disclaimer: karakter yang digunakan bukanlah kepunyaan saya. Dan Harry Potter, universe dan segala tokohnya adalah kepunyaan the amazing J.K Rowling.
warning: GS atau BxB (saya tidak pernah menyebut gender Yixing secara eksplisit kok disini). Mpreg for BxB. Gaje. OOC. cursing.


.

.

Embrace The Unexpected

.

Joonmyeon Kim dan Yixing Zhang

.

GS atau Yaoi

It's up to you

.

.


A/N: mungkin akan lebih ngerti kalau dan bisa lebih dapet visualnya kalo udah liat filmnya, atau bisa dilihat kok beberapa cuplikannya di yutub. Tapi perlu diingat juga ada beberapa yang saya modifikasi dari film untuk kepentingan cerita, hehe.

Disini flashback ga akan saya bikin italic, perhatikan saja tahun yang tertera ^^

Anyway,

ENJOY!


.

.

Chapter II

.

Dear YXZ P.,

Aku tak menyangka kau akan mau membalas suratku. Setelah aku mengabaikanmu selama bertahun-tahun. Kau sering mengirimiku surat, tetapi aku tak pernah sekalipun membalas suratmu beberapa tahun ini.

Yixing, kenapa kau selalu baik padaku? Padahal aku sering menyakitimu? Apa kau waras?

Aku senang aku mengetahui kau baik-baik saja, terlebih kau sekarang hidup berbahagia dengan Peerce. Bersama seorang anak yang cantik. Kurang apalagi? Keluarga idaman, bukan? Seperti yang selama ini kau inginkan.

Bukan maksudku apa-apa, aku sungguh bahagia untukmu Yixing. Sungguh. Melihatmu bahagia, aku akan berpura pura aku cukup dengan hal itu.

Aku terkejut kau ternyata bekerja di St. Mungo sekarang. Seriously? Kupikir kau akan jadi pawang hewan-hewan gaib atau apa.

Yeah, aku... aku juga cukup bangga pada diriku yang pengecut ini. Aku memilih jalanku, bukan jalan kedua orangtua lagi. Bukan jalan Dad. Bukan jalan Mom.

Yixing, aku... aku juga merindukanmu, kau tahu.

Dan ya, Arlene adalah nama yang cantik, cocok untuk anakmu yang cantik itu.

Aku bisa membayangkan, memiliki sebuah keluarga pasti membahagiakan bukan? Aku turut bahagia untukmu. Aku sama sekali tidak merasa kerepotan Yixing, aku dengan senang hati akan menemaninya ke sana.

Bunga Arlaune yang cantik. Kau tahu, meskipun aku sudah tinggal di sekolah selama beberapa tahun terakhir ini, tapi nyatanya sudah lama juga aku tidak mengunjungi bunga bunga itu disana. Aku hanya punya satu sample yang aku letakan di rumah kaca. Dan jujur saja aku mulai merindukan tempat itu.

Apa kau tahu Professor McGonagall masih melarang murid-murid untuk memasuki hutan terlarang? Merlin, apa sih yang ditakutkan Professor McGonagall? Kita sudah melewati perang melawan penyihir hitam paling hebat di abad itu, apa sih yang lebih berbahaya di hutan terlarang sana? Demi Merlin. Terkadang para pengajar disini memang terlalu paranoid.

Anyway, kau menceritakan banyak hal pada putrimu, eh? Aku harap tidak terlalu banyak, atau dia akan tahu betapa pecundangnya diriku. Kau tahu, ia mengataiku hebat tadi. Ck. Yang benar saja. Ia pasti akan langsung mengubah pikirannya begitu tahu siapa dan bagaimana diriku yang sebenarnya.

Well, omong omong untuk goresan, kurasa aku tidak janji, Zhang-Peerce. Kau tahu meskipun tidak berbahaya, terkadang kau tidak tahu apa yang akan terjadi di hutan terlarang kan?

Best Wishes,

J.K.

.

.

OooO

1992

Harry Potter and The Chamber of Secret.

Tahun Kedua.

.

Joonmyeon Kim menghabiskan waktu akhir pekan yang dimilikinya dengan berjalan perlahan keluar dari kastil Hogwarts. Kaki kecilnya yang terbalut sepatu mengkilat melangkah menuju ke arah danau yang terletak tak jauh dari kastil. Teman-teman asramanya memilih menghabiskan waktu dengan melakukan hal yang lain, bersantai di ruang rekreasi misalnya.

Sedangkan ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya duduk di tepi danau. Entahlah apa yang akan ia lakukan disana, mungkin untuk merenung. Apapun itu. Menurutnya anau sekolah adalah salah satu tempat yang sempurna untuk memberikan waktu bagi dirinya sendiri.

Begitu ia sampai di tepi danau, Joonmyeon mendudukan dirinya, membiarkan pakaiannya yang mahal tergesek oleh rerumputan tepi danau Hogwarts, tapi untuk kali ini, bocah berumur 12 tahun itu sama sekali tak peduli.

.

"Kau harus membanggakan Dad, kau mau kan Joonmyeon?"

Tentu, Dad.

"Ingat kata-kata Dad, jangan berteman dengan darah lumpur,"

...Tentu, Dad.

"Mereka kotor. Mereka telah mengotori dunia kita,"

Ya, mereka memang kotor.

"Hidup hanya untuk melayani-nya, kau-tahu-siapa."

Ya, hanya melayani-nya. Lord Voldemort yang agung. Dia yang berjanji akan menghilangkan para darah kotor. Darah lumpur...

"The Dark Lord... dia akan membersihkan dunia kita. Dunia kita akan bersih dari orang orang itu, Joonmyeon."

.

Orang orang itu.

.

Orang-orang seperti Yixing...

.

Wejangan wejangan Dad bergema di kepalanya, menghantuinya.

Terkadang petuah Dad yang ia berikan sebelum Joonmyeon menginjakan kaki ke gerbong kereta membuat Joonmyeon jadi susah tidur.

Terkadang ia merasa berat. Ayahnya terlalu banyak menaruh ekspektasi di bahunya, dan Joonmyeon tak tahu apa ia bisa memenuhinya sebagai pewaris tahta. Menjadi seorang murid yang pintar, ambisius, dan memiliki pemikiran yang sama dengannya.

Ayahnya menginginkan anak satu-satunya ini menjadi penerusnya yang sempurna. Seorang penerus yang bisa dibanggakan kepada dunia. Tetapi menurut Joonmyeon, terkadang Dad lupa kalau sebenarnya ia hanya bocah berumur 12 tahun.

.

Bocah berumur 12 tahun yang... biasa-biasa saja.

.

Iya, dia biasa saja di kelas. Dia tidak jenius. Nilai akademisnya rata-rata. Di tahun kedua ia belum bisa menembus tim Quidditch Slytherin. Tidak seperti Malfoy yang langsung mendapatkannya di tahun pertama.

Satu-satunya prestasi yang dimilikinya hingga tahun kedua ini hanyalah mendapat nilai Outstanding di mata pelajaran Herbologi.

Dad tak akan peduli.

Dad tak akan peduli walaupun ia seorang jenius di herbologi sekalipun.

Ia baru akan peduli jika ia menjadi yang terbaik di mata -mata pelajaran yang lain, seperti pelajaran ramuan Professor Snape misalnya.

Ramuan, yang merupakan pelajaran kesukaan para 'ular'.

Selain karena diajar langsung oleh Professor Snape yang juga merupakan Kepala Asrama Slytherin, di kelas Ramuan, mereka bisa melihat asrama lain jadi bulan-bulanan Professor Snape. Kala ia membentak dan mendesis kepada murid-muridnya—kecuali anak-anak Slytherin tentunya—ketika mereka membuat kesalahan. Terutama jika kesalahan itu dibuat oleh seorang murid Gryffindor. Entah dendam kesumat apa yang dimiliki Professor Snape kepada para 'singa' Gryffindor. Tapi melihat para Gryffindor—rival bebuyutan asrama mereka—dipermalukan seperti itu, menjadi hiburan tersendiri bagi 5lytherin.

Tapi ia tak seperti kebanyakan teman-temannya. Ia justru lebih menaruh minat pada pelajaran Professor Sprout yang biasa beliau ajarkan di rumah kaca. Herbologi yang mempelajari mengenai tanaman-tanaman dunia sihir.

Di mata Dad-nya, Herbologi bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Meski faktanya ia telah menjadi salah satu murid terbaik Professor Sprout bersama Neville Longbottom dari Gryffindor. Ia bahkan menjadi satu-satunya yang terbaik dari asrama Slytherin.

Memang sih, kenyataannya hanya sedikit anak-anak Slytherin yang menaruh peduli pada Herbologi.

Bahkan mungkin tidak ada.

Para Slytherin biasanya menganggap Herbologi sebagai pelajaran 'tidak berguna' dan 'membosankan'. Siapa juga yang butuh belajar soal tanaman bodoh dunia sihir? Mereka belajar ke Hogwarts untuk menjadi penyihir yang kuat, bukan seorang 'petani'—begitu keluh salah seorang penghuni asrama Slytherin, Adrian Leeche.

Tapi Joonmyeon tidak menganggapnya begitu. Ia tak jenius di bidang ramu meramu seperti teman-temannya.

Ia menyukai Herbologi. Lagipula kau bisa menjadi seorang penyihir yang kuat dari Herbologi juga kok. Apa bahkan mereka tahu kalau beberapa tanaman yang mereka anggap bodoh adalah bahan baku ramuan sihir, huh? Seperti tanaman Valerian misalnya, mungkin mereka tidak tahu kalau tanaman itu bisa menjadi sebuah senjata yang mematikan, menjadi bahan baku untuk membuat sebuah ramuan tidur hingga pembuat nafas api.

Tapi tentu saja, tak ada yang sependapat dengannya.

