[]
Semua orang di kampus tahu bahwa Sehun dan Luhan itu layaknya anjing dan kucing; mereka juga tahu bahwa Sehun dan Luhan dalam beberapa waktu terakhir cukup akur. Namun kali ini mereka melihat keduanya sangat berbeda.
Jika biasanya beberapa bulan lalu mereka akan melempar gunjingan kepada satu sama lain, atau beberapa hari yang lalu saling mengatakan 'bodoh' satu sama lain sambil berjalan beriringan, kali ini mereka hanya saling tatap kala berpapasan.
Rasanya kampus tanpa perkelahian mereka bagai sayur tanpa sambal; jika tidak ada, rasanya kurang sedap dan terkadang aneh.
Yixing yang sudah tahu hal ini akan terjadi santai saja dengan meminum tehnya, sedangkan Jongdae diam karena kebingungan.
"Mereka itu aneh sekali." katanya sambil mengunyah permen karetnya pelan. Yixing mengangguk setuju.
"Biarkan saja."
Sedangkan satu objek yang tengah jadi bahan perbincangan tengah gugup hingga merasakan keringat mengalir di kedua telapak tangannya karena menunggu Chaeyeon keluar dari kelasnya. Luhan mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Sebuah getar notifikasi mampir ke ponselnya.
Satu pesan dari Sehun.
'Jangan panik. Kau pasti bisa. Aku sedang menunggu Baekhyun dari kelasnya. Ingat skenarionya.'
Mereka telah membuat rancangan licik untuk membuat orang terkasih melihat, omong-omong.
Maka saat beberapa Mahasiswa mulai berhamburan keluar, Luhan siap pada posisinya dan bersiap melakukannya.
Sosok gadis mungil nan cantik mulai nampak setelah bercengkrama dan berpisah dengan beberapa Mahasiswi lainnya. Segera saja Luhan menghampiri dan menyetarakan langkah kaki.
"Jung Chaeyeon?" yang empunya segera menoleh, Luhan tersenyum lebar. "Eum, iya?"
"Mau pulang bersamaku?"
Tanpa Sehun dan Luhan sadari, sebuah perubahan akan terjadi. Dan itu tak ada kaitannya dengan sang pujaan hati masing-masing, melainkan sebuah kesadaran akan perasaan sesungguhnya.
[]
Baekhyun biasanya akan selalu menjemput kekasihnya pada pukul tujuh pagi lalu pergi ke kampus bersama dengan mobil yang dikendarainya.
Tetapi semua itu terjadi dua Minggu yang lalu. Karena saat ini ia tengah diboncengi oleh lelaki menawan dengan wajah bak pangeran—menurut pendapat Baekhyun.
"Baekhyun a." tutur Sehun hampir berteriak akibat suara mesin kendaraan lain yang mengganggu percakapannya dengan sang pujaan hati.
"Ya Sehunie?" jawab Baekhyun dengan suara imutnya membuat Sehun menahan senyum.
"Di persimpangan sana ada toko roti baru. Mau mampir sebelum kekampus? Kudengar roti melonnya enak."
Anggukan Baekhyun yang dapat Sehun rasakan dipunggungnya menjadi jawaban.
"Baekhyun a, aku akan mengebut." mendengar ucapan itu sontak saja si lelaki manis itu segera melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Sehun dengan erat. Menciptakan debuman di kedua hati yang kini sedang berbunga.
"Tinggal bilang saja kau ingin aku berpegangan padamu, dasar."
[]
"Buka mulutmu oppa. Aaa.." Luhan segera mengikuti instruksi Chaeyeon yang kini tengah berusaha menyuapkan satu potongan kimbap. Sang gadis menahan tawanya kala satu pipi lelaki yang beberapa hari ini selalu mengganggu pikirannya mengembung hingga kesulitan memakannya.
"Oppa lucu sekali!" ujar Chaeyeon dengan gelak tawa yang sudah tak dapat ditahan. Luhan yang sudah menelan makanannya segera membalas dendam dengan melakukan hal yang sama.
