.
.
Character © Masashi Kishimoto
Accidentally in Love
Story Icha-Icha Fairy
Part 2
Halloween
enjoy
.
.
Thinking out Loud - Ed sheeran.
Ino memutar lagu itu di ruang devisi background 2D pagi ini, mengiringi para artist bergelut dengan dunia warna yang berperan besar menciptakan mood suasana di dalam film animasi. Sesekali tawa mereka pecah oleh lelucon-lelucon garing dari beberapa artist yang menceritakan kejadian-kejadian lucu. Seperti Konohamaru yang menceritakan celana dalamnya yang hilang di jemuran pagi ini, atau Obito yang digoda karena sedang dekat dengan seorang animator 3D wanita bernama Rin.
Sakura mulai terbiasa, sedikit demi sedikit ia bisa berkomunikasi secara akrab setelah dua minggu lebih dirinya melalui masa orientasi dimana seseorang akan dijadikan bahan lelucon di dalam suatu devisi untuk menjadi hiburan murah meriah. Sial. Namun, Sakura tidak menganggap serius candaan serta bully-an mereka, menurutnya itu lucu, kadang ia sendiri dibuat terkekeh oleh kekoyolan rekan-rekan devisinya itu. Mereka sangat bersahabat.
"Minta air ya?!" seorang pria berbadan gemuk masuk ke ruang background 2D sambil membawa gelas bergambar ninja Hatori. Pria itu menuju dispenser di dekat meja kerja senior Iruka.
"Kita akan kekurangan air teman-teman, Chouji datang!" sindir Iruka.
"Devisi kami kehabisan air dan galon akan datang jam sepuluh nanti. Aku sekarat." Chouji mencekik lehernya sendiri. Berlebihan.
"Kau harus mulai terbiasa bertahan tanpa air. Kalian compositor seperti mesin penyedot air dan kami yang akan sekarat." celetuk Kiba disambut dengan kekehan artist background lainnya.
"Belajarlah dari Sakura, dia terbiasa hidup tanpa air." timpal Iruka. Sakura yakin ucapan itu akan mengarah pada pem-bully-an tempat ia berasal.
"Jadi bagaimana dengan sistem perairan Sunagakure?" firasat Sakura benar. Obito memulainya dan semua terpancing untuk tidak melewatkannya.
"Apakah kalian akan menggali sumur baru setiap bulan, atau kalian terus memperdalam sumurnya?" sambung Konohamaru.
"Kalian bisa mengambilnya dari sana jika Konoha kehabisan air." balas Sakura, semua atist background pun tertawa.
"Sakura, chek...!" panggil Ino. Pekerjaan Sakura akan di-review oleh leader background 2D bernama..., Neji. Itu yang tertulis pada ID card yang tergantung di lehernya.
"Ok, ini bagus. Tambahkan cahaya di bagian ini." Sakura mengangguk paham ketika Neji mengoreksi hasil pekerjaannya.
"Selamat pagi anak-anak!" suara nyaring seseorang memecahkan suasana. Naruto datang dengan wajah cerita sambil melambaikan tangan pada para penghuni taman kanak-kanak? Ingat selogan devisi background kan? ya walaupun seluruh studio ini memang mirip taman kanak-kanak.
"Neji bisa kau ikut aku sebentar? Scene 14 ada perubahan konsep." pinta Naruto, ia mengetuk kepala Sakura dengan gulungan kertas di tangannya saat menghampiri meja kerja Ino.
"Sai tidak memberitahuku." Sahut Neji, ia masih me-review pekerjaan Sakura.
"Dia akan menuju ruanganku sekarang. Ada yang perlu kita diskusikan secara langsung. Wow pinky! Background-mu lumayan juga..." Naruto ikut melihat di samping Neji.
"Pinky?" Konohamaru mendengar julukan yang dilontarkan Naruto. Sakura yakin ini adalah awal mula panggilan semua orang di studio untuknya, Pinky.
Shannaro...
.
.
