Sebuah kebohongan besar bila kukatakan aku tak punya ingatan apapun mengenai keluargaku. Tapi seperti yang pernah kukatakan. Aku lebih menyukai kebohongan daripada sebuah kenyataan.

Orangtua... Aku tak ingin mengingat mereka saat ini. Sepasang suami-istri yang selalu membuatku menangis kesakitan. Sementara mereka tersenyum penuh kepuasan melihat tubuh mungil darah daging mereka bersimbah darah. Aku tak ingin ingat.

Tapi... Cinderamata pemberian mereka tetap ada dalam tubuh ini. Memuakkan! Aku tak ingin ingat bahwa tubuh ini adalah sebagian dari pencampuran darah para monster itu. Aku tak ingin!

Banyak kotoran yang sudah kumasukkan dalam tubuh ini. Mengharap tetes darah mereka yang busuk dapat keluar. Ingin rasanya aku menyayat nadiku sendiri―tapi aku sadar, hal itu hanya akan membuat kesempatanku untuk hidup tanpa bayang mereka hilang.

Adakah ada cara agar aku tak perlu hidup dengan menggunakan tubuh yang berisi bayang mereka? Adakah?


Suara yang begitu halus menelusup dalam indra pendengaranku. Menyadarkanku untuk segera terjaga dan menyapa sepasang kristal yang bersinar lembut namun hampa. Memperhatikan wajah yang tak ada ubahnya dengan saat aku bertemu dengan Riku delapan tahun yang lalu―tetaplah sosok seorang pria berusia dua puluh enam tahun.

"...-amat pagi, Sora," sapanya lembut. Mengusap rambut coklatku yang tak ada perbedaan semenjak lahir, berantakkan.
Tangan kananku yang berselubung sarung tangan putih mengusap perlahan kelopak mata. Menyisihkan pasir-pasir kering yang sudah bertengger di sudut mata semalaman ini.

"Riku, bisakah kau bangunkan aku beberapa saat lagi? Ngantuk..." rengekku. Mengalungkan kedua lenganku di sekitar lehernya dengan manja.
Percaya.

Kata itu yang memberanikanku untuk bersikap manja padanya. Pria yang membuatku yakin uluran tangannya di hari bersalju delapan tahun yang lalu bukanlah kebohongan. Bila ada sebuah maksud tersembunyi dia tak akan menahanku untuk tetap di dekatnya selama lima tahun lebih, bukan?

Desah nafas halus bermain di tengkukku. Sebuah kehangatan yang hanya bisa kudapatkan darinya, "jangan terlalu manja. Kalau kau terus menggelayut manja aku..."

"...akan menciumku? Itu maksudmu?" potongku. Tertawa kecil seraya memandang wajahnya yang begitu dekat. "...dasar shotacon," tambahku.
Ia hanya mendecak kecil seraya menunjukkanku sebuah senyuman. Membungkamku dengan garis yang selalu mengembangkan senyuman yang kusukai. Aku tak perduli sebanyak apa perbedaan usia kami. Aku tak ingin.

Isi dunia ini―selain Riku seorang―tak pernah memperdulikanku sebagai seorang manusia yang juga butuh sebuah uluran tangan penuh ketulusan. Dan mereka tak memberiku agar aku dapat berdiri dan keluar dari lumpur menjijikkan. Jadi untuk apa aku harus perduli.

Gugur daun kian menimbun tubuh kami berdua. Warna-warna yang begitu indah saat dunia harus menyambut sebuah kebekuan hati. Musim yang merupakan awal dari musim semiku dahulu. Mekaran bunga yang tak pernah layu...

...kuharap tuhan tidak sedang mempermainkanku dalam tahun-tahun yang telah terlewat.

Meskipun setiap harinya aku merasa bau amis darah yang mengering menguar dari mantel hitam Riku.

Baik. Darah...


Kingdom Hearts © Square Enix
A Man Who Mustn't Exist Anymore © Ruise Vein Cort

Waa Viss her Daedu Akata
(Happy Reading this Eyesore Story)

Disclaimer paling maksa untuk keselip sampai saat ini |_|a

Kalau melihat (...) atau (See More) yang ngak wajar yolong kasih tau

Itu kesalahan teknis saat CoPas

Juga jangan protes dengan sikap Sora yang jungkir balik dari chapter 1.

