1
SANG PUTRI DAN SI PENYIHIR
.
.
.
Seumur hidupnya, Soojung menanti untuk diculik. Malam ini, anak-anak lainya di Jangho gelisah di tempat tidur. Jika Sang Guru datang menculik, mereka tidak akan pernah bisa kembali. Tidak akan pernah bisa menjalani kehidupan seutuhnya. Tidak akan pernah bisa bertemu dengan keluarga mereka lagi. Malam ini mereka bermimpi tentang penculik bermata merah dan bertubuh raksasa datang merenggut mereka dari tempat tidur.
Namun Soojung justru memimpikan pangeran.
Dia tiba di sebuah pesta dansa istana yang digelar untuknya, tetapi ternyata aulanya dipenuhi para pelamar tanpa seorang gadis pun yang tampak. Untuk pertama kalinya, para pemuda yang layak mendampinginya hadir di sini, pikir Soojung seraya melewati mereka. Rambut tebal berkilau, otot-otot menonjol dari balik kemeja ketat, kulit mulus kecokelatan, wajah tampan dan terawat sebagaimana mestinya pangeran.
Namun ketika dia baru saja akan menghampiri satu orang yang tampak lebih baik di antara yang lain, yang bermata biru cemerlang dengan rambut berwarna putih pucat, satu-satunya yang memberi kesan Kebahagiaan Abadi–sebuah palu menghantam dinding-dinding ruangan dan menghancurkan para pangeran menjadi berkeping-keping.
Mata Soojung menjumpai pagi. Palunya memang sungguhan, pangerannya tidak.
"Appa, kalau aku tidak tidur sembilan jam, mataku akan kelihatan bengkak."
"Semua orang mengoceh bahwa kau yang akan diculik tahun ini," ujar ayahnya sambil memaku papan berbentuk tak keruan ke jendela kamarnya, yang kini terhalang gembok-gembok, paku-paku, dan sekrup. "Mereka menyuruhku mencukur rambutmu dan memoles wajahmu dengan lumpur. Memangnya aku percaya dengan omong kosong dongeng itu? Tapi tidak ada yang bisa masuk ke sini malam ini. Itu pasti." Dipukulkanya palu keras-keras untuk menegaskan kalimatnya.
Soojung mengusap-usap telinganya dan langsung cemberut saat memandang jendela yang tadinya cantik, sekarang tampak seperti yang biasa terlihat di sarang penyihir.
"Aku tidak tahu kenapa mereka semua berpikir kau yang akan dibawa pergi," ujar ayahnya, rambut keperakannya basah oleh keringat. "Kalau memang kebaikan yang diincar Sang Guru itu, dia seharusnya membawa anak Jihyun."
Soojung menegang, "Jinri?"
"Dia anak yang sempurna," kata ayahnya. "Selalu membawakan appanya masakan rumah untuk makan siang di pabrik penggilingan, lalu memberikan sisanya untuk nenek gelandangan di alun-alun."
Soojung mendengar nada tajam dari suara ayahnya. Dia tak pernah sekali pun memasak menu makanan lengkap untuk ayahnya, bahkan setelah ibunya meninggal. Tentu saja, dia punya alasan yang bagus (minyak dan asap dapat menyumbat pori-pori kulitnya), tetapi Soojung tahu ini topik sensitif. Toh bukan berarti ayahnya jadi kelaparan. Dia menawarkan makanan-makanan kesukaannya sendiri pada ayahnya: samyang, sup kimchi, jajangmyeon, dan ramyeon.
Ayahnya tidak menggembung layaknya balon seperti ayah Jinri, justru karena Soojung tak pernah membawakan bibimbap atau japchae buatan rumah ke pabrik penggilingan. Dan si nenek gelandangan di alun-alun itu, perempuan tua jelek itu, meskipun mengaku kelaparan dari hari ke hari, tetapi badannya gemuk. Jika itu ada sangkut pautnya dengan Jinri, maka gadis itu sama sekali tidak baik, melainkan jenis iblis yang paling buruk.
