dear nobodysachimalff

standart disc applied

Oh Sehun – Lu Han (as a main pair)

Do Kyungsoo – Kim Jongin – others (as the others chara—official couple here)

Warnings : yaoi – dramas – romance – hurt/comfort – typos (I tried my best to edit it again and again)

Rated : always T+

o—o—o—o—o—o—o—o

o—o—o—o—o—o—o—o—o—o—o—o—o—o—o—o

o—o—o—o—o—o—o—o

it begin

Mungkin kita semua ingin menjelajah, menyusuri horizon, menuju angkasa hampa udara—mungkin, untuk menemui seseorang di sana, meniti jarak yang mereka inginkan, mendapat detik yang mereka pinta. Karena sungguh, mereka hanyalah nobody tanpa ada kejelasan, cinta tanpa alasan, penantian tanpa akhiran, doa tanpa jawaban, dan pengemis tanpa belas kasihan.

Mungkin daun di musim gugur tahu bagaimana rasanya jatuh dan tertiup ke selatan, menjadi tak berdaya hingga akhirnya jatuh ke tanah saat musim salju.

Mungkin ini adalah cerita perjalanan yang bahkan mereka berdua tak tahu bagaimana akhirnya.

Semua berawal di bulan April, tepat ketika mawar mulai mekar seperti bayi mungil yang bersih nan suci, memerah seperti darah dengan tangkai tajam seperti pisau belati, berbau harum seperti aroma menyejukkan pusaran angin di musim panas.

Mungkin mereka akan mengenang satu hari di awal musim semi tersebut sebagai hari di mana mereka merajut tali kasih bak sepasang kekasih normal yang akan menjalani kehidupan seperti yang lainnya. Tak peduli kapan waktu bisa memisahkan mereka berdua, tak peduli sakitnya berpisah karena keadaan dan pupusnya harapan saat mereka terlalu lelah bersembunyi dari kenyataan.

Mereka harus berterimakasih pada kaki yang mengantar mereka ke pekarangan rumah yang penuh dengan sapaan bunga yang mulai mekar dengan indahnya atau mereka takkan diberi kesempatan untuk berjalan lagi. Mereka mungkin harus berterimakasih pada satu yang lain ketika mengucap kata cinta atau kata itu takkan bisa terulang lagi.

Atau semua ini hanya akan berada dalam mimpi satu yang lain ketika yang lainnya telah pergi.

Dan inilah awalnya. Satu hari di musim semi—musim yang dinanti para pecandu daffodil. Angin dan irama gesekan dedaunan di pohon maple menimbulkan perpaduan yang membuat hatinya menghangat dalam pejaman mata.

"Kau tertidur?"

Pejaman matanya tetap seperti itu, sementara bibirnya melukiskan satu gurat senyum yang menawan. Pahatan wajah dengan garis rahang tegas dan kontur hidung dan bibir yang membuat semua mata memuja.

"Jangan tidur. Habiskan waktu ini bersamaku."

"Haruskah?" tanya pemuda tersebut masih dalam pejaman mata. Menikmati semilir angin yang menybakkan poni yang menutupi dahinya.

Detak jantung yang seirama dengan denting jam tangannya membuatnya yakin bahwa ia masih hidup dan ini semua nyata. Ia berhasil melewati hari demi hari, masih seperti ini—walau selanjutnya yang ia tahu hanyalah harapan.

"Sehun?"

Pemuda itu menjawab dengan gumaman kecil. Masih memejamkan mata. Mungkin menurutnya ia takkan bisa lagi merasakan kedamaian yang diciptakan alam ketika ia memejamkan mata. Atau mungkin ini adalah kali terakhir ia akan memejamkan mata karena, sungguh, setelah ini, yang akan ada di hadapannya adalah sosok Lu Han.

"Buka matamu atau kau akan melihatku pergi."

"Kau mau pergi?"

"Aku akan pergi," jawab seorang pemuda bernama lengkap Lu Han. Postur tubuhnya yang pendek, dengan kontur wajah sempurna di padu dengan dagu runcing, hidung tajam, mata berbinar dan bibir merah nan tipis itu berhasil menjerat pemuda yang lain dalam pusaran cinta yang tak berujung.

"Kau takkan bisa pergi."

"Dan atas dasar apa kau mengatakan hal demikian, Oh Sehun?"

"Kau mencintaiku, jadi kau takkan tega meninggalkanku. Benar?"

"Takdir akan menggantikannya untukku. Takdir tak pernah pandang bulu; ia selalu tega pada orang yang dikehendakinya."

Oh Sehun mendesah sambil membuka pejaman matanya. Kali ini yang ia lihat adalah hamparan danau dengan airnya yang tenang. Beberapa angsa mengepakkan sayapnya pelan, memberi sapa pada musim baru yang singgah di kehidupan kini. Beberapa yang lain saling berdekatan, bercumbu dengan aroma musim semi dan angin yang berdesir pelan.