Timeline-nya sudah 7 tahun lewat, kasian Riku kalau Sora kayak gitu terus kan? (Fangilr mode)


Ada pepatah, sebagaimana kau berjalan di sisinya kau akan mengerti dengan apa-apa saja yang ada pada dirinya.

Sekarang beritahu aku akan kejelasan pepatah itu? Sungguh. Aku benar-benar merasa sangsi dengan untaian kata yang terkadang diucapkan oleh pengarang-pengarang buku―Riku senang menyeretku menuju perpustakaan bila sampai di suatu kota dan sibuk sendiri, alhasil yang kulakukan adalah membaca buku-buku novel terbaru.

Karena aku merasa hubunganku dengan Riku amatlah jauh dari rasa saling mengerti. Ia tahu semua tentangku, bagaimana masa laluku―sedikit pengecualian mengenai kebohonganku mengenai ingatanku yang hilang. Tapi aku sama sekali tak tahu apapun selain nama dan sifat yang seenaknya sendiri. Seolah tak memberiku ruang untuk mengenalnya lebih baik lagi.

"Bisahkah kau berhanti menekuk-nekuk wajahmu? Tidak sampai lima belas menit lagi aku merasa kau akan menjadi anak hilang di sini," decak Riku seraya melemparkan sebuah apel berwarna merah dari dalam tas belanjaannya.

Mendengus pelan tak menjawab. Menyapu pemandangan Tranverse Town yang cukup ramai sekalipun posisi kami saat ini adalah di pinggir kota.

"Kau tidak enak badan?"

Kembali aku tak menjawab apapun. Hanya mengukir senyum lemah di wajahku. Kenapa aku jadi terlalu memikirkan hal itu sekarang?
Seperti ada sesuatu yang memerintahkanku untuk segera mengetahui masa lalu Riku. Seperti sebuah peringatan...

"Riku!"

"Eh? Yuffie!"

...bahwa sebentar lagi aku harus bersiap kehilangan Riku akibat 'masa yang telah lewat itu'. Apalagi harus berwujud wanita cantik yang cukup lincah seperti saat ini.


"The Great Ninja Yuffie at your service," decak seorang wanita bertubuh mungil seraya membungkukkan badanya. Mengerling sesaat padaku sebelum kembali berdiri dan melakukan kegiatan memuakkan itu... Lagi.

"Sora."

Kelopak mataku menyipit, menat...ap sepasang lengan yang tengah melingkar pada tangan kanan Riku―sementara sang empunya justru sibuk mencampur adukkan serbuk-serbuk ke dalam tiga cangkir.

"Sora ya, kau cukup manis untuk ukuran anak laki-laki. Hum... Apa paman ini tidak melakukan hal aneh padamu?" sindir―kalimat pertama, itu sebuah penghinaan bagiku―Yuffie riang. Melepaskan rangkulan tangannya sebelum meraih secangkir minuman yang baru dibuat oleh Riku.

"Jangan terlalu memuji, Anda bahkan terlihat lebih manis dari saya," balasku dengan nada seimut mungkin―butuh waktu tiga tahun agar suara yang keluar terdengar sangat natural tanpa ada unsur pemaksaan. "Bukankah benar begitu Riku?" sindirku tajam.

"Ung... Mungkin..."

Kenapa menjawab ragu begitu? Bukankah dia 'kekasih'-mu melihat bagaimana dia bersikap manja sejak empat jam yang lalu? Sudahlah, aku tak mungkin cemburu. Aku tahu diri kok.

"Herb tea buatan Riku memang yang paling enak." Oh sungguh. Apakah kau belum juga menyadari aura kelam yang terus kukeluarkan sedari tadi?

"...walau cita rasanya harus rusak akibat aroma darah dari Stri―auw!"

Aroma darah... Jadi itu bukan perasaanku saja?

"Sora, bagaimana kalau kau ke atas saja. Kurasa ada kamar kosong di pintu ketiga sebelah kanan tangga, tidurlah lebih dulu," Riku mengucap cepat. Sama sekali tak memberiku waktu untuk bertanya apa yang ingin Yuffie katakan sebelum Riku memukul kepalanya.

"Ah, baik."

Beri aku alasan kenapa aku harus menjadi anak penurut seperti ini?


Riku POV


"Riku sungguh, kau tak seharusnya memukulku sekeras tadi."

Aku mendengus. Menatap tajam pada wajah merengek Yuffie yang begitu natural―kenapa aku tidak memintanya menjadi pemain film saja daripada Ninja dulu?

