Disclaimer: "I don't own all characters in here. They are belongs to them selves. If I can, I would do it ! xD I make no money from this—please don't sue me. But the plot is MINE!"
Title: Picture Of You
Author : kurorenji aka blackorange
Rating : T
Genre : AU, Drama, Fluff
Length this chapter : 14 pages MsW
Beta reader: Dee chan-tik aka dintaririn
"Two"
Yunho sedikit mengetahui tentang profil Jaejoong setelah mereka saling kenal satu sama lain. Laki-laki berambut hitam itu lahir di Chungnam 24 tahun yang lalu. Setahun lebih tua dari Jihye dan tiga tahun lebih muda darinya. Jaejoong memiliki delapan kakak perempuan dan hanya dirinya yang merupakan anak laki-laki di keluarga besarnya. Kenyataan yang cukup membuat mata sipit Yunho membelalak lebar dengan diiringi suara tawa melodis Jaejoong ketika laki-laki bermata coklat itu mendenganya. Benar-benar keluarga besar yang dipenuhi perempuan.
Jaejoong merupakan lulusan Korea National University of Arts dan mengambil program studi Art&Music dengan prestasi cumlaude. Prestasi yang sangat mengejutkan Yunho ketika ia mengetahui bahwa Jaejoong berasal dari salah satu universitas bergengsi dengan prestasi yang begitu luar biasa. Tidak mengherankan jika Jaejoong memiliki suara yang terdengar begitu lembut dan melodis. Bakat luar biasa itu semakin terasah disana. Ia adalah seorang komposer dan produser musik, walaupun Yunho lebih mengharapkan Jaejoong sebagai seorang penyanyi, sehingga ia bisa mendengar suara melodis itu berulang kali dari dalam ipod nya. Katakan saja, Yunho selalu ingin mendengar suara melodis itu mengalun perlahan di kedua telinganya berulang kali. Entahlah, suara Jaejoong seperti memiliki kekuatan magis yang membuat Yunho seolah tersihir dan termantrai oleh suaranya. Rasanya ia ingin sekali meminta Jaejoong untuk menyanyikan sebuah lagu untuknya.
Mungkin ia akan meminta Jaejoong menyanyikan sebuah lagu jika waktunya tepat. Ya~ jika waktunya sudah tepat.
Jaejoong tinggal di Seoul sama seperti dirinya. Namun saat ini, ia berada di Jeonju karena sedang melakukan pekerjaannya sebagai komposer musik dan baru tiba di Jeonju sekitar satu minggu setelah Yunho tiba di kota kecil itu. Jaejoong mengatakan pada Yunho bahwa ia membutuhkan suasana baru untuk mendapatkan inspirasi saat sedang membuat lagu-lagu baru yang sedang dikerjakannya.
Yunho sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa tempat tinggal sementara Jaejoong di Jeonju hanya berjarak empat Hanok dari Hanok yang ia sewa. Tidak mengherankan jika kemanapun ia pergi, ia akan selalu bertemu dengan Jaejoong. Sungguh, Jeonju adalah kota yang begitu kecil.
Dua minggu sudah berlalu sejak hari dimana mereka mengenal satu sama lain. Yunho merasa nyaman ketika sedang bersama Jaejoong. Melakukan percakapan dengannya benar-benar membuat Yunho seperti menemukan seseorang yang berada di perahu yang sama. Basic nya yang mempelajari seni, membuat Jaejoong mengerti tentang berbagai macam seni –termasuk seni fotografi yang begitu digilai Yunho. Mereka tidak pernah kehabisan topik pembicaraan hingga terkadang, mereka lupa waktu.
Yunho dan Jaejoong kini berteman dengan baik, keduanya terlihat begitu akrab. Bahkan Yunho sudah tidak sungkan meminta Jaejoong untuk menemaninya melakukan pemotretan jika laki-laki berambut hitam itu tidak sibuk dengan pekerjannya. Kapanpun Yunho memintanya, Jaejoong akan selalu menerima ajakannya, yang entah mengapa membuat laki-laki bermata coklat itu selalu merasakan perasaan senang dan bahagia yang amat sangat hingga ia bisa merasakan ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya jika laki-laki berambut hitam, berkulit putih, bermata besar, dan bersuara melodis itu berada di sampingnya seharian penuh untuk menemaninya melakukan pemotretan. Setidaknya, ia tidak merasa kesepian lagi di kota kecil itu ketika ada seseorang yang menemaninya –meskipun sejak ia memulai karirnya sebagai fotografer, ia tidak pernah meminta seseorang untuk menemaninya melakukan pemotretan.
Ini terasa sangat aneh dan baru bagi Yunho, namun entah mengapa hal itu justru mampu membuat bibir penuhnya melengkungkan sebuah senyuman ketika Jaejoong berada di dekatnya.
Antusiasme dan rasa penasaran Jaejoong yang tinggi dengan seni fotografi membuat Yunho terkadang mengajari laki-laki berambut hitam itu bagaimana untuk melakukan sebuah photoshoot, karena menurutnya, praktek akan lebih cepat dimengerti daripada teori. Jaejoong adalah orang yang pintar dan cepat belajar. Hasil foto yang ia lakukan dengan iseng dan tidak profesional ternyata cukup membuat Yunho berdecak kagum karenanya. Pujian yang dilontarkan laki-laki bermata coklat itu, tidak pernah gagal untuk membuat kedua pipi putihnya merona merah karena tersipu malu.
Sungguh manis.
Setiap malam, Yunho masih harus kembali ke Seoul untuk memenuhi permintaan eomma nya –dam terkadang, jika Jaejoong juga harus kembali ke Seoul, mereka akan pergi bersama dan menunggu kereta terakhir –yang selalu datang terlambat dua menit itu– dengan duduk berdampingan dan membicarakan banyak hal yang selalu membuat Yunho tidak pernah ingin menghentikan pembicaraannya. Jika ia berhenti, maka suara melodis yang sangat disukainya itu akan berhenti mengalun di kedua telinganya.
Frekuensi eomma menelpon Yunho sedikit berkurang, walau terkadang eomma masih selalu memintanya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dan menemui calon pendamping hidupnya. Eomma tidak ingin jika calon pendamping hidupnya akan merasa jengkel dan jenuh jika menunggu terlalu lama. Yunho hanya bisa berkata singkat 'ne' ketika eomma nya berkata seperti itu.
