Tahun sudah membuka lembaran ke 3 sejak Seungcheol maupun Jisoo meninggalkannya. Jisoo meninggalkannya setelah ia memberitahu bahwa sebenarnya Jisoo adalah tempat persingahan sementaranya, saat mengatakannya ia sebenarnya takut jika Jisoo akan marah kepadanya akan tetapi Jisoo hanya tersenyum dan menanyakan apakah ia mau melanjutkannya atau tidak, dengan tegas ia menolaknya ia tidak mau Jisoo akan ia kecewakan sama seperti Seungcheol dulu
Ia berjalan menulusuri jalan taman yang sejuk, udara sore saat ini sangat bersahabat dengannya. Ia memasang earphonenya dan memainkan sebuah lagu
As i drink in the spring night time air
I'm comfroting my heart with the spring wind
The street i walked on like a habit
Only has the scent of painful season she
I keep thinking about her
Only tears are falling
Ia berhenti sejenak ketika ia mendengar lirik yang entah bagaimana bisa mengingatkannya kepada sesosok Seungcheol. Pandangannya tertuju kepada sebuah jalan didepannya, ia merasa bahwa ada ia yang masih SMA melintasi jalan didepannya dan bergandengan tangan bersama sesosok Seungcheol yang memakai celana abu – abu
"Kenapa kau mengantarku pulang Seungcheol-ah?"
"Aku tak mau meninggalkanmu sendirian, walaupun hanya untuk pulang kerumah"
"Itu alasan yang tidak masuk akal, lagi pula rumahmu tidak searah denganku"
"Itu bukan masalah, aku bisa naik bus untuk pulang sangat senang ketika berada disuatu tempat ditaman ini. Lihat disana Junghan"
"Disinikan Seungcheol? Tempat kesenanganmu ditaman ini. Lihatlah ukiran ini masih ada" ucapnya sambil meraba ukiran JS di sebuah batang pohon, JS merupakan singkatan dari Junghan dan Seungcheol
Hello spring, you're still so pretty
The scent, the wind is mixing with the warmth
Everything's the same, time is colorless
But i'm still in last year's spring
My tears are senselessly falling
Thanks for the sunlight that is hugging me brightly
"You're probably feeling this spring from somewhere too.. remember that" Junghan menyanyikan lirik terakhir dari lagu remember that yang ia dengarkan tadi, ia menyukai lagu itu akhir – akhir ini apalagi saat ini adalah musim semi yang merupakan musim kesukaan bagi Seungcheol
Ia melepaskan earphonenya bertepatan dengan lagu yang mengalunnya tadi berakhir, ia menghampiri seseorang yang sudah menunggunya disuatu bangku. Ia tersenyum dan duduk disebelahnya
"Jisoo" sapanya ramah, yang disapa tersenyum manis dan mengambil sesuatu didalam tasnya dan menyerahkan sesuatu kepadanya
"Undangan? Pertunanganmu dengan Jihoon?" ucapnya sambil mengamati undangan itu dan ia enggan untuk membukanya sekarang
"Iya, pastikan untuk datang. Jika kau kesepian kau bisa datang bersama Soonyoung" ucap Jisoo serta tertawa kecil melihat Junghan yang sedikit tersindir atas ucapannya tadi
"Baiklah aku lebih baik untuk datang sendiri" Ia segera memasukkan undangan pertunangan tadi kedalam ranselnya dan memakainya kembali
"Aku harus pergi duluan" ucapnya seraya meninggalkan Jisoo yang hanya tersenyum
"Aku tau kebiasaanmu sekarang Junghan, berjalan – jalan ketempat yang dulu pernah kau kunjungi bersama Seungcheol" gumam Jisoo dan melihat Junghan yang berjalan dengan mendengarkan lagu melalui earphone yang ia pasang dikepalanya
Ia berjalan menuju suatu halte bus dan duduk disuatu tempat yang kosong, akan tetapi saat dihalte selanjutnya ia harus berdiri dan menyerahkan kursinya kepada seorang nenek yang baru saja masuk
"Junghan aku harus berdiri, maafkan aku, aku tidak bisa duduk disebelahmu"
"Kenapa? Apa karena aku bau?"
"Tidak, lihatlah ada seorang nenek yang baru masuk. Aku harus memberikan tempat dudukku kepada nenek itu, aku masih kuat untuk berdiri, kau juga harus melakukan itu Junghan walaupun kau tidak berpergian bersamaku"
"Aku sudah melakukannya sekarang Seungcheol-ah" batin Junghan seraya tersenyum kepada seorang nenek yang sekarang sudah duduk ditempat yang ia pakai tadi.
