Fantome

Rated: T

Genre: Horror, Supernatural, Angst, AU

Characters: Oh Sehun, Kim Jongin, EXO

Author: hunhanslave


Saat kecil, Sehun tidak pernah ingin percaya dengan hal-hal yang berbau mistis dan sebagainya. Disaat anak-anak seusianya sangat percaya dengan monster yang ada di kolong tempat tidur dan juga peri gigi, Sehun lebih memilih untuk menganggapnya omong kosong.

Tidak ada yang namanya monster, hantu, peri atau apapun itu. Mahluk-mahluk tersebut hanya hidup dalam buku cerita, acara televisi dan juga khayalan manusia saja. Setidaknya pemikiran Sehun itu bertahan selama beberapa tahun sebelum sesuatu membuat Sehun kecil akhirnya percaya akan keberanaan mahluk-mahluk tersebut—kecuali peri gigi tentunya.

Saat itu salju turun sangat lebat, seluruh halaman dan juga jalan-jalan berubah warna menjadi putih. Itu adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu hampir semua anak yang tinggal di kompleks itu. Mereka berduyun-duyun keluar rumah dengan pakaian hangat dan juga sekop kecil berwarna-warni, dan dengan sekejap tumpukan salju tersebut berubah wujud menjadi manusia-manusia salju.

Sehun mendesah pelan sembari terus menatap anak-anak itu bermain-main di halaman rumahnya yang luas. Suara mereka sangat berisik, Sehun yang tadinya ingin menghabiskan waktu membaca buku akhirnya mengurungkan niatnya dan memilih untuk mendengarkan musik klasik dari radio tape tua peninggalan sang kakek.

Alunan piano dan juga biola yang serasi dengan suara seriosa si penyanyi terdengar memenuhi kamar bercat biru muda itu. Sehun memejamkan matanya sembari merapatkan mantel cokelatnya—menikmati lantunan musik kesukaannya.

Sehun sangat menyukai musik klasik. Bocah delapan tahun itu memiliki koleksi bermacam-macam piringan hitam yang dihadiahkan oleh kakek Oh sebelum pria paruh baya itu menghembuskan nafas terakhirnya. Ah, kakek Oh, sungguh Sehun sangat merindukannya.

Bruk

Suara benda yang jatuh membuat Sehun membuka matanya. Ia mengerutkan dahi kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu kamarnya.

Bruk

Suara itu kembali terdengar, namun kali ini lebih kuat. Dari lantai dua, ruang baca. Pikir Sehun menebak-nebak asal suara itu. Tanpa pikir panjang, Sehun segera keluar dari kamarnya kemudian berjalan cepat menaiki tangga, dan ketika jarak ruang baca itu hanya sekitar beberapa meter, Sehun memperlambat langkahnya. Suara musik klasik sayup-sayup masih terdengar saat Sehun membuka pintu ruangan tersebut.

Udara dingin langsung menerpa wajah Sehun sesaat setelah ia masuk ke ruangan favoritnya itu. Tidak ada yang jatuh hanya jendela yang terbuka lebar, tumpukan salju tipis menggumpal di bawah jendela. Sehun kembali mengerutkan dahinya. Seingat Sehun, jendela itu sudah tidak bisa dibuka lagi. Bocah itu pun berjalan pelan menuju jendela—berniat menutup kembali jendela tersebut sebelum sosok kakek tua muncul dan duduk di kursi goyang yang berada di samping rak buku dekat jendela.

Sosok kakek tua itu mengenakan sweater beige dan rambutnya yang putih disisir rapih ke belakang. Sehun membelalakan matanya, tubuhnya tiba-tiba saja tidak bisa bergerak dan keringat dingin mengucur deras di tengkuknya.

"Sehun." Gumam sosok itu dengan suara yang pelan. Seulas senyum terpampang di wajahnya yang keriput. Kakek Oh.

"Kakek…" Sehun pada akhirnya mengeluarkan suara. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar. Perasaan kaget, takut dan juga rindu bercampur aduk hingga membuat Sehun akhirnya tak kuasa menahan air matanya.