Sejujurnya, pikiran Yunho mulai bercabang. Di satu sisi, ia harus fokus pada pekerjaannya dan di sisi lain, ia juga memikirkan keluarganya. Yunho adalah tipe orang yang memiliki passion yang kuat, bertanggung jawab atas apa yang sudah ia lakukan, dan mungkin terdengar sedikit ambisius terhadap tujuan yang ingin dicapainya. Segala sesuatu harus sempurna dan sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan. Namun entah mengapa, idelialisme yang dipegangnya itu kini seolah roboh seperti pohon tumbang ketika perhatiannya begitu mudah teralihkan.
Mungkin ini akan terdengar gila –dan ia sangat menyutujuinya jika ini memang terdengar gila. Ia sadar bahwa pekerjaannya akan selesai melebihi batas waktu yang sudah ia rencanakan dan ia juga mengerti jika selama ini, perhatiannya selalu teralihkan begitu saja hingga membuatnya menelantarkan project itu ketika seseorang selalu mengalihkan perhatian viewfinder kameranya –atau lebih tepatnya, mengalihkan perhatian Jung Yunho dari objek project nya.
Mungkin ia tidak menyadarinya, atau mungkin menyadarinya –tapi sepertinya Jung Yunho sangat menyadarinya bahwa foto-foto yang ia potret merupakan foto diri Kim Jaejoong sebagai objek utamanya –foto candid yang selalu ia ambil secara diam-diam dari berbagai angle tanpa sepengetahuan laki-laki berambut hitam itu– kini sudah memenuhi memorinya.
Entah mengapa Yunho sangat menyukai jika viewfinder nya menemukan sosok Jaejoong yang sedang berbaur dengan objek lain, hingga tanpa ia sadari, lensanya itu selalu menangkap dan memerangkap sosok Jaejoong di dalam kameranya.
Foto yang ia ambil dengan sosok Jaejoong sebagai objek utama selalu sempurna dimatanya. Posisi, angle, pencahayaan, komposisi dan feel yang berhasil ia abadikan itu selalu membuatnya merasa beruntung mendapatkan objek yang mampu membuat hasil karyanya begitu sempurna. Seolah Si Objek lah yang memegang kendali, bukan sang fotografer yang mengatur segalanya menjadi sempurna.
Kim Jaejoong selalu terlihat sempurna apa adanya.
Semenjak mereka berteman, Yunho sudah tidak lagi melihat Jaejoong duduk di seberang peron, karena sekarang, laki-laki yang selalu mengenakan syal putih di di leher jenjangnya itu selalu duduk tepat di sampingnya. Setiap malam, jika ia akan kembali ke Seoul, Jaejoong akan mengantarnya ke stasiun lalu menemaninya hingga kereta terakhir yang selalu terlambat dua menit itu tiba. Meskipun ia sudah mengatakan tidak perlu mengantarnya karena sudah larut malam dan cuaca musim dingin yang tidak bersahabat, namun sifat keras kepala Jaejoong benar-benar tidak bisa di lawan oleh laki-laki bermata coklat itu.
Meskipun sedikit demi sedikit Yunho mulai bisa mengenal dan memahami Jaejoong, namun hingga kini –sudah hampir sebulan berlalu sejak pertama kali keduanya berkenalan– ia masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyan yang pernah dilontarkannya pada Jaejoong. Pertanyaan 'apa yang selalu Jaejoong lakukan di seberang peron setiap malam'. Bukan karena Jaejoong menghindarinya atau karena Yunho melupakannya, hanya saja, tidak ada dari keduanya yang membahas hal itu.
Menurut Yunho, setelah ia bisa mengenal Jaejoong, ia bisa melihat dan merasakan bahwa ekspresi sendu yang ditunjukkan Jaejoong dengan tatapan mata kosong yang penuh pengharapan itu perlahan menghilang dari sepasang mata hitamnya. Wajah cantiknya kini terlihat lebih ekspresif dengan tatapan mata yang terlihat lebih berbinar. Entahlah, Yunho hanya bisa melihat dan merasakannya saja. Jadi, jika ia boleh membanggakan diri, mungkin itu semua berkat kehadiran dirinya di samping Jaejoong.
Well, who knows.
~.~.~.~.~.~
"Berapa hari kau akan di Seoul?" suara baritone Yunho perlahan terdengar. Ia menyodorkan segelas kopi hangat pada Jaejoong yang duduk di bangku besi tua dan menunggu kereta terakhir menuju Seoul tiba.
Laki-laki berambut hitam itu mendogakan kepalanya dan mengambil gelas kertas berwarna putih yang di sodorkan Yunho dengan tangan kanannya yang tidak terbungkus sarung tangan. "Mungkin tiga hari." Jawabnya sambil bergumam terimakasih.
Yunho mengerang pelan antara karena mendengar jawaban Jaejoong yang akan berada di Seoul selama tiga hari lamanya dan ketika ia melihat tangan putih itu terlihat begitu pucat.
"Kenapa kau tidak memakai sarung tanganmu? Kau tahu? Kau sedang tidak beruntung karena malam ini turun salju." Yunho mengomel pelan seraya duduk di samping Jaejoong dan menyesap kopi hangatnya.
Jaejoong hanya tersenyum di balik syal putih yang melilit di leher jenjangnya. Manik mata hitamnya bergerak menatap keluar gerbong dan melihat bulir-bulir salju putih yang mengkristal perlahan turun di langit malam yang gelap dan hitam.
"Aku lupa membawanya." Jawab Jaejoong seadanya sambil menyesap kopi hangat itu dengan perlahan untuk menghilangkan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya. Angin malam yang tadi berhembus seolah berhenti mengusiknya ketika tubuh Yunho yang duduk di sampingnya menghalangi desiran jail sang angin malam. Rasa hangat itu perlahan menjalar di setiap pembuluh darah yang mengalir di seluruh tubuhnya. Rasa hangat dari kopi yang tadi diminum dan juga Yunho yang duduk di sampingnya.
Begitu hangat dan nyaman.
Keduanya terjebak dalam diam seolah menikmati hangatnya kopi dan kedekatan tubuh mereka yang saling berbagi kehangatan. Meskipun Jaejoong menyadari bahwa laki-laki bermata coklat hazelnut di sampingnya itu tidak bisa diam seperti ingin mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu. Tiba-tiba saja, ia bisa merasakan tangan kanannya di tarik hingga membuat gelas kertas yang sedang di pegangnya hampir saja terjatuh. Yunho mengambil gelas kertas yang sedang dipegangnya kemudian meletakan gelas itu di atas bangku di samping tubuh kirinya. Jaejoong hanya terdiam ketika melihat Yunho memakaikan rajutan benang wol berwarna abu-abu tua di tangan kanannya yang sedari tadi dipakai oleh laki-laki bermata coklat itu, lalu menyerahkan kembali gelas kertas padanya.