Sasuke menyandarkan punggung pada kursi kerja, tangannya mengusap bawah matanya yang sedikit menghitam, pria itu tampak kelelahan dan kurang tidur. Pekerjaan apa yang dilakukan pria tampan sepertinya sehingga begitu menyita waktu istirahat? entahlah siapa yang tahu. Dan... hei.. ruang kerja Sasuke tampak berbeda dengan ruangan devisi produksi. Sepi sekali di sini. Ruangannya elegan dan.., ah lihat! Icon Spark Sasuke berkedip-kedip. Seseorang mengirim chatting untuknya. Sasuke pun melirik menu bar pada layar komputer. Naruto. satu-satunya orang yang berani mengirim pesan percakapan untuk Sasuke pada jam kerja.
Naruto : Teme! kau sedang sibuk? pergilah ke ruang layout 2D, aku yakin kau tidak mau melewatkan ini.
Sasuke menjauhkan punggung dari sandaran lalu membalas pesan spark Naruto.
Sasuke : Ada apa dobe?
Naruto : aku menemukan trik baru memutar kamera, hehehe.. ini sesuatu yang keren untuk film kita. (Emot love)
Sasuke : kirimkan saja file render-nya ke server temporary.
Naruto : ayolah tuan uchiha, tidak seru jika kau tidak melihatnya sendiri
Sasuke : Aku datang.
.
.
Meski bibir ini tak berkata...
Bukan berarti ku tak merasa ada yang berbeda di antara kita..
Bunyi nada dering Ino memecah keheningan ruang background 2D dengan lagu Hivi - siapkah kau tuk jatuh cinta lagi. Ino jelas tidak mengerti bahasa Indonesia tapi sepertinya ia mencari arti lirik lagu itu melalui internet. Hampir semua orang menyukai lagu melow, apalagi jika nada lagunya mengena di hati, tidak perduli lagu itu berasal dari Afrika atau bahkan Zimbabwe sekalipun. Ino langsung menekan tombol putus sambungan sehingga nada dering itu berhenti,
'sial kenapa aku menutup telponnya?' batin Ino, ia melihat kembali siapa yang baru saja menghubunginya.
"Ayolah Ino... ada apa dengan nada deringmu itu?" sindir Konohamaru. Sepertinya semua artist background tahu arti lagunya karena sudah satu minggu ini Ino menjadikan lagu itu sebagai salah satu daftar playlist harian.
"Bukan urusanmu." Ino ketus.
"Oh... aku merindukamu Sai..." Kiba menggoda dengan suara yang dibuat manja. Serentak semua orang di ruangan itu tertawa. Wajah Ino memerah ketika Kiba menyebut nama Sai. Tunggu, apa kita melewatkan sesuatu? melihat ekspresi Ino, sepertinya ia memiliki perasaan khusus pada pria bernama Sai ini.
"Oh! hai Sai!"
Ino gelagapan saat mendengar Kiba memanggil nama Sai. Serontak ia melihat ke arah pintu dan merasa konyol ketika tidak mendapati sosok itu. Perangkap murahan.
"Sudah kubilang! Kau merindukan Sai!" tunjuk Kiba. Suara cie-cie terdengar sangat meriah memecah suasana. Terbesit di kepala Ino untuk memberikan assignment dua kali lipat lebih banyak pada Kiba dan Konohamaru nantinya. Hanya ada dua orang yang tidak ikut menggoda Ino. Yang pertama Neji, karena dia sosok pria pendiam, lalu... Sakura, gadis itu hanya tersenyum sambil fokus pada pekerjaannya.
Ah... jatuh cinta ya?
Kalimat itu terlitas di benak Sakura. Sudah lama dirinya tidak merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta. Ngomong-ngomong... bicara soal jatuh cinta, mari kita definisikan artinya terlebih dahulu.
Pertama-tama kita pisah dua kata tersebut. Yang pertama 'jatuh', semua orang tahu yang namanya jatuh pasti sakit. Akan tetapi berbeda untuk 'jatuh' yang satu ini. Rasanya tidak sakit. Selanjutnya 'cinta'. Beberapa orang mengatakan bahwa cinta hanya datang ketika dibutuhkan. Jika digabung dua kata tersebut, jatuh cinta berarti jatuh ke dalam cinta saat cinta membutuhkan. Terimakasih alam semesta. Padahal aku asal mengarang saja.