Dia kan si freaky Kim, si aneh nomor satu—seperti kata Draco, dan hampir semua teman-teman Slytherinnya mengatainya begitu, mungkin kecuali Theodore Nott yang satu roomate dengannya. Si jangkung dan... si aneh nomor dua, kalau kata Draco. Ia satu satunya teman Joonmyeon di Slytherin. Ia bersyukur meski Theo memang bertingkah aneh—hell, Theo tak pernah bisa tidur tanpa meletakan kaos kaki di bawah bantalnya sebelum tidur—ia setidaknya masih punya teman.

Teman.

Teman yang mungkin saja ia miliki kalau saja... kalau saja Dad tak memintanya menjauhi dia...

Dia...

.

Joonmyeon menarik nafas, membiarkan udara segar mengisi paru-parunya. Melakukannya sekali lagi, sembari ia menutup kedua matanya. Riak air dari danau yang terhampar di depannya menambah nuansa kedamaian ke dalam sanubari. Kedamaian yang sudah tak lama ia rasakan. Tidak di Kim Manor, tak di sekolah, ia merasa selalu saja ada beban yang diberikan padanya.

Diantara kedamaian yang melingkupi raga dan jiwa, ia bisa mendengar langkah-langkah kaki berjalan mendekatinya. Ia sedikit memiringkan tubuh, dan ketika kelopak matanya terbuka, tiba-tiba ia sudah dihadapkan oleh Yixing yang duduk di sisinya.

Yixing dengan rambut brunette dan mata cokelatnya, tengah memandang ia lekat-lekat.

Joonmyeon membuang muka—hal yang hampir selalu ia lakukan saat ia bersitatap dengan Zhang bodoh itu.

Ia meraih batu-batu di sisinya, kemudian membuang batu-batu itu ke dalam danau, mencoba mengabaikan eksistensi orang bodoh disampingnya itu.

Suara batu yang membentur permukaan air, dan riak air yang dihasilkan dari setiap lemparannya membuat Joonmyeon ketagihan.

Dan ternyata kegiatannya itu disusul oleh Yixing tak lama kemudian. Ia juga ikut meraih batu dan bersama-sama melemparkannya ke dalam danau. Mereka akhirnya membiarkan suara lemparan-lemparan itu yang mengisi keheningan.

"Apa kau tahu di dalam sana ada makhluk besar yang menghuni danau ini?"

Joonmyeon memilih tak menanggapi.

"Aku baca di buku sejarah Hogwarts, di dalam sana ada cumi-cumi raksasa, tapi dia baik kok. Dan katanya ada makhluk-makhluk danau hebat yang lain, seperti ubur-ubur raksasa, dan yang lainnya. Bisa saja mereka berbahaya, bisa saja tidak. Tidak ada yang tahu karena mereka jarang menampakan diri,"

Jangan jadi sok tahu, Zhang.

Tidak perlu kau beri tahu ia juga tahu.

Ruang rekreasinya kan ada di bawah danau. Ia jelas tahu ada makhluk apa saja di danau itu—memang ada cumi cumi raksasa di dalam sana. Dan beberapa kali ia sempat melihat manusia duyung berenang kesana kemari melewati kaca ruang rekreasi Slytherin.

Tapi dia biarkan saja ia berbicara, membiarkan bocah itu mengoceh sesukanya hingga berbusa.

Mungkin karena ia malas menanggapi, atau mungkin karena ia merindukan suara lembut itu—siapa yang tahu?

"Apa kau tahu jika para duyung suka bernyanyi di dalam air?"

"..."

"Ternyata para duyung di dunia sihir sangat berbeda dengan putri duyung yang aku tahu di dunia muggle, kau tahu?"

"..."

"Di duniaku aku mengenal putri duyung dari serial kartun 'Little Mermaid'. Kau pernah dengar?"

"..."

"Ah, baiklah, kuberitahu namanya Ariel, dia berambut merah dan sangat cantik. Dia punya banyak teman dan semua penghuni dunia air menyukainya. Tetapi di dunia sihir ini, putri duyung ternyata tak secantik itu..."

"..."

"Mereka kecil, mereka tidak cantik dan mereka tidak ramah. Mereka juga bisa menjadi sangat mengerikan. Dan apa kau tah—"

"Diamlah Zhang," ia menggertak, pada akhirnya. Joonmyeon mendengus lega kala ia tak lagi mendengar suara ocehan Yixing. Akhirnya ia tutup mulut.

Lelaki berambut hitam itu merubah posisi duduknya dengan memilih menekuk kedua kakinya, kemudian memeluknya dengan lengan-lengannya yang kecil. Lantas ia letakan kepalanya diantara lipatan tangannya. Tanpa repot-repot mengerling, ia bertitah dengan nada dinginnya, "Pergilah dari sini. Aku sedang ingin sendiri,"

"Kau memang selalu sendiri,"

Joonmyeon tertawa sarkastik, mengangkat kepalanya sedikit untuk mendelik pada bocah itu. "Terima kasih banyak sudah memberitahuku,"

"Kau itu sebenarnya kenapa sih?" Yixing memasang wajah merajuk, alisnya menukik ke bawah, "Kenapa tiba-tiba berbeda? Kenapa kau berubah?" lagi-lagi nada memelas itu.

Joonmyeon... tidak suka mendengarnya.

"Aku tidak berubah, kau saja yang tidak mengenalku dengan baik, aku memang selalu seperti ini," tukasnya, "Enyahlah, jangan sampai aku memohon padamu, Zhang." Perintahnya, nyaris putus asa. Dia tidak tahu kenapa ia merasakan perasaan berkecamuk karena kehadiran Yixing disebelahnya. Ia sama sekali tak membantu meringankan beban pikirannya dengan berada di sekitarnya.

"Zhang terdengar lebih baik daripada kau memanggilku darah lumpur, kau tahu," Ia menggumam. Dia bocah yang bebal dengan tak mengindahkan perintah Joonmyeon. Ia menatapnya lekat-lekat, sama sekali tak gentar oleh delikan galak seorang Joonmyeon Kim. "Aku tak tahu arti darah lumpur, tapi sepertinya itu bukankah hal yang baik," Ia menolehkan kepala, memandang lurus-lurus ke depan. Tangannya merambat untuk meraih kerikil-kerikil yang berada di dekat tubuhnya, kemudian melemparkan batu-batu kecil itu ke danau sekali lagi, "Memangnya apa itu darah lumpur? Kenapa kau selalu memanggilku begitu?"

Ia berhenti, dan kini memilih menatap Joonmyeon tepat di mata. Joonmyeon tak bisa mendefenisikan dengan pasti apa yang terefleksi di sepasang manik cokelat itu sebenarnya. Nadanya takut, tapi tegas di saat bersamaan.

"Beritahu aku Joonmyeon..." pintanya, "Kenapa darah lumpur?"

Sorot mata Joonmyeon berubah menajam seiring detik berlalu. Bocah 12 tahun itu mengeluarkan desisan kesal. Ia tak tahu kenapa, tapi ia rasanya nyaris ingin... meledak.

"Karena memang itulah kau, seorang darah lumpur. Dan selamanya akan tetap menjadi darah lumpur!"

Joonmyeon bangkit berdiri. Tangan kecilnya mengepal kuat-kuat. Ia bisa merasakan rasa lelahnya yang tadi sempat terlupakan kini datang bertubi, bertumpuk jadi satu, mendatanginya detik ini juga. Dan Joonmyeon...

Joonmyeon hanya ingin berteriak dan meluapkan semuanya.

.

"Kau tahu kenapa darah lumpur? Karena orang-orang seperti kau telah menodai dunia sihir dengan kehadiran kalian. Para manusia biasa, para muggle tidak pantas ada disini!"

.

Dad, apakah kau melihatnya?

Kau pasti bangga kan aku mengatakan ini pada mugg—maksudku, darah lumpur ini?

Kau bangga padaku, ya kan Dad?

.

"Dunia ini seharusnya milik kami, darah murni, kau mengotori dunia kami, dan darah kotormu itu tak pantas ada disini!"

Bisa dilihatnya mata Yixing mulai berkaca-kaca, air mata mulai membasahi, mengenang di pelupuk matanya.

Joonmyeon dengan nafas yang tersengal setelah berteriak sedemikian rupa, memilih untuklcepat cepat berbalik dan pergi dari sana. Dan saat ia berlari, ia bisa merasakan angin musim gugur yang dingin membelai wajahnya—wajahnya yang ternyata dalam keadaan basah.

Basah?

Ah, pasti karena terkena cipratan air danau.

.

Ya kan?

.

Ya. Pasti.

.

OooO

.

Aula besar, 1992.

Joonmyeon baru saja melangkah untuk memasuki Aula Besar. Kepalanya yang bersurai hitam legam—sama seperti manik matanya—terdongak ke atas. Di langit-langit aula besar, ia bisa melihat awan-awan bergerumul, bergerak nyalang, menjelma dan menyelimuti seluruh ruangan, bagai sebuah cendawan berwarna kelabu pekat—mendung, seperti halnya dengan cuaca diluar sana. Bahkan awan-awan mulai dihiasi oleh kilat, ditemani oleh suara petir-petir kecil yang bergemuruh samar. Nyaris meyambar lilin-lilin kecil yang berjejer terbang melayang di bawah atap Aula.

Obor-obor menyala dari tempatnya di sisi dinding, menerangi seisi Aula Besar yang mulai penuh. Empat deret meja panjang sudah dipenuhi oleh murid-murid yang kelaparan, meja-meja telah terisi oleh berbagai jenis makanan yang tampak lezat. Sendok, garpu, dan pisau-pisau perak, beserta gelas-gelas piala saling berdenting dari setiap sudutnya.