Soojung membalasnya dengan senyum. "Seperti kata appa, itu semua omong kosong." Ia turun dari tempat tidurnya dengan anggun lalu membanting pintu kamar mandi.
Soojung mengamati wajahnya di cermin. Bangun mendadak telah menampakkan akibatnya. Rambut sepanjang pinggangnya yang bak untaian benang emas, tidak sekemilau biasanya. Warna hijau-giok matanya terlihat pudar. Bibir merahnya yang mengilap kini mengering. Bahkan kilau kulit lembutnya yang secerah buah persik pun memudar. Tapi tetap saja seorang putri, pikirnya.
Ayahnya tidak menadari keistimewaannya, tetapi ibunya bisa. "Kau terlalu cantik untuk dunia ini, Soojung," ucapnya sambil menghembuskan napas terakhir. Ibunya sudah pergi ke tempat yang lebih baik, dan sekarang begitu pula dengan dirinya.
Malam ini Soojung akan dibawa ke hutan. Malam ini dia akan memulai hidup baru. Malam ini dia akan menjalani kehidupan dongengnya.
Sekarang, dia harus bersiap-siap supaya bisa tampil sempurna untuk kesempatan itu.
Sebagai permulaan, Soojung mengoleskan telur ikan pada kulitnya. Baunya memang seperti kaki kotor, tetapi bisa menghilangkan noda di wajah. Lalu pemijatan menggunakan pure labu dan dibilas susu kambing, selanjutnya menutup wajah dnegan campuran melon dan kuning telur penyu.
Sambil menunggu maskernya mengering, Soojung membalik-balik buku dongeng dan menyesap jus timun agar kulitnya halus dan lembap. Dia langsung membuka bagian kesukaannya, saat si penyihir tua jahat digulingkan menuruni bukti di dalam gentong kayu berpaku, sampai yang tersisa hanyalah gelangnya yang terbuat dari tulang anak laki-laki.
Seraya memandangi gelang mengerikan itu, Soojung merasa pikirannya beralih pada ketimun. Bagaimana kalau tidak ada timun di hutan? Bagaimana kalau putri-putri lainnya sudah menghabiskan stok timun di hutan? Tidak ada timun! Dia akan keriput, dia akan kering, dia akan jadi...
Serpihan melon kering jatuh ke halaman buku. Soojung menoleh ke cermin dan melihat alisnya bertaut cemas. Kalau begini, siang nanti dia sudah berubah jadi nenek-nenek jelek. Dia menenangkan wajahnya dan menyingkirkan pikiran tentang sayuran.
Setelah acara berdandan yang mendetail selama dua jam, Soojung melangkah keluar rumah mengenakan gaun berbahan ringan berwarna merah muda, sepatu kaca hak tinggi berkilau, dan rambut yang dikepang sempurna.
Sahabatnya tinggal di pekuburan. Mengingat kebenciannya akan hal suram, berwarna abu-abu, dan redup, orang pasti mengira Soojung sering menerima tamu di pondoknya atau mencari sahabat baru. Namun, dia justru mendaki ke rumah di puncak Bukit Kuburan setiap hari selama seminggu ini sambil terus tersenyum, karena bagaimanapun memang itulah inti dari kebajikan.
Suara palu menggema di sepanjang jalan depan pondok-pondok selagi Soojung melewati para ayah yang tengah membuat penghalang pintu, ibu-ibu yang menghias orang-orangan sawah, anak laki-laki dan perempuan duduk menelungkup di serambi dengan wajah tersembunyi di balik buku dongeng.
