Title: Black Horse
Author: kingradin
Genre: School life
Main Pair: HunHan / Han! Fem / GS
Baek, Lay, Xiu, Tao, D.O all fem!
Rate : T
Seoul Foregin High School, Spring
Hari ini hari pertama tahun ajaran baru,dan pagi Luhan sudah dimulai dengan terobosan sinar fajar yang menyeruak masuk kedalam kamarnya tanpa ampun. Membuat gadis berpiyama sutra itu mengerang lirih, sementara seorang gadis lain dengan mata bulat hanya tertawa kecil mendapati respon Luhan atas ulahnya membuka jendela kamar lebar-lebar.
"Selamat pagi putri Luhan" canda gadis bermata bulat tersebut, menghampiri ranjangnya yang berseprai linen ungu muda yang terlihat begitu lembut. Ranjang ungu itu sudah tertata rapi, berbanding terbalik dengan ranjang berseprai merah muda di sebelahnya yang masih acak-acakan, tak lupa si empunya ranjang yang masih menggeliat nyaman diatasnya.
"Ugh..morning Kyungsoo" Luhan menyahut serak setelah meregangkan badannya dengan luwes layaknya seekor kucing. Dia menguap kecil, nampak tak acuh dengan teman sekamarnya yang menggeleng pasrah menatap kelakuan pewaris tunggal Xi Corporation.
"Cepat gosok gigi, mandi dan ganti baju nona muda..jika kau tak ingin terlambat" Kyungsoo mengedikan dagunya kearah jam dinding yang nyaris menunjuk angka setengah delapan. Tinggal tiga puluh menit tersisa dan Luhan rasa ia akan yah…sedikit terlambat di hari pertamanya masuk sekolah? Lagipula keping hazel jernih Luhan baru saja menyadari kalau Kyungsoo sudah terbalut seragam sekolahnya dengan rapi, rok kotak-kotak merah hitam dipadu blazer hitam dan sebuah dasi pita merah besar di lehernya melekat pas di tubuh mungil milik Kyungsoo. Membuat Luhan ingin cepat-cepat mengenakan seragam yang sama dengan Kyungsoo.
"Kau terdengar seperti bibi Merlin, Kyung" gerutu Luhan, menyisiri rambut pirangnya dengan jemarinya sendiri seraya berjalan malas menuju kamar mandi.
"Siapa itu bibi Merlin?" Tanya Kyungsoo bingung, matanya membulat membuat ekspresinya semakin menggemaskan.
"Pengasuhku" Luhan tertawa kecil dan langsung menutup pintu kamar mandi tanpa menunggu reaksi Kyungsoo yang berupa rengutan imut dari perempuan mungil itu.
Mereka berdua baru saja berkenalan kemarin, dan sebagai teman sekamar, Luhan pikir Kyungsoo adalah gadis yang imut serta menyenangkan untuk diajak ngobrol. Dia sedikit banyak bersyukur Kyungsoo lah teman sekamarnya, gadis itu termasuk tipe yang cukup sulit mempercayai orang lain semenjak dirinya dinobatkan menjadi pewaris tunggal Xi Corp. Setelah penobatan tersebut, Luhan bukan lagi perempuan yang mudah berteman dengan siapa saja, dia harus pintar-pintar membaca ekspresi orang lain, membaca apakah ada maksud tersembunyi dari pertemanan mereka. Dia tidak ingin orang lain mengajaknya berteman semata-mata karena simbiosis mutualisme atau komensalisme atau parasistisme atau apalah itu. Luhan tidak ingin teman yang hanya ingin kecipratan untung atau hanya karena ia seorang pewaris tunggal. Ia ingin mempunyai seorang teman yang benar-benar tulus. Dan Kyungsoo kemungkinan adalah teman yang tulus itu, dilihat dari cara perempuan mungil itu berinteraksi dengannya serta tingkahnya yang menggemaskan membuat Luhan tak bisa menolak pesona Kyungsoo.
.
.