Lalu pandangannya ia tujukan ke arah kiri. Di mana ia temukan sosok yang berhasil membagi dunianya menjadi hitam, putih, dan kelabu. Sosok dengan rambut cokelat madunya, yang sedang bersilang kaki sambil menyenderkan tubuhnya pada pohon maple yang sama dengan pohon di belakangnya. Jemarinya lincah membolak-balik buku tua yang Sehun pun enggan mengetahui judulnya. Alisnya terkadang mengernyit ketika ia berusaha mendalami percakapan atau kalimat yang tertera di sana. Lalu kadang bibirnya menampilkan senyum manis ketika ia menemukan kata romantis atau adegan manis di bukunya. Atau kadang ia mendendangkan tawa saat ia merasa ada adegan lucu.

Melihatnya saja membuat hati Sehun menghangat bahagia.

"Aku akan membeli takdir."

"Kau bukan CEO perusahaan besar seperti yang ada di drama korea. Kau juga bukan pewaris tahta ayahmu yang punya perusahaan terbesar di Asia. Kau tak punya tanah melimpah. Kau juga bukan anak raja," jawab Luhan sambil terus terperangkap dalam kata perkata di bukunya. Sedetik setelah dia mengatakannya, senyuman disambut tawa renyah keluar dari bibirnya. Sehun menduga ada bagian konyol yang sedang ia baca.

Sehun tersenyum sambil merapat pada tubuh Luhan, menyandarkan kepalanya pada bahu kecil sang pemuda China.

"Aku tak bilang akan membelinya dengan uang. Aku akan membelinya dengan cintaku."

"Cintamu seharga berapa?"

"Seharga kebahagiaanmu. Kau lupa?"

Luhan tertawa, dan Sehun yakin bukan karena buku yang ia baca, karena sedetik setelahnya, Luhan menutup buku tersebut. Ia menutupnya setelah melipat bagian pinggir buku tersebut untuk memberi tanda, lalu meletakkannya di sebelah kirinya.

Oh Sehun mengedarkan pandangannya pada sang kekasih hati, menemukan fakta bahwa Luhan sedang memandangnya dengan pancaran mata yang lebih hangat dari biasanya. Sehun menyukai saat rambut cokelat madu Luhan bergerak tersibak angin, menutupi dahinya dan membuatnya menyipitkan mata berbinar miliknya.

Sehun tertawa sambil menjulurkan tangannya, menyibak poni yang menghalangi matanya.

"Kau harus memotong rambutmu, dear."

Luhan tersenyum sambil mengangguk, kemudian meraih tangan Sehun dan membawanya keatas pangkuannya. Menggenggamnya erat dengan kedua tangan mulusnya, Luhan memainkan jemari Sehun. Ia memainkan jemarinya, menyentil jari kelingking, lalu jari manis, hingga ibu jarinya, kemudian menggenggamnya lebih erat lagi. Menyatukan tangan mereka menjadi satu kesatuan yang utuh tak terenggut oleh sibakan pelan angin musim semi.

"Aku boleh minta sesuatu darimu?"

"Tidak. Terakhir kali kau minta padaku untuk pergi berenang, keesokan harinya kau tak bisa berjalan."

Seolah mengabaikan kalimat Sehun, Luhan terus memainkan jemari Sehun dan kemudian menjawab dengan nada tenang.

"Saat aku menjadi dedaunan maple di musim gugur, aku ingin kau yang jadi anginnya. Yang akan menerbangkanku kemana saja kau akan pergi. Yang akan membawaku ke musim salju, di mana aku akan tertutup rintikan salju dan kau akan menghilang bersamaku dan membeku."

Sehun mengalihkan pandangannya lagi untuk menatap Luhan yang kini sedang menatap lurus ke depan, kearah para angsa yang sedang berdansa anggun. Ia tersenyum ketika melihat hewan-hewan itu berenang di atas air yang tenang sambil mengepakkan sayapnya perlahan.

Seolah terhipnotis oleh senyum indahnya, Oh Sehun ikut melengkungkan bibirnya. Ia membawa tangan Luhan yang menggenggam tangannya kedepan bibirnya, kemudian mengecupnya pelan, membuat Luhan menoleh dan menatapnya sendu.

"Tak pernah aku berniat menjadi para pejalan kaki yang akan menginjakmu kala musim semi."

Luhan tertawa, kemudian membawa wajahnya kedepan wajah Sehun, membagi satu ciuman hangat yang terjadi sangat singkat.

"Kita pergi sekarang?" tanya Luhan ketika mereka terpisah satu sama lain.

