My Promise

Disclaimer : Yang jelas Fairy Tail dan Naruto bukan punya saya.

Summary : Ini hanyalah sebuah kisah rumit yang dilalaui tokoh utama dalam menjalankan janjinya agar bisa membuat Zeref beristirahat dengan tenang.

Manusia dan Naga. Kumpulan kebencian dan makhluk yang memiliki segudang expresi.

Naruto, remaja yang seharusnya menginjak usia 17 tahun ini terperangkap dalam 3 masalah.

Pertama. Dia bangun di atas ranjang di tempat yang tidak di ketahui oleh nya.

Kedua. Dia terjebak dalam tubuh bocah berusia 10 tahun, walaupun kekuatannya masih belum berkurang, bahkan bertambah karna latihan.

Dan terkahir…

Ketiga. Dia terjebak dalam sebuah masalah yang melibatkan Kota tempat ia tinggal, dan sekarang ia berada di sarang para Naga, bertarung dengan seekor Naga coklat yang mengaku bernama Hacantoncheir, Naga yang memiliki element bayangan, seperti Shikamaru, 'temannya'.

Melakukan serangkaian segel tangan dengan cepat dan tepat sesuai dengan kodratnya, kemudian Naruto menembakkan ribuan jarum-jarum angin tajam yang mengarah ke Hecan. Tidak tidak tinggal, Hecan kemudian mengumpulkan energinya di mulut, lalu melepaskannya untuk mengahalau jarum-jarum milik Naruto.

Naruto yang melihat tekniknya gagal kemudian terbang ke arah Hecan dengan cepat, Hecan yang melihatnya tinggal tinggal diam –karna bagaimana'pun dirinya tidak ingin lagi merasakan kekuatan dari pukulan Naruto, dengan cara yang sama untuk menghalau jarum milik Naruto tadi, Hecan meyemburkan segumpalan energy gelap ke arah Naruto, dan Naruto hanya menghindarinya dengan cara terbang secara zig zag.

"Kau pikir itu bisa membunuhku?" mata milik si Naga melebar ketika matanya tidak menangkap si pirang dan dirinya juga dikejutkan lagi dengan sebuah rasa sakit yang mendera punggungnya, membuatnya terdorong jauh ke bawah. Sedangkan para Naga yang menatap pertempuran Naruto dengan Hecan dengan pandangan tertarik, karna ini kali pertamanya ada yang bisa memojokkan seekor Naga –walaupun Hecan itu adalah yang terlemah di antara ras Naga.

Membalikkan tubuhnya dengan cepat, kemudian Hecan menyembuarkan energy gelap yang sama seperti yang tadi untuk menyerang Naruto, tetapi Naruto hanya menatap datar gumpalan energy yang mengarah kepadanya. Mengulurkan tangannya ke depan, lalu dari tangannya perlahan berkumpul cakra merah dan biru, lalu Naruto memadatkannya dengan rasio tertentu…

DUARRRR

Naruto menembakkan gumpalan cakra yang padat tersebut dan memebelah gumpalan energy milik Hecan, tetapi tidak sampai di situ saja, bijudama tersebut terus melaju kencang ke arah Hecan yang melebarkan matanya, dan untuk pertama kalinya ia berpikir…

MATI DI TANGAN MANUSIA

Para Naga yang menatap bekas pertarungan Naruto melebarkan matanya, bocah di depannya ini bukanlah manusia biasa, karna menurut mereka…Manusia tidak akan pernah bisa mengalahkan Naga –tapi apa sekarang? –di depannya berdiri seorang bocah yang menatap datar ke arah Hecan yang sudah terkapar dengan sebuah lubang menganga di bagian dadanya, tidak ada expresi menyesal ataupun terkenjut, seakan itu semua sudah biasa baginya.

"Terima kasih sudah mau jadi samsak untuk melatih jutsu baru'ku Hecantoncheir, aku tidak akan melupakan pertarungan ini!" perlahan Naruto terbang menjauhi sarang Naga tersebut, tetapi terhenti saat sebuah suara menginstrupsinya.

