Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Tittle : Light in The Darkness
Pairing : NaruSaku, MenmaIno
Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.
Enjoy and Hope You Like It!
.
Chapter 2
.
Masih dengan langkah malas, Naruto mengikuti langkah Sakura sambil membawa tas-tas belanjaannya ketika mereka sampai di rumah. Tak henti-hentinya ia menggerutu dalam hati ketika wanita bersurai merah muda itu terus-terusan menariknya, memerintahnya, bahkan tak segan-segan memperlakukannya benar-benar seperti seorang pembantu. Naruto mulai bertanya-tanya, apa Sakura tidak tahu apa arti dari kata 'bodyguard'? Entah wanita itu sedang memanfaatkannya atau memang bodoh sampai-sampai tak mengerti arti dari kata 'bodyguard'.
"Masuklah ke dalam, letakkan barang-barangku di sana." Sakura membuka pintu kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran Queen Size itu. Kamar Sakura seperti kamar wanita kebanyakan. Dindingnya dilapisi wallpaper berwarna merah muda dengan aksen bunga sakura, terdapat meja belajar dengan beberapa buku tebal, kamar mandi dan juga lemari pakaian. Ya, benar-benar dekorasi kamar wanita sungguhan.
Sakura yang tidak merasakan kehadiran Naruto di dekatnya kembali mengedarkan pandangannya ke arah Naruto yang masih berdiri di mulut pintu. "Hei, kenapa kau belum masuk juga? Apa kau bisa memijit? Kakiku benar-benar pegal!" katanya enteng sambil mengusap kedua betisnya yang terasa nyeri karena terlalu lama berjalan dengan heels tinggi. Sakura menautkan alisnya karena Naruto tak mengubah posisinya. "Masuklah~ jarang-jarang ada lelaki yang masuk ke kamarku, lho," kata Sakura dengan suara menggoda.
Naruto yang menatap wajah menggoda Sakura dari mulut pintu hanya mendengus pelan. Dengan keberanian yang dikumpulkannya, ia memberanikan masuk ke dalam kamar seorang puteri dari menteri pertahanan itu. Ketika ia berhasil mendekati kasur Sakura, tampak wajah Sakura yang semakin menggodanya. Wanita itu mengedipkan sebelah matanya pada Naruto, sukses membuat Naruto merinding.
"Kalau kau mau, kau boleh istirahat sejenak di sini, Na. Ru. To. KUN."
Naruto memutar bola matanya. Ia benar-benar kesal sekarang. Tanpa memikirkan posisi jabatannya yang hanya seorang bodyguard, Naruto mengangkat tas belanja Sakura. "Dasar sinting!" serunya sambil melempar tas-tas itu ke arah wajah Sakura. Naruto menyeringai puas ketika Sakura tampak tercengang. "Aku mau pulang!" kata Naruto sambil berbalik pergi dan meninggalkan Sakura di kamar seorang diri.
Langit sudah gelap gulita. Sehabis berpamitan pada Kizashi Haruno, Naruto langsung berniat untuk pulang. Ternyata menemani wanita shopping lebih melelahkan daripada patroli yang sering ia lakukan saat sedang menjalankan tugas militer di luar negeri.
"Ah, mobil sudah dibawa Menma pulang! Sepertinya aku harus naik bus."
.
Naruto mengambil kursi paling belakang dekat jendela ketika ia masuk ke dalam bus. Suasana malam yang hampir menunjukkan pukul 9 membuat keadaan bus sangat senyap. Di dalam bus itu, hanya ada sepasang suami-istri dengan anak mereka, seorang anak SMA, seorang pria yang sedang tidur, dan seorang nenek tua.
Naruto menyandarkan punggungnya yang lelah pada bantalan kursi bus yang empuk. Ia juga menyandarkan kepalanya, kedua sapphire-nya menatap jalanan di luar sana. Suasana yang sunyi membuat Naruto mengantuk, ketika bus berhenti sesaat di salah satu halte, Naruto mulai memejamkan matanya—hendak beristirahat sebentar.
"SEMUA! TUNDUKKAN KEPALA KALIAN!"
Naruto tersentak ketika sebuah teriakan memasuki indra pendengarnya. Ia membuka matanya, bisa ia lihat dengan jelas ada dua orang pria yang tampaknya baru naik dari halte sebelumnya sedang mengeluarkan pistol dari balik jaket hitam mereka. Salah satu pria menodongkan pistolnya ke kepala supir, dan pria lainnya mulai mengawasi para penumpang.
"JANGAN SEKALI-KALI ADA YANG MENGHUBUNGI POLISI!" pria berambut pirang yang tengah memeriksa aktivitas penumpang berujar keras. "Jalankan terus bus ini ke pelabuhan Oto!" lanjutnya.
Naruto menghela napas. Kenapa kejahatan tidak ada hentinya? Walaupun polisi sudah banyak mengamankan sejumlah daerah, tentara yang melindungi negara, bahkan undang-undang hukum yang berlaku. Kehidupan memang kejam. Memang ada di saat tertentu beberapa orang justru menghalalkan segala cara untuk bertahan hidup. Naruto kembali menatap jalanan, seolah bersikap tak acuh dengan keadaannya, sedangkan tangannya yang lain meraih ponsel, menghubungi Menma, lalu menyelipkan ponselnya pada saku jaket.
"Apa yang kau lakukan?"
Naruto melirik pria berambut pirang yang sudah berdiri di hadapannya. "Aku tak melakukan apa-apa. Aku masih sayang nyawa," kata Naruto tampak tak peduli. Yah, selama orang-orang di dalam bus ini mengikuti perintah kedua orang jahat ini, ia tak perlu terlalu khawatir. Semoga saja Menma sudah mengangkat teleponnya, pikir Naruto.
"Kenapa mengarahkan bus ini ke pelabuhan Oto? Seharusnya penumpang mengikuti rute yang ada, kan?" tanya Naruto masih dengan memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Pria itu mendekati Naruto, menarik kerah Naruto, lalu menajamkan tatapan matanya. "Jangan banyak omong!" serunya sambil mengarahkan pistolnya ke kepala Naruto. "Kecuali kalau kau mau kepalamu berlubang!" lanjutnya sambil menyeringai lebar, sedangkan Naruto hanya mendengus tak peduli.
DOR!
"DASAR BODOH! APA YANG KAU LAKUKAN?! ADA MENELPON POLISI!"
"KYAAA!"
Suara tembakan disusul makian dan teriakan menarik perhatian Naruto. Pria berambut hitam yang berdiri di samping supir kembali menodongkan pistolnya ke arah supir setelah ia melepaskan satu peluru ke arah seorang lelaki muda. Lelaki yang tengah memegang ponsel itu terjatuh ketika peluru berhasil menembus dada kirinya.
"Tidaaak! Papa!" lengkingan suara seorang bocah perempuan terdengar pilu.
"Tidak, anata! Bertahanlah! Kau tidak boleh mati di sini."