"Ternyata penyakit lupamu lebih parah dariku –dan aku juga baru menyadari, kalau sifat keras kepalamu bahkan melebihi sifat keras kepalaku." Yunho berkata seolah mengerti ekspresi bingung yang ditunjukkan Jaejoong padanya.
Jaejoong berdecak pelan melihat laki-laki yang duduk tepat di samping kirinya masih mengomel perihal tangannya yang kedinginan dan membeku seperti es.
"Lalu? Apa kau hanya akan memberiku satu sarung tangan saja, harabeoji?" canda Jaejoong terkekeh pelan, karena biasanya, fotografer itu selalu membawa dua pasang sarung tangan di dalam tasnya. Yunho serius dengan ucapannya yang akan membeli satu lusin sarung tangan ketika ia menceritakan pada Jaejoong bahwa penyakit lupanya sangat membuat dirinya kerepotan.
Yunho hanya mendengus pelan dan tidak menjawab pertanyaan itu ketika Jaejoong memanggil dirinya 'harabeoji'. Ia tidak peduli panggilan apapun yang Jaejoong layangkan padanya, karena ia lebih memperdulikan jika seseorang mungkin akan terkena hipotermia karena hawa dingin yang terasa begitu menusuk bahkan terasa hingga ke dalam tulang.
Tangan kanan Yunho yang tidak terbungkus sarung tangan langsung menggenggam tangan kiri Jaejoong yang bebas dan terasa begitu dingin di permukaan kulit tangannya yang hangat. Pertemuan dua suhu yang begitu berbeda jauh itu seperti memberikan kejutan tersendiri bagi keduanya.
Jaejoong tersentak kaget ketika tiba-tiba saja fotografer itu menggenggam tangan kirinya dengan tangannya yang besar dan hangat, kemudian memasukan kedua tangan yang bertautan itu ke dalam jaket tebal Yunho. Manik mata hitam Jaejoong bergerak menatap wajah Yunho dari samping. Ia terus menatapnya seperti ingin meminta penjelasan darinya.
"Percayalah, kau akan berterimakasih padaku." Yunho menjawab pertanyaan yang tak terucap itu.
"Kenapa kau tidak memberiku sarung tangan cadangan yang selalu kau bawa?" Jaejoong masih belum puas dengan jawaban Yunho.
"Aku lupa membawanya." Suara baritone Yunho terdengar pelan ketika ia menenggelamkan sebagian wajahnya di balik syal hitam yang melilit dilehernya. Menyembunyikan –mungkin– semburat rona merah yang menghiasi wajah tampannya. Jaejoong masih menatapnya dalam diam ketika laki-laki bermata coklat itu lebih memilih memperhatikan bulir-bulir salju putih yang perlahan turun dari langit.
Senyum Jaejoong mengembang. Terkadang, fotografer itu terlalu mudah untuk dibaca.
"Tsk~ kau bilang padaku kalau penyakit lupaku lebih parah darimu, tapi sekarang, siapa yang berbicara seperti itu padaku?" Jaejoong berdecak pelan seraya menolehkan kepala menatap bangku yang ada di seberang peronnya. Ia bisa merasakan tangan kirinya di genggam semakin erat di dalam saku jaket tebal Yunho untuk membuatnya semakin hangat. Ia berdehem pelan sambil menyembunyikan bibir merah cherry yang terus mengembangkan senyum itu di balik syal putihnya. Berharap Yunho tidak menyadarinya ketika laki-laki itu begitu fokus pada bulir-bulir salju hingga menghiraukan ledekannya.
"..."
"..."
"Ada satu hal yang membuatku penasaran." Suara baritone Yunho memecah keheningan yang tadi sempat menyelimuti keduanya. Manik mata coklatnya bergerak perlahan menatap bangku besi tua yang ada di seberang peron. Ia terus menatap bangku itu tanpa berkedip. Seolah ia bisa melihat bayangan seseorang yang selalu duduk di sana dengan ekspresi wajah sendu dan tatapan mata kosong yang penuh pengharapan, " –apa yang kau lakukan di seberang peron sana?"
Pertanyaan Yunho menggantung di udara. Keduanya kembali terdiam dengan tatapan yang sama-sama menatap bangku besi tua yang ada di seberang mereka. Suasana diam itu membuat Yunho sedikit tidak sabar lalu menolehkan kepalanya menatap wajah Jaejoong dari samping. Mata hitam itu kini terlihat benar-benar berbinar.
"Aku harus melakukannya." Suara melodis Jaejoong perlahan terdengar.
Jawaban singkat Jaejoong membuat Yunho mengerjapkan matanya berkali-kali seperti tidak puas. Laki-laki berambut hitam itu menolehkan kepalanya menatap Yunho yang masih menatapnya dengan penuh tanya. Ia hanya tertawa pelan melihat ekspresi wajah Yunho yang mengerut tidak mengerti. Ia menarik syal putih yang menghalangi kemudian membuka bibirnya untuk mengatakan alasannya ketika tiba-tiba saja suara gaungan dan derit rem kereta yang baru tiba membuat suara melodis itu lagi-lagi tersamarkan.
Yunho mengumpat pelan. Seharusnya kereta tua itu tiba dua menit lebih lama dari waktu kedatangannya. Namun entah mengapa, malam ini, kereta tua sialan itu justru datang tepat waktu yang membuat dirinya kehilangan jawaban atas pertanyaan yang selama ini selalu membuatnya penasaran. Ia justru berharap kereta tua itu tiba dua menit lebih lama.
"Aku mulai membenci kereta tua itu." Kalimat itu yang pertama dilontarkan Yunho ketika derit rem yang berdecit perlahan terdengar samar-samar sebelum akhirnya berhenti.
Jaejoong tertawa ketika mendengarnya. Suara tawa yang selalu terdengar lepas dan renyah di kedua telinga Yunho –membuat fotografer itu selalu melengkungkan senyumnya secara reflek ketika mendengar suara tawa itu.
"Jadi kau tidak mendengarnya?" tanya Jaejoong berusaha meredakan tawanya ketika melihat wajah mengerut Yunho, " –well, aku bersyukur kau tidak mendengarnya." Lanjut Jaejoong seraya berdiri dari bangku yang membuat laki-laki bermata coklat itu mau tidak mau ikut berdiri dari duduknya akibat dari tangan mereka yang masih bertautan.