Pemandangan ini tidak aneh, mengingat tak banyak yang dilakukan anak-anak Jangho selain membaca dongeng. Empat tahun lalu, dia sudah melihat keputusasaan serupa untuk menangkal kutukan itu, tetapi saat itu belum gilirannya. Sang Guru hanya akan membawa anak yang sudah melewati tahun ke-12, mereka yang sudah tidak bisa didandani sebagai anak-anak.
Kini tibalah gilirannya.
Ketika mendaki ke Bukit Kuburan sambil menenteng keranjang piknik, Soojung merasa pahanya panas. Apakah kakinya jadi kencang karena sering mendaki? Semua putri di buku dongeng punya proporsi tubuh yang sempurna. Paha kencang sama mustahilnya dnegan hidung bengkok atau kaki besar.
Sojung berusaha mengalihkan pikirannya dengan menghitung kebaikan yang dia lakukan sehari sebelumnya. Lalu pikirannya beralih pada timun. Mungkin nanti dia bisa menyelundupkan persediaannya sendiri ke dalam hutan. Tapi bukankah timun itu berat? Oh, mungkin sebaiknya dijadikan jus dulu sebelum dia–
"Kau mau ke mana?"
Soojung menoleh. Jiwon, si gigi tonggos berambut hitam, tersenyum kepadanya.
"Menemui teman," jawab Soojung.
"Kenapa kau berteman dengan penyihir itu?" tanya Jiwon.
"Dia bukan penyihir."
"Dia aneh dan tidak punya teman. Itu artinya dia penyihir."
Soojung menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa kalau demikian, Jiwon pun seorang penyihir. Akhirnya, Soojung hanya tersenyum untuk mengingatkan Jiwon bahwa dirinya sudha berbuat kebajikan dengan menerima kehadirannya.
"Sang Guru akan membawanya ke Sekolah Kejahatan," ujar Jiwon. "Lalu kau membutuhkan teman baru."
"Dia membawa dua anak," kata Soojung, rahangnya menegang.
"Yang satu lagi Jinri. Tak ada yang sebaik Jinri."
Senyum Soojung pudar.
"Tapi aku mau jadi teman barumu nanti," kata Jiwon.
"Aku sudah kebanyakan teman," bentak Soojung.
Raut muka Jiwon berubah jadi sewarna raspberry. "Oh, iya ya... Tadinya kupikir..." Dia berlari seperti anjing yang baru ditendang.
Soojung mengawasi rambut acak-acakan Jiwon menuruni bukit. Oh, kau benar-benar mengacaukannya sekarang, pikirnya. Kebajikan selama berbulan-bulan, senyuman-senyuman yang dipaksakan, sekarnag sia-sia karena Si Tonggos Jiwon. Kenapa tidak tinggal jawab saja, "Aku merasa tersanjung kalau kau jadi temanku!" dan memberikan si bodoh itu momen yang bisa dikenang selama bertahun-tahun.
Soojung membuka pintu pagar pekuburan yang sudah berkarat dan merasakan rumput-rumput liar menggores kakinya. Di puncak bukit, batu-batu nisan lapuk menancap secara acak dan tertutup daun-daun kering yang membukit. Seraya menempil di antara pusara-pusara suram serta ranting-ranting yang membusuk, Soojung terus menghitung barisan pusara dengan saksama. Dia belum pernah melihat makam ibunya, bahkan pada saat pemakamannya, dan dia tidak mau hari ini jadi yang pertama kalinya.
Di tengah-tengah pekuburan yang paling padat, berdirilah Bukit Kuburan nomor 1. Rumah itu tidak diberi penghalang pintu ataupun dikunci mati seperti pondok-pondok di tepi danau, tetapi tetap saja menarik perhatian. Lumut hijau berkilau di tangga menuju serambi. Dinding kayu gelapnya dijalari pohon-pohon dan tetumbuhan rambat mati. Atapnya yang runcing, hitam, dan ramping, menjulang bagai topi penyihir.