Naruto mengepalkan kedua tangannya. Giginya saling beradu ketika melihat pria muda yang telah terkapar dengan darah yang terus mengalir deras dari dadanya. Anak dan istrinya masih memanggil namanya sambil menangis, sedangkan kedua pria yang masih memegang pistol itu tertawa meremehkan.
"Lihat sendiri akibatnya jika tidak mengikuti perintah haha!" Pria dengan rambut pirang tertawa sambil melihat pemandangan di depannya.
"Kalian orang jahat! Kalian jahat! Papa sudah menelpon polisi! Kalian pasti tertangkap! Kalian akan tertangkap!" teriak bocah perempuan itu sambil meneteskan air mata. "Pengorbanan Papa tidak sia-sia! Kalian akan tertangkap! Hiks."
'Baka! Padahal aku sudah menghubungi Menma, dan aku yakin dia yang akan menelpon polisi,' pikir Naruto.
"Finnien! Bungkam mulut bocah sialan itu!" seru pria berambut hitam di depan sana. "Hei, kau supir! Bisakah jalan lebih cepat!"
PLAK!
Sebuah tamparan terdengar keras ketika pria yang dipanggil Finnien itu menampar pipi bocah perempuan berumur 6 tahun yang sedang menatapnya tajam. Pria itu menarik berdiri wanita yang tengah menangisi suaminya, ia mengangkat pistolnya. "Kau lihat? Kalau kau masih berani melawan, Ibumu akan berakhir seperti dia!" katanya sambil menendang kepala lelaki yang sudah tak bernyawa itu.
"Mama! Jangan! Jangan Mamaku, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi."
Benci. Naruto benci pemandangan ini. Ia semakin mengeratkan kepalan tangannya. Rasa sesak menjalar di hatinya sepanjang ia melihat hal di hadapannya—seorang ayah itu tewas tertembak, sang ibu sedang ditodong pistol, sedangkan anak mereka hanya mampu menangis tanpa melakukan apapun. Naruto bangkit dari posisi duduknya dengan tubuh gemetar. Ia menajamkan matanya, lalu mulai mendekati keluarga yang tertimpa kemalangan itu.
"Hei, anak muda, apa yang kau lakukan?" tanya salah satu penumpang di sana. "Kau bisa mati."
Naruto tak memedulikan kalimat dari seorang nenek tua itu. Yang harus ia lakukan hanya satu. Menyelamatkan wanita itu dan anaknya, lalu menendang kedua penjahat itu dari bus, memasukkannya ke dalam penjara dan mereka akan mendapatkan hukumannya.
"Apa yang kau inginkan? Apa kau juga ingin melawan?" tanya Finnien yang tengah menatap Naruto dengan seringaian lebar.
"Lepaskan wanita itu sebelum aku menghajar kalian berdua," kata Naruto dengan tenang walaupun jantungnya sedang berdegup cepat. Ia memang seorang tentara. Seharusnya ia tangguh untuk menghadapi apapun, tetapi Naruto tak bisa menghadapi satu hal ini.
"Finnien, kau boleh membunuh orang-orang yang tak mengerti aturan!" seru pria berambut hitam di depan sana. "Kalau lelaki itu ingin menyelamatkan wanita itu, kau tinggal bunuh anaknya." Pria itu kembali menyeringai. Ia mengeluarkan pisau dari sakunya yang lain, mengarahkan ke leher sang supir, sedangkan pistol yang ia genggam di arahkan ke bocah perempuan itu.
DOR!
Suara tembakan kembali terdengar. Naruto membelalakkan matanya ketika wanita itu cepat berlari ke arah anaknya, lalu memeluknya hingga akhirnya punggung wanita itu menjadi tameng untuk melindungi sang anak.
"Mama! Tidak! Mama tidak boleh meninggalkanku juga! Jangan tinggalkan aku!" bocah itu berlutut dengan tumpahan air mata.
"Kuso!" teriak Naruto sambil meraih kerah Finnien. "Akan kubunuh kau!" seru Naruto dengan iris mata birunya yang berkilat penuh kebencian.
Finnien balas meraih kerah Naruto. Dengan tatapan tak kalah tajam ia membalas, "Memangnya kau siapa? Kau juga ingin kubunuh seperti mereka, hah?!" Tangan Finnien beralih menarik surai pirang Naruto, lalu menundukkan kepala itu ke arah sepasang suami-istri yang telah terkapar sedangkan anak mereka hanya bisa membatu menatap kedua orangtuanya. Finnien tertawa keras, kembali menarik rambut Naruto hingga wajah mereka saling berhadapan. "Kau takut, kan? Haha! Kau pasti takut dengan kematian!" Finnien tertawa sambil menatap mata Naruto yang seolah kosong selama beberapa detik.
"Cih! Kau pikir aku takut dengan hal kecil semacam itu?" tanya Naruto. Ia meraih tangan Finnien yang sedang menarik rambutnya, lalu menggenggamnya kuat-kuat, lalu menghempaskannya. "Kau menarik rambutku terlalu kuat. Astaga! Aku tidak suka disakiti," kata Naruto sambil menatap Finnien dengan seringaian. "Aku hanya suka menyakiti."
Finnien mundur beberapa langkah. Ia menodongkan pistolnya ke arah Naruto yang tengah tersenyum ke arahnya. Apa-apaan lelaki itu? Bukannya tadi dia ketakutan? Napas Finnien tercekat saat melihat mata Naruto. Iris mata yang awalnya berwarna sapphire itu kini berwarna ruby—layaknya merah darah yang pekat.
"Akeno! Apa yang harus kulakukan?" tanyanya dengan suara panik sambil sesekali mundur ketika Naruto maju ke arahnya.
"Ck, sudah kubilang bunuh semua orang yang menghalangi! Kita sudah hampir sampai!"
Finnien mulai menarik pelatuk pistolnya dengan tangan gemetar. Wajah pria berambut pirang itu mendadak membuatnya takut. Kemana sikapnya yang sok berani tapi pencundang itu? Sekarang orang yang seharusnya takut padanya malah berbalik ia yang takut pada pria itu. Matanya. Iris mata merah itu membuatnya takut. "Mati saja kau!" teriaknya dan ingin melepaskan tembakan.
DOR!
"Tidak mungkin," gumam Finnien ketika Naruto menghindari tembakannya dengan cepat.
"Bukankah aku sudah bilang? Jangan sekali-kali melakukan kekerasan. Sekarang giliranku." Naruto mendekati Finnien dengan langkah lebar, lalu dengan gerakan cepat menepis pistol itu hingga jatuh. Naruto meraih pergelangan tangan Finnien, memutarnya hingga terdengar bunyi tulang. Belum selesai sampai sana, Naruto meraih lengan Finnien yang lain, membalikkan tubuh pria itu, lalu mengunci lengannya di balik punggung. Dengan seringaian lebar, Naruto menendang punggung Finnien hingga tersungur. Belum merasa puas, lengan Finnien yang menyilang di balik punggungnya kembali diinjak Naruto dengan keras hingga terdengar bunyi tulang.