"Sekarang kita seri Chaeyeon a!" kini giliran Luhan tertawa dengan lepas saat melihat gadis cantiknya terlihat kesulitan makan; jelas saja ia memasukan dua potong sekaligus.
Pengunjung kantin yang melihat kedekatan keduanya tampak bingung. Namun mereka memilih diam dan mengisi perutnya, tak mau ambil pusing tentang Luhan yang kini bahkan sedang menyingkirkan anak rambut yang menghalangi pandangan Chaeyeon.
[]
"Sesuai rencana?" Sehun mengangguk sebisanya karena tangan dan mata yang fokus pada layar laptop. Jongin mengambil duduk disampingnya.
"Kami akan dinner besok malam." kata Sehun membuat Jongin mengacungkan jempolnya dan berkata 'good luck'.
Keduanya tenggelam dalam aktivitas masing-masing sampai Jongin menghentikan kegiatan menulis kala mengingat sesuatu.
"Bagaimana dengan Luhan?" Sehun yang merasa aneh pun segera mengalihkan pandangan.
"Kau bertanya seperti aku mencampakkan dia." Jongin tertawa sembari membalas "Memang benar kan?"
Sehun menghela nafas berat "Kami hanya sebatas rival yang berpartner."
"Aku tahu. Semua orang bertanya-tanya mengapa kalian nampak seperti orang yang tak kenal sama sekali." tanya Jongin sambil menyamankan posisi duduk "Ada yang bilang kalian berpacaran lalu backstreet agar orang lain tidak tahu."
"Aku dan si Kijang, berpacaran?"setelah menyelesaikan perkataannya Sehun tertawa terpingkal "Tidak akan pernah terjadi!"
Jongin yang biasanya mudah tertawa hanya dapat melihat Sehun dengan datar "Aku lebih setuju kau dengannya, dibanding bersama Baekhyun."
Sehun pun kembali pada ekspresi malas dan fokus kembali pada kegiatannya "Kau tidak akan kutraktir saat aku berhasil menembak Baekhyun."
"Oke."Jongin bangkit setelah merapihkan peralatan alat tulisnya dan berlalu setelah berkat "Tapi kau harus pertama yang memberitahuku saat kau rindu Luhan."
Sehun segera meraih botol air mineral kosong dan bersiap melempar ke arah Jongin yang telah pergi dengan lari kecil.
[]
Alunan gesekan biola dan tekanan tuts pada piano terdengar harmonis nan indah hingga membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut hanyut dalam nada yang tercipta, apalagi bila bersama pasangan.
Tetapi dari berbagai ekspresi orang lain, maka Luhan adalah pengecualian; matanya melirik layar ponsel dengan tidak tenang, lalu melihat jam yang berada dipergelangan tangan dan setelahnya merapihkan jas marun di tubuhnya agar terlihat tak kusut.
Malam ini, di restoran Perancis yang selalu di bicarakan anak kampus adalah malam yang membahagiakan dirinya. Terang saja karena ia akan kencan dengan si pujaan hati, Chaeyeon. Dan omong-omong hari ini juga dia akan menyatakan perasaan.
Mengingat tujuannya itu membuat hati Luhan berdegup keras; antara deg-degan, panik, senang, takut ditolak, pokoknya semuanya menjadi satu.
Sudah satu jam berlalu dari perjanjian mereka namun yang ditunggu juga belum datang. Luhan menahan diri untuk tak memukul kepalanya sendiri akibat menyetujui ucapan Chaeyeon yang memilih pergi sendiri daripada ia jemput.
Seketika pikiran negatif menyerang Luhan secara bertubi-tubi; apa Chaeyeon malu dengannya karena baru bisa menjemput dengan menggunakan kendaraan umum?
Tangannya baru ditempatkan ke satu telinganya dengan menelpon Chaeyeon sampai sosok tinggi yang sudah lama tidak ia jumpa berdiri menjulang dihadapannya memakai pakaian yang sama sepertinya.