"Si-siapa se-sebenarnya 'aku' Ningen?" Naruto mendekati Hecan yang masih mencoba untuk bangun dengan susah payah dan berhenti tepat di depan mata besarnya.

"…." Hecan melebarkan matanya mendengar bisikan Naruto, dan dirinya membiarkan Naruto untuk memegang kepalanya. Perlahan di mulai dari kaki, lalu badan, dan akhirnya kepala, semuanya berubah menjadi batu.

"Tidurlah dengan tenang Hecantoncheir" dan selanjutnya yang dilihat oleh Naga yang lainnya adalah kehampaan di tempat Naruto tadi.

XxX_xXx_XxX

Naruto menatap bulan yang hanya menampakkan sedikit cahayanya, mengingat pertarungannya dengan Naga coklat tadi membuatnya sedikit terhibur, karna bagaimana'pun selama di dunia ini dirinya tidak pernah bertarung dengan seoarang'pun karna mayoritas penduduk di Kota tempat dirinya tinggal bukanlah penyihir, hanya beberapa orang saja yang menjadi penyihir karna kebutuhan akan profesinya, seperti Dokter, misalnya.

Naruto berjalan dengan santai menuju tempat di mana dia tinggal dan setelah sampai di depan pintu gerbang Kota, matanya melebar, air mata menggenang membuat pandangannya kabur.

Siapa?

Siapa yang telah menghancurkan Kota tempat ia tinggal?

Siapa?

Matanya memicing ketika melihat sekumpulan pria membawa gadis dari kota tempat ia tinggal, menajamkan penglihatannya lagi, kemudia matanya melebar melihat Lilith tergeletak tak berdaya dengan darah menggenang di bawahnya.

Pandangannya menggelap, sapphire cerah telah tergantikan dengan mata biru kelam, seakan tidak ada jiwa manusia yang ada di dalam tubuh bocah 10 tahun tersebut. Melangkah pelan, tetapi di setiap langkahnya ada sebuah tekanan yang siap siapapun yang menghalanginya untuk berjalan.

Tanah bergetar hebat ketika dirinya hampir sampai di tempat sekumpulan pria yang menangkap ibunya.

Merasakan adanya sinyal bahaya dari belakang seorang pria yang tersenyum bejat, -sebut saja namanya Zen- langsung melihat ke belakang dan matanya memutih ketika dirinya terlambat untuk menghindari pukulan bocah yang terlihaat berusia 10 tahunan tersebut.

Melakukan serangkaian segel tangan, lalu Naruto menghembuskan kabut dari mulutnya, kabut tersebut mengelilingi para pria yang telah berani membakar Kota tercintanya dan membunuh ibunya, tetapi kabut tersebut tidak sampai mengelilingi para sandra.

"Kenapa? –kenapa kalian menghancurkan Kota kami? –kenapa kalian membunuh warga Kota? –dan KENAPA KALIAN MEMBUNUH IBUKU?" pancaran kemarahan terlihat jelas dari sepasang sapphire milik Naruto, dirinya tidak tahu harus ber'expresi seperti apa kali ini, tapi yang pasti tujuannya saat ini adalah membunuh para penjahat yang telah menjarah Kota damai tempat ia tinggal.

-sebut saja mereka adalah bandit-

Para Bandit yang berada di dalam kabut hanya memadang bingung karna adanya fenomena alam ini, lalu mata mereka melihat siluet bayangan anak kecil menuju ke tempat mereka dengan pelan.

"Kenapa kalian menghancurkan Kota'ku?" para bandit hanya diam karna masih bingung.

"Kenapa kalian membunuh warga Kota?" perlahan sebuah seringaian terbentuk di wajah para bandit.

"Kenapa kalian menangkapa wanita dari kota ini?" tawa bejat mulai keluar dari para bandit.

"Dan…KENAPA KALIAN MEMBUNUH IBUKU" nada kemarahan sangat jelas dari ucapan pemuda yang bertransformasi menjadi bocah berusia 10 tahuanan tersebut, tetapi bukannya jawaban yang ia dapat, malahan tawa bejat dan perkataan yang benar-benar membuatnya marah, sangat marah.