"Aarrghhh! Sialan!" raung Finnien. Ia merasa tubuhnya remuk hanya dalam satu kali injakkan.
"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Naruto dengan seringaian puas. Sesekali matanya menatap rekan Finnien yang tengah menatapnya.
"Kau bisa merebut pistolku, kenapa kau tidak langsung membunuhku?" tanya Finnien.
Naruto menyeringai lebar. "Aku bukan tipe orang yang langsung membunuh, lebih seru kalau orang itu disiksa lebih dulu." Naruto mulai melangkah menuju Akeno. Setelah ini ia harus menghabisi pria berambut hitam itu. "Sekarang giliranmu."
"Akeno! Sebaiknya kau lari setelah ini. Biarkan aku yang tertangkap. Punggungku benar-benar sakit dan aku tidak bisa menggerakan kedua tanganku!" kata Finnien masih sambil meringis menahan sakit dan tetap berusaha bergerak.
"Tidak! Kita sudah susah payah melarikan diri! Kita harus kabur bersama-sama dari negara ini!" Genggaman Akeno pada pistol dan pisau mengerat ketika Naruto hampir mendekatinya. Keringat dingin juga mulai meluncur dari pelipisnya.
"Hmm... kalian pasti anggota dari sebuah organisasi ilegal, ya?" tanya Naruto. Tak ada jawaban dari kedua orang itu. Naruto menganggukkan kepala. "Berarti aku benar."
Langkah Naruto terhenti. Ia mulai memerhatikan Akeno yang sedang waswas menatapnya. Ia juga sedang menganalisa berbagai kemungkinan serangan yang akan dilayangkan oleh Akeno. Setelah beberapa saat terdiam, Naruto kembali mendekati Akeno sambil menatap kedua senjata itu. "Dua-duanya mematikan, tapi akan lebih baik menyingkirkan pistolnya," pikirnya tenang. Sebelum ia lebih mendekati Akeno, Naruto membalikkan tubuhnya—menatap penumpang lainnya. "Sebaiknya kalian menunduk dan lindungi diri kalian kalau tidak ingin mati." Detik itu juga para penumpang langsung menundukkan kepalanya di balik kursi-kursi bus.
Naruto menatap kedua senjata itu bergantian. Pisau? Pistol? Yang mana yang akan dia gunakan. Mengingat tadi Akeno melihat dirinya yang berhasil menghindari peluru dari tembakan Finnien, pasti... Naruto menyeringai ketika melihat Akeno menghunuskan pisau ke arahnya. Naruto mundur selangkah, dan ketika ia maju dan ingin menendang pistol itu, pisau itu berusaha menebasnya. Kali ini Naruto tak menghindar, ia menahan pisau itu dengan tangannya, lalu merebut paksa pisau itu. Ia menatap Akeno dengan iris mata merahnya yang tajam, dan ketika Akeno tampak membatu, Naruto segera menendang tangan Akeno yang memegang pistol.
"Ugh!" Akeno meringis sambil memegang tangannya yang baru saja ditendang sekuat tenang. Apa-apaan tatapannya itu? Ia hampir tak bisa bernapas melihat mata merah yang seolah menghipnotisnya. Mata itu... membuatnya merasa takut.
Bus berhenti bergerak ketika sudah sampai di pelabuhan. Naruto langsung meraih kerah baju Akeno, menyeretnya, lalu melemparnya ke arah pintu. Tak sampai di situ, Naruto membuka pintu bus. Dan lagi-lagi ia menarik Akeno untuk berdiri. Naruto melayangkan tinjunya ke wajah pria itu berkali-kali hingga akhirnya ia menendang Akeno ke luar dari bus dengan kuat.
Tak lama, bunyi sirine mulai terdengar. Naruto mengusap hidungnya. "Kupastikan kalian akan ditangkap!"
"Kami akan lari!"
Naruto tersentak ketika merasakan sebuah hawa dingin di belakangnya. Ketika ia melirik ke belakang, tampak Finnien sedang menodongkan pistol ke arahnya dengan tangan bergetar. Naruto tertawa. "Tembak saja kalau kau bisa. Aku sudah sangat yakin mematahkan pergelangan tanganmu dan membuat tulang kedua tanganmu retak. Bahkan aku yakin sekali kalau punggungmu terasa sakit. Jangan dipaksakan. Atau... kau mau aku membuatnya lebih parah dari itu?"
Finnien memejamkan matanya. wajahnya melukiskan kekecewaan. Dari pintu bus, ia bisa melihat Akeno yang masih tersungur. "Akeno, maafkan aku. Sepertinya kita hanya bisa sampai di sini."
Akeno yang berusaha untuk berdiri mengulas senyum tipis. "Mungkin ini akhir yang terbaik untuk kita. Senang bisa bersahabat denganmu."
Naruto turun dari bus sambil memegang lengannya yang masih mengeluarkan darah. Ia memerhatikan sekeliling, ternyata benar-benar sudah ada di pelabuhan. Tak ada seorangpun di sana, kecuali sebuah mobil hitam yang terparkir jauh dari posisinya. Baru saja ia ingin pergi dari sana, sebuah mobil putih yang dikenalnya bersama mobil polisi dan ambulance berdatangan, dan benar saja seperti dugaannya, sosok Menma keluar dari mobil berwarna putih itu.
Saat itu, Menma membantu polisi lebih dulu untuk mengamankan kedua pembajak bus itu. Setelah sedikit membantu mereka, tak mau berlama-lama lagi ia berlari ke arah Naruto.
"Naruto! Astaga! Kau baik-baik saja?" tanya Menma khawatir ketika berdiri di depan Naruto. "Aku langsung menelpon polisi karena mendengar percakapan mencurigakan, untung saja kau sempat mengatakan lokasinya, dan kau tahu? Aku langsung panik saat mendengar suara tembakan." Menma menjelaskan dengan amat cepat sambil mengusap peluhnya.
"Cih! Kau tak perlu sepanik itu." Naruto melirik Menma dengan tatapannya meremehkan.
"Cih? Kau mendecih padaku?" Menma tertawa tak percaya. Selama ini Naruto tak pernah mendecih kepadanya kecuali satu orang itu. Oh, tunggu! Menma menatap wajah Naruto dalam-dalam. Wajah yang terlihat meremehkan orang lain, iris mata yang berubah menjadi merah. "Kau... Kurama?" tanya Menma tak yakin.
"Kau tak perlu ragu begitu. Memangnya ada kepribadian lain selain aku di tubuh Naruto ini?" balasnya sambil mendengus. "Jangan bilang kau lupa kalau Naruto menderita Dissociative Identity Disorder? Kepalamu terbentur, ya?"
Menma menghela napas. "Mana mungkin aku lupa! Apa yang terjadi? Kenapa kau muncul, Kurama? Padahal lebih dari dua minggu ini kau tidak muncul."