Sehun mengeluarkan suara seperti geraman kecewa atau sebagainya. "Tak bisakah kita tinggal sampai matahari terbenam? Ayahmu takkan mengizinkan aku membawamu lari lagi besok."

"Kau mengatakannya seperti aku anak gadis saja, Tuan Muda. Ayo, kita pulang. Ibuku bilang bahwa dia akan membuatkan pai apel untukku. Aku tak bisa membuatnya menjadi dingin." Luhan berhenti bicara tentang pai apel dan berdiri lalu berjalan pergi.

Sehun terperanjat dan berteriak di belakang Luhan, memintanya untuk menunggunya.

Sampai di samping Luhan yang berjalan pelan, Sehun merangkul kekasihnya, membisikkan sesuatu seperti—"apakah ibumu juga mengasihaniku dan memberikanku satu buah?"

Luhan tersenyum sambil menggenggam lengan Luhan yang bertengger di bahunya. "Tidak. Dia lebih suka memberinya pada Jongin. Bahkan dia berharap bahwa yang jadi kekasihku adalah Jongin."

"Ya! Jangan bahas hal itu lagi!"

"Kau yang memulainya, Tuan."

"Hmph. Aku akan diam. Kau kedinginan?"

"Tidak. Kau?"

Lalu percakapan mereka berjalan apa adanya, suara demi suara tersibak dan menghilang ditelan angin, kembali ke sebuah rumah Luhan yang tak jauh dari sana.

Luhan dan Sehun tak menyadari bahwa ketika Luhan mengambil kembali buku tua yang sedari tadi ia baca, sebuah kertas jatuh dari halaman ke tujuh puluh sembilan.

Dear nobody...

Ataxia Friedreich kembali muncul pada hari kesembilan musim panas lalu. Tidakkah kau merasa familiar dengan nama itu? Bukankah itu nama lainmu? Akhirnya aku tahu namamu. Nama yang bagus. Sayangnya, aku tak menyukainya.

Pergilah, kumohon pergilah. Ibuku selalu mencabuti rumput ilalang di pekarangan kami sambil berkata, "pergilah, kau tak diinginkan di sini." Sama seperti kau, tak diinginkan di sini. Pergilah, kumohon. Aku tak bisa memeliharamu sampai nanti. Atau kekasihku akan terluka.

o—o—o—o—o

"Pulang jam berapa?" Oh Sehun berjalan di samping kanan Luhan sambil menyibak rambut Luhan yang menutupi wajahnya.

Luhan tertawa sambil menghempaskan tangan Sehun, kemudian menjawab sambil merapatkan tubuhnya pada tubuh sang kekasih. "Sore. Mungkin jam tiga."

"Begitu. Kurasa aku tak bisa pulang bersamamu. Aku ada latihan dance untuk ulangtahun Universitas Seoul bulan depan."

Luhan mengangguk sambil menggoyang-goyangkan tangan Sehun pelan. "Aku tahu, kok. Tak usah khawatir. Aku akan pulang bersama Jongin dan Kyungsoo."

"Jangan biarkan Jongin menyentuhmu satu sentipun."

"Kau ini berlebihan. Jongin sekarang sudah punya Kyungsoo, ingat?"

"Tak bisa. Aku masih melihatnya seperti dia ingin memakanmu hidup-hidup."

Luhan tertawa sambil menggoyang-goyangkan lengan Sehun keras. "Jongin adalah sahabatku dari TK, dan aku mengenalnya dengan baik. Dia hanya mencintai Kyungsoo."

Sehun mendengus sambil memeluk Luhan erat-erat. "Tetap saja, aku cemburu."

Pemuda bermata rusa di samping Sehun menghela napas pasrah, kemudian karena ia tahu tak ada gunanya berdebat dengan seorang Oh Sehun, ia memutuskan untuk menutup mulutnya.

Lima belas menit kemudian Sehun dan Luhan sampai di depan gerbang sekolah Luhan. Mereka berdua masuk dalam sekolah yang berbeda. Luhan masuk di Universitas biasa, sementara Sehun masuk pada Universitas khusus dengan pilihan jurusan seni. Jarak antara kampus mereka berdua sekitar dua kilometer, dapat ditempuh dengan setengah jam berjalan kaki. Jadi, masih ada waktu untuk Sehun dapat sampai ke kampusnya tepat waktu.

"Aku masuk dulu. Kau tak usah mengkhawatirkanku, oke?" kata Luhan, menampilkan senyum cerahnya pada sang kekasih.

Sehun tersenyum, kemudian membelai rambut Luhan dengan sayang. Ia menatap Luhan hangat, kemudian memberinya satu kecupan sayang pada keningnya lembut.

"Pulang dengan baik, oke?"