"TENTU SAJA KARNA KAMI SENANG MELAKUKANNYA BOCAH, MEMBUNUH ADALAH HOBI KAMI, KARNA WANITA DI SINI CANTIK-CANTIK JADI DAPAT KAMI JADIKAN PELAMPIASAN NAFSU KAMI, LALU KAMI JUAL SEBAGAI BUDAK, tetapi sayang…" perkataan selanjutnya adalah perkataan di mana Naruto mengeluarkan semua kekuatan yang ia miliki…

"Pelacur berambut putih itu berani melawan kami, dan sangat terpaksa kami membunuhnya, padahal dia sangat cantik dan dapat mengahasilkan uang yang banyak untuk kami" mereka tidak sadar siapa yang mereka sebut, karna Lilith adalah satu-satunya wanita dari Kota Elf yang memiliki rambut putih salju.

DUARRRRR

Ledakan energy membuat mereka semua bungkam, tidak ada lagi yang berani tertawa atau menunjukan expresi yang lainnya, kecuali ketakutan.

Sekarang mereka sadar bahwa yang di hadapan mereka sekarang bukanlah bocah yang tadi mereka remehkan, melainkan sosok predator yang siap memangsa mereka, jika mereka melakukan gerakan yang salah, walupun sedikit.

"Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati. Mati!" berulang kali kata tersebut terucap dari bibir mungilnya, dengan berurai air mata, Naruto bergerak dengan cepat di dalam kabut yang ia ciptakan. Menebas. Membelah. Menusuk. Semuanya ia lakukan agar semua orang yang berada di dalam kabut tersebut mati, dan hanya menyisakan seorang yang ia anggap sebagai leader di kelompok bandit tersebut, karna kapasitas sihir orang yang tinggalkan lebih besar daripada anggota lainnya.

Perlahan kabut yang menyelubungi Naruto dan ketua bandit mengilang, dan para warga yang masih hidup dapat melihat Naruto –putra angkat Lilith- bersama dengan ketua kelompok bandit yang menyerang Kota Elf, kota damai yang hanya memiliki beberapa penyihir.

Mata mereka melebar ketika Naruto dengan langkah gontai berjalan ke arah ketua bandit yang syok, di tambah Naruto melangkah tanpa memperhatikan mayat-mayat yang bertebaran di sekelilingnya.

"Kimi wa namae?" Naruto bertanya dengan datar, nada yang belum pernah di dengar oleh warga di Kota Elf yang damai ini. Ketua dari bandit tersentak kaget ketika nada datar bertanya namanya.

"J-Ja-son"

"Kenapa kau menyerang Kota kami?" bahkan di setiap langkahnya, badan Naruto bergoyang ke kiri dan ke kanan.

"Ka-kami ha-hanya di-disuruh"

"Dare?" matanya masih menatap kosong si Jason.

"Ra-raja Is-Ishgar" Jason lebih baik membocorkan rahasia ini, dan dengan begitu dia dan penyuruhnya bisa mati bersama. Naruto tiba-tiba berhenti, lalu entah dari mana muncul sebuah gulungan dan Naruto mulai menulis. Melemparkan gulungan itu ke arah Jason dan dengan bingung, serta takut Jason menangkapanya,

"Berikan itu pada Raja-sama!" perintahanya MUTLAK. Dan tanpa perintah lagi, Jason berjalan melewati Naruto, tetapi terhenti ketika suara Naruto terdengar oleh telinganya…

"Dan jika gulungan itu tidak sampai pada Raja-sama, kau….MATI"

'Sial, ternyata Kota yang memiliki sedikit penyihir ini ternyata memiliki monster yang mengerikkan, aku tak akan pergi ke Kota itu lagi!'

Naruto mengehela nafas, jujur sekarang jelmaan dari Jinchuriki Konoha sangat lelah dan frustasi dengan masalah yang melandanya, dan dengan perlahan Naruto berjalan ke arah jasad Lilith dan duduk di sebelahnya.

"Aku tak tahu kalau pertemuan kita sangat singkat, Kaa-san" Naruto mulai bercerita, tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya.

