-YOUR BLOOD MY BLOOD–
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Crime, Romance
Rating : T eer.. bisa berubah sesuai jalan cerita.
Pairing : SasuNaru
Warnings : Gaje, Abal, OOC, Typo(s), Gaje, Yaoi
Don't Like Don't Read!
Summary : Bunga Matahari selalu mekar saat Mentari bersinar
Tapi kegelapan malam membuat Matahari menjadi layu
Ketika malaikat mencabut nyawa manusia dengan hati munafik
Yang terindah untukmu, bola mata biru 'Uzumaki Naruto'
"Korban bernama Yamanaka Ino. Wanita berusia 20 tahun, Pekerjaan sebagai wanita penghibur di Klub Malam Yamato. Tinggal dengan adiknya di Tokyo, orang tuanya meninggal dunia 5 tahun yang lalu, Di kisarkan meninggal pukul 22.30. Di temukan meninggal dekat Tong sampah di Perfektur C pukul 23.05"
Saat Naruto mendengar nama Ino wajahnya berubah menjadi pucat.
"I…Ino?" Katanya tergagap-gagap.
"Apa kau mengenalnya Nar?" Tanya Sasuke sambil memegang pundak Naruto untuk menenangkan hati kekasihnya itu.
"I…Ino, dia…te…teman baik ku dulu…" Jawab Naruto yang tanpa dia sadari air matanya sudah jatuh ke pipi dan tangannya "Ta…tapi itu dulu sekali," lanjutnya sambil terbata-bata.
"Lalu apa kau tahu dia punya musuh apa tidak, dulu?" Sela Suigetsu yang melontarkan pertanyaan langsung.
"Dulu dia anak yang baik, dia juga tidak pernah punya musuh... tapi aku tidak tahu detilnya bagaimana," Naruto mulai menceritakan semuanya.
"Lalu saat di tempat kejadian dan menemukan mayat saudari Ino apakah kau melihat hal yang mencurigakan?" Tanya Suigetsu lagi untuk memperjelas cerita Naruto.
"Ti…tidak… hanya itu saja..." jawab Naruto singkat dan tak bisa membendung lagi air matanya lagi.
"Terima kasih Naruto atas informasinya, lalu Sas..." Belum sempat Suigetsu melanjutkan kata-katanya tiba-tiba terputus dengan datangnya seseorang.
"SIAPA YANG TEGA MEMBUNUH NEECHAN? AKAN KU BUNUH DIA!" mendobrak pintu, teriak seorang pemuda berusia belasan yang dirasa adalah adik dari Ino dengan menangis dan marah.
"Tenang saudara Sora, kami sedang mengusahakan menemukan pembunuh kakak anda, ingat ini di kantor polisi!" Salah satu penjaga polisi itu mencoba menenangkan Sora.
"Sora coba kau tenangkan dirimu," kata seorang pria disebelahnya yang sedari tadi memegang tangan Sora.
"Tapi Shino! A…Aku tak bisa me…membiarkan pembunuh kakakku berkeliaran begitu saja. Apa kau mengerti sakitnya hati seseorang adik yang di tinggal kakaknya dengan kematian yang mengerikan ini!" Teriak Sora yang sudah memuncak amarahnya dengan menangis lalu terduduk ke lantai melepaskan emosinya, menutupi muka dengan kedua tangan di antara kakinya.
Setelah beberapa saat mencoba menenangkan Sora yang sedang di kendalikan amarahnya, Sora bisa tenang dan mengendalikan emosinya.
"Duduklah dulu." Sora menuruti kata Suigetsu dan duduk di sebelah Sasuke dan Naruto.
"Ceritakan kejadian sebelum kakak anda meninggal," lanjut Suigetsu mulai mengintrogasi Sora.
"Sebelum neechan meninggal, dia pernah berkata kalau akhir-akhir ini sering di ikuti seseorang. Dan aku berjanji untuk menjemputnya setiap pulang kerja. Suatu malam saat neechan pulang kerja, dia menelepon hanphone ku, waktu itu aku sedang tidur dan aku lupa untuk menjemputnya. Tersadar jam wekerku berdering, aku teringat untuk menjemputnya."
"Saat itu sekitar pukul berapa?" Sela Reita.
"Saat itu pukul 22.45. Setelah aku pergi ke kantor neechan, katanya dia sudah pulang. Aku mencari-cari dia disepanjang jalan yang sering di lewati neechan ketika pulang, tapi tak berhasil menemukanya. Aku pasrah dan kembali ke rumah. Kupikir mungkin neechan sudah berada di rumah." Jelas Sora panjang lebar dengan suara bergetar menahan tangis dan penyesalan.
"Apa hanya itu saja?" tanya Suigetsu kembali.
"Ya… tak ada," Jawab Sora sambil mengeratkan pegangannya pada Shino.
"Baiklah, kalau begitu kalian kembali beristirahat di rumah. Aku akan kembali menyelidiki khasus ini dulu. Jika ada apa-apa atau hal yang mencurigakan harap segera menghubungi saya. Anda boleh kembali sekarang." Kata Suigetsu.
Setelah Sora dan Shino keluar ruangan Suigetsu mengalihkan pandangan ke arah Sasuke dan Naruto.
"Untuk kalian berdua, saya masih memerlukan kalian berdua di sini."
"Kenapa?" Tanya Sasuke.
