Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina, NaruHina, SasuSaku

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort yang nggak kerasa, Romance abal-abal

Warning : masih newbie, AU, OOC, Typoos bertebaran dan cerita yang absurd, DLDR

Chapter 1

Hari ini, Lusa. Hari dimana Hinata harus memberi jawaban pada Sasuke. Rasanya pagi ini, Hinata malas menginjakkan kaki ke sekolah. Andai saja Hanabi tidak mengancam melaporkan pada Otou-san kalau ia mau membolos hari ini, mungkin ia sudah bersantai di dalam kamarnya dengan membaca manga favoritnya. Terlebih di awal musim gugur ini.

"Hah..." Hinata menghela napasnya lelah, saat ia melihat gerbang sekolah Konoha High School tempatnya menimba ilmu terbuka dengan lebar. Seakan menyambut manusia-manusia yang haus akan ilmu pengetahuan untuk segera datang ke sekolah itu. Gerbang itu, entah kenapa hari ini ingin ia tutup, agar semua proses pembelajaran hari ini dihentikan.

Mengabaikan pemikiran konyol yang sempat terlintas, Hinata melangkah lebih jauh ke dalam sekolahnya. Didahului dengan menukar sepatu dengan uwabaki, Hinata berjalan menuju kelasnya. Selama perjalanan menuju kelas, Hinata tak pernah memandang ke depan. Ia lebih memilih menundukkan kepala dan membiarkan poni panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Melangkahkan kaki dengan cepat, Hinata tiba dikelasnya dan memulai hari.

Pelajaran pertama, ia lalui dengan serius. Namun pelajaran kedua, pikirannya tak bisa fokus. Yah, bagaimana ia bisa fokus? Kalau pikirannya masih terpaku pada masalah yang ia hadapi.

'Ya' atau 'Tidak'

Sedari tadi, hanya kata itu yang tulis di buku catatannya. Sesekali ia lingkari kata itu, untuk menghilangkan kerisauannya. Namun, kegiatan itu tak berlangsung lama.

"Sepertinya, ini akan sulit." gumamnya.

··

Bel yang menandakan bahwa istirahat siang berakhir pun berbunyi. Semua murid bergegas menempati bangkunya masing-masing. Tak terkecuali Hinata. Disaat ini, ia tampak sibuk membersihkan mejanya dari bekal yang ia bawa. Memasukkan kotak bekal ke dalam laci mejanya, dan menggantinya dengan buku pelajaran. Setengah hari ini sudah berlalu, namun belum ada tanda-tanda bahwa Sasuke mencarinya untuk meminta jawaban. Mungkinkah hanya ia yang terlalu menganggap serius? Atau pernyataan kemarin hanya sebuah lelucon?

'Ah.. jawaban yang mana saja, sama-sama membuatku pusing.'

Selembar kertas yang terlipat tergeletak di meja Hinata, membuat ia mendongakkan kepalanya yang sedari tertunduk untuk melihat siapa yang meletakkan kertas ini di mejanya. Dan lihatlah, ada Inuzuka Kiba yang tengah menampilkan senyum charming-nya pada Hinata. Dan itu sukses membuat matanya silau.

"Hinata-chan!"

Apa ia tak salah dengar? Kiba memanggilnya dengan nama kecilnya. Yah, itu hal yang biasa. Jika mengingat, teman sekelasnya yang satu ini adalah orang yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Dan senang memanggil teman sekelasnya dengan nama kecilnya. Termasuk Hinata yang termasuk anak yang pendiam.

"Kau tau Hinata-chan? Aku dan Sasuke berada di klub yang sama. Jadi, saat istirahat siang tadi, Sasuke menitipkan kertas ini padaku. Ia bilang, kau harus membacanya Hinata." Kiba menunjuk kertas yang terlipat di atas meja Hinata.

"Kurasa, pesan Sasuke sudah ku sampaikan. Kalau begitu, aku pergi dulu."

"Um,, Arigatou. Kiba-san."

"Iie, Douita na~."

Dengan tetap memasang senyum charming-nya dan mata yang terlihat menyipit, Kiba berlalu meninggalkan meja Hinata. Menyisakan Hinata yang diam terpaku menatap kertas itu. Perlahan tangannya meraihnya. Penasaran, lipatan kertas itu dengan cepat ia buka, lalu membacanya.

Ku harap, kau tidak melupakan janjimu, Hyuuga. Pulang sekolah nanti temui aku di atap sekolah. Aku menunggumu.

···

Kelas terlihat sepi, koridor sekolah terasa sunyi. Hanya lapangan sekolah dan gedung bagian timur yang masih terlihat ada tanda kehidupan. Karena, tempat itu merupakan tempat khusus murid sekolah ini melaksanakan aktivitas klub mereka.

Ini sudah 15 menit berlalu dari janjian yang seharusnya. Tapi, mau bagaimana lagi? Hinata tak bisa menemui Sasuke secepatnya. Ia memang anak penyendiri dan pendiam, namun bukan berarti ia akan meninggalkan tanggung jawab untuk piket kelas hari ini kepada teman kelasnya yang lain.

