"Jatuh cinta ternyata mengasikkan."
"Memangnya apa yang kau suka darinya?"
"Entahlah. Mungkin senyumnya. Mungkin tawanya. Atau mata indahnya. Atau pun helai rambutnya. Ya, bisa saja gaya bicaranya. Bisa pula cara berkedipnya. Ah, yang jelas dia membuatku jatuh cinta sangat keras, seperti yang kau katakan dulu. Aku hanya ... hanya merasa bahagia bisa hidup di hari ini dan bertemu dengannya."
"Ya Tuhan, ini gawat."
(Nah, gini dong. No spoiler)
Putri Lavenderku
Naruto dkk belongs to Masashi Kishimoto
A NaruHina Fanfiction
Enjoy it! ^^
Saat aku memutuskan mempercayai perkataan Sasuke dan meninggalkan teori konyol yang kutulis di bagian pertama, aku tak sungguh-sungguh melakukannya. Aku masih kepikiran tentang keenam poin yang telah kusebutkan, terutama yang terakhir. Itu sungguh mengganggu pikiranku. Atas dasar apa pun aku masih belum mengerti kenapa aku harus memikirkannya.
Ya, walaupun kusimpulkan bahwa aku payah dalam urusan perempuan dan menyerah menuruti alam bawah sadarku menuntut untuk menyanggupi poin keenam, ternyata itu bukan akhir dari segalanya. Maksudku, akhir dari teori konyol itu. Aku malah semakin membenarkan teori itu dan tak mau mempercayai omongan Sasuke begitu saja. Jadi kupikir aku menyusun ulang mulai dari mimpi dan ambisiku dulu.
Ya, aku tak boleh begitu saja percaya omongan si Pantat Ayam itu!
Kupikir semua orang harus memiliki mimpi. Dan Sasuke ada benarnya, mimpi yang kutulis sebelumnya mungkin terdengar konyol. Kalau aku hanya ingin menjadi Naruto Uzumaki, itu berarti aku tak akan beranjak ke manapun. Artinya aku akan tetap menjadi Naruto dan selamanya diam sebagai Naruto. Lalu dengan apa aku mengisi masa remaja jika tak kudapati mimpi yang harus kuperjuangkan mulai sekarang?
(Aku terlalu banyak mengulang kata "konyol" sedari tadi, mungkin otakku sudah mulai konyol sekarang)
Lalu kuputuskanlah mimpiku ingin menjadi pilot. Pilot adalah cita-citaku saat baru bisa membaca. Dan ternyata, mimpiku saat sekolah dasar adalah menjadi presiden. Lalu aku menyadari negara ini dipimpin oleh seorang kaisar. Jadi aku beralih cita-cita menjadi pengacara saat junior high school, dan melupakan keinginan menjadi pilot. Namun saat itu aku ingat dulu pernah menggambar sebuah kapal laut dalam proyeksi cita-citaku, mungkin aku salah mengira bahwa nahkoda adalah pilot.
Sebentar, ternyata aku belum memutuskan apa-apa.
I'm so f #$%ng confused.
Aku perlu bantuan, kusadari kapasitas otakku sungguh terbatas untuk memikirkan ini sendiri. Kuputuskan saja untuk bertanya pada Ayah.
"Yah, kupikir aku harus punya mimpi untuk diwujudkan."
Ayah yang duduk santai di sofa melepas penat setelah bekerja koran hanya bergumam, "Hm."
"Menurut Ayah sebaiknya mimpi apa?"
"Bunga," jawab Ayah. Aku tak mengerti.
"Maksudnya?"
"Tidur."
"Hah?"
"Bunga tidur."
Butuh setidaknya kurang dari sepuluh detik bagiku untuk menyaring humor receh itu. Si pelempar guyonan malah tertawa terbahak-bahak tak merasa berdosa. Padahal tidak lucu, sama sekali! Si Ayah yang satu ini memang garing orangnya. Sudahlah, mungkin sebagian kesadarannya masih tertinggal di kantor.
Kutanya saja pada Ibu.