"Eh? Waeyo? Kenapa kau bersyukur aku tidak mendengarnya? Yah~ apa yang kau lakukan di seberang peron sana, ohng? Katakan padaku." pertanyaan Yunho terdengar begitu mendesak Jaejoong.
Lagi-lagi Jaejoong hanya tertawa dan berjalan mendekati pintu paling ujung kereta terakhir menuju Seoul yang perlahan terbuka. Yunho berjalan di samping kirinya hingga kedua bahu mereka menempel karena jarak yang begitu dekat.
"Yah~ Jaejoong ah!" Yunho semakin mendesak Jaejoong ketika laki-laki berambut hitam itu tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku sudah menjawabnya." Jawab Jaejoong sambil mengedarkan pandangannya di dalam kereta untuk mencari tempat duduk, meskipun kereta terlihat sangat sepi dan lenggang yang sesungguhnya membuat mereka bisa duduk dimanapun. Namun laki-laki berambut hitam itu sedang mencari tempat duduk favoritnya.
"Oh ayolah Jaejoong~ katakan lagi alasanmu. Aku tidak bisa mendengar suaramu ketika kereta tua ini tiba-tiba saja datang dengan segala kehebohannya." Yunho masih berusaha, bahkan suaranya kini terdengar sedikit memohon dan memelas.
"Mo-lla-yo. Tidak ada siaran ulang." Jawab Jaejoong lagi kemudian menarik Yunho yang masih menggenggam tangannya untuk duduk di bangku paling belakang. Yunho hanya terus mengekori Jaejoong dan terus memohon padanya untuk mengatakan kembali alasannya itu hingga membuat fotografer itu terdengar begitu cerewet dan berisik.
"Diamlah Yunho, kau ini sangat berisik." Jaejoong kembali berucap setelah ia dan Yunho berhasil duduk di bangku kereta. Ia tidak menyangka jika fotografer kelas dunia yang ia pikir sedikit pendiam dan kalem itu ternyata bisa begitu cerewet dan berisik.
"Karena kau tidak mau menjawab pertanyaanku." Yunho menggerutu pelan. Bibir penuhnya bahkan kini terlihat mengerucut maju beberapa mili.
"Aku sudah menjawabnya." Jaejoong masih keras kepala dengan jawabannya.
"Tapi aku tidak mendengarnya."
"Itu masalahmu."
"Yah~!"
"Mwoya?"
"Haish!" Yunho mengacak rambut coklat tuanya sedikit frustasi. Ia bahkan bisa mendengar suara decak pelan dari Jaejoong yang mungkin menganggap dirinya seperti anak kecil yang merajuk. Tapi ia tidak peduli, karena ia benar-benar ingin mendengar suara melodis itu mengatakan alasannya.
Manik mata coklat hazelnutnya bergerak menatap lorong kereta yang memanjang. Kini pertanyaan baru muncul di dalam benaknya yang membuat ia semakin penasaran dengan Jaejoong.
"Aku juga penasaran, mengapa setiap kali kita menaiki kereta ini, kau senang sekali memilih bangku paling belakang?" tanya Yunho sambil menolehkan kepalanya menatap Jaejoong yang sudah duduk dengan nyaman di sampingnya tepat di samping jendela. Ia juga tidak mengerti, mengapa Jaejoong senang sekali duduk di bangku paling belakang dari kereta tua ini yang jauh dari perhatian orang-orang yang duduk di jajaran depan kereta.
"Karena kita masuk melalui pintu paling belakang."
"Tapi –"
" –karena kita juga menunggu di peron paling ujung. Berhentilah menanyakan hal-hal aneh seolah aku adalah orang paling aneh." Jaejoong memotong ucapan Yunho.
"Tsk~ kau memang aneh, Kim Jaejoong." Yunho mendengus pelan seraya menolehkan kembali kepalanya kedepan yang membuat Jaejoong terkekeh karenanya. Ia bisa merasakan tangan kanannya terasa semakin hangat ketika tangan putih yang –masih– digenggamnya tidak lagi terasa dingin seperti es, membuat bibir penuh itu melengkungkan sebuah senyuman di wajah tampannya.
Well, meskipun aneh, tapi Yunho tetap menyukainya.
~.~.~.~.~.~
Manik mata coklat Yunho menatap langit-langit kamar yang terlihat temaram karena lampu tidur yang menyala. Ia tidak mengerjapkan matanya barang sedetik ataupun memejamkan matanya untuk tertidur. Ia tidak bisa tidur –atau lebih tepatnya tidak ingin tidur ketika apa yang diucapkan eomma beberapa jam yang lalu membuatnya shock hingga pikirannya menjadi blank.
'Tunangannya' itu akan datang ke rumah besok pagi bersama keluarganya.
Laki-laki bermata coklat itu mati kutu. Ia tidak bisa bereaksi apa-apa atau sekedar merespon ucapan eomma. Hanya satu yang terlintas di dalam benaknya ketika ia mendengar berita itu. Kim Jaejoong. Ya, hanya Jaejoong yang ada di dalam pikirannya.
Ia bukanlah seorang love expert atau seseorang yang mengerti tentang apa itu 'jatuh cinta', karena selama ini, ia belum pernah mengalaminya. Ia tidak berpengalaman sama sekali bagaimana rasanya jatuh cinta. Ia tidak tahu apakah ia sedang mengalami syndrome yang selalu dibicarakan para love expert atau yang selalu diceritakan novel-novel roman tentang bagaimana rasanya 'jatuh cinta' atau tidak, tapi yang pasti, ia selalu merasakannya.
Ia selalu merasakan perutnya yang seperti tergelitik ribuan kupu-kupu ketika melihat senyuman orang itu. Ia selalu merasakan jantungnya yang berdebar melebihi kecepatan denyut jantung normal ketika orang itu ada di sampingnya. Ia selalu merasakan wajahnya yang seperti terbakar hingga menimbulkan semburat rona merah di wajah tampannya ketika ia menyentuh tangan orang itu, dan ia selalu merasakan lengkungan di bibir penuhnya yang tersenyum lebar seperti idiot ketika ia mengingat wajah orang itu di dalam benaknya.
Mungkin syndrome seperti itu yang selalu dirasakan oleh orang awam ketika sedang jatuh cinta.