Luhan baru saja keluar kamar mandi dan mendapati kamarnya telah kosong dengan ranjang merah mudanya yang sudah sangat rapi sekarang. Dapat gadis itu tebak kalau Kyungsoo lah pelaku utama dari ranjang miliknya, menilik Kyungsoo termasuk dalam golongan yang menjunjung tinggi kerapihan semenjak mengenalnya dua puluh empat jam yang lalu. Matanya melirik jam dinding yang sekarang menunjuk tepat jam delapan, dia menghela nafas. Perkiraannya benar tentang dirinya akan terlambat, dia bahkan belum sempat mengeringkan helai keemasannya yang basah.
"Aku harus bergerak cepat" serunya lebih kepada perintah untuk dirinya sendiri. Kakinya melangkah menuju meja rias di sudut kamar, meraih hair dryer putih lalu segera mengeringkan rambutnya. Dia tak punya banyak waktu untuk itu sehingga rambutnya masih setengah basah dan Luhan membiarkan rambutnya terurai begitu saja berharap angin akan mengeringkannya nanti. Ia buru-buru mengikat dasi pita lebarnya menyerupai simpul manis, tak mengancingkan blazernya dan langsung berlari keluar kamar setelah memakai sepatunya asal.
Derap langkahnya menggema memenuhi sepanjang koridor yang sudah sepi, Luhan rasanya kacau sekali. Ia bahkan tak dapat menemukan dimana kelasnya, tangannya menggenggam erat peta sekolahnya, disana tertulis kelas 1-2 ada di lantai empat, tapi dimana itu?
Perempuan itu sudah bolak-balik menyusuri lorong tapi rasanya semua kelas terlihat sama saja, tidak ada tanda-tanda adanya kelas 1-2 yang seharus sudah ia masuki sekarang.
'Ya Tuhan, kirimkan malaikat penolongmu' Luhan mendesah frustasi, dia tiba di sebuah perempatan, dan rasanya melihat peta sudah tak berguna lagi. Tangannya mengacak rambut pirangnya kesal, dia lelah berlari dari asrama ke bangunan sekolah yang jaraknya ampun-ampunan. Ditambah lift yang harusnya bisa ia gunakan sedang di perbaiki, jadi mau tak mau gadis itu harus bersusah-susah setengah berlari menaiki tangga ke lantai empat. Tuhan… Luhan tak sanggup lagi, perempuan itu memutuskan untuk bersandar pada dinding mengambil nafas sejenak. Matanya kembali melirik jam tangan bertahtakan butiran permata mungil yang di desain sedemikian rupa hingga terlihat sangat modis yang melingkar di pergelangan tangannya yang cantik. Sudah hampir jam sembilan dan dia melewatkan jam pertama pelajaran. Apa-apaan ini, semoga saja orang tuanya tak tahu kalau anak kesayangannya ini terlambat di hari pertama sekolah.
"Hey nona, apa yang kau lakukan disitu? Membolos hah?!" Luhan terkesiap mendengar sebuah suara menggema merambati dinding-dinding koridor yang sepi. Dia menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang siswa laki-laki dengan gaya yang sedikit angkuh menghampiri dirinya. Luhan tak dapat melihatnya begitu jelas mengingat dia tidak memakai kacamata minusnya sekarang.
"Ya! Kau membolos huh?" sekarang laki-laki itu sudah sampai tepat di depan hidung Luhan, dan tadaaa…tebak siapa? Dia.. Oh Sehun, siswa bergelarkan Student of The Year yang membuatnya berdebar kemarin sore.
"Eh~su-sunbae. Anii..tidak seperti itu" Luhan menggeleng panik, berusaha mencegah Sehun berfikir yang tidak-tidak lebih jauh lagi.
"Lalu apa yang kau lakukan disini anak baru?" sengit Sehun, matanya yang memang sipit memicing membuatnya semakin terlihat kecil. Luhan ingin mundur lagi, tapi dinding sialan di belakangnya sudah menahannya untuk tidak menjauh dari lelaki bernama Oh Sehun itu.
"Anu..sunbae. Sepertinya..aku tersesat?" cicit Luhan, ingin rasanya dia beringsut mengecil lalu hilang dari pandangan Sehun. Sehun menatapnya lama, tapi gadis itu tak bisa membaca sinar mata yang ada di dalam mata Sehun. Pikirannya nampak tak terbaca, namun semua itu langsung berakhir begitu Sehun menggamit pergelangan tangannya dan menyeretnya menyusuri koridor. Luhan tergagap-gagap, persis seperti ikan yang baru diangkat naik ke darat. Perempuan itu tak mengerti kondisi apalagi yang sedang terjadi sekarang.