Luhan mengangguk, hendak membuka mulutnya untuk menjawab kalau saja tak ada suara lain yang menyela. Itu adalah Jongin, datang dengan Kyungsoo di pelukannya, bersiul menggoda keduanya.

"Ada yang berbeda dengan pagi yang cerah ini, Kyungsoo-ya. Tapi—apa, ya?"

Kyungsoo tertawa kecil ketika mendengar gurauan kekasihnya, kemudian mencubit lengan Jongin yang bertengger di bahunya.

"Kau merusak momen mesraku, Jongin." Luhan mencebik lucu ketika ia berbalik dan memandang Jongin dan Kyungsoo, sementara Sehun hanya mendecih bosan.

Jongin menampilkan raut kecewa, kemudian membalas kalimat Luhan. "Kau menyakiti hatiku dengan berkata seperti itu. Tak heran bila aku berkata demikian, Lu. Pagi-pagi aku sudah melihat drama telenovela di depan gerbang sekolah. Kau lihat, Baekhyun sedang berjalan kemari sambil menghentakkan kakinya, lihat," kata Jongin sambil menunjuk ke arah jam dua dengan dagunya, menunjuk Byun Baekhyun, teman sekelas Jongin dan Luhan, berjalan menuju ke gerbang dengan langkah yang menghentak-hentak. "Dia melihat adegan kalian dan merasa terluka, bukankah kalian itu jahat?"

Luhan mengangkat alisnya, ia ingin menyapa Baekhyun ketika sang pemuda dengan eyeliner hitam itu berjalan melewati mereka, tapi bahkan si pemuda Byun tak sudi untuk berhenti sejenak.

"Kenapa, sih, dia?" tanya Sehun sambil mengamati Baekhyun yang berjalan dengan nada angkuh.

"Baru putus dengan kekasihnya."

"Siapa? Taeyeon?"

"Heol. Siapa yang mengatakan padamu kalau ia pacaran dengan gadis itu, bung? Baekhyun sama seperti kita. Sekali lihat saja sudah ketahuan, kan? Bodinya saja seperti Luhan. Kekasihnya juga berada di kampusmu, Hun. Kau kenal—siapa namanya, sayang?" tanya Jongin ketika ia lupa nama kekasih si Baekhyun.

"Park Chanyeol."

"Ah! Iya, Park Chanyeol. Laki-laki dengan tubuh tinggi segede tiang, senyum gigi semua, mata peri yang besar, telinga yang lebar, pokoknya tubuhnya seperti raksasa, deh."

Sehun mengernyit, kemudian ketika ia mengingat salah satu murid di sekolahnya yang tampak seperti lelaki dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh si hitam barusan, baru ia ingat.

"Ah, aku tahu. Anak semester atas. Kudengar dia adalah kandidat terkuat yang cukup pintar untuk pindah ke Yale."

"Amerika?"

"Oh."

"Wow. Pantas saja dia ingin putus dengan Baekhyun. Rupanya dia akan ke Yale?"

Sehun mengangkat bahunya tak peduli, kemudian memeriksa jam tangannya. Dia tak ingin terlambat masuk kelas dan tak diperbolehkan masuk ke kelas tari. Mengabaikan gosip yang menjalar di antara ketiga mahasiswa semester awal tersebut, ia memberi isyarat bahwa dia akan berangkat.

"Aku berangkat dulu. Kurasa aku akan terlambat lima menit."

Luhan mengangguk sambil tersenyum, kemudian mulai melambaikan tangannya pada sosok Sehun yang kemudian telah berjalan membelakanginya.

"Kau beruntung punya kekasih seperti Sehun, Luhan."

Luhan berbalik ketika punggung Sehun menghilang di antara lalu-lalang orang di sekitarnya, kemudian menemui sosok Kyungsoo yang tengah tersenyum tulus padanya. Luhan membalas senyumannya kemudian mengangguk pelan.

Mereka bertiga berjalan masuk gedung kuliah I, mengabaikan teriakan Jongin dan rengekannya karena Kyungsoo bahkan tak pernah memujinya seperti dia memuji Sehun.

"Itu karena kau berisik. Aku kan suka lelaki penuh kharisma seperti Sehun."

"Ya! Lalu kenapa kau masih menjadi kekasihku, eoh? Jadi kekasih Sehun saja sana!"

"Ya! Sehun itu kekasihku, Jong!"

"Lagian bukannya kau yang mengemis padaku supaya aku tak memutuskanmu sampai kita menikah, kau lupa, huh hitam? Luhan, ayo cepat!"

"Ya Do Kyungsoo! Bahkan kau mengejekku! Ya Kyungsoo-ya, Luhan-ah! Tunggu aku! Hee—i!"

o—o—o—o—o

"Kyungsoo, Luhan, kalian ada kelas sampai jam berapa?" tanya Jongin ketika mereka sampai di depan kelas pertama di hari tersebut pada kedua sosok manis di hadapannya.