Joonmyeon berjalan ke meja yang berada tepat di sebelah meja anak-anak Gryffindor—tepatnya ke arah meja Slytherin dengan panji kebanggaan warna hijau dan silver. Makin ia mendekat, makin kuat pula aroma lezat makanan itu menyapa indra penciumannya. Perutnya mulai memprotes, berbunyi meminta perhatian. Ia merasa begitu lelah setelah ia selesai mengerjakan PR Transfigurasinya yang begitu banyak.

"Joonmyeon," ucap Theodor Nott sebagai ganti sapa kala ia melihatnya mendekat. Dan yeah hanya Theo saja yang akan menaruh peduli padanya. Terserah, itu bukan masalah yang besar. Ia sudah biasa diabaikan dan dianggap selayaknya udara yang datang dan pergi.

Ia memilih duduk di samping Pansy Parkinson, salah satu anak kolega orangtuanya, keturunan darah murni, dan tentu saja ia juga salah satu kroni Draco Malfoy – tapi ia tak peduli. Sekarang yang ada dipikirannya hanya makan, dan ia berjanji dalam hati ia akan mengisi perutnya sampai puas dengan makanan-makanan yang tesaji.

Baik, sekarang manakah yang harus ia santap terlebih dahulu?

"Kau terlihat berantakan," timpal Pansy—sejujurnya ia sedikit kaget gadis itu sudi mengajaknya bicara.

"Yeah, baru saja selesai mengerjakan PR Transfigurasi," balasnya sekenanya, membiarkan matanya menari dan menyusuri tumpukan makanan yang tersaji di atas meja. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk memilih kalkun panggang, mengambil sebuah garpu dan pisau kemudian memindahkannya ke piringnya.

"Kenapa kau rajin sekali sih? Aku nyaris berpikir kau sebenarnya lebih cocok ditempatkan di Ravenclaw daripada Slytherin," komentar Daphne Greengrass, sembari ia melahap apel di genggamannya.

"Well, seperti sebutannya, bukan? Freaky Joonmyeon Kim, si aneh nomor satu," sela Draco dari ujung meja, yang diiringi oleh tawa teman-temannya yang lain, bahkan Theodore. Joonmyeon memutar mata bosan, memilih tak menanggapi apapun. Ia sedang tidak mau berurusan dengan candaan kekanakan Malfoy.

"Hei guys ngomong-ngomong apa kalian tahu, para darah lumpur banyak yang dilarikan ke Hospital Wing?" Pansy memberi tahu meja mereka. Diantara yang lain, dia dan Daphne Greengrass memang penggosip ulung.

"Oh ya?" Blaise Zabini menanggapi, sambil ia mengunyah olahan kentang dari piringnya. "Memang kenapa?" tanyanya setelah ia berhasil menelannya.

"Geez, Blaise kau ini ketinggalan berita sekali. Karena Basilisk! Makhluk pembunuh itu berkeliaran di sekolah ini, dan sampai sekarang para guru belum berhasil melakukan apapun," desis Pansy.

Oh yeah, Basilisk. Ia mendengar kabar itu juga. Ia tahu apa itu Basilisk dari buku Scamander, Fantastic Beasts and Where to Find Them.

Disana diceritakan bahwa Basilisk adalah seekor ular berukuran raksasa yang hidup beribu-ribu tahun yang lalu. Seperti ular kebanyakan, metode membunuhnya adalah dengan gigitan taring dan racunnya. Tetapi yang unik dan mengerikan—ia punya sebuah senjata mematikan.. Ia bisa membunuh mangsanya hanya dengan melihat matanya yang berwarna merah darah.

Joonmyeon sungguh tak percaya ada seekor monster berbahaya yang dengan bebasnya berkeliaran di kastil ini, menunggu untuk menyerang murid-murid. Dan lucunya lagi , para guru belum berhasil menangani masalah ini. Apa mereka menunggu sampai ada siswa yang mati karenanya? Sungguh sulit dipercaya.

"Yang benar saja, sebuah monster hidup di sekolah ini?" tanya Draco tak percaya dari ujung meja, " Bukankah Dumbledore bilang sekolah ini adalah tempat teraman?" ia lantas mengeluarkan suara dengusan keras keras, "Terlalu banyak omong Pak Tua itu, kalau sampai terjadi sesuatu padaku, akan aku laporkan ini pada Ayahku,"

Joonmyeon yang mendengarnya memutar mata, mencibirnya ketika ia menegak gelas pialanya. "Akan kulaporkan ini pada Ayahku" Ck, demi celana dalam Merlin—sudah berapa kali ia mendengar si pirang tengil itu mengatakan hal itu pada semua orang? Dasar anak manja.

"Tidak akan ada yang terjadi padamu, Draco," ujar Daphne, berusaha sabar, "Yang akan diserang hanyalah para darah lumpur, kita para darah murni tidak akan jadi korban. Kudengar Basilisk memang diciptakan untuk membasmi para darah lumpur itu,"

Draco terkekeh, keji. "Baguslah kalau begitu," sahutnya dengan kembali menyantap hidangan yang tersisa di meja, "Lalu apa yang terjadi pada mereka? Apa mereka mati sekarang?"

"Yeah sayangnya belum," Daphne menggelengkan kepala, mendengus kecewa. "Para darah lumpur itu hanya membeku, karena mereka hanya melihat Basilisk secara tidak langsung. Mereka baru akan mati jika mereka bertatapan langsung dengan mata monster itu,"

"Well, sayang sekali," tanggap Malfoy dengan nihil simpatik.

Blaise mulai ikut menimbrung, "Memang siapa saja yang jadi korbannya?"

"Aku dengar sudah ada Collin Crevey, si sok tahu Granger, si kuper Fitch Fletchey, dan kudengar ada korban baru lagi. Hmmm aku lupa namanya—" Pansy mengingat-ingat, lalu menjentikan jarinya yang dipoles cat kuku merah muda,

"— oh, benar. Orang keturunan China itu, Yixing Zhang."

Gerakan pisau dan garpu Joonmyeon terhenti seketika. Tangannya mengaku, dan tubuhnya berubah menjadi dingin. Ia bisa merasakan udara seolah-olah menciut detik itu juga.

.

A-apa?

.

Yixing...

Yixing Zhang?

.

Dia jadi korban Basilisk?

.

"Kau baik baik saja, Joonmyeon?" Theodore berinisiatif menanyainya, sembari menyentuh telapak tangannya di atas meja, "Kau tampak pucat, mate. Apa kau sakit?"

Teman-teman Slytherinnya secara otomatis menoleh ke arahnya, memperhatikannya dengan tatapan menyelidik, termasuk Draco yang menyeringai di ujung meja. Ia tahu...

"Tidak, tentu saja aku baik-baik saja," Joonmyeon menyambar minumannya, menegaknya sampai tandas untuk menutupi kegugupannya.

"Yeah aku baik-baik saja."

Tapi Yixing... apakah sekarang dia baik baik saja?

.

Demi Merlin, kenapa ia harus gelisah? Kenapa ia merasa khawatir sih? Ia tidak peduli padanya kan?

.

Tentu saja tidak.

Ya, tidak.

.

Tidak.

.

Dan ia harap akan selalu begitu.

.

OooO

.

Bocah bersurai hitam itu melangkahkan kaki perlahan ke Hospital Wing yang berada di bagian selatan kastil, dengan kepala tertoleh kesana kemari. Ia tahu ia sudah melanggar jam malam, tetapi ia merasa ia harus melakukan ini. Ia jadi tidak nyenyak tidur karena memikirkannya, sekeras apapun ia mencoba.

Helaan nafas lega meluncur dari bibirnya mendapati Hospital Wing ternyata dalam keadaan sepi, tak ada siapapun. Ia melewati bilik demi bilik, mengendap-ngendap. Dan dari sini, ia bisa melihat Hermione Granger, Collin Crevey si pohotograper muggle itu, dan Filch Fletchey, si penakut dari Hufflepuff. Mereka semua terbaring di tempat tidur mereka masing-masing. Dan jujur saja, keadaan mereka saat ini membuatnya terkenyit ngeri.

Lihat saja—tubuh mereka membeku dan kaku. Bahkan nyaris berwarna kebiruan. Sekali lihat, ia bahkan tak yakin kalau mereka masih hidup.

Hermione dengan matanya yang terbuka dan satu tangan ke atas. Crevey mengernyit dengan mata terpejam rapat-rapat. Mereka semua sama. Terbujur kaku. Persis seperti patung-patung yang biasa ia lihat di depan halaman rumahnya.

Menyaksikan keadaan mereka membuat Joonmyeon menegak ludah. Kalau keadaan mereka saja seperti itu... bagaimana dengan si mugg—maksudnya, darah lumpur itu? Apakah ia lebih baik? Atau justru lebih parah? Ia tahu ia ada di bilik terakhir. Joonmyeon hanya tinggal melongokan kepalanya dan selesai urusan. Ia hanya perlu melihatnya sebentar saja dan ia bisa kembali ke asrama untuk melanjutkannya tidurnya, bukan begitu?

Tapi rasanya begitu berat. Ia merasa tak siap dengan apa yang akan menyambut penglihatannya nanti.

Menghela nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebagai permulaan, Joonmyeon akhirnya membulatkan tekad. Ragu-ragu ia melongokan kepala ke bilik selanjutnya— dan benar. Disana.

.

Yixing Zhang.

.

Ia tak tahu harus berkata apa...

Sejujurnya, keadaannya tak jauh beda dengan Granger atau yang lainnya. Matanya terbuka, terbelalak dan kedua tangannya berada di sisi tubuhnya. Tubuhnya juga membeku, mengkaku—benar benar tak bisa digerakan. Bahkan berkedip pun ia tak bisa. Joonmyeon tak tahu apakah ia dalam keadaan bangun, pingsan, atau koma sekalipun.