Ia menuju pintu bus ketika bus sudah berhenti dihalte tempat yang ia tuju. Ia melangkahkan kakinya untuk menuju tempat perbelanjaan yang pernah ia kunjungi bersama Jisoo dulu untuk membeli boneka. Ia menuju eskalator yang akan membawanya kelantai 5, disuatu pusat perbelanjaan terdengar lagu dari Lee Hi penyanyi kesukaannya, ia sangat menikmati lagu itu sampai – sampai ia membayangkan Seungcheol lagi
When we bid goodnight on our last day together
I turned around and only cold tears ran down my face
Will you hold me one more time?
Make me feel the love
My heart is cold because it's empty
Let me hold you hand again and again and again
Junghan menarik baju Seungcheol yang saat ini akan menaiki eskalator yang berada didepannya. Seungcheol yang menyadarinya langsung berbalik dan menatap Junghan
"Ada apa, apa kau lupa membawa sesuatu?"
"Tidak.. aku hanya.. takut untuk naik itu" Ucap Junghan dengan malu
"Tenang aku akan mengengam tanganmu kau tak perlu takut" ucap Seungcheol menenangkannya. Seungcheol langsung mengandeng tangan dingin Junghan dan membawanya untuk naik eskalator
"Aku sudah tidak takut lagi Seungcheol-ah. Terimakasih sudah menenangkanku" batin Junghan seraya mencari keberadaan suatu toko yang akan ia tuju. Setelah berberapa menit berkeliling mall, ia masuk suatu toko figura dan pencetak foto. Ia mengambil usb dan menyerahkan keseseorang pegawai toko tersebut
"Tolong dicetak satu, aku akan menunggunya disini" ucapnya dan segera duduk disuatu kursi tunggu. Lagi – lagi sebuah lagu mengalun dan ia terjebak dalam memorinya yang kembali memutar adengannya bersama Seungcheol
You and i will fall in luv again
Please come back, i won't lose you again
Look at me, i'm only looking at you
Baby come back to me let's luv again
Ia tersadar dari lamunannya bersama Seungcheol ketika seorang pegawai memberikan foto dan usbnya. Ia mengamati foto tersebut dan tersenyum indah, ia meraba foto itu, fotonya bersama Seungcheol. Ia segera membayar dan melangkah pergi melihat – lihat figura ditoko sebelahnya, ia membeli suatu figura kayu yang berwarna coklat
Ia melangkahkan kakinya keluar dari pusat keramaian itu, ia sebenarnya tak terlalu menyukai tempat itu tapi ia datang kesini untuk membeli hadiah untuk seseorang yang istimewa dihidupnya. Seperti tadi ia menaiki bus dan berjalan untuk menuju apartemennya hari sudah menjelang malam
Sesampainya ia diapartemennya ia melihat ada dua orang pria yang sudah menunggu didepan pintu kamarnya. Ia menghampiri dua orang tersebut dan tak lupa senyum selalu berada diwajah cantiknya itu
"Sudah lama wonwoo-ya?" tanya Junghan ramah, Wonwoo tak menjawab tapi Mingyu namja disamping wonwoo yang menjawabnya
"Belum baru sekitar setengah jam yang lalu" ucap Mingyu dengan wajah yang ditekuk
"Itu berarti lama Mingyu-ya. Masuklah" ucapnya seraya membukakan pintu apartemennya dan mempersilahkan dua orang itu masuk kedalam
"Tidak juga hyung. Apa sudah semua kau siapkan hyung?" ucap Wonwoo sambil duduk disofa ruang tamu Junghan
"Sudah, aku tak mau membawa terlalu banyak hadiah untuknya nanti. Ah.. aku lupa belum membeli bunga" ucapnya seraya memukul kepalanya sendiri
"Kalau begitu Mingyu akan membelikan untukmu" ucap Wonwoo seraya menendang kaki Mingyu untuk mengalihkan perhatian Mingyu yang masih tertuju kepada ponselnya. Mingyu hanya menghadapkan wajahnya ke Wonwoo dan mengeluarkan ekspresi seakan bertanya apa yang harus ia lakukan
"Mingyu tolong belikan Junghan seikat bunga" ucap Wonwoo meminta
"Kau tau hyung? Aku baru saja duduk belum ada 5 menit dan kau menyuruhku untuk pergi lagi?" ucap Mingyu protes
"Aku tidak menerima penolakan Mingyu-ya, atau rencanamu untuk besok pagi aku tak mau mengikutinya" Wonwoo sedikit memaksa Mingyu, dan Mingyu hanya menerima permintaan Wonwoo dengan sedikit keterpaksaan. Berberapa detik kemudian Mingyu sudah keluar dari apartemen Junghan untuk membeli bunga
"Maafkan aku hyung, besok aku tak bisa mengantarmu. Aku ada janji dengan Mingyu" ucap Wonwoo sambil memperhatikan Junghan yang sedang sibuk memasang foto ke figura yang ia beli tadi
"Tak masalah Wonwoo-ya, aku bisa naik bus untuk menemuinya.. aku tak sabar untuk bertemu dengannya" ucapnya ceria serta tak lupa mengembangkan senyumnya. Wonwoo yang melihatnya hanya meringis
'Hyung kau harus menerima kenyataan' batin Wonwoo
Ia segera mengunci pintu apartemennya ketika Wonwoo dan Mingyu pamit kepadanya untuk mempersiapkan rencana mereka besok pagi. Ia segera pergi kekamarnya untuk tidur tak lupa ia melakukan suatu kebiasaannya sebelum tidur,mendengarkan sebuah lagu untuk menghantarkannya kealam mimpi
The long nights is following you as it flows
Time follows you and fades
Why are you getting father away?