Setelan jas dengan rambut yang rapih.
..dan juga terlihat keren?
"Hei." Sehun tersenyum tipis lalu duduk pada kursi yang seharusnya di tempati oleh Chaeyeon tanpa permisi, Luhan bersiap protes sebelum sang mantan partner melanjutkan "Kau menguntitku ya?"
"Enak saja!" seperti deja vu, Luhan segera menyangkal keras lalu hampir saja melempar gelas wine yang masih kosong. Sehun hanya tertawa.
"Kau tidak kreatif sekali memilih tempat kencan, Kijang." ujar Sehun membuat Luhan melipat kedua tangan didada dan terlihat murung.
"Aku yang lebih dulu memilih tempat ini tahu!" Sehun mengangguk malas sembari menatap pemain musik dengan tak berselera.
"Chaeyeon tidak akan datang." Luhan menaikkan alisnya kesal "Baekhyun juga tak datang."
"Lalu kenapa kau datang?" tanya Luhan sedikit kesal karena harus menunggu seseorang yang tidak akan datang. Sehun menatap lampu restoran dengan menerawang.
"Ceritanya panjang sekali; Baekhyun sebenarnya akan datang malam ini tapi tiba-tiba saja Neneknya datang ke Seoul lalu menyuruhnya untuk tetap tinggal dan harus membawa Chaeyeon juga. Sebenarnya ia enggan, tapi karena Baekhyun sekalian ingin berbicara putus pada Chaeyeon, ya nasib kita begini sekarang."
Luhan membulatkan bibirnya dan sedetik kemudian tersenyum lebar "Kita berhasil!"
Sehun pun melakukan hal yang sama "Tidak disangka sekali. Padahal kalau besok dia masih bersama Chaeyeon aku akan menghasut untuk segera akhiri. Nyatanya ia bertindak lebih dulu."
Sebuah tepuk tangan segera menarik atensi keduanya kala pemain musik telah menyelesaikan pertunjukannya. Lampu restoran seketika meredup dengan terang hanya pada piano yang kini tengah dimainkan dengan memainkan sebuah lagu cinta. Tanpa aba-aba, sekitar dua orang pasangan mulai mengumpul ke suatu lingkaran dekat pemain piano yang juga tersorot lampu lalu berdansa. Luhan memandangnya mupeng; berkhayal seandainya Chaeyeon datang dan mereka berada disana.
Sebuah colekan terasa di telapak tangannya, Sehun menatapnya jahil "Mau berdansa denganku?"
Luhan membalas dengan menahan geli "Dasar gila."
"Ini untuk merayakan kemenangan kita, Kijang!" Sehun berbicara berusaha meyakinkan "Setelah ini kita akan fokus pada kekasih kita masing-masing."
"Lalu? Apa hubungannya?" pertanyaan itu tak membuat Sehun kesal, malahan segera menarik tangan Luhan lalu ikut bergabung pada lingkaran para pasangan yang semakin ramai.
"Ya!" Luhan menepis tangan yang tergenggam Sehun dan berniat beranjak namun kekuatan si rival lebih besar. Sehun menatapnya kesal.
"Cuma sekali! Atau kau tidak bisa dansa?" Luhan yang mendengar ledekan itupun terpancing.
"Tidak bisa berdansa? Kau akan tahu seberapa hebatnya aku dalam bidang ini." Sehun menaikkan alisnya merasa menang. Tangan Luhan telah bersiap pada posisi lurus, maniknya menyuruh Sehun juga melakukan hal yang sama. Lalu kedua pasang tangan itu bertaut.
Tangan itu terus saling menggenggam seiring dengan kaki yang berganti melangkah berganti secara konstan. Suara piano makin hanyut pada keduanya yang semakin memperdalam dansa mereka.
Saat pasangan lain saling melempar senyum, pujaan dan kata cinta, berbeda dengan Sehun dan Luhan yang hanya dapat terpaku. Biasanya mereka selalu adu mulut kala bertemu, maka kini keduanya hanya dapat mengatupkanibir dan memandang satu titik entah kemana.