Bocah itu segera menghambur kearah kakenya yang sudah meninggal setahun yang lalu, kemudian tangisannya semakin menjadi-jadi ketika ia tidak bisa mendekap tubuh sang kakek. Kakek tidak bisa disentuh.

"Sehun, kakek sangat merindukanmu." Ucap kakek Oh. Pria tua tersebut sejujurnya sangat ingin memeluk cucu satu-satunya itu, tetapi hal tersebut sungguh mustahil. Dirinya dan Sehun kini tidaklah sama. Pria tua itu akhirnya hanya bisa menatap nanar bocah kecil yang kini terduduk di depannya yang tengah meraung-raung sedih.

Sehun tidak punya teman dan kakek Oh adalah satu-satunya orang yang selalu menemani Sehun ketika ayahnya pergi bekerja. Bahkan ketika kedua orang tua Sehun memilih untuk berpisah, kakek Oh-lah yang menghibur Sehun. Saat Kakek Oh meninggal dunia, Sehun kehilangan orang yang menurutnya adalah orang yang paling penting di kehidupannya.

Kemunculan kakek Oh hari itu adalah awal dimana Sehun mulai percaya hal-hal yang dulunya dianggap begitu tak masuk akal.


Suara bel panjang yang menandakan jam sekolah telah usai menggema di seluruh penjuru sekolah. Dengan sekejap koridor yang tadinya sepi berubah ramai dengan murid-murid yang berhamburan dari dalam kelas.

Sehun menarik nafasnya berat sembari merapihkan buku-bukunya lalu memasukannya ke dalam tas. Kelas sudah hampir kosong, hanya ada Sehun dan juga si ketua kelas berisik—Chanyeol yang baru saja selesai membersihkan papan tulis. Pemuda jangkung itu lalu berjalan ke arah Sehun sebelum menepuk bahu Sehun pelan.

"Ayo pulang bersamaku." Kata Chanyeol semangat sambil tersenyum.

"Tidak." Balas Sehun singkat kemudian menepis tangan Chanyeol dari bahunya. Ia tidak suka ada orang yang menyentuhnya sembarangan seperti itu.

"Astaga! Akhirnya kau mau bicara denganku!" Seru Chanyeol dengan suara nyaring yang membuat Sehun semakin jengkel dan tidak nyaman.

"Baiklah, baiklah. Aku akan pulang duluan. Sampai jumpa!" Lanjut Chanyeol yang seprtinya menyadari raut wajah kesal Sehun. Pemuda itu berjalan menuju pintu sebelum menghentikan langkahnya. "Ingat Sehun, jangan pergi ke kelas kosong itu." Chanyeol pun akhirnya menghilang di balik pintu.

Sehun kembali mendesah berat. Jangan pergi ke kelas kosong itu katanya. Terlambat, Sehun sudah terlanjur ke sana dan bertemu dengan sosok yang ditakuti seantero sekolah.

Ia baru saja berniat ingin meninggalkan kelas saat Jongin tiba-tiba saja muncul di hadapannya dengan seringaian khasnya.

"Kita belum bermain-main, Oh Sehun." Ucap Jongin. Penampilannya masih sama seperti terakhir kali Sehun bertemu dengannya. Rambut yang berantakan serta bagian bawah kemeja yang dibiarkan keluar.

Hawa dingin yang memenuhi ruang kelas ketika Jongin muncul sedikit membuat Sehun bergidik, tetapi entahlah…Sehun sama sekali tidak merasa gugup atau apapun yang selalu ia rasakan ketika berada dekat dengan orang lain. Aneh?

"Kenapa kau tidak takut padaku, Sehun?" Tanya Jongin sembari menyandarkan dirinya di meja milik Sehun.

"Karena kau bukan manusia?" Gumam Sehun yang berhasil membuat Jongin terbahak, padahal Sehun sama sekali tidak bercanda. Apa itu kedengaran lucu? Menurut Sehun tidak.

"Jadi, kau lebih takut pada manusia daripada mahluk sepertiku ini?" Jongin kembali terbahak tanpa mempedulikan Sehun yang menatapnya dengan tatapan kesal. "Saat kau melihatku di perpustakaan tadi, kukira kau benar-benar takut padaku sampai-sampai kau pergi meninggalkan perpustakaan dan temanmu yang bernama Park Chanyeol itu."