"Apa? Iya-iya aku berhanti pura-pura," keluhnya. Mengacak kasar rambutnya sendiri sebelum menyilangkan kedua kakinya, "kau tahu? Cipratan darah di bajumu terlalu anyir. Dan sebagaimana kau menemuiku lima puluh tahun yang lalu, aku tetap membenci cairan dari pembuluh nadi para tikus percobaan itu."

Bola mataku berputar. Tidak bisakah dia kesampingkan sesaat mengenai 'parfum' yang kukenakan barang sebentar saja? Setidaknya setelah Sora tak ada mungkin?

"...tikus percobaan kau bilang? Lalu memangnya kita ini apa?" tanyaku sinis.

Gadis itu tak menjawab pertanyaanku. Kembali menyesap herb tea yang kubuat dengan tekhnik Alchemy.

Ia yang memulai pembicaraan ini, tapi ia juga juga yang selalu menghindar. Mengenang sebuah ingatan yang ingin dilupakan. Jalur pemikiran yang... terlalu kompleks.

"Anak itu... Apa dia yang mewarisi darah mereka berdua? Apa dia adalah efek samping dari kesalahan kita?" alihnya ragu. Menatapku lekat seolah meminta agar aku ucapkan sebuah penolakan pada hasil hipotesanya.

"Entahlah, dia... Bersikap seolah tak memiliki ingatan apapun."

Ukiran senyum kukembangkan. Menikmati cairan berwarna hijau yang sangat kusukai, cairan yang diajarkan oleh beliau.

"Berapa Grigoi lagi yang tersisa?"

"Seorang... Hanya tersisa dia, anak kecil berambut pirang itu..."

Tak ada yang berucap kembali. Hanya rasa penyesalan pada apa yang terjadi di masa lampau. Sesuatu yang ingin kami tolak kebenarannya―bila itu benar maka keberadaan kami adalah mimpi yang menjadi nyata seperti sebuah kisah akan seorang mimpi yang menyelamatkan dunia nyata.

Lucu sekali.

Rasanya bukan rasa ini yang kami harapkan. Melainkan sebuah kepuasan bersama, kami... Benar-benar menentang kehendak alam.

"Kau... Berapa lama akan ada di kota ini?"

"Satu bulan kelihatannya, bila Sora tidak keberatan."

"Dasar iblis, kau berikan anagram dari nama Roxas pada seseorang yang tak tahu apapun?" Yuffie mendesis kesal. Menatapku antara percaya dan tidak pada apa yang sudah kulakukan.

"Bagaimana kau tahu?"

"Mudah, enam abad lebih mengenalmu dan akan mudah untuk menghafal isi kepalamu yang kehabisan sekrup. Dan lagi, bila hipotesaku adalah salah, kau juga yang akan semakin kehilangan rasa."

"Kalimat terakhir, memangnya rasa apa yang tertinggal padaku?"

"Tak ada."


Sora POV


Aku terjaga saat bulan yang menyerupai kuku kucing bertengger tepat di atas langit malam berbintang. Aku tak ingat kapan mulai terlelap. Hanya segelintir ingatan mengenai mimpi yang kuingat. Senyum sinis dari seorang pria bermata emas, sosok yang tak pernah kulupakan. Ayah.

Aku sangat mengeri, sekali aku terjaga oleh mimpi darinya aku tak akan dapat terlelap.

Sudah tiga belas tahun aku meninggalkan mereka yang bahkan tidak pernah memberiku nama. Tapi tetap saja mereka terus menghantuiku, seolah tak rela bila aku memulai kehidupan tanpa adanya ancaman.

"Riku..." bisikku lirih. Mengharap dengan sebuah nama itu perasaan yang mencekik ini akan hilang―sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Tapi tidak untuk kali ini. Tidak lagi.

Karena saat aku mengucap namanya yang terlintas dalam benakku adalah Riku yang tengah berbagi ruang dengan Yuffie―tidak ada salahnya bukan seorang remaja berusia delapan belas tahun berpikir hal-hal milik orang dewasa? Apa aku salah?

"...mungkin bila pagi menjemput aku akan memisahkan diri dari Riku."

Betapa egoisnya pemikiranku kali ini. Tapi bukankah memang seperti itu? Riku terlihat sama sekali tidak masalah saat Yuffie merangkulnya. Seolah itu adalah hal yang wajar dilakukan―dan pengertian lain adalah karena Yuffie-lah sang kekasìh yang sebenarnya.

