PRICKED

Story by. Lin Shouta

Main cast:

- Byun Baekhyun

- Park Chanyeol

Support cast:

- Kim Jongin

And others, find it by yourself kkk

Genre:

Drama, Romance, Marriage life, Hurt/Angst?

Warning!

YAOI, GAY, FUJOSHI, BOY X BOY

COWO X COWO, LAKI X LAKI

CHANBAEK, SLIGHT KAIBAEK

RnR!

Rating:

M, NC-21

Disclaimer:

Cerita ini asli buatan Jung Shouta. Dibuat berdasarkan pengalaman priadi maupun keadaan sekitar(?) juga berasal dari khayalan receh seorang Jung Shouta. Dilarang keras memplagiat atau meng-copy-paste cerita ini. Hargailah kerja keras seseorang.

Summary:

"Bukan perpisaha. Yang menyakitkan, tapi serpihan-serpihan masa lalu yang terus mengikuti hingga membuat luka ini semakin nyata." - Byun Baekhyun

READ, REVIEW, FAV!

ENJOY!


Jakarta, 29 Mei 2017.

Seorang pria masih setia bergelung di dalam selimut tebalnya. Gorden kamarnya masih tertutup dengan rapat, tidak memberi izin matahari masuk menyentuh tidur nya barang sejengkal pun. Pendingin ruangan juga masih menyala memberikan hawa sejuk untuk sang pemilik kamar. Namun, ada yang tidak lazim dengan pria itu. Keningnya di basahi keringat, mungkin bukan hanya keningnya saja, rambut serta tubuhnya pun sepertinya basah. Keningnya tertarik membentuk sebuah kerutan, matanya terpejam sangat erat, ekspresi wajahnya seperti menahan rasa sakit, dan nafasnya memburu. Kepalanya tergerak ke kiri dan ke kanan. Sudah pasti ia di hantui oleh mimpi yang tak membuatnya nyaman dalam dunia keduanya.

Suara ketukan pintu membuatnya seketika terbangun. Ia terkesiap. Ia mengusap wajahnya yang basah. Ia menundukan kepalanya dalam, tak ia hiraukan panggilan seseorang dari balik pintu kamarnya. Pria itu menarik nafas dalam kemudian membuang nafasnya dengan perlahan, hal tersebut ia ulang beberapa kali sampai sekiranya ia merasa dirinya lebih baik. Suara ketukan pintu kembali menyadarkannya.

"Baekhyun? Apa kau sudah bangun? Segeralah mandi dan sarapan bersama." Itu suara ibunya.

"Ya ibu." Jawab Baekhyun sekenanya. Tak lama suara itu menghilang dari balik pintu.

"Ya Tuhan." Pria yang bernama Baekhyun kemudian duduk di tepi ranjangnya. Ia menoleh ke perapian dimana di sebelahnya adalah tempat yang sering ia pakai untuk memanjatkan do'a. Kakinya melangkah ke tempat tersebut, ia bersimpuh, menundukkan kepala dan matanya terpejam. Tangannya bersidekap. Inilah rutinitas yang tak lepas pada diri Baekhyun. Mengadu pada Sang Penguasa kehidupan atas apa yang ia rasakan dan apa yang terjadi pada dirinya.

"Sudah satu tahun berlalu, mengapa rasa ini tidak kunjung hilang ya Tuhan? Bahkan dalam tidurpun aku tidak merasakan ketenangan. Kau yang Maha Pengasih, dekap aku dan limpahi aku dengan kasih sayang-Mu, sayangilah dan sehatkan malaikat kecilku. Kau yang Maha Pemberi kekuatan, salurkan kekuatan-Mu padaku, tegarkan aku Tuhan. Jadikan aku orang yang kuat meskipun kebahagiaanku tidak lagi ada padaku."

Setelah memanjatkan do'anya. Baekhyun mengecup tangannya yang tertaut serta mengulum senyum. Ia bangkit dengan segera untuk membersihkan diri.

"Selamat pagi." Sapa Baekhyun pada orang-orang terkasihnya.

"Selamat pagi anak ibu." Baekhyun mengecup kedua pipi ibunya sebelum mengambil satu kursi meja makan kosong di samping kakaknya. Baekhyun duduk di kursinya, menunggu ibunya yang sedang mengoleskan mayonais pada sandwichnya.

"Hari ini kau fanmeeting di Bandung, Baek?" Kali ini kakaknya yang bersuara. Pria bersurai cokelat keemasan dengan bentuk wajah yang tergolong manis, mata yang indah serta bulu mata yang lentik.

Baekhyun menganggukkan kepala. "Ya hyung. Aku berangkat pagi ini dengan Jongin."

Kakaknya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Menyenangkan bukan memiliki banyak penggemar? Ibu, Ayah, anak kalian yang manja ini sudah terkenal lho." Kakaknya meninju pelan lengan adiknya sebagai gurauan.

"Ah Luhan hyung bisa saja. Aku tidak memiliki penggemar." Baekhyun terkekeh serta menggelengkan kepalanya.

Luhan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, "O-ow, kau tidak usah mengelak Baek. Aku melihat di akun instagram milikmu, followersmu semakin meningkat dan penggemarmu selalu meninggalkan komentar pujian di setiap foto milikmu."