"Penuh sampai jam tiga," jawab Kyungsoo, "kau ada acara dengan temanmu untuk bermain basket, kan? Pergilah. Aku akan pulang dengan Luhan."

"Aku hanya bermain di belakang kampus. Kau bisa menyusulku kesana setelah pulang kuliah. Luhan, Sehun akan menjemputmu?"

Luhan menggeleng pada Jongin. "Dia ada latihan dance untuk tampil di NSU."

Jongin mengangguk, begitupula dengan Kyungsoo.

"Kalau begitu kalian berdua jangan pulang sendiri. Nanti diculik om-om mesum. Kalian kan begitu menggoda. Lebih baik kalian menyusulku ke belakang kampus, oke? Aku akan ada di sana."

Luhan tertawa mendengar lelucon Jongin, sementara Kyungsoo menampar pipi Jongin pelan, yang mana malah dihadiahi ciuman kecil di pipinya yang sekarang berubah merah, sesaat setelah si hitam Kim Jongin berlari ke arah kanan, menyusuri koridor panjang, sambil melambai dan berkata, "temui aku sore nanti! Jangan pulang sendirian!"

"Anak itu benar-benar..."

Dan Luhan tak menghiraukan umpatan Kyungsoo dengan pipinya yang memerah karena ia tahu, Kyungsoo menyukai perilaku Jongin yang seperti itu. Pemuda bermata rusa itu malah menyeret teman sejurusannya ke dalam kelas, karena di ujung lorong, ia menangkap siluet Prof Jung sedang berjalan kearah kelas mereka.

o—o—o—o—o

Mata kuliah Analisis Puisi, yang mana adalah mata kuliah terakhir di hari itu berjalan seperti biasa; membosankan. Huang Zitao, anak China seperti Luhan, bahkan sampai tertidur hingga diusir oleh Prof Shim. Cho Kyuhyun, mahasiswa yang mengulang mata kuliah ini, tak punya harapan, meletakkan kepalanya di atas meja, memandang nanar tugas berupa analisis satu buah puisi berbahasa Inggris yang bahkan tak bisa ia artikan tanpa bantuan google translate offline miliknya. Kyungsoo mengerjakannya dengan sekejap mata, yang mana membuat Luhan terpesona oleh kecerdasannya. Luhan sendiri telah berusaha dan selesai pada setengah jam pertama, menyusul Kyungsoo yang selesai lebih cepat pada lima belas menit awal.

Luhan bisa saja selesai lebih cepat, namun ketika sampai pada bait keempat baris pertama sampai keempat, ketika matanya menjelajah bagian kalimat yang bertuliskan;

Well, now,

If little by little you stop loving me

I shall stop loving you little by little

If suddenly

You forget me

Do not look for me,

For I shall already have forgotten you.

Belum sempat Luhan memeriksa kembali kertasnya, hendak mengedit vocabulary yang akan ia ganti, namun sakit kepala yang dalam dua hari terakhir ini sering hinggap padanya kembali muncul. Ia merasa kepalanya memberat dan berkunang-kunang.

Kyungsoo, yang selesai menambahkan namanya pada bagian ujung kertas, menoleh pada Luhan di samping kanannya yang kini sedang memijit pelipisnya keras-keras.

Kyungsoo menepuk bahu Luhan, kemudian bertanya, "apa kau baik?"

Luhan menggeleng, kemudian mencoba membuka matanya, menyesuaikan dirinya dengan rasa sakit yang semakin mendera. Kyungsoo langsung mengambil kertas Luhan dan kertas miliknya, kemudian menyerahkannya pada Prof Shim. Sekembalinya ia ke tempat duduknya, ia langsung menyeret Luhan dan membawa tas mereka berdua, mengabaikan pandangan heran seisi kelas.

Luhan berjalan terseok ketika matanya bahkan memburam. Ia menghentikan langkah Kyungsoo dengan berhenti berjalan.

Kyungsoo menoleh kearah Luhan dan terkejut ketika sahabatnya tersebut sedang jongkok dengan tangan yang memegang kepalanya erat-erat, pekikan kecil keluar dari bibir Kyungsoo, membuatnya ikut berjongkok di samping Luhan.

"Luhan, kau tak apa? Apa yang kaurasakan? Pusing lagi?"

Luhan menggeleng sekuat tenaga, kemudian kembali mengerjapkan matanya. Ia memejamkan, lalu membuka kembali matanya. Namun tetap sama, kabur, hanya warna samar serupa kelabu.

"Aku—pandanganku memburam. Kyungsoo, tolong aku..."