Ya, definisi itu terdeskripsi jelas di kepala Sakura, tapi saat ini definisi cinta sedang tidak berarti baginya. Menurut Sakura, jatuh cinta hanya menggaris bawahi kata 'jatuh' sedangkan 'cinta' terbang entah ke mana. Sakura pernah jatuh cinta tapi berakhir tidak menyenangkan. Gadis merah muda ini memang belum pernah sekalipun berpacaran, ia terlibat dalam ikatan rumit tak jelas yang disebut dengan friend zone. Hiyy... Entah mengapa Sakura jadi teringat Utakata, cinta pertamanya. Menyesakkan.
Tulilit Tulilit...
Dering telpon memecah lamunan Sakura. Ino masih menekuk wajahnya saat mengangkat panggilan dan suara tawa di ruangan pun mulai teredam.
"Hallo 2D, background, selamat Pagi!" Ino menaikan pita suaranya satu oktaf.
"Ino..." suara Naruto terdengar lebih nyaring.
"Ada apa?"
"Siapa artist yang mengerjakan background scene 14 shoot 7 ?"
"Tunggu sebentar." Ino melihat daftar pekerjaan artist background 2D pada progam exel. "Oh, Sakura yang mengerjakan. Kenapa?"
"Tolong suruh dia datang ke sini."
"Ke ruanganmu?"
"Tentu saja, kau pikir ruangan Sai?"
"Dasar bodoh!" Ino menutup telponya dengan keras.
"Sakuraaaaaa... kau diminta datang ke ruang Animator 2D!" Ino sedikit menakutkan, mungkin ia sedang datang bulan dan Sakura tidak mau memperburuk ekspresi Ino dengan bertanya di sebelah mana ruang Animator 2D. Sakura hanya mengganguk dan langsung enyah meninggalkan ruangan.
.
.
"Ah...Sasuke-kun!" Karin histeris menyambut kedatangan Sasuke di ruang devisi Layout 2D. Semua artist Layout langsung menoleh ke arah sumber suara Karin. Sudah jelas yang bergender wanita langsung memasang wajah berseri menyapa pria tampan nomer satu Gamabunta.
"Mana Naruto?" Sasuke tidak menemukan pria berkepala duren di ruang Layout 2D.
"Naruto? Oh! barusan dia disini, lalu pergi bersama Sai ke ruangannya." Karin tebar pesona. Sasuke langsung meninggalkan ruangan Layout 2D.
"Sasuke-kun! aku akan mengantarmu!" Karin pun mengejar Sasuke di belakang.
Sementara itu, Sakura bingung mencari ruang animator 2D. Terdapat dua devisi animator di studio Gamabunta, yaitu animator 2D dan 3D. Beberapa menit yang lalu gadis itu terlihat bodoh saat salah masuk ke ruangan animator 3D padahal jelas-jelas beda gedung. Sudah dua puluh menit Sakura berputar-putar. Pandangannya lalu terpusat saat melihat Sasuke keluar dari ruang Layout 2D bersama Karin.
"Sasuke-san!" Sakura berlari menghampiri pria itu. ia sedikit mengerutkan alis ketika Karin spontan melirik tajam ke arahnya. Kenapa? apa ada yang salah dengan menghampiri mereka?
'Oh... Pria tampan selalu banyak penggemar.' decih Sakura dalam hati.
"Apa kau tau dimana ruang animator 2D?" Sakura langsung bertanya ke intinya. Setelah Sasuke menjawab pertanyaan, ia akan langsung enyah menuju ruang animator 2D, mengacuhkantatapan Karin yang mulai menggangu itu.
"Ikut aku, aku juga akan ke sana." Sasuke melangkah mendahului mereka.
"Aku tau kau sebetulnya hanya mencari-cari alasan." gumam Karin dan itu terdengar jelas di telinga Sakura. Hanya mengangkat satu alisnya, Sakura mengabaikan ucapan itu. Mencari-cari alasan yang dituduhkan padanya sangat tidak masuk akal.
"Ow.. jadi kau di devisi layout 2D ya Sasuke-san?" tanya Sakura kemudian. Sasuke diam tidak menjawab sedangkan Karin langsung menoleh, menatap bodoh Sakura.
'Apa-apaan sih perempuan ini?' Kekesalan batin sedikit terpancar di raut wajah Sakura.
"Selamat pagi Sasuke-san." Hinata menyapa kedatangan Sasuke dari meja Koordinator animator 2D begitu pria itu masuk ke dalam ruangan. Sakura dan Karin muncul setelahnya. Para animator 2D langsung menoleh ke arah Sasuke, terutama yang bergender wanita. Sasuke menuju meja kerja Naruto, pria pirang itu sedang serius menerangkan sesuatu pada Neji, pria putih pucat dan satu pria dengan rambut dikucir ke atas.