"Benarkah?" Ibunya mulai antusias dengan celotehan kedua anaknya. Nyonya Byun memberikan sandwich yang sudah di olesi mayonais kepada anak bungsunya.

"Ya ibu, bahkan belum lama aku meninggalkan komentar di salah satu fotonya. Ibu tahu? Baru beberapa detik aku meninggalkan komentar, komentar milikku sudah tenggelam oleh komentar komentar dari penggemar si kecil ini." Well, kakaknya mulai berlebihan sekarang. Ia hanya memutar bola matanya malas.

Baekhyun hendak menyantap sandwichnya sebelum ayahnya membuka suara. "Kapan kau akan kembali ke Seoul nak? Ingatlah dengan kewajibanmu."

Suasana ruang makan menjadi hening. Baekhyun mengatupkan kembali rahangnya. Mimik wajahnya terlihat murung. Nyonya Byun yang mengerti suasana hati Baekhyun segera mengalihkan perhatian. "Ayo cepat selesaikan sarapan kalian atau kalian akan terlambat."

Baekhyun tersenyum menatap ayahnya, "Besok semua urusanku disini selesai, aku akan segera kembali ayah. Lagipula pekerjaanku disana juga sudah menunggu dan aku tentu ingat dengan kewajibanku ayah, tiga hari berada disini membuatku gelisah, aku tidak enak pada bibi Kim."

"Pentas baru lagi atau kau sudah memiliki project buku baru? Seandainya kau membawanya kesini, ayah dan ibumu tidak akan sekhawatir ini. Sampai kapan kau menyembunyikannya?" sahut ayahnya. Ibu dan kakaknya menyimak percakapan keduanya.

Baekhyun menganggukkan kepala. "Ya ayah, aku sedang mengerjakan bagian awalnya sekarang di sela-sela latihan untuk pertunjukkan baruku. Aku tidak bisa melakukan hal itu, aku rasa waktunya belum tepat."

Ayahnya menghela nafas kemudian tersenyum. Senyuman yang selalu di dambakan olehnya. "Baiklah, apapun keputusanmu, ayah harap itulah yg terbaik untuk hidupmu. Ayah do'akan semoga kau menjadi anak yang sukses serta dilimpahi kebahagiaan Baek, begitupun kau, Luhan."

Luhan yang sedang menunduk menyantap sarapannya mengangkat kepala. Kedua anak laki-laki itu tersenyum. "Terimakasih ayah."


Baekhyun berada di dalam mobil menuju Bandung saat ini. Bersama dengan Jongin, sahabat yang satu tahun ini sudah merangkap menjadi managernya. Baekhyun memijit pelipisnya, matanya terpejam. Jongin melirik keadaan sahabatnya yang kelihatannya belum kunjung membaik.

"Tidurmu masih tidak nyenyak juga, Baek?"

Baekhyun menggeleng sebagai jawaban.

Jongin menghela nafas, "Demi Tuhan sudah satu tahun berlalu dan kau masih stuck seperti ini?"

Baekhyun meringis mendengar penuturan Jongin. Bahkan orang yang tidak merasakannya saja bisa bicara seperti itu. "Aku tidak tahu Jongin."

Jongin memutar stirnya ke kiri, masih tetap focus pada jalanan di depannya. "Baek, kau membuang-buang waktumu untuk memikirkan hal yang tidak penting. Bahkan sekarang mereka sudah asyik dengan dunia mereka."

Mobil mereka memasuki area parkir sebuah resort yang akan menjadi tempat Baekhyun bekerja hari ini. Pikiran Baekhyun menerawang. Ia memegang dadanya lalu mengelusnya perlahan. Hal yang selalu ia lakukan di saat dadanya merasakan sesak. Mobil milik Jongin sudah terparkir rapih, Jongin juga sudah melepaskan seatbeltnya. Tapi Baekhyun masih sibuk dengan pikirannya sampai akhirnya ia tersadar setelah Jongin membantu melepaskan seatbelt miliknya.

"Oh? Sudah sampai?" Tanya Baekhyun dengan lugunya.

" .Byun." ucap Jongin penuh penekanan. "Dan penggemarmu sudah menunggumu disana." Lanjutnya seraya menunjuk keadaan di luar mobil yang telah padat di penuhi banyak orang menggunakan dagunya.

Baekhyun mengambil tasnya, mengeluarkan sebuah kaca dan lipbalm. Ia menata dirinya dan memoleskan sedikit lipbalm pada bibirnya agar terlihat fresh di depan banyak orang. "Apa sudah oke?" ia bertanya pada Jongin.

Jongin mengacungkan kedua jari jempolnya. Baekhyun menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Baiklah, ayo!" dengan itu ia membuka pintu mobil dan teriakan histeris dari banyaknya orang memenuhi indera pendengarannya.

Baekhyun dan Jongin memasuki resort dengan penjagaan. Ia merasakan tubuhnya terdorong, disini begitu sesak tapi Baekhyun mencoba melambaikan tangan dan tersenyum kepada orang-orang yang mendukungnya. Dengan sedikit perjuangan akhirnya Baekhyun memasuki halaman utama resort.

Satu kata yang ia jelaskan saat ini. Sejuk.