Kyungsoo yang gelagapan tak tahu harus bertindak bagaimana. Ia tak bisa membawa Luhan ke kampus Sehun, karena ia sendiri tak yakin bisa pergi kesana dengan memapah Luhan sendirian. Lalu ia ingat sesuatu. Mungkin ini bisa—mungkin bisa...

"Kita susul Jongin sekarang! Kau bisa berjalan, kan? Aku akan memapahmu. Kita kesana, oke?"

Luhan tak bisa menjawab karena—sialnya, rasa sakit di kepalanya tak mau hilang. Juga, pandangannya yang memburam menambah runyam keadaan. Ia merasa sungguh tak baik, sehingga ketika Kyungsoo memapahnya untuk berjalan menuju lift hingga akhirnya keluar dari gedung kuliah, Luhan pasrah.

Sinar mentari yang menyusup hendak kembali ke peraduan menambah rasa sakit di kepala dan pandangan Luhan. Ia menyenderkan semua berat tubuhnya pada sosok kecil Kyungsoo, hingga bahkan tangannya harus menghalau sinar jingga mentari yang menyorot ke matanya.

Bahkan ia tak sadar akan peluh Kyungsoo yang mengalir membasahi bajunya ketika mereka berdua—dengan susah payah—telah sampai di belakang kampus mereka, tepat di area lapangan milik fakultas olahraga. Di sana, Kyungsoo dengan payah mengedarkan pandangannya, mencari sosok Jongin yang mana sedang mendribble bola dengan kawan-kawannya, mungkin sedang pemanasan atau entah apa.

Jongin menyeret tubuh Luhan yang semakin mengkhawatirkan, sambil meneriaki nama Jongin.

Pada teriakan ketujuh dan ketika ia sampai di pinggir lapangan, Jongin mengedarkan pandangannya ketika telinganya merasa bahwa ada yang memanggilnya.

Sekali lagi Kyungsoo mencoba berteriak, kali ini lebih nyaring karena ia sudah lelah. Dan saat itu juga Jongin menemukan sosok kekasihnya yang sedang memapah sang sahabat di pinggir lapangan. Kyungsoo hampir jatuh jika saja kakinya terlalu lemah untuk menyangga tubuh mereka berdua lagi, dan hal itu membuat mata Jongin membola.

Melemparkan bola basket yang berada di tangannya, Jongin langsung berlari menuju kearah dua lelaki di sana.

Pemuda itu bahkan menabraki beberapa mahasiswa yang sedang latihan, lalu entah datang kekuatan dari mana, tahu-tahu ia sudah sampai di hadapan Kyungsoo dan Luhan.

"Kyungsoo, Luhan, ada apa ini?"

Kyungsoo, dengan napasnya yang putus-putus seperti ia hendak kehilangan oksigennya, mencoba menjawab pertanyaan Jongin. "Luhan ... dia ... pusing dan ... pandangannya mem ... buram ... tolong ... aku ... Jongin, berat..."

Jongin baru sadar jika Kyungsoo kesusahan, kemudian ia mengambil alih tubuh lemas Luhan yang masih memejamkan matanya erat, menghalau rasa sakit di kepalanya.

Do Kyungsooo langsung jatuh ke tanah saat Jongin mengambil tubuh Luhan. Ia mengambil napas banyak-banyak sambil mengelap keringat yang membasahinya.

"Kyungsoo—bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Jongin sambil menggendong Luhan dengan piggyback.

Kyungsoo bangkit berdiri dengan segera, kemudian menggeleng keras. "Itu tak penting. Yang penting sekarang, kita temui Sehun. Luhan tadi bilang dia ingin diantar Sehun."

Jongin mengangguk, kemudian menghiraukan tasnya yang masih berada di lapangan, ia dan Kyungsoo beserta Luhan di punggungnya, berjalan ke depan kampus, berniat menyetop taksi untuk mengantar mereka ke kampus Sehun.

o—o—o—o—o

"Sehun bisa dihubungi?"

Kyungsoo menggeleng dari kursi taksi di depan. Ia melirik Luhan yang sedang mencoba membuka matanya dengan susah payah dari kaca depan, kemudian menghela napas pelan. "Kau pernah ke kampus Sehun, kan? Kau tahu mana ruangan tari?"

Jongin menampakkan raut wajah bingung, kemudian menggeleng kecewa. "Aku—lupa."

Kyungsoo mengeluarkan suara seperti geraman kecewa, dan beberapa saat kemudian, taksi yang mereka tumpangi berhenti. Setelah membayar bill, Kyungsoo dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Jongin dan Luhan seraya membawakan tasnya dan milik Luhan.