"Dobe." panggil Sasuke sembari menghampiri.
"Ah! Sasuke! apa kau pergi ke ruang Layout? maaf, aku memberitahumu lewat spark tapi sepertinya kau sudah meninggalkan ruanganmu." ucap Naruto.
"Mana yang ingin kau tunjukkan?" Sasuke berdiri tepat di belakang kursi Naruto.
"Ah, Sakura kau sudah berkenalan sebelumnya? perkenalkan ini Sai leader devisi Layout 2D dan ini Shikamaru leader devisi layout 3D, dia bergabung dengan projek kita." Naruto memperkenalkan Sai dan Shikamaru.
"Hai, Haruno Sakura." Sakura menjabat tangan mereka.
"Nah Sasuke, jadi aku menemukan tehnik baru untuk angle kamera pada shoot ini. Aku sudah membicarakannya pada Sai dan Shikamaru sebelumnya. Ini atas permintaan Orochimaru-sama untuk mengubah arah terbang burung gagak ini."
Naruto menunjuk layar komputernya, memperlihatkan animasi burung gagak yang terbang menelusuri pinggiran danau dalam tampilan layout tiga dimensi. Naruto tampak serius menjelaskan tehnik animasi yang menampilkan seekor burung gagak terbang tanpa jeda menelusuri danau hingga kaki burung itu menyentuh permukaan air lalu memasuki hutan. Itu keren dan Sakura menyadari bahwa Naruto adalah animator handal, tidak mengherankan jika pria itu menjabat sebagai leader animator 2D.
"Jadi Sakura, kau yang mengerjakan background pada shoot ini kan? kami memintamu untuk membuat layout sepanjang ini." Naruto menunjuk layar komputernya untuk memberi gambaran ukuran background yang harus dibuat Sakura. Karena hal ini penting, Naruto memutuskan menjelaskan secara langsung pada artist yang bersangkutan untuk menghindari miss komunikasi.
"Background-nya harus sepanjang ini dan tidak boleh putus. Team Layout 2D akan menggambar sketsanya. Kau akan diberitahu Ino jika sudah siap." Sakura mengangguk paham atas penjelasan serta intruksi Naruto.
"Berkomunikasilah pada artist layout yang akan mengerjakan Layout ini agar kau tidak keliru membuat background-nya." ucap Sai sambil tersenyum.
"Aku akan membimbingmu." tambah Neji dan Sakura mengangkat jempolnya.
"Bagaimana Sasuke?" Naruto menantikan komentarnya.
"Aa. Boleh juga." Naruto cukup paham dengan komentar singkat pria itu.
"Ada pertanyaan?" tanya Naruto.
"Emm itu...," Sakura setengah mengacungkan tangannya. "Soal ukuran background itu, apakah aku harus mengikuti ukuran Layout yang akan dibuat 'Sasuke-san' atau perlukah aku membuatnya sedikit lebih panjang untuk berjaga-jaga?"
Ngiiiiiiiiing...
Nyamuk melintas dan sekejap seisi ruangan menjadi hening.
"Kenapa?" tanya Sakura, bingung melihat semua orang yang memandang ke arahnya.
.
.
"Kukira aku ini bodoh dan kau lebih pintar." Gumam Naruto, Sakura langsung mendelik ke arahnya. Mereka berdua berjalan menuju kafetaria untuk mengambil puding setelah pertemuan singkat di ruang devisi Naruto tadi.
"Apa maksudmu?" tanya Sakura.
"Tidak ada, cuma pikiranku saja." Naruto tersenyum tipis dengan pandangannya mengarah ke depan. "Hn. Ini akan menarik." sambungnya dan Sakura menjadi sedikit penasaran.
"Nanti malam kau ada acara?" tanya Naruto saat mereka tiba di depan meja counter kafetaria.
"Tidak. Kenapa?"
"Studio mengadakan pesta halloween di club malam. Kau ikut kan?" Naruto memesan dua puding cokelat untuknya dan satu puding vanilla untuk Sakura pada pelayan kafetaria yang berparas sok charming.