"Kalau aku tahu kita akan bersama sesingkat ini, ku harap aku bisa menceritakan siapa diriku sebenarnya padamu dari dulu –tapi, seperti yang terlihat, semuanya terlambat, kau telah mati dan Kota ini porak poranda karna kebusukan dari pemimpin Ishgar.

Ne Kaa-san, aku adalah Naruto Uzumaki, pemilik cakra terakhir di dunia ini –aku tak tahu bagaimana aku bisa hidup kembali, tetapi yang pasti dulunya aku telah mati karna vonis dari warga Konoha dan para Tetua Desa, aku adalah putra tunggal dari pasangan Minato Namikaze dan Uzumaki Kushina . aku adalah manusia yang dikorbankan untuk menjadi wadah dari seekor monster yang sering disebut dengan Biju.

Selama aku kecil sampai aku aku berusia 16 aku tak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan –bahkan aku tak memiliki sesuatu ikatan yang disebut dengan pertemanan. aku berpikir awalnya mereka yang ingin berteman dengan'ku adalah orang-orang tulus yang memang memandang diriku sebagai manusia, bagian dari mereka –ternyata pikiran'ku salah, mereka hanyalah alat yang disiapkan oleh para Tetua untuk tetap membuatku tinggal di Konoha.

Bahkan, setelah perjuanganku untuk menyelamatkan dunia dengan menyegel seluruh cakra milik Kaguya yang siap meledak untuk menghancurkan dunia'pun percuma, mereka menganggap'ku sebagai pencuri yang telah mencuri kekuatan mereka dan akhirnya aku dihukum mati.

Dan entah kenapa aku bisa berada di sini dan hidup bersama denganmu, walaupun sebentar tapi aku bahagia –perasan yang selama ini ingin aku rasakan akhirnya bisa kurasakan saat bersama'mu dan waga Kota Elf.

Kau tahu Kaa-san, tadi aku telah membunuh seekor Naga yang bernama Hecantoncheir, menurutkan dia adalah Naga yang baik, walaupun keras kepala, tetapi dari matanya aku tahu dia kesepian –dia tidak memiliki teman dan karna itu aku 'membunuhnya' agar dia tidak menderita lagi. Namun…Untuk apa aku kuat. Untuk apa kekuatan'ku sangat besar. Kalau aku tidak bisa melindungi'mu dan yang lainnya?" Naruto berteriak dengan frustasinya.

"Aku tahu" Naruto tersentak ketika suara Lilith terdengar oleh'nya.

"Aku tahu siapa dirimu dari dulu Naruto-kun! –aku tahu bagaimana perasaanmu saat dirimu dikhianati oleh Desamu! –aku tahu!" Lilith membuka matanya yang berwarna ungu indah.

"Aku tahu bagaimana perjuanganmu untuk medapatkan pengakuan dari warga Desamu!"

"Aku tahu bagaimanana perasaanmu saat kau bertemu dengan orang tua kandungmu!"

"Aku tahu semua yang kau ketahui dan yang kau rasakan!"

"…karna aku adalah satu-satunya makhluk yang mengerti seperti apa dirimu yang sebenarnya, Naruto -kun" mata Naruto melebar ketika mata birunya melihat siapa yang sekarang berada di depannya, bukan lagi Lilith yang telah merawat dan memberikannya kebahagian layaknya orang tua.

"Aku tahu! –Aku tahu! –Aku tahu SEMUA TENTANG DIRIMU NARUTO UZUMAKI"

"O-omae…

...Kaguya"

TBC

Ups, cerita membisankan ya? –ah mau bagaimana lagi, otak saya kesulitan untuk mencari ide untuk chapter ini.

Ah, maaf kalau scane pertarungannya tidak ada, karna saya bukan author yang bisa mendeskripsikan pertarungan tanpa adanya pihak ketiga..

Oh ya, chapter kali ini telah saya penjangkan sedikit, walaupun hanya 200 kata sih.

Dan dari sini, saya AKIRA no RINNENGAN menklik icon X berwarna merah di sudut kanan atas.

Jaa!