Sehun memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum menatap Jongin yang menyunggingkan seulas senyum padanya. "Jadi, apa maumu?" Tanya Sehun pada akhirnya.

"Menghantuimu, tentu saja." Jawab Jongin santai.

"Apa aku harus mengulang lagi kalimatku tadi? Kalu aku tidak taku dengan mahluk sepertimu ini?" Kini Sehun tau kenapa ia bisa mengeluarkan kalimat yang panjang pada Jongin.

Sehun mengidap Social Anxiety Disorder, penyakit mental yang membuat Sehun menghindari interaksi sosial dengan orang lain. Dan Jongin? Pemuda itu bukan manusia, tentu saja Sehun tidak akan merasa risih atau gelisah jika berada di dekatnya.

Jongin merentangkan tangannya ke atas—menarik otot-otot tubuhnya seolah-olah otot-ototnya tersebut membutuhkan perenggangan layaknya manusia yang kelelahan.

"Aku dulunya manusia." Gumam Jongin.

"Aku hanya takut pada manusia, bukan pada mahluk yang dulunya manusia." Ucap Sehun ketus. Ia menarik tas ranselnya kemudian berjalan keluar dari kelas, tanpa mempedulikan Jongin yang masih saja mengikutinya. Yang dikatakan Park Chanyeol memang benar.

"Ternyata kau memang benar-benar takut pada manusia. Sangat menarik." Kata Jongin.

Pemuda itu terus mengikuti Sehun dari belakang sebelum menghilang lalu ketika ia muncul, Sehun berada beberapa langkah di belakangnya. Hal itu membuat Sehun sedikit terkejut. Mahluk seperti ini memang penuh kejutan.

"Apa kau akan terus mengikutiku seperti ini kemanapun?" Sehun menatap Jongin dengan tatapan datarnya.

Jongin tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. "Aku butuh hiburan."

"Dengan cara menggentayangi—mengikuti orang seperti penguntit, begitu? Sungguh menyenangkan." Kata Sehun malas.

Untung saja koridor sekolah sudah kosong saat itu, jadi tidak ada yang akan menganggap Sehun seperti orang gila karena berbicara tanpa ada siapa-siapa di sana. Ya, kecuali ada orang yang juga bisa melihat keberadaan Jongin, tentunya.

"Sampai jumpa besok, Sehun." Gumam Jongin seraya melambaikan tangannya pada Sehun yang kini sudah berada di dalam rubicon putinya, sementara Sehun hanya memutar bola matanya kemudian meninggalkan Jongin di sana.


Seperti Déjà vu. Itulah hal pertama yang terbersit di benak Sehun sesaat setelah ia menghempaskan tubuhnya diatas kasur bersprei biru tua miliknya. Ia memejamkan mata, berusaha menghilangkan denyut nyeri yang melanda kepalanya. Sekelebat memori masa kecilnya tiba-tiba saja kembali berputar-putar—memori dimana ia bertemu dengan arwah kakenya di ruang baca rumahnya yang berada di Beijing. Ketika ia hendak menutup jendela, kakek Oh sudah berada di sana, duduk di kursi kesayangannya dengan senyum hangat yang sangat dirindukan Sehun.

Sehun tidak menyangka, setelah bertahun-tahun kemudian hal itu kembali terjadi padanya. Pertemuannya dengan Jongin hampir sama dengan pertemuannya dengan kakek Oh. Ya, ketika Sehun menghampiri jendela. Sangat konyol memang, tetapi memang itulah kenyataannya. Hanya saja, Sehun sama sekali tidak mengenal Jongin, namun sepertinya Sehun pernah mendengar nama itu sebelumnya, entah dimana.

Berbicara soal kakek Oh, sesungguhnya Sehun masih sangat ingin bersama dengan arwah pria paruh baya itu lebih lama lagi. Dua minggu saja tidak cukup bagi Sehun untuk melepas rindu dengan sang kakek, meskipun Sehun hanya bisa bercerita dan mendengarkan cerita dari kakeknya itu tanpa melakukan kontak fisik apapun.