"Kurasa tidak." Sakura menggeleng.
"Oh.., ayolaah, semua pegawai studio datang. Apa kau hanya akan berdiam diri di apartemen sambil melihat acara komedi bodoh itu? aku tau kau selalu menontonnya. Sekarang kan hari jumat."
"Memang apa salahnya menonton acara komedi?"
"Bersenang-senanglah. Kujamin di sana sangat menyenangkan."
"Satu puding vanilla dan dua puding cokelat." pelayan Kafetaria menyodorkan puding pesanan mereka.
"Aa. Terimakasih Genma." Naruto mengambil puding lalu menyodorkannya untuk Sakura. Genma hanya mengangkat kedua alisnya sambil melihat ke arah Sakura. Pegawai baru ya? mungkin itu yang ia pikirkan.
"Mencari kesenangan bukan hanya menghadiri acara halloween kan? maksudku kenapa aku harus berdandan seperti hantu bodoh sedangkan hantu asli akan mual melihatku." ucap Sakura.
"Lihat! kau sedang membuat lelucon, ini pengaruh acara komedi itu." tunjuk Naruto.
"Terserah kau saja." Sakura memutar bola matanya lalu beranjak pergi meninggalkan Naruto.
"Aku akan menjemputmu jam tujuh! bersiaplah!"
.
.
Pffffft...!"
Naruto menahan tawa saat melihat Sakura memakai kostum hantu Jepang mirip Sadako tapi ini versi feminimnya. Gadis itu mengenakan gaun putih polos dan ikat kepala segitiga. Rambutnya acak-acakan dan matanya dibuat mengitam. Jelas tidak ada Sadako berambut merah muda, ini adalah ide Naruto dan Sakura kaget saat melihat dirinya sendiri di kaca.
"Kau gila?! aku tidak akan pergi ke pesta bodoh itu dengan kostum ini!" Sakura melotot ke arah Naruto yang duduk di sofa ruang tengah, sudah satu jam mereka memilih-milih kostum yang cocok untuk Sakura. Mereka sampai menggotong cermin yang ada di kamar Sasori ke ruang tengah.
"Hahahahahah! jika semua Sadako berambut merah muda, ia akan menjadi hantu dengan selera fashion terburuk!" Naruto tak kuasa membendung tawa.
"Aku akan melepas ini. Aku tidak ikut!"
"Ah! ayolah Pinky, Ok-ok aku bercanda." Naruto berdeham, meredakan kegeliannya. "Bagaimana jika kau menjadi Hanako? si hantu toilet, dia berambut pendek dan memakai baju merah. Pas sekali denganmu! Kumohooon ikutlaaaah..." Naruto berlutut di hadapan Sakura, pria itu sangat ngotot membujuknya untuk ikut ke acara hallowen. Untuk apa? lagi pula tidak ada doorprice di sana. Buang-buang waktu saja.
"Hanako ya?" Sakura menimbang kembali keputusannya. "Boleh juga. Ok aku akan menjadi Hanako. Kau puas?" Sakura melangkah menuju kamar dan ia berhenti sejenak. "Emm... Kau yakin memakai kostum itu?" ia menunjuk Naruto dalam balutan kostum rubah ekor sembilan. Seharusnya mereka memajang Naruto di depan toko mainan anak-anak.
"Kenapa? ini keren kan? legenda rubah ekor sembilan jaman Shinobi. Kurama adalah roh rubah terkeren! kau tau itu..."
"Terserah kau saja." Sakura memutar bola matanya.
Beberapa menit kemudian merek menuju lokasi klub malam di pusat kota setelah sebelumnya menjemput Hinata yang nampak cantik untuk menjadi seorang hantu. Hinata memakai kimono dan rambutnya terurai panjang, ketika Sakura menayakan peran Hantu apa yang Hinata pilih, dengan malu-malu Hinata menjawab dirinya sebagai Yuki Onna, hantu wanita salju. Ok...
"Coba kutebak, apakah wanita di sana itu Karin?" Sakura berbisik pada Hinata sambil menutup kedua telinga. Karin berdiri memakai pakaian ketat, rok pendek, bahkan ada buntut di bagian roknya. Ia juga memakai bando bertanduk kecil dan tongkat dengan ujung segitiga yang runcing. Coba kita tebak, apa Karin menjelma menjadi iblis wanita penjabut hati pria malam ini? semoga para pria tidak melewati malam mengerikan mereka.