Kuhampiri Ibu yang sedang membereskan sisa makan malam dan membantunya. Setelah mencuci alat makan dan menaruhnya kembali pada tempatnya, kupijit sedikit bahu Ibu. Eh sebentar, aku seperti sedang ingin meminta sesuatu saja! Ibu yang menyadari aku ada maksud langsung bertanya, "Ada apa?"
"Aku sedang berpikir sebaiknya aku punya mimpi."
"Mimpi?" alis Ibu terangkat.
"Iya, bukan bunga tidur. Seperti cita-cita!"
"Bukannya kamu ingin jadi masinis dulu?"
"Eh, bukannya nahkoda, ya? Atau pilot mungkin ..."
"Ibu yakin masinis, kok. Eh, atau kusir, ya?"
"Di Jepang mana ada delman, Bu?!"
Lihatlah, sekarang sepasang suami-istri itu kompak tertawa. Mereka narasumber yang payah. Ada baiknya aku mencari udara segar sebelum terinfeksi gas beracun yang membuat penghirupnya menjadi receh. Run for my life!
Malam ini udara terasa dingin. Di sekitar rumahku juga sepi. Sasuke harus menjaga klinik di jam segini. Sakura ... mana mungkin aku mengajaknya malam-malam begini, tanpa tujuan, hanya berniat mencari udara segar.
Akhirnya aku berjalan sendirian. Ke toko, membeli beberapa cemilan mungkin? Daripada mati kesepian di perumahan yang seperti mati ini. Aku bisa gugur bersama musim tahun ini.
Setelah membeli makanan ringan di toko, kuputuskan untuk menuju ke taman yang ada di dekatnya. Biasanya di sore hari di sana banyak anak kecil bermain. Di situ juga tempat favoritku bersama Sasuke saat masih kecil dulu. Aku ingat ada ayunan atau jungkat jangkit yang mungkin cocok untuk ber-galau ria memikirkan segala jawaban yang kubutuhkan.
Alih-alih ingin mencari ketenangan suasana, sayup-sayup kudengar suara petikan gita dari kejauhanr. Tak kulanjutkan langkah kakiku. Jika lagu yang dimainkan cukup menyeramkan, setidaknya seperti soundtrack film horor, aku akan lari. Entah kenapa tubuhku merinding lumayan hebat. Biasanya adegan pembunuhan dimulai dengan lagu-lagu mistis dilanjutkan adegan si pembunuh menerkam mangsanya.
Dan ya, aku mengenali nada itu! Tidak, bukan soundtrack film horor—syukurlah—, entah aku pernah dengar di mana.
Ok, kaki, saatnya jadi pemberani. Kau harus kuat mendekat dan membantu mataku memastikan!
Jreng dan jreng, suara petikan gitar itu menyamarkan suara langkahku. Lalu kriet dan kriet, suara ayunan favoritku menyamarkan kembali keberanianku. Lalu meong, itu membuatku mati langkah. kemudian semriwing, suara angin seperti membisikkan sosok apa yang sedang bergenjreng syahdu itu.
Sodakoh—eh, Sadako!
What the heck?! Rambutnya gelap, lurus, dan panjang, oi! Dikelilingi beberapa kucing lagi! I'm gonna die!
Ibu, Ayah, maafkan kenakalan anakmu ini. Nyonya Sadako, tolong jangan makan aku, makan saja kucing-kucing itu.
"You're just too good to be true~"
Eh, tunggu? Aku rasa aku tahu lagu ini.
"Can't take my eyes off of you~"
Nah, aku memang kenal lagu ini. Tapi entahlah. Ternyata suaranya bagus untuk ukuran sesosok setan.
"You'd be like heaven to touch~"
Well, sepertinya aku mulai terhanyut suara dan petikan senar gitar setan ini.
"I wanna hold you so much~"
Tunggu dulu, sejak zaman apa Sadako hobi main gitar?
Syukurlah sang Dewi Logika (emang ada?) memberiku sedikit karunianya. Itu sediit membawa kelegaan padaku. Walaupun tetap saja, bermain gitar ditemani kucing liar malam-malam begini akan menimbulkan kesan aneh. Tapi enak didengar, sih.