Natural resort. Gumam Baekhyun dalam hati.

Resort ini bukan gedung mewah seperti yang kalian pikirkan, melainkan sebuah perkebunan strawberry dimana pemandangan yang terpampang adalah bukit hijau, pegunungan, strawberry segar yang siap panen, juga terdapat rumah kupu-kupu di sisi perkebunan. Dan orang yang memilih tempat ini adalah Kim Jongin. Baekhyun sedikit membanggakan sahabatnya yang berkulit hitam itu.

Baekhyun duduk di tempat yang telah di sediakan untuknya memulai pekerjaan. Matanya di suguhi pemandangan yang begitu indah. Sejenak Baekhyun melupakan rasa pedih yang ia rasakan belakangan ini. Acara di mulai. Orang-orang yang datang dengan membawa buku karangannya maju satu per satu. Sebenarnya pekerjaan Baekhyun ini tidak begitu berat. Ia hanya akan melakukan tanda tangan pada bukunya, bercakap-cakap sedikit dengan orang yang membeli bukunya- setidaknya ia harus mengucapkan terimakasih bukan? Namun orang yang datang hari ini begitu banyak. Leher Baekhyun hampir saja retak rasanya. Baekhyun mengedarkan pandangan mencari sosok Jongin.

Dimana anak itu. Tsk!

"Annyeonghaseyo, Baekhyun-sshi."

Satu kata itu menarik perhatian Baekhyun. Ia menoleh ke sumber suara. Ternyata orang selanjutnya telah ada di depannya dengan membawa sebuah buku dan sepertinya orang ini juga berkebangsaan Korea. Terkutuklah dengan Kim Jongin yang menghilang sampai ia tidak focus pada pekerjaan nya.

"Eoh? Annyeonghaseyo." Balas Baekhyun ramah. Ia menandatangani buku milik pria berbadan tinggi di hadapannya. "Menetap di Indonesia?" tanyanya.

"Tidak, hanya sedang melakukan pekerjaan disini, sama seperti dirimu." Pria itu tersenyum. Baekhyun sempat tersihir dengan senyum pria di hadapannya yang jelas-jelas namanya saja ia tidak tahu- oh ya, nama!

"Ah geurae. Maaf, siapa namamu?" Tanya Baekhyun.

"Oh Sehun." Jawab pria itu dengan sedikit di eja.

Baekhyun tersenyum. Oh Sehun. Ucapnya dalam hati sembari menulis nama pria itu di bukunya. Ia mendongak dan memberikan buku tersebut pada Sehun. "Ini Sehun-sshi, terimakasih sudah membeli buku ku dan selamat membaca."

Sehun menerima bukunya. "Terimakasih kembali Baekhyun-sshi, selamat bekerja." Ucapnya dengan sedikit tersenyum membalas jabatan tangan Byun Baekhyun. Baekhyun agaknya sedikit takjub dengan pria di hadapannya. Rahangnya begitu tegas, kulitnya bahkan lebih putih daripada kulit Baekhyun, bibirnya, dan mata yang tegas itu.

Astaga apa yang aku pikirkan.

Sehun sudah berlalu, dan orang yang dihadapan Baekhyun sudah berganti kembali. Baekhyun harus kembali focus pada pekerjaan nya.


Jongin menghampiri Baekhyun yang sedang merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, "Sudah selesai?" Tanya Jongin.

Baekhyun mendongak, memberikan tatapan membunuh kepada manager sekaligus sahabatnya itu. "Keparat kau Kim Jongin, aku mencarimu sedari tadi. Kemana saja kau hah?"

Jongin mendecak, "Ey ratu sejagad. Kau lupa kalau aku harus bertugas menyimpan semua tumpukan-tumpukan hadiah yang penggemarmu berikan untukmu?"

Baekhyun menghela nafas, "Sebanyak apa kali ini?"

"Lebih banyak daripada saat di Jakarta."

Baekhyun menghela nafas, "Kau tidak lupa untuk menyimpannya dengan benar kan? Jangan sampai ada yang rusak, setidaknya kita harus menghargai mereka." Mereka berjalan menuju tempat dimana mobil Jongin terparkir. Jongin membuka mobilnya yang terkunci.

"Tentu saja, Tuan Byun." Baekhyun dan Jongin memasuki mobil. Tak lama kemudian mobil yang Jongin kendarai melesat meninggalkan tempat yang indah menurut Baekhyun.

Jongin kembali focus pada jalanan di depannya. Sesekali ia menambah kecepatan laju mobilnya namun sebuah pukulan telak mengenai kepalanya. Siapa lagi yang berani memukulnya kalau bukan Baekhyun. Baekhyun mengambil ponsel di dalam tas saku miliknya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Nomor yang selama setahun belakangan ini selalu menganggu dirinya.

Jongin melirik sahabatnya, karena ada yang aneh disini. Baekhyun bungkam dan Jongin tahu menjadi pendiam bukanlah diri Baekhyun yang sesungguhnya. "Ada apa, Baek?"

Baekhyun dengan susah payah meneguk liurnya. Dadanya sesak. "Dia menelepon hingga belasan kali."

Jongin mendengus. "Dasar tidak tahu diri. Jangan pernah kau angkat, atau menanggapi segala pesan darinya. Ingat itu Baek. Kau harus mempertahankan hati dan harga dirimu."