Kurama yang sedang menempati kesadaraan Naruto saat ini menatap Menma dengan iris rubynya. "Kebetulan, di dalam bus ada satu keluarga. Sepasang suami-istri itu ditembak dan menyisakan anak mereka. Kupikir wanita itu tidak akan mati karena luka tembaknya tidak berada di tempat yang fatal, sedangkan lelaki itu mungkin mati karena peluru berhasil menembus dada kirinya. Kau tahu, kan? Naruto tidak kuat untuk masalah seperti ini. Sepertinya dia kembali mengingat kenangannya yang dulu. Karena tadi dia sempat terdiam. Merasa kondisinya down, aku langsung keluar dan mengambil alih tubuhnya."
"Baiklah, setidaknya Naruto tidak terlu—"
Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Kurama menunjukkan tangannya terluka.
"Apa yang kau lakukan pada adikku?!" jerit Menma melihat luka melintang di balik jaket yang dikenakan tubuh Naruto.
"Berterimakasihlah karena ini hanya luka sayatan, bukan luka tembak. Ayo pulang!" Kurama berbalik menuju mobil putih yang terparkir. Namun, sebuah tangan menahannya. "Ada apa lagi?" tanya Kurama tak suka ketika ia membalikkan badan. "Oh, Sasuke? Kau di sini?"
"Kebetulan aku bersama Menma tadi. Jangan langsung pulang! Polisi butuh kesaksianmu, Naruto!"
"Dia bukan Naruto," sela Menma.
"Hah? Bukan Naruto? Apa yang sudah terjadi?"
Kurama memutar bola mata. "Aku benci mengulang cerita yang sudah kujelaskan. Tanya saja pada Menma!" ketus Kurama sambil melirik Menma. Kurama meringis ketika lukanya kembali terasa perih. "Hei, bisakah kalian memberikan pertolongan pertama untuk ini?" tanyanya sambil menunjukkan lukanya.
"Menmaaaaa!" suara seorang wanita terdengar nyaring memanggil nama Menma. Ketiga pasang mata itu mengalihkan pandangan ke sumber suara dan mendapati seorang wanita bertubuh langsing dalam balutan seragam militer dengan rambut pirang pucatnya di ikat ponytail sedang melambaikan tangan ke arah mereka.
Senyum Menma mengembang. "Oh! Ino! Kau sudah pulang?!"
Ino berlari ke arah Menma, menghamburkan tubuhnya, lalu memeluk lelaki itu erat. "Ah, aku merindukanmu!" kata Ino ketika ia melepaskan pelukannya. Merasa ada orang lain di sekitarnya, Ino mengalihkan pandangan dan kini ia menatap Naruto dengan senyuman lebar. "Narutooo! Aku juga merindukanmu!" seru Ino sambil merentangkan tangannya dan hendak memeluk Naruto hingga ia menyadari sesuatu. "Oh! Astaga! Kau bukan Naruto!" guman Ino sambil menutup mulutnya saat dirinya melihat iris mata Naruto yang kini berwarna merah. "Tolong jangan bunuh aku!" Ino mundur selangkah.
Kurama mendengus. "Daripada membunuhmu, lebih baik kau obati luka ini, bisa, kan?" tanyanya sambil menunjukkan lukanya.
Ino mengangguk. Mereka pun berjalan menuju salah satu ambulance yang masih ada di sana—karena ambulance lainnya telah pergi membawa 2 korban penembakan. Ino meminjam beberapa peralatan dari sana, mengobati luka itu dengan hati-hati, dan membalut lukanya dengan rapi. Setelah menyelesaikan semuanya, polisi meminta Naruto—yang saat ini tubuhnya diambil alih Kurama—untuk pergi ke kantor polisi sebagai saksi bersama dengan penumpang lainnya.
Selagi menunggu Naruto yang tengah memberikan keterangan pada polisi, Menma, Sasuke, dan Ino menunggu di ruang tunggu. Sasuke yang sibuk dengan ponsel dan earphone yang terpasang di telinganya, sedangkan Menma terdiam sambil menatap wajah Ino yang tampak lelah.
"Ino, kenapa kau tahu aku di sini? Kau baru pulang tugas, kan?" tanya Menma memecahkan keheningan di antara mereka.
Ino tersentak ketika mendengar pertanyaan Menma, ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Telinganya seolah tuli dan berpura-pura tak mendengar apapun sampai Menma mencubit lengannya. "Aw! Kenapa mencubitku?"
"Ayo katakan! Bagaimana bisa kau menemukanku sedangkan kau tidak menghubungiku?" desak Menma sambil memandang Ino tajam.
Ino menoleh ke arah Menma dengan senyuman lebar. "Aku meletakkan alat pemancar dan juga penyadap di ponselmu."
Menma melongo tak percaya. "A-apa?" tanyanya tak percaya. Tak lama, Menma mendengus geli. "Kau ini penjahat, ya?"
"Ya! Kau benar! Aku penjahat yang sedang berusaha mencuri hatimu!" Ino langsung menyandarkan tubuhnya pada Menma dengan genit, sedangkan Menma langsung menggeser tubuhnya menjauh dari perempuan hiperaktif itu.
Tak lama, Menma berdiri dari posisi duduknya ketika melihat Kurama yang sudah kembali dari ruangan polisi, membiarkan Ino yang sebelumnya ingin bergelut di lengannya terjatuh dan membuat gadis itu sedikit kesal. Meskipun begitu, Menma tidak peduli, ada hal lain yang harus lebih ia pedulikan daripada cewek centil semacam Ino Yamanaka.
"Sudah selesai, kan? Sekarang pulang!" Menma menoleh ke arah Sasuke yang masih sibuk berkutat dengan ponsel di tangannya. "Sasuke, kau mau ikut pulang tidak?" tanya Menma seraya menarik salah satu earphone yang terpasang di telinga Sasuke.
Sasuke mengangguk. "Aku harus ke barak sekarang, ada pekerjaan." Sasuke menyimpan ponsel dan earphonenya ke dalam saku, lalu menepuk bahu Menma dan melangkah pergi dari sana dengan terburu-buru.
"Ck, cepatlah kalau ingin pulang." Kurama menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans nya dan lebih dulu pergi dari sana setelah melayangkan tatapan tajamnya ke arah Menma.
"Menma, aku mau pulang denganmu, boleh?" tanya Ino pelan.
Menma tampak berpikir. Ini sudah hampir lewat tengah malam, tak seharusnya Ino pulang sendirian sementara ia masih ada urusan dengan Kurama. Meskipun Ino adalah rekan seprofesinya yang bisa membela dirinya sendiri jika di jalan terjadi sesuatu, tetap saja dia hanya seorang perempuan. "Baiklah, tapi kumohon jangan ganggu kami saat di rumah nanti."
Ino tersenyum, lalu mengangguk setuju.
xxx
Ketika sampai di apartemen, Menma langsung menyuruh Ino untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Ino yang sudah berjanji tak ingin mengganggu masalah dua bersaudara itu hanya mampu mengangguk dan mengikuti kata-kata Menma. Setelah Ino menutup pintu kamar, Menma langsung menatap Kurama yang tengah duduk di sofa dengan kedua kaki yang diselonjorkan di atas meja di depannya.