Ah sudahlah, tidak perlu ditanyakan lagi apakah ia memang gila atau tidak, karena ia tidak bisa menyangkalnya kalau selama ini, ia memang sudah gila. Gila karena jatuh cinta pada seseorang yang bahkan baru ia kenal kurang dari sebulan. Seseorang yang sudah membuatnya penasaran dengan apa yang dilakukannya di seberang peron. Seseorang yang selama ini selalu mencuri perhatiannya. Seseorang yang selalu tertangkap dan terperangkap di dalam lensa kameranya. Seseorang yang memiliki suara lembut dan melodis yang selalu ingin didengarnya. Seseorang yang selama ini menemaninya di kota kecil Jeonju. Seseorang yang kini terasa begitu spesial baginya.
Seseorang itu bernama Kim Jaejoong. Seorang laki-laki yang memiliki wajah cantik, bermata besar, berambut hitam legam yang begitu kontras dengan kulit putihnya, berbibir merah semerah cherry, memiliki senyum yang manis dan suara tawa yang terdengar renyah. Ya, Kim Jaejoong –orang yang selalu berlarian kesana kemari di dalam pikiran dan benak Jung Yunho hingga membuat fotografer itu kehilangan akal sehatnya.
Yunho menghebuskan nafas sambil menutup kedua matanya perlahan. Mungkin kunjungan ke dokter jiwa akan menjadi schedule nya nanti. Ia tidak bisa menyimpulkan apakah dirinya memang benar-benar sudah menjadi gila karena jatuh cinta pada Jaejoong atau hanya karena rasa nyaman yang diberikan laki-laki berambut hitam itu pada dirinya hingga ia begitu sering memikirikannya.
Seandainya saja ada yang namanya dokter cinta, mungkin ia akan berkonsultasi padanya.
Ha-ha-ha, sepertinya Jung Yunho mulai menampakkan kegilaannya.
Laki-laki berambut coklat itu bangkit dari posisi telentang ketika ia semakin larut di dalam pikirannya sendiri, kemudian melirik jam digital yang ada di atas meja nakas. Angka digital berwarna merah itu menunjukkan angka 03.30 AM. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya sambil terus berpikir. Memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang. Manik matanya kini melirik ponsel hitam yang tergeletak di samping jam digital dari sela-sela jari yang masih menempel di wajahnya. Ia terus menatap ponsel hitam itu ketika pikiran-pikiran gila mulai terbesit di dalam benaknya. Tangan kanannya terulur dan meraih ponsel hitam yang tergeletak di samping jam digital, lalu menekan tombol di atasnya yang membuat layar 4 inchi itu menyala. Ia terpaku ketika melihat wallpaper nya.
Ia sadar bahwa ia semakin tidak waras karena pikiran gila yang tadi terlintas di dalam benaknya. Namun ia tahu, ia harus melakukannya atau tidak sama sekali sebelum semuanya terlambat.
Ia tidak pernah di usir dari rumahnya, atau melarikan diri dari rumah. Selama ini, ia hanya bersikap egois dan bebal saja, tapi percayalah, ia adalah anak baik yang di sayangi oleh keluarganya. Katakan saja, ia selalu menjadi anak kebanggaan. Namun kini, di umurnya yang 27 tahun –Jung Yunho, seorang fotografer yang mendunia– untuk pertama kalinya, ia melakukan aksi brutal dengan keluar rumah dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua dengan menggunakan seprai yang disambung kemudian diikat hingga membentuk sebuah untaian kain memanjang yang setidaknya cukup untuk membantunya turun dari balkon kamar.
Untuk pertama kalinya, Yunho melarikan diri dari rumah.
~.~.~.~.~.~
Rambut hitamnya yang terlihat agak berantakan serta mata besar dan hitamnya terlihat seperti garis yang menyipit ketika ia masih belum sepenuhnya sadar. T-shirt polos berwarna putih dengan celana katun panjang bergaris belang hitam putih yang dikenakannya terlihat agak kusut.
Yunho hanya terdiam ketika melihat Jaejoong yang berdiri menyandarkan bahu kirinya pada pintu bercat coklat mahoni yang terbuka sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Meskipun penampilannya sedikit berantakan karena baru bangun tidur, namun entah mengapa Jaejoong tetap terlihat begitu memikat hati walaupun ia bisa merasakan aura hitam yang dipancarkan laki-laki pemilik kamar apartemen 9095 itu.
Tentu saja Jaejoong akan memancarkan aura seperti itu ketika tidur nyenyaknya di usik oleh seseorang yang tiba-tiba saja menelpon ponselnya dan mengatakan padanya bahwa ia sudah berdiri di depan pintu kamar apartemennya di pagi buta. Yunho nyengir lebar ketika melihat tatapan tajam Jaejoong yang menyipit.
"Astaga... Yunho. Kau pikir ini jam berapa?"
Yunho terdiam dan terpaku. Ia bahkan tidak mengerjapkan matanya barang sedetikpun. Jakunnya terlihat naik, kemudian turun dengan perlahan seraya ia menelan ludahnya. Sial, hampir saja pertahanan Yunho runtuh begitu saja ketika ia mendengar suara serak yang terdengar seksi itu dari bibir merah cherry Jaejoong. Suara melodis yang kini terdengar amat seksi di telinganya.
Oh ya Tuhan..
Yunho mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyadarkan diri. Manik mata coklatnya kini menatap lantai, merasa malu ketika fantasi liar di dalam otaknya hampir membuatnya menyerang laki-laki yang masih berdiri di hadapannya tanpa pertahanan apapun. Ia kemudian menatap kakinya yang hanya terbungkus sandal rumah, lalu mengerutkan keningnya samar. Oh, ia baru menyadarinya sekarang. Tidak mengherankan kalau sekarang ia tidak bisa merasakan kesepuluh jari kakinya.
Kalau dipikir-pikir, mengapa ia harus keluar rumah dari balkon kamar menggunakan untaian kain seprai yang berhasil ia buat hingga memberantakan isi lemarinya, lalu keluar rumah hanya dengan menggunakan sandal rumah, celana training hitam, dan jaket tipis berbahan fleece yang tidak sengaja ia temukan ketika sedang mencari seprai? Kenapa ia tidak keluar rumah dengan cara yang normal? Ia bahkan tidak perlu memberantakan isi lemari jika ia keluar rumah dari pintu depan. Lagipula, di jam seperti ini, eomma dan Jihye pasti masih tertidur di kamar masing-masing sehingga tidak akan ada yang sadar kalau ia pergi dari rumah.