Baekhyun mengangguk dalam diam. "Aku tidak mengerti kenapa dia masih mencoba menghubungiku, Jongin. Ayahku bertanya kapan aku kembali ke Seoul. Bahkan untuk memikirkan kembali ke Seoul saja aku tidak ingin tapi aku ingat aku memiliki tanggung jawab yg besar disana."

Oh Tuhan, mata Baekhyun kembali berkaca-kaca.

Jongin terdiam. Ia membawa mobilnya memasuki area wisata bukit perkebunan teh yang kelihatan sepi. Ia ingin melakukan sesuatu yang membuat sahabat masa kecilnya ini merasa lega. Sementara Baekhyun hanya diam memandangi jendela, ia kembali menangis dalam diam. Ia tahu dimana tempat ini. Ia pernah ke tempat ini bersama kebahagiaannya dulu. Baekhyun tidak protes karena Jongin membawanya ke tempat yang justru memiliki beribu kenangan menyenangkan dengan seseorang. Seseorang yang kini tidak lagi ada dalam genggamannya. Ia tahu bahwa Jongin memiliki maksud yang baik.

Baekhyun dan Jongin turun dari mobil. Ia memejamkan matanya yang memanas. Pikirannya melayang.

.

.

Bandung, 6 Desember 2011

Baekhyun turun dari motor biru, melepaskan pegangannya pada pinggang orang di depannya yang mengendarai motor. Mereka sudah sampai. Baekhyun tersenyum menghirup udara segar yang di suguhkan perkebunan teh ini.

"Ayo!" satu suara baritone yang ia kenal menyadarkannya. Tangannya tergenggam. Baekhyun merona atas perlakuan istimewa yang orang ini berikan padanya. Mereka berjalan menuju bukit paling atas. Dengan hati hati Baekhyun melangkah, tak lupa dengan penjagaan orang yang memiliki suara tegas kesukaannya.

"Chanyeol, ini indah." Ucapnya mendongak menatap pria yang memiliki nama lengkap Park Chanyeol.

"Sudah kubilang, disini kau bisa melihat pemandangan yang sangat bagus, Baek." Ucapnya dengan bangga.

Baekhyun memejamkan mata sembari menghirup udara segar yang di hasilkan oleh pemandangan hijau di sekitarnya. Penatnya meluap dan rasa setres yang ia miliki karena tugas sekolah yang menumpuk pun terkikis.

"Baek." Baekhyun menoleh mendengar namanya di sebut oleh suara favoritenya belakangan ini.

"Ya?" ia menoleh pada Chanyeol yang kini tengah menunduk menatapnya.

"Jadilah kekasihku."

Satu kata itu berhasil memberhentikan waktu di sekitar Baekhyun. Ia terkejut mendengar kalimat itu keluar dari bibir tebal orang yang belakangan ini mengisi hari-harinya. Oh Tuhan bahkan orang yang bertubuh tinggi ini tidak repot-repot merangkai kata kata untuk mengungkapkan kata cinta.

Chanyeol tidak mengerti kenapa Baekhyun malah diam menatapnya dan bukannya menjawab. "Baek?" panggilnya seraya menggenggam jemari mungil Baekhyun.

"A-ah?" Baekhyun gelagapan. Pipinya merona.

"Jadi?" Tanya Chanyeol masih setia menunggu jawaban keluar dari bibir mungil pria di hadapannya.

"C-Chanyeol, aku laki-laki." Jawab Baekhyun ragu-ragu, ia menunduk menatap kakinya. "Dan kau sudah memiliki kekasih." Baekhyun menggigit bibir dan memainkan jemari kakinya yang tidak terlihat.

"Aku tahu. Lalu?" tukas Chanyeol.

Baekhyun mendongak, menatap wajah pria yang lebih tinggi darinya. "Kita tidak mungkin bisa menjadi sepasang kekasih, Chanyeol."

Chanyeol mendengus. Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Baekhyun. Menatap mata itu dengan tatapan tajamnya. Baekhyun sontak memundurkan wajahnya. "Baekhyun, tatap mataku."

Baekhyun dengan ragu masuk ke dalam lingkaran hitam itu.

"Kau mencintaiku?"

Jantung Baekhyun berdenyut mendengarnya. Mendadak udara di sekitarnya menghilang. Ya Tuhan selamatkan aku. Panjatnya kali ini. Baekhyun menganggukan kepala membuat Chanyeol tersenyum. "Tapi kau memiliki kekasih, Chanyeol. Aku tidak bisa." Ia menundukkan kepalanya kembali.

Chanyeol menghela nafas kasar. "Aku akan berusaha adil membagi waktu untuk kalian, Baek."

Baekhyun terkejut mendengarnya. Dengan cepat ia mendongak kembali, menatap tajam pria di hadapannya. "Kau gila?" tanyanya sarkartis. Baekhyun menarik tangannya dari genggaman pria bersurai hitam itu. "Tidak." Ia mundur satu langkah.

"Baek, aku berjanji aku bisa membagi dengan adil." Chanyeol menatapnya dengan sayu.

Baekhyun menggelengkan kepala, "Kau mencintaiku?" kini ia mulai berani menatap tegas mata Chanyeol.