"Apa yang sudah kaulakukan pada kedua pembajak bus tadi?" tanya Menma sambil berkacak pinggang. "Salah satu di antara mereka tampak terluka parah," lanjutnya sambil mengingat lelaki berambut pirang yang saat itu tidak bisa berjalan dengan punggung tegak.
Kurama mendengus sambil mengulas seringaian tipis. "Aku hanya membuatnya patah tulang di kedua tangan dan meretakkan tulang punggungnya."
"Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak menggunakan tubuh adikku seenaknya?"
Kurama tertawa kecil. "Aku tidak melakukan apa-apa!" serunya sambil beranjak dari posisi duduknya, melesat ke arah Menma, lalu menarik kerah bajunya dengan kuat. "Aku bahkan tidak membunuh! Aku hanya memberikan pelajaran pada mereka! Apa kau tidak percaya kalau aku melindungi Naruto?!"
Tak mau kalah, Menma juga meraih kerah baju Kurama, lalu melayangkan tinjunya pada rahang itu dengan kuat hingga pegangan Kurama pada baju Menma terlepas. "Aku tidak mungkin percaya padamu! Selama ini kau terus membuat Naruto dalam masalah!"
Kurama tetap mempertahankan seringaiannya. Ia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Haha... Lihat Naruto, kakakmu sendiri memukulmu." Kurama berjalan menuju kamar Naruto, ketika ia membuka pintu, ia menoleh ke arah Menma lewat bahunya. "Aku ingin tidur. Sepertinya Naruto sudah lebih tenang dan dia akan bangun pagi nanti." Kurama masuk ke dalam kamar, menutup pintu, lalu mendudukkan dirinya di atas kasur.
Kurama membuka laci meja nakas, mengambil sebuah buku bersampul cokelat dan sebuah pena. Ia menuliskan sesuatu di sana. Setelah selesai, ia menutupnya, meletakkan buku itu di samping bantalnya. Kurama mulai merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.
.
Menma menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang dan membaringkan tubuhnya di sana. Ia menatap tangan kanannya lama, tangan yang baru saja ia gunakan untuk memukul saudara kembarnya sendiri. Menma menghela napas panjang sambil menutup matanya. Ia sudah cukup lelah hari ini.
Kurama. Menma tidak tahu harus membenci kepribadian Naruto itu atau tidak. Benci? Tentu saja ia amat sangat membencinya. Kurama selalu saja membuat Naruto terlibat sebuah masalah. Di sisi lain, kepribadiannya itulah yang terus melindungi Naruto ketika saudara kembarnya itu merasa takut, gelisah, bahkan jika dia sedang terdesak sekalipun dalam misinya. Itulah salah satu alasan mengapa Naruto tetap diizinkan menjadi seorang militer. Sosok Kurama juga keras. Dia adalah kepribadian yang muncul dengan sifat angkuh, sombong, berani, dan juga seseorang yang haus darah.
"Menma, kau baik-baik saja?"
Menma kembali membuka matanya dan ia bisa melihat Ino yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Wanita yang berusia 24 tahun itu telah mengganti seragamnya dengan kaos putih milik Menma, sedangkan bawahannya, ia hanya menggunakan celana pendek yang selalu ia pakai sebelum memakai celana seragam militernya.
"Maaf, apa kami terlalu berisik?" tanya Menma sambil mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Ia menatap Ino yang tengah melangkah ke arahnya, lalu turut mendudukkan diri di sisinya.
"Aku selalu penasaran soal ini, bagaimana Naruto bisa membangkitkan kepribadian lain sedangkan kau tidak?" tanya Ino tak mengindahkan kalimat Menma sebelumnya.
Menma terdiam sesaat, setelah ia menarik napas panjang, ia mulai berujar, "Saat kami berumur 10 tahun, musibah menimpa keluarga kami. Selain keluargaku dibantai, Naruto juga diculik sampai seminggu. Sepertinya dia disiksa habis-habisan hingga akhirnya Kurama muncul dan membalas kelakuan mereka dengan ganas."
Ino mengangguk paham. Ia menyentuh pundak Menma, lalu mengusapnya pelan. "Mereka tertangkap, kan?"
Menma mengangguk. "Mereka tertangkap, tapi dalangnya tidak. Sampai dihukum mati pun mereka tidak menyebutkan nama bos mereka." Tangan Menma terkepal erat di atas lututnya ketika mengingat hal itu lagi. "Inilah salah satu alasan aku dan Naruto memutuskan menjadi seorang tentara, apalagi Paman Fugaku sudah banyak membantu kami hingga kami jadi seperti ini. Aku sedikit khawatir kalau dalang yang sudah membunuh orangtua kami kembali berniat membunuhku dan Naruto." Menma menunduk dalam, ia memijat keningnya.
"Sudahlah, sebaiknya kau tidur di kamar, biar aku yang tidur di sini," kata Ino.
Menma menggeleng. "Tidak, kau saja yang tidur di kamar."
Ino mendesah pelan. Ino melepaskan ikat rambutnya, membuat rambut pirang panjangnya terurai. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu Menma. "Kalau begitu, aku memaksa untuk tidur di sini juga."
Menma tersenyum kecil. "Keras kepala. Bukan salahku kalau kau masuk angin."
"Tenang saja," balas Ino mulai memejamkan matanya hingga akhirnya ia terlelap.
xxx
Naruto membuka matanya. Silau menyambutnya ketika ia mulai membuka mata. Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali hingga pandangannya jelas. Ia terdiam beberapa saat sambil menatap langit-langit kamarnya. Kenapa ia bisa di sini? Setelah terdiam cukup lama, Naruto tersentak kaget. Apa yang semalam terjadi? Ketika ia ingin bangkit dari tempat tidur, sebuah buku terletak di samping bantalnya menarik perhatiannya. Naruto meraih buku itu dan cepat-cepat membukanya, dan di sana ada halaman yang sudah ditandai dengan selipan pena.
Naruto membaca deretan kalimat di sana, tak lama ia menghela napas pelan. Naruto meraih pena itu dan menuliskan sesuatu di halaman kosong buku itu sambil memegang pipi kirinya yang berdenyut ngilu.
11 Agustus 20xx
Terima kasih, Kurama. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak cepat-cepat bertukar denganku. Soal luka di tangan ini, tidak masalah, ini luka kecil. Maaf juga kalau Menma masih tidak menyukaimu.
—Naruto
Naruto kembali menutup buku itu, lalu kembali menyimpannya di laci meja nakas yang terletak di samping tempat tidurnya. Naruto tidak bisa berinteraksi langsung dengan kepribadiannya yang satu itu, terlebih lagi kalau Kurama mengambil alih tubuhnya, saat bangun Naruto tidak akan mengingat apapun kejadian sebelumnya. Jadi, satu-satunya cara agar ia mengetahui semua kejadian saat ia tidak sadar, Naruto menyiapkan sebuah buku bersampul cokelat dengan tulisan 'Untuk Kurama' di sampul itu dengan harapan setelah mengambil alih tubuhnya, Kurama harus menuliskan semua kejadiannya di buku itu.