Lalu kenapa Yunho harus melakukan aksi melarikan diri yang justru akan memberikan petunjuk kalau ia lari dari rumah dengan meninggalkan untaian kain seprai yang masih tergantung di besi pembatas balkon dan menjuntai ke halaman rumah?
Terkadang, Yunho terlalu jenius.
"Yunho?"
Suara serak itu kembali terdengar yang membuat Yunho mendongakan kepalanya menatap Jaejoong. Aura hitam, wajah yang mengerut seram, dan tatapan tajam itu seolah menguap mengudara dan menghilang darinya. Ia bisa melihat raut wajah khawatir yang kini ditunjukkan Jaejoong padanya. Yunho hanya tersenyum tipis.
"Aku lari dari rumah."
"Kau.. APA?!"
~.~.~.~.~.~
"Apa kau sadar dengan tindakanmu itu?" Jaejoong beringsut di atas sofa putih yang ada di ruang TV di dalam apartemennya yang cukup luas. Manik mata hitamnya menatap Yunho yang duduk di samping kiri dengan tatapan tak percaya setelah ia mendengar cerita darinya.
Laki-laki berambut coklat itu hanya diam menikmati segelas cokelat hangat yang tadi dibuat Jaejoong untuknya. Meskipun jelas Jaejoong tidak suka dengan apa yang sedang dilakukannya, namun rasa khawatir yang dipancarkan Jaejoong membuat Yunho justru bangga dengan apa yang sedang dilakukannya.
"Aku sudah berumur 27 tahun, Jaejoong ah."
"Justru itu! Kau hampir menginjak kepala tiga, tapi kenapa kau bersikap seperti remaja labil yang memberontak dan membangkang orang tuanya dengan melarikan diri seperti itu dari rumah? Apa masalahmu sampai-sampai kau bersikap seperti ini? Astaga, kau benar-benar membuatku menggelengkan kepala."
"Maksudku –umurku sudah dewasa untuk 'pergi' dari rumah."
"Haish! Tapi setidaknya kau melakukannya dengan cara yang normal! Bukan melarikan diri dari balkon kamar dan turun dari lantai dua dengan untaian seprai yang kau buat! Bagaimana jika untaian seprai yang kau buat itu tidak kuat menahan beban tubuhmu dan kau terjatuh dari ketinggian yang bahkan mungkin melebihi 5 meter?! Ya Tuhan..." Jaejoong mengurut pangkal hidungnya yang mancung dan memberikan pijatan-pijatan ringan. Kepalanya mulai berdenyut sakit.
Yunho hanya tersenyum ketika Jaejoong memarahinya. Ia bukannya merasa bersalah ketika laki-laki berambut hitam itu terlihat begitu emosi. Ia justru merasa senang mengetahui Jaejoong begitu peduli padanya.
"Yah! Kenapa kau tersenyum seperti itu?! Apa kau mengerti apa yang baru saja kukatakan padamu, ohng? Kau bisa saja mengalami patah tulang!" Jaejoong berdesis berbahaya sambil menatap Yunho tajam dari sudut matanya.
"Aku harus melakukannya." Jawab Yunho terdengar seperti pembelaan bahwa dirinya tidak bersalah.
"Wae?!"
"Karena aku akan dijodohkan dengan seseorang."
Jawaban Yunho membuat Jaejoong terdiam karenanya. Mulutnya sudah terbuka seperti akan mengatakan sesuatu, namun ia menutupnya ketika kata-kata itu seolah tertelan kembali ke dalam tenggorokannya. Manik mata hitamnya kini bergerak menatap dan menelisik sepasang iris coklat yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu dan pilu. Ada rasa takut yang kini terpancar dari mata coklat itu.
"Aku tahu aku tidak bisa mundur dari perjodohan ini karena aku sendiri sudah menyetujuinya. Tapi setidaknya, aku masih bisa menghindarinya." Yunho mengerlingkan matanya dari mata hitam yang hampir menenggelamkannya di dalam lubang hitam tak berdasar dan lebih memilih untuk menatap kepulan asap putih dari segelas coklat hangat yang sedang dipegangnya, lalu menyesap aroma dark chocholate bercampur krimer yang terasa manis dan pahit.
"Kau... dijodohkan?" tanya Jaejoong akhirnya setelah ia menyadari kalau sedari tadi ia hanya terus terdiam. Namun entah mengapa suara yang keluar dari bibirnya begitu pelan bahkan terdengar seperti bisikan. Ia bisa melihat laki-laki bermata coklat itu menganggukkan kepalanya, " –lalu, kenapa kau menyetujui perjodohan itu kalau kau justru ingin menghindarinya?" Jaejoong tidak bisa menghentikan rasa penasaran dan ingin tahu yang sekarang mulai menyelimutinya.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Saat itu, kupikir aku bisa menerima perjodohan ini meskipun aku tidak menginginkannya. Aku hanya ingin membahagiakan keluargaku. Itu saja yang menjadi alasan mengapa aku menerimanya."
"Kau menerimanya begitu saja meskipun perjodohan itu –mungkin akan membuatmu tidak bahagia sekalipun?"
Pertanyaan Jaejoong membuat Yunho terdiam dan berpikir. Ia menundukkan kepala sebelum menjawabnya, "Ya, meskipun itu tidak akan membuatku bahagia sekalipun." Suara Yunho terdengar begitu pelan. Kini Jaejoong yang kembali dibuat terdiam karenanya meskipun banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan pada Yunho. Keduanya terjebak dalam suasana diam yang sunyi hingga akhirnya, suara baritone itu perlahan kembali terdengar," –tapi sekarang, entah mengapa aku memiliki alasan lain untuk menghindari dan menolak perjodohan itu." Ucap Yunho lalu menolehkan kepalanya menatap Jaejoong. Manik mata coklatnya menatap wajah Jaejoong yang menunjukkan ekspresi sendu itu lagi. Ia menatap dalam mata hitam dan besar Jaejoong yang kini lagi-lagi terlihat kosong dengan penuh pengharapan.
Jika ia boleh berspekulasi, ekspresi sendu dengan tatapan kosong penuh pengharapan yang kini di tunjukkan Jaejoong padanya itu memang karena dirinya. Wajah sedih yang ditunjukkan Jaejoong itu memang karena dirinya yang sudah berjodoh dengan orang lain, dan tatapan kosong penuh pengharapan itu memang karena Jaejoong mengharapkan dirinya. Jika spekulasinya benar, maka ia tidak ingin menjadi penyebab ekspresi sedih dengan tatapan kosong penuh pengharapan itu kembali menghiasi wajah cantiknya.
