kian jelas membuatnya semakin tidak sabar untuk melihat apa yang terjadi.
Dengan mengendap-endap, dia berusaha mengintipnya hingga mendapati kedua pangeran yang tengah duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Walaupun tidak terlihat jelas apa yang sebenarnya mereka lakukan, tapi jarak mereka terlalu dekat menurut Bilbo.
Wajahnya seketika memerah seiring fikirannya yang mulai melayang kesana kemari. Rasa panas perlahan merasuki tubuhnya membuat pandangannya mengabur. Tapi dia masih penasaran dan kembali memperhatikan gerak gerik mereka.
Nafasnya tiba-tiba tercekat saat melihat Fili yang berbaring dengan Kili merangkak di atasnya. Bilbo berusaha untuk tidak berteriak hingga dengan keras menggigit bibirnya sendiri. Tubuhnya gemetar, namun tetap membeku hingga kesadarannya kembali. 'Mereka berciuman!' Batinnya.
Dia merasa semakin pusing hingga akhirnya berbalik dan pergi dari sana dengan perasaan tidak menentu. Kedua tangannya masih memegangi sup yang hampir tumpah karena getaran tubuhnya.
..
Bilbo terus berjalan sambil berkali-kali menggelengkan kepalanya yang terasa pusing. Tiba-tiba,
"Bilbo?" Suara berat Thorin di belakang mengagetkannya.
"Iya- Iya, Thorin." Jawab Bilbo yang segera berbalik menghadap Thorin.
Untuk beberapa saat Thorin menatapnya heran. "Kau baik-baik saja? Wajahmu memerah!"
Dengan gugup Bilbo berusaha tersenyum dan menenangkan dirinya. "A- Aku baik-baik saja, Thorin. Ya."
"Lalu kenapa ada dua mangkuk sup ada di tanganmu?"
Bilbo kebingungan. "Uhmm, Ini- Ini, untuk kita. Ya, untuk makan malam kita." Jawabnya sekenanya.
Thorin hanya diam lalu meraih kedua mangkuk sup itu. "Baiklah, kemarilah!"
Bilbo mengikuti Thorin yang masuk ke sebuah ruangan dengan meja kecil dan beberapa buah kursi. Dia duduk disana lalu Bilbo ikut duduk di depan Thorin.
"Apakah ini masakanmu?" Tanya Thorin.
"Ya, tentu. Dengan garam paling enak di Bag End." Jawab Bilbo sambil tersenyum.
Thorin ikut tersenyum lalu mulai melahap sup nya.
'Ya Tuhan, penampilan baru Thorin begitu manis' batin Bilbo. Dengan mahkota di kepalanya dan senyum lebar di bibirnya, Thorin terlihat sangat tampan. Tidak terasa jantung Bilbo berdegup kencang dan pandangannya terus tertuju pada Thorin.
"Bilbo?" Bisik Thorin yang baru menyadari kalau Bilbo memperhatikannya sejak lama.
Bilbo tersentak lalu segera menundukan wajahnya ke arah sup. 'Sial! Ada apa ini? Kenapa dia merasa aneh saat menatap Thorin? Apa karena dia melihat tingkah laku Fili dan Kili tadi?' Gerutunya dalam hati.
Ekspresi wajah Bilbo sungguh sangat lucu membuat Thorin yang baru saja menghabiskan makanannya tertawa. Dia lalu meraih mangkuk milik Bilbo, membuat pemiliknya kebingungan.
"K- Kau masih lapar, Thorin?" Tanya Bilbo gugup.
"Kau benar-benar sakit Mr. Buglar." Ujar Thorin dengan semangkuk sup di tangannya.
Bilbo hanya melotot saat dengan paksa Thorin menjejalkan satu sendok sup hangat yang segera memenuhi mulutnya. Suapan kedua, ketiga, dan seterusnya terus di lakukan Thorin dengan cepat sampai tidak ada lagi sup yang tersisa.
"Itu lebih baik." Ujar Thorin saat selesai menyuapi Bilbo. "Istirahatlah, Kau harus tidur." Lanjutnya.
Dia lalu pergi meninggalkan Bilbo yang masih terdiam dengan mulut penuh dan mata terbelalak. Belum sempat mencapai pintu keluar, Thorin mendengar teriakan Bilbo
"Tunggu Thorin!"
"Hmm, ya?"
"Uhm, Kau juga harus tidur. Ya, tidur." Gumam Bilbo dengan wajah yang kembali memerah.
Tanpa menjawab, Thorin hanya tersenyum kecil lalu kembali mendekati Bilbo.
"Harus ku akui, masakanmu sangat lezat. Apa kau tidak keberatan jika nanti kau memasaknya setiap hari untukku?" Tanya Thorin membuatnya semakin gugup.
"Te- tentu." Jawab Bilbo terbata.
Dia hanya bisa terdiam saat sepasang mata biru Thorin menatap wajahnya. Semakin lama wajah tampan itu semakin mendekat membuatnya gugup dan berkeringat.
Di tengah kegugupannya Bilbo memekik pelan merasakan bibir Thorin menyentuh bibirnya. Matanya terbelalak dan tubuhnya mematung seakan beku.