Suasana pesta di dalam klub tampak ramai, suara musik disko bergema dimainkan oleh DJ vampir keren di atas panggung sana. Lampu disko berputar-putar dan tampak para hantu menikmati malam itu. Sakura dan Hinata hanya berdiri di sudut ruangan memandang para hantu yang berlalu lalang sedangkan Naruto sudah hilang entah kemana.
"Hinata!" pria berpenampilan aneh, mungkin paling aneh, menghampiri Hinata. Pria itu beralis tebal, bermata bulat bersinar layaknya bolam lampu, ia mengenakan pakaian hijau super ketat dan membungkus kepalanya dengan helem, topeng, topi, entahlah apa itu namanya, yang jelas itu berbentuk payung yang panjang. Kasabake. Ya, pria ini menjadi Kasabake, hantu payung konyol yang tersohor itu.
"Lee-kun!" sapa Hinata, nada suaranya keras menyesuaikan musik disko yang bergema.
"Kau ke sini bersama siapa Hinata?!" Lee melirik Sakura yang ekspresinya sudah sangat menyatu dengan hantu Hanako. Pucat dan sedikit sekarat.
"Aku pergi bersama Naruto-kun! apa kau melihatnya?!" Hinata mengedarkan pandangan mencari sosok rubah berekor sembilan.
"Naruto ada di sana, sepertinya dia sedang mencari seseorang!" jawab Lee, ia melirik Sakura sekali lagi. Mengantarkan sinyal-sinyal ketertarikan.
"Hinata, maukah kau memperkenalkan hantu cantik di sebelahmu?!" Lee penuh percaya diri. Bulu kuduk Sakura sekejap merinding. Hantu apa yang barusan lewat?
"Ah! Benar! perkenalkan Sakura-chan, ini Lee-kun!" Lee menjabat tangan Sakura dengan erat, terpancar aura semangat yang membara pada mata pria itu. Sakura sedikit menarik paksa tangannya saat menyudahi bersalaman dengan Lee, tangannya seperti terjebak alat penjerat tikus.
"Aku Lee! aku di devisi layout 2D!" Lee menampakkan deretan giginya yang berkilau dan ini semakin menggelikan.
"Aduh!" rintihan seorang wanita tersengar. Lee serontak menoleh, menyadari rambut pirang yang tersangkut pada kostum payungnya.
"Ino..." wanita itu terlihat seksi mengenakan gaun kuno berenda yang sedikit terobek di belahan dada.
"Hinata? Sakura? Ah! Lee! payungmu merusak rambutku!"
"Maaf Ino, aku tidak sengaja!" Lee membenarkan payungnya.
"Hinata! Pinky!" Naruto muncul bersama Sai. Ino pun sedikit salah tingkah.
"Hai Ino.." sapa Sai dengan senyum charming yang khas. Ino pura-pura santai menanggapinya sambil membatin penampilan keren Sai dalam kostum Drakula. Tema itu cocok sekali untuk Sai yang memiliki kulit sangat putih dari lahir. Mungkin ibunya mengidam bayclin saat mengandung.
"Kau terlihat berbeda Ino, hantu...bangsawan?" Sai memperhatikan Ino dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Ya begitulah..." Ino terlihat menahan gejolak di dadanya.
"Apa kalian melihat Sasuke?!" tanya Naruto.
"Sakuke-san?! mungkin ia akan turun dari langit tengah malam nanti!" tidak ada yang tertawa dengan lelucon garing Lee.
"Hinata ikutlah denganku! Shino mengenakan kostum zombie serangga yang keren!" Naruto pun menarik tangan Hinata.
"Pinky ayo!" ajak Naruto tapi Sakura menolak, wajahnya seratus persen pucat dan ia harus pergi ke kamar mandi sekarang.
"Sakura-chan! bagaimana jika kita..." Lee belum menyelesaikan ucapannya, Sakura menghentakkan tangan dan lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
"Apa dia baik-baik saja?!" tanya Sai, pria itu mendekatkan wajahnya di samping kepala Ino yang sedang memandang heran ke arah Sakura.
"Entahlah...!" Ino lalu menoleh dan ia kaget. "Sai!" melonjak mundur ketika menyadari jarak mereka yang sangat dekat, wajah Ino merona, meninggalkan Sai yang tersenyum puas sementara Lee menjadi obat nyamuk.