Awalnya Naruto tidak yakin kalau Kurama akan menuliskan kejadian-kejadian selama ia tidak sadar karena Menma pernah bilang padanya kalau kepribadiannya yang itu sangat angkuh, sombong, keras kepala, dan benar-benar seperti penjahat. Tapi Naruto bersyukur, saat itu setelah ia dan Kurama mengalami pertukaran beberapa kali, ia selalu menerima laporan kejadian yang sudah terjadi dan itu membuat Naruto sedikit tenang.
Dissociative Identity Disorder atau yang lebih dikenal dengan Kepribadian Ganda adalah sebuah diagnosis psikiatrik dimana sang penderita memiliki dua atau lebih kepribadian dalam satu tubuh. Biasanya kepribadian yang muncul memiliki nama sendiri, sifat, bahkan hobi yang berbeda. Namun masalah ini sangat mengganggu sang pemilik tubuh asli karena setiap mereka mengalami pergantian kepribadian, sang penderita akan mengalami amnesia. Sebenarnya bukan benar-benar amnesia, sang penderita hanya tak sadar selama tubuhnya dipakai oleh orang lain.
Bahkan Naruto pernah nyaris bunuh diri karena waktu itu ia sering mendapati dirinya sedang memegang benda tajam yang berlumuran darah atau sedang memukuli orang lain hingga orang itu lebam sana-sini. Semua itu juga hampir membuat Naruto gila karena ia selalu dituduh melakukan tindak kriminal sedangkan ia tidak ingat pernah melakukannya. Tak lama setelah itu, ia dihadapi kenyataan bahwa ia memiliki kepribadian lain di dalam tubuhnya ini.
"Ini semua pasti karena kejadian itu," gumam Naruto sambil menghela napas. Ia lalu berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.
Ketika Naruto keluar dari kamarnya, ia mendapati Menma dan rekannya yang bernama Ino sedang sarapan bersama di bangku sofa panjang. "Ohayou. Tugasmu di Nigeria sudah selesai, Ino?" Suara Naruto membuat kedua manusia itu menoleh.
"Oh, kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Ino balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Naruto. "Kau ingat tentang kejadian semalam?"
Naruto berjalan ke arah mereka, lalu mencomot sepotong roti bakar yang ada di meja dan memakannya. "Aku memang tidak ingat, tapi aku sudah tahu semuanya," jawab Naruto sebelum mengigit rotinya.
"Eh? Kau tahu? Bagaimana?" tanya Menma sambil menatap Naruto dengan tatapan tak percaya.
"Bukankah sudah kubilang, jika Kurama ingin mengembalikan kesadaranku, dia akan menulis semua kejadian yang dia alami. Bahkan aku tahu siapa penyebab luka ini." Naruto menunjuk sudut bibirnya yang robek, lalu memegang pipinya yang juga terasa sakit.
Menma menunduk. "Maaf. Semalam aku terlalu emosi menghadapi Kurama dan tanpa sadar memukulnya. Padahal kau juga yang nanti merasakannya," kata Menma dengan wajah penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa." Naruto melayangkan senyum tipis ke arah Menma, lalu kembali menggigit rotinya yang masih tersisa di tangan. Setelah menghabiskan rotinya, baru saja Naruto ingin masuk ke kamar mandi, suara Menma kembali menghentikan langkahnya.
"Naruto, Sakura-san menelponmu lagi."
Naruto kembali ke ruang tengah sambil menatap Menma dengan dahi tertekuk. "Lagi?"
"Sudah dari jam 6 pagi dia menelponku berulang kali hanya ingin bicara denganmu. Ini." Menma menyerahkan ponselnya pada Naruto.
Naruto menghela napas dan mengambil ponsel itu. Ia meletakkan benda itu di telinganya. "Halo?"
"NARUTO-BAKA! KENAPA KAU BELUM DATANG KE RUMAHKU?! KAU TIDAK TAHU SEKARANG JAM BERAPA?!"
Naruto menjauhkan ponsel itu ketika suara Sakura yang berteriak nyaring menusuk gendang telinganya. Ia melirik ke arah jam. Masih jam 8 pagi. Urat persimpangan mendadak muncul di wajahnya. Ia benar-benar kesal sekarang. Merasa tak mau kalah dari wanita di seberang sana, Naruto memindahkan ponsel itu tepat di depan bibirnya. "TENTU SAJA AKU TAHU! KAU PIKIR AKU ORANG MISKIN YANG TIDAK MAMPU MEMBELI SEBUAH JAM?! SEKARANG MASIH JAM 8 PAGI DAN KAU SUDAH MERUSAK PAGI HARIKU! AKU JUGA BARU SAJA BANGUN!"
"DASAR PEMALAS! APA KAU MAU REZEKIMU DIPATOK AYAM KARENA BANGUN KESIANGAN?!"
"DASAR BODOH! KAU INI MANUSIA DARI ZAMAN MANA YANG MASIH PERCAYA TAKHAYUL MACAM ITU?!"
"TERSERAH! HARI INI KULIAHKU JAM 10. SEBAIKNYA KAU DATANG KE RUMAHKU SEKARANG JUGA! TIDAK ADA PROTES, TIDAK ADA TERIAKAN LAGI, TIDAK ADA PENOLAKAN. TITIK! TIDAK PAKAI KOMA!"
Tut!
Naruto hampir saja membanting ponsel di tangannya ketika Sakura memutuskan telepon. Kalau saja Menma tidak buru-buru menangkap tangan Naruto dan mengambil ponselnya mungkin ponselnya sudah hancur dengan layar pecah dan baterai yang lepas dari tempatnya.
"Cewek sialan itu!" maki Naruto sambil mengembuskan napas dengan keras pertanda bahwa ia masih menahan amarahnya.
"Jangan begitu, Naruto. Kau bisa jatuh cinta dengannya, lho," canda Ino yang masih duduk di sofa.
"Jatuh cinta? Sama cewek macam Sakura Haruno yang menyebalkan itu? Aku saja tidak terpesona denganmu." Naruto tersenyum mengejek dan berlalu pergi menuju kamar mandi.
Berbeda dengan Ino yang langsung berdiri dengan wajah merah redam menahan amarah yang tiba-tiba menjalar di tubuhnya. "Apa katamu?!" Ino yang baru saja ingin menyusul Naruto langsung dihalangi oleh Menma.
"Sudah, sudah, ini masih pagi, jangan berisik." Menma berujar dengan sabar.
"Kau tidak dengar tadi dia bilang apa? Lihat aku, Menma. Aku cantik dan seksi. Kenapa dia malah bilang begitu?!"