Chanyeol mengangguk. "Maka dari itu jadilah kekasihku."

"Chanyeol, kau benar-benar sinting!"

"Aku serius Byun Baekhyun."

Baekhyun meredam emosinya yang memuncak dengan menarik nafas dalam. Apa pria di hadapannya ini gila? Orang yang sedang memintanya menjadi kekasihnya ini telah mempunyai kekasih. Baekhyun tidak cukup gila untuk langsung menerima ajakan Chanyeol. Itu berarti ia akan di jadikan kekasih simpanan Park Chanyeol. Ini sinting.

"Aku ingin pulang." Baekhyun hendak berjalan menuruni bukit sampai tangannya tercekal erat oleh Chanyeol.

Baekhyun menoleh sedangkan Chanyeol menatapnya dengan ekspresi yang tidak dapat Baekhyun artikan. "Pilih aku, atau kekasihmu?" mungkin pertanyaan yang terlontar dari mulut Baekhyun ini memang gila. Tapi sungguh, ia pun mencintai pria ini meskipun baru sekitar beberapa minggu mereka menghabiskan waktu bersama dan Baekhyun tidak munafik bahwa ia ingin memiliki Chanyeol seutuhnya.

Bukannya menjawab, Chanyeol melepaskan genggaman tangannya di lengan Baekhyun. Baekhyun menunduk, tersenyum sarkartis, ia tahu jawabannya. Pria ini tidak akan mungkin melepaskan kekasih cantiknya untuk seorang pria yang tidak bernilai apa-apa seperti dirinya. Tanpa Baekhyun duga, Chanyeol mengambil dompet di sakunya, ia menarik keluar sebuah foto dari dalam benda persegi empat berwarna dark blue itu. Chanyeol memperlihatkan foto siapa yang ia ambil dari dalam sakunya kepada Baekhyun sejenak sebelum merobeknya menjadi sebuah serpihan serpihan kecil lalu ia hempaskan foto itu ke udara. Baekhyun membulatkan matanya. Kertas tak berbentuk yang berterbangan itu adalah foto Chanyeol dengan kekasihnya dan satu lembar foto kekasihnya.

Baekhyun tidak bergeming, serpihan foto itu berterbangan di depan matanya.

"Sekarang kau tahu jawabannya, Baek." Ucap Chanyeol menyadarkan Baekhyun.

Ya, jelas Baekhyun tahu jawabannya dan ia mendapatkan satu fakta pada saat Chanyeol menunjukan foto tersebut bahwa kekasih Chanyeol bukanlah wanita cantik yang selama ini Baekhyun pikirkan, melainkan seorang pria.

.

.

Sebuah tepukan di kepalanya membuyarkan pikiran Baekhyun pada masa lalu, masa saat semuanya di mulai. Ia menoleh ke belakang dengan genangan air yang terbendung di matanya.

"Teringat sesuatu?" Tanya Jongin. Baekhyun mengangguk dan Jongin menghela nafasnya. "Maaf Baek, bukannya aku bermaksud semakin menyakitimu. Aku membawamu ke sini untuk kau meluapkan depresimu. Aku tahu tempat ini memiliki banyak kenangan antara kau dan dia. Tapi memang disinilah tempat yang paling cocok. Kau bisa berteriak sekencang-kencangnya meluapkan emosimu."

Baekhyun menoleh menatap Jongin yang kini berdiri di sampingnya. "Terimakasih Jongin." Lirihnya. Ia tidak akan protes pada sahabatnya kali ini. Ia tahu Jongin berniat baik.

Baekhyun dan Jongin kini berada di sebuah padang rumput yang tinggi menjulang. Dimana di depan padang rumput ini terdapat sebuah danau yang membentang luas. Sebelum ia dan Jongin kesini, ia harus melewati kebun teh yang luas, tempat yang dulu memiliki banyak kenangan yang Baekhyun lewati bersama mantan kekasihnya.

Jongin tersenyum, "Luapkanlah Baek."

Setelah mendapat dorongan dari Jongin, Baekhyun berteriak sekencang yang ia bisa. Meluapkan segala emosi yang selama ini tertahan di dalam jiwanya. Air mata terus mengalir di iringi teriakan Baekhyun yang memekik. Suara Baekhyun menggema. Jongin memperhatikan sahabat kecilnya yang mulai terlihat agak tenang dalam diam. Dada Baekhyun naik turun mengatur nafasnya. "Katakan kalau kau memang merindukannya Baek."

Baekhyun jatuh terduduk, pundaknya mulai berguncang dan ia terisak namun dengan sekali menarik nafas panjang, ia menuruti perintah Jongin. "Park Chanyeol! Aku merindukanmu! Tetaplah sehat untukku dan selamat berbahagia!"

Hati Jongin tersentuh mendengar penuturan sahabatnya. Ia tersenyum atas betapa lembutnya hati Baekhyun. Sudah jelas ia di sakiti oleh pria brengsek disana namun dia tetap memikirkan kesehatan orang itu dan mendo'akan kebahagiaan nya yang jelas-jelas dirinya sendiri tersakiti disini. Jongin berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Baekhyun. Ia mengusap lembut pundak sahabatnya yang masih berguncang. "Sudah puas?"