Sambil menaiki tangganya yang berderit keras, Soojung berusaha mengabaikan bau tak sedap campuran bawang putih dan kucing basah, serta mengalihkan pandangannya dari serakan bangkai-bangkai burung tanpa kepala. Sudah pasti korban si kucing basah.
Diketuknya pintu dan mempersiapkan diri untuk bertengkar.
"Pergi saja," terdengar suara serak itu.
"Bukan begitu cara berbicara pada sahabatmu," rayu Soojung.
"Kau bukan sahabatku."
"Kalau begitu siapa?" tanyanya.
"Bukan urusanmu."
Soojung menarik napas kuat-kuat. Dia tidak ingin ada insiden Jiwon lagi. "Kemarin kita bersenang-senang, Kyungsoo. Kupikir kita bisa melakukannya lagi."
"Kau mewarnai rambutku jadi jingga."
"Tapi sudah kita perbaiki, kan?"
"Kau selalu menguji coba krim dan ramuanmu padaku untuk melihat hasilnya."
"Bukankah memang itu gunanya teman?" tanya Soojung. "Untuk saling menolong?"
"Aku tidak akan pernah bisa jadi secantik dirimu."
Soojung mencari kalimat yang manis untuk diucapkan. Dia berpikir terlalu lama hingga terdengar suara langkah sepatu menjauh.
"Bukan berarti kita tidak bisa berteman!" teriak Soojung.
Seekor kucing botak dan keriput yang sudah sering dilihatnya, menggeram dari seberang serambi. Soojung melesat ke pintu. "Aku bawa kue!"
Langkah sepatu berhenti. "Kue betulan atau kue buatanmu?"
Soojung menjauhi si kucing yang berjalan mengendap. "Renyah dan banyak mentega seperti yang kau suka!"
Si kucing mendesis.
"Kyungsoo-ya, biarkan aku masuk..."
"Katamu aku bau."
"Kau tidak bau."
"Lalu kenapa kau bilang begitu waktu itu?"
"Karena waktu itu kau memang bau! Yak, Kyungsoo, si kucing melepeh–"
"Mungkin dia mencium niat terselubung."
"Kyungsoo, buka pintunya!"
Si kucing menerkam wajahnya. Soojung berteriak. Sebuah tangan menyela mereka dan menghantam si kucing.
Soojung mendongak.
"Reaper kehabisan burung," ujar Kyungsoo.
Rambut Kyungsoo yang hitam berbentung kubah konyol tampak seperti dilumuri minyak. Gaun hitamnya mengembung, tanpa lekuk seperti karung kentang, tak bisa menyembunyikan kulit pucat menyeramkan dan tonjolan tulangnya. Mata bulat menyembul di wajahnya.
"Kupikir kita bisa jalan-jalan," kata Soojung.
Kyungsoo bersandar pada pintu. "Aku masih berusaha mencari tahu kenapa kau mau berteman denganku."
"Karena kau manis dan lucu," jawab Soojung.
"Kata ibuku, aku ini sengit dan penggerutu," kata Kyungsoo. "Jadi, salah satu dari kalian pasti berbohong."
Kyungsoo memasukkan tangannya ke keranjang milik Soojung dan membuka serbet yang menutupi kue tepung sekam tanpa mentega. Kyungsoo memandang Soojung dengan penuh hina lalu kembali masuk ke rumah.
"Tidak bisakah kita mengobrol?" tanya Soojung.
Kyungsoo baru akan menutup pintu, tapi dilihatnya wajah memelas Soojung.
"Sebentar saja." Kyungsoo melewatinya dengan langkah berat. "Tapi kalau kau mengatakan apa pun yang sok atau sombong atau dangkal, aku akan emnyuruh Reaper membuntutimu ke rumah."
Soojung berlari mengejarnya. "Tapi kalau begitu, aku tidak bisa mengobrol!"
.
.
.