.
.
"Hueeeeek... Hueeeekkkkk..."
Sakura memuntahkan semua isi dalam perutnya di dalam closet duduk. Mual begitu meraja lela. Wajah gadis itu pucat, keringat dingin membasahi dahi lebarnya. Sial. Tidak menyangka jika pesta hantu akan seramai ini. Sebenarnya, Sakura tidak tahan pada keramaian sesak di ruang tertutup. Apalagi ditambah suara gaduh yang sangat keras. Gadis itu hanya akan bertahan selama beberapa menit sebelum keringat dingin keluar dan pandangannya mulai berputar-putar diiringi rasa mual. Saat itu lah Sakura akan mencari air untuk membasuh kedua tangannya. Akan terlihat normal jika seseorang membasuh tangan dalam beberapa detik ke depan, tapi anehnya Sakura sudah menghabiskan setengah jam hanya untuk membasuh kedua tangannya. Jelas ada yang tidak beres dari gadis ini.
Sakura menatap kaca lalu mengusap keringatnya dengan tisu. Kondisi mentalnya mulai membaik. Berada di dalam toilet lebih nyaman dibandingkan di dalam klub sana. Sakura berniat untuk pulang setelah ini, persetan dengan Naruto yang sedang menggila dengan hantu lainnya. Sakura hanya ingin pulang lalu mendaratkan tubuhnya di kasur empuk milik Sasori.
'Selamat tinggal pesta hantu bodoh.'
masih membasuh tangan, gadis itu termenung sejenak sebelum beranjak. Perhatian lalu Sakura mengedar ke penjuru toilet melalui kaca. Sepi. Menyadari bahwa tidak ada seorang pun di dalam toilet itu. Bayangan hantu Hanako tiba-tiba terlintas di kepala dan hal itu mulai membuatnya sedikit paranoid. Mata Sakura waspada memandang sekitar toilet sampai ia terpaku ke arah benda yang tidak asing. Tunggu dulu, sejak kapan toilet wanita memiliki closet pria? apakah wanita sekarang mulai kencing berdiri atau jangan-jangan dia salah masuk toilet?
BANG!
Suara salah satu pintu di deretan toilet duduk terbuka. Sakura melonjak kaget. Jantungnya memacu cepat ketika mendengar suara langkah tanpa sosok mendekat.
"Si..Siapa?" Sakura tidak bergerak di depan wastafel, dan juga tidak dapat melihat sosok yang tengah berjalan di lorong deretan toilet duduk. Tidak ada respon dari pemilik langkah itu.
'Shit! Hantu Hanako'.
Sakura kaku, takut berlari keluar. Bayangannya mengambarkan, jika ia lari hantu Hanako akan mengejarnya, mengunci pintu kamar mandi lalu menyedot dirinya masuk ke dalam toilet dan menghabisi nyawanya. Ok ini aneh, tapi menurut legenda memang begitu.
"Kumohon.., jangan bunuh aku." mata Sakura terpejam. "Aku masih ingin bekerja, bertemu kakakku yang sebentar lagi sampai di bumi, merasakan jatuh cinta kalau bisa, dan hidup dalam kebahagiaaan. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu dengan menjadi dirimu."
Sakura mengoceh sembarang, matanya masih terpejam dan jantungnya semakin berdegup kencang. Suara langkah itu lalu berhenti tepat di hadapannya. Sakura yakin hantu Hanako sedang melotot padanya dan menunggu saat yang tepat untuk membuatnya mati jantungan. Akan tetapi, setiap manusia memiliki rasa penasaran yang tinggi dan rasa penasaran Sakura melibihi rasa takutnya saat ini. Gadis itu pun memberanikan diri untuk sedikit membuka mata, ia siap untuk segala penampakan yang ada.
"KYAAAAAAA...!"
Sakura menjerit. Tubuhnya spontan merespon untuk segera ambil tindakan. Sakura melesat keluar toilet, ia menubruk Shikamaru yang hendak masuk ke dalam, pria itu terheran-heran, memandang Sakura yang lari tunggang langgang. Shikamaru lalu menoleh ke dalam dan tersentak kaget dengan sosok berjubah hitam yang berdiri di depan wastafel, sosok itu lalu membuka topengnya.