"Dimana?" Tanya Sehun cepat, tak menghiraukan Luhan yang berlari kecil berusaha mengimbangi langkahnya yang besar-besar.
"Apanya?" Luhan terlihat seperti orang bodoh sekarang, matanya menatap punggung lebar Sehun di depannya.
Sehun berhenti tiba-tiba dan Luhan sukses menabrak punggungnya begitu saja tanpa ada usaha pengereman.
"Auw!" gadis itu berjengit pelan, mengelus ujung hidungnya yang baru saja menubruk punggung lelaki di depannya. Sehun berbalik, menatap Luhan datar dan kembali bertanya.
"Maksudku, dimana kelasmu anak baru? Kau ini, bagaimana bisa sih kau masuk sekolah ini" cibirnya. Luhan semakin mengkeret, tangannya masih di genggam erat oleh Sehun. Ia menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya yang panjang.
"Err..1-2" dan tak butuh waktu lama sebelum akhirnya Sehun kembali menyeret Luhan menyusuri koridor. Mengulang kembali kegiatan mari-mengimbangi-langkah-besar-sehun yang sempat tertunda beberapa menit lalu.
Mereka berhenti di depan sebuah ruang kelas dengan papan kayu cendana serta tinta keemasan bertuliskan 'Class 1-2'di atas pintunya. Sehun berbalik menghadap Luhan, melepas genggamannya dan menatap perempuan itu lamat-lamat.
"Sudah sampai" ujarnya datar.
"Ah? Ya baiklah, terima kasih banyak sunbae~"Luhan menunduk dalam, hendak mengetuk pintu kelas namun tangannya kembali di cegah Sehun.
"Ada apa lagi sunbae?" Tanya Luhan bingung, matanya berusaha mencari apa yang sedang di pikirkan oleh namja itu. Tapi nihil, entah kenapa Sehun begitu tak terbaca, membuat Luhan menjadi penasaran dengan kakak kelasnya yang satu ini.
"Sebaiknya kau mengingat jalan menuju kelasmu..nona Xi" Sehun mendesis berbahaya, tangannya naik dan seolah semuanya bergerak slow motion, jemari panjang Sehun dengan entengnya menoyor jidat Luhan hingga perempuan itu terdiam.
Demi apapun yang kudus di bumi, belum pernah ada seorangpun yang berani menoyor jidat berharga Luhan selama tujuh belas tahun sekian bulan ia hidup. Dan kejadian ini…cukup membuat gadis itu shock. Ya! Dia akan mengingat kejadian ini! Dia akan melingkari kalendernya dan Luhan akan menulis kejadian ini dengan stabilo merah besar di buku hariannya nanti sepulang sekolah.
.
.
"Kau beruntung sekali Miss Kim mau mengampunimu karena terlambat, Lu" Kyungsoo menyedot susu kotak rasa pisang yang ia beli dari kafetaria, tangannya memegang nampan berisikan steak domba serta beberapa kentang rebus yang dibumbui lada hitam menggoda dan juga saus yang membuat hidangan itu terlihat sangat menggiurkan. Berbeda dengan nampan milik Luhan yang berisikan seporsi sushi juga beberapa tempura serta salad. Mereka berjalan bersebelahan, mencari meja kosong untuk mereka tempati selama istirahat makan siang.
"Sepertinya semua meja penuh Lu" Kyungsoo mendesah kecewa, Luhan tersenyum kecil lalu berjalan ke sebuah meja di sudut ruangan.
"Kita bergabung saja dengan perempuan itu" sahut Luhan riang, ia menghampiri seorang siswa perempuan yang makan dengan khidmat sendirian di pojokan. Rambutnya hitam panjang, di kepang longgar tapi tidak nampak kampungan, terlihat sangat cocok malah dengan wajahnya yang sangat oriental.
"Halo, boleh kami bergabung disini?" Luhan sediit membungkuk, mencoba mendapatkan perhatian dari perempuan itu. Siswa perempuan tadi mendongak, membuat Luhan sedikit kaget karena terdapat kantung mata hitam di bawah matanya yang cantik.