So far that i can't reach you?
Tell me why, youre so far away, why?
Can't you see me in your eyes anymore?
Love is so painful
Goodbyes are even more painful
Belum sempat lagu yang ia putar selesai, ia sudah terlelap tetapi ada satu yang harus diperhatikan saat ia tidur sekarang. Lihatlah diujung matanya terdapat sebuah butiran krystal yang masih menetes, sepertinya bayangan Seungcheol selalu bersamanya membuatnya terus membayangkannya
Matahari mulai menampakkan sinarnya, ia sudah bangun dan berpakaian rapi. Ia segera menuju halte bis yang tak jauh dari rumahnya untuk bertemu dengan seseorang, tak lupa ia membawa figura dan bunga yang ia sudah siapkan kemarin. Perjalanannya memakan waktu sekitar 30 menit dan akhirnya ia sampai juga, ia tersenyum ketika kakinya menginjakkan tempat dimana Seungcheol berada. Seorang pria tua menyapanya
"Junghan tumben datang pagi – pagi. Kau ingin mengunjungi Seungcheol bukan? Dia sangat senang tadi saat aku bertemu dengannya" ucap pria tua itu
"Tentu aku akan menemuinya, aku juga sangat senang ketika akan bertemu dengannya" ucap Junghan seraya meninggalkan pria tua itu
Ia duduk ditempat dimana Seungcheol berada, tangannya menyentuh batu nisan yang bertuliskan Choi Seungcheol. Ia meletakkan figura foto diatas batu nisan dan tak lupa juga ia meletakkan seikat bunga didekatnya
"Annyeong Seungcheol, bagaimana kabarmu sekarang? Kali ini aku datang sendiri Wonwoo dan Mingyu mempunyai acara sendiri, dan Jisoo sedang mempersiapkan pesta pertunangannya. Aku sebenarnya ingin sekali merasakan kebahagiaan seperti Jihoon, aku ingin juga bertunangan Seungcheol-ah. Tapi waktu sepertinya tak mendukung kita, kau telah meniggalkanku lebih dulu" ucapnya dengan senyum yang dipaksakan karena ia sebenarnya sedang menangis
Tiga bulan lamanya ia tak mendengar kabar dari Seungcheol, tiap malam ia selalu memikirkannya setelah ia mengetahui alasan Seungcheol memutuskannya. Seseorang mengetuk pintu apartemennya berulang kali dalam waktu yang bersamaan, membuatnya ingin memukul orang itu jika ia sudah bertemu dengan orang itu
"Ada apa? tak bisakah kau sabar sedikit?"
"Seungcheol..."
"Kenapa Seungcheol?" ia mulai khawatir karena mata Mingyu berair sepertinya Mingyu telah menangis
"Seungcheol meninggalkan kita" Mingyu kembali menangis
"... kanker darah yang menyerangnya membuat tubuhnya melemah dari waktu kewaktu, walaupun orangtuanya sudah membawanya kedoker terkenal diJepang.. tapi tuhan memiliki rencana lain" Junghan tak berkata sedikitpun ia hanya menangis dipelukan Mingyu, ia tak dapat menahan air matanya
"Jika saja aku bisa mengulang hari, aku akan mengulang dimana kau menyatakan cintamu dan aku akan berusaha untuk mencintaimu..." Junghan tersenyum melihat batu nisan Seungcheol yang sekarang sudah bersih
"... dan jika aku bisa mempercepat hari aku akan mempercepat dimana kita bisa bertemu lagi. Aku mencintaimu Seungcheol, aku bahagia disini kau juga harus bahagia disana..." rintik hujan mulai membasahi tubuhnya dan ia mulai membersihkan air mata diwajahnya yang sudah bercampur dengan air hujan
Takdir yang mempertemukan mereka, takdir pula yang harus memisahkan mereka berdua
-END-
Annyeongg.. sebenernya ini sequel tapi entah kenapa kayaknya lebih bagus dibuat chapter jadi diganti jadi chapter hehehe~
Makasih buat yang udah review chapter 1~ Dan maafkan saya yang membuat cerita ini jadi sad ending-_