Ketika kakek Oh berkata pada Sehun kecil bahwa ia akan pergi, semuanya sudah selesai katanya, Sehun sebenarnya tidak khawatir. Ia mengira kakek Oh hanya akan menghilang untuk beberapa waktu, ia mengira kakek Oh akan kembali lagi dan Sehun pun menunggu pria itu muncul di hadapannya, namun ia tak kunjung menampakan diri.

Bertahun-tahun, setiap harinya Sehun akan pergi ke ruang baca tua itu. Tubuh mungilnya selalu ia sandarkan di tembok samping jendela, berharap sang kakek akan duduk di kursi kayu itu. Tapi, Sehun akhirnya menyerah. Ia tau kakeknya tidak akan kembali lagi.

Sehun mendesah pelan. Jika hantu kakek Oh bisa menghilang, apa itu berarti hal yang sama juga akan terjadi pada Jongin? Ya, Sehun harap begitu. Karena ia tidak ingin berurusan dengan mahluk seperti itu—selain kakeknya tentu saja.

Bunyi klakson yang nyaring memaksa Sehun kembali membuka matanya. Ia melirik jam dinding yang digantung tepat di atas pintu kamarnya, jarum jamnya menunjukan pukul 4 sore. Sepertinya Ayah pemuda berambut hitam itu pulang lebih awal dari biasanya. Sehun kembali mendesah sebelum menarik selimut dan menyembunyikan diri di balik benda itu. Saat ini ia hanya butuh istirahat.


Pagi itu Sehun bangun lebih awal dari biasanya. Suara air mendidih terdengar sayup-sayup dari dapur ketika Sehun berjalan menuruni tangga. Bau kopi yang khas serta aroma roti panggang menyeruak di indera penciuman Sehun.

Tidak ada siapa-siapa di dapur tetapi mesin pemanggang dan coffee maker dibiarkan menyala. Sehun mendesah pelan, ia meraih dua lembar roti yang diletakan diatas meja lalu melahapnya cepat kemudian meneguk air putih yang juga sudah berada di atas meja.

Pemuda itu baru saja berniat meninggalkan rumah sebelum seorang pria muncul dari balik pintu belakang. Kedua tangannya menggenggam plastic bag berisi beberapa botol susu. Keduanya saling menatap selama beberapa saat sebelum Sehun mengalihkan pandangannya ke arah jam tangannya—menghindari kontak mata dengan si pria tadi.

"Sudah mau berangkat?" Tanya pria tersebut . plastic bag tadi diletakannya diatas meja sebelum mengeluarkan satu persatu isinya.

"Ya." Jawab Sehun singkat.

"Hati-hati, Sehun-ah." Pria itu tersenyum simpul namun hanya dibalas dengan anggukan pelan dari Sehun.

Sehun merapihkan letak dasinya sebelum berjalan meninggalkan sang ayah di sana yang menatap punggung anak lelaki satu-satunya itu yang semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu. Pria itu menarik nafasnya berat. Kedua iris matanya menatap deretan botol susu yang ada di depannya dengan tatapan kosong. Sampai kapan Sehun akan mengacuhkannya seperti ini?


Seringaian Jongin adalah hal pertama yang dilihat Sehun ketika pemuda itu baru saja memarkirkan Rubiconnya. Sehun hanya memutar bola matanya bosan lalu berjalan menuju gedung sekolah yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter saja.

Ini adalah minggu ke-2 Sehun bersekolah di sana, dan ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Jongin yang selalu tiba-tiba, sesukanya. Sehun berusaha untuk tidak menggubris pemuda berambut cokelat itu, tetapi Jongin selalu saja berhasil membuatnya tergaggu.

"Kenapa? Kau tak senang melihatku, huh?" Tanya Jongin yang kini berada di samping Sehun.

"Tidak ada yang senang melihat arwah gentayangan sepertimu." Ucap Sehun ketus lalu mempercepat langkahnya.

"Begitukah? Oh aku sangat sedih mendengarnya." Jongin memasang wajah memelas seolah-olah perkataan Sehun tadi memang benar-benar melukai perasaannya.