"Aku tahu ini akan terdengar gila. Tapi aku tidak pernah berbohong dan aku selalu berkata jujur apa adanya. Aku ingin menghindari perjodohan ini karena ada perasaan bersalah yang kini menghampiriku. Rasa bersalah itu begitu menghantui setiap kali aku memejamkan mata. Bayang-bayangnya selalu hadir di setiap mimpi yang membuatku seperti terjebak dalam lubang penyesalan." Yunho mulai mengaku sambil menatap mata hitam Jaejoong yang masih menatapnya dalam diam sebelum ia kembali melanjutkannya, " –perasaan bersalah yang aku rasakan itu karena aku merasa sangat bersalah padamu."
Mata coklatnya menelisik mata hitam Jaejoong. Ia berusaha membaca apa yang sedang dipikirkan laki-laki berambut hitam itu ketika ekspresi wajah dan tatapan matanya begitu sulit untuk dilukiskan secara gamblang.
"Ekspresi sendu dan tatapan kosong dengan penuh pengharapan yang terlihat darimu itu selalu terbayang di dalam benakku. Aku tahu mungkin ini terdengar sangat egois dan penuh percaya diri dariku, tapi aku merasa, kau memang sedang menungguku disana."
"..."
"Kau boleh menertawaiku atau kau bisa mengusirku dari sini. Tapi, sebelum kau melakukannya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Yunho meletakan segelas cokelat hangat yang tadi dipegangnya ke atas meja kaca yang ada di hadapannya lalu membalikkan tubuh menghadap Jaejoong yang duduk disampingnya. Kedua tangannya yang terasa dingin namun juga berkeringat dalam satu waktu itu perlahan terulur kemudian menggenggam kedua tangan Jaejoong yang terasa hangat. Pertemuan suhu yang berbeda itu membuat keduanya lagi-lagi merasakan kejutan tersendiri.
"Aku rasa aku jatuh cinta padamu."
Pengakuan Yunho membuat Jaejoong terkejut bukan main. Kedua matanya yang besar terlihat semakin membesar ketika ia membelalakannya. Kedua tangannya yang di genggam Yunho bahkan secara reflek ingin melepaskan diri dari genggaman tangan dingin itu. Namun ia kalah cepat dari laki-laki berambut coklat yang menahan tangannya di dalam genggaman.
"A –pa yang membuatmu berpikir kau menyukaiku?" Jaejoong tergagap. Ia masih terlalu shock dengan pengakuan tiba-tiba Yunho ketika pembicaraan awal mereka bukanlah sesuatu yang mengarah pada sebuah pengakuan. Ia tidak bisa mempercayainya begitu saja. Ia ingin meminta penjelasan rasional darinya hingga laki-laki bermata coklat itu begitu berani mengatakan kalimat seperti itu.
"Aku tidak tahu." Jawab Yunho seadanya karena ia sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya berpikir bahwa ia jatuh cinta pada laki-laki manis yang ada di hadapannya. Mereka –para love expert benar, cinta itu memang tak berlogika.
"Yah! Bagaimana bisa kau mengatakan padaku kau menyukaiku kalau kau sendiri tidak tahu alasan apa yang membuatmu menyukaiku?"
"Koreksi. Aku mencintaimu, bukan menyukaimu. Aku rasa itu konteks yang berbeda." Ucapan cheesy Yunho membuat Jaejoong tanpa sadar memutar kedua bola matanya. Yunho cengengesan ketika melihat tidak adanya penolakan dari diri Jaejoong. Ia bisa berpikir seperti itu karena setidaknya, ia tidak melihat wajah Jaejoong yang mengerut kesal dan marah ketika ia mengutarakan isi hatinya. Katakan saja ia over confidence, but who cares.
"Berhenti mengatakan hal absurd seperti itu. Kita baru saja saling kenal bahkan kurang dari sebulan. Bagaimana bisa kau mengatakan kau –" Jaejoong menghentikan kalimatnya ketika ia tidak bisa mengatakan kata itu. Wajahnya tiba-tiba saja memerah ketika kata 'mencintaiku' hampir saja tergelincir dari lidahnya. Rasanya ia ingin memukul wajah cengengesan Yunho dengan bantal sofa.
"Bagaimana bisa aku mencintaimu? Aku benar-benar tidak tahu. Perasaan itu tumbuh begitu saja di dalam hatiku seperti rumput liar yang tidak ada habisnya meskipun berulang kali aku berusaha mencabutnya. Mereka –para love expert– mengatakan bahwa, cinta itu bukanlah suatu alasan. Jika kita mencintai seseorang karena suatu alasan, maka itu bukanlah cinta."
"Yah! Kau ini seorang fotografer, bukan seorang pujangga cinta! Darimana kau belajar kata-kata seperti itu?" wajah putih Jaejoong memerah tidak karuan bahkan hingga kedua telinganya ketika mendengar kata-kataYunho. Ia berusaha menyembunyikan wajah memerahnya dengan poni hitam yang menjuntai menutupi kening. Namun tidak ada hasil yang berarti ketika senyum seringaian Yunho membuat ia semakin menyadari bahwa ia tidak bisa menyembunyikannya.
"Cinta itu tidak mengenal ruang dan waktu. Dia bisa datang secara tiba-tiba dan juga pergi secara tiba-tiba. Jadi aku harus bersiap ketika cinta itu tiba-tiba datang menghampiriku, namun aku tidak ingin kehilangan cinta itu tanpa adanya suatu pengorbanan yang berarti." Yunho semakin menyerang Jaejoong dengan filosofi cinta yang bahkan ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya.
"Yah, hentikan Jung Yunho!" Jaejoong semakin kalang kabut. Ia berusaha melepaskan diri dari genggaman Yunho ketika merasa wajahnya semakin memerah dan memanas seperti terbakar. Namun laki-laki yang menggenggam kedua tangannya begitu enggan untuk melepaskannya. Senyum lebar terlihat mengembang di wajah tampan Yunho.
"Wajahmu memerah. Itu artinya kau merasakan hal yang sama denganku."
"Yah! Sepertinya hawa dingin di luar sana membuat otakmu membeku, ohng?!"
"Kau bisa menghangatkannya dengan cintamu~"
'BUK!'
"A –aaw!" Yunho meringis kesakitan ketika lutut kirinya di tendang oleh Jaejoong. Ia mengusap lututnya yang berdenyut sakit. Kesempatan itu Jaejoong gunakan untuk membebaskan diri dari genggaman tangannya. Laki-laki berambut hitam itu langsung bangkit berdiri dari sofa dan berjalan –bahkan sedikit berlari– meninggalkannya sendiri di ruang TV.