"Ah..ya, tentu saja" suaranya terdengar lembut dan kecil sampai-sampai Luhan harus mendengarkan dengan amat seksama. Luhan dan Kyungsoo bergumam terima kasih, kemudian mengambil duduk di seberang gadis itu.
"Hai, namaku Xi Luhan" Luhan tersenyum pada gadis di depannya. Dia tampak malu-malu, kepalanya menunduk membuat helai helainya yang hitam legam sedikit jatuh menutupi wajahnya.
"Hai..err..namaku Hwang Zitao" dia tersenyum malu, suaranya kecil dan merdu sementara logat cina terdengar kental dari kalimatnya barusan.
"Hai, aku Kyungsoo..teman Luhan. Kami dari kelas 1-2" Kyungsoo tersenyum kecil, tangannya sibuk memotong daging domba di piringnya menjadi potongan-potongan kecil yang dapat muat dimasukkan ke dalam mulutnya yang mungil.
"Senang bertemu dengan kalian Luhan, Kyugsoo. Aku kelas 1-1" Zitao kini mula berani mengangkat wajahnya, menampilkan senyum manis yang terlihat sangat pas di wajahnya yang tirus.
"Wahh~kau pasti sangat pintar ya Zitao-ssi" bibir mungil Luhan membulat kagum lalu meletakan sumpitnya sebelum bertepuk tangan kecil dengan heboh. Membuat Zitao merona malu dan memainkan helai rambutnya yang keluar dari ikatan.
"Xie xie" Zitao mengangguk kecil, sangat manis sementara tangannya sibuk mengaduk aduk kuah sup miso yang masih mengepul dari mangkuk di depannya. Luhan mulai menyuap segulung sushi kedalam mulutnya, merasakan telur salmon dan buah alpukat yang melebur jadi satu, menciptakan perpaduan rasa dan memenuhi tiap sudut rongga mulutnya. Perempuan itu mendesah senang, rasa lelahnya lenyap begitu saja setelah menyantap hidangan makan siang hari ini. Dia tak pernah merasa sehidup ini lagi sejak kedua orang tuanya mengasingkan anak semata wayangnya itu dari dunia luar. Mengurungnya seharian di rumah, home schooling, belajar tata krama, belajar piano, manajemen keuangan dan banyak lagi..hah..semua itu membuat kepala Luhan berdenyut nyeri. Beruntung tempat pengasingannya kali ini membuatnya dapat merasakan kembali masa remajanya yang ia rasa sempat hilang.
.
.
Luhan hanya tertawa kecil menanggapi candaan Kyungsoo dan Zitao yang asyik membicarakan beberapa film komedi yang sedang hot di korea akhir-akhir ini. Pengetahuan gadis itu tentang film yang sedang ngetrend sangatlah minim, bagaimana bisa ia update film apa yang sedang in sementara ia harus menyantap buku manajemen yang tebalnya melebihi novel Harry Potter ketujuh, jadi untuk menghindari orang lain menangkap kebodohannya itu lebih baik Luhan diam dan menjadi pendegar yang baik.
Dia mengunyah tempura terakhirnya sebelum meletakan sumpit alumuniumnya tenang di sisi piring yang sudah bersih. Kyungsoo dan Zitao masih asyik ngobrol, dan Luhan tak tahu harus menimpali apa. Manik mata hazel jernihnya melirik jam tangan yang terletak di atas urat nadinya, masih tiga puluh menit lagi sebelum bel masuk, dia melarikan bola matanya ke sekeliling ruangan. Mendapati siswa siswi yang asyik bercengkrama satu sama lain, dan bisa Luhan pastikan kebanyakan sedang membicarakan harta kekayaan mereka masing-masing. Dilihat dari bagaimana segerombolan siswi di meja yang tak jauh darinya tertawa sombong satu sama lain.
"Kemarin kami bertemu dengan pewaris tunggal Xi Corp" tiba-tiba saja selintas suara berat dan sedikit keras menegur pendengaran Luhan. Sudah ia bilang kalau telinganya itu sangat sensitive dengan kata 'pewaris tunggal Xi Corp'. Tak butuh waktu lama sampai mata cantik Luhan menemukan dimana dirinya sedang di perbincangkan. Mejanya tak jauh dari meja Luhan duduk, gadis itu memicingkan matanya dan mendapati Chanyeol yang menjulang walau sedang duduk tengah bermesraan dengan gadis mungil yang ia kenali sebagai Baekhyun.