"Aw! Bisa dansa yang benar tidak?" Sehun membasahi bibirnya gugup kala Luhan meringis kesakitan; kakinya tidak sengaja terinjak olehnya, omong-omong. Sang pelaku hanya menatap sekilas seakan tak peduli.
Entah mengapa kali ini Sehun melihat si kijang Luhan terasa lucu dengan poni yang dibuat model keatas dan pakaiannya terlihat menenggelamkan tubuh yang ternyata mungil itu.
"Baru sadar aku tampan heh?" seringai Luhan kala memergoki Sehun menatapnya intens. Yang diajak bicara segera mengerjapkan mata agar kesadarannya kembali.
"Kau terlihat aneh tahu." Luhan mengerucutkan bibirnya dan Sehun menahan diri untuk tidak memuji lelaki mungil itu didalam hati karena terlihat menggemaskan.
"Kau juga!" balas kesal Luhan yang ditanggapi Sehun dengan malas. Keduanya makin larut sampai suatu insiden membuat hal yang ada pada dirinya masing-masing muncul.
Tak
Tiba-tiba saja lampu padam dan hanya menyisakan cahaya dari lilin pada masing meja.
Semua pasangan berteriak kaget, ada yang tertawa dan terdengar sebuah cipakan bibir beradu.
Diantara semua itu, keduanya melakukan sesuatu yang berada di luar nalar.
Sehun mendadak menjatuhkan tangan di pinggang Luhan sedangkan Luhan memeluk erat Sehun.
Semua itu terjadi karena reflek terkejut.
"Ah k-kenapa harus dimatikan sih?" protes Luhan yang hilang akibat bertabrakan dengan dada bidang sang lawan. Sedangkan Sehun berusaha melepaskan kaitannya secara perlahan.
"E-ntah, supaya lebih romantis?"
Kala penerangan kembali muncul, keduanya tertangkap basah sedang memperhatikan mata satu sama lain.
Tanpa mereka sadari, ada sebuah getaran yang sama besarnya terjadi di hati keduanya.
[]
"Sehunie."
"Sehun a."
"Sehun."
"OH SEHUN!"
Sang empunya nama segera terlonjak dari lamunannya, Baekhyun terlihat emosi dengan dada yang naik turun.
"Kenapa Baek?" tanyanya yang hanya dijawab oleh putaran mata Baekhyun dengan jengah.
"Kau tidak mendengarkanku bicara kan? Dari tadi kau hanya diam!" Sehun mengelus tengkuknya merasa tak enak hati.
"Atau kau sedang membalas dendam padaku karena semalam tidak bisa datang?" Rajuk Baekhyun membuat Sehun panik.
"Bukan begitu! Tapi—" Baekhyun mengetukkan jemari di meja sambil menunggu Sehun melanjutkan perkataannya.
Sehun merasa buntu untuk mencari kebohongan. Karena pada nyatanya, ia terus melamun akibat perihal dansa bersama Luhan. Dan ia tak mungkin mengatakan itu kepada Baekhyun bukan?
Baekhyun menghela nafas kecewa, padahal ia sudah memilih mengakhiri hubungan dengan Chaeyeon untuk Sehun. Tetapi lelaki itu bahkan tidak mau terus terang kalau kesal karena semalam.
Sehun segera membelalakkan matanya saat Baekhyun memilih bangkit dari kursi setelah mengatakan "Jangan temui aku jika kau masih marah."
"Aku tidak marah Baek!" biasanya ia akan auto berlari menghampiri Baekhyun. Tapi kali ini dia hanya memandang kepergian pujaan hatinya dengan hati bimbang.
Matanya tertutup sambil merutuki perbuatannya dengan 'ini semua karena Luhan!'.
[]
-to be continue
[]
[ note; gimana? tambah ngebosenin ya? karena bagian kemarin panjang jadi aku bagi lagi bagian ini hehe, oh iya terima kasih untuk readers yang udah mau komen dan fav-in ff ini :) and last, 520 ]