Menurut informasi yang ia himpun dari teman teman Hufflepuff-nya, Yixing saat itu meminta ijin pergi ke kamar mandi. Salah satu temannya berinsiatif menyusulnya karena sudah satu jam ia tak keluar kamar mandi, dan ia dibuat panik seketika kala menemukan Yixing sudah tergeletak kaku di kamar mandi. Para guru sigap membawa Yixing ke Hospital wing, dan berhipotesa jika Yixing melihat Basilisk dari pantulan cermin, sehingga ia hanya mengkaku dan tidak tewas tempat.

Syukurl—tunggu. Apa?

Ada apa dengan kelegaan besar yang tiba-tiba melingkupi hatinya ini?

.

Joonmyeon dengan langkah tersendat mendekat ke arah ranjang, kemudian berinisiatif menyentuhkan telapak tangannya ke kulit Yixing. Ia mendesis kaget, buru buru menarik tangannya sedetik kemudian.

Merlin! Tubuh Yixing terasa begitu dingin, layaknya bongkahan es. Ia sudah sama seperti mayat. Kalau saja tak ada yang menyakinkannya bahwa ia masih hidup, ia mungkin menduga Yixing sudah...

Ah. Sudahlah. Sekarang yang jadi pertanyaan adalah kapan dia bangun? Atau... apakah ia akan tetap bangun? Maksudnya... bisa saja dia...

Joonmyeon menggelengkan kepala, menepis pikiran buruk itu. Meskipun Joonmyeon membencinya, tapi membayangkannya benar-benar mati... rasanya aneh. Iya, terlalu aneh.

Ia belum sempat meminta maaf padanya. Ia sudah terlalu banyak menyakiti hatinya.

Memikirkannya mati... itu terlalu... terlalu mengerikan untuk dipikirkan.

Masih dengan tangan yang mengenggam tangan kaku Yixing, Joonmyeon mendudukan diri di kursi yang etrsedia samping ranjang, dan ia pun menunggu.

.

Menunggu Yixing untuk segera bangun dari tidur lelapnya.

.

Semoga..

.

OooO

.

Yixing mengerjapkan matanya yang terasa kaku.

Yang dirasakannya pertama kali kala keasaran telah menghampirinya adalah tubuhnya yang terasa berat. Lelah. Seolah ia baru saja berlari bermil-mil jauhnya.

Ia merasa energi benar-benar telah terkuras habis. Setiap sendi tubuhnya meneriakkan lelah yang sangat.

Yixing berusaha menggerakan jemari-jemarinya. Sakit. Dan tidak mudah untuk melakukannya.

Ia berusaha lebih keras lagi, berusaha menggerakan jemarinya—mulanya hanya jari-jari, lalu perlahan ia gerakan satu tangan, dua tangan, kaki kanan dan kaki kiri. Perlahan tapi pasti. Meskipun membutuhkan waktu, mungkin sampai setengah jam lamanya—setidaknya ia tidak merasa tubuhnya serigid sebelumnya. Apa yang terjadi sebenarnya?

"Hai Nak, bagaimana perasaanmu sekarang?"

Ia bisa melihat wajah Madam Pomfrey di samping kirinya, bertanya dengan nada hangat dan senyum ramahnya yang biasa ia tunjukan kepada para murid yang membutuhkan bantuan dan jasanya. "A-aku..." suaranya parau, gersang. Dan ia berusaha membasahi tenggorokannya dengan saliva agar ia bisa bicara dengan jelas—"A-aku.. aku.. eum... haus..."

Madam Pomfrey buru-buru mengambil sebuah gelas kecil dari nampannya, "Ini sayang, tegaklah ramuan ini agar kau merasa lebih baik,"

Yixing patuh, dengan dibantu oleh tangan Madam Pomfrey yang menyangga gelas, ia membuka mulutnya yang terasa kering luar biasa. Ia kemudian menegak cairan ramuan itu perlahan-perlahan. Liquid itu mengaliri tenggorokannya yang kering kerontang—cairan itu menjelma menjadi sebuah kesegaran hakiki yang ia cari, bagai sebuah sumber mata air. Rasanya tidak karuan, hangatnya terasa seperti jahe, ia bahkan bisa mengecap rasa pedas di papila lidahnya.

Ramuan itu memberikan Yixing sebuah sensasi panas dan mau tak mau sedikit membuatnya terkernyit. Tetapi tak bisa dipungkiri, ia bisa merasakan tubuhnya mulai membaik, tubuhnya yang tadi terasa dingin kini mulai perlahan mendapat kehangatan, dan ia bisa merasakan energinya kembali datang, perlahan tapi pasti menghampiri.

"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?" tanya healer sekolah itu sekali lagi.

"Yeah..." ia berucap sekenanya, kemudian berusaha menggerak-gerakan jemari dan sendi-sendinya. Ia menghela nafas lega kala anggota tubuhnya sudah mulai dapat bekerja seperti biasa. Saat Yixing hendak menggerakan siku kanannya, ia menyenggol sesuatu.

Dengan gerakan patah-patah ia menolehkan kepalanya ke samping kanannya. Bola matanya membulat, kentara benar terkejut mendapati seseorang tertidur di kursi sebelah ranjang.

Bukankah itu... Joonmyeon?

Joonmyeon Kim?

Tidak salah lagi. Ia bisa mengenali rambut hitam beledu itu dimana-mana. Bentuk tubuh itu, jelas itu adalah Joonmyeon Kim yang ia kenal. Ia sepertinya tengah tertidur. Badannya menjorok ke depan, dan ia tidur dengan berbantalkan kedua lengan yang terlipat, sedang satu tangannya yang lain mengenggam tangan Yixing.

Ia benar-benar mengenggam tanganku...?

Tangan milik seorang yang katanya— Yixing menegak ludah—

...Darah lumpur?

Seolah menyadari kebingungannya, Madam Pomfrey memberitahunya dengan seulas senyum hangat, "Murid Slytherin itu, aku menemukannya tertidur di sampingmu sejak beberapa jam yang lalu. Kurasa ia menemanimu sejak tadi hingga dia tertidur,"

Yixing mengerjap, takjub dan tidak percaya. "Benarkah?" gumamnya dengan suara rendah.

Ada perasaan hangat yang detik itu juga menyeruak dalam dada.

Joonmyeon sungguhan menungguinya?

Bisa dirasakannya sudut bibirnya mulai berkedut-kedut, tak kuasa untuk menahan senyum. Tangan yang tak berada dalam genggaman bocah itu perlahan terangkat, kemudian bergerak untuk mengusap surai hitam Joonmyeon yang halus bak sutera. Ia memainkan ujung rambutnya, memutar-mutarnya diantara jemarinya.

Joonmyeon... dengan wajah damainya ini—jauh dari sorot benci dan kerutan di dahinya, ia sangatlah tampan. Dia sangat manis.

Dan Yixing hanya ingin menjadi temannya.

Ia sangat ingin menjadi tempat bagi Joonmyeon untuk berbagi cerita dan canda. Ia bisa melihat Joonmyeon kesepian, dan ia hanya ingin menemaninya.

Tapi kenapa lelaki itu seolah menganggapnya seperti hama? Mengatainya darah lumpur dan serentetan kata-kata benci lainnya.

Walau begitu, sampai sekarang, Yixing percaya sebenarnya Joonmyeon hanyalah berpura-pura melakukan hal itu. Ada sesuatu yang lain yang tersembunyi di balik mata hitamnya yang tajam. Ia tahu Joonmyeon juga ingin berteman dengannya.

Kemarin harapan itu sempat pupus. Kala Joonmyeon mngatakan kalimat kebencian itu. Kalimat yang membuat hatinya terpelintir nyeri.

Tetapi sekarang api harapan itu terpecik lagi. Joonmyeon mungkin memang peduli padanya dan tidak benar-benar membencinya. Jika ia tak peduli dan ia benar-benar membencinya, kenapa ia repot repot datang kesini, menungguinya hingga ia jatuh terlelap?

Pikiran itu membuat senyum Yixing makin merekah, dan ia memutuskan untuk mengistirahatkan kelopak matanya.

"Tidurlah lagi, aku yakin dengan begitu, besok kau sudah bisa keluar dari Rumah Sakit," perintah Madam Pomfrey yang ternyata masih menungginya dari sebelah ranjang. Yixing mengangguk patuh, masih dengan seulas senyum dan mata yang tertutup.

Damai. Itulah yang dia rasakan.

Dengan memberikan sebuah remasan kuat di tangan Joonmyeon yang terjalin dengannya, Yixing berbisik diantara keheningan malam—dengan seulas senyum yang tak jua luntur dari bibirnya.

"Terima kasih Joonmyeon,"

.

Terima kasih.

Aku menyayangimu.

.

.

OooO

.

Dear J.K,

.

Aku juga tidak tahu apa yang membuatku mau-maunya membalas suratmu. Aku bodoh ya? Seharusnya aku marah padamu bukan? Kau mengabaikanku, selama bertahun tahun. Hell, dulu kau juga sering mengabaikanku. Kau tak pernah membalas suratku, sampai tahun kelima ketika kau akhirnya mau menerimaku.

Tapi Joon, aku tak benar-benar menyalahkanmu. Apa yang aku harapkan? Tentu saja kau akan marah, aku baru saja menikahi orang lain saat itu, tapi aku selalu mengejar-ngejarmu, padahal kau sedang berusaha untuk melupakanku. Maafkan aku, maafkan aku dan keegoisanku saat itu. Dan maafkan aku juga, yang sampai sekarang... tak bisa merubah perasaan itu. Sekeras apapun aku mencoba.

Joon kurasa aku memang tak waras. Cinta, bisa membuat orang jadi gila ya? Bahkan tanpa ramuan Amortentia sekalipun, aku sudah hampir kehilangan akal sehat karena mencintaimu. Terkadang aku merasa tak adil, kenapa... kenapa cinta kita dipersulit? Kenapa ada yang mendapatkannya dengan mudah sedangkan kita tidak pernah bisa bersatu?