Baekhyun mengangguk sebagai jawaban. "Ayo kita pulang, kau harus beristirahat."


Soekarno Hatta Airport, 30 Mei 2017.

"Baekhyun, ingat jaga kesehatanmu, jangan memaksakan diri untuk memforsir dirimu. Jika kau lelah, beristirahatlah." Nyonya Byun menatap wajah putra bungsunya dengan penuh kekhawatiran.

"Ya ibu." Baekhyun tersenyum.

Ibunya mengalihkan pandangannya kepada putra sulungnya, "Luhan, kau juga jangan terlalu memforsir dirimu untuk bekerja. Kau memang seorang dokter, tapi dokter juga harus memikirkan kesehatan dirinya, tugasmu adalah menyembuhkan orang yang sakit, jangan sampai kau malah mengabaikan kesehatanmu dan jatuh sakit."

Luhan serta Baekhyun melirik satu sama lain. Kekhawatiran ibunya mulai memuncak hari ini karena kedua putra kesayangannya akan pergi meninggalkan Jakarta untuk pulang kembali ke kampung halaman. "Ya ibu, aku akan baik-baik saja. Seharusnya ibu lebih mengkhawatirkan anak kecil yang terlihat seperti mayat hidup ini daripada aku." Luhan menyindir Baekhyun.

Ibunya menghela nafas, "Ibu jelas mengkhawatirkan kalian berdua, jarak kita akan jauh nak. Bukan hanya melewati satu pulau. Tapi kita akan terlampau berbeda Negara. Ibu mana yang tidak gelisah jika terpisah jauh dari anaknya."

"Sudahlah sayang, anak-anak kita sudah besar. Mereka bisa menjaga diri mereka dengan baik." Tuan Byun yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara demi menenangkan wanita terkasihnya. Ia berdekhem lalu menatap tegas kedua anaknya. "Jaga diri kalian baik-baik. Hiduplah sehat disana, sering-sering hubungi ayah dan ibu."

Tuan Byun mendekat ke arah Baekhyun. "Baekhyun, sebenarnya ayah menginginkan kau untuk tidak kembali ke sana. Namun ayah tidak bisa memaksakan kehendak ayah, tapi.." Tuan Byun menggantungkan kalimatnya membuat ke delapan pasang mata itu – Nyonya Byun, Baekhyun, Luhan dan Jongin - mengkerutkan keningnya menunggu apa kalimat yang akan terlontar dari pria paruh baya ini. "Tapi ayah mohon padamu, jika kau bertemu dengan pria itu lagi, jangan biarkan ia menyakitimu kembali. Ayah ingin anak ayah kembali menjadi dirinya yang sesungguhnya."

Baekhyun mendadak kelu, ia tersenyum getir sebelum berhambur memeluk ayahnya. Tuan Byun menepuk-nepuk punggung anak bungsunya. Ia melanjutkan kalimatnya setelah Baekhyun melepas pelukannya. "Kim Jongin, temani anak kecilku ini. Jangan biarkan ia sendirian. Sampaikan salamku pada ibumu, kami mengucapkan terimakasih banyak."

Jongin menganggukkan kepala, "Siap paman Byun."

Suara wanita pada pengeras suara yang menggema di bandara membuyarkan moment berharga keluarga Byun. Sudah saatnya Baekhyun, Luhan dan Jongin untuk check in.

"Kami berangkat ibu, ayah." Jawab kedua saudara itu sembari memeluk kembali kedua orang tuanya.


Jongin, Baekhyun dan Luhan kini sudah duduk tenang di dalam pesawat. Burung raksasa itu kini telah terbang menembus awan menuju ke Seoul, Korea Selatan. Baekhyun melirik Jongin di depannya yang sudah terlelap dengan selimut dan headphone yang menutupi telinganya. Ia melirik ke samping, kakaknya – Luhan juga sudah terlelap, padahal sebelum pesawat ini belum lepas landas, Luhan selalu tersenyum sambil mengetik sebuah pesan di handphonenya. Baiklah mungkin kakaknya sedang dalam masa puber, Baekhyun tidak ingin ambil pusing soal itu. Ia kembali berkutik dengan tulisan di laptopnya. Seperti yang sudah ia katakan pada ayahnya bahwa ia sedang mengerjakan tulisan untuk buku terbarunya. Jemarinya bergerak lihai pada keyboard laptopnya dan jangan lupakan air mata yg mengalir dalam diam kala ia mengetik satu persatu kalimat pada layar laptopnya.

.

.

Seoul, 5 April 2012

Baekhyun terduduk di dalam kelasnya. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan. Ia memejamkan matanya. Ujian pada jam pertama telah selesai, Baekhyun merasakan kantuk yang teramat sangat karena otaknya di paksa berfikir memecahkan rumus-rumus keparat matematika. Sebentar lagi matanya mulai terpejam sampai sebuah kecupan terasa di puncak kepalanya. Baekhyun menoleh, ternyata itu adalah Park Chanyeol, pria yang selama empat bulan ini telah resmi menjadi kekasihnya. Pantas saja teman-temannya yang masih berada di dalam kelas histeris melihat apa yang Chanyeol lakukan pada Baekhyun.

Chanyeol tersenyum, "Kusut sekali kekasihku."