Sehun mendesah berat sebelum menghentikan langkahnya kemudian menatap Jongin dengan tatapan dingin. "Dengar, Jongin. Aku benar-benar tidak ingin berurusan denganmu. Aku…punya banyak hal yang harus kulakukan dan kau…" Sehun menghela nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus. "Kau menghambat kesibukanku."

Jongin mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak membalas perkataan Sehun dan memilih untuk diam. Pemuda itu ingin melihat ekspresi kesal dan panik milik Sehun lebih lama.

Sehun pernah berkata bahwa ia tidak takut pada Jongin. Ya, memang pemuda itu selalu memasang wajah datar tiap kali bertemu dengan Jongin, tetapi suara Sehun yang sedikit bergetar di tiap akhir kalimatnya serta nada panik setiap kali mata keduanya bertemu tidak akan bisa ditutupinya dari Jongin sekalipun ia berusaha untuk tetap tenang dan Sehun sendiri pun mungkin tidak menyadari itu.

"Yang aku tau, kau tidak memiliki kesibukan apapun selain membaca buku-buku tua di perpustakaan dan aku pun tidak pernah mengganggumu saat kau sedang membaca, bukan begitu?" Jongin memajukan badannya sembari melemparkan senyum tipis pada Sehun.

"Kehadiranmu…" Sehun membuang muka. "Kehadiranmu membuatku terganggu. Tolonglah, aku benar-benar ingin sendiri." Desis Sehun pelan namun dapat didengar Jongin dengan jelas. Ia pun kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Jongin yang menatap punggung Sehun yang semakin menjauh.


Bel tanda jam pertama sudah berakhir berdiring kuat. Tak lama koridor dan sudut-sudut sekolah menjadi ramai dengan sekejap. Udara musim gugur yang menusuk membuat orang-orang enggan menghabiskan waktu istirahat mereka di luar. Kecuali Sehun tentunya.

Ia merenggangkan tulang lehernya yang sedikit pegal sebelum menyandarkan punggunya di pohon oak tua yang berada di belakang sekolah. Tangannya menggenggam novel tua yang ia temukan di perpustakaan beberapa hari yang lalu.

Tidak ada yang menyenangkan di sekolah itu selain fakta bahwa sekolah kecil tersebut memiliki koleksi buku-buku tua yang menarik untuk dibaca, salah satunya novel horror karangan Bram Sroker yang legendaris—Dracula, buku yang kini berada di pangkuan Sehun.

Dracula adalah novel favorit Sehun. Ia bakhan sudah membacanya lebih dari Sembilan kali dan Sehun tak pernah merasa bosan, malahan semakin sering ia membacanya, rasa penasaran yang semakin besar terus menghampiri Sehun. Aneh memang, tetapi begitulah adanya.

Buku adalah tempat dimana Sehun bisa menemukan ketenangan, dimana Sehun bisa mengetahui sifat-sifat manusia hanya dengan membaca setiap perikop-perikopnya, dan buku adalah sesuatu yang membuat Sehun melupakan kesepiannya.

Kesepian. Ya, hal yang ditakutkan sebagian orang walaupun tidak ada yang mau mengakui bahwa mereka takut dengan hal tersebut.

Kesepian—Dimana kau tidak punya siapa-siapa untuk menyandarkan bahu saat kau sedang terpuruk dan dimana tak ada yang akan mendengarkan tangisanmu.

Sehun hidup dengan itu dan ia berusaha untuk terbiasa meskipun ada kalanya ketika ia juga ingin keluar dari kesepian itu. Memiliki teman misalnya. Namun Sehun selalu ditahan oleh ketakutannya—phobianya.

Tiba-tiba saja Sehun teringat pada Jongin. Bagaimana dengan lelaki itu? Apa mahluk seperti dia juga bisa merasakan kesepian? Terkurung di sekolah ini selama puluhan tahun tanpa ada siapapun yang menemaninya. Ah, mungkin itulah yang membuat Jongin selalu menghantui siapa saja yang pergi ke ruangan menari itu. Ia ingin memiliki teman.

"I want you to believe…to believe in things you cannot."