"Ini, saya menemukan sebuah kartu di dalam perut nona Yamanaka saat di otopsi kemarin," segera Suigetsu menyerahkan kartu berbentuk mawar hitam dengan berlian biru di tengah-tengahnya terbungkus plastik tersebut kepada Sasuke dan Naruto. Dibaliknya sisi kartu tersebut dan mereka membaca tulisan yang berada di sana.
"I…ini,"
Bunga Matahari selalu mekar saat Mentari bersinar
Tapi kegelapan malam membuat Matahari menjadi layu
Ketika malaikat mencabut nyawa manusia dengan hati munafik
Yang terindah untukmu, bola mata biru 'Uzumaki Naruto'
-BR-
"Ti…tidak mungkin jika ini menyangkut Naruto," kata Sasuke Syok setelah membaca surat tersebut.
"A…aku…" Naruto hanya bergetar ketakutan dalam pelukan Sasuke
"Saya juga sempat curiga, 'orang' itu ada hubungannya dengan saudara Naruto. Saat…" terpotong ucapan Suigetsu oleh seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf kami terlambat." Kata serempak dua orang yang baru masuk kedalam ruangan Suigetsu.
"Racoon, Shiro. Kalian berdua masuklah." Ujar Kepala Kepolisian tersebut mempersilahkan mereka berdua memasuki ruang kantornya. "Kenapa kalian terlambat?" lanjutnya bertanya.
"Tersesat di jalan yang bernama kehidupan," jawab Shiro seorang pria berambut putih, memakai masker di wajah dan menutup sebelah matanya.
"Melakukan penyelidikan dan baru menyelesaikan otopsi," jawab Racoon, pria berambut merah bata mempunyai tato di dahi bertulis 'ai' dan bulatan hitam dimatanya.
"Hah… jawabanmu tidak begitu bermanfaat dan berlasan Shiro." Omel Suigetsu.
Semua itu hanya di tanggapi dengan senyum misterius dibalik masker Shiro.
"Sasuke, Naruto. Kenalkan mereka adalah Detektif yang bertugas menyelidiki kasus ini. Yang berambut putih, bernama Hatake Kakashi bernama lain Shiro. Dia bertugas mencium jejak alat yang digunakan pembunuh, ahli strategi dan penembak jitu. Dan yang berambut merah, bernama Sabaku No Gaara dengan nama lain Racoon, dia yang bertugas bagian otopsi, menebak kejadian pembunuhan dan pemecah kode." Jelas Suigetsu
"Sasuke Uchiha,"
"Uzumaki Naruto," Ucap mereka berdua membalas perkenalan sambil berjabat tangan kepada mereka berdua secara bergantian.
"Lalu apa yang kalian temukan sekarang?" Tanya Suigetsu.
"Hm, Saat otopsi, yang kudapat adalah luka tusukkan di bagian dada dan leher. Sebagian mukanya di rusak menggunakan kater yang di temukan tak jauh dari TKP. Bagian matanya sengaja dicungkil sebelah, ginjal, jantung, dan jari manis pun tak ada di dalam tubuhnya. Tidak ada satupun sidik jari yang tertinggal di barang bukti maupun di tubuh korban," ujar Racoon.
"Aku juga tak menemukan jejak sedikit pun di TKP dan sidik jari. Pembunuhan tersebut sangatlah bersih tanpa cacat satu pun. Dari hasil yang aku duga pembunuh tersebut sangatlah professional." Lanjut Shiro.
Naruto yang mendengar hanya mengeratkan jemarinya pada tangan Sasuke saat mendengarnya. Sasuke yang merasa kekasihnya ketakukan, mengelus punggung tangan dan melingkarkan tangannya di pinggang Naruto.
Saat Naruto mulai tenang dalam pelukan kekasihnya dan mendengarkan laporan dari dua detektif tadi. Dia merasakan hawa dingin dan tatapan tajam yang mengarah padanya, membuat dirinya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari asal hawa tersebut.
"Ada apa?" Tanya Sasuke menatapnya langsung.
Naruto hanya menggelengkan kepala dan kembali mendengarkan pembicaraan Suigetsu bersama rekannya dan berfikir mungkin hanya perasaannya saja.
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
TBC
A/N :
Maaf lama, karna kesibukan aku yang harus pindahan ke bali, dan sesampainya disini dengan bodohnya lupa membawa ketikan fic ku yang tertinggal di Surabaya. Lalu aku tulis ulang dan saat ingin mempublis ternyata modemnya juga tak bisa di pakai. Ketika ingin mempublish di warnet, ternyata warnetnya juga jauh sekali, ternyata diriku tak begitu beruntung =='
Maaf, disini terlalu banyak dialognya karna saya tak begitu pintar untuk membuat latar belakang suasana m(_ _)m
Tetapi chapter selanjutnya, akan aku coba untuk membuat nya. Err… nanti di chap 3 akan ditambahkan ratednya jadi M. Aku membutuhkan senpai pembimbing yang mau membeta fic-ku, tapi tentang cara pembunuhan. Apakah ada yang berkenan?
Oh ya, saya mau tanya, mature dan canon itu apa?
Dan juga jika menulis dialog yang betul itu seperti ini
"Bla bla bla." Bla bla
Atau
"Bla bla bla." bla bla
Oh ya ada lagi, sebenernya warna mata Gaara itu apa sih? O.o
Saya harap senpai sekalian memberikan saya keritikan dan saran.
sorry tidak sempat bales review. mungkin akan saya bales di chap 3, maybe besok atau 1 minggu lagi. cz ini saya publish pke fasilitas kantor lol
Arigatou ^^