Jongin kembali menggendong Luhan, sambil memintaa maaf kepada Kyungsoo dan mohon supaya si mungil tidak cemburu, dan tentu saja akan dihadiahi Kyungsoo dengan umpatan dan—"jangan bercanda di saat seperti ini!"

Jongin mulai lelah ketika ia harus menyusuri jalan menuju gedung kuliah jurusan Sehun yang terletak di sebelah kanan tempat mereka berhenti. Dengan Luhan di gendongan dan Kyungsoo yang menempel padanya, Jongin merasa risih diperhatikan oleh orang-orang di sana. Namun Kyungsoo segera mengatakan bahwa dia tak perlu malu, karena Luhan yang sedang sakit lebih penting.

Ketika Jongin hendak jatuh karena kelelahan, dan Kyungsoo yang bahkan takkan bisa menggendong Luhan lagi, ada sebuah suara yang mengagetkan mereka berdua.

"Jongin?"

"Eh?"

Jongin dan Kyungsoo menoleh ke sumber suara dan melihat sosok lelaki dengan tinggi badan yang melebihi tinggi Sehun dan Jongin. Jongin tak bisa menampilkan ekspresi kecuali lelah dan hampir pingsan, walaupun saat ini ia ingin sekali memberikan ekspresi heran. Wajar saja, dia tak ingat siapa itu.

Lain dengan Kyungsoo. Ia malah meneliti dengan intens lelaki di hadapan mereka, lalu bertanya. "Siapa, ya?"

"Ah, aku Park Chanyeol. Kekasih—maksudku, mantan Baekhyun, teman kalian. Ah, pasti kau Do Kyungsoo? Baekhyun sering menceritakan kalian berdua seb—"

"Guys bisakah ... kalian bahas itu ... nanti? Aku butuh ... bantuan ... di ... sini," kata Jongin susah payah. Badannya semakin membungkuk karena kelelahan menggendong Luhan.

Park Chanyeol yang—mungkin—baru saja menyadari bahwa ada orang di punggung Jongin, langsung sigap menurunkan tubuh Luhan dari punggung Jongin sambil menuntunnya.

"Siapa?" tanya Chanyeol pada Jongin dan Kyungsoo.

Kyungsoo yang menjawab pertanyaan tersebut karena bahkan Jongin tak mampu menetralkan napasnya. "Luhan. Kekasih Sehun. Kau tahu di mana dia?"

Park Chanyeol mengangguk, kemudian ia memberi isyarat pada Jongin dan Kyungsoo agar mengikutinya.

Mereka berjalan ke gedung kuliah di mana Sehun latihan, dengan Luhan yang berjalan dengan dipapah oleh Kyungsoo dan Chanyeol.

Beberapa pasang mata melihat mereka, tapi mereka bahkan mengacuhkannya. Dan tepat ketika mereka berada di lantai dasar, di belokan kiri tepat di koridor kedua, siluet bayangan Oh Sehun nampak di depan mata, baru saja keluar dari sebuah ruangan yang bahkan Kyungsoo dapat menebak adalah ruang latihan dance.

Kyungsoo dan Jongin langsung berseru memanggil Sehun dengan keras, membuat Chanyeol harus menutup telinganya dan Luhan memekik hebat. Teriakan kedua temannya memberikan efek bagi sakit kepalanya yang luar biasa.

Sehun berbalik dan seketika, matanya membola ketika ia melihat sosok yang sangat familiar tengah berdiri dipapah oleh bahkan orang yang tak ia kenal dengan akrab, Park Chanyeol.

Pemuda dengan kulit albino itu langsung saja berlari menerobos para mahasiswa di sana, menghiraukan umpatan mereka, dan langsung sampai di hadapan mereka berempat.

Seakan tak melihat keberadaan yang lain, Sehun langsung saja merebut Luhan dari tangan Chanyeol, kemudian memapahnya sendiri. Ia merangkul tangan Luhan hingga ia bisa bergantung pada Sehun.

"Kenapa dia bisa seperti ini?"

"Huh? Kau baru menyadari keberadaanku dan Kyungsoo?"

Seakan tak mendengar jawaban Jongin, Kyungsoo menjawab, "Luhan tiba-tiba saja merasa pusing dan pandangannya memburam. Aku langsung memapahnya menuju ke tempat Jongin latihan basket dan Jongin membopongnya hingga kita sampai di sini. Lalu di depan aku bertemu dengan Chanyeol yang membantu Jongin untuk membawa Luhan padamu. Jadi jangan berburuk sangka, oke?"

Sehun mengangguk, kemudian melemparkan pandangannya pada Chanyeol dan mengucapkan terimakasih. Si pemuda Park tersenyum riang seperti biasa, kemudian mengucapkan salam pada yang lain, dan lantas pergi setelah mengucapkan semangat dan 'semoga lekas baikan' pada Luhan.