Kupikir lebih baik aku menyapanya. Aku masih ingin bergalau ria di ayunan yang dia tempati, atau yang sebelahnya. Tapi dia perempuan, dan sekarang sudah malam. Tidak baik kalo kita berduaan apalagi baru kenal.
Sebentar, ada kucing juga di sana. Secara tekhnik kita tidak berdua.
Kudekati dia secara perlahan. Niatnya sih enggan mengganggu permainan gitarnya, tapi dia menyadari keberadaanku dan reflek berdiri. Tampaknya dia kaget dengan kehadiranku. Matanya melebar ke arahku.
Huh, konyol sekali. Aku yakin Sadako tak berparas cantik seperti dia.
Sial, aku baru saja memujinya dalam hati.
"Hai," sapaku canggung. Sumpah.
Bukannya membalas sapaku, dia malah membungkuk singkat. "Permisi," katanya, lalu melenggang pergi buru-buru.
Oh tidak, apa aku menakutinya? Bagaimana dengan kucing-kucing ini yang malah mengelilingiku seperti meminta sesuatu? Hey, Gadis Sadako, kau menelantarkan mereka untukku? Jahatnya ...
Ternyata gadis itu memang cukup aneh.
Seperti rencana awalku, kuhabiskan cemilanku di ayunan itu bersama kucing-kucing lapar ini. Sambil makan dan bergalau ria, aku masih memikirkan judul lagu tadi. Benar-benar tidak asing, seperti sangat familiar bagiku. Malah jadi semakin galau memikirkannya.
Bukan, maksudku memikirkan lagunya.
Cukup lama aku berdiam di taman ini, sudah larut malam sekarang. Kuputuskan untuk pulang.
Tak disangka tak dikira, aku bertemu dengan gadis tadi lagi. Dalam perjalanan pulang aku mmelewati sebuah halte, dia sedang duduk manis di sana. Kali ini ia hanya mendekap erat gitarnya. Di sana, di bawah penerangan halte yang tak seredup taman tadi, aku bisa lebih jelas melihat tampangnya.
Entahlah, aku merasa dia memiliki aura yang kelam. Dengan hoodie gelap, rambut dibiarkan tergerai, raut wajah yang datar tanpa emosi. Ah tidak, kali ini raut wajahnya perlahan mengendor. Sedih?
Tunggu dulu, aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
Kusapa saja dia, lagi. "Hai lagi." Semoga tak secanggung sebelumnya.
Dia kaget, lagi. Matanya melebar sehingga menampakkan kedua manik yang indah itu dengan jelas. Mata yang indah. Bagaimana mungkin aku mengatakannya kelam sebelumnya?
"Eh-um ... ee ... selamat malam." Dia berdiri dan membungkuk formal, untungnya tidak kabur lagi.
Sekarang aku yang harus memutar otak mencari obrolan, deh.
"Anu ... permainanmu tadi, di taman ... bagus, lho," pujiku.
Kami mulai duduk di kursi halte agak berjauhan.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Harusnya aku sudah pulang, 'kan? Ah tidak, kupikir lebih baik meminta maaf soal di taman tadi. Bisa saja dia berpikir aku penjahat tadi. Ya walau aku yakin bukan itu yang akan dipikirkannya saat melihat manusia setampan aku.
"Maaf mengganggumu tadi, hehe," kataku.
"Ah, bukan ... tidak," jawabnya.
"Kupikir aku membuatmu kaget tadi, hehe." Dia hanya diam sambil menunduk. "Kau ... mau pulang?" tanyaku.
Dia hanya mengangguk.
Nah, harus ngomong apa lagi, nih?
"Cuaca yang indah untuk bermain gitar, ya."
Dia bengong. Ya, ternyata mendung. Lagian jadi aneh membahas cuaca di malam hari. Bodohnya diriku.
"Ah iya … aku juga … aku harus segera pulang, sudah larut."
Entahlah, aku sudah mencoba mencari bahan obrolan.