Seharusnya aku tahu... Kebaikan, perhatian dan lain sebagainya yang kuterima dari Riku adalah karena dia merasa simpati padaku. Oh... Bodoh! Sora bodoh! So―apa aku pantas memakai nama ini?


Well, our lovely Uke mulai kesasar dengan pikiran sepihaknya sendiri ^^
(Author ditimpuk karena masukin A/N seenak jidat)


Kuambil langkah-langkah kecil saat tengah menuruni anak tangga. Berhati-hati agar tidak membuat sebuah kebisingan dalam depat kegelapan malam.

Satu jam aku memutar diri di atas kasur, dan satu jam pula bola kaca aqua milikku tak ingin menutup.
Mimpi sial.

Menghentikan gerakan perlahan milikku saat akhirnya kaki-kaki telanjangku berhasil mengijak dedaunan kering di luar sana. Taman yang menyelubungi rumah mewah milik Yuffie.

Sungguh, bukankah tak akan terasa sepi bila ia menikah dengan Riku saja?

Kutatap ceceran tinta berkilau di atas sana, menikmati saat di mana daun-daun yang jatuh menampar wajahku. Hingga sebuah lagu menghentikan fantasiku. Sebuah lagu yang terdengar begitu... Menyedihkan.

"...merra ferda etealune...(1)"

Terasa familiar. Rasanya seperti lullaby yang senang digumamkan wanita itu kala menidurkanku―tertidur agar rasa sakit tak perlu kurasakan. Hanya saja nada ini tidaklah terdengar bengis―aku bahkan sudah muak mengingat caranya menyanyi―melainkan bagaikan tengah menyayat hati.

"Erphy chsee syunaht...(2)"

"Merra haf na endia her ar ciel...(3)" Suara lain. Getaran pita suara yang sangat kukenal, Riku?

Tapi rasanya itu bukan suara milik Yuffie. Suara gadis itu jauh lebih tinggi daripada nada halus yang terdengar.

"Noes...(4)"

Terlihat. Seorang gadis berambut merah yang sepantaran denganku―mungkin.

Keduanya berhenti mengurai nada dan kata. Saling terdiam di antara guguran daun pada malam berbintang. Juga... Memandang satu sama lain.
"Kembali... Kau membawa aroma darah kakak," gadis itu berucap lirih. "Aku ucapkan terimakasih dari lubuk hatiku," tambahnya.

"Terima kasih? Untuk apa? Bukankah kau tahu sendiri apa yang akan kulakukan sekarang padamu, Kairi?"

"Silahkan saja."

Samar aku menangkap pantulan akan kesedihan dalam bola mata biru sang gadis. Menatap Riku sesaat sebelum menutup kelopak mat...anya.
Hal berikutnya yang kulihat hanyalah cipratan darah kehitaman. Bukan karena suasana yang kurang pencahayaan. Tapi memang hitam. Hitam pekat dan jauh dari warna darah yang seharusnya merah.

Kilatan pisau yang menghunus jantung gadis bernada Kairi kutemui. Tergenggam erat dalam telapak tangan Riku yang dilapisi sarung tangan hitam.

"Maaf, sekarang yang tersisa benar-benar hanya Roxas. Aku janji... Setelah Roxas, Yuffie akan menyusulmu... Terlelaplah lebih dahulu K41121."

E... Eh?


Silahkan bunuh Rui untuk bahasa alay atas nama Kairi +rolling eyes+


Kamus bahasa nyeleneh dari game Ar Tonelico :D

(1) Merra ferda etealune - We live in eternity.
(2) Erphy chsee syunaht - Memory start to vanish
(3) Merra haf na endia her ar ciel - We have no end in this world
(5) Noes... - Alone...


Ini Ver. penuhnya kalau penasaran.

Merra ferda etealune,
Enerel her ar ciel,
Vege na endia,
Erphy chsee syunaht,
Merra haf na endia her ar ciel,
Noes...
Ryushe jass endia.

Translatenya nanti di chap 3. G asik kalau Rui artikan sekarang. Kalian cari di forum AT tetep g akan ketemu tapi ^^v

Kecuali kalian artikan sendiri dan cengo ngeliat kalimat-kalimat yang kurang huruf T-T

Ini sudah bukan two-shot... Tapi Rui nggak akan buat panjang-panjang ~.~

Untuk two-shot kayaknya agak berat pas bikin.


Mind To Review?

Menerima Flame yang membangun dan bukan Flame akan cacian!