Keluarga idaman, ya.. aku memang mengidamkan sebuah keluarga yang manis dengan seorang putri cantik atau putra yang tampan. Tapi aku mengidamkan keluarga itu bersama kau disisiku, Joonmyeon.

Sial. Maaf. Maafkan aku yang lagi lagi mengungkit soal itu. Semua itu sudah berlalu, dan kita seharusnya menjalani kehidupan masing-masing bukan? Dan Joonmyeon meskipun pemikiran ini bisa menyakitiku, tapi mulailah cari pasangan hidup baru. Kau sudah tak muda lagi, dan banyak gadis-gadis cantik yang aku yakin tertarik padamu. Carilah pasangan, lalu bentuklah sebuah keluarga. Aku... aku juga akan berbahagia untukmu. Aku janji.

Omong-omong, yeah, aku juga tak menyangka aku mengambil karier sebagai seorang healer layaknya Madam pomfey. Tapi aku menikmatinya, mengobati orang lain, membantu melepaskan mereka dari rasa sakit, entahlah... aku menyukai pekerjaan itu. Tapi walaupun begitu kesukaannku pada hewan-hewan gaib tentunya tak akan sirna. Hmm mungkin aku akan mengalihkan passion ku itu dengan menuangkannya ke dalam karangan buku, seperti Newt Scamander, eh?

Wow, benarkah Hutan Telarang masih tidak dilarang dimasuki? Well, tentu saja. Jika ia diperbolehkan di masuki, tentunya namanya tak akan jadi Hutan Terlarang, kau tahu?

Aku memang menceritakan banyak hal padanya, kepada siapa lagi aku berbagi selain padanya dan Malcolm? Dia mengingatkanku pada masa kecilku, tentu saja aku akan menceritakan banyak hal tentang diriku yang dul setiap ia akan tidur, termasuk petualanganku di Hogwarts, dan termasuk kenanganku bersama dirimu, well walau tentu saja belum semuanya. Oh, dan tentunya aku tidak menceritakannya di depan Malcolm, haha. Joonmyeon... jujur saja, Arlene sangat penasaran dengan sosok 'seseorang' yang aku gambarkan dalam ceritaku. Dia mengagumimu, sungguh. Aku tak bisa membayangkan wajahnya jika akhirnya ia tahu orang yang ku maksud adalah dirimu.

Baiklah Joonmyeon, aku percaya kau akan menjaga putriku dengan baik.

Oh dan sekali lagi, aku merindukanmu.

Sangat sangat merindukanmu.

Best Wishes,

YXZ.

.

.

OooO

Joonmyeon tengah terduduk sendirian di bangku penonton lapangan Quidditch, melihat tim Slytherin berlatih untuk pertandingan Quidditch lusa. Musim dingin sudah bersiap menyapa, angin yang membelai tubuh sudah mampu membuat bulu kuduk meremang kedinginan. Tidak salah ia memakai pakaian hangat—sebuah pakaian berserta mantel tebal yang dirajut oleh benang paling berkualitas di dunia sihir. Joonmyeon hampir tak merasakan seincipun dingin—well kecuali untuk bagian wajahnya.

Ia juga tak lupa mengenakan sarung tangan dan sebuah syal Slytherin—bermotif garis-garis dengan warna khas Slytherin, kombinasi silver dan hijau. Joonmyeon memperhatikan dengan seksama anggota tim asramanya yang mengenakan jubah hijau berlatih, melempar quaffle kesana kemari. Menaiki sapu terbang kebanggaan mereka masing-masing, bermanufer, bergerak tangkas. Berkelok, terkadang terlalu cepatnya hingga ia hanya bisa melihat kelebat-kelebat samar berwarna kehijauan di udara.

Marcus Flint memimpin tim, suaranya menggelegar memerintahkan anggota timnya untuk menuruti strateginya, termasuk Draco Malfoy yang benci aturan, memutar mata atau mengguman di bawah nafasnya saat Flint memerintahkan ini dan itu padanya.

Jujur, Joonmyeon cukup menyukai Quidditch dan ia diberkati dengan kemampuan terbangnya yang bisa dibilang mumpuni. Sapu terbangnya juga merek kenamaan, dibelikan Dad langsung dari Jerman. Ia berharap ia bisa masuk ke tim dan bermain untuk asramanya suatu hari nanti. Andai ia bisa masuk tim Quidditch asramanya, menjadi starting line dan membuktikan dirinya. Mungkin dengan itu ia akhirnya bisa membanggakan Dad.

Tapi tentu saja, dia hanyalah si Freaky Joonmyeon Kim. Anak Slytherin aneh nomor satu.

Semua memandangnya aneh, kecuali...

Kecuali—dia.

Yixing.

Ngomong-ngomong, ia dengar bocah itu sudah membaik. Dan serangan Basilisk pun mulai tak terdengar lagi. Tak ada lagi korban yang jatuh akibat seragan monster. Apakah semua masalah dengan monster itu telah selesai? Ia harap begitu.

Joonmyeon menduga ini pasti ada hubungannya juga dengan Harry Potter. Bagaimana bisa ia mendapat luka-luka di wajahnya seperti itu? Apakah jangan-jangan ia yang mengalahkan Basilisk? Sepertinya takdir si bocah yang bertahan hidup itu memang unik. Ia tak bisa jauh-jauh dari yang namanya masalah.

Entahlah. Terlalu rumit.

Joonmyeon tak tahu pasti apa yang sebenarnya sedang terjadi di dunia sihir. Ia hanya anak berumur 12 tahun yang biasa saja, yang berusaha membanggakan Ayahnya, yang disebut sebagai anak aneh—dan juga yang tengah dibuat bingung.

.

Dibuat bingung oleh seorang darah lumpur.

.

Ia tak tahu kenapa ia harus peduli, kenapa ia bahkan rela menghabiskan malam di Hospital Wing, di samping ranjang Yixing hingga ia ketiduran?

Ck. itu benar-benar memalukan!

Untung saat ia terbangun, Yixing masih dalam keadaan tertidur. Semoga ia tak menyadari kehadiran Joonmyeon di sebelah ranjangnya. Maka dari itu ia memutuskan cepat-cepat pergi dari sana dan masuk ke asramanya dengan langkah cepat. Ia terlalu malu.

"Joonmyeon,"

Ia tersentak. Ia terlalu tenggelam dalam fantasinya hingga ia tak menyadari ada yang mendudukan diri di sampingnya. Dan saat ia menoleh, ia seperti kehilangan kata-kata. Bibirnya seperti dibungkam mantra.

Kenapa harus dia? Kenapa harus sekarang? Panjang umur sekali.

Joonmyeon menggeram galak untuk menutupi kegugupannya. Ia berharap Yixing tak menyadari gerakan matanya yang panik. "Apa yang kau mau? Sudah kubilang jangan dekati aku, darah lum—"

"Terima kasih!" potong Yixing dengan nada ceria, senyumnya begitu lebar dan hangat. Dari jarak ini, Joonmyeon menemukan sebuah fakta—Yixing ternyata sebuah punya lesung pipi di pipi kanannya saat ia tersenyum. Baiklah, itu adalah sebuah fakta nan tidak penting sebenarnya.

Tapi sebentar, kenapa ia mengatakan terima kasih? Terima kasih untuk apa? Terima kasih karena sudah mengatainya darah lumpur, begitu?

"... Apa?"

"Terima kasih karena sudah menemaniku di hospital wing!" serunya.

Rahang Joonmyeon seolah ingin lepas ke tanah. Ia tak sadar ia membuka mulutnya lebar-lebar saking terkejutnya dia.

Tetapi ia buru-buru meralat ekspresinya, masih dengan gestur gelagapan yang tak terhinarkan. Yixing terkikik, menyatukan kedua tangannya di depan dada, "Terima kasih sudah menjagaku dan mengkhawatirkanku! Kau sungguh teman yang baik!"

Mulut Joonmyeon mendadak jadi susah digerakan, tergagap-gagap ia menyangkal, "Aku tidak mengkhawatirkanmu!" ia memekik, lengkap dengan kedua pipi yang memerah sempurna.

Ini karena dingin! Iya, karena dingin kok!

Yixing tertawa, begitu riang. "Sampai jumpa Joonmyeon!"

dan bocah itu pun bangkit dari bangku penonton, kemudian pergi dengan melompat lompat ceria menuruni undakan demi undakan stand penonton. Meninggalkan Joonmyeon yang memerah malu di kursinya, dan masih saja berusaha menyangkalnya dengan terus-terusan berseru lantang,

.

"Jangan terlalu percaya diri Zhang, aku tidak menghawatirkanmuuuu!"

.

.

OooO

.

1993

Harry Potter and The Prisoner of Azkaban.

.

Tahun Ketiga

.

"Well, siapa yang berikutnya ingin mencoba menyapa Buckbeak?" Hagrid berkelakar pada kumpulan anak-anak tahun ketiga di depannya yang berdiri di sebuah tanah lapang, hampir seluruhnya menampakan wajah ketakutan. Hagrid mencoba tetap sumringah meskipun ia sempat khawatir ketika Buckbeak— seekor Hippogrif peliharaannya— menyerang Draco tadi. Hippogriff adalah bangsa makhluk legendaris sejenis Griffin, berwujud setengah burung rajawali setengah kuda. Kepala dan badan depannya menyerupai rajawali sedangkan tubuh bagian belakangnya berupa kuda.

Jelas terdapat kekhawatiran yang dalam pada diri guru baru Pemiliharaan Satwa gaib itu—tentunya bukan semata-mata karena mengkhawatirkan Draco Malfot. Lebih karena memikirkan nasibnya selanjutnya jika Malfoy mengadu pada Ayahnya.

