Disclaimer : The Lord of the Rings dan Hobbit © J.R.R. Tolkien
Warning : Hint slash (untuk jaga-jaga), OOC Typo, dll.
.
.
.
Cahaya mentari menerpa wajah Fili yang kini terbaring di sebuah kamar terang berhiaskan kristal putih. Dia tampak sangat berbeda dengan pakaian sutra dan rambut tergerai tanpa kepangan apapun. Wajahnya sangat pucat, tapi bibirnya bersemu merah menandakan kondisinya yang semakin membaik di banding hari-hari sebelumnya.
Perlahan kelopak matanya terbuka menampakkan sepasang manik biru kristal yang sangat terang di terpa cahaya. Dia mengerjapkan mata berkali-kali untuk membersihkan penglihatannya lalu menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan yang belum pernah di lihatnya itu.
Suasana yang sangat sunyi tanpa keberadaan seorangpun membuatnya semakin kebingungan. Perlahan Dia berusaha bangkit, lalu terduduk dan menahan tubuhnya dengan kedua lengannya. Rasanya sakit sekali, semua tulangnya terasa lepas walaupun pada kenyataannya masih utuh pada posisinya.
Saat Dia tengah sibuk melemaskan tubuhnya, datang seseorang yang tanpa sengaja membuatnya memekik kaget.
"Bagaimana keadaanmu, Master Dwarf?" Tanya seseorang yang datang tersebut.
"Sangat baik. Terimakasih." Jawab Fili berusaha untuk bersikap seramah mungkin.
Fili mengingatnya. Dia adalah Lord Elrond dan artinya tempat ini adalah Rivendell. Tempat yang pernah di kunjunginya beberapa waktu lalu bersama Kelompok. Seketika dia mengingat smuanya. Perang itu, dan pedang runcing yang menghujam punggungnya. Dia lalu mendesis, merasakan ngilu luar biasa di dadanya.
"Lukamu sudah membaik, jika saja Kau terlambat datang mungkin Aku tidak akan bisa mengobatimu." Ujar Elrond seraya meletakan obat-obatan di meja kecil.
"Maaf jika Aku lancang, tapi- bagaimana Aku bisa berada disini, My Lord?" Tanya Fili dengan sedikit ragu.
Elrond tersenyum lalu menatap Fili yang terlihat sangat gugup. "Legolas menemukanmu hampir mati di bawah reruntuhan."
"Le-Legolas?" Tanya Fili terkejut.
Elrond hanya mengagguk. "Tetaplah beristirahat sampai Kau merasa cukup kuat untuk bangun."
"Tentu. Uhm, aku tidak tahu bagaimana cara berterimakasih pada bangsa Elf. Tapi, terimakasih banyak." Ujar Fili.
"Sudah tugasku menolong yang terluka." Jawab Elrond yang kemudian berlalu.
Fili berusaha megatur nafas, membiasakan diri dengan keadaannya. Ingin rasanya Dia menanyakan banyak hal, tapi mengurungkan niatnya karena merasa canggung. Apakah keluarganya selamat? Bagaimana keadaan Kili? Dan satu lagi, kenapa Legolas bisa membawanya kesana? Segala macam pertanyaan terus berkecamuk dalam fikirannya membuatnya merasa sangat pusing.
.
.
.
Di Ravenhill, Kili menatap sekelilingnya yang kini telah mengalami banyak perubahan. Pepohonan dan bunga-bunga bersemi, karena orang-orang mulai membangun kembali tempat yang semula hancur itu. Seiring berjalannya waktu juga, kesedihan dan duka mendalam mereka berubah menjadi kebahagiaan.
Suasana sangat damai, dengan kesejahteraan yang mulai terlihat kembali di sekitar Erebor. Namun tidak untuk Kili, dia masih terluka dan rasanya luka itu tidak akan pernah sembuh.
"Kili, Kita harus kembali." Ujar Bofur yang sedari tadi menunggunya.
"Aku seharusnya tidak pergi dan membiarkannya sendirian disini." Gumam Kili lirih.
"Semuanya sudah terjadi Kili, Kau tidak bisa terus menerus menyalahkan dirimu sendiri." Ujar Bofur berusaha menenangkannya.
"Dia sendirian, kedinginan, terluka parah, tapi Kita semua meninggalkannya." Ratap Kili.
"Kili, ayolah! Jangan sampai dia bersedih karena kau terus seperti ini." Bujuk Bofur.
"Dia masih hidup, Aku yakin." Gumam Kili.
Bofur hanya menunduk kemudian menuntun Kili yang masih lemah untuk kembali ke istana.
.
.
TBC