Setelah empat tahun, malam kesebelas pada bulan kesebelas itu pun tiba. Menjelang matahari terbenam, alun-alun menjadi sarang persiapan kedatangan Sang Guru. Para pria mengasah pedang, memasang jebakan, dan merencanakan jaga malam. Sementara para wanita membariskan anak-anak dan mulai bekerja.
Anak-anak berwajah tampan dan cantik dipotong rambutnya, giginya dihitamkan, dan pakaian mereka dibuat compang-camping; bagi yang biasa saja dimandikan, dibalut pakaian-pakaian berwarna terang, dan dilengkapi dengan cadar.
Para ibu memohon anak-anak mereka yang berkelakuan paling baik untuk menendangi dan mengumpat saudara-saudara perempuan mereka, yang paling nakal disuap untuk berdoa di gereja, sementara yang tersisa di barisan dipimpin untuk menyanyikan himne desa: "Terberkatilah yang Bersahaja."
Rasa takut menjalar seperti kabut yang mewabah. Di lorong remang-remang, tukang daging dan pandai besi bertukar buku dongeng yang berisi petunjk cara menyelamatkan putra-putra mereka. Di bawah menara jam bengkok, dua saudaea perempuan mendata nama-nama penjahat yang diburu untuk mendapatkan pola.
Sekelompok anak laki-lak merantai tubuh mereka menjadi satu, segelintir anak perempuan bersembunyi di atap sekolah.
Kyungsoo melongo, menyaksikan sema itu dengan pandangan tak percaya. "Bagaimana bisa seluruh isi desa percaya pada dongeng?"
"Karena itu memang nyata."
Kyungsoo berhenti melangkah. "Kau tak mungkin percaya bahwa legenda itu memang benar."
"Tentu saja aku percaya," kata Soojung.
"Bahwa seorang guru menculik dua anak, membawa mereka ke sekolah, seorang mempelajari Kebaikan dan seorang lagi mempelajari Kejahatan, lalu mereka lulus sebagai dongeng?"
"Sepertinya begitu."
"Tolong beri tahu aku kalau ada oven."
"Untuk apa?"
"Aku mau memasukkan kepalaku ke sana. Dan tolong beri tahu aku, memangnya apa yang mereka ajarkan di sekolah itu?"
"Yah, di Sekolah Kebaikan, mereka mengajari anak laki-laki dan perempuan seperti aku; cara menjadi pahlawan dan putri, bagaimana cara memimpin kerajaan secara adil, bagaimana cara menemukan Kebahagiaan Abadi," jelas Soojung. "Di Sekolah Kejahatan, mereka akan mengajarimu cara menjadi penyihir kejam, cara menerapkan kutukan, dan merapalkan mantra jahat."
"Mantra jahat?" Kyungsoo mendengus. "Siapa yang mengarangnya? Anak umur empat tahun?"
"Kyungsoo, buktinya ada di buku-buku dongeng! Kau bisa melihat anak-anak yang hilang itu pada gambar-gambarnya."
"Aku tidak melihat apa-apa, karena aku tidak pernah membaca buku-buku dongeng tolol."
"Lalu kenapa ada setumpuk buku dongeng di samping tempat tidurmu?" tanya Soojung.
Kyungsoo merengut. "Begini ya, siapa yang bilang buku-buku itu memang nyata? Mungkin ini tipuan penjual buku. Mungkin ini hanya siasat para orangtua supaya anak-anak tidak pergi ke hutan, apapun penjelasannya dan bukan karena Sang Guru."
Soojung mengerutkan alisnya, "Lalu siapa yang menculik anak-anak itu?"
"Tidak ada. Empat tahun sekali, dua anak tolol menyelinap ke hutan, berharap bisa menakut-nakuti orangtuanya, tapi malah tersesat atau dimakan serigala. Dan legenda itu pun berlanjut."
"Itu penjelasan paling bodoh yang pernah kudengar."
"Menurutku, bukan aku yang sedang bersikap bodoh." Tukas Kyungsoo.