Ayahnya punya cukup kekuasaan di Kementrian Sihir, ia bisa saja melakukan apapun, termasuk memecat Hagrid, atau melakukan sesuatu pada Buckbeak karena sudah menyerang putra kesayangannya.

Dan jujur saja, Joonmyeon menganggap Hagrid cukup gila karena ia masih meneruskan pelajaran konyol ini. Maksudnya hei, Draco baru saja diserang burung raksasa bersayap itu.

Joonmyeon bahkan masih bisa merasakan kengerian menggerayangi bulu romanya kala Hippogriff itu marah—dan bisa bisanya ia masih menawarkan pada muridnya siapa yang hendak menyapa mahkluk aneh itu?

Resmi sudah. Manusia raksasa itu memang sudah gila.

Yeah, memang harus ia akui, Draco saja yang terlalu berlebihan, merengek seolah tangannya baru saja putus padahal ia yakin luka yang diberikan oleh makhluk itu hanya sekedar goresan tak berarti.

Drama queen Malfoy.

Kalau sampai ada yang berani maju ke depan. Jaminan deh. Dia tolol seratus persen—

"Saya, Hagrid! Saya mau mencobanya!" suara seseorang dari barisan belakang, membuat mereka semua serentak menoleh. Setengah dari mereka menatap ngeri, nyaris tak percaya. Seorang murid yang kehilangan akal yang memberanikan diri untuk menyentuh Buckbeak itu lagi setelah apa yang dilakukannya pada Malfoy.

Oh. Pantas saja. Seorang Hufflepuff. Sudah biasa. Bertingkah konyol dan bodoh.

Dan sekarang siapa murid Hufflepuff yang dengan bodohnya menyerahkan 'nyawa' itu—

.

... tunggu sebentar. bukankah itu Yixing?!

.

Apa—yang benar saja?! Apa dia sudah tidak waras?!

.

Yixing tersenyum lebar, yang disambut Hagrid dengan sebuah senyum atas keberaniannya. Sekali lagi murid-murid menahan nafas, termasuk Joonmyeon. Ia bisa merasakan kengerian berkali-kali lipat daripada yang ia rasakan pada Potter yang pertama kali mencoba mah

Tapi sepertinya berbeda dengan Yixing. Bocah berumur 13 tahun itu maju ke depan dengan langkah pasti, tanpa sedikit pun rasa takut seperti Potter tadi. Bahkan ia bisa-bisanya tersenyum sebegitu sumringahnya seolah ia hendak mendapat sebuah hadiah yang begitu berartu.

Kau bisa saja dipatuk olehnya dan bisa-bisanya ia tersenyum seperti itu? Tolong, otak Zhang pasti tercecer di perjalanan dari kastil menuju kesini.

Buckbeak yang baru saja selesai makan langsung menoleh, menatap tajam Yixing. Yixing melangkah lagi, dan Buckbeak ikut maju ke depan—Joonmyeon hampir mati karena menahan nafas terlalu lama.

Merlin, dia ketakutan! Bagaimana jika ia diserang seperti Malfoy huh? Hagrid ingin bertanggung jawab?!

Yixing berhenti sejenak, sementara Buckbeak siaga dengan keempat kakinya, siap menyerang kapan saja jika Yixing membuat pergerakan tergesa.

Yixing bergerak untuk merundukan badan—membungkuk sebagai penghormatan.

Bucbeak meringik, mengangkat kakinya—Joonmyeon sudah ancang-ancang untuk meraih tongkat sihir dan menangkis serangan Buckbeak pada Yixing kalau dibutuhkan—tapi mendadak diurungkannya, melihat Buckbeak ternyata ikut merundukan kepala, tanda bahwa ia menerima kehadiran Yixing.

Yixing tersenyum makin lebar, kemudian mendekati makhluk Hippogriff itu dan mengelus-elus kepalanya dengan gerakan telaten dan lembut. Bahkan Buckbeak tak segan-segan untuk mendekur dibawah sentuhan Yixing.

Barulah saat itu Joonmyeon bisa melepaskan nafasnya, menghela nafas lega. Jujur saja ia tak sadar sejak tadi ia menahan nafas. Ia bahkan tak sadar juga jika sedari tadi Hagrid ada di sampingnya, kalau saja ia tak membuat komentar—

"Tidak perlu sekhawatir itu padanya, Mr. Kim. Dia baik-baik saja,"

Wajahnya merah padam, entah karena marah atau karena malu. Maka ia pun mendesis galak pada Hagrid,

"Diamlah, aku tidak khawatir!"

Hagrid hanya tersenyum penuh arti di balik janggutnya.

.

Ah, dasar cinta monyet.

.

OooO

.

Besoknya, mereka ada kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam—PTIH—yang diajar oleh seorang guru baru. Professor Remus Lupin. Dia seorang guru yang menyenangkan dan ramah. Jelas lebih baik daripada dua professor yang sebelumnya. Dan hari ini, Professor Lupin akan memperkenakan kepada Boggarts.

Sejujurnya baru pertama kali ini ia mendengar tentang Boggarts. Ia tidak sempat membaca buku apapun sebelumnya tentang Boggarts. Tetapi Professor Lupin tentu saja memberikan mereka sebuah penjelasan di awal pelajaran. Memberi tahu murid-muridnya mengenai apa itu Boggrats.

Boggarts.

Tidak ada yang tahu bentuk persis Boggarts.

Yang diketahui mereka, sesuatu itu—boggarts, entah apapun itu, kini tersimpan rapat di dalam sebuah lemari tua yang kini diletakan di depan kelas PTIH. Boggarts adalah perwujudan ketakutan siapapun yang ada di depannya. Dan kini murid tahun ketiga itu berbaris ke belakang dengan antusias, bersemangat untuk mencoba memantrai boggarts dan melawan ketakutan mereka.

Joonmyeon bisa merasakan rasa takut mulai menggerayangi tubuhnya, terlebih melihat lemari itu sesekali bergerak, seolah ada sesuatu yang berbahaya yang hendak mendobrak keluar. Ketika kau telah berhadap-hadapan persis dengan lemari itu—dan lemari dibuka, Boggarts akan mengambil bentuk yang paling ditakuti seseorang—entah itu orang, hewan, tanaman, monster—apapun itu. Ia bisa menjadi bentuk apa saja yang paling ditakutinya untuk saat ini.

Dan bagaimana jika boggarts itu lantas berubah menjadi Dad?

Professor Lupin meminta mereka melawan Boggarts dengan meneriakan mantra "Riddikulus!" secara lantang. Ia bertitah bahwa sebenarnya yang bisa mengalahkan Boggart adalah tawa, jadi kita harus bisa menguasai ketakutan kit dengan memikirkan benda paling menyeramkan itu menjadi sesuatu yang menggelikan, seperti dari ular yang mengerikan menjadi badut. Ucapkan mantra "Riddikulus", dan Boggarts yang menjelma menjadi ular itu akan benar-benar menjadi seorang badut yang lucu—seperti apa yang dilakukan Parvati Patil sekarang.

.

Dan kini tibalah gilirannya.

.

Joonmyeon menegak ludah, melangkahkan kakinya ke tengah ruangan dan menyiapkan tongkat sihirnya, mencengkramnya erat-erat. Ia bisa merasakan tangannya basah karena keringat, ia cemas. Menatap badut di tengah ruangan, bergerak ke depan ke belakang dengan senyumnya. Dan seketika, badut lucu itu berubah bentuk. Secepat kilat berubah menjadi sesuatu yang ditakutinya —

Dad.

Tentunya ia tak terkejut.

.

Dad.

.

Sejak dulu ia memang menjadi salah satu sumber ketakutannya.

.

"Joonmyeon..." panggilnya dengan suara parau, "anakku," Ia tahu yang didepannya ini bukanlah Dad yang asli. Tapi suara Dad yang hampir persis dengan yang asli mampu membuat sekujur tubuh Joonmyeon merinding. Dad...

Tapi tiba-tiba Boggarts Dad menghilang detik berikutnya—tunggu. Joonmyeon belum memantrainya kan? Kenapa tiba-tiba dia sudah berubah? Dan ternyata ia tak benar-benar menghilang begitu saja. Boggarts Dad berubah wujud lagi untuk kedua kalinya. Kini beralih bengambil bentuk menjadi—

Yixing Zhang.

Joonmyeon sendiri terkaget. Ia tak menyangka ketakutan terbesar bawah sadarnya selain Dad, adalah Yixing? Yang benar saja?! T-tapi ia tak takut padanya . Ia... ia hanya...

Dari tempatnya, ia bisa merasakan tatapan aneh teman-teman sekelasnya mengarah padanya. Demi Merlin, tidak ada bagi dari Yixing yang menakutkan.

Tapi kenapa boggartsnya berubah menjadi dia? Kenapa?

Yixing disana sama seperti Yixing asli—yang ia yakin tengah berdiri terheran heran di sisi ruangan. Tetapi sorot matanya berbeda. Tak ada sorot hangat dan polos disana.

Yang ada hanya sorot jahat, sorot penuh kebencian kala ia berkata—

"Joonmyeon Kim," desisnya penuh murka. Joonmyeon mengeratkan pegangan pada tongkat sihirnya ketika ia bisa merasakan tangannya mulai gementar. Jantungnya mulai berdentum cepat, tak terkendali. Boggart dalam wujud Yixing menyeringai lebar, dan ia makin melangkah mendekat.

Joonmyeon mundur ke belakang, mengacungkan tongkat sihirnya. Bibirnya terkatup, antara geram dan takut.

"Joonmyeon, Joonmyeon, Joonmyeon..." panggil boggart itu dengan suara dingin, sedingin aura dementor yang hendak menghisap jiwa,

"Oh, Joonmyeon Kimmmmm," panggilnya sekali lagi dengan suara yang sengaja dibuat-buat, membuat bulu roma siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri, terlebih melihat seringai itu tergores dengan jelas di bibirnya. Ia terkikik mengerikan.