Menma mengangguk paham. "Iya, aku tahu. Aku juga tidak mengerti dengan selera wanita idaman Naruto itu seperti apa."
"Saudaramu benar-benar payah! Padahal wajahnya tampan, tapi diumurnya yang ke 25 tahun ini tidak mau cari wanita," dengus Ino seraya kembali mendudukkan diri di kursi.
xxx
"Sakura-sama, anda tidak suka makanannya?" salah satu wanita paruh baya menghampiri Sakura yang masih duduk di meja makan tanpa menyentuh makanannya yang masih utuh.
"Bukan itu. Aku hanya sedang menunggu seseorang yang akan menemaniku sarapan. Erika ba-san, tolong siapkan makanan untuk satu orang lagi," balas Sakura sambil tersenyum simpul.
Wanita yang dipanggil Erika itu menunduk. Ia mulai menyiapkan makanan seperti yang diperintahkan majikannya itu—menyiapkan semangkuk nasi, lauk-pauk, dengan sup miso—lalu disajikan tepat di meja makan yang berbentuk persegi panjang itu.
"Sakura-sama, Naruto-sama sudah datang." Kali ini seorang pelayan muda berambut cokelat yang menghampiri Sakura dengan sosok Naruto di belakangnya.
Sakura mengangguk. "Terima kasih, Ayame-san." Setelah kedua pelayan rumah itu undur diri meninggalkan ruang makan, Sakura menatap Naruto yang mengenakan kaos putih polos dengan jeans panjang sedang berdiri mematung tak jauh dari meja makan.
"Kupikir orang sepertimu suka menindas pelayan-pelayan rumah."
Sakura menautkan alisnya. Sapaan macam apa yang Naruto lontarkan itu. Tentu saja ia bukan tipe orang yang suka menindas orang lain tanpa sebab. "Kau pikir aku tokoh antagonis yang suka melihat penderitaan orang lain? Cepat duduk! Temani aku sarapan!" Sakura menunjuk kursi kosong di hadapannya.
Naruto mendengus sambil menatap kursi yang Sakura tunjuk.
Sakura menautkan alisnya dalam. Ia bangkit dari posisi duduknya, berjalan ke arah Naruto, lalu mendorong tubuh tinggi Naruto dan memaksanya duduk. Setelah itu, Sakura kembali ke kursinya. Ia menatap Naruto yang duduk di seberangnya dengan senyuman lebar. "Sekarang kita sarapan." Sakura mulai mengambil sumpitnya dan memakan sarapannya. Setelah ia memakan beberapa suapan, ia menghentikan acara makannya. Ia memandang Naruto yang masih terdiam tanpa menyentuh makanan yang sudah disiapkan untuknya. "Kenapa kau tidak mau makan? Erika ba-san sudah bersusah payah membuatnya! Masakannya juga enak, kok! Sekarang makan! Ini perintah! Lagipula ini juga tebusan karena aku sudah memintamu datang pagi-pagi dan berteriak-teriak di telepon tadi."
Naruto mendecih pelan. "Jangan seenaknya memerintahku." Naruto langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Ayolah, makan! Aku tidak akan menggajimu!" ancam Sakura sambil mengacungkan sumpitnya ke wajah Naruto.
"Yang menggajiku itu Ayahmu dan pemerintah, bukan kau."
Sakura menghela napas. "Ayolah... aku sudah lama tidak makan bersama seseorang. Kali ini saja dan hari ini aku tidak akan merepotkanmu seperti kemarin."
Naruto memandang Sakura tak percaya dengan tatapan datarnya.
"Aku janji!"
Setelah tampak mendesah pelan, akhirnya Naruto mengambil sumpit, dan mulai memakan makanannya. "Baiklah, untuk kali ini saja aku makan."
Sakura tersenyum lebar mendengarnya.
"Kau mengingatkanku pada seseorang."
Sakura kembali melanjutkan acara makannya. "Benarkah? Siapa orang itu?" tanya Sakura tanpa menyadari kalau Naruto tersentak dengan ucapannya sendiri.
Setelah terdiam beberapa detik, Naruto menjawab dengan suara pelan, "Bukan siapa-siapa. Kau tidak perlu tahu."
Sakura hanya mengangguk paham dan tak kembali bertanya-tanya. Ia tetap melanjutkan acara makannya sampai tak tersisa. Setelah ia menyelesaikan sarapannya, Sakura beranjak ke kamar untuk ganti baju dan bersiap untuk pergi ke kampus.
xxx
Naruto memandang tak percaya kalau seorang Sakura Haruno yang setahunya wanita nakal yang suka bermalam di bar berkuliah di Universitas Tokyo dan menempuh pendidikan di fakultas Kedokteran. Ternyata otak wanita ini encer juga. Sekarang ia sedang berjalan berdampingan dengan Sakura, membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain mulai berbisik-bisik tak jelas.
Tak peduli dengan sekitarnya, Naruto hanya mampu menatap area Universitas ini. Naruto tidak pernah kuliah. Setelah ia lulus SMA, ia dan Menma bersama sahabat baiknya, Sasuke, langsung ikut Akademi Militer. Jadi, Naruto sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan kuliah itu.
"Ne, Naruto. Dari tadi aku penasaran, tanganmu kenapa?" tanya Sakura kembali melirik tangan Naruto yang diperban. "Sepertinya, belum diobati lagi, ya? Pipi kirimu juga sedikit lebam."
"Bukan urusanmu! Kau pikir ini salah siapa aku belum ganti perban ini? Seseorang menelponku untuk datang ke rumahnya cepat-cepat," balas Naruto tanpa menoleh ke arah Sakura.
"Hmm... Memangnya salah siapa, ya?"
Naruto memutar kepalanya ke arah Sakura, menatap wajah wanita itu dengan tatapan tajam, sedangkan yang ditatap malah mengulas senyum super mengejek, polos, seakan tidak tahu menahu. "Kauuu... belum pernah dicium tangan seorang tentara, ya?" balas Naruto sambil mengangkat kepalan tangannya di depan wajah Sakura.
"Belum, apa rasanya enak?" Setelah menjulurkan lidahnya ke arah Naruto, Sakura mempercepat langkah kakinya.
Naruto menepuk keningnya. "Dia benar-benar tidak kenal takut."
"Oh! Apa kabar, Sakura-chan? Tumben sekali kau tidak ke bar tadi malam. Padahal aku menunggumu, lho."
Naruto menautkan alisnya dalam ketika ada seseorang yang pernah ditemuinya menghalangi jalan Sakura dan dirinya. Bisa ia lihat Sakura langsung mundur selangkah setelah melihat senyuman pria berambut jingga itu. Ya, Naruto masih sangat ingat pria jangkung berambut jingga yang hendak mencium Sakura saat itu.
"Apa orang ini jadi bodyguardmu?" tanya pria dengan nama Pein itu sambil menatap Naruto dengan senyuman merendahkan. "Oh, tanganmu terluka! Apa kau baik-baik saja? Pasti sangat merepotkan karena harus menghadapi dua orang itu. Kudengar, bus yang kau naiki itu ada dua korban, ya? Akeno itu tipe orang yang tak segan-segan untuk membunuh orang."