Sehun mengerjap kaget ketika Jongin sudah berada di sampingnya. Mata pemuda itu menatap dedaunan di atas kepalanya yang melambai-lambai ditiup angin musim gugur—musim kesukaannya. Lengan kemejanya digulung sampai sikut seperti biasa, tetapi Jongin terlihat sedikit berbeda. Mungkin karena ia membiarkan kancing bajunya terbuka, memperlihatkan dalaman hitam bergambar abstrak yang Sehun pun tak mengerti arti dari gambar itu.

"The world seems full of good men, even if there are monsters in it." Jongin tersenyum tipis sebelum menoleh kearah Sehun yang sedari tadi menatapnya dalam diam. Dua iris matanya melebar, sepertinya pemuda berambut hitam itu kaget karena Jongin mengutip isi novel vampire yang sedari tadi dipegang Sehun.

"30 tahun tanpa melakukan apa-apa membuatku menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan." Ucap Jongin seolah tau apa yang berada di pikiran Sehun, sementara Sehun masih saja diam. Wajahnya sedikit terhalang oleh syal abu-abu yang menutupi sebagian dari wajah pemuda tersebut.

Jongin terkekeh pelan lalu menjatuhkan tubuhnya diatas rerumputan berwarna jingga kecoklatan. Kulit tannya terlihat sangat cocok dengan warna rerumputan itu. Pemuda itu memejamkan matanya perlahan, menunggu Sehun untuk membuka mulutnya.

"Jadi…" Sehun menutup novel tua yang dipeganya lalu meletakan buku itu diatas tas ranselnya. "Kau tidak hanya berdiam diri di ruangan kosong itu." Gumam Sehun. Ia semakin menyandarkan punggunya di batang pohon oak itu, membiarkan serbuk-serbuk dari pohon tersebut menempel di jaketnya.

"Aku juga bisa merasa bosan."

"Begitu ya." Desis Sehun. Ia menatap Jongin beberapa lama, memperhatikan setiap sudut wajah pemuda berambut cokelat itu lalu mencoba menebak-nebak umur Jongin saat ia meninggal. Mungkin sekitar 17 atau 18 tahun. Sungguh miris jika membayangkan meninggal di usia yang sangat muda seperti itu.

Udara yang semakin dingin membuat Sehun merapatkan jaketnya. Jari-jari kurusnya diselipkan di kantong jaketnya tetapi tak ada niat sedikitpun dari pemuda itu untuk segera kembali ke dalam gedung sekolah. Ia penasaran, ia masih ingin bertanya banyak hal pada Jongin tetapi Sehun tak tau harus mulai darimana dan bagaimana.

"Sehun?" Panggil Jongin sesaat sebelum ia menegakan tubuhnya. Kedua tangannya ia lipat ke belakang kepala lalu melirik Sehun. "Kenapa kau tidak mencoba melawan ketakutanmu itu?"

Sehun mengerjap. Pertanyaan itu sudah berkali-kali didengarnya, bukan hanya dari Jongin saja tetapi setiap orang yang mengetahui penyakitnya itu—ketakutannya bersosialisasi, dengan manusia tentunya.

"Kukira kau bertugas untuk menakut-nakutiku, bukan menginterogasi seperti ini." Pernyataan Sehun tersebut malah membuat Jongin terkekeh. Suara kekehannya berat namun berirama. Jujur saja, Sehun tidak pernah mempedulikan hal-hal kecil dari orang lain seperti itu sebelumnya.

"Kau mau tau satu hal, Sehun?" Jongin menyeringai ketika Sehun mengerutkan dahinya.

Satu hal yang Jongin tau dari Sehun adalah pemuda itu mudah merasa penasaran, sama seperi saat itu. Ia tidak menampakan ekspresi bertanya-tanya, tetapi dari sorot matanya pun Jongin tau Sehun sangat ingin mengetahui hal apa yang akan dikatakan Jongin selanjutnya.

"Sebenarnya aku tidak benar-benar mengikuti siapa saja yang datang di ruang menari itu." Ucap Jongin, seringaiannya masih terpampang jelas di wajah tampannya. "Malahan aku heran kenapa orang-orang menyebar cerita bahwa aku akan menghantui setiap orang yang bertemu denganku."