.

"Tak ada yang menyayangimu, freaky Kim... "

.

Ia mendekat dan mendekat, seiring dengan seringai Yixing makin melebar,

.

"Tak ada yang peduli padamu. Semua orang kecewa padamu—"

Ia mendesis galak,

.

"Aku membencimu. Amat sangat membencimu—"

.

"Riddikulus!"

.

Joonmyeon lantang sembari menunjuk boggart itu dengan tongkat sihirnya, dan secepat kilat sosok Boggart Yixing menghilang—tergantikan oleh seekor kelinci lucu yang melompat-lompat di lantai.

Sesaat kelas menjadi hening.

Joonmyeon mendongak, ia bisa melihat teman sekelasnya berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan. Dan diantara kerumunan kelasnya, ia bisa menangkap sepasang mata cokelat hazelnut indah—bola mata itu membesar, menyorot penuh keterkejutan dan meneriakan tanda tanya besar di netranya.

Tapi dari balik rasa terkejut itu, Joonmyeon bisa menangkap hal lain berenang-renang disana—kekhawatiran. Sorot yang begitu berbeda dengan boggart tadi. Kontras—

—karena boggart tadi memang bukan Yixing.

.

Boggart tadi membencinya, tetapi Yixing tidak.

.

Ia baru menyadari, ia takut...

.

Ia takut Yixing membencinya.

.

OooO

.

Berbekal Buku Tumbuhan Mistis yang ia tak sengaja temukan di rak paling sudut perpustakaan, kemudian menyimpan buku itu dijubahnya, Joonmyeon melangkah keluar kastil dengan kepala melongok kesana-kemari, memastikan tak ada yang mengikuti langkahnya. Ia tahu tidak akan ada yang peduli pada apa yang akan ia kerjakan lagipula, tapi well— hanya berjaga-jaga. Karena masuk hutan terlarang bukan sesuatu yang legal menurut peraturan sekolah. Ia bisa dapat masalah besar jika ketahuan—dan itu sangat merepotkan.

Ia melangkah ringan, sesekali membenahi jubah yang ia kenakan untuk mempermudahnya menyelinap, termasuk ketika ia harus melewati Pohon Dedalu Perkasa yang bernafas ritmis. Asal ia tak membangunkan pohon hidup itu, maka semua akan baik-baik saja.

Joonmyeon melangkah, melewati akar akar pohon yang arang melintang, sesekali harus rela memanjatnya karena akar itu terlalu besar. Ia masuk ke Hutan Terlarang dengan satu tangan siap sedia mencengkram tongkat sihir, jaga-jaga jika ada sesuatu yang mungkin bisa menyerangnya. Meskipun mantra yang ia kuasai belum sebanyak penyihir handal, ia yakin ia bisa mengatasinya. Lagipula apa sih yang akan muncul tiba-tiba di Hutan Terlarang? Walaupun memang tampak gelap dan menyeramkan, Joonmyeon tak terlalu percaya ada makhluk-makhluk semengerikan itu di dekat sekolah. Yang benar saja? Mungkin hanya semacam lintah besar, dengusnya geli.

Seiring ia berjalan masuk lebih dalam dan dalam, pepohonan yang berjajar menjadi makin tinggi, besar dan rapat. Hawa dingin mulai menelisik raga, dan kegelapan makin menghadang, meski nyatanya ini baru menjelang sore hari dan matahari masih cukup membumbung tinggi. Joonmyeon menelusur, lebih dalam dan lebih dalam lagi dengan satu tangan menyangga buku. Ia perhatikan langkahnya, memastikan ia memang benar-benar melangkah sesuai arah yang tertera di halaman. Ia memasuki pepohonan lagi, dan saat ia melihat hamparan Danau Hitam, ia tahu destinasinya sudah semakin dekat.

Inilah dia.

Joonmyeon berhasil mencapainya.

Diantara semak-semak, terdapat sekumpulan bunga-bunga berkuncup berwarna merah, ukurannya sebesar telapak tangan.

Cantik.

Cantik sekali.

Sekumpulan bunga Arlaune.

Bunga langka yang tumbuh di hutan terlarang. Bunga yang unik.

Di dalam kuncup bunga, hidup seorang wanita kecil, terlanjang setinggi kelingking, berambut merah panjang dan menyentuh kaki. Saat musim semi, bunga ini akan berwarna merah, tanda bahwa ia tengah matang. Dan saat ia mengelus kelopaknya sebanyak tiga kali, kelopaknya akan terpapar terbuka. Menampakan makhluk kecil di dalamnya, dan mereka secara otomatis akan menari. Ketika mereka bernyanyi dan menari, dari ujung ujung rambutnya akan keluar serbuk-serbuk emas. Serbuk emas itu akan jadi pupuk mujarab sekaligus penawar racun.

Well, selain memang murni dilatar belakangi oleh rasa penasaran yang mendesak, Joonmyeon juga membutuhkannya untuk keuntungannya sendiri. Ia rasa bakat-bakat licik Slytherin sudah terlanjur mengakar pada dirinya.

Joonmyeon membutuhkan serbuk serbuk ini untuk menyempurnakan pertumbuhan tanaman proyek tugas rumah Herbologi Professor Sprout. Mereka diberi tugas untuk menanam Valerian—sebuah tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan ramuan pelupa, ramuan tidur, dan nafas api. Siapa yang bisa menanam valerian dengan bentuk sempurna, ia akan mendapat bibit Gillyweed yang langka dari Professor Sprout. Dengan diberinya serbuk ini, ia yakin tanamannya akan tumbuh subur dan sempurna.

Kebetulan ini adalah musim semi, sehingga Joonmyeon memiliki kesempatan untuk mengambil serbuk serbuk itu. Ia mendekatkan tangannya ke salah satu bunga, mengelusnya sebanyak tiga kali, sebelum kelopak bunga itu membuka. Joonmyeon dibuat menganga takjub kala ia bisa melihat wanita mungil itu disana, berambut panjang, cantik dan—uh-oh, bahkan dia benar-benar telanjang!

Makhluk kecil itu mulai bernyanyi dan menari. Dan seketika ujung rambut merahnya yang panjang menyentuh kaki itu mengeluarkan serbuk keemasan. Joonmyeon dengan sigap meraih kantung kainnya, kemudian dengan cekatan bergerak untuk mewadahi serbuk-serbuk itu ke dalamnya, tak membiarkannya lepas begitu saja.

Joonmyeon tersenyum lebar, ia melakukan hal itu pada setidaknya dua hingga tiga bunga. Beriringan mereka menyanyi dan menari. Seperti ia sedang melihat sebuah pertunjukan musik—benar benar menakjubkan.

Ia menunggu sampai makhluk kecil itu menyelesaikan nyanyian dan tarian mereka, dan kuncup bunga itu kembali menutup rapat. Joonmyeon memberikan tepuk tangan kecil sebagai apresiasi kepada makhluk makhluk itu yang sudah berhasil 'menghibur' dirinya. Sudah sejak lama. Sudah terlalu lama sekali ia merasakan perasaan serileks ini—sedamai dan semenyenangkan ini.

Murid tahun ketiga Slytherin itu menarik tali kantongnya yang telah terisi penuh serbuk emas Arlaune, dan memastikannya terikat rapat-rapat. Setelah selesai, ia memasukannya dengan aman ke dalam jubahnya.

Ia memutuskan untuk kembali ke kastil sebelum jam malam tiba. Ia akan dapat masalah kalau ia terlalu lama disini. Ia sudah mendapatkan apa yang ia cari lagipula. Joonmyeon mengambil jalan yang sama dengan jalan ia masuk tadi, melewati pohon demi pohon. Sembari sesekali ia manfaatkan dirinya untuk melihat 'pemandangan' menyeramkan hutan terlarang, melihat kesana kemari, terutama pada tumbuhan tumbuhan unik apa yang ia bisa ia temukan disana.

Terkadang Joonmyeon berpikir, embel embel Hutan Terlarang hanya akan menghalangi para siswa menemukan keajaiban-keajaiban yang sebenarnya mereka bisa temukan di dunia sihir. Seperti di hutan ini, kau tak akan tahu jenis makhluk unik apa yang bisa kau temukan di dalam sini.

Joonmyeon baru saja turun melompati sebuah akar raksasa saat ia melihat bayangan dari balik pohon—dua orang, sebuah centaurus dan—

Apakah ini hanya halusinasiya mata atau itu memang benar-benar—Yixing?!

Bocah Hufflepuff itu menempelkan punggung ke batang pohon, dan ada seekor centaurus—mereka seperti kuda, tetapi memiliki badan manusia—tengah berdiri tegak di hadapannya. Apa yang dilakukannya disni? Kenapa bocah muggle itu selalu meletakan dirinya dalam bahaya sih?! Kenapa juga ia tak menyerang, dasar idiot!

Joonmyeon bersembunyi di balik pohon, berusaha menormalkan kerja jantungnya yang berdebam,. Ia tegang, ia takut. Tapi selama ia punya pertahanan—selama ia punya tongkat sihirnya dan mantra yang siap untuk dirapal, ia dan bocah itu akan baik-baik.

Perlahan-lahan ia menarik tongkat sihirnya dari jubah. Ia tak ingin membuat gerakannya banyak karena ia takut centraurus itu bisa mendenganya. Beruntung ia terlalu terfokus pada Yixing. Kenapa ia menolongnya, kau bertanya? Karena jelas tak akan menang melawan centaurus setinggi itu, tapi jika mereka berdua yang menolongnya, siapa tahu? Lagipula menyelamatkan Yixing berarti menyelamatkan mereka berdua, bukan begitu? Kalau centaurus itu belum dilumpuhkan, Joonmyeon juga tidak bisa kembali ke kastil. Membuang nafasnya, Joonmyeon menarik tongkat sihirnya, menunjuk tepat ke arah centaurus itu dan berseru—

"Petrificus Totalus!"