'Ku harap Uchiha-san mengerti'

Melangkahkan kakinya lebih lebar, menaiki tangga sekali dua, ia akhirnya tiba di depan pintu masuk ke atap sekolah. Membukanya perlahan, dan angin sejuk khas musim gugur menyapa kulitnya. Mata amethyst yang tertutupi poni panjang itu melihat Sasuke berdiri membelakanginya, melihat pemandangan di bawah sana dan memegang pagar pembatas.

"Ano.. Okurete Sumimasen, Uchiha-san! Hari ini aku piket kelas. Jadi ..."

"Daijobou.." Sasuke berbalik memandang Hinata. "Aku juga baru sampai, jadi tak ada yang dirugikan." ujar Sasuke dengan menampilkan senyum tipisnya.

Senyum itu, senyum yang terpatri di wajah itu, siapa pun yang memandangnya pasti merasa dapat jackpot besar. Karna, kesempatan langka untuk melihat wajah tersenyum Uchiha bungsu itu. Siapa pun yang melihatnya pasti jatuh hati. Yah, setidaknya itu bagi yang lainnya. Namun tidak bagi Hinata. Lebih tepatnya, belum.

"Hmm... ano, jawaban pernyataanmu itu, jawaban apa yang ingin kau dengar Uchiha-san?"

"Jawaban yang membuat hatiku senang. Tentunya kuharap kau tak menolakku Hyuuga." mendengar itu, membuat Hinata hanya dapat meremas roknya. Situasi ini membuat dirinya merasa aneh.

"Kau tau, aku orang yang penyendiri. Apa kau yakin dengan perkataanmu, Uchiha-san?" Hinata mencoba meyakinkan Sasuke kembali. Sebelum ia mengambil keputusan yang akan mengubah hidupnya. Yah, itu menurutnya.

"Tentu saja. Berikan aku kesempatan satu bulan untuk jadi pacarmu. Jika kau merasa tak nyaman, anggap saja ini sebagai pertemanan. Lagipula, aku akan membantumu menghilangkan kebiasaanmu yang senang menyendiri itu, Hyuuga."

"Satu bulan?" tanya Hinata heran.

"Yah, satu bulan. Jika kau merasa hubungan ini tak cocok denganmu, kau bisa membatalkannya. Namun, sebelum itu, izinkan aku untuk bersamamu selama sebulan."

'Sebulan, waktu yang kujanjikan pada mereka.' lanjut Sasuke dalam hati.

Tawaran Sasuke, amat menggiurkan bagi Hinata. Menganggap hubungan mereka sebagai pertemanan selama sebulan, menurutnya tidak buruk. Lagipula, Hinata bisa mencoba berinteraksi dengan yang lain melalui Sasuke. Sasuke orang yang cukup terkenal bukan? Tentunya ia punya koneksi pertemanan yang luas. Dan lagi, Sasuke menawari untuk membantunya memiliki teman. Jika selama sebulan hubungan ini tak membuatnya nyaman. Ia bisa memutuskan Sasuke, dan ia tetap punya teman.

'Apa ini bagus? Bukankah aku terlihat seperti memanfaatkan perasaannya? Tapi ia yang menawarinya padaku' batin Hinata bergejolak. Di satu sisi ia ingin menolak namun di sisi yang lain ia ingin menerimanya. Hinata menyadari kalau ia harus keluar dari comfort zone kali ini. Dan itu dimulai dengan berteman dengan Sasuke. Yah, bagi Hinata hubungan sebulan ke depan adalah pertemanan.

"Baiklah, ku rasa itu tidak buruk. Hanya sebulan kan, Uchiha-san?" Hinata berkata sambil tersenyum

"Sasuke... "

"Eh..?"

"Ku rasa, kau harus mencoba memanggil dengan nama kecilku, Hinata."

"..." Wajah Hinata merona mendengar nama kecilnya disebut. Memang bukan hanya Sasuke yang memangilnya dengan nama kecilnya, ada Kiba juga. Namun, entah kenapa sensasi saat Sasuke menyebut namanya terasa berbeda.

'Menurutmu perasaan apa ini Hinata?' Hinata rasa ia sudah gila karna bermonolog dengan dirinya sendiri.

Melihat wajah Hinata yang merona, membuat Sasuke gemas sendiri. Bukankah Hinata terlalu polos, karna merona hanya dengan menyebut nama kecilnya? Bagaimana dengan yang lain kalau begitu? Selintas muncul pikiran usil Sasuke.

Dengan langkah yang lebar, Sasuke menepis jarak antara dirinya dan Hinata. Memegang sebelah tangan Hinata, lalu menariknya kearah dirinya dan merengkuhnya. Gerakan Sasuke yang tiba-tiba membuat wajah Hinata makin merona. Ini, pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan laki-laki selain keluarganya.

"Arigatou, Hinata."

"Eh? "

"Memberiku kesempatan..." tersenyum tipis, Sasuke melepaskan pelukannya dan menuntun Hinata menuju pintu keluar.

"Ayo kita pulang.."

Kali ini mereka pulang dengan bergandengan tangan ditemani sinar matahari sore yang berwarna merah jingga.

TBC

Review, Kritik dan Saran benar-benar dibutuhkan untuk membuat fict ini lebih baik. Berbagilah ilmu dengan Ane :D

Jadi, Bagi yang mau mereview, kasih kritik dan saran, Dozou, Arigatou gozaimasu. (^/ \^)