Baekhyun memutar tubuhnya menghadap Chanyeol. "Kepalaku hampir meledak, Chan."

Chanyeol terkekeh, "Yang penting kau bisa melewatinya Bee." Chanyeol mengusap lingkaran hitam di bawah mata Baekhyun. "Ayo, kita ke kantin."

Baekhyun tersenyum manis mengikuti langkah Chanyeol menuju kantin.

.

.

"Jangan terlalu banyak memakai saus, Baek!" Chanyeol memperingati Baekhyun yang dengan tidak senonohnya menuangkan saus pedas tanpa henti ke dalam piringnya.

"Ini hanya sedikit, kok." Baekhyun melahap makanannya.

Chanyeol menghela nafasnya. Ia tahu betul seberapa kalipun ia memperingati Baekhyun masalah saus, kekasih mungilnya tidak akan mau dengar. Pedas adalah rasa favoritenya. "Baiklah kalau tidak mau dengar, tapi jangan merengek padaku kalau nanti di tengah ujian jam kedua kau sakit perut."

"Tidak akan." Jawab Baekhyun dengan mulut penuh.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang sibuk dengan makanannya, yang membuat Chanyeol tertarik adalah Baekhyun yang tidak sadar bahwa wajahnya kini belepotan saus dan bumbu dari makanan yang ia makan. Ini pemandangan yang menakjubkan bagi Chanyeol, melihat Baekhyun makan dengan mulut penuh dan nafsu yang menggebu adalah salah satu favoritenya.

"Baek?" panggil Chanyeol.

Baekhyun mendongak, menatap Chanyeol -masih dengan mulut penuh makanan- "Ya?"

Chanyeol terkekeh, tangannya terulur ke sudut mulut Baekhyun, ibu jarinya dengan telaten membersihkan bumbu serta saus yang tercetak disana.

"Makanmu selalu berantakan, pelan-pelan saja, nanti kau tersedak." Chanyeol mengucapkannya dengan halus.

Baekhyun menunduk malu, ia tersenyum atas perlakuan manis kekasih tingginya. Baru kali ini ia di perlakukan seperti itu oleh laki-laki.

.

.

Baekhyun menutup laptopnya. Tidak. Ia tidak sanggup melanjutkannya untuk saat ini. Pikirannya kacau. Tapi bukankah ini adalah keputusan yang telah ia ambil? Lalu kenapa ia menyerah di awal perjalanan? Baekhyun memijit keningnya yang terasa berputar. Suara pramugari di pengeras suara terdengar. Memberi informasi pada penumpang pesawat bahwa mereka akan take off.

Baekhyun menatap keluar jendela. Menatap awan yang bergemuruh menjadi satu. Terlintas di pikirannya untuk mengambil foto awan tersebut. Ia meraih ponsel di sakunya, membuka layar kunci ponselnya. Dan terpampanglah sebuah foto yang menjadi wallpaper ponselnya. Foto malaikat kecil. Malaikat yang selama ini menguatkannya, yang menjadi alasannya untuk hidup, alasannya untuk bekerja keras, sumber kekuatannya. Satu satunya yang tersisa dalam kenangan pahitnya.

Baekhyun mengusap wajah damai pada wallpapernya. Ia tersenyum. Kegelisahan yang baru saja ia rasakan rasanya menghilang begitu saja.

'Aku akan segera sampai. Tunggu aku sayang, aku mencintaimu.'


Baekhyun dan Jongin telah sampai di kediaman keluarga Kim. Sementara Luhan telah berpamitan pada mereka untuk langsung ke rumah sakit tempat ia bekerja dan meminta maaf pada adiknya karena tidak bisa menemani Baekhyun pulang ke apartemennya.

Baekhyun terduduk di pinggir ranjang. Ia menatap malaikatnya yang sedang tertidur. Tiga hari ia tidak bertemu dengan sosok ini. Ia begitu merindukannya. Ia memutuskan untuk tidur menghadap malaikatnya. Ia kecupi hidung mangir dan kecil itu. Ia usap pipi gembil yang selalu memerah itu. Ia kecup sekilas bibir mungil itu. Sampai akhirnya sang malaikat kecil tahu bahwa pelindungnya telah ada di dekatnya. Perlahan mata bulat itu terbuka, menatap lucu ke arah Baekhyun. Baekhyun menatap haru malaikatnya.

"Halo sayang." Sapanya seraya memainkan jemari mungil malaikat kecilnya. Jari telunjuk Baekhyun di genggam erat olehnya. Mulutnya bergerak mengisyaratkan kalau ia haus.

"Haus ya? Tunggu sebentar sayang." baru saja Baekhyun ingin bangkit membuatkan susu, pintu kamar terbuka dengan Jongin yang membawa sebotol susu formula.

Jongin berjalan menghampiri si malaikat kecil yang sudah sangat kehausan, posisinya kini setara dengan Baekhyun. Botol yang di bawa Jongin dengan segera di lahap oleh si kecil. Baekhyun takjub melihat pemandangan di depannya.

"Darimana kau tahu bahwa ia haus? Aku baru saja ingin membuatkannya susu."

Jongin yang sedang bercakap-cakap dengan si kecil mengalihkan perhatiannya, "Ibu yang memberitahuku kalau sekitar jam segini dia akan merengek karena haus."