Sakura yang mendengar itu hanya bisa memandang Naruto dan Pein bergantian. Setelah melihat wajah Naruto lebih saksama, ia bisa melihat raut wajah itu mengeras. Apa Naruto sedang marah? Baru saja ingin membuka mulut, suara Naruto lebih dulu terdengar. "Hei, kalau kau tidak pergi sekarang, kau akan terlambat jam kuliah." Naruto berujar sambil melirik Sakura.
"Ta-tapi—"
"Pergilah. Aku akan menunggu sampai jam kuliahmu selesai."
Setelah beberapa detik terdiam, Sakura akhirnya mengangguk paham. Ia mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana, meninggalkan Naruto dan Pein yang masih saling bertatap wajah.
"Jadi, kau terlibat dengan yang kemarin, ya?" tanya Naruto bersikap seolah kejadian tadi malam adalah kejadian biasa.
Pein hanya tersenyum. "Tidak sepenuhnya, kok. Mereka berdua adalah orang-orang yang berkhianat." Pein berjalan mendekati Naruto. Senyuman sok ramahnya tadi lenyap dan tergantikan dengan tatapan tajam nan dingin. "Kau masalah untukku. Seharusnya kau tidak menggangguku dan Sakura malam itu. Aku mendekatinya bukan tanpa alasan."
Dengan tatapan tak kalah tajam dari Pein, Naruto mengangkat dagunya, seolah ia tidak takut dengan sosok di depannya ini. "Jadi, saat itu rencanamu gagal? Bagus sekali!" Naruto menyeringai puas.
Pein mendengus. "Aku belum menyerah, kau tahu?" bisik Pein sambil berjalan melewati Naruto setelah menghantam bahu lelaki berambut kuning dengan bahunya.
Masih dalam posisinya, Naruto berujar dengan santai, "Kupastikan rencanamu gagal lagi!"
.
To be continued
.
A/n : Halo, minna! Apa kabar? Berhubung minggu lalu saya update fanfic duet, fanfic ini baru bisa diupdate minggu ini. Yah, seenggaknya saya ada update sebelum besok tanggal 18 mulai sekolah lagi dan menjalankan rutinitas sebagai anak kelas 12 SMK. Semoga masih bisa tetep update walaupun pasti nanti bakal banyak kesibukan. Aamiin. :)
Maaf kalau chapter ini kepanjangan dan bikin bosen. Tapi, semoga tetep suka ya. Berhubung banyak yang nyaranin Menma dipasangin sama Ino, saya memasangkan Ino dengan Menma. Makasih banyak buat para readers yang menyempatkan review, favorite, dan follow.
.
Saatnya balas review!
Shanaroooo, Natsu489, Dear God, Kinkurama, Harukaze Kenjou, uzuuchi007, Aion Sun Rise, Nofita817, sang pemberontak, gil88, Lora 29 Alus, G'Ryu-98, Riyuzaki namikaze, UzuHaruLovers, yanto : Oke, udah dilanjut ya. Apa chapter 2 nya ini termasuk kelamaan? Hihi. Maaf, seperti yang sudah Yuki bilang sebelumnya, minggu lalu saya update fic lain. Thanks for RnR dan juga sarannya mengenai pasangan Menma :D
devilyakharismap : Salam kenal juga. Terima kasih sudah mau jadi review pertama untuk fanfic ini. Soal hadiah... gimana kalau kamu usul scene buat chapter depan? Misalnya, MenmaIno dibanyakin adegannya, atau apapun boleh (asal bukan masa lalu Naruto karena belum waktunya XD). Thanks for RnR :D
Paijo Payah : Oke... Menma sudah dipasangkan dengan Ino ya. Makasih buat sarannya. Thanks for RnR :D
HyperBlack Hole : Saya juga berharap bisa terus update fic NaruSaku, tapi apa daya kalau kehidupan dunia nyata sudah memanggil? Tapi, kayanya masih lumayan banyak kok author NaruSaku yang menulis. Thanks for RnR :D
Geki uzumaki : Makasih untuk semangatnya. Dan, saya juga gak mau kok masukin chara Hina di fic ini. Habisnya, saya udah benci banget sama chara satu itu :'( #curhat Thanks for RnR ya :D
Tofu Megane : Sayang banget aku gak pake hiraishin buat update fanfic ini. Gapapa ya? Yang penting udah update :p pertanyaan mengenai orangtua Naruto dan Menma, sudah terjawab di fanfic ini yaa. Makasih untuk saran pasangan Menma. Thanks for RnR :D
Arashi Itsuka : Iya... Yuki juga baca fic itu kok :3 Tapi, kenapa idenya malah diambangin? Kan sayang banget *EmangLuSiapa*. Di chapter ini, Narutonya masih belum di apa-apain kok. Thanks for RnR :D
Blue Shafier And Green Emerald : Tenang aja. Sakura masih perawan, kok. Meskipun dia bandel, tapi dia tetep menjaga nama baik Ayahnya. Thanks for RnR :D
hantu : Iya... turut berduka cita karena Naruto dapat barang bekas. Walaupun bagi saya enggak sih. Thanks for RnR :)
Ae Hatake : Soal Menma akan menyukai Sakura atau tidak, sudah terjawab di sini ya. Saya udah menyiapkan pasangan untuk Menma. Thanks for RnR :D
Maya Kaminaga : Iya nih, kak :D Efek habis nonton Kdrama City Hunter, kayanya. Haha. Oh, jadi D request ff-nya tentang bad boy/girl ya? Kalau gitu, selesaiin dulu aja yang ada. Nanti kalau udah mood, baru nulis deh. Jangan dipaksain karena nanti hasilnya gak maksimal. Soal Naruto yang berubah dingin... udah terjawab di chapter ini ya. Thanks for RnR, kak :D
reyko azzura : Flamer macam itu memang aku abaikan kok, kak. Biarin aja. Suka-suka dia, yang penting aku gak pernah ganggu hidup dia. Thanks for RnR, kak :D
namikaze chaerim : Mudah-mudahan gak bakal hiatus. Tapi, berhubung saya udah kelas 12, gak juga deh. Semoga fic ini bisa secepatnya selesai. Naruto yang cool dan cengengesan tetep cakep dan keren kok. Walaupun mungkin lebih keren kalo dianya cool. Soal Menma, Yuki gak tega bikin dia jomblo. Jadi, dikasih Ino aja deh. Thanks for RnR ya :D
NLSFL : Wahhh makasih bangeeeet :* Aku paling jarang nulis dengan genre ini, sekalinya dipuji malah kesenengan. Maaf ya, Yuki gak bisa buat Sasuke jadi Fem :') Jadi, Sasuke masih tetep cowok dan Menma udah saya pasangin sama Ino. Tapi, makasih banget buat sarannya. Thanks for RnR :D
Okay, See You in Next Chapter!