Luhan mengutuk dua makhluk itu dalam hati karena melupakan dirinya dalam acara tur keliling sekolah kemarin sore, seenak jidat saja meninggalkan gadis seorang diri di tempat yang ia tak kenal sama sekali. Dia menajamkan pendengarannya walau agak terganggu dengan cekikikan Zitao yang Luhan tak sangka bisa seheboh itu.
"Namanya Luhan, Yeollie~" Luhan menahan ekspresi ingin muntahnya ketika Baekhyun meninju pelan dada bidang Chanyeol dan namja itu meringis sakit pura-pura. Ya ampun, drama picisan apalagi yang sekarang menodai matanya? –'
"Oh ya, aku mellihatnya kemarin saat di lobi, dia terlihat seperti anak hilang kau tau" sebuah suara berat lainnya menimpali, suara yang berasal dari seorang yang tak kalah tingginya dengan Chanyeol. Seragamnya agak sedikit berantakan sementara rambutnya acak-acakan –mungkin sengaja- tapi membuatnya terlihat keren, tak lupa wajahnya yang sedikit kebarat-baratan semakin membuat pesona dan karisma terpancar gila-gilaan dari dirinya.
"Ya, dia memang anak hilang~" suara lain yang terasa familiar menyahuti si namja tinggi. Kali ini jantung Luhan serasa berhenti berdenyut, sesosok laki-laki yang sangat ia hapal wajahnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Oh Sehun.
Laki-laki itu sibuk membalik halaman Koran sekolah di atas meja, tak begitu menggubris teman-temannya yang kembali sibuk berdiskusi tentang si pewaris tunggal Xi Corp. Luhan nyaris tak bisa mengalihkan pandangannya dari namja itu, ia merasa seperti terpaku pada tiap lekukan garis wajah Sehun. Pikirannya mulai dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang sunbae-nya yang misterius sementara gadis itu tak menyadari kalau sekarang ia sudah ditatap sedemikian rupa oleh Kyungsso dan Zitao.
"Luhannie~" Kyungsoo mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Luhan, gadis itu mengerjap kaget dan menyambar tangan Kyungsoo reflex.
"Apa yang sedang kau tatap sih?" Zitao kali ini ikut bertanya, membalikan badannya dan mengikuti kemana arah pandang Luhan tertuju. Perempuan cina itu terkesiap kaget, tangannya menutup mulutnya yang terbuka sedikit sementara mata pandanya membulat, sedetik kemudian rona merah muda mewarnai pipinya yang tirus.
"Ada apa?" Kyungsoo menatap Zitao bingung, matanya semakin terlihat besar dan Luhan tak tahan lagi untuk tidak mencubit pipi gadis di sampingnya ini dengan alasan gemas.
"Kau naksir dia?" perempuan cina itu mencondongkan tubuhnya kearah Luhan sambil berbisik seolah ini adalah top secret yang benar-benar tak boleh orang ketahui. Luhan mengernyit bingung, alisnya bertaut lalu menatap Kyungsoo yang sama tidak tahunya.
"Siapa yang siapa?" Luhan ikut berbisik, menatap blank kearah Zitao. Perempuan cina itu melirik meja dimana Sehun dan teman-temannya berada.
"Kris ge?"
"HAH?" oke, tolong siapa saja sembunyikan Luhan dari tatapan-tatapan lapar para siswa yang seolah ingin menerkamnya. Luhan membekap mulutnya sendiri, tak lupa Kyungsoo yang turut serta membekap mulut Luhan sampai gadis itu megap-megap kehabisan nafas.
"Lepaskan aku Kyung~" Luhan menggerutu, melepaskan tangan Kyungsoo dari mulutnya sementara gadis mungil di sebelahnya nyengir tak berdosa.
"Siapa pula itu Kris ge" tangan Luhan naik mengusap wajahnya frustasi. Zitao mengedikan bahunya sambil mengaduk sisa kuah sup miso di mangkuknya.