Sakura lari terbirit-birit menghampiri Naruto yang sedang asik memukul boneka keledai berisi cokelat. tampak juga Konohamaru yang mengenakan kostum beruang mutilasi tengah berbincang bersama seorang pria mengenakan topeng leak dari bali. Serontak mereka melihat ke arah keributan Sakura, wajah gadis itu terlihat lebih pucat dari sebelumnya, tidak perduli pada orang-orang yang memandangnya penuh tanya.
"Aku melihat hantu! aku bersumpah!" Sakura panik sambil menggeret lengan kostum Naruto.
"Apa yang terjadi?! hantu?! dimana?!" Naruto bingung melihat kondisi Sakura yang cukup kacau itu. Hinata, Kiba, dan Ino menghampiri, khawatir dengan penampakan Sakura yang kini telihat lebih menyeramkan dari hantu Hanako.
"Di sana! toilet! tak berwajah!"
"Hei tenanglah! tenang! tarik nafas... tarik nafas...!" Naruto mencoba menenangkan Sakura, gadis itu perlahan mengikuti intruksi Naruto, ia menarik nafas dan menghembuskannya secara teratur.
"Naruto bisakah kita bicara di luar?! aku tidak tahan berada di sini!" Sakura tampak lebih rileks walau musik disko masih bergema menganggu mentalnya. Naruto dan Hinata menuntun Sakura untuk berdiri dan gadis itu ketika berbalik, Sakura menjerit sekali lagi.
"Hei tenanglah..., Kau! lepas topengmu!" Naruto meminta hantu tak berwajah di hadapan Sakura melepas topengnya.
"Sasuke?!"
Semua terkejut melihatnya. Pria itu mengenakan jubah hitam, memakai topeng hantu Noppera-bo, hantu berwajah datar, hantu tanpa muka. Shikamaru yang berdiri di belakang Sasuke hanya menggelengkan kepala.
'Merepotkan..."gumamnya.
.
.
"Hahahahahaha!" Naruto memecah tawa saat perjalanan pulang. Sakura menceritakan kejadian itu di dalam mobil. Hinata sebenarnya ingin tertawa tapi ia tidak tega ketika melihat wajah Sakura yang pasrah kelelahan.
"Bagaimana kau bisa salah masuk ke dalam toilet pria?!" Naruto mengusap cairan bening di ujung matanya.
"Aku sudah tidak bisa menahan, aku tidak melihat tanda toiletnya." Sakura berdengus memandang jalanan. "Aku seperti akan mati tadi."
"Aku ingin mendengar ceritanya dari Sasuke, hahahaha." Naruto tertawa lagi.
"Na-naruto-kun... sudahlah.. jangan tertawa lagi, kau sedang mengendari mobil." tegur Hinata secara halus.
"Lagi pula ada apa dengan orang itu? kenapa dia memakai topeng yang sangat aneh?" omel Sakura, mengingat Sasuke menjadi Noppera-bo versi dewa kematian. Datar dan dingin. Sangat menyatu.
"Tidak ada yang memakai topeng heloo kitty ke pesta halloween, Pinky.." sahut Naruto.
"Kau memakai kostum rubah."
"Sudah kubilang ini roh rubah. Bukan rubah biasa."
"Terserah kau saja."
"Bukankah tadi mengejutkan Sasuke-san datang ke pesta Halloween?" Hinata mengalihkan topik pembicaraan.
"Tentu saja dia akan datang. Aku yang membuatnya datang." jawab Naruto.
"Benarkah?"
"Ya... begitulah. Aku mengancam akan menghantuinya selama sebulan jika dia tidak datang, huaaaaa..." Naruto menakuti-nakuti Hinata yang duduk di sampinya dan dia terlihat bodoh.
"Hinata, maukah kau tidur di apartemenku malam ini?" ajak Sakura.
"Kau takut hantu Noppera-bo mendatangimu?" goda Naruto. "Tenang saja, Sasuke lebih menakutkan daripada itu."
"Bicara apa kau..., aku khawatir hantu itu akan muncul dari kolong tempat tidurmu." balas Sakura. Suasana di dalam mobil menjadi hening.
"Em... Pinky, bolehkan aku tidur di tempatmu malam ini?" tanya Naruto ragu-ragu.