"Kau hanya takut."
"Yang benar saja," Kyungsoo tertawa. "Kenapa aku harus takut?"
"Karena kau tahu sendiri kau akan pergi bersamaku."
Kyungsoo berhenti tertawa. Pandangannya beralih ke alun-alun di belakang Soojung. Para penduduk desa menatap mereka seakan mereka adalah jalan keluar misteri ini. Si Baik berpakaian pink, Si Jahat berpakaian hitam. Pasangan sempurna untuk Sang Guru.
Kemudian, di tengah-tengah keramaian, Soojung melihatnya.
Gundul, berpakaian kotor, Jinri berlutut dan melumuri wajahnya sendiri dengan lumpur. Soojung menghela napas. Jinri sama saja seperti yang lain. Dia menginginkan pernikahan yang menjemukan dengan seorang laki-laki yang kelak menggemuk, malas, dan penuntut. Dia ingin menjalani hari-hari membosankan sambil memasak, bersih-bersih, dan menjahit. Dia ingin membusuk di Jangho sampai bercak-bercak cokelat muncul di kulitnya dan giginya ompong.
Sang Guru tidak akan pernah membawa Jinri, karena dia bukan seorang putri.
Dengan perasaan senang, Soojung berseri-seri membalas tatapan penduduk desa yang menyedihkan, menikmatikna bagai sorotan cermin-cermin berkilauan.
"Ayo," ajak Kyungsoo.
Soojung menoleh. "Ke mana?"
"Menjauh dari orang-orang."
Saat matahari meredup jadi bulatan merah, dua orang gadis, cantik dan jelek, duduk berdampingan di sisi danau. Soojung mengemas timun ke dalam kantung sutra, sementara Kyungsoo menjentikkan korek yang tersulut ke dalam api.
"Apa kau pernah memikirkan ke mana ayahmu pergi?" tanya Soojung.
"Sudah kubilang, dia pergi setelah aku lahir."
"Tapi dia mau pergi ke mana? Kita dikelilingi hutan! Menghilang tiba-tiba seperti itu..." Soojung melantur. Kyungsoo hanya diam.
"Ibumu juga tidak pernah ada di rumah kalau aku berkunjung."
"Dia sekarang bekerja di kota," ujar Kyungsoo. "Pasien di sini kurang banyak. Mungkin karena lokasinya."
"Um, kurasa kuburan membuat orang merasa sedikit tidak nyaman."
"Ada untungnya tinggal di kuburan. Tak ada tetangga-tetangga usil. Tak ada penjual barang yang muncul tiba-tiba. Tak ada 'teman' mencurigakan yang membawa-bawa masker wajah, kue-kue diet, dan bilang kau akan masuk ke Sekolah Kejahatan di Negeri Dongeng."
Soojung meletakkan timunnya. "Jadi aku mencurigakan, ya?"
"Siapa yang memintamu datang? Aku baik-baik saja sendirian."
"Kau selalu membiarkan aku masuk."
"Karena kau selalu kelihatan kesepian dan aku kasihan padamu."
"Kau kasihan padaku?" Mata Soojung berkilat. "Kau beruntung ada yang mau menemuimu sewaktu tak ada lagi yang mau. Kau beruntung orang sepertiku mau menjadi temanmu. Kau beruntung karena orang sepertiku adalah orang baik."
"Sudah kuduga!" Kyungsoo tersulut. "Aku hanya bahan kebajikanmu! Sekedar pion di dalam fantasi tololmu!"
Soojung terdiam cukup lama.
"Mungkin awalnya memang seperti itu–untuk mengesankan Sang Guru," ujar Soojung mengakui. "T-tapi sekarang lebih dari itu."
"Karena sudah ketahuan," gerutu Kyungsoo.
"Karena aku menyukaimu."
Kyungsoo menoleh padanya.