"Ya~ ya~ chakkaman!" Yunho berusaha mengejar Jaejoong yang akan masuk ke dalam kamar. Ia menarik lengan kirinya yang membuat Jaejoong berhenti melangkah. Namun laki-laki manis itu begitu enggan membalikkan tubuh menghadap padanya. Yunho hanya tersenyum menyeringai melihat sikap malu-malunya.
"Kau tidak perlu berpura-pura." Suara bariton Yunho perlahan terdengar yang membuat Jaejoong menelan ludahnya gugup dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangannya, " –kau yang mengatakan hal itu padaku kalau kau memang sengaja duduk di seberang peron hanya untuk membuatku menyadari kehadiranmu agar aku bisa memperhatikanmu. Kau yang mengatakan padaku alasan mengapa kau selalu duduk di seberang peron tanpa melakukan apapun karena kau ingin memperhatikanku~ kau menyukaiku, Jaejoong ah~"
"Yah! Kau bilang kau tidak mendengarnya. Kau berbohong padaku!" Kini Jaejoong semakin berusaha keras melepaskan diri dari cengkraman Yunho ketika ia tidak bsia membendung rasa malu karena laki-laki yang ia sukai itu mengetahui rahasianya. Ia pikir, ketika dengan sengaja ia mengatakan alasannya itu disaat bunyi kedatangan kereta yang bising akan membuat Yunho tidak bisa mendengar suaranya.
"Aku tidak pernah berbohong. Aku memang tidak mendengar suaramu." Jawab Yunho sambil perlahan mendekati tubuh Jaejoong yang sudah berhenti meronta ketika ia tidak bisa membebaskan diri dari cengkramannya. Tangan kanannya melepaskan lengan kiri Jaejoong dan dengan cepat, ia mengurung laki-laki berambut hitam yang hampir saja melarikan diri itu dengan memeluknya dari belakang, kemudian berbisik pelan di telinganya, " –tapi aku bisa membaca gerak bibirmu, Jaejoong ah~"
Sialan. Jaejoong mengumpat di dalam benaknya.
Ok, Jaejoong tahu, poker face yang selama ini dipakainya akan menguap begitu saja jika Yunho mengetahui rahasianya. Ia pikir, ia masih bisa terus berpura-pura untuk terus menyukainya dalam diam. Namun fotografer sialan itu lebih jeli dari apa yang ia bayangkan.
Lalu sekarang, apa ia bisa menyangkalnya ketika ia terkurung di dalam pelukan hangat dan mendengar bisikan-biskan mantra yang menghipnotis di telinganya?
Kau sialan, Jung Yunho!
"Kau curang." Jaejoong bergumam pelan ketika ia tidak tahu lagi degan apa yang harus ia katakan. Ia bisa merasakan debaran jantung Yunho yang berdetak serirama dengan debaran jantungnya di balik punggung dan juga hembusan nafas Yunho yang menggelitik leher sampingnya. Kedua lengan kekar itu semakit erat melingkar di perutnya yang rata. Memberikan rasa hangat yang begitu nyaman.
"Kau juga curang. Kau tidak berbagi rasa itu padaku dan menyukaiku dalam diam hingga membuatku berpikir mungkin aku sudah gila karena mencintaimu." balas Yunho berbisik pelan. Bibir penuhnya perlahan mengecup leher samping Jaejoong.
"Yunho... aku rasa ada banyak hal yang harus kita bicarakan." Ucap Jaejoong berusaha melepaskan diri dari pelukan Yunho ketika begitu banyak perihal yang harus mereka bicarakan.
Yunho melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Jaejoong untuk menghadapnya. Ia bisa melihat ekspresi sendu itu sudah menguap menghilang dan mengudara. Tatapannya tidak lagi kosong dan pancaran penuh pengharapan itu kini berganti menjadi sebuah keyakinan. Ia tersenyum ketika melihatnya, kemudian perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Jaejoong.
"Yunho..." jari-jari tangan kanan Jaejoong menahan bibir Yunho yang akan mengecup bibirnya. Ia tidak ingin terburu-buru sebelum mereka bicara serius perihal perjodohan yang begitu membelit Yunho.
"Aku janji, aku akan mengurusi tentang perjodohan itu." Ucap Yunho seolah mengerti apa yang ada di dalam benak Jaejoong. Ia memegangi kedua tangan Jaejoong agar tidak menginterupsinya lagi untuk mengecup bibir merah cherry yang selalu terlihat memohon untuk dicium olehnya.
"Aku tahu, tapi –" ucapan Jaejoong terputus ketika sepasang bibir penuh itu melumat bibir merahnya. Kedua lengan yang dipegang oleh Yunho membuatnya tidak bisa mendorong tubuh jangkung itu dari hadapannya. Ia hanya bisa memejamkan mata pasrah ketika bibir penuh Yunho mulai menggerakan bibir dan melumat bibirnya tanpa ampun. Eluhan dan erangan pelan bisa terdengar dari bibir keduanya. Mereka seolah terhipnotis oleh sensasi itu hingga tanpa disadari, keduanya sudah jatuh terjerembab ke atas tempat tidur Jaejoong.
Jung Yunho memang tidak pernah percaya dengan sebuah kebetulan atau ketidaksengajaan. Namun ia mempercayai bahwa ketidaksengajaan itu akan menuntunnya pada sebuah takdir.
- TBC -
Di sini aku ga bakal banyak ngomong, aku cma mau bilang makasih yang sebanyak2nya buat smua yg udah baca, review, follow, favorite, dan mendukung smua ff aku disni :) ga ada kalian, aku bukanlah apa2
Makasih juga buat dinta yg udah mau direpotin jd beta reader di ff ini X3 #huggles
Dan btw~~ aku cma mau bilang, aku bakal hiatus panjang ^^ (beneran) mgkin cukup lama antara 2-3 bulan~ *skripsi aku harus selesai paling telat bulan juli* jd aku harus bener2 serius ngerjainnya :)
Tp klo ada kesempatan, aku mencoba untuk update ff yg masih blm inclompleted *terutama shine* *terjun*
Untuk skrg, jujur aja, aku blm bisa dapet feel shine nya, jd makanya aku sedikit writer block sama itu ff. Aku coba dengan membuat ff baru dan mencari suasana baru, jd semoga feel shine balik lagi dan aku bisa lanjutin ceritanya :)
So, annyeong~