"Itu, yang tinggi dengan wajah kebarat-baratan. Mantan pacarku" perempuan cina itu menjawab santai sebelum menyeruput jus strawberrynya dengan anggun. Luhan ternganga, ya ampun…semuanya salah paham disini. Gadis itu sampai tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau bisa main ke kamarku kapan-kapan untuk minta tips bagaimana menakluan Kris ge~" Zitao lagi-lagi membuka suaranya, dan ekspresi Luhan sudah seperti orang yang tidak buang air besar seminggu.
.
.
Suara goresan pena dan kertas yang beradu memenuhi ruang kelas, tak ada suara selain hembusan nafas masing-masing dan coretan pena ke kertas. Seluruh siswa sedang sibuk mengerjakan soal latihan matematika dengan tenang dan khidmat, termasuk Luhan dan Kyungsoo yang duduk di belakang.
Luhan memilin rambutnya kala menemui soal yang sedikit membuatnya mengernyit tak mengerti, sementara gadis di sebelahnya asyik mengerjaan tumpuan kertas soal itu tanpa ada hambatan sama sekali.
Knock..knock..knock..
Pintu di ketuk, membuat ruangan yang tadinya sunyi senyap langsung menggemakan suara ketukan. Seorang namja dengan seragam yang begitu rapi mengulas senyum kepada seluruh penjuru kelas termasuk kearah Miss Lee yang sekarang menaikan sebelah alisnya penuh tanya. Di belakangnya terdapat seorang siswi dengan rambut coklat gelap di kuncir kuda tinggi tinggi, menampakan lehernya yang jenjang. Bibirnya turut mengulas senyum, menciptakan sebuah lesung pipi yang manis di sana.
"Ada keperluan apa Junmyeon-ssi?" Miss Lee menatap dua orang siswa itu dari mejanya, sementara namja yang di panggil Junmyeon beserta asistennya menghampiri wanita paruh baya tersebut.
"Saya mohon waktunya sebentar untuk mendata ekstrakulikuler apa yang akan dipilih para murid baru, Miss Lee" lagi-lagi lelaki bernama Junmyeon itu tersenyum manis. Beberapa siswi tampak berkasak-kusuk membicarakan lelaki di depan kelas itu. Miss Lee hanya mengangguk, mempersilahkan Junmyeon dan asistennya yang manis ekerja.
Junmyeon melangkah ke tengah-tengah, berdehem seraya menatap seluruh isi kelas.
"Halo semuanya, perkenalkan aku Kim Junmyeon, ketua siswa tahun ini. Hari ini aku akan membagikan formulir ekstrakulikuler yang harus kalian isi, disana juga ada jadwal ekstrakulikuler kalian dan kegiatan akan dimulai minggu depan. Mohon semuanya untuk ikut aktif dalam kegiatan sekolah, terima kasih" pidatonya singkat, pada, dan jelas. Tak lupa senyuman yang seperti enggan pergi dari wajah tampannya yang menenangkan. Luhan bisa mendengar Junmyeon memanggil asistennya 'Yixing'dari tempatnya berada.
Yixing membagikan seluruh formulir dengan senyuman manisnya, beberapa siswa laki-laki terlihat mengerling kearah Yixing membuat perempuan itu berdehem gugup. Dia melirik Junmyeon dan namja itu hanya membalasnya dengan senyuman.
Luhan sudah mendapatkan formulirnya, matanya naik turun membaca berbagai macam pilihan di kertas putih itu. Dia melirik Kyungsoo yang langsung mencentang kolom memasak disana.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia bingung, matanya berlari ke seluruh kelas melihat bahwa teman-temannya yang lain sudah asyik membicarakan ekskul apa yang mereka pilih, sementara kertas di genggaman Luhan masih belum terjamah. Gadis itu semakin bingung, matanya menatap kosong keluar jendela dan detik berikutnya yang terjadi adalah…sebuah kepala berambut coklat terlihat menyembul berjalan disana, Luhan nyaris tersedak ludahnya sendiri ketika menyadari bahwa orang yang sedang lewat di sebelah kelasnya itu adalah Sehun.
Tring!
Entah ilham darimana, tapi sekarang tangan Luhan bergerak sendiri mencentang kolom berkuda.
TBC
oke, ini gajels, ga greget, dan TBC-nya ga banget T^T ya pokoknya kritik dan saran di tunggu lah yaaa~ :*