"Di sini tidak ada yang bisa memahamiku. Tapi kau bisa. Kau melihat siapa aku sebenarnya. Itulah kenapa aku selalu datang kembali. Kau bukan lagi kebajikanku, Kyungsoo." Soojung menatapnya. "Kau temanku."
Kyungsoo menyusupkan diri ke dalam gaunnya.
Soojung mengerutkan dahinya. "Ada apa?"
"Hanya... umm, a-aku, eh... tidak biasa dengan persahabatan?"
Soojung tersenyum dan meraih tangan Kyungsoo "Nah, sekarang kita akan bersahabat di sekolah baru kita."
Kyungsoo mendengus dan menjauh. "Misalkan saja kecerdasanku merosot jadi setingkat dengan kecerdasanmu dan berpura-pura bahwa semua ini nyata, kenapa aku yang harus masuk ke Sekolah Kejahatan? Kenapa semua orang memilihku menjadi Ratu Kejahatan?"
"Tidak ada yang mengatakan kau jahat, Kyungsoo," desah Soojung. "Kau hanya berbeda."
Kyungsoo menyipitkan mata. "Berbeda bagaimana?"
"Yah, pertama, kau hanya memakai baju hitam."
"Karena tidak akan kotor."
"Kedua, kau tidak pernah meninggalkan rumahmu."
"Karena tak ada orang yang memandangiku di rumah."
"Ketiga, dalam Lomba Mengarang Dongeng, ceritamu berakhir dengan Putri Salju mati dimakan burung bangkai dan Cinderella tenggelam di bak mandinya sendiri."
"Menurutku itu akhir yang bagus."
"Keempat, kau menghadiahkan katak mati di hari ulang tahunku!"
"Itu untuk mengingatkanmu kalau kita semua akan mati membusuk dimakan belatung dalam tanah. Maka kita harus menikmati ulang tahun selagi masih bisa. Dan menurutku itu penuh perhatian."
Soojung menghela napas. "Dan kelima, kau berdandan sebagai pengantin untuk Halloween."
"Pesta pernikahan memang menyeramkan."
Soojung ternganga.
"Baiklah. Aku memang sedikit berbeda," Kyungsoo melotot. "Lalu kenapa?"
Soojung ragu sejenak. "Yah, di dalam dongeng, biasanya yang berbeda menjadi, em... jahat."
"Maksudmu aku akan jadi Penyihir Agung?" tukas Kyungsoo sakit hati.
"M-maksudku, apapun yang terjadi, kau akan mempunyai pilihan," ucap Soojung dengan lembut.
Kyungsoo terdiam selama beberapa saat, lalu menyentuh tangan Soojung. "Kenapa kau begitu ingin meninggalkan tempat ini? Kenapa kau percaya pada dongeng yang kau tahu sebenarnya tidak nyata?"
Mata Soojung bertemu dengan mata besar Kyungsoo yang tulus. Untuk pertama kalinya, dia membiarkan gelombang keraguan mengalir.
"Karena aku tidak bisa tinggal di sini," jawab Soojung, suaranya tertahan.
"Aneh," kata Kyungsoo. "Itu sebabnya aku menyukaimu."
Soojung tersenyum. "Karena kau juga tidak biasa?"
"Karena kau membuatku merasa jadi orang biasa," jawab Kyungsoo. "Dan hanya itulah yang kuinginkan."
Dentang berat suara jam mengalun suram di lembah, enam atau tujuh kali. Ketika gemanya melemah jadi dengungan, Soojung dan Kyungsoo sama-sama membuat permohonan. Suatu hari nanti, mereka akan tetap saling menemani.
Di mana pun itu.
.
.
.
TBC
Maaf kalau banyak typo. Mungkin karena saya terlalu semangat(?).
Penculikan akan dijelaskan di chapter selanjutnya, tapi ff ini masih ada kemungkinan untuk didelete.
Thanks for reading! Review kalian sangat ditunggu, readers-nim. : )