"Lalu kenapa kau selalu mengikutiku seperti ini?" Tanya Sehun pada akhirnya. Suaranya terdengar sedikit parau, mungkin karena efek udara dingin yang semakin menggerogoti tubuh kurusnya.

Jongin terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya kearah awan kelabu yang kini tengah membentang diatas kepala mereka. Sebentar lagi akan turun hujan.

"Kau…seperti mengingatkanku pada seseorang…" Wajah Jongin berubah menjadi serius—atau kelam, sekelam langit yang sementara ditatapnya. Ini adalah kali pertamanya Sehun melihat ekspresi Jongin seperti itu. "Tapi, aku tidak bisa benar-benar mengingat wajahnya… hanya saja…ketika aku melihatmu, tiba-tiba saja bayangan orang itu melintas begitu saja."

"Apa kau lupa siapa orang itu?"

Jongin mengangguk pelan, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu. Tetapi semakin ia berusaha mengingatnya, hal itu seperti semakin menjauh.

"Aku tak ingat apapun, Sehun." Ujar Jongin lirih. Ia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. "Aku tidak ingat semua kejadian sebelum aku meninggal." Tambah Jongin dengan nada frustasi.

Sehun menggigit bibir bawahnya. Seperti itukah yang akan terjadi ketika mati dan menjadi hantu? Semua memori semasa hidup dihapus tanpa sisa. Tetapi kenapa kakek Oh masih bisa mengingat Sehun sedangkan Jongin sama sekali tidak bisa mengingat apapun dari masa lalunya? Ini sungguh membingungkan sekaligus menyedihkan. Ya, menyedihkan.

Awalnya Sehun tidak pernah ingin peduli dengan Jongin—mahluk yang seharusnya tak kasat mata ini, tetapi ketika melihat keadaan Jongin seperti ini membuat hati Sehun berdenyut nyeri.

Untuk sesaat, Sehun bisa melihat dirinya di dalam diri Jongin. Keduanya sama-sama kesepian, tak ada siapapun yang bisa menolong keduanya dari rasa kesepian itu. Satu hal yang membuat keduanya berbeda ialah Sehun masih bisa mengingat memori-memori manisnya bersama segelintir orang yang membuatnya melupakan rasa sepinya—kakek Oh dan juga Ibunya, tetapi Jongin? Ia tidak memiliki memori yang tertinggal di dalam otaknya. Memori ketika bersama dengan orang-orang yang ia sayangi, misalnya.

Apa yang lebih menyedihkan selain kehilangan seluruh kenangan indah yang tidak akan pernah terulang lagi? Itu lebih menyedihkan dibandingkan dengan menderita ketakutan terhadap orang lain.

"Oh Sehun!" Suara teriakan lantang dari dalam gedung sekolah membuyarkan lamunan Sehun. Ia segera mendongakan kepalanya dan sosok Park Chanyeol yang tengah menyandarkan tubuhnya di jendela tertangkap oleh indera pengelihatannya.

Pemuda jangkung itu mengerutkan dahinya lalu melambaikan tangannya pada Sehun. "Kau ingin terlambat di kelas Kimia?" Serunya.

Sehun membulatkan matanya sebelum beranjak dari duduknya dan menarik tas ransel juga novel tua tadi. Ia menatap Jongin yang masih terduduk dengan kepala ditundukan.

"Jongin…" Sehun sebenarnya ingin mengatakan sesuatu pada pemuda itu tetapi ia mengurungkan niatnya dan meninggalkan Jongin di sana, dan ketika ia sudah berada di dalam gedung sekolah, ia menolehkan kepalanya kearah Jongin tetapi pemuda itu telah menghilang. Sehun mendesah pelan sebelum meluncur ke kelas Kimia.

"Jongin, aku di sini."

To be continue


hello guys, i'm back with chapter 2.

maaf lama, laptop aku gabisa diajak temenan nih jadinya bru bisa update sekarang.

gimana chap 2 nya? lebih gaje kah dari chap 1? kkkk

anyway, thank you for all the reviews.

see you on the next chap ya!

doain biar updatenya lebih cepet wkwk