Baekhyun mengambil alih botol susu yang dipegang Jongin untuk dilahap malaikat kecilnya. "Aku tidak tahu bagaimana hidupku berlanjut jika tidak ada kau, luhan hyung dan ibumu. Mungkin aku tidak akan melahirkannya ke dunia." ucapnya kala menatap si kecil yang sedang menyusu dengan tatapan sendu.

Jongin menjitak kepala Baekhyun, "Jangan bicara seolah-olah kau akan mati saat itu. Bersyukurlah karena dialah anugerah yang Tuhan kirim untuk kita."

Mata bulat si kecil mengerjap menatap Jongin, tangannya meraba wajah Jongin dan Baekhyun. Kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi, malaikat kecil mereka tertawa, dengan gusi yang menampilkan gigi putihnya yg kecil dan sedikit.

"Lihat, ia tahu kedua orangtuanya ada disini." Jongin mengecup tangan mungil tersebut.

"Ibu dan Ayah pulang sayang." Ucap Baekhyun mengecupi wajah si kecil.


Nyonya Kim, ibu Kim Jongin sedang menata makanan dan piring untuk makan malam mereka. Jam menunjukan pukul delapan lewat seperempat malam. Ini sudah lewat satu jam dari jadwal mereka untuk makan malam. Setelah selesai dengan urusannya, Nyonya Kim melepas celemek bermotif bunga yang ia kenakan. Lalu beranjak dari sana. Ia memutuskan untuk menyusul anaknya yang tidak kunjung turun.

Sesampainya Nyonya Kim di depan pintu kamar yang terbuka, ia masuk. Setelahnya ia terharu menatap apa yang ada di depan matanya.

Jongin dan Baekhyun tertidur dengan posisi berhadapan satu sama lain, dilengkapi oleh si kecil yang berada di tengah-tengah mereka. Nyonya Kim mendekat, mengambil botol susu yang masih bertengger di tangan Baekhyun dan mulut si kecil. Botol susu itu telah kosong. Si kecil tertidur karena jelas ia sudah kenyang. Dan kedua orang dewasa yang ada di sisi kiri dan kanan nya pasti lelah karena aktifitas mereka.

Merasa tidak enak, Nyonya Kim membangunkan Baekhyun dengan berbisik lembut. "Baekhyun, bangun nak. Sudah waktunya makan malam."

Baekhyun samar-samar mendengar suara itu, ia membuka matanya perlahan kemudian menoleh menatap Nyonya Kim. "Jam berapa ini bu?"

"Jam delapan lewat seperempat. Bangunkan Jongin, ibu menunggu di bawah." Nyonya Kim mengusap kepala Baekhyun sebelum berlalu meninggalkan mereka.

Baekhyun menguap sembari merenggangkan ototnya. Ia menoleh ke samping kirinya. Menatap Jongin dan si kecil yang terlelap. Dalam hati ia bersyukur memiliki Jongin di hidupnya, sebab orang ini berperan begitu besar dalam hidupnya.

Baekhyun bangkit, ia menggendong si kecil dengan hati-hati. Niatnya ingin memindahkan si kecil ke dalam baby box nya, sebab jika ia di biarkan begitu saja di tempat tidur ini, bisa di pastikan si kecil akan terguling ke bawah dan kepalanya akan membentuk sebuah benjolan. Tentunya sebagai seorang ibu, Baekhyun tidak ingin hal itu terjadi. Selesai dengan urusan si kecil. Kini waktunya ia membangunkan si bayi besar.

"Jongin, ayo makan malam." ucapnya di telinga Jongin yang masih setia mendengkur.

"Kim Jongin." kali ini Baekhyun duduk di pinggir ranjang sembari menggoyangkan tubuh Jongin. Jongin hanya menggumam. Dan Baekhyun mulai tidak sabaran. Ia menggigit telinga Jongin.

"A-" Belum sempat Jongin teriak, mulutnya sudah di bekap oleh tangan Baekhyun yang memang sudah waspada kalau Jongin akan teriak. Ia jelas tidak ingin teriakan Jongin membangunkan si kecil.

Jongin menyerah, akhirnya ia terduduk menatap Baekhyun dengan wajah di tekuk. "Kau gila?!"

"Tidak. Aku lapar." jawab Baekhyun sekenanya.

"Jangan menggigit telingaku." Protes Jongin memegangi telinganya. Pasti telinganya memerah akibat tingkah anarkis Baekhyun.

"Kau tidak mau bangun, makanan sudah siap daritadi. Aku kelaparan, makanya aku gigit saja telingamu."

"Kau benar-benar tidak waras. Awas kalau telingaku jadi caplang karena ulahmu." Jongin beranjak dari ranjang di ikuti oleh Baekhyun di belakangnya.

"Bagus kalau begitu, kau akan mirip dengan dia." Baekhyun memberi penekanan pada kata dia.

"Amit-amit."

Baekhyun tertawa sembari mengapit lengan Jongin menuruni tangga bersama.

.

.

.

TO BE CONTINUE.

Hello, i've come with chapter 1

Selamat menikmati/?

Jangan lupa reviewnya ya cantik, ganteng:)

With love,

Lin Shouta