Beyond Blood
Author: SheilaLuv
Disclaimer: Death Note adalah properti Ooba Tsugumi dan Obata Takeshi. Saya hanya memiliki plot dan sekelumit imajinasi.
Summary: Mereka rela menjalani dinamika sebagai satu keluarga, meskipun hubungan darah bukanlah faktor utama. AU.
Dedicated to my dear sista, HalfMoon-Smile, because in one way or another, she's one of those people who can eloquently light up my sky.
Terima kasih banyak bagi yang sudah me-review chapter sebelumnya! Sudah terima reply-nya via PM, kan? Kiyoi Aozora-san, supaya saya bisa membalas pesanmu, tolong enable-kan fasilitas PM di account kamu, oke?
Nah, silahkan nikmati chapter dua sambil bersantai! ;)
Enjoy!
*11 – Name
Tiga bocah itu tumbuh menjadi remaja yang cemerlang, tetapi sebagaimana yang sering terjadi, keenceran otak sering pula diimbangi dengan tingkah yang luar biasa nakal, entah berbentuk manipulasi terselubung atau konfrontasi terang-terangan terhadap peraturan di rumah, namun keonaran akan segera padam jika L mulai memanggil nama Mihael, Mail, dan Nate—nama asli alih-alih nama panggilan mereka sehari-hari—dengan intonasi rendah, karena itu merupakan ancaman yang berarti: jangan melawan lagi atau kalian akan tahu akibatnya.
*12 – Sensual
Usia Matt lima belas tahun ketika aktris sensual dan berparas molek itu kembali dari Amerika untuk break dari dunia perfilman. Selagi Misa Amane bercakap-cakap riang dengan kedua orangtuanya, mau tak mau Matt mendapatkan gambaran tentang bagaimana persahabatan erat yang telah terbina sejak bertahun-tahun silam itu berlangsung. L dan Misa saling bertukar canda dan humor—L tampak tak terpengaruh sekalipun Misa mengacak-ngacak rambut hitamnya dengan beringas—sementara Raito tersenyum tipis, tergelitik oleh kekonyolan yang tak lekang oleh jarak dan waktu.
*13 – Death
"Matt-kun sudah besar!" pekik Misa ceria ketika mendapati Matt diam-diam mengawasi dari kejauhan. Wanita itu pun segera menghampiri Matt, kedua matanya bersinar kagum, kemudian tanpa diduga, Misa mengacak-ngacak rambutnya penuh sayang, senyumannya yang berdaya magis merekah. Pesona yang lahir dari hati yang cerah, mantra yang mampu menghidupkan simpati yang tadinya mati. Tak salah lagi, Misa Amane memang salah satu pemikat paling ulung yang pernah dikenalnya, selain Raito, tentu saja.
*14 – Sex
"Hubungan antar manusia itu bervariasi sifatnya," Raito pernah berkata suatu kali, berharap ketiga anak angkatnya akan memahami bahwa ada berbagai bentuk relasi, yang juga berarti bahwa ada kalanya manusia tidak puas hanya dengan mengagumi tanpa memiliki, karena telah timbul hasrat untuk menyatukan diri dengan seseorang yang mutlak membuatnya merasa utuh, seperti saat ini.
Seperti saat bersama L.
*15 –Touch
Disaksikannya kerinduan berpendar di sepasang bola mata hitam kelam, menyedot Raito ke palung terdalam.
Memasungnya agar tak mampu lagi berlari.
Tetaplah di sini, jangan pergi.
Raito pun menyerah, bibir terus-menerus membisikkan satu nama. Pintu terbanting menutup, kedua mata terpejam. Nafas menderu, berpacu melampaui jarum detik waktu, punggung berdesir menerima pahatan jemari, tubuh memerah digerayangi guratan kuku yang dalam menancap; terikat, terjerat, diamuk tanpa henti oleh badai terdahsyat yang menghantarkan manisnya aroma surga.
Keduanya tenggelam dengan tangan yang saling menggenggam.
Di tengah cahaya yang padam, helaian rambut coklat menemukan peraduan di atas hamparan kulit seputih pualam.
*16 – Weakness
Saat lawan tengah lengah memerangi kelemahan yang sulit diatasi, Mello tersenyum penuh kemenangan, lalu berjingkat-jingkat cepat, mengendap-ngendap tangkas layaknya penderita kleptomania kronis, memimpin dua sekutunya menuju pintu keluar. Kunci mobil telah tergenggam mantap di tangan, dan dalam hati remaja berambut pirang itu bersyukur bahwa L dan Raito kini tertidur lelap setelah melakukan aktivitas-yang-lebih-baik-tak-usah-disebutkan-namanya.
*17 – Tears
Matt menghempaskan tubuhnya di kursi belakang mobil, bahunya berguncang dikarenakan kontrol diri yang nyaris terlepas. Tanpa bisa dicegah, kekangan itu sontak jebol ketika dilihatnya mata Near berkilat senang, diam-diam tergelitik oleh kenakalan dadakan ini. Tak dapat menahan tawa lagi, Matt tergelak-gelak hingga nyaris kehabisan suplai udara, air mata geli mengambang nista di kedua sudut matanya.
*18 – Speed
"Mello menyetir seperti setan jalanan," komentar Near sarkastis pada Mello yang sedang memacu mobil dengan kecepatan yang nyaris membahayakan nyawa. Kedua bola mata biru langitnya fokus menatap jalan raya yang membentang, adrenalin berpacu dalam pembuluh darahnya.
Matt terkekeh-kekeh di kursi penumpang dan berkata ringan,"Keraskan musiknya, Near! Ini pengalaman sekali seumur hidup, kau tahu, karena Raito dan L pasti akan mencincang kita saat mereka bangun dan menyadari mobil ini lenyap dari garasi."
*19 – Wind
Setelah berkendara gila-gilaan, diterpa segarnya angin jalanan serta bercengkrama dengan gemerlap lampu-lampu yang berpijar terang, ketiganya bersiap menghadapi duet maut dari Raito, tukang damprat paling pedas di semesta, dan L, penyiksa kompulsif yang tak kalah sadisnya.
Mereka pun sadar rudal pertama telah sukses diluncurkan ketika Raito akhirnya menyembur marah,"Dasar bodoh, tidakkah kalian tahu kalau tindakan tolol semacam itu bisa membuat kalian mati?"
*20 – Freedom
Selama dua minggu lebih, kebebasan bermain game, membaca buku sembari mengigiti cokelat, dan menyusun puzzle putih polos tanpa warna berganti dengan rentetan hukuman seperti membersihkan toilet, menguras bak mandi, mengecat dinding dapur, menyortir barang-barang rongsokan di gudang, dan memotong rumput di halaman. Namun, bagian yang paling memerihkan hati adalah ketiganya dilarang duduk bersama dengan L dan Raito di ruang keluarga sampai masa hukuman berakhir; sama artinya dengan ketiadaan rutinitas menonton dan bercengkrama dengan hangat seperti biasanya.
Author's Note: Hidup selalu mempunyai dua sisi. Di saat seperti ini, komputer saya berulah lagi… rasanya seperti kehilangan seorang sahabat. Di sisi lain, saya senang sekali karena movie Gundam 00 dan Soukyuu no Fafner akan hadir di tahun yang luar biasa ini!
Adakah hal-hal penting yang sedang kalian tunggu kehadirannya? Apapun itu, semoga chapter ini bisa menghibur kalian selama masa penantian, ya.
Komentar yang konstruktif senantiasa ditunggu via review. Terima kasih sudah membaca, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!