Sebuah cahaya putih secepat kilat melesat, mengenai bagian kaki centaurus itu. Secara otomatis, centaurus itu meringik kala kedua kakinya mengkaku, dan ia pun oleng ke tanah. Yixing tampak kaget, menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya. Joonmyeon buru buru meninggalkan pohon tempat ia bersembunyi dan berlari ke arah Yixing, tongkat masih teracung siaga ke arah tubuh sang Centaurus yang terbaring di tanah Hutan Terlarang yang dingin.

"Menyingkirlah sebelum ia bangun Zhang!" ia berseru, menoleh ke arah Yixing saat ia telah berada di sampingnya, "Kau oke? Kalau kau terluka ini akan menjadi sangat merepotkan."

Yixing akhirnya mendongak, mengerjapkan mata. "Yeah, aku oke," gumamnya, "Tapi aku memang tidak sedang dalam bahaya,"

"Apa?" Seketika ia terperangah. Tunggu? Jadi aksi heroiknya tadi sia-sia? The fuck, hanya buang buang tenaga saja. "Tapi tadi aku melihat ia menyudutkanmu ke pohon,"

"Kami hanya sedang bicara kok. Lagipula Centaurus ini, aku mengenalnya sejak tahun kedua, dan kami berteman baik—" ia mendekat ke arah centaurus yang pingsan itu, kemudian mengelus tubuhnya dengan sayang, "Namanya Mr. Bucky. Dia temanku," ujarnya sambil tersenyum.

"Teman?" tanyanya dengan nada tak percaya, "Apa kau gila?"

"Tidak, aku hanya menyukai mereka. Hewan-hewan gaib memang luar biasa," ia lantas menghela nafas, "Well, tak ada yang bisa aku lakukan selain menunggu sampai Mr. Bucky bangun," Yixing menoleh, memiringkan kepalanya ke samping kiri, "Oh ya—meskipun salah sasaran, tapi terima kasih kau sudah khawatir padaku,"

"Percaya dirimu terlalu tinggi, Zhang. Aku tidak khawatir padamu," ia menekankan kata per kata, mendesis penuh kesal, "camkan itu,"

Yixing mengabaikannya, dan justru semakin memperlebar senyumnya. Bodoh, memang. "Omong omong, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya penasaran. "Dan kenapa kau membawa buku itu?" dagunya menggidik ke arah buku yang ada di genggaman Joonmyeon.

Ia buru buru menyembunyikannya di balik punggungnya, membalas sengit, "Bukan urusanmu,"

"Kau... " ia memiringkan kepala, "mengambil suatu tanaman dari Hutan Terlarang ya?"

Joonmyeon tertegun. "Apa?"

"Well," Yixing menggaruk kepalanya, "Aku memperhatikan kau selalu dapat nilai Outstanding di Hebrologi jadi... yah, kupikir kau menyukai Herbologi. Dan kepentinganmu ke Hutan Terlarang aku tebak tidak jauh-jauh dari tanaman,"

Joonmyeon memicingkan mata hitamnya yang sehitam arang. "Kau... memperhatikanku?"

"Eum..." ia mengalihkan pandangan. Apakah ini hanya permainan mata saja semata atau bukan—tapi benarkah pipi Yixing berubah agak kemerahan? "Sulit untuk tidak melakukannya..." gumamnya rendah, yang membuat Joonmyeon ikut tertular penyakitnya barusan—pipi memerah. Merlin, dia tidak demam kan?

"Arlaune,"

Yixing mengerjapkan mata, "...Sori?"

"Arlaune, aku datang kesini untuk Arlaune," jawab Joonmyeon jujur.

"Apa itu?"

"Kau belum pernah mendengarnya?" ia mendengus, keras-keras.

Yixing menggeleng, dan Joonmyeon menghela nafas sebagai respon, kemudian mulai menceritakan apa itu bunga Arlaune, fungsinya, hingga letaknya—dan Yixing menyimaknya dengan sungguh-sungguh. Tampak takjub dan terkesima dengan penjelasan menemukan orang lain yang tampak setertarik itu dengan Herbologi dan Joonmyeon... Joonmyeon menghargainya.

Hari ke hari, ia semakin kesulitan menemukan alasan untuk membenci Yixing.

Dan tanpa sadar, Joonmyeon biarkan pintu pertahanannya mulai terbuka, sedikit demi sedikit. Seinci demi seinci. Membiarkan Yixing masuk, mengenalinya, menyapa dunianya, dan mengetahui dirinya yang biasa ia simpan rapat-rapat pada dunia. Begitu pula dengan lelaki itu—bagaimana ia dengan antusiasnya menceritakan pengalamannya, rasa terpesonanya pada segala hal di dunia sihir yang penuh hal-hal ajaib, kesukaannya pada makhluk makhluk gaib.

Tanpa sadar... tanpa sadar benang itu pun mulai terajut dengan sendirinya.

"Aku akan ke kastil," ia bangkit dari akar tempat ia dan Yixing duduk sedari tadi. Ia mengernyit mendapati Yixing tak sedikit pun menunjukan pergerakan yang sama, "Kau tidak mau ke kastil? Atau kau lebih memilih mati disini dan dimakan Centaurus itu?" tanyanya sarkastik.

Yixing mendengus"Lucu sekali, centaurus tak makan manusia," ujarnya, "Tapi tidak, kau duluan saja. Aku mau menemani Mr. Bucky bangun, mungkin sekitar sepuluh menit lagi,"

"Terserah lah," Joonmyeon beranjak, tetapi tangan Yixing menahan jubahnya, mau tak mau membuatnya menghentikan langkah, "Apa?"

"Jadi..." Yixing melepaskan genggamannya dari fabrik jubah Joonmyeon, bangkit berdiri dan berhadap hadapan dengan lelaki itu. Tanpa basa basi ia mengulurkan tangan,

"Jadi kita berteman kan mulai sekarang?"

Bola mata cokelat itu berkilat-kilat, penuh harap.

Joonmyeon memandangi telapak tangan Yixing yang terulur selama beberapa saat, berdecak kesal kemudian berjalan melewatinya begitu saja. Ia melangkah tanpa sedikit pun menoleh, meskipun Yixing berseru,

.

"Diam berarti iya!"

.

Dan yeah,

Joonmyeon pun tak berusaha menyangkalnya.

.


bersambung.


Kepala asrama: semacam wali atau pemimpin asrama yang bertanggung jawab kepada murid murid tiap asramanya. Slytherin: Prof. Snape, Hufflpeuff: Prof. Sprout, Gryffindor: Prof. McGonagall, Ravenclaw: Prof. Flitwick.

Manor: Rumah untuk kelas bangsawan, luasnya hampir sebesar kastil. Biasanya para penyihir kaya yang memiliki rumah jenis ini, terutama Malfoy Manor.

Hospital Wing: Semacam UKS yang ada di Kastil Hogwarts, perawat yang bertugas disana adalah Madam Pomfrey.

Quidditch: Semacam game sepak bola tapi dalam dunia sihir, dan setiap pemain menaiki sapu terbang. Ada 7 pemain, satu keeper bertugas menjaga 3 gawang yang berbentuk lingkaran di ujung tiang berukuran 15 m. Dua beater yang bertugas menjaga para pemain dalam tim masing-masing dari bludger dengan memukulnya. Terkadang beater juga memukul bludger ke arah pemain di tim lawannya sehingga pemain di tim lawannya itu terjatuh dari sapu. Tiga chaser yang bertugas mencetak gol bagi tim masing-masing. Setiap seorang chaser berhasil memasukkan quaffle ke dalam lingkaran di ujung tiang yang dijaga keeper lawan, akan diberikan 10 poin bagi timnya masing-masing. Dan satu Seeker untuk mencari Golden Snitch yang berbentuk seperti bola kecil dengan sayap di kedua sisinya, snitch akan terbang kesana kemari secepat kilat. Bila salah satu seeker berhasil menangkap snitch, maka tim dari seeker yang berhasil mendapatkan snitch itu akan mendapatkan 150 poin

Bola dalam Quidditch: ada tiga jenis 'bola'. Bludger adalah bola berwarna hitam legam dari metal yang sudah disihir untuk menjatuhkan para pemain dari sapunya. Golden Snitch adalah bola emas bersayap yang dapat terbang dengan kecepatan super tinggi dan dapat berputar 360 derajat. Dan Quaffle adalah bola biasa berwarna merah, yang tidak diberi mantra apapun seperti bola lainnya dalam Quidditch. Satu-satunya mantra yang diberikan pada Quaffle adalah Mantra Genggam yang ditemukan oleh Pennifold, yang gunanya supaya pemain dapat mengenggam Quaffle dengan satu tangan tanpa terjatuh.

Petrificus Totalus: Adalah mantra untuk membuat anggota tubuh menjadi kaku. Berefek sampai beberapa jam.

Riddikulus: mantra untuk menangkal Boggarts, merubah sesuatu yang mengerikan menjadi hal hal yang lucu.


A/N: Hai, kembali lagi dengan saya, ff ini mungkin cuman sampe chapter keempat XD dan tinggal satu chapter lagi dalam proses pengetikan lalu tara... endAnyway yang bagian buckbeak, itu adalah bagian yang saya modifikasi. Kalo ada yang masih inget, setelah Draco diserang Buckbeak, kelas langsung diakhiri oleh Hagrid. Sedangkan disini kelas tetep lanjut wkwk.

Kalau ada pertanyaan, kritik atau saran boleh ditulis ke kolom Review :D terima kasih sudah mampir, terlebih menyempatkan memberi kritik dan saran. Saya sangat sangat sangat sangaaaat mengapresiasinya. Sampai jumpa di chap berikutnya