Aku berdiri hendak pergi. Daripada semakin canggung nanti. Saat aku sudah melangkahkan kaki, kulihat dia mengangkat kepala dan mata kami saling bertemu. Saling berkedip bersamaan juga.
Geez, akan aneh jika aku memujinya dua kali.
"Suaramu bagus banget tadi. Juga permainan gitarmu ... keren! Aku jadi ingin mendengarnya lagi."
Nah kan aneh. Kupalingkan segera wajahku dan membekap mulut. Payah, payah, payah. Beberapa bagian tubuhku suka tidak sinkron di depan perempuan.
Apa-apaan kalimat terakhir yang kuucapkan itu? What the heck, dude?!
Penyakit poin keenam, penyakit poin keenam. Sebuah kecacatan, sebuah kecacatan.
Ini memalukan! Dia pasti sudah menganggapku orang aneh.
Namun tanpa kuduga, dari lirikan ekor mata, aku bisa melihatnya tersenyum tipis. Dia menunduk malu dan tersenyum manis. Kamudian saat ia mengucapkan "Terima kasih" lagi dengan wajah yang merona, entah kenapa aku ingin menarik kata-kataku yang menyebutnya beraura kelam. Malam rasanya tak lagi dingin.
Semakin aneh saja! Aku harus segera pergi.
"Sampai jumpa." Nadaku seperti buru-buru.
"Sampai jumpa ... besok," Ucapnya pelan.
Kami berpisah di halte itu dengan dia yang masih diam di situ. Aku menggunakan langkah tak biasa dalam perjalanan pulang. Ngebut dikit, untung tidak macet. Sesampainya rumah, aku ingin segera tidur. Inginnya ...
Pikiranku malah semakin penuh. Etahlah, aku memikirkan banyak hal. Kemungkinan-kemungkinan yang tidak nyata pun tak luput dari pikiranku. I got overthinking.
Inilah kenapa aku masih tak bisa memenuhi poin keenam sampai sekarang. Aku sebenarnya kikuk di hadapan para gadis. Untuk menjaga image dan popularitas di mata mereka, aku harus meminimalisir kontak personal dengan gadis-gadis di sekelilingku. Aku tak boleh sampai kedapatan bersiap aneh seperti tadi. Aku terus menghindari mereka diam-diam sampai—kupikir—aku semakin tak terbiasa dengan mereka.
Aku hanya payah dalam urusan perempuan. Aku hanya berpura-pura bersikap layaknya playboy untuk menjaga kepopuleranku di sekolah. Tapi luar sekolah, seperti tadi, tidak berguna. Mengencani seorang gadis di luar sekolah saja gagal.
Ya, harus kuakui sebenarnya kencan dengan Shion kacau. Aku datang terlambat dan tak banyak bicara. Aku bahkan membaca panduan di internet tentang cara berkencan yang benar dan mengecek mana yang salah setiap sepuluh menit. Entah dasar apa dia tidak meninggalkanku saja di tengah kencan kita.
Well, cukup, aku harus tidur. Besok sekolah. Pemikiran malam ini tak merubah apapun di esok hari. Termasuk soal gadis bergitar tadi.
Wait a minute! Dia bilang sampai jumpa besok, 'kan? Apa artinya kita satu sekolah? Wajahnya memang tidak asing, sih.
Tapi ya sudahlah, saatnya menutup mata. Satu sekolah pun kesempatan bertemu juga kecil. Sekolah kan luas. Ngapain juga harus khwatir, 'kan?
Sampai jumpa, para pembaca. Mimpi indah.
Hoammmm
To be contin–tunggu!
Demi ramen kadaluwarsa, terkutuklah aku! Kita kan satu kelas!
To be continued ...
Note:
I'd like to reply your review down here.
rIsa: kalo jejak awas kakinya jangan sampe ketinggalan XD makasih, semoga saja
Resign evil: saya memang puitis eap XD ini chapter udah mengandung magnet, tertariklah, tertariklah! BTW, setelah resign udah dapat kerja baru? XD
Ya gitu aja. Semoga lancar update. Selamat melaksanakan ibadah puasa bagi yabg melaksanakan.
Terima kasihan, salam, see ya~