"Terimakasih!" Bisik Thorin di telinga runcing Bilbo setelah mengakhiri ciuman singkatnya.
Bilbo masih membisu dengan mata terbelalak hingga tiba-tiba 'BRUK!'.
"Bilbo!" Teriak Thorin kaget.
Dia mendekat dan memeriksa Hobbit pingsan di depannya. Tidak lama kemudian dia tersenyum lalu membopong tubuh kecil Bilbo ke sebuah ruangan.
-oOo-
"Apa yang kau lakukan, Bofur?" Tanya Nori yang penasaran melihat tingkah laku Bofur.
Bofur yang kaget sedikit tersentak mendengar Nori yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Ah, bukan masalah besar. Aku kehilangan topi ku." Jawab Bofur tanpa menghentikan kegiatannya.
Nori mengernyitkan dahi. "Bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa lepas dari topi kehilangan topi?"
"Entahlah. Kenapa kau belum tidur, Nori?"
"Aku sulit tidur, jadi aku berjaga ke sekeliling, dan-"
"Maksudmu berjaga di tempat aman?" Bofur memotong pembicaraan Nori dan terkekeh.
Nori hanya menatap Bofur dan tersenyum. Dia lalu memutuskan untuk membantu temannya itu mencari topi kesayangannya.
"Oh ya, apa kau melihat Bilbo?" Tanya Bofur sambil masih mengungkap peralatan.
"Ckck... Aku tidak menyangka kau sangat menyukai pencuri kecil itu." Kekeh Nori.
"Hey, apa maksudmu? Aku hanya khawatir." Bofur membela diri.
"Uhm, baiklah. Sebenarnya sejak makan malam dia tidak terlihat."
"Hah? Celaka! Apakah dia bisa hilang di tempat yang aman?" Bofur mulai panik.
"S- Sebenarnya Fili dan Kili pun tidak ada sejak sore." Nori memasang ekspresi ngeri.
"Apa? Hm, tempat ini berbahaya! Awalnya Thorin yang berubah, dan sekarang-" Ucapan Bofur terhenti saat tangan Nori membekap mulutnya.
Nori pun segera menarik Bofur menuju ruangan yang lebih dalam. "Kemarilah, aku akan menunjukkan sesuatu!"
"Hey, apa kau yakin tidak akan membangunkan yang lain?" Tanya Bofur.
"Tidak!"
"Lalu kita mau kemana? Bagaimana dengan topiku?"
"Melihat sesuatu. Tapi kau harus berjanji tidak usah menjerit." Bisik Nori.
Bofur mengangguk setuju dan terus berjalan. Mereka tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Nori memberikan isyarat agar Bofur melihat ke pojokan dan seketika matanya terbelalak.
"Ssshhhh!" Bisik Nori menyadari Bofur yang akan menjerit. Kedua tangannya membekap mulut Bofur dari belakang.
Dengan gemetaran, Bofur berusaha melepaskan tangan Nori. Dia lalu menarik nafas panjang, menenangkan dirinya sendiri yang terlihat shock.
"N- Nori, apa yang mereka lakukan?"
"Menurutmu apa?"
"Hmm, apa mereka kepanasan?" Tanya Bofur polos.
"Tidak bodoh!" Nori terkekeh menyadari keluguan temannya.
"Lalu kenapa mereka tidak mengenakan pakaian? Dan- berpelukan?" Tanya Bofur lagi dengan panik.
"Karena mereka sedang 'pacaran'". Jawab Nori yang lebih mengerti urusan dewasa.
"Pacaran? Uhm, apakah salah satu dari mereka itu wanita? Katakan padaku! Fili tau Kili?" Bofur nampak kebingungan.
Nori tertawa. "Tidak ada wanita, bodoh!"
"Lalu bagaimana?"
"Mereka gay."
"Gay? Apa itu gay?" Tanya Bofur lagi membuat Nori gemas.
Setelah berfikir lama untuk menjelaskan, akhirnya Nori punya ide. "Umm, baiklah, aku beri tahu."
Di tariknya tubuh Bofur hingga punggungnya menyentuh dinding. Wajah Nori mendekat membuat Bofur gugup tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Perasaan aneh terasa saat hidung panjang Nori menyentuh hidungnya.
Untuk beberapa saat Nori hanya mengunci tatapannya dengan Bofur sampai akhirnya Dia memiringkan wajahnya dan berhasil menangkap bibir Bofur. Matanya terpejam sementara Bofur masih terbelalak kaget.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari belakang Nori. Keduanya menghentikan ciuman dan menatap ke arah benda yang baru saja terjatuh dari tas dalam jubah Nori. Topi!
"Aku bisa jelaskan." Ujar Nori dengan wajah memerah antara takut dan malu.
Bofur menatapnya tajam, tapi kemudian tersenyum dan meraih topi tersebut. Di kenakannya kembali topi itu membuat Nori lega. Tapi belum selesai!
Dengan kasar Bofur menarik tubuh Nori lalu segera mengulangi hal yang baru saja Nori ajarkan. Keduanya memejamkan mata dan larut dalam ciuman yang hangat.
.
.
TBC or END?