Sehun memutar tubuh Luhan supaya ia bisa menggendongnya di belakang, kemudian memberi isyarat pada Jongin dan Kyungsoo supaya mengikutinya, tak memedulikan pandangan aneh dari para mahasiswa di sana.

Luhan menyamankan diri di gendongan Sehun, masih menutup matanya. Terkadang kepalanya akan berdenyut lebih keras dan dia akan memekik sedikit keras, membuat Sehun dan yang lain menatapnya iba.

"Harusnya kau meneleponku, rusa."

"Aku sudah meneleponmu, tapi kau tak bisa dihubungi," sela Kyungsoo.

Sehun mengernyit, kemudian ia baru sadar jika ponselnya dalam keadaan lowbat.

"Kau merasa baikan?" tanya Sehun kembali. Sehun berjalan di depan, memberi spasi padanya dan pasangan Kyungsoo-Jongin agar Luhan bisa menceritakan apa yang ia rasakan.

Luhan, menyenderkan kepalanya yang terasa berat pada bahu bidang Sehun, tersenyum mengetahui bahwa yang membawanya pergi adalah angin yang ia cintai.

"Masih sakit?"

Luhan mengangguk kecil dan Sehun bisa merasakan anggukan di bahunya. Ia berjalan gontai, tak memasalahkan berat badan Luhan karena ia tahu bahwa memang inilah yang akan ia lakukan sampai akhir ceritanya.

"Apakah mulai ada masalah dengan bagian mata?"

Luhan kembali mengangguk pelan, senyumannya mulai memudar dari bibirnya. Sehun—yang mengetahui bahwa hal ini akan terjadi cepat atau lambat, hanya mambpu menggigit bibir bawahnya.

"Hun..."

"Hm?"

"Aku berat."

"Sudah tahu kau berat, masih saja makan banyak. Mulai besok kau harus diet atau aku takkan mau menggendongmu lagi."

"Ada Jongin."

"Kkeh. Kaupikir bagaimana rupanya saat dia datang tadi. Pucat pasi. Kau harus minta maaf padanya dan Kyungsoo. Mereka hampir pingsan."

"Hm..."

Lalu hening. Hanya ada suara Jongin yang kembali ribut dengan Kyungsoo di belakang mereka. Baik Sehun maupun Luhan tak sadar bahwa mereka sudah terlalu jauh berjalan, sementara Jongin dan Kyungsoo masih saja mengekor, memberi spasi, namun teriakan mereka berdua masih terdengar, membuat Luhan tersenyum dalam pejaman matanya.

"Sehun."

"Ya?"

"Hanya ingin mendengar suaramu..."

Sehun tersenyum. Semilir angin menerpa rambut mereka berdua, menerbangkan teriakan Jongin tentang bagaimana Kyungsoo seharusnya memijit kakinya dan tangannya.

Si pemuda albino merasakan bahwa napas Luhan mulai teratur, dan tubuhnya makin memberat. Ia mengira bahwa Luhan mungkin saja tertidur; hal yang akan Luhan lakukan kala ia terlalu lelah dengan rasa sakit di kepalanya. Mengejutkan mengetahui bagaimana orang pusing bisa tidur secepat itu—tapi, kita sedang berbicara tentang Luhan, bukan? Si raja tidur.

Sehun tersenyum memikirkan bagaimana kekasihnya bisa tertidur setelah merepotkan orang-orang dengan harus memapahnya dan menggendongnya.

Helaian cokelat madu Luhan menutupi matanya yang terpejam, dan Sehun biarkan seperti itu.

Dalam jelmaan langit yang berubah menjadi jingga di dasar bumi, hingga langit yang ajaibnya berubah menjadi tiga lukisan warna—jingga, lavender muda, lalu biru muda—Sehun masih menggendong Luhan karena ia tahu inilah tugasnya sebagai angin bagi Luhan.

Dalam lirih dan dalam deru angin yang menerpa tubuh keduanya, mengabaikan candaan Jongin pada Kyungsoo di belakang, Sehun berbisik pelan.

"Aku di sini. Dengarlah suaraku kapanpun kau mau sebelum kau tak bisa mendengarnya, deer."

Lalu bisikan Sehun terbang bersamaan dengan angin yang bertiup dari selatan. Mungkin kata demi kata itu tertiup, terbawa olehnya sampai ke langit di utara, menghembuskan harapan yang bahkan menjadi niskala saat mayapada terus menerus memberi upaya yang akan sia-sia.

Tapi inilah manusia. Serupa dengan Icarus yang terlalu memuja dan mencintai matahari walau pada akhirnya ia benci mengetahui bahwa sang matahari lah yang akan membunuhnya. Perlahan. Tapi pasti.

..

..

